“Tanpa kaum perempuan kita tidak akan mencapai kemenangan. Betapa beraninya mereka, betapa tetap beraninya mereka! Renungkan semua penderitaan dan kehilangan yang mereka tanggung. Dan mereka masih terus berjuang karena mereka menginginkan kebebasan. Ya, kaum perempuan proletar kita adalah pejuang kelas yang hebat. Mereka layak dikagumi dan dicintai.” (Diskusi Clara Zetkin dan Lenin)
Dalam sistem kapitalisme, beban terberat ditanggung oleh mereka yang berjenis kelamin perempuan: ide pembagian kerja dan persaingan bebas tanpa memperhitungkan kerakteristik gender dan seksual perempuan. Pada titik inilah perempuan distratifikasi ke posisi sosial nomor dua: mereka dianggap tidak seproduktif laki-laki, karena mempunyai fakta-fakta alamiah–menstruasi, kehamilan, melahirkan dan menyusui. Berdiri di atas masyarakat kapitalistik, pandangan kelompok dominan terhadap perempuan begitu seksis. Perempuan tidak dilihat sebagai manusia yang setara dengan laki-laki, melainkan vagina dan payudara yang berjalan sekaligus pemuas birahi pria. Maka perempuan hidup di kelilingi bahaya bukan sekadar di jalan raya, lokasi kerja, sekolah dan organisasi, melainkan pula di rumah-rumah, kos dan keontrskannya segala.
Penindasan itu berlangsung begitu gila. Kaum perempuan tak saja didiskriminasi, tapi juga dimborbardil pelecehan dan kekerasan seksual beraneka. Penindasan ini menjalar di sekitar kita secara nyata. Pelakunya bahkan bisa datang dari tenaga pengajar hingga aktivis organisasi segala. Perempuan di banyak kampus sekarang menempati posisi yang paling rawan mendapatkan perlakuan diskriminasi, rasialisme dan brutalisme secara gender dan seksual. Di tubuh kekuasaan pelaku-pelaku femisida dan seksisme bersemayam dan mendapat perlindungan. Bahkan pandangan kelas penguasa telah lama membuat buruh perempuan dan minoritas seksual tidak dimuliakan berdasarkan karakter spesifiknya. Kelebihan dan kekurangan alami mereka tak mendapatkan perhatian sistem produksi kapitalisme. Sistem ini soalnya hanya mempertimbangkan kualitas yang berkenaan dengan keahlian, kompetensi, daya tahan, dan sebagainya. Walhasil, manusia dijelaskan bukan dari segi kamanusiaannnya tapi melalui deretan angka dan data-data.
Sepanjang 2011-2019, Komnas Perempuan menemukan 46.698 kasus pelecehan dan kekerasan seksual terhadap perempuan. Dimana setiap 2 jam, 3 orang perempuan dapat menjadi korban pemerkosaan. Dari survei yang dilakukan Kemendikbudristek (2020): 77 persen dosen menyatakan pelecehan dan kekerasan seksual rawan berlangsung dalam institusi pendidikan, tapi sama sekali tidak dilaporkan. Sementara berdasarkan penyebaran testimoni yang dilakukan Tirto, Jakarta Post, dan VICE Indonesia, terkumpul pula 207 testimoni yang datang dari 27 penyintas dari 79 perguruan tinggi se-Indonesia dan ditemukanlah 129 mengaku pernah dilecehkan, 30 diintimidasi secara seksual, dan 13 di antaranya sampai diperkosa. Memasuki Januari-September 2022, Komnas Perempuan kembali mengungkap temuan 3.014 kasus kekerasan berbasis gender–860 dikategorikan sebagai kekerasan seksual di ranah publik, 899 ranah privat dan tumah tangga, dan sisanya beragam.
Di tengah masyarakat kapitalis, eksplotasi dan kekerasan atas tubuh perempuan berguna bukan saja untuk memupuk laba tapi juga mempertahankan status-quo. Di spanduk, poster, majalah, dan iklan-iklan apa saja–kecantikan paras perempuan diluncurkan sebagai pemikat pembeli pelbagai produk, hingga alat mendulang suara politisi borjuis. Keadaan ini telah berlangsung lama hingga tubuh mereka direifikasi jadi komoditi. Selama krisis kapitalisme, eksploitasi dan penindasan terhadap mereka semakin tak terperikan. Dalam memupuk nilai-lebih, perempuan-perempuan proletar dipaksa melaksanakan pekerjaan mengerikan. Intensifikasi penggunaan mesin dan pembukaan kawasan-kawasan industri baru telah melecut jam kerja, mengurangi keselamatan kerja, dan mempersengit pemotongan upah pekerja perempuan. Akhirnya saat over-produksi berlangsung, rumah tangga-rumah tangga kelas perkerja tampil dengan seabrek persoalan. Menghadapi serangan standar hidup maka bukan saja pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang terbatas, tetapi juga menggoncang sendi-sendi keluarga-inti dengan beragam tekanan: iuran air, listrik, kontrakan, hutang, cicilan kredit, ongkos kesehatan dan pendidikan anak, dan lain-lain. Begitulah keluarga-inti mengalami keretakan, bahkan sampai memercikkan pelecehan, kekerasan dan pembunuhan.
Menjulurnya penindasan terhadap perempuan berlangsung dari persoalan tersebut. Walau perempuan dalam masyarakat berkelas menempati posisi sub-human, tapi mereka merupakan komponen penting bagi gerakan-gerakan pembebasan. Hanya kekuatan modal berusaha merecoki pelbagai elemen pengganggunya dengan cara beragam dan mengerikan. Seksisme menjadi salah satu senjata ampuh yang digunakan kelas borjuis untuk melemahkan musuhnya. Kaum kapitalis berupaya keras dalam memecahkan persatuab dari gender perempuan dan laki-laki bersama minoritas seksual lainnya. Namun di tengah krisis kapitalisme dengan kepungan penindasan yang semakin menajam, maka kesadaran massa perempuan meloncat dan mulai menarik kesimpulan untuk berjuang mengakhiri penindasannya. Kaum perempuan sekarang telah banyak yang sampai pada kesimpulan: upaya membebaskan perempuan seharusnya tidak menjadi kebutuhan sampingan, tetapi ditempatkan simultan dengan gerakan kaum-kaum tertindas dan terhisap lainnya.
Adalah Sosialisme Ilmiah yang mencoba menjelaskan itu semua; mulai dari akar penindasan perempuan, kekerasan seksual, hingga bagaimana meluncurkan perjuangan sejati untuk pembebasan perempuan. Di sisi lain, Marxisme revolusioner juga memandang kalau perempuan tidak sekedar bagian terbesar dalam kelas buruh, tapi terutama dapat menjadi sekutu potensial untuk menghancurkan kapitalisme. Pada seabrek peristiwa revolusi proletariat di Abad ke-20, perempuan-perempuan proletar telah menunjukkan kebulatan tekad, kemampuan dan militansinya untuk memperjuangkan kehidupan baru. Dalam Revolusi Rusia, Revolusi Jerman, Revolusi Hungaria, Revolusi Chile, Revolusi Iran, hingga Revolusi Polandia–perempuan-perempuan proletar melangsungkan perjuangan dengan memagut keyakinan seperti yang dilukis Clara Zetkin begitu rupa:
“Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Kami memiliki kemauan untuk revolusi dunia, oleh karena itu kami harus menemukan cara untuk menjangkau massa perempuan yang dieksploitasi dan diperbudak, apakah kondisi historis membuatnya mudah ataupun sulit.”
