“Proletariat adalah kelas yang bangkit. Tidak pernah mabuk dengan narkotika atau perangsang. Tindakan mabuk walaupun itu sedikit-demi-sedikit untuk seksual yang berlebihan seperti halnya mabuk alkohol. Tidak boleh dan membuat kita melupakan, melupakan rasa malu, kekotoran, hingga kebiadaban kapitalisme. Melupakan dorongan untuk bertarung dari situasi kelas, dari cita-cita Bolshevik. Perlu kejelasan, kejelasan, sekali lagi kejelasan. Jadi saya ulangi, tidak ada pelemahan, tidak ada pemborosan, tidak ada penghancuran kekuatan. Kontrol diri, disiplin diri bukanlah tindakan perbudakan, bahkan dalam disiplin tentang cinta…. Saya prihatin dengan masa depan remaja kita. Hal itu adalah bagian dari revolusi. Dan jika kecenderungan berbahaya muncul, merayap dari masyarakat borjuis ke dunia revolusi—ketika akar dari banyak gulma menyebar—lebih baik untuk memerangi mereka dari awal. Pertanyaan semacam itu adalah bagian dari pertanyaan perempuan.” (V.I. Lenin)
Sejak kehadirannya pada abad ke-16, kapitalisme langsung mengacaukan sistem keluarga-inti patriarkal. Perkembangan kapitalisme selama abad ke-17 dan ke-18 berlangsung secara radikal. Proses akumulasi melalui investasi di sektor produktif mendorong industrialisasi, meningkatkan produktivitas, hingga memperdalam eksploitasi. Investasi permesinan menjadi stimulus pertumbuhan kapitalisme. Marx dan Engels lewat “Manifesto Komunis” telah menjelaskannya. Bahwa kelas borjuis tidak dapat mempertahankan eksistensinya tanpa merevolusionerkan perkakas-perkakas produksinya. Didorong oleh kekuatan gelap pasar yang anarkistik dan motif mendulang laba maka mereka merambah dunia dengan mengintensifikasi penggunaan mesin, pembukaan kawasan-kawasan industri baru, dan pengumpulan sebanyak-banyaknya buruh untuk diupah-murah. Dalam masa-masa awal perkembangannya kapitalisme menempatkan persaingan sebagai fitur utamanya. Kaum kapitalis bukan saja bersaing untuk menemukan dan membuka pasar-pasar baru, tetapi juga mengembangkan teknologi dan teknik-teknik mutakhir guna melancarkan kegiatan produksinya. Demikianlah memasuki akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kapitalisme berhasil menciptakan pasar dunia dengan pembagian kerja dunia dan kelas pekerja dunia. Tanah-tanah dan gilda-gilda yang menjadi tempat-tempat bertahannya produksi pra-kapitalis ditundukkan di bawah kedigdayaan pabrik-pabrik raksasa. Pekerja-pekerja dari masyarakat lama dirubah menjadi pekerja-pekerja modern: buruh-upahan. Pekerja jenis baru ini tidak seperti budak yang dimiliki tuan-budak dengan sepenuhnya dan tani-hamba yang dimiliki tuan-tanah seturut kepemilikan tanah; buruh-upahan tampil bukan menjadi milik kapitalis, tetapi sebagai budak atau hamba yang (seolah) ‘tanpa dipaksa’ bekerja untuk kapitalis, namun (sesungguhnya) ‘dengan sangat-sangat terpaksa’ menjual kemampuan kerjanya kepada kapitalis. Kelas borjuis telah menghakmiliki secara pribadi semua sumber kekayaan material dalam masyarakat dan tiada lagi tersisa bagi rakyat pekerja untuk bertahan hidup. Di tengah keterbatasan inilah tidak ada pilihan praktis dalam melanjutkan kehidupan kecuali menjual kekuatan mental dan fisik kepada kapitalis. Lewat “Kondisi Kelas Pekerja di Inggris”, Engels menulis:
“Kaum borjuasi telah mendapatkan monopoli atas semua sarana kehidupan dalam arti kata yang paling luas. Apa yang dibutuhkan kaum proletar, ia hanya dapat memperolehnya dari borjuasi ini, yang dalam monopolinya dilindungi oleh kekuasaan negara. Oleh karena itu, kaum proletar adalah dalam hukum dan faktanya, budak borjuasi, yang dapat menentukan hidup dan matinya. Itu menawarkan dia sarana hidup, tetapi hanya untuk ‘setara’, untuk pekerjaannya. Ia bahkan membuatnya tampak bertindak dari pilihan bebas dan tidak dibatasi…. Kebebasan yang baik, di mana kaum proletar tidak punya pilihan lain selain menerima syarat-syarat yang ditawarkan kaum borjuasi kepadanya, atau kelaparan, mati kedinginan, tidur telanjang di antara binatang buas di hutan! Sebuah pertukaran ‘setara’ yang bagus yang dihargai dengan senang hati oleh borjuasi! Dan jika seorang proletar begitu bodoh sehingga kelaparan daripada menyetujui proposisi borjuasi yang ‘adil’, ‘tuan alamiahnya’, yang lain dengan mudah ditemukan di tempatnya; ada cukup kaum proletar di dunia, dan tidak semuanya begitu gila sehingga lebih memilih mati daripada hidup.”
Ditundukkannya semua sumber mata pencaharian terdahulu oleh kekuatan modal mengondisikan semua tenaga produktif dan cadangan-cadangan tenaga produktif dalam masyarakat kapitalis untuk menjual kemampuan kerjanya. Walhasil, kelas borjuis tak sekadar mengubah sebanyak mungkin pekerja pra-kapitalis menjadi buruh-upahan, melainkan pula meremukkan hubungan-hubungan keluarga kuno yang tersisa. Keluarga-inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak dikikis demi mendapatkan buruh-buruh berupah murah. Sistem kekeluargaan lama yang mendasari dirinya di atas penghasilan ayah akhirnya digantikan dengan cetakan keluarga dan rumah tangga borjuis dengan pendapatan perorangan sebagai dasarnya. Meskipun kaum feminis borjuis dan borjuis-kecil kerap kali mendiskusikan bentuk-bentuk penindasan perempuan, tapi tidaklah mampu beringsut dari penjelasan usang dan kekeliruan teori patriarki—dominasi maskulinitas atas feminimitas; kekuasaan laki-laki atas perempuan. Mereka secara naïf meyakini ketertindasan perempuan mengakar dalam patriarkisme dan menyarankan perempuan untuk berjuang melawan dominasi laki-laki menggunakan cara apapun. Harus diakui: kapitalisme telah menghancurkan keberadaan keluarga patriarkal dan menarik sebanyak-banyaknya perempuan dalam arena produksi sosial, namun penindasan perempuan masih berlanjut dengan beban yang bertambah kompleks. Perempuan dalam masyarakat kapitalis tidak sekadar dilemahkan melalui pekerjaan domestik, tapi juga dihisap oleh kerja-upahan di pabrik-pabrik raksasa. Begitulah tergesernya perempuan dari dominasi patriarki kontan membawanya ke rawa-rawa penindasan terbaru: seksisme dan femisida. Menajamnya eksploitasi dalam masyarakat kapitalis dengan waktu kerja yang panjang, kondisi kerja yang buruk, dan, upah yang rendah memperdalam ketertindasan perempuan. Meski bukanlah laki-laki pekerja menjadi musuh utama perempuan, tetapi keberadaan sosial rakyat pekerja di bawah kapitalisme mempertentangkan keduanya sebagai buruh-upahan yang harus saling-bersaing dengan sesamanya—baik laki-laki melawan laki-laki, perempuan melawan perempuan, maupun laki-laki melawan perempuan. Engels sekali lagi menerangkan:
“Persaingan adalah ekspresi terlengkap dari pertempuran semua melawan semua yang mengatur masyarakat kontemporer. Pertempuran ini, perjuangan untuk hidup, untuk keberadaan, untuk segalanya, jika perlu pertempuran hidup dan mati, diperjuangkan bukan hanya antara kelas-kelas masyarakat yang berbeda, tetapi juga antara anggota individu dari kelas-kelas ini. Masing-masing menghalangi yang lain, dan masing-masing berusaha untuk menyingkirkan semua yang menghalangi jalannya, dan menempatkan dirinya di tempat mereka. Kaum buruh selalu bersaing di antara mereka sendiri seperti halnya para anggota borjuasi di antara mereka sendiri … Tetapi persaingan di antara kelas pekerja ini adalah sisi terburuk dari keadaan saat ini dalam pengaruhnya terhadap pekerja, [menjadi] senjata paling tajam melawan proletariat di tangan borjuasi.”
Dalam kondisi inilah penindasan perempuan pra-kapitalis digantikan oleh keberlangsungan perbudakan modern yang memadukan eksploitasi nilai-lebih dengan penindasan gender dan seksual. Kemajuan teknologi dan teknik inilah yang merubah struktur keluarga dan hubungan antara jenis kelamin. Sejak mode produksi kapitalis berlaku maka bentuk-bentuk keluarga terdahulu mendapatkan serangan dan corak produksi tradisonal mereka dihancurkan. Pada kondisi inilah perempuan—sebagai anak, istri, maupun ibu—yang selama ini terkungkung dalam pekerjaan domestik—diseret menuju sektor-sektor publik. Namun dengan mendapatkan pekerjaan-pekerjaan baru bukan berarti perempuan terbebaskan dari kerja-kerja rumah tangga, melainkan membuat pekerjaan mereka menjadi beronggokan, panjang dan melelahkan. Inilah saatnya beban ganda mereka rasakan. Memasuki kegiatan produksi kapitalis, ibu-ibu dan gadis-gadis muda menjadi semakin rentan menghadapi perlakuan diskriminatif, pelecehan seksual dan pembunuhan. Hanya di bawah kapitalisme, persaingan antara rakyat pekerja laki-laki dengan perempuan terlampau tajam. Fakta-fakta alamiah dalam mengandung, melahirkan, menyusui, dan menstruasi tidaklah dianggap karakteristik yang inheren pada kaum perempuan, tetapi diperlakukan sebagai faktor biologis untuk mendiskriminasi dan menerapkan upah murah kepada perempuan-perempuan proletar. Kelas borjuis mempekerjakan buruh perempuan sebanyak mungkin bukan saja untuk menghasilkan nilai-lebih yang berlimpah, namun pula dihadirkan menjadi pesaing bagi laki-laki pekerja. Melalui intesifikasi penggunaan mesin, pekerja-pekerja terampil dikurangi dengan menghadirkan pekerja-pekerja non-terampil yang dipekerjakan secara fleksibel dan digaji lebih rendah. Begitulah pemakaian mesin digunakan bukan untuk mempermudah buruh, melainkan memperburuk kondisi kerjanya dengan perpanjangan hari kerja, penyederhanaan keterampilan, dan berujung pemotongan upah dan pengurangan buruh laki-laki untuk digantikan dengan perempuan-perempuan berupah murah. Meningkatnya pemakaian mesin dan penggantian posisi-posisi tenaga terampil dengan tenaga non-terampil tak sebatas memekarkan kontradiksi tenaga produktif dengan mesin, tapi sekaligus mendorong persaingan di antara buruh untuk mempertahankan posisi dan upahnya dari ancaman pemotongan dan pemecatan sepihak. Tetapi diupahnya perempuan secara murah, meningkatnya pembagian kerja dan persaingan dalam bekerja tidaklah mengistimewakan laki-laki pekerja, melainkan mengakibatkan spiral ke bawah yang menekan kehidupan keluarga dan rumah tangga rakyat pekerja. Di 1840-an, Engels tidak sebatas memberitahukan kalau dari 419.560 buruh di Inggris terdapat 242.296 perempuan—yang sebagian besar berusia 18 tahun—tapi juga mencatat bahwa buruknya kondisi kerja di Manchester telah menimbulkan kematian 26.126 per 100.000 bayi, dan terutama merekam seberapa mengerikannya hukuman terhadap kaum buruh di seluruh Inggris saat masa-masa awal perkembangan kapitalisme:
“Jika para istri menghabiskan 12-13 jam kerja per hari di pabrik kain, dan para suami bekerja dengan waktu yang sama panjangnya, lalu akan menjadi apa anak-anak mereka? Anak-anak itu tumbuh seperti rumput liar; mereka ditaruh di tempat penitipan anak dengan biaya satu shilling atau delapan belas pence seminggu, tentu dapat dibayangkan perawatan seperti apa yang mereka dapatkan (dengan biaya semurah itu). Oleh karena itu sering terjadi anak kecil menjadi korban kecelakaan di distrik-distrik pabrik. Hubungan masyarakat yang renggang ini tentu berawal dari relasi dalam keluarga [yang dihancurkan oleh kapitalisme], yang akhirnya menimbulkan konsekuensi buruk dari orangtua maupun anak…. Pada 1843, seorang laki-laki meninggal di Leichester, yang telah diberhentikan dua hari sebelumnya dari rumah kerja di Coventry. Rincian perlakuan terhadap orang miskin di institusi ini menjijikan. Pria itu, George Robhson, memiliki luka di bahu, yang perawatannya diabaikan sepenuhnya … Di Birmingham, kejadian memalukan seperti itu terjadi … empat gelandangan telah dikurung telanjang di bawah tangga di dalam lubang hitam, delapan sampai sepuluh hari, sering kali tidak diberi makan sampai tengah hari, dan itu pada musim yang paling parah selama setahun … Perempuan juga, ditempatkan di dalam lubang anjing karena mereka menolak untuk pergi ke gereja dan seseorang dikurung selama empat hari di kamar gelandangan … perempuan lain ditempatkan di departemen kejiwaan untuk hukuman meskipun dia benar-benar waras … Di rumah kerja di St. Pancras di London, seorang penderita epilepsi meninggal karena mati lemas di ranjang, tidak ada yang membantunya…. Di rumah kerja Shoreditch seorang laki-laki ditempatkan, bersama dengan pasien demam yang sakit parah, di ranjang yang penuh dengan hama. Di rumah kerja Bethnai Green, London, seorang perempuan di bulan keenam kehamilannya dikurung di ruang resepsi bersama anaknya yang berusia dua tahun, dari tanggal 28 Februari hingga 19 Maret [1844], tanpa diijinkan masuk ke tempat kerja itu sendiri, dan tanpa tempat tidur dan sarana untuk memuaskan kebutuhan yang paling alami. Suaminya yang dibawa ke rumah kerja, memohon agar istrinya dibebaskan dari hukuman di penjara ini, dimana istrinya menerima hukuman dua puluh empat jam, dengan roti dan air sebagai hukuman ketidaksopanannya. Di rumah kerja di Slough, dekat Windsor, seorang laki-laki terbaring sekarat pada bulan September 1844. Istrinya pergi menemuinya, tiba di tengah malam, dan bergegas ke tempat kerja, ditolak masuk. Dia tidak diizinkan untuk melihat suaminya sampai keesokan paginya, dan hanya berdiri di hadapan seorang sipir perempuan, yang menegaskan aturan pada setiap kunjungan berikutnya, untuk pergi setelah setengah jam.”
“Manifesto Komunis” menerangkan: ‘borjuasi telah merobek dengan kekerasan selubung perasaan kekeluargaan, dan telah memerosotkannya menjadi hubungan-uang belaka’. Uang pada “Manuskrip Ekonomi dan Filsafat” dijelaskan oleh Marx sebagai perwujudan dari kekuasaan yang teralienasi dan merupakan bentuk terakhir dari keterasingan produsen atas pekerjaannya: ‘alienasi yang dialami pekerja dalam obyeknya [kerja, alat produksi, dan hasil kerjanya] dituangkan ke dalam hukum-hukum ekonomi-poltik: semakin pekerja berproduksi semakin kurang dia mengonsumsi; semakin tinggi nilai yang diciptakannya, semakin dia menjadi kurang berharga; semakin beradab produknya, semakin barbarlah pekerja itu; semakin kuat pekerjaan, semakin lemahlah pekerja itu; semakin pekerjaan mewujud menjadi kecerdasan, semakin turunlah pekerjaan pekerja yang menjadi budak alam’. Dalam skala internasional, epidemi pembunuhan, kekerasan gender dan seksual terhadap perempuan pekerja dan muda mengepung masyarakat kapitalis. Kaum perempuan disubordinasi melalui beragam perlakuan diskriminatif dan opresif. Meskipun perempuan-perempuan pekerja diperhitungkan dalam kegiatan produksi sosial, tetapi keberadaannya ditekan untuk meningkatkan eksploitasi terhadap kelas pekerja secara keseluruhan: mulai dari perpanjangan hari kerja, fleksibilitas kerja, pemotongan upah, hingga pengurangan pekerja-pekerja terampil. Di tengah krisis kapitalisme maka penghisapan-penghisapan ini bertambah kencang, semakin memperdalam dan meluaskan spektrum penindasannya. Sejak krisis 2008 yang berlarut-larut sampai sekarang, kebijakan penghematan hadir sebagai pukulan keras bagi perempuan-perempuan pekerja. Tahun 2012, per harinya antara 275-300 perempuan Inggris yang mengalami kekurangan tempat tidur ditolak saat mendatangi tempat penampungan. Tibalah 2018, ratusan perempuan Australia juga ikut meminta kamar tapi mendapatkan penolakan pula di tempat-tempat penampungan.
Dari 8 miliar populasi manusia, krisis kapitalisme telah mendorong-jatuh 3 miliar orang ke jurang kemiskinan ekstrem dan mengurung 1 miliar di antaranya dalam lubang pengangguran permanen. Ketika kemiskinan dan pengangguran umum mengepung kehidupan, serangan terhadap standar hidup berkepanjangan, dan kondisi-kondisi kerja semakin mengerikan. Selama 2019-2021, sekitar 2,3 miliar penduduk global mendera kerawanan pangan: 45 juta orang di 37 negara hidup dengan persediaan makanan yang sangat minim, 678-828 juta orang mengalami kelaparan, dan setiap 4 detiknya 1 orang di seluruh dunia meninggal akibat kelaparan ekstrem. Menghadapi kondisi inilah kemanusiaan siapapun rentan mengalami kemerosotan. Tekanan-tekanannya menyeret ke lembah kegelapan, keirasionalan, dan kebrutalan yang tak terperikan. Segala keindahan moral keagamaan dan ajaran-ajaran luhur warisan nenek moyang kontan ditanggalkan. Semua paham dan kebiasaan lama tidak dapat lagi diterapkan untuk menghadapi kebutuhan-kebutuhan yang terus bertambah, membuncah dan menekan. Akhirnya alienasi dalam proses produksi kapitalisme menjalar sampai ke keluarga-keluarga kelas pekerja. Pertumbuhan ekonomi yang melemah dengan tingkat inflasi yang tinggi dan resesi yang mengancam telah merecoki beratus-ratus juta rumah tangga. Kebijakan-kebijakan pengetatan dan serangan-serangan terhadap standar hidup membuat kehidupan berpasangan dan berkeluarga jauh lebih berat. Rumah tangga-rumah tangga rakyat pekerja adalah yang paling menderita dan remuk. Dari data PBB, sejak 2015-2018 terdapat 83 negara dimana kaum muda memilih tidak menikah sampai usia 30-an: perempuan (31,5-34 tahun) dan laki-laki (34-36 tahun). Sementara secara global, rasio perceraian meningkat drastis: antara 2,7-10,97 kasus perceraian dari 1000 orang. Sepanjang 2014-2018, GALLUP menemukan kalau 1 dari 8 perempuan berusia 18-60 di seluruh dunia menjadi ibu tunggal dan rasio terparah berada di Afrika Sub-Sahara (1:3) dan Amerika Latin (1:5). Pada 2018, di Inggris berlangsunglah pertemuan makan malam Klub Presiden dimana ratusan perempuan-perempuan pekerja dan muda—yang merupakan ibu-ibu tunggal—dibayar untuk melayani tamu-tamu borjuasi dengan memakai pakain hitam minim, bersedia berpegangan tangan, memberikan pelukan, dan siap dipangku begitu rupa. Selama berlarut-larutnya krisis kapitalisme, tanpa mendapatkan perlindungan dan jaminan keamanan, ratusan juta perempuan memasuki arena prostitusi. Pekerjaan seks komersial mendulang miliaran dolar untuk pemilik rumah-rumah bordil dan penyedia jasa-jasa pelacuran di pelbagai negeri: Cina (US$ 73 miliar), Spanyol (US$ 26,5 miliar), Jepang (US$ 24 miliar), Amerika Serikat (US$ 18 miliar), Korea Selatan (US$ 14,6 miliar), India (US$ 8,4 miliar), Thailand (US$ 6,4 miliar), Filipina (US$ 6 miliar), Turki (US$ 4 miliar), Swiss (US$ 3,5 miliar), Indonesia (US$ 2,5 miliar), dan sebagainya.
Di tengah meledaknya bisnis prostitusi, dari 25 juta situs porno terdapat 10 juta situs yang mendapatkan kunjungan terbanyak. Pada 2019, industri porno pun ikut meraup pendapatan berlimpah secara global: 100 miliar dolar AS. Di tahun yang sama, Universitas Warwick dan Durham ditemukan berbagai obrolan grup yang menyasar mahasiswa perempuan dengan ancaman pemerkosaan dan perlombaan mengenai siapa yang terbanyak meniduri gadis-gadis–berlatar belakang keluarga pekerja–di kampus-kampusnya. Lalu di Indonesia, Komnas Perempuan (2020) mengungkapkan bahwa 4.700 (93,8%) pelajar-pelajar perempuan di Depok telah melaksanakan hubungan seks di luar nikah. KPAI (2021) lantas mengungkapkan temuan: dari 132 juta pengguna internet Indonesia, 768 ribu di antaranya merupakan anak-anak berusia 10-14 tahun dan untuk usia 15-19 tahun pengguna internetnya mencapai 12,5 juta orang dengan 4.500 pelajar (SMP dan SMA) secara rutin mengakses konten-konten pornografi. Di sisinya, Kornas OPSI menemukan jumlah ibu tunggal sudah mencapai 1,7 juta dan total PSK berjumlah 230.000 orang yang didominasi oleh ibu-ibu tunggal dan perempuan-perempuan muda yang diikuti oleh LGBT serta laki-laki. Krisis kapitalisme bukan saja memperparah kehancuran keluarga dan rumah tangga rakyat pekerja, tetapi juga mengondisikan pelacuran umum di seluruh negeri. Dalam kondisi inilah penindasan gender dan seksual membumbung tinggi. Data WHO (2021) menyebutkan kalau 852 juta perempuan di seluruh dunia telah menjadi korban seksisme maupun femisida. Setiap tiga menit terdapat 4 kasus pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan dan per 6 jam seorang perempuan menjadi sasaran pemukulan, pembakaran, dan pembunuhan. Sepanjang 2020-2021, Prancis dan Spanyol masing-masing mengalami peningkatan kekerasan dalam rumah tangga sebesar 30 persen dan 18 persen. Pada 2020, di Meksiko 10 perempuan setiap harinya menjadi korban pembunuhan dan di Inggris selama Maret-Oktober saja ditemukan 81 kasus feminisida. Sementara di Indonesia, Catahu Komnas Perempuan (2022) menunjukkan peningkatan signifikan terkait praktik kekerasan berbasis gender dan seksual: dari 226.062 kasus (2020) menjadi 338.496 kasus (2021), dengan 3.014 laporan yang 860 di antaranya merupakan kasus kekerasan seksual.
Ditindasnya perempuan tak sekadar di ranah publik tapi juga privat. Perempuan menjadi sasaran kebrutalan, pelecehan dan pemerkosaan bukan saja di tempat-tempat kerja dan studi, melainkan pula di lingkungan keluarga dan rumah tangga. Pelakunya beragam: mulai dari rekan-kerja, dosen dan guru, tetangga dan kerabat, hingga orangtua dan pasangannya sendiri. Tidak ada jaminan keamanan, perlindungan dan kedamaian bagi kaum perempuan di bawah sistem kapitalisme. Perempuan proletar dan muda mengalami subordinasi, inferioritas, dan diperlakukan sebagai spesies sub-human. Diskriminasi, pelecehan, kekerasan, pembunuhan menghantui hari-hari perempuan. Kaum feminis borjuis dan borjuis-kecil menyangkal ledakan persoalan gender dan seksual sebagai dampak dari perkembangan kapitalisme, tapi justru menitikberatkan masalah penindasan tersebut menjadi urusan dominasi laki-laki terhadap perempuan yang harus diselesaikan melalui bilik-bilik politik, hukum, agama, budaya, dan moralitas individu semata. Kaum-kaum feminis mengerti bahwa dalam membangun relasi dan menjalankan hubungan intim perempuan terus-menerus dihantui penindasan. Namun feminis-feminis itu menolak mengakui kalau hubungan-hubungan romantik yang dijalankan perempuan terhimpit oleh kejahatan masyarakat kapitalis dan perlu diselesaikan secara revolusioner. Selama masa-masa krisis kapitalisme, serangan-serangan terhadap standar hidup menggempur keluarga dan rumah tangga dengan segudang masalah kronis. Tekanan-tekanan yang mereka hadapi tidak saja mengambil bentuk keterbatasan mengisi dapur-dapurnya, tetapi juga ketidakmampuan beroleh perumahan, mengakses pendidikan dan kesehatan, dan pemenuhan belanja anak-anaknya. Walaupun para feminis menyinggung mengenai keadaan pikiran, mental, tubuh, keuangan, dan status sosial sebagai faktor-faktor pemicu penindasan perempuan, tetapi tidak pernah sampai pada kesimpulan kalau sumber konflik berasal dari masyarakat berkelas, pembagian kerja, dan terutama kepemilikan pribadi terhadap sumber-sumber kekayaan material masyarakat.
Mereka membaca berbagai artikel yang menerangkan ledakan kelaparan, pengangguran, kemiskinan dan kesenjangan menjadi monumen umum kehidupan sekarang dan mereka juga mengakui bahwa di tengah situasi hari-hari ini kriminalitas tumbuh subur. Tapi mereka tak pernah menempatkan proses produksi kekayaan material dan reproduksi kebutuhan hidup sebagai faktor utamanya. Mereka melihat sistem produksi dan reproduksi sebatas sebagai persoalan ekonomi, bukan relasi antara manusia dan alam, manusia dan manusia, dan fase sosio-historis. Mereka menolak pandangan yang menerangkan perkembangan alam dan manusia, sejarah dan masyarakat ditentukan oleh aktivitas produksi dan reproduksi. Mereka bukan saja menyangkal potensi nilai-lebih yang diciptakan melalui kegiatan produksi kapitalisme, tapi juga buta kalau pertukaran komoditas (barang-dagangan)—sebagai saluran merealisasikan nilai-lebih—menjadi ikatan utama yang mendominasi kehidupan manusia kontemporer. Mereka tak-menyadari solusi perbaikan diri merupakan pembuktian bagaimana sistem kapitalisme, produksi dan pertukaran dalam masyarakat kapitalis mempengaruhi ide dan kesimpulan yang mereka usung. Mereka membaca bagaimana meledaknya kasus pencabulan perempuan oleh pacarnya; pengendara sepeda motor oleh polantas; istri tersangka oleh polisi; perempuan Papua oleh tentara; santri oleh ustad; anak oleh ayah; cucu oleh kakek; mahasiswi oleh dosen—bahkan dalam hubungan yang paling mesra dan intim sekalipun, setiap saat lingkungan sekitar mereka menjulurkan ancaman seksisme, feminisida, dan aneka phobia gender dan seksual. Namun mereka masih menempatkan perbaikan-perbaikan moral, pengetahuan dan kesadaran pribadi sebagai solusi. Mereka tahu sedang berada di tengah-tengah gempuran sistem kehidupan yang semakin horor dan disesaki kriminalitas, tetapi tetaplah mereka menolak kebutuhan untuk mengakhiri masyarakat berkelas secara revolusioner dan justru mengusulkan reforma-reforma kecil guna perbaikan parsial.
Kepungan dari ide-ide dominan kelas penguasa telah menyeret mereka pada titik reduksionis, sehingga gagal meninjau masalah penindasan perempuan secara historis dan komprehensif. Begitulah keputusan yang mereka pancang menjadi ekspresi teratomiasinya individu dalam masyarakat kapitalis. Mereka kira setiap individu merupakan bagian-bagian yang terpisah dari keseluruhan sistem masyarakat yang berlaku; setiap individu secara naïf diyakini terisolir dalam dirinya sendiri dan teratomisasi dengan kepentingan-kepentingan tersendiri, hingga dilihatlah subyek terpisah dari obyek dan sebab terpisah dari akibat. Mereka tahu kalau kaum kapitalis membuka kawasan industri dan menggunakan banyak mesin untuk meningkatkan kapasitas produksi komoditas dan menarik sebanyak-banyaknya pekerja-upahan yang terpaksa menyerahkan kemampuan dan tenaga kerjanya untuk mempertahankan hidupnya. Mereka juga menyaksikan bagaimana petani menjual hasil-hasil buminya, pemiliki-pemilik toko menjual aneka barang-dagangannya, spekulan memperjual-belikan obligasi dan saham, dan massa-rakyat mengonsumsi hasil-hasil produksi dengan membelinya di pasar. Berdasarkan logika formal, mereka pikir segala aktivitas itu terpencar-pencar dan sama sekali tak memiliki keterhubungan. Pemikiran macam ini takkan mampu mencermati kalau di balik kekacauan, ketidakharmonisan, dan kontradiksi kapitalisme terdapat aturan umum yang menentukan produksi dan pertukaran komoditas: hukum nilai-kerja yang bersumber dari tenaga produktif dan cadangan-cadangan tenaga produktif yang hidup di tubuh masyarakat mengatur upah, harga, sewa, keuntungan, bunga, kredit, bahkan bursa efek sekalipun. Nilai-lebih yang terkurung dalam komoditas sebagai sebuah potensi dan diaktualisasikan melalui jual-beli di pasar tidak mungkin diciptakan tanpa adanya kerja-lebih dari kelas proletar yang diekspropriasi. Semua ini sama sekali luput dari penyingkapan feminis borjuis dan borjuis-kecil. Konsepsi dunia macam inilah yang menjadi prinsip masyarakat kapitalis. Akhirnya mereka sukar menerima fakta sederhana yang dijelaskan Engels melalui “Asal-Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi, dan Negara” dan “Eulogi untuk Marx”:
“Faktor yang menentukan dalam sejarah … adalah produksi dan reproduksi kehidupan … pada satu sisi produksi untuk memenuhi sarana kehidupan, pemenuhan kebutuhan akan tempat tinggal, makanan, pakaian, dan alat-alat produksi, sementara di sisi lain produksi manusia itu sendiri, perkembangbiakan spesies. Pengorganisasian masyarakat pada setiap masa tertentu dalam sejarah ditentukan oleh kedua corak tersebut.” Dan “…seperti halnya Darwin menemukan hukum perkembangan alam organik, demikian pula Marx menemukan hukum perkembangan sejarah manusia: fakta sederhana, yang sampai sekarang disembunyikan oleh kepekatan ideologi [kapitalisme], bahwa umat manusia pertama-tama harus makan, minum, punya papan dan sandang, sebelum ia dapat menekuni politik, sains, seni, agama, dan sebagainya; bahwa maka dari itu, produksi kebutuhan-kebutuhan pokok material, dan sebagai konsekuensinya tingkat perkembangan ekonomi yang dicapai oleh masyarakat tertentu atau selama epos tertentu, membentuk fondasi yang di atasnya berkembang institusi negara, konsepsi hukum, seni, bahkan ide-ide religius, dari masyarakat yang bersangkutan, dan oleh karenanya mereka harus dijelaskan dari sudut pandang tersebut.”
Kaum feminis borjuis dan borjuis-kecil tidak mengerti kalau kerja merupakan esensi kehidupan umat manusia. Hanya melalui kerjalah manusia dapat mengelola alam, mengembangkan dirinya, menciptakan nilai-nilai dan karya-karya kemanusiaan. Kerja yang pertama kali dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan mempertahankan hidup telah menuntun manusia mengembangkan perkakas produksi dan penemuan-penemuan alat-alat kerja mendorong perkembangan tenaga produktifnya. Dengan bekerjalah manusia pertama-tama membuat untuk dirinya nilai-guna dari proses pengelolaan alam yang dilakukannya. Demikianlah kerja merupakan prasyarat eksistensi manusia dan memperantarai metabolismenya dengan lingkungan sekitarnya. Pada masyarakat komunisme-primitif, saat kekuatan produktif belumlah terlampau berkembang, melalui kerjalah manusia berinteraksi antara satu sama lainnya hingga menemukan bahasa untuk berkomunikasi dan bekerjasama dalam menggunakan alat-alat kerja untuk menaklukan alam, memenuhi kebutuhan hidup, merealisasikan potensi-potensi kemanusiaannya. Di masa-masa ini populasi secara numerik masihlah kecil, pasokan pangan dihabiskan dalam hitungan jam atau hari, tingkat harapan hidup begitu pendek, hingga penggunaan sarana produksi berupa bebatuan, kayu, dan api meniscayakan mereka bekerjasama demi mendapatkan hasil yang maksimal. Motor penggerak kehidupan sosial bukanlah perjuangan yang mengambil wujud persaingan, melainkan berbentuk kerjasama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di tengah kebuasan lingkungan dan kelangkaan makanan. Melalui kerjasama bukan saja pencarian bahan-bahan makanan yang dipermudah, tetapi sekaligus secara efektif dapat saling-melindungi sesamanya dari serang-serangan pemangsa. Selanjutnya aktivitas produksi dan reproduksi komunisme-primitif mendorong berdirinya komunitas-komunitas suku yang hidup berpindah-pindah. Komunalisme merupakan sistem yang mendasari berdirinya suku-suku. Berdasarkan sistem komunal semua sarana produksi primitif dan hasil-hasil kerja dinikmati secara kolektif. Penelitian antropologi terhadap situs-situs paleolitikum telah menunjukannya. Antropolog Richard Gould melihatnya tepat di atas cara hidup suku Aborigin di gurun Australia Tengah. Suku itu memiliki budaya tertua di muka bumi yang kurang-lebih telah berusia 50.000 tahun dengan corak produksi yang setara: ‘semua makanan yang dibawa ke kamp secara cermat dibagi-bagikan di antara semua anggota suku, bahkan ketika makanan ini tidaklah lebih dari seekor kadal kecil’.
Penggunaan perkakas-perkakas primitif tidaklah memungkinkan untuk menghasilkan makanan secara berlimpah. Hanya berdirinya suku-suku maka pemenuhan kebutuhan sehari-hari dipermudah dengan dimulainya pembagian kerja, tetapi bukan pembagian kerja antar-individu dan pemisahan kerja-mental dengan kerja-fisik; pembagian kerja hadir pertama kali dalam bentuk spesialisasi pencaharian bahan makanan antara satu suku dengan suku lainnya yang menjadi landasan mereka untuk melaksanakan pertukaran setara, namun pertukarannya bukanlah disepadankan oleh nilai-tukar atau penyetara universal yang berwujud uang; pertukaran muncul pertama kali sebagai barter nilai-guna yang bersumber dari kerja manusia. Dalam kondisi inilah hubungan-hubungan perempuan dan laki-laki masih berlangsung setara. Antropolog-antropolog lain juga mengukapkan bagaimana kesetaraan laki-laki dan perempuan menjadi karakter kehidupan suku Aghta di Filipina, suku Burzahom di India, suku Bushmen di Afrika, dan suku Iroquois di Amerika Utara. Meneliti suku Kung di gurun Kalahari, Patricia Daper bahkan melukiskannya begitu rupa: ‘laki-laki dan perempuan dari kelompok pencari makanan berhubungan satu samalain secara egaliter. Mereka biasanya ditemukan di dalam kelompok campuran-jenis di lingkungan kamp, walaupun kerja mereka dilakukan di dalam kelompok sesama-jenis. Perempuan tidak menunjukkan keseganan terhadap laki-laki. Hidup dalam kelompok kecil tanpa peran kepemimpinan yang telah terdefinisi-dengan-baik, mereka mengambil keputusan dengan musyawarah mufakat dimana perempuan berpartisipasi bersama laki-laki’. Berdasarkan hasil-hasil penelitian Morgan, Engels juga ikut menjelaskan—melalui “Asal-Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi, dan Negara”—bagaimana dihormatinya perempuan di tengah kehidupan komunalisme: ‘di antara semua orang liar dan semua orang barbar dari tingkat bawah dan menengah, dan sampai batas tertentu juga tingkat atas, kehidupan perempuan tidak hanya bebas, tetapi juga terhormat’. Akses perempuan terhadap sarana produksi menjadi dasar kesetaraannya dengan laki-laki. Dalam berproduksi, antropolog Chris Night menerangkan kalau perempuan-perempuan komunal mengambil peranan signifikan dengan menyediakan 80 persen asupan harian masyarakat dan berdasarkan posisi serta kemampuan kerja inilah perempuan mendapatkan kebebasan seksualitas sepenuhnya: ‘seorang laik-laki muda tidak akan pernah memiliki hak seksual yang permanen atas perempuan yang dia kunjungi secara reguler. Sebaliknya, dia harus terus mendapatkan persetujuan dengan menyerahkan semua daging buruannya kepada ibu mertuanya untuk dibagikan seturut kehendaknya’.
Dalam masyarakat komunisne-primitif, sejak 100.000 tahun yang lalu pembagian kerja dan pertukaran belumlah definitif; tidaklah berdasarkan kepemilikan pribadi dan persaingan tapi komunalisme dan egalitarianisme yang menempatkan perempuan secara terhormat sebagai produsen langsung bahan makanan. Meskipun perempuan mempunyai fakta alamiah, terutama untuk melahirkan seorang bayi hingga dalam jangka waktu tertentu berkewajiban untuk merawatnya, namun kehidupan ibu-ibu di suku Agta menunjukkan tidak menjadi halangan bagi mereka dalam berburu dan meramu. Pada 20.000 SM, perubahan iklim global yang ditandai dengan mencairnya lapisan-lapisan es di kutub utara dan kenaikan suhu serta kelembaman telah memungkinkan untuk menjelajahi wilayah-wilayah baru dan mengumpulkan beragam bahan makanan. Demikianlah teknik-teknik baru dikembangkan: bor dan mata panah untuk menaklukan binatang buas, bubu rotan yang diancam sebagai penangkap ikan. tulang-tulang yang diukir berbentuk jarum-jarum kecil untuk menjahit kulit-kulit binatang menjadi mantel-mantel hangat. Antara 14.000-10.000 SM, perkembangan kekuatan produktif juga disambut kaum perempuan dengan menggencarkan penanaman gandum, budidaya sereal dan aneka jenis tanaman. Meski percobaan ini hanya menghasilkan rumput-rumput liar, tetapi mampu menghasilkan biji-biji kecil yang ditabur kembali ke tanah hingga berkembang di bawah kondisi-kondisi tertentu menjadi varietas gandum yang terbarukan. Peran historis perempuan begitu inovatif dan menandai berlangsungnya Revolusi Neolitikum: digantikannya kegiatan pengumpulan produk-produk alamiah melalui berburu dan meramu secara nomaden dengan bercocok tanam dan berternak yang menetap di desa-desa, bersama pengembangan peralatan rumah tangga yang terbuat dari kayu, tenunan tangan, keranjang anyaman, hingga bermunculannya batu-batu asahan. Sekitar 9.600 SM, perkembangan produksi dan reproduksi bukan saja telah mendorong domestifikasi tanaman dan binatang di pemukiman-pemukiman penduduk hingga memberikan pasokan makanan yang konstan dan surplus untuk disimpan, melainkan pula menciptakan surplus waktu-kerja untuk membangun kuil Gobekli Tepe di Anatolia Tenggara—yang juga digunakan sebagai tempat penyimpanan surplus makanan—dan mengembangkan kepercayaan keagamaan sekaligus memisahkan kerja-mental dan kerja-fisik—yang menandai peningkatan pembagian kerja dan keterasingan manusia primitif dalam hubungannya dengan alam. Dalam “Masalah Keterasingan”, George Novack menjelaskan:
“Bentuk primitif keterasingan manusia yang paling awal muncul dari perbedaan antara aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan kendali manusia terhadap alam. Walaupun manusia primitif telah tumbuh kuat menjadi barisan pekerja kolektif dalam menghadapi dan melawan kekuatan alam, mereka belum menemukan alat-alat produksi, teknik dan ilmu pengetahuan yang dapat mereka gunakan untuk menghadapi dan melawan kekuatan alam. Kondisi seperti itu, membuat mereka tidak berdaya melawan kekuatan alam. Mereka bertekuk lutut di bawah ancaman kekuatan alam. Belum mampunya mereka menciptakan alat produksi (teknologi), teknik, dan ilmu pengetahuan seperti itu dan ketidakmampuan mereka untuk berpikir mengenai cara menghadapi ancaman alam, mereka pun menciptakan Tuhan dan agama … Mereka berharap kekuatan Tuhan akan melindungi mereka dari ancaman alam. Manusia telah menipu dirinya sendiri, dan bersujud di hadapan berhala ciptaannya sendiri. Keterceraiberaian antara Tuhan dan manusia adalah keterasingan manusia dari alam….”
Meskipun pembagian kerja dan surplus mengalami peningkatan dan alienasi terekspresikan melalui pemujaan keagamaan, tetapi penindasan terhadap perempuan tidak ditemukan karena kepemilikan komunal masih belum dihancurkan; kondisi-kondisi material masyarakat berkelas belumlah cukup matang. Tetapi intensifikasi produksi pertanian, domestifikasi binatang dan pengembang-biakan ternak semakin meningkatkan surplus bahan makanan. Keberlimpahan ini menuntut penambahan tempat penyimpanan. Pada 9.500 SM, dibangunlah pemukiman-pemukiman neolitikum di Tell Abu Hureyra, Jerf el-Ahmar, Yerikho, dan Eridu—yang mampu menampung ratusan sampai ribuan orang dengan persediaan makanan berlimpah dan memberikan mereka banyak waktu-luang untuk bereproduksi. Dalam kondisi inilah tingkat kelahiran meningkat dan situs-situs keagamaan berkembang pesat. Walaupun hidup di tengah-tengah pemukiman memicu lonjakan angka kelahiran dan kematian secara bersamaan—memudahkan persetubuhan dan melahirkan sekaligus mengancam anak-anak yang baru dilahirkan dengan masalah-masalah sanitasi, kuman, dan penyakit epidemik—namun ibu-ibu tidaklah dituntut menghabiskan waktunya untuk tinggal di rumah dan menenggelamkan hari-harinya dalam persoalan domestik. Saat 6000 SM, ketika pemukiman-pemukiman permanen menyebar di daerah Bulan Sabit yang subur, organisasi sosial masyarakat masih bersifat komunal dengan struktur klan matrilineal dan membangun rumah-rumah panjang matrilokal. Demikianlah setiap anak yang dilahirkan tidak sekadar ditarik dari garis keturunan matrilineal dan menghubungkan diri secara rapat dengan kerabat-kerabat ibunya, tapi juga dalam merawat anak-anaknya seorang ibu menjadi sangat terbantu karena setiap anak dalam komunitas matrilokal dianggap menjadi tanggung jawab dari semua kerabat ibunya. Pembagian kerja dan surplus soalnya diperuntukan bukan demi melayani kepentingan individu, tetapi memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup bersama. Organisasi sosial suku-suku diatur berdasarkan kerjasama yang setara antara perempuan dan laki-laki dan tergantung pada iklim serta kebutuhan memelihara dan menjaga budidaya pertanian dan peternakan dari serangan pemangsa. Bahkan perempuan dalam komunitas-komunitas matrilokal bukan hanya menggiling biji-biji gandum dan menenun, tetapi juga mengurus hewan-hewan ternak, membuat perkakas-perkakas kerja, dan menikmati status sosial yang sama dengan laki-laki. Lewat “Asal Mula Masyarakat Kelas”, Josh Holroyd dan Laurie O’Connel menjelaskannya:
“…Studi antropologis etnis Konso, sebuah kelompok etnik di Ethiopia yang sebagian besar bercocok tanam, yang pekerja kulitnya adalah salah satu dari orang-orang terakhir di dunia yang menggunakan alat batu dalam skala massa, menunjukkan bahwa perempuan di komunitas ini biasanya adalah pembuat alat. Rumah tangga Neolitikum adalah rumah dan juga sanggar kerja, dan bukti menunjukkan bahwa perempuan merupakan jantungnya…. Ada banyak bukti masyarakat-masyarakat dimana laki-laki dan perempuan melakukan kerja yang setara di dalam dan di luar rumah, semisal situs Neolitikum Catalhoyuk di Turki. Ada juga banyak masyarakat dimana pertanian cenderung dilakukan oleh perempuan dan bukannya laki-laki, seperti suku Iroquois yang didokumentasikan oleh Morgan. Oleh karenanya, akan terlalu simplistis dan keliru untuk menarik hubungan otomatis dan langsung antara pertanian dan perempuan untuk bekerja di rumah. Terlebih lagi, kita tidak dapat menafsirkan perubahan pembagian kerja dalam keluarga ini sebagai bukti kuat adanya penindasan sistematis terhadap perempuan dan patriarki, yang di kemudian hari akan menjadi ciri khas masyarakat-masyarakat ‘beradab’ nantinya. Walaupun tampaknya perempuan lebih cenderung bekerja di rumah, kerja mereka sangatlah dihargai dalam masyarakat mereka dan mereka menikmati status yang sama dengan laki-laki. Banyak kuburan Neolitikum yang telah ditemukan mengandung jumlah laki-laki dan perempuan yang setara, tanpa adanya perbedaan kekayaan dan status yang mencolok di antara mereka, seperti Midhowe Cairn di Skotlandia.”
Revolusi Neolitikum, peningkatan pembagian kerja dan surplus tidaklah secara otomatis dan absolut menghancurkan sistem komunal dan mendirikan masyarakat berkelas. Hanya tumbuhnya lapisan masyarakat yang ditopang produk-surplus ‘makanan’ menjadi basis keberadaan sosial mereka untuk menikmati waktu-luang, menjauhkan diri dari pekerjaan-pekerjaan produktif, dan memisahkan antara kerja-mental dari kerja-fisik. Berkembangnya pertanian hortikultural, domestifikasi hewan, dan menemuan alat-alat kerja baru di pemukiman-pemukiman Neolitikum tampil sebagai titik balik dalam sejarah umat manusia. Intensifikasi pembagian kerja dan surplus menjalarkan alienasi begitu rupa. Sepanjang 9.000-6.000 SM, di Yerikho penyembahan terhadap tengkorak leluhur—yang dipimpin oleh dukun-dukun atau tukang-tukang sihir—diyakini dapat melimpahkan hasil kerja serta memberi keselamatan bagi seluruh suku. Sekitar 5.800 SM, situs pemujaan Eridu bahkan menempatkan imam atau pendeta bukan saja sebagai pemimpin-pemimpin spiritual tapi terutama pengontrol pembangunan irigasi. Upaya untuk mengembangkan sistem pengairan berskala raksasa membutuhkan pembagian kerja yang kompleks dengan pemuka-pemuka agama tampil memberi perintah. Metode pemaksa yang pertama kali diandalkan adalah persetujuan seluruh komunitas atau mayoritas anggota suku. Di sepanjang Mesopotamia pada 5.100-an SM, mereka berperan sebagai pelayan kepentingan komunitas-komunitas suku tapi dengan privilese-privilese tertentu yang memberikan kekuasaan relatif untuk berdiri di atas masyarakat. Di Tell al-‘Ubaid, berlangsungnya irigasi mendorong penemuan mata bajak dan penggunaan binatang-binatang besar untuk membajak lahan secara efektif menggantikan produksi pertanian hortikultur dengan agrikultur bajak. Kombinasi antara irigasi dan penggunaan bajak memungkinkan untuk pengolahan lahan-lahan yang tidak subur dan pembukaan lahan-lahan besar, meningkatkan surplus yang terkonsentrasi dalam kuil-kuil, hingga menguatkan privilese para pendeta dan memberi mereka kekuasaan absolut untuk mengontrol masyarakat.
Pergeseran historis itu menandai fase-transisi dari masyarakat komunisme-primitif menuju masyarakat berkelas. Produktivitas kerja telah meningkat yang ditandai dengan keberlimpahan produk-surplus. Tetapi dengan produktivitas yang meningkat, rakyat pekerja bukan malah memperoleh waktu-luang melainkan terjerat dalam perbudakan. Sebab dikonsentrasikannya bahan-bahan makanan di kuil-kuil tidak dapat lagi mereka dapat nikmati untuk melancarkan kegiatan reproduksinya dengan sepenuh-penuhnya. Menumpuknya produk-surplus di kuil justru membangun despotisme kekuasaan dari para pendeta. Seratus tahun kemudian, tepat 5.000 SM, masyarakat kelas muncul pertama kali di Uruk. Pemimpin-pemimpin keagamaan tampil sebagai kelas tuan-budak. Mereka memusatkan kehidupan sosio-ekonomi berpusat di Anu (kuil dewa langit), Inana (kuil dewi cinta), dan kuil-kuil lainnya. Dengan dalih-dalih spiritualnya rakyat pekerja ditipu untuk membawa semua produk-surplus kuil-kuil ini guna dipersembahkan kepada dewa-dewinya. Pendeta-pendeta mengadakan aneka ritual mistifikasi dalam menyambut sesajen atau persembahan hasil-hasil alam dari rakyat pekerja. Intensifitas pembagian kerja dan surplus meningkatkan otoritas pendeta untuk mengubah ritualitas ini menjadi ajang eksploitasi: penarikan upeti, penundukan desa oleh kota, kerja-paksa dan aneka perbudakan terhadap manusia. Di sisi lainnya perkembangan teknologi baru menyapu kerja-kerja kolektif dengan teknik-teknik pekerjaan pertanian yang terisolir, tidak membutuhkan hubungan kerjasama banyak tangan, hingga menyingkirkan perempuan dari aktivitas-aktivitas produksi sosial. Tahun 4.500 SM, sistem irigasi dan penggunaan bajak berhasil menyebar di seluruh Mesopotamia dan akibatnya adalah perempuan diasingkan, didepak menuju belenggu-belenggu domestik, dan berhenti menjadi produsen utama bahan makanan. Di tengah kondisi inilah patriarki bangkit dan mengambil bentuk penindasan terhadap perempuan untuk pertama kalinya dalam sejarah: penyingkiran perempuan dari kegiatan produksi sosial dan domestifikasi perempuan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan non-produktif di tengah-tengah keluarga-inti patrilokal yang berdiri di atas pendapatan laki-laki dan garis keturunan patrilineal. Pada 3.100 SM, tembok-tembok kota mulai didirikan untuk mengorganisir kekuatan militer guna melindungi produk surplus, mempertahankan kekuasaan pendeta, dan melancarkan eksploitasi dan penindasan terhadap rakyat pekerja. Begitulah negara pertama yang dipimpin oleh raja-raja imam berdiri: monarki-monarki Sumeria. Di sisinya, kekerasan gender dan seksual mengada—dimulai dengan penyingkiran gender perempuan dari aktivitas produksi, hingga diperlakukan sebagai budak-budak rumah tangga dan pelayan-pelayan seks bagi kaum-kaum berpunya. Dalam “Penyingkiran Perempuan”, Pat Brewer menjelaskannya:
“Agrikultur bajak awal memerlukan kekuatan fisik yang lebih besar [dan pembagian kerja yang lebih tajam], termasuk pemanfaatan hewan tak hanya kambing dan biri-biri, melainkan hewan yang lebih besar seperti lembu, dan bergantung pada bajak dengan mata bajak yang terbuat dari tembaga (bukan besi yang lebih kuat yang dikembangkan kemudian). Membajak juga merupakan aktivitas yang terisolasi dibandingkan dengan hortikultur yang dilakukan perempuan, selain itu membajak juga tidak muda dikerjakan sambil mengasuh anak. Di saat yang sama terjadi peralihan dalam pemeliharaan hewan yang tadinya untuk diambil daging dan kulit, menjadi sumber produksi dan susu sekunder, wol, dan kekuatan penarik untuk membajak, memanen, dan transportasi, perkembangan bajak kemudian menyingkirkan perempuan, dari peranan mereka dalam produksi sumber utama makanan…. Perdagangan dan pertukaran komoditi umumnya dibawa oleh laki-laki atas nama rumah tangga atau klan. Secara meningkat, hal itu memberi tekanan pada mereka untuk menggabungkan produk-produk kerja agrikultur mereka dengan produk rumah tangga, sehingga semakin meningkatkan kecenderungan kepemilikan individu dan penguasaan atas seluruh produk. Kepemilikan materi dan warisan mengarahkan pada akumulasi kekayaan antar-generasi, membangun hierarki sosial kelas, status dan kekuasaan. Kekayaan menjadi kekuatan dengan dipinjamkan pada keluarga-keluarga miskin, sebagai timbal-balik, membayarnya dengan memberikan jasa seperti tenaga atau tugas-tugas perang. Perbedaan antara kaya dan miskin semakinmelebar ketika si miskin berutang semakin banyak dan semakin sedikit waktu yang mereka punya untuk memproduksi kebutuhan mereka sendiri. Proses ini adalah kerangka yang membuat manusia, sebagaimana layaknya produk, binatang, barang-barang, dan tanah, menjadi obyek nilai yang dipertukarkan. Anak-anak atau perempuan dapat diserahkan (sebagai pekerja atau penghasil anak) guna membayar utang-utang keluarga miskin.”
Setelah berdirinya kuil-kuil yang menumpuk bahan-bahan makanan dalam jumlah raksasa dan disingkirkannya perempuan dari aktivitas produksi kekayaan material untuk memenuhi kebutuhan komunitasnya, maka proses pertukaran tidak lagi berbentuk barter antara satu suku dengan suku lainnya—kegiatan pertukaran telah diambil-alih oleh pendeta yang (terkadang) mempertukarkan produk-surplus di kuil-kuilnya dengan hasil-hasil kerajinan, hingga perempuan-perempuan dari keluarga-keluarga rakyat pekerja yang tiada sanggup membayar utangnya. Namun dalam masyarakat kelas awal, perbudakan dan feodalisme (setelahnya), konsep komoditas sebagai produk kerja yang diperdagangkan—produksi-untuk-pertukaran—masih sangat sedikit dijalankan. Rakyat pekerja dalam masyarakat perbudakan dan feodal secara umum tidak pernah mengorientasikan produk-produk kerjanya untuk dipertukarkan dengan hasil-hasil kerja orang lain. Mereka memproduksi untuk digunakan sendiri, bukan untuk dipakai kelompok lain atau dipertukarkan, tetapi jika barang dan jasa yang diproduksinya dinikmati oleh tuan-budak maupun tuan-tanah; ini bukan karena mereka sengaja memberikannya, melainkan atas paksaan, perampasan, dan tekanan-tekanan langsung kekuasaan. Begitulah metode yang diterapkan kelas penguasa dalam masyarakat perbudakan dan feodalisme: merenggut barang dan jasa dari rakyat pekerja tanpa imbalan. Hanya di bawah kapitalismelah produksi-untuk-pertukaran menjadi dominan. Pengembangan-pengembangan teknik bukan sebatas mendorong produktivitas umat manusia, tetapi juga meningkatkan pembagian kerja melalui proses spesialisasi yang menciptakan aneka produk berbeda-beda dan menguniversalkan pertukaran komoditas. Produksi dan pertukaran menjadi hukum universal dalam masyarakat kapitalis: setiap produk kerja sosial tidak dapat langsung dikonsumsi; semua barang dan jasa dipertukarkan dengan uang sebagai penyetara nilai universal dan ekspresi kekuasaan yang terasing dari kerja manusia. Dalam masyarakat kapitalis, jalannya eksploitasi rakyat pekerja begitu terselubung dibanding zaman kuno. Pada era feodal, tani-hamba selain berhari-hari berproduksi untuk tuan-tanah juga di hari tertentu berkesempatan bekerja demi pemeliharaan dirinya sendiri. Sementara dibandingkan masa perbudakan, Marx menulis begini:
“Dalam kerja budak, bahkan bagian dari hari kerja di mana budak hanya menggantikan nilai kebutuhan hidupnya sendiri, di mana ia sebenarnya bekerja untuk dirinya sendiri, tampak sebagai kerja untuk tuannya. Semua pekerjaannya muncul sebagai kerja yang tidak dibayar. Sebaliknya, dalam kerja-upahan, bahkan kerja-lebih, atau kerja yang tidak dibayar, tampak sebagai kerja berbayar. Dalam satu kasus, relasi kepemilikan menunjukkan kerja budak untuk dirinya sendiri; dalam kasus lain, hubungan uang menyembunyikan kerja yang tidak dibayar dari kerja-upahan.”
Pembagian kerja dalam masyarakat kapitalis tidak membuat manusia mampu mengendalikan kekuatan buta yang terdapat di alam demi memenuhi kebutuhan materialnya dan memajukan fakultas-fakultas pikiran, perasaan, dan kehendaknya. Kapitalisme memperlihatkan bagaimana kerja manusia menjadi arena penghancuran tenaga produktif. Proses produksi menempatkan kaum produsen sebagai makhluk yang teralienasi. Kepemilikan pribadi terhadap alat produksi telah memisahkan antara kerja-mental dan kerja-fisik, hingga mengondisikan proletariat terasing dari pekerjaannya: alat kerja, hasil kerja, dirinya dan sesamanya. Secara dialektis, kerja yang dilakukan tak sekadar tercerabut dari produsennya tapi lebih-lebih menjadi bumerang yang berbalik menyerang kelas pekerja. Begitulah perkakas produksi tiada melayani penggunanya melainkan menjelma sebagai bumerang yang memaksa buruh untuk menyesuaikan diri dengan beroperasinya mesin-mesin yang mempersengit pembagian kerja dan meningkatkan persaingan, kelelahan, dan keterasingan dalam produksi kapitalisme. Alienasi yang berlangsung pada aktivitas produksi selanjutnya meluas lewat pertukaran komoditas, karena kelas proletar tidak saja menciptakan nilai-lebih bagi kapitalis tapi juga menjadi konsumen dalam merealisasikan nilai-lebih dengan membeli komoditas-komoditas yang telah diproduksinya. Dari kondisi inilah keterasingan kerja tidak sekadar bersemayam pada aktivitas produksi tetapi merangsek jauh melalui konsumsi yang melibatkan sebanyak mungkin rakyat pekerja. Demikianlah kaum Marxis meninjau persoalan keterasingan—merujuk pada proses produksi dan reproduksi manusia yang berlangsung dalam hubungannya dengan kerja, alat kerja, dan hasil kerjanya; relasi antara manusia dengan alam untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. George Novack menerangkannya:
“Keterasingan telah menjadi ciri umum sejarah manusia. Keterasingan telah muncul semenjak zaman primitif, dan terus berlanjut hingga zaman manusia modern. Keterasingan kerja merupakan ciri khas peradaban manusia, dan terikat dengan perkembangan alat produksi dan hubungan produksi…. Kendali manusia yang semakin besar terhadap alam diikuti oleh hilangnya kendali terhadap proses produksi selama proses produksi masih sederhana dan aktivitas kerja dilakukan secara kolektif dalam kehidupan manusia primitif. Namun, perluasan pembagian kerja secara sosial menyebabkan semakin banyak barang-barang kebutuhan hidup yang diubah menjadi komoditas, dan dipertukarkan di pasar [demi akumulasi kapital kelas borjuasi]. Kondisi seperti ini membuat kaum pekerja kehilangan kendali terhadap hasil kerja mereka, karena hasil-hasil produksi tunduk pada hukum pasar komoditas. Pada gilirannya, hukum itu mengatur kehidupan kaum pekerja sedemikian rupa, sehingga kaum pekerja sendiri menjadi komoditas untuk diperjual-belikan di pasar tenaga kerja. Dalam kondisi seperti ini, perbudakan terhadap tenaga kerja adalah sistem keterasingan kerja yang terorganisasi…. Keterasingan yang diderita oleh kelas pekerja berbasis pada sejarah kepemilikan pribadi terhadap alat-alat produksi. Kepemilikan pribadi itu memungkinkan untuk merampas surplus komoditas yang diproduksi oleh kelas pekerja. Tidak ada yang misterius dalam mengungkapkan asal-usul keterasingan dalam masyarakat yang telah terbagi dalam kelas. Keterasingan muncul sebagai akibat dari pemisahan tenaga kerja dari hasil produksinya, dan pemisahan tenaga kerja dari alat-alat produksi. Ketika alat produksi berada di luar kontrol kelas pekerja, mereka kehilangan kendali terhadap hidup mereka, kehilangan kebebasan mereka, dan kehilangan sarana-sarana untuk mengembangkan potensi kemanusiaan mereka…. ”
Saat ini perkembangan teknik dan kapasitas produksi umat manusia telah mencapai tingkat yang tiada terkira, namun produksi kapitalisme bukanlah semata-mata tentang intensifitas pembagian kerja dan barang-dagangan karena pada hakikatnya adalah mengenai nilai-lebih. Konsep tentang nilai-lebih berkait dengan kerja-produktif dalam hubungan antara kapital dan proletar—eksploitasi: (1) peningkatan nilai-lebih absolut dengan memperpanjang keseluruhan hari kerja dan (2) peningkatan nilai-lebih relatif dengan memperpendek waktu kerja-perlu yang dibayar dan memperpanjang kerja-surplus yang tidak-dibayar. Namun dalam kegiatan produksi kapitalisme bentuk-bentuk eksploitasi ini menjadi kabur karena semua kerja nampak seperti dibayar dengan sistem kerja-upahan. Atas dasar pengupahan kelas borjuis memandang telah menunaikan kewajibannya ketika mempekerjakan buruh-upahan. Padahal tak seluruh kerja buruh dibayarkan. Saat memproduksi komoditas, proletar bukan sebatas melakukan kerja-konkret untuk menghasilkan nilai-guna yang berbentuk barang dan jasa secara fisik, tapi juga kerja-abstrak untuk menciptakan nilai-tukar. Kerja-abstrak ini bukanlah merupakan fungsi yang dijalani ketika bekerja: menjahit, memintal, memutar, menarik, mengangkut, berkendara, dan sebagainya. Kerja-abstrak berhubungan dengan tenaga-kerja, keseluruhan kemampuan mental dan fisik, kolaborasi antara pikiran, perasaan, dan kehendak. Dalam kerja-upahan, kapitalis hanya membayar fungsi-fungsi kerja dan menolak memberikan bayaran untuk kerja-abstrak. Sementara nilai-tukar pada produk-produk kerja tidak diberikan oleh fungsi kerja (kerja-konkret, nilai-guna dari kerja), melainkan tenaga kerja atau kemampuan kerja ‘yang hidup’ dan digunakan selama waktu tertentu (kerja-abstrak, nilai-tukar dari kerja) yang perlu dipulihkan kembali melalui reproduksi (di lingkungan keluarga atau rumah tangga) dengan menunaikan pertukaran (konsumsi atas barang-barang di pasar). Inilah satu-satunya sumber nilai-lebih bagi kapitalis; kerja-abstrak yang bukan saja menghasilkan dan mengurung nilai-lebih dalam komoditas sebagai potensi, tapi juga ikut merealisasikannya di pasar-pasar. Demikianlah kerja-abstrak sesungguhnya adalah aktivitas produksi sekaligus konsumsi. Marx menjelaskan begini:
“Bukan kerja yang secara langsung berhadapan dengan pemilik uang di pasar barang-dagangan, melainkan si pekerja. Apa yang dijual pekerja adalah tenaga-kerjanya. Begitu pekerjaannya benar-benar dimulai, itu sudah tidak lagi menjadi miliknya, karena itu tidak bisa lagi dijual olehnya. Kerja adalah subtansi, dan ukuran imanen dari nilai, tetapi ia sendiri tidak memiliki nilai…. Sementara berproduksi ia mengonsumsi alat-alat produksi dengan kerjanya, dan mengubahnya menjadi produk-produk dengan nilai yang lenih tinggi daripada kapital yang dikeluarkan di muka. Ini adalah konsumsi produktifnya…. Sebaliknya, pekerja menggunakan uang yang dibayarkan kepadanya untuk tenaga-kerjanya, untuk membeli kebutuhan hidup; ini adalah konsumsi pribadinya…. Alat produksinya kemudian hanyalah alat konsumsi dari alat produksi; konsumsi individualnya adalah konsumsi produktif secara langsung.”
Di zaman krisis kapitalisme, eksploitasi terhadap kemampuan kerja umat manusia menggila. Perempuan dan anak adalah korban utamanya. Pada 2020, 142 juta anak dibelenggu kemiskinan dan kelaparan yang begitu rupa. Sepanjang 2016-2020, pekerja-pekerja anak terdeteksi memasuki beragam pekerjaan dengan jumlah beratus-ratus juta. Tahun 2022, UNICEF mengeluarkan laporan: 200 juta anak perempuan maupun laki-laki di seluruh dunia melakukan banyak pekerjaan yang berbahaya secara ‘mental, fisik, sosial, dan moral’. Sebelumnya, 2009-2016 saja, jumlah hari kerja yang hilang mencapai: 146 juta karena sakit dan 15,8 juta akibat stres, depresi dan cemas. Sementara ILO mencatat: 22 ribu anak per tahun tewas saat bekerja dan setiap harinya 60 anak sekarat. Dipekerjakan dengan upah-murah dan kondisi kerja yang buruk; mereka rata-rata telah menempuh 16 jam kerja sehari, tanpa adanya hari libur, mengalami pemukulan, kekerasan seksual, dan berakhir dengan penyakit mental atau kematian mendadak. Krisis yang berlarut-larut keluarga dan rumah tangga rakyat pekerja mengalami goncangan dahsyat. Saat tingkat laba kaum kapitalis menurun, mereka menggencarkan gerak kontra-tendensi dengan memperpanjang waktu-kerja, pemotongan upah, pemecatan sepihak, pemberangusan serikat buruh, hingga meningkatkan eksploitasi perempuan dan anak. Dalam kondisi inilah pelecehan, kekerasan, dan pembunuhan berbasis gender dan seksual membukit. Keterasingan yang dialami buruh-buruh di pabrik meluas seiring dengan peredaran komoditas yang tidak mampu direalisasikan menjadi nilai-lebih. Barang-barang tersedia dengan jumlah yang meraksasa, tapi umat manusia tak mampu untuk membelinya. Saat triliunan dolar setiap detiknya meloncat keluar-masuk di bursa-bursa efek, miliaran keluarga dan rumah tangga rakyat pekerja justru mendera kekurangan uang dan kelebihan utang. Ketika uang sebagai penyetara universal yang mengkristal dalam pertukaran tidak mampu didapatkan, maka beragam kebutuhan hidup takkan pernah terpenuhi. Pekerja-pekerja perempuan, anak-anak dan muda menjadi penanggung beban terberat dari stagnasi ekonomi. Sementara meroketnya inflasi dan resesi lagi-lagi berusaha diselesaikan kelas borjuis dengan kebijakan proteksionisme dan pemotongan subsidi. Akhirnya spiral ke bawah dan tekanan-tekanan hidup membukit.
Rakyat pekerja mengalami keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Dengan kemiskinan dan pengangguran permanen, intensifitas penggunaan mesin dan pembagian kerja—semuanya memicu persaingan di antara pekerja hingga memudahkan kapitalis dalam memotong upah, bahkan menerapkan upah-waktu dan upah-borongan dengan begitu rupa. Berlandaskan kerja-kontrak dan outsourcing, kelas borjuis seenaknya menggangikan upah bulanan dengan upah per jam dan per unit. Bentuk-bentuk eksploitasi brutal ini sedang digencarkan di kawasan industri, pergudangan, dan pabrik-pabrik. Lebih mengerikan dapat dilihat dari pekerja-pekerja di sektor ekspedisi dan logistik: Shopee Xpress, J&T, ZNE, Ninja, Si Cepat, Lion Parcel, dan sebagainya. Di antara mereka, terdapat yang hanya mengangkat segelintir pekerja tetap dan dapat diturunkan atau dipecat begitu mudah. Mereka memberlakukan kerja-kontrak dengan upah-waktu, upah-potongan, dan upah-borongan. Terlebih untuk upah-borongan mulai dari Rp 1.080-1.900 per paket. Sementara setiap harinya jutaan paket dikirimkan ke pelbagai gudang. Setiap gudang mendapatkan antara 1.000-20.000 paket dan masing-masing buruh mengantarkan: sekitar 15-100 paket saat sepi dan 70-190 paket saat ramai. Pekerja-kontrak diberi 20-25 ribu rupiah untuk bensin dan pekerja-mitra tidak ada sama sekali. Tanpa jaminan kesehatan dan keselamatan kerja, mereka dipekerjakan setiap harinya dengan target paket habis terbagi; sehingga panjang jam kerjanya beragam, mulai dari pagi hingga malam, rata-rata 12 jam kerja, dan banyak pula yang lembur. Melalui panjangnya hari kerja dan rendahnya upah maka bukan saja kondisi fisik dan mental yang menjadi aus dan lemah, tetapi juga terbatas dan kesulitan memenuhi kebutuhan dan tuntutan pekerjaan. Sedangkan pemberlakuan upah-borongan memuluskan kapitalis dalam meningkatkan intensitas kerja dengan mengiming-imingi intensif untuk buruh agar bekerja lebih keras, mengirim paket sebanyak mungkin, hingga mendapatkan bayaran tinggi. Di tengah berfluktuasinya pasokan paket dan rayuan-rayuan insentif maka persaingan di antara pekerja tumbuh: perlombaan untuk mendapatkan dan mengirimkan sebanyak-banyaknya menjadi lumrah—ini memberikan kapitalis keuntungan berlimpah. Namun pekerjaannya berlangsung sangat melelahkan, menekan dan menghancurkan kepribadian buruh. Selama bekerja, buruh-buruhnya dipantau terus-menerus melalui aplikasi kerja dan performannya ditentukan oleh mesin. Mesin mengatur jadwal absen, masuk-gudang, bongkar-muatan, menyortir, dan turun-jalan. Mesin mengarahkan bagaimana buruh harus membawa kendaraan, menemui, menyapa, berbicara, meminta dan menerima bayaran dari pemesan paket. Bahkan mesin secara detil mewanti seberapa nominal bayar-langsung yang harus ditransfer ke rekening perusahaan. Singkatnya, mekanisasi menyederhanakan seluruh keterampilan yang berbeda-beda melalui pengaturan dan penyeragaman tapi tidak pernah memberitahukan cara-cara beristrahat, berlibur, apalagi mengembangkan kebudayaan.
Di tengah krisis kapitalisme, penurunan upah dan peningkatan jam kerja yang mengharuskan terus-menerus berproduksi tanpa jaminan pemenuhan kebutuhan sehari-hari meningkatkan keterasingan rakyat pekerja. Kaum buruh tidak memiliki cukup uang untuk mengonsumsi produk-produk kerjanya. Ini menjadi kontradiksi fundamental dalam masyarakat barang-dagangan: di satu sisi, berlangsung perkembangan yang tak terbatas dari tenaga-tenaga produktif dan kekayaan material masyarakat, yang seluruhnya merupakan komoditas dan menuntut untuk segera direalisasikan menjadi uang-tunai yang harus kembali sirkulasikan; di sisi lain kapitalisme berdiri dengan fakta bahwa kaum produsen tidak sanggup untuk mengonsumsi produk-produk surplus yang berkelimpahan. Marx menerangkan: ‘produksi-berlebih secara khusus oleh hukum umum produksi kapital: untuk berproduksi hingga batas yang ditentukan oleh tenaga-tenaga produktif, yaitu mengeksploitasi sebanyak-banyaknya kerja dengan jumlah kapital tertentu, tanpa mempertimbangkan batas aktual pasar atau kebutuhan yang didukung oleh kemampuan untuk membayar’. Efek spiral ke bawah dari sistem yang sedang sekarat sangat menggoncang unit-unit keluarga pekerja. Kapitalisme yang sejak kehadirannya mengandalkan keluarga-inti sebagai unit mandiri penyedia generasi proletar; selama momen-momen kritis berbalik menghancurkan tenaga-tenaga produktif yang telah disediakan rumah tangga kaum buruh. Ayah, ibu dan anak—semuanya telah diseret masuk dalam lingkaran-lingkaran industri. Unit-unit rumah tangga lama mereka telah dikikis dan dirubah. Semuanya bekerja sebagai buruh-upahan, mereka teralienasi saat berproduksi, dan masing-masing membawanya sampai ke rumah-rumah dengan level-level keteraasingan yang begitu rupa. Keberadaan keluarga rakyat pekerja akhirnya disesaki angkara, hingga tekanan-tekanan brutal meledakan tindakan-tindakan ekstrem: perbudakan istri dan anak sebagai pelacur atau pengemis, perselingkuhan bahkan perceraian suami dengan istri, hingga aneka bentuk kriminalitas terhadap perempuan dan anak. Kehancuran keluarga macam inilah yang diterangkan “Manifesto Komunis”:
“Dalam kondisi-kondisi proletariat, mereka yang berasal dari masyarakat lama pada umumnya sudah … tenggelam. Proletar adalah tanpa properti; hubungannya dengan istri dan anak-anaknya tidak lagi memiliki kesamaan dengan hubungan keluarga borjuis…. Atas dasar apa keluarga yang sekarang, …? Dengan modal, demi keuntungan pribadi. Dalam bentuknya yang sepenuhnya berkembang, keluarga ini hanya ada di antara kaum borjuis. Tetapi keadaan ini menjadi pelengkap dalam ketiadaan praktis keluarga di kalangan kaum proletar, dan dalam prostitusi publik…. Tepuk tangan borjuis tentang keluarga dan pendidikan, tentang hubungan keramat orangtua dan anak, menjadi semakin menjijikan karena dengan tindakan industri modern semua ikatan keluarga di antara kaum proletar hancur berkeping-keping, dan anak-anak mereka berubah menjadi komoditas sederhana dari perdagangan dan instrumen tenaga kerja.”
Pada kondisi kaum muda yang berasal dari rumah tangga pekerja juga serupa; semakin menajamnya kontradiksi masyarakat kapitalis mendorong pelajar dan mahasiswa bukan sekadar bekerja serabutan sambil berstudi, melainkan pula memerosotkan perkembangan intelektual dan moralnya dengan berjudi atau melacurkan dirinya. Serangan-serangan terhadap standar hidup mengharuskan mereka menanggalkan aneka nilai dan keyakinan-keyakinan lama. Bahkan pesan orangtua untuk menimbah pengetahuan menjadi terabaikan. Daripada fokus belajar, bersekolah, atau berkuliah; mereka menempuh pelbagai cara untuk berjuang mempertahankan hidupnya dari himpitan keberadaan sosialnya yang lemah dan serba-kekurangan. Dalam hubungan asmara yang awalnya dirajut dengan rasa suka, sayang dan cinta terpelanting ke arah pemenuhan-pemenuhan kebutuhan paling dasar: tinggal bersama untuk mengurangi ongkos makan-minum, kos, laundry, bensin, listrik, air, pulsa dan kuota internet. Hanya berbarengan di satu kamar maka bukan sebatas kecenderungan-kecenderungan emosional yang mudah tersalurkan, melainkan pula dorongan-dorongan seksualitas. Di tengah krisis kapitalisme, ketika percintaan orang-orang lemah dan papa berbuntut kehamilan yang tidak diinginkan maka aborsi atau pembuangan bayi dijadikan satu-satunya solusi yang paling gampang dilakukan. Saat pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar dibanduli keterbatasan-keterbatasan keuangan, di kala iklan-iklan produk-surplus yang beraneka, akibat terburuknya adalah kehidupan berpasangan yang diharapkan menjadi momen berkasih-sayang atau sekadar meringankan pengeluaran justru menjadi arena paling rentan mengalami konflik, perpecahan, dan perbudakan seksual. Sedangkan bagi rakyat pekerja yang belum menemukan pasangan seksual dan tiada berkecukupan untuk menggunakan layanan pekerja seks; mereka-mereka berkecenderungan menyalurkan libidonya dengan menonton film-film porno, melakukan onani atau mastubrasi, bahkan sampai melancarkan pelecehan dan kekerasan seksual terhadap orang-orang di sekitarnya.
Namun ketika buruh perempuan dan muda menjadi korban dari seabrek predator seksual—bukanlah sebatas pelaku dan terutama kapitalismelah yang disalahkan, karena lebih jauh menekan korbannya. Perempuan-perempuan pekerja dan muda dituding berpenampilan dan memoles dirinya begitu rupa, sehingga gampang menyulut libido laki-laki. Pakaian semi-terbuka dan pose-pose ekspresif yang dipupuk menggunakan kosmetik dan aplikasi modern dipandang sebagai aib bagi kaum perempuan: tidak bermoral dan liar. Harus dimengerti bahwa di bawah kapitalisme segala bentuk tampilan erotik perempuan merupakan dampak dari perluasan produksi dan pertukaran komoditas. Tekanan kapitalisme tak sekadar menggempur dengan tekanan penghematan, kemiskinan dan pengangguran permanen, tetapi juga memaksa rakyat pekerja untuk segera merealisasikan nilai-lebih dengan menjadi lebih konsumtif. Pada kondisi inilah perempuan pekerja dan muda ditarik mengikuti logika-mode borjuis: seruan dan rayuan-rayuan iklan untuk memakai produk-produk mutakhir meskipun bukanlah merupakan kebutuhan dasar. Pada pelajar dan mahasiswa, serangan ini sangatlah kuat karena mereka memiliki banyak waktu-luang. Sementara waktu-luang dalam masyarakat kapitalis telah terintegrasi dengan sirkulasi kapital. Kebudayaan borjuis mendominasi saluran ilmu pengetahuan, teknologi, pergaulan dan gaya hidup. Demikianlah waktu-luang yang seharusnya menjadi momen pengembangan potensi manusia dengan sepenuhnya tergerogoti oleh ranjau-ranjau belanja dan konsumsi komoditas. Terintegrasinya sirkulasi komoditas ke dalam waktu-luang menjerumuskan pikiran, perasaan, dan kehendak manusia ke rawa-rawa pertukaran. Akibat terburuknya adalah merosotnya intelektual, moral, dan psikologi manusia di lembah keterasingan. Di tengah kemiskinan umumdan segala serangan terhadap standar-standar hidup yang terus-menerus, maka keberadaan sosial pelajar dan mahasiswa begitu terancam. Demi mendorong pertukaran komoditas, kelas borjuis mampu memistifikasi produk-surplusnya dengan iklan-iklan yang menawarkan gairah, kesenangan, dan ketentraman. Ini semua serupa dengan ilusi-ilusi keagamaaan yang mengasingkan manusia primitif (yang berkembang pada masyarakat modern dengan bentuk-bentuk kontemporer). Engels memperingatkan kita akan bahaya dari candu-candu keterasingan manusia modern:
“Dengan mengisap candu, manusia merasakan dirinya dihibur, dan rasa sakit dan kesengsaraannya dihilangkan oleh candu yang diisapnya. Rasa yang menipu manusia itu sendiri karena pada kenyataannya manusia tetap hidup dalam kesakitan dan kesengsaraan. Fungsi kedua sebagai penghasil perasaan euphoria. Manusia yang mengisap candu merasa nyaman dan gembira secara berlebihan, bahkan rasa kesakitan dan kesengsaraan dia anggap sebagai bagian dari kenyamanan dan kegembiaraan. Fungsi ketiga sebagai perusak psikologi dan fisik manusia. Secara psikologis, manusia yang mengonsumsi candu secara terus-menerus akan menjadi gila, dan secara fisik, manusia yang mengonsumsi candu terus-menerus organ-organ tubuhnya akan rusak dan membusuk.”
Demi meningkatkan akumulasi kapital, kelas borjuis membangkitkan keabsurdan dan fantasi dengan memproduksi dan mempertukarkan barang-dagangan yang artifisial secara massal: produk-produk dan layanan-layanan kecantikan, aplikasi-aplikasi pemutih dan pemermak tubuh dan wajah, hingga alat-alat seks dan obat-obat pembesar payudara maupun kelamin. Setiap hari spanduk, poster, selebaran, dan reklame-reklame menggempur kehidupan umat manusia dengan menayangkan aneka produk artifisial tersebut. Guna membangkitkan gairah konsumsi artifisial, konten-konten yang disuguhkan kapitalis menampilkan tontonan-tontonan eksentrik dan spektakuler. Dalam kondisi inilah perempuan-perempuan bertubuh langsing, berkulit putih, berwajah glowing dipekerjakan dengan tuntutan tampil merangsang pembeli untuk mengonsumsi segala produk kecantikan dan seksual yang ditawar. Dengan memasang perempuan-perempuan cantik dan seksi untuk mengiklankan produk-produknya, kapitalisme bukan sekadar melangsungkan eksploitasi mental dan fisik tetapi juga berkecenderungan seksis. Sebagai sales, buruh-buruh perempuan didikte untuk menarik perhatian dan memikat pelanggan begitu rupa. Begitulah sales perempuan memasarkan produk kecantikan dan seksual menggunakan pesona dirinya sampai keindahan dan kemenarikannya pun diasosiasikan dengan produk-produk yang ditawarkan. Akhirnya komoditas menjadi tampak tidak ada hubungannya dengan basis materilnya: kemampuan kerja yang dicurahkan oleh pekerja dalam bentuk kerja abstrak untuk menciptakan produk tertentu. Itu sebabnya komoditas menampak seakan-akan memiliki kekuatan mistis: hasil kerja manusia tampil sebagai sesuatu yang berelasi dengan manusia tapi berada di luar kendali manusia. Pada “Kapital”, fenomena ini dimaksud Marx sebagai ‘fetisisme komoditas’:
“…suatu komoditi dalam pandangan pertama nampak sebagai barang yang biasa-biasa saja dan mudah dimengerti … adalah jelas sekali manusia dengan kegiatannya mengubah bentuk bahan-bahan yang disediakan oleh alam sedemikian rupa untuk menjadikan barang-barang itu berguna bagi dirinya … tapi begitu ia muncul sebagai komoditi, ia berubah menjadi sesuatu yang melampaui pengiderawian … watak mistikal komoditi dengan demikian tidak timbul dari nilai pakainya … juga tidak timbul dari sifat penentu-penentu nilai … darimanakah watak kerja setelah mengambil bentuk sebuah komoditi? … jelas dari bentuk itu sendiri…. Saya menamakan ini sebagai fetisisme yang melakatkan dirinya pada produk-produk kerja segera setelah mereka diproduksi sebagai komoditi…. Sebuah komoditi mesti berguna atau terlihat cukup berguna agar seseorang membelinya. Tapi ketergunaan dalam hal ini, bukanlah isu penting. Sebagai komoditas, sebuah produk harus mesti dijual agar bisa digunakkan. Jual-beli adalah prasyarat dari sebuah benda agar bisa digunakan. Tanpanya sebuah produk tak bisa digunakan. Jika sebuah komoditas gagal dalam menunjukkan kemampuan tukarnya maka ketergunaan, dengan sendirinya digagalkan.”
Hukum ‘produksi-untuk-produksi’ dan ‘akumulasi-untuk-akumulasi’ telah mendorong kapitalis berivenstasi dalam membuka kawasan-kawasan industri dan mesin-mesin baru, meningkatkan kapasitas produksi dan mempertajam eksploitasi kelas pekerja. Hukum produksi dan akumulasi kapitalisme menuntut peningkatan kapasitas produksi dan sirkulasi komoditas melalui kegiatan jual-beli yang menyebar ke segala penjuru. Saat krisis over-produksi meledak, tuntutan merealisasikan nilai-lebih bertambah ganas. Pasar-pasar baru terus-menerus diupayakan dan pasar-pasar lama harus dipercepat merealisasikan nilai-lebih. Maka penawaran produk-lebih dan artifisial tidak saja berlangsung di aplikasi-aplikasi belanja online, tetapi juga menggencarkan pengerahan produk-lebih dan jasa-jasa penjualan ke segala penjuru: menerobos batas-batas sempit negara-bangsa, memasuki kota-kota dan desa-desa, sampai mendapatkan pembeli yang berasal dari perumahan dan rumah bordil, restoran dan diskotik, kafe dan kantor, tempat ibadah dan wisata, kampus dan sekolah-sekolah, jalanan dan terminal-terminal, jembatan dan lorong-lorong, gedung olahraga dan arena-arena perjudian, dan sebagainya. Sirkulasi kapital dan komoditas akhirnya menyesaki kehidupan masyarakat kapitalis dengan tekanan-tekanan untuk mengonsumsi. Dalam kondisi inilah manusia direifikasi: diperlakukan sebagai benda dan dibiasakan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya dalam kerangka pertukaran komoditi. Begitulah relasi barang-dagangan menjadi dominan dan uang bukan sekadar berfungsi sebagai penyetara nilai bagi pelbagai produk tapi juga orientasi kehidupan. Di tengah masyarakat barang-dagangan uang merupakan monumen kemanusiaan yang terasing. Dengan kepemilikan pribadi terhadap sumber kekayaan material masyarakat, pembagian kerja dan kerja-upahan; kelas borjuis menekan rakyat pekerja untuk mengorientasikan hidupnya dan mendedikasikan kerjanya demi mendapatkan uang dan menunaikan pertukaran secara suram. Pada “Manuskrip Ekonomi dan Filsafat”, Marx menjelaskan:
“…sedikit pun golongan ini tidak menyisakan hubungan antara manusia dengan manusia selain hubungan kepentingan dan hubungan ‘bayar-membayar’ yang tidak mengenal tenggang rasa. Mereka mengganti semangat keagamaan, antuasiasme kepahlawanan, dan sentimentalisme dengan hitung-menghitung untung-rugi secara egois. Mereka menjadikan harga diri seseorang sebagai sesuatu yang dapat dibeli; mereka menggeser kebebasan individual yang tidak mengindahkan moral, yakni kebebasan perdagangan. Dengan kata lain, kelas borjuis telah mengganti eksploitasi berselubungkan agama dan janji-janji politik dengan eksploitasi yang terang-terangan, tidak kenal malu, dan brutal…. Semua hubungan yang harmonis, dan dilandasi perasaan, dengan sejumlah praduga dan pendapat yang sifatnya menghargai, disapu bersih dan menjadi usang…. Semua yang dianggap solid kini menjadi tercerai-berai, semua yang dipandang suci, kini dianggap biasa….”
Dalam epos pembusukan kapitalisme semua nilai-nilai lama dijungkirbalikkan. Sistem sosio-historis yang berada di jalan buntu mengekspresikan dirinya melalui setumpuk kemerosotan. Krisis kapitalisme telah merasuk ke suluruh aspek kehidupan. Percepatan pembusukan masyarakat kaptalis tidak saja tecermin melalui penghancuran institusi-institusi keluarga lama borjuis, tapi juga meningkatnya kasus kekerasan berbasis gender dan seksual, pengetatan permanen, kelaparan permanen, kemiskinan permanen, pengangguran permanen, pelacuran permanen, menjamurnya kriminalitas, egoisme dan pesimisme. Ini semua merupakan fakta bahwa hubungan produksi kapitalisme sudah tidak sanggup mengembangkan tenaga-tenaga produktif. Di zaman krisis kapitalisme, segala kemajuan masa lalu sudah mencapai limitnya dan kini menjadi kebalikannya. Kontradiksi antara kepemilikan pribadi dengan batas-batas sempit negara-bangsa bertambah tajam. Semuanya mengakarkan kecenderungan kontradiktif dan persaingan di pasar yang berlawanan dengan pengorganisasian dan perencanaan di perusahaan; menajamkan kontradiksi antara kebutuhan masyarakat dengan kebutuhan individu kapitalis. Kontradiksi di jantung kapitalisme—antara produksi yang disosialissikan dan apropriasi pribadi—inilah menjungkirk-balikan kemajuan-kemajuan awal menjadi kemunduran-kemunduran akhir. Fitur persaingan yang berkembang menjadi monopoli kapital-finans mengonsentrasikan kekayaan dan kekuasaan di tangan-tangan cabul segelintir konglomerat. Pembagian kerja di tempat-tempat kerja diatur dan dikendalikan secara sadar-kelas oleh masing-masing kapitalis pemilik perusahaan yang semakin terkonsentrasi pada beberapa pemilik perusahaan-perusahaan besar. Sementara pembagian kerja di tubuh masyarakat—kepentingan dan aktivitas relatif sebanyak mungkin industri—dikendalikan oleh kekuatan buta dan irasionalitas pasar: sirkulasi modal dan pertukaran komoditas. Alienasi yang berkembang sejak masa komunal-primitif akhirnya mengambil bentuk kompleks dan mengerikan. Kapitalisme mengintensifikasi pembagian kerja lebih jauh, memecah proses produksi menjadi tugas-tugas berulang dan monoton, dan mengubah pekerja menjadi gir-gir dari mesin. Otomatisasi meningkatkan perlombaan dan lilitan ke bawah, memperluas atomisasi dan disintegrasi sosial, memperdalam keterasingan dan penghancuran kemanusiaan.
Tidak bisa lagi ditunda, demi keberlangsungan hidup umat manusia, semua eksploitasi dan penindasan kapitalisme harus diakhiri segera. Hanya dengan menggulingkan kapitalismelah tenaga-tenaga produktif dapat bergerak maju. Perempuan-perempuan pekerja harus menjadi lebih sadar-kelas dan mengorganisir dirinya bersama pekerja-pekerja laki-laki dan seluruh kaum tertindas untuk mengkahiri kapitalisme. Dalam “Lenin tentang Masalah Perempuan”, Clara Zetkin mengingatkan: ‘buruh perempuan, tidak seperti perempuan kelas menengah, [mereka] dapat bereaksi terhadap kesepian penindasan yang dialami secara pribadi dengan mengambil peran dalam perjuangan di tempat kerja mereka. Perjuangan kelas adalah perjuangan kolektif dan menunjukkan kekuatan pekerja perempuan, meningkatkan kepercayaan mereka pada kemampuan mereka dan membantu membuat lapisan luas kelas pekerja menyadari kondisi mereka yang tertindas sebagai perempuan dalam masyarakat, menunjukkan bagaimana aksi kolektif juga dapat memerangi penindasan perempuan’. Kaum perempuan, dengan posisi sosialnya sebagai proletariat, merupakan agen revolusioner untuk mengakhiri kapitalisme. Bersama buruh laki-laki dan proletariat berminoritas seksual lainnya; mereka seperti yang diidentifikasi Marx: ‘sebuah kelas yang jumlahnya terus bertambah, dan dilatih, dipersatukan dan diorganisir oleh mekanisme proses produksi kapitalisme itu sendiri’. Secara dunia, semua kondisi obyektif untuk revolusi proletariat telah terpenuhi: kemajuan-kemajuan teknik, pertentangan antara tenaga produktif dan hubungan produksi yang terus menajam, dan kekayaan material yang berlimpah dalam masyarakat kapitalis menjadi potensi untuk membangun masyarakat sosialis. Krisis kapitalisme yang berlarut-larut sampai sekarang sudah membuat ratusan juta orang, yang didominasi oleh kaum muda menjadi lebih radikal. Namun yang belum muncul dalam mengambil peran historis menentukan dari perjuangan kelas adalah faktor subyektif. Persoalan antara keberadaan syarat-syarat obyektif untuk mendirikan sosialisme dan kekosongan kepemimpinan revolusioner—inilah yang harus segera diselesaikan oleh perempuan-perempuan revolusioner, seluruh Komunis, para pelopor proletariat.
“Kawan-kawan buruh perempuan! Kawan-kawan laki-laki bekerja keras bersama kita. Nasib mereka dan nasib kita adalah satu. Tetapi mereka telah lama menemukan satu-satunya jalan menuju kehidupan yang lebih baik—jalan perjuangan buruh terorganisir melawan kapital, jalan perjuangan melawan semua penindasan, kejahatan, dan kekerasan. Pekerja perempuan, tidak ada jalan lain bagi kita. Kepentingan pekerja laki-laki dan perempuan adalah sama, adalah satu. Hanya dengan perjuangan bersama pekerja laki-laki dalam organisasi pekerja gabungan—di Partai Sosial Demokratik [Revolusioner], serikat pekerja, klub pekerja, dan koperasi pekerja akanlah kita mendapatkan hak kita dan memenangkan kehidupan yang lebih baik.” (Catatan Perempuan Revolusioner)
Bangun kepemimpinan revolusioner sekarang juga(!):
Bolshevisme

