“Jika uang datang ke dunia dengan tanda lahir berupa noda darah di satu pipi, kapital datang dengan berlumuran darah di kepala sampai kaki, dan dari setiap pori-pori keluar darah dan kotoran … Ketika hak bertemu hak, kekuatanlah yang memutuskan.” (Karl Marx)
Ekspor kapital tampil sebagai monumen dunia. Negeri-negeri kapitalis maju menggempur Dunia Ketiga dengan pengerahan modal berskala raksasa. Pasar-pasar baru dibuka dan terbangunlah interaksi bersama masyarakat pada tahapan perkembangan tertentu. Tetapi intesitas pengerahan barang dan jasa memicu aneka kontradiksi. Negeri-negeri terbelakang diperadabkan secara paksa. Teknik, kebudayaan, hukum, hingga militer dikerahkan untuk melancarkannya. Demi melangsungkan produksi dan pertukaran komoditas, maka semua corak-corak produksi pra-kapitalis disapu. Perkembangan tak-berimbang dan tergabungkan ini berlangsung penuh ketegangan. Kapital disebarkan melalui pelecehan dan kekerasan, perang dan penaklukan, pendudukan dan penjajahan.
Kolonialisme, militerisme, rasisme, maupun seksisme mengepung negeri-negeri terbelakang. Semuanya berkombinasi menjadi momok harian yang melayani akumulasi kapital. Sumber daya alam dikuras dan pertanian-pertanian kolektif tersingkir. Sumber-sumber mata pencaharian direnggut. Kemiskinan, kelaparan, kerusakan ekosistem dan penyakit tampil vulgar. Sistem suku dan keluarga pra-kapitalis digempur. Perempuan dan anak-anak diperlakukan bengis. Supaya mendapatkan jaminan pendirian industri dan pasokan buruh-upahan, kolonialisme harus menghancurkan sumber-sumber mata pencaharian penduduk dan membasmi produsen-produsen langsung makanan. Demikianlah tanah-tanah dan hutan-hutan adat dibuldozer untuk membangun infrastruktur dan sarana-prasarana perusahaan. Pos-pos militer juga dibangun untuk melancarkan kontrol dan pengawasan. Hukum dan kebijakan semuanya ikut mendukung.
Semua itu membawa dampak mengerikan bagi perempuan dan anak. Otoritas kolonial tegak bukan sekadar dengan kekerasan-langsung, tapi juga kekerasan-alienatif. Dengan pelayanan prajurit kebudayaan borjuis dipaksanakan. Serdadu tidak saja dipasang di gereja, tapi juga dalam lembaga-embaga pendidikan. Di tempat-tempat ibadah, rohaniawan ditekankan mengajarkan ajaran bercinta kasih dengan siapapun–termasuk penindas–dan mengejar surga. Di sekolah-sekolah, pelajar diajarkan kepalsuan sejarah kolonial dan dipaksa menaggalkan budayanya sendiri. Di kampus-kampus, mahasiswa didiskriminasi sesuai berdasarkan ras, bahasa, dan dilarang mendiskusikan persoalan-persoalan politik serta berorganisasi. Rasisme, hadir sebagai serangan terorganisasi dan terinstitusi oleh kelas penguasa.
Terlebih kepada perempuan, diskriminasi mengambil bentuk ekstrem. Kekerasan-alienatif dilancarkan melalui praktik-praktik keji dan hina dari masyarakat kapitalis. Tubuh dan alat-alat reproduksi perempuan dikontrol. Teror-teror pelecehan, pemerkosaan dan pembunuhan menjulur. Semua berkontribusi untuk mengurung perempuan dalam belenggu pekerjaan non-produktif dan mengisolir mereka secara sub-human. Perkembangan kapital yang tidak merata dan awal dari perkembangan kapitalisme di masyarakat pra-kapitalis, menggodam unit-unit rumah tangga mandiri dengan keras. Selubung ikatan kekeluargaan paling intim diputus. Ibu-ibu tunggal dan gadis-gadis muda diseret ke arena pelacuran umum yang sangat beringas. Saat kapitalisme mengalami krisis, kejahatan-kejahatan terhadap perempuan bertambah ganas.
Tetapi krisis dalam masyarakat kapitalis menyulut api revolusioner. Selama beberapa dasawarsa, rakyat pekerja, perempuan dan muda di negeri-negeri kolonial dan bekas jajahan telah menunjukkan keberanian kolosal dan potensi revolusionernya. Berkali-kali mereka bergerak untuk merubah masyarakatnya. Di Sudan, Iran, Chili, Argentina, India, Pakistan, hingga Papua; kaum terhisap dan tertindas menunjukkan keinginan kuat untuk menentukan nasib mereka sendiri. Naik dan turun, Pasang surut, gerakan mereka meledak dan mengguncang ketentraman kelas penguasa. Meski belum berhasil melaksanakan transformasi sosial secara mendasar, tapi banyak pelajaran yang bisa dipetik darinya. Mereka takkan pernah mampu mengakhiri eksploitasi dan penindaaan secara revolusioner apabila berharap kepada borjuis-borjuasi nasional di negerinya. Di Asia, Amerika Latin, dan Afrika; kaum borjuasi begitu lemah dan merosot; terikat seribu benang pada imperialisme dan sisa-sisa rezim lama, hingga membentuk sebuah blok reaksioner untuk menolak kemajuan dan perubahan mendasar.
Sekarang, semua itu hendak didiskusikan. Bagaimana hubungan antara perkembangan kapitalisme, kolonialisme, dan seksisme akan dijelaskan. Kami, Komite IWD 2023, mengundang semua kamerad untuk bergabung:
KOMITE PERSIAPAN INTERNATIONAL WOMEN’S DAY 2023
Agenda Publik
Lapak Literatur dan Diskusi Vol. 2
Tema:
“Kolonialisme dan Seksisme”
Hari/Tanggal: Selasa, 21 Februari 2023
Pukul: 10.00 WITA-Selesai
Lokasi: FKIP Unram
Kontak kami: 085237221913 (Kamerad)
