Kategori
Seruan

Komite Persiapan IWD 2023: Undangan Publik Vol. 4

“Dengan mengadu domba kita satu sama lain, kelas penguasa menciptakan gagasan bahwa seorang rakyat pekerja dapat memperoleh keuntungan dari penindasan yang lain. Ini bohong! Segala bentuk diskriminasi berfungsi untuk memberikan tekanan terus-menerus pada kondisi dan kualitas hidup kelas pekerja, menciptakan spiral perlombaan ke bawah.” (Kaum Bolshevik)

Keterbatasan memenuhi kebutuhan hidup bukanlah persoalan sekunder, tapi mendasar dalam kehidupan umat manusia. Sementara dalam masyarakat berkelas, terkhusus kapitalisme–semua akses terhadap kekayaan material telah dipangkas untuk kepentingan individu. Di tengah dominannya relasi barang-dagangan, pembatasan ini memicu penghancuran tenaga produktif dan cadangan tenaga produktif dalam masyarakat. Segala bentuk krisis dan degradasi, termasuk penindasan terhadap perempuan, berkait dengan dorongan destruktif tersebut. Kelas proletar, lebih-lebih perempuan-perempuan pekerja, dihancurkan bukan sebatas melalui dalam proses produksi, melainkan pula pertukaran komoditas.

Sampai umat manusia dibebaskan dari rongrongan kekuatan gelap pasar, perempuan tidak akan pernah benar-benar terbebaskan. Ditinggalkannya keluarga untuk bekerja takkan pernah menghapus penindasan perempuan. Penindasan terhadap perempuan justru menjadi lebih kompleks; selain menjadi budak rumah tangga, bersama laki-laki juga perempuan pekerja diperlakukan sebagai budak-upahan. Tidak ada satupun perempuan yang bisa lolos dari perbudakan modern. Semua sektor mata pencaharian telah kapitalis tundukan; tiada cara lain untuk bertahan hidup selain menjual tenaga-kerja: kemampuan fisik dan mental–pikiran, perasaan, dan kehendak–untuk menciptakan nilai-lebih bagi kapitalis.

Sejak lahir ke dunia, masyarakat kapitalis mengidentifikasi bayi-bayi manusia sebagai calon-calon pekerja masa depan. Kelas borjuis tidak berkepentingan mensosialisasikan rumah tangga untuk membesarkan anak-anak; borjuasi cukup menarik sebanyak mungkin rakyat pekerja menjadi pekerja-upahan yang akan menanggung sendiri ongkos reproduksinya. Kelas pekerja, dan lebih banyak sebagai ibu tunggal, diberi tanggung jawab untuk mengembangkan anaknya: memberinya makan, menyekolahkan, serta memenuhi segala kebutuhan hidupnya.

Saat kebutuhan itu semakin sukar dipenuhi, maka keluarga-keluarga rakyat pekerja rentan mengalami konflik dan disintegrasi. Pelecehan dan kekerasan berbasis gender dan seksual mengancam hari-harinya. Bahkan beragam tindakan ekstrem gampang meledak di antara mereka. Hidup berumah tangga, atau semi-rumah tangga dengan pasangan–semuanya menjadi tidak aman. Meningkatnya eksplotasi kapitalis memperluas akumlasi penindasan. Keteralienasian yang bersumber dari kegiatan produksi telah menjalar melalui proses jual-beli dan konsumsi. 

Kepemilikan pribadi telah meningkatkan pembagian kerja, kapasitas produksi, kerja-surplus dan produk-suplus. Hanya proletariat tidak berkesempatan untuk menikmati hasil-hasil kerjanya. Berlarut-larutnya over-produksi bukan saja menjadi monumen dari krisis terminal kapitalisme; tetapi juga pengangguran, kemiskinan, kelaparan, kelelahan, penderitaan, pelacuran, dan kejahatan umum terhadap rakyat pekerja. Krisis kapitalisme telah memperlihatkan kesenjagan antara kebutuhan hidup dan kemampuan untuk memenuhinya.

Itulah getirnya keberadaan sosial kita. Banyak orang menginginkan dan memerlukan sesuatu, tetapi tidak memiliki uang untuk membelinya. Di mana-mana berlangsung kelebihan komoditas, barang yang diproduksi untuk dipertukarkan dengan uang, tapi tidak dapat dijual, karena rakyat pekerja tak mampu membelinya. Inilah fakta bahwa kelas proletar tidak dapat membeli kembali nilai penuh dari apa yang diproduksinya. Keuntungan dan kekayaan kapitalis berasal dari kerja-suplus proletariat yang tidak dibayar. Semua ini dikondisikan oleh anarki pasar dan struktur kelas yang membagi kerja-mental dengan kerja-fisik dan berdiri di atas kepemilikan pribadi terhadap sumber-sumber kekayaan material masyarakat; kontradiksi antara produksi sosial dan apropriasi individu borjuis.

Berdasarkan kondisi inilah pertanyaan-pertanyaan mengenai penindasan perempuan harus dijawab. Bagaimanakah cara mengorganisir-ulang masyarakat secara mendasar, termasuk posisi dan hubungan antara organisaai revolusioner dan pembebasan perempuan–mampukah organisasi revolusioner membebaskan perempuan; bisakah perempuan dibebaskan oleh organisasi revolusioner? Kami mengundang semua kamerad untuk mendiskusikan persoalan tersebut. Kami menunggu kehadiran kalian dalam kegiatan publik–lapak literatur dan diskusi berikut:

“Satu-satunya cara untuk melawan ini adalah dengan menyatukan para pekerja dari semua bangsa, agama, ras, gender dan seksualitas di sepanjang garis kelas. Inilah cara kami memastikan pembebasan penuh seluruh umat manusia.” (Kaum Bolshevik)

KOMITE PERSIAPAN INTERNATIONAL WOMEN’S DAY 2023

Agenda Publik

Lapak Literatur dan Diskusi Vol. 4

Tema:

“Organisasi Revolusioner dan Pembebasan Perempuan”

Hari/Tanggal: Senin, 6 Maret 2023

Pukul: 10.00 WITA-Selesai

Lokasi: UIN Mataram

Kontak Kami: 085237221913

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai