Kategori
Perjuangan

Persoalan Partai Buruh dengan Massa

“Situasi baru belum menemukan refleksi di organisasi massa, kecuali serikat buruh, yang lebih dekat dengan kelas daripada partai. Hal-hal tertentu mengalir dari ini. Jika mood kemarahan massa tidak menemukan jalan keluarnya di organisasi massa, ia akan menemukan manifestasi lainnya. Gerakan seperti Indignados di Spanyol muncul karena sebagian buruh dan muda merasa tidak terwakili oleh siapapun. Orang-orang ini bukanlah anarkis. Mereka menunjukkan kebingungan dan tidak memiliki program yang jelas. Gerakan-gerakan spontan ini adalah konsekuensi dari degenerasi birokratis dan reformis selama puluhan tahun dari partai-partai dan serikat-serikat tradisional…. Situasi ini akan berubah di masa depan, dimulai pertama dengan serikat buruh. Kita sudah bisa melihat tekanan pada para pemimpin serikat buruh untuk melakukan sesuatu…. Lapisan yang lebih tua dari unsur-unsur yang telah terdemoralisasi akan cenderung mundur dan digantikan oleh unsur-unsur yang lebih muda dan lebih bersemangat yang siap untuk berperang…. Kaum muda memandang semua kekuatan politik yang mapan dengan ketidakpercayaan. Otoritas para pemimpin organisasi massa tradisional di kalangan pemuda berada pada titik terendah dalam sejarah…. Massa akan menguji semua partai dan kepemimpinan yang ada. Akan ada serangkaian perpecahan ke kanan dan ke kiri. Pada tahap tertentu akan muncul massa sayap kiri. Sayap kanan akan dihancurkan oleh berbagai peristiwa….” (International Marxist Tendency)

Data BPS (2022) mencatat keberadaan 62,2 juta pekerja Indonesia dan lebih dari 10 juta di antaranya terorganisir di ribuan serikat buruh. Ini adalah potensi yang luar biasa untuk direalisasikan dalam membangun partai massa buruh di Indonesia. Berdasarkan kekuatannya sendiri proletariat telah memperlihatkan kesanggupan untuk merongrong bahkan menjungkirbalikan kekuasaan borjuasi. Meski Pembantaian Massal (1965-1966) telah menghancurkan seluruh tradisi politik dan organisasinya tetapi selanjutnya kaum buruh dan muda Indonesia tak menyerah untuk membangunnya kembali. Sejak akhir 1970-an, lapisan paling maju dari buruh dan muda berusaha membangun kembali gerakan dengan bersandarkan mobilisasi massa. Pertengahan 1990-an, pemuda-pemuda radikal berhasil membentuk Partai Rakyat Demokratik (PRD). Pada 1995-7, mereka menyaksikan bagaimana neraca perdagangan ekspor-impor Asia melemah, pertumbuhan ekonomi Jepang jatuh, Bank Sentral AS menaikan suku-bunga, mata uang bath Thailand runtuh, tekanan denominasi menjalar dan hutang dunia meningkat, pajak menanjak dan subsidi dicabut. Seluruh Asia tergoncang keras dan kelas penguasa panik. Integritas pemerintah merosot dan gerakan massa meledak. Mei 1998, Pemerintahan Orba terjungkal oleh hantaman gerakan massa-rakyat. Sepanjang 1996-8, PRD tampil sebagai organisasi kaum muda radikal yang berperan penting di tengah meluasnya radikalisasi massa. Bersama buruh, tani, rakyat miskin kota—mereka berhasil melepaskan pukulan keras yang merobohkan singgasana Soeharto. Di tengah krisis sosial, ekonomi dan politik yang menajam, lapisan terluas proletariat memasuki arena perjuangan kelas. Dalam Pemilu 1999, beragam organisasi politik buruh terlibat: Partai Pekerja Indonesia (PPI), Partai Buruh Nasional (PBN), Partai Solidaritas Pekerja Seluruh Indonesia (PSPSI), dan Partai Solidaritas Pekerja (PSP). Tetapi kekalahan di arena politik elektroral berbuntut kemunduran dan menghilangnya partai-partai itu secara berangsur-angsur. Walau setumpuk partai ini mengalami keretakkan dan pembubaran, tetapi gerakan buruh masih menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi dalam melancarkan protes, grebek pabrik dan mogok. Saat 2008, memasuki titik balik dunia dengan krisis kapitalisme yang berlarut-larut; penderitaan hidup dan kemarahan menggumpal hingga kesadaran melompat. Sepanjang 2009-2011 hingga berpuncak pada Oktober 2012, konfederasi-konfederasi dan serikat-serikat buruh bergerak secara massal dan mampu memobilisasi ribuan sampai jutaan massa untuk melawan kelas penguasa.

Bangkitnya kaum buruh dan muda dalam skala raksasa menggetarkan pemerintahan borjuasi. Gerakan buruh memperlihatkan kekuatannya untuk merebut kekuasaan. Pecahnya gelombang aksi dan pemogokan umum menggoncang kesadaran massa. Lapisan terluas proletariat berbondong-bondong bergabung menjadi anggota serikat buruh yang ada atau mendirikan serikat-serikat baru. Namun pemimpin-pemimpin reformis serikat buruh membelenggu kekuatan massa. Pada 2013-2015, keinginan buruh-buruh akar rumput untuk mendirikan partai massa diabaikan begitu rupa. Tuntutan pembentukan Partai Buruh mengalir dari situasi obyektif: kelas pekerja membutuhkan sebuah partai massa untuk mewakili perjuangan politiknya. Di seluruh dunia, kelas proletar telah membangun serikat-serikat buruh sebagai bentuk aksi kolektif untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan ekonominya di tempat kerja. Mereka berserikat dan mendirikan pelbagai organisasi untuk menekan bos-bosnya dalam menaikan upah, mengurangi jam kerja, dan mengupayakan perbaikan-perbaikan kondisi kerjanya. Di luar pabrik, kelas proletar juga membangun partainya untuk melawan kapitalis di arena politik. Dalam momen kebangkitan gerakan, serikat-serikat buruh mengarungi ledakan-ledakan peristiwa kolosal dan menarik kesimpulan bahwa mereka membutuhkan partai politik. Di tengah situasi inilah aktivis-aktivis buruh mematutkan kecenderungan untuk bersatu mendirikan partai massa buruh dan mengekspresikan aksi politik-independen proletariat. Ketika massa buruh dan muda bergerak untuk mengubah masyarakat mereka tidak melakukannya melalui organisasi-organisasi kecil, tak peduli seberapa revolusioner dan tepat ide-ide organisasi tersebut. Saat lapisan terluas dari kelas proletar mulai menyeburkan diri dalam perjuangan kelas, mereka cenderung bergerak menggunakan organisasi massa tradisional. Massa tidak memahami organisasi kecil, karena mereka lebih mudah melihat organisasi-organisasi besar. Berdasarkan rekaman sejarah dan pengalaman perjuangan kelas buruh sedunia diperolehlah kesimpulan bahwa perkembangan partai buruh massa hanya dapat berlangsung di tengah situasi krisis yang meledak-ledak dan bergantung perubahan situasi yang tajam dan mendadak. Lapisan terluas proletariat mengembangkan kesadaran kelasnya bukan melalui onggokan buku dan diskusi setiap hari, melainkan pengalaman-pengalaman langsung dari sebuah peristiwa-besar dalam sejarah. Bukannya mereka anti-pengetahuan tetapi ketidaktersediaan waktu luang membuatnya begitu terbatas untuk merealisasikan potensi intelektualnya. Dengan menyeburkan diri ke arena perjuangan kelas mereka belajar memahami dunia dan berusaha menarik kesimpulan-kesimpulan melalui abstraksi atas jalannya peritiwa.

Keberhasilanya menarik kesimpulan yang tepat meningkatkan pemahamannya dan membuatnya mencapai kesadaran kelas. Memasuki fase perjuangan yang lebih tinggi mereka akan mengarah pada pembentukan partai politik. Pendirian partai massa buruh merupakan bentuk perkembangan kualitatif dari kesadaran kelas. Dalam kondisi inilah mereka tak sekadar melihat bahwa kepentingannya berbeda dengan kepentingan kaum kapitalis, tapi juga berkeinginan menggulingkan pemerintahan borjuis. Setelah membentuk partainya gerakan buruh akan memadukan perjuangan di tempat kerja dengan pertempuran di front elektoral. Berdirinya partai buruh berarti mereka tidak sekadar memperjuangkan tuntutan-tuntutan ekonominya, tetapi juga mendorong kelasnya untuk berkuasa. Demikianlah proletariat berjuang sebagai suatu kelas dengan membawa kepentingan politiknya. Tetapi pembentukan partai macam ini mencakup faktor-faktor obyektif dan keputusan-keputusan subyektif para pemimpinnya yang berhubungan dengan asas, program, kebijakan dan slogan-slogan politiknya. Pada Oktober 2012, Getok Monas bukan saja menjadi monumen kebangkitan gerakan buruh tapi juga babak baru dari gelombang revolusioner yang naik-turun secara tiba-tiba. Namun pengkhianatan reformisme yang berujung kegagalan penolakan PP No. 78 Tahun 2015 menandai titik balik ‘kemunduran gerakan buruh’. Kekalahan ini memberikan pukulan telak yang memerosotkan kepercayaan lapisan-lapisan buruh dan muda terhadap kepemimpinan serikat-serikat buruh. Massa yang keluar meninggalkan rutinitas lamanya dan menjadi radikal dihalang-halangi dengan kompromi dan kapitulasi reformisme. Segera setelah ledakan peristiwa yang menggoncang kesadaran massa, kekeliruan dan kemunafikan para pemimpin reformis mempercepat penurunan stamina dan demoralisasi anggotanya. Saat radikalisasi terhenti maka massa meninggalkan serikat-serikatnya dan birokrasi-birokrasi reformis semakin mengokohkan kepemimpinannya. Meski sekarang krisis kapitalisme menyeret dunia dalam situasi perang, revolusi dan kontra-revolusi, namun pengkhianatan reformisme dan kekalahan di masa lalu masih terpatri dan membelenggu gerakan buruh Indonesia. Walau gerakan buruh nampak surut tapi fluktuasi gerakan masih menampak dalam seabrek peristiwa: Rasisme (2019); Reformasi Dikorupsi (2019); Mosi Tidak Percaya (2020-21); dan Bebaskan Victor Yeimo, Tolak Otsus Jilid II, HMNS bagi Bangsa West Papua, Batalkan KUHP Reaksioner maupun Perpu Ciptaker (2021-23).

Di tengah berlarut-larutnya krisis kapitalisme, revolusi menjadi agenda yang terus-menerus meniupkan situasi pra-revolusioner: (1) rezim yang mengalami krisis akut; (2) meningkatnya ketidakstabilan sosial; dan (3) kesadaran massa mengejar situasi obyektif tidak secara bertahap melainkan melalui lompatan. Krisis kapitalisme yang mendalam telah meningkatkan serangan terhadap standar hidup, menampilkan kemiskinan umum dan pengangguran permanen: 4,8 miliar penduduk dunia jatuh miskin dan 1 miliar di antaranya menganggur. Pertumbuhan ekonomi tidak pernah menunjukkan pemulihan berarti dan laju inflasi meroket. Pemulihan-pemulihan ekonomi yang lemah takkan pernah menciptakan stabilan sosial dan politik. Kebijakan proteksionisme dan penghematan terus-menerus diadopsi sebagai tren pemerintahan borjuis. Pemotongan pengeluaran publik dan peningkatan pajak yang luar biasa menjadi bara yang menumpuk di jantung masyakarat kapitalis. Tingkat kepuasan dan kepercayaan kepada rezim akhirnya berkurang drastis. Krisis masyarakat kapitalis telah menghadirkan penderitaan tiada terperikan. Kaum buruh dan muda berkubang dalam kesengsaraan mengerikan. Di pabrik-pabrik, mekanisasi dan otomatisasi semakin memperpanjang jam kerja, menajamkan persaingan, meningkatkan stres dan kelelahan, mengabaikan keselamatan, memotong upah, dan mempermudah pemecatan. Di sekolah dan kampus-kampus, ongkos pendidikan tiap tahunnya meroket dengan pengajaran yang menumpulkan pikiran, perasaan, dan kehendak kemanusiaan dengan kontrol, pengawasan, dan beragam pelecehan. Kehidupan kaum buruh dan muda betul-betul terancam. Hidup makin susah dan getir; tekanan menukik, siksaan membukit. Sehari-hari, aksesnya terhadap makanan berkurang. Di tempat-tempat tinggal, pembayaran kos atau kontrakannya mengalami penunggakan berbulan-bulan. Di warung-warung, hutang-hutangnya bertumpukan. Di pegadaian, barang-barang berharganya jatuh tempo dan dilelang. Di koperasi dan lintah darat, bunga pinjaman semakin mencekik kehidupan. Dalam kondisi inilah tingkat bunuh diri, penggunaan minuman dan obat-obatan, pelacuran dan perjudian, perampokan dan penipuan—semuanya menjulang. Jantung sosial nampak kritis; kebahagiaan dan ketenangan menurun drastis, keresahan dan kemuakan menumpuk. Di tengah gejolak inilah setiap manuver diperhatikan dengan penuh kesangsian dan keretakan pemerintahan cepat meledakan protes.

Semuanya menandakan periode kemunduran gerakan buruh akan segera berakhir. Suasana kejang-kejang historis telah membangunkan massa-rakyat dari ranjang apatis dan apolitis. Massa-rakyat membuang segala keyakinan lamanya kalau krisis kapitalisme dapat diobati. Sebuah kesadaran kolektif baru berkembang pesat. Kesadaran bahwa sistem kapitalisme harus hancur menyelimuti jantung masyarakat dan mengirimkan gelombang teror ke atas yang segera mendatangkan reaksi ke bawah dari kelas borjuis. Meskipun sekte-sekte ultrakiri berteriak-teriak mengenai ancaman kebangkitan fasis tapi perimbangan kekuatan-kelas sudah berubah: kelas borjuis kehilangan banyak basis-massa reaksi borjuis kecilnya, sementara serikat-serikat buruh masih utuh dan proletariat tumbuh lebih kuat. Sekarang cadangan reaksi sangat kecil dan lapisan sosial secara dominan berkecenderungan berpihak kepada kelas proletar. Jatuhnya kelas menengah (borjuis-kecil)—baik menjadi proletariat maupun semi-proletariat atau semi-pengangguran—di tengah organisasi-organisasi buruh yang telah menguat takkan mudah memberikan jalan kebangkitan fasis. Tetapi tanpa basis massa reaksinya kaum kapitalis justru menjadikan pimimpin-pemimpin reformis serikat buruh sebagai penyangga utamanya. Kepemimpinan reformis Podemos di Spanyol, PASOK dan SYRIZA di Yunani, dan reformis-kanan Blairate maupun reformis-kiri Corbyn di Partai Buruh Inggris, hingga pimpinan reformis Lula dalam Partai Buruh Brazil—semuanya telah menunjukkan pelayanan terhadap kepentingan kelas borjuis. Saat kapitalisme sedang sekarat—secara diam-diam maupun terang-terangan—pemimpin-pemimpin reformis merangkul kebijakan-kebijakan pro-kapitalis. Kepemimpinan reformis akhirnya menjadi bandul penghambat kebangkitan gerakan revolusioner. Di Indonesia, kehipokritan reformisme berlangsung serupa. Pada 2021, pemimpin-pemimpin reformis serikat buruh mendirikan Partai Buruh (PB). Melihat kemunduran gerakan buruh dan ketiadaan radikalisasi massa, mereka mendeklarasikan PB tanpa topangan massa yang besar tapi seolah-olah bertujuan memajukan gerakan massa. Padahal di tengah berlarut-larutnya krisis kapitalisme dan bertambah tajamnya kontradiksi menjelang Pemilu 2024, kaum reformis justru menjadikan PB sebagai kendaraan untuk meningkatkan daya-tawarnya di hadapan kelas penguasa.

Guna menyiasati keterbatasan anggota dan simpatisannya, kepemimpinan PB mengatasi verifikasi pemilu menggunakan jejaring serikat-serikat buruh yang dibawahinya. Meskipun PB mendapat dukungan serikat merah dan organisasi muda kiri, namun masih jauh dari platform politik kelas pekerja secara keseluruhannya. Mengenai perjuangan merebut kekuasaan PB tidak sekadar memeluk asas dan program Negara Kesejahteraan yang merupakan warisan Keynesian, tetapi juga pada Rakernas I langsung mengumumkan keputusan kolaborasi kelas: dari 38 cabang PB yang berdiri di berbagai provinsi, 15 cabangnya mendukung Capres Ganjar Pranowo dan 6 cabangnya mendukung Capres Anies Baswedan; sementara perwakilan PB dari 21 provinsi mendukung Arsjad Rasjid sebagai Cawapres-nya. Dengan berdalihkan Presidential Threshold (Ambang Batas Pencalonan Presiden) dukungan terhadap pejabat-pejabat korup dan kapitalis dikeluarkan tanpa malu-malu. Di hadapan kaum buruh dan muda yang sadar-kelas, PB bukan saja belum menunjukkan dirinya sebagai partai massa melainkan pula berkarakter cacat mengenai keanggotaan dan daya-tarik kepemimpinan. Dalam mengatasi persoalan inilah PB mencoba berhubungan aktif dengan lapisan terluas kelas pekerja dengan mengadakan posko-posko pengaduan. Tujuan utamanya bukanlah melayani kepentingan-kepentingan kerakyatan atau mendorong program-program sosialis, melainkan menarik dukungan menuju panggung elektoralis. Para pemimpin reformis serikat buruh mengerti kalau kekosongan politik semakin melebar dan tuntutan untuk diisi makin meningkat. Ketika krisis tambah mendalam dengan kontradiksi yang kian menajam maka pertama-tama krisis politik tidaklah sebatas terekspresikan lewat perpecahan di antara barisan-barisan kelas penguasa, tapi juga menampak melalui tekanan-tekanan yang bertambah besar terhadap PB yang ditanggapi langsung oleh kepemimpinan reformis dengan seruan atau iming-iming posisi dan privilese: mengisi struktur partai dan mencalonkan diri sebagai anggota-anggota legislatif dan kepala-kepala daerah. Demikianlah PB mewakili karakter seperti yang diterangkan Perhimpunan Sosialis Revolusioner (PSR) dalam sebuah draf mengenai “Sikap terhadap Partai Buruh”: 

“…Tanpa gerakan massa di belakangnya, maka tidak ada keterlibatan aktif massa di dalam partai ini. Sebagai akibatnya, Partai Buruh ini pada akhirnya hanyalah kelanjutan dari dinamika serikat-serikat reformis yang membangunnya, yakni organisasi yang sepenuhnya dikendalikan oleh elit-elit birokrat dengan metode kolaborasi kelas, tanpa keterlibatan aktif massa anggota. PB diisi kurang lebih oleh elemen-elemen birokratis reformis yang sama yang bertanggung jawab atas kekalahan-kekalahan sebelumnya. Dalam kata lain, mereka hanya akan melanjutkan politik dan metode kerja yang sama yang telah membawa buruh ke kekalahan: kolaborasi kelas, lobi-lobi politik, politik dagang sapi. Walau ada sejumlah serikat merah di dalamnya dan organisasi muda kiri, tetapi semua indikasi menunjukkan bahwa kaum reformis-kiri ini mengekor saja kaum reformis-kanan. Kita disajikan alasan yang sama lagi dan lagi: jangan terlalu radikal, sekarang yang penting Partai Buruh terbentuk terlebih dahulu. Ini bukan kebetulan, dan bahkan sudah menjadi hukum universal. Di mana-mana, kaum reformis-kiri dalam serikat atau partai buruh selalu menemukan diri mereka membuntuti kaum reformis-kanan, sementara kaum reformis-kanan membuntuti borjuasi.”

PB didirikan atas inisiatif pemimpin-pemimpin reformis serikat buruh dan karakter kelasnya dicerminkan oleh motif kepemimpinan reformis: (1) menargetkan kendali penuh dari atas dan (2) membangun partai secara abstrak—terpisah dari perjuangan mendasar proletariat untuk menggulingkan kekuasaan borjuis. Meski PB berkarakter reaksioner dan konservatif, namun mayoritas pekerja tua—yang sempat hidup dan melihat kejayaan ‘booming’ kapitalisme di masa lalu—menganggap partai dan pemimpinnya dapat memperjuangkan nasibnya. Walaupun para pemimpin partai telah kehilangan kredibilitas dan kewibawaannya, tapi kehadiran PB menyediakan basis obyektif bagi massa untuk bergabung di dalamnya. Tetapi di tengah surutnya gerakan buruh PB mengalami kesulitannya menjadi partai massa buruh. Tanpa berlangsungnya radikalisasi massa pintu partai yang dibuka lebar bukanlah dimasuki kaum buruh dan muda yang sadar-kelas, melainkan disesaki gerombolan kariris dan politisi-politisi reformis yang lebih luas. Mereka melihat ini sebagai kesempatan emas untuk bertarung di kancah elektoral dan kelompok refosmis dikuatkan dengan kehadiran mereka. Dengan cara inilah reformisme menguatkan cengkeramannya dan membuat PB kesulitan berkembang menjadi partai massa buruh. Walau terdapat serikat-serikat merah dan organisasi muda radikal yang bergabung sebagai reformis-kiri, tapi tidak sanggup menghadapi mekanisme birokrasi reformis-kanan yang terus-menerus menghambat publisitas dan perkembangan ide-ide dalam partai. Tanpa kekuatan yang signifikan, keberadaan mereka—sebagai kelompok oposisi dengan membentuk Komite Politik (KP) di tubuh PB—begitu lemah untuk menekan dan menyingkirkan kepemimpinan reformis-kanan. Makanya Negara Kesejahteraan lolos sebagai asas partai dan kelas borjuis direkomendasikan sebagai Capres-Cawapres oleh PB. Semua jelas memperlihatkan superioritas para pemimpin reformis-kanan dan inferioritas reformis-kiri. Dengan abstainnya kombinasi antara kebangkitan gerakan buruh dan kekuatan organisasi yang memungkinkan untuk tampil sebagai oposisi, maka kerja-kerja intervensi dalam PB bukan sekadar lemah melainkan pula teramat berbahaya: kekuatan KP yang kecil dan keberadaannya sebagai reformis-kiri jelas-jelas tidak berdaya menghadapi tekanan reformisme yang terus-menerus memaksanya beradaptasi dan memoderasi seluruh gagasannya, hingga sewaktu-waktu dapat tenggelam di rawa-rawa oportunisme dari reformis-kanan.

Kerja-kerja revolusioner di dalam organisasi massa tidak bisa mengekor pada kepemimpinan reformis. Kaum revolusioner tak bertanggung jawab mengumpulkan massa bagi partai buruh. Partai massa buruh dibangun oleh proletariat sendiri di tengah momen kebangkitan gerakannya. Meski kehadiran kaum reolusioner berhubungan dengan penambahan keanggotaannya, tetapi tugasnya adalah membangun partai revolusionernya sendiri yang akan memberikan kepemimpinan revolusioner terhadap gerakan buruh dan mempersiapakan kelas proletar untuk merebut kekuasaan dari tangan borjuasi. Demikianlah keberadaan kaum revolusioner bukanlah untuk mengubah partai massa menjadi partai reolusioner, tapi memimpin gerakan buruh berdasarkan teori, program, metode dan tradisi perjuangan kelas yang tepat. Kaum revolusioner bersepakat kalau buruh memiliki kepentingan nyata  yang harus dipertahankan dan diperjuangkan, tetapi menolak mentah-mentah gagasan bahwa politik reformis dapat membela kepentingan tersebut. Proletariat harus mengedepankan kepentingan dan politik-independen kelasnya. Titik tolaknya adalah kapitalisme tidak bisa direformasi dan satu-satunya solusi untuk krisis kapitalisme ialah pendirian pemerintahan buruh dengan menerapkan kebijakan-kebijakan Sosialisme Ilmiah. Terlepas dari berkurangnya dukungan terhadap pimpinan-pimpinan reformis; berdasakan fluktuasi gerakan buruh, terdapat kemungkinan bagi lapisan terluas proletariat untuk memasuki PB. Di tengah krisis yang berlarut-larut, kejang-kejang dan belokan-belokan historis tiba-tiba—sebuah ledakan baru dari perjuangan kelas sekarang menjadi agenda. Dalam badai dan tekanan di periode sejarah yang sedang kita masuki, kelas pekerja Indonesia akan bergerak mengubah nasib mereka. Saat momen inilah serikat-serikat pekerja dan PB pasti terguncang—mulai dari atas sampai ke bawah—oleh gerakan massa yang menuntut ekspresi politik kelas-independen. Kelas proletar ingin organisasi-organisasi mereka berhenti melakukan kompromi dengan kaum kapitalis. Buruh mau berjuang untuk memperbaiki kondisi kerja dan kehidupannya secara mendasar. Kaum buruh siap untuk melawan tetapi memerlukan kepemimpinan yang sanggup membawa perjuangan kelas sampai ke garis akhir.

Perspektif dunia untuk periode saat ini berada pada gejolak sosial, ekonomi dan poltiik yang luar biasa; dicirikan oleh fluktuasi periodik yang tajam dengan krisis kian mendalam dan perubahan situasi tiba-tiba. Secara global, kelas kapitalis terpecah dan kehilangan kepercayaan dirinya dalam memulihkan krisis kapitalisme. Di sisinya, borjuis-borjuis kecil yang bermimpi menjadi borjuis-besar goyah dan cenderung mendukung gerakan buruh. Dalam skala internasional, satu-persatu pemberontakan massa meledak dan silih-berganti dari satu negeri-ke-negeri lainnya. Selama satu setengah dekader terakhir, gerakan-gerakan massa menjalar melintasi Eropa, Afrika, Amerika Utara dan Selatan, Antartika, Australia, sampai Asia. Kelas pekerja, mahasiswa dan pelajar, perempuan dan minoritas seksual, bangsa-bangsa tertindas dan tani-tani miskin bangkit dengan mengobarkan sentimen-sentimen anti-kapitalisme dalam melawan penghematan, lockdown, kudeta, perang dagang dan imperialis, brutalitas polisi dan militer, seksisme dan femisida, rasisme dan kolonialisme. Dalam pergolakan inilah organisasi-organisasi pekerja, serikat dan partai buruh menjadi yang pertama kali didekati massa. Di tengah situasi revolusioner yang sedang melanda dunia, maka gerakan buruh Indonesia semakin mendekati kembangkitan kembali. Kehadiran PB, walaupun dicengkeram kaum reformis tapi menunjukkan perubahan kualitatif dari perjuangan kelas di negeri ini. Menjelang Pemilu 2024, perubahan besar pada kesadaran massa pun nampak melalui ketidakpercayaannya terhadap pemberitaan-pemberitaan media borjuis. Koran-koran nasional mengabarkan kalau massa-rakyat memiliki banyak partai politik untuk memperjuangkan aspirasinya, tetapi massa-rakyat telah banyak belajar dan mengerti kalau semua partai yang dikabarkan serupa: merupakan partai-partai kapitalis yang satu kepentingan, perspektif, program dan kebijakan untuk melancarkan serangan brutal terhadap taraf hidup rakyat-pekerja. Saat tibanya kebangkitan baru, kaum buruh dan muda yang teradikalisasi akan memasuki PB secara massal dan segera beroposisi melawan kepemimpinan reformisnya. Gerakan buruh akan bangkit melalui perubahan situasi yang tiba-tiba dan Kehadiran PB menyediakan basis yang menjadi tempat berkumpul massa yang teradikalisasi. Saat kebangkitan baru berlangsung maka kaum revolusioner bertanggung jawab untuk membantu massa belajar lebih cepat dan menarik kesimpulan revolusioner untuk membangun kepemimpinan revolusioner.

Kaum revolusioner tidaklah ambigu mengenai sikapnya terhadap PB. Pada masa-masa normal atau kemunduran gerakan, kaum buruh dan muda menyerahkan kepemimpinan kepada para politisi reformis yang senantiasa menggunakan otoritasnya untuk mengeksploitasi dan menipu massa. Tetapi jika mereka mulai bergerak secara massal—dengan membangun partai massa buruh dan menampilkan dirinya sebagai suatu kelas di arena politik—maka kaum revolusioner mestilah menyadari potensi revolusioner yang tersirat dalam gerak mereka. Pertanyaan tentang bagaimana kelas pekerja berkembang telah lama menjadi perhatian kaum revolusioner. Ketika tidak ada kepemimpinan yang mampu memenuhi aspirasi proletariat, maka di tubuh serikat buruh akan tumbuh kelompok oposisi untuk mempengaruhi kebijakan-kebijakan organisasi dan bahkan mengubah kepemimpinan organisasinya. Di dasar masyarakat kapitalis terdapat kemarahan dan kebencian yang menumpuk terhadap kelas borjuis dan seluruh penyangganya. Kaum buruh dan muda merasa jijik pada kepemimpinan reformis, tetapi sekarang sebagian kecil dari lapisan ini sedang berusaha membangun PB. Mereka boleh saja memperjuangkan perubahan, namun hal terbaik yang seharusnya dilakukan adalah belajar dari pengalaman perjuangan kelas dan menarik kesimpulan yang tepat sehingga tak mengulang kegagalan. Jalan ke depan bukanlah mengarahkan kemampuan KP untuk melayani kepentingan kaum reformis dan kapitalis, melainkan membangun organisasi kaum revolusioner profesional untuk menyiapkan dan memastikan kemenangan kelas pekerja dalam merebut kekuasaan dan membentuk pemerintahan proletariat. Meskipun layanan yang diberikan berkarakter populis dan diwarnai dengan aneka metode-metode kiri, namun tanpa orientasi kerja di organisasi massa untuk membangun kepemimpinan proletariat dengan perspektif dan program yang tepat maka tetaplah pelayanannya kaum reformis-kiri menyangga kepentingan kelas borjuis. Kaum buruh dan muda yang sadar-kelas boleh saja mendukung pembukaan posko-posko pengaduan yang diperjuangkan KP selama berguna untuk menyerang kelas borjuis, namun takkan mudah mereka percaya kalau pelayanan-pelayanannya bertujuan melayani kepentingan sejati dari massa-rakyat. Sebab asas dan program Negara Kesejahteraan serta sikap kepemimpinan reformis dalam mendukung Capres-Cawapres borjuasi telah menunjukkan keberpihakan konkret dari refomis-kanan maupun reformis-kiri sekalipun. Namun di hadapan massa, kaum reformis—terutama reformis-kiri—terus-menerus menyangkal kebimbangan, ketidakkonsistenan, dan kontradiksi antara cara dengan tujuannya. Maka peran mereka tampak naïf, munafik, bahkan destruktif—seperti yang dijelaskan Alan Woods melalui Jurnal Dialektika III:

“Wajar saja, mereka tidak mengakui ini, bahkan pada diri mereka sendiri. Sebaliknya, mereka meyakinkan diri mereka bahwa jalan mereka adalah satu-satunya jalan yang benar dan bahwa jalan lain manapun pasti akan mengarah pada bencana. Mereka menemukan seribu satu alasan untuk menipu diri mereka sendiri dan, karena begitu yakin pada diri sendiri ini membuat mereka lebih siap untuk menipu orang lain. Dalam banyak kasus, kaum reformis-kiri adalah orang-orang yang jujur. Oh ya, mereka benar-benar yakin akan nilai keadilan dari argument mereka. Dan seorang reformis kiri yang tulus dapat melakukan lebih banyak kerusakan daripada yang tidak-tulus. Pengkhianatan mereka tidak-sengaja atau dilakukan secara tidak-sadar. Massa memberi semua kepercayaan mereka pada mereka dan arena itu akan lebih pasti digiring ke kekalahan. [Sebagai contoh kolosal dalam sejarah perjuangan kelas buruh,] Martov tidak diragukan lagi adalah seorang yang sangat jujur dan tulus, dan juga sangat cakap dan cerdas. Namun [di bawah tekanan reformisme] ia memainkan peran yang sangat negatif dalam Revolusi Rusia.”

Bekerja di organisasi massa–untuk mewakili kepentingan kelas buruh secara keseluruhan dan memperjuangkan sosialisme—haruslah berdasarkan perspektif dan pendekatan yang mampu melihat dan mempertimbangkan situasi internasional dan nasional; pasang dan surut; kemenangan dan kekalahan; kekuatan dan kelemahan; dan singkatnya kombinasi antara situasi obyektif dan subyektif dalam perjuangan kelas. Menghadapi situasi revolusioner yang masih berlangsung di skala dunia dan surutnya gerakan buruh Indonesia oleh kekalahan-kekalahan atas pengkhianatan reformisme, maka tidak ada cara lain untuk mempercepat kebangkitan baru kecuali dengan membangun kepemimpinan revolusioner. Di antara dua ekstrem yang berkembang di tengah lautan sosial hari-hari ini—reformisme dan ultrakiri-isme—tugas kaum revolusioner adalah menerapkan kritik yang terus-menerus terhadap ketidaktepatan teoritis dari pelbagai kecenderungan yang menyelimuti gerakan buruh dan dengan sabar menjelaskan proses molekuler yang sedang berkembang kepada lapisan terluas kelas pekerja. Tetapi memenangkan massa ke arah revolusioner tidak cukup mencela para pemimpin reformis secara lantang dari pinggir lapangan. Suka atau tidak-suka kita harus mengakui fakta: kaum reformis saat ini berada di posisi kepemimpinannya karena lapisan terbesar proletariat memiliki ilusi terhadapnya. Meskipun kaum buruh dan muda yang sadar-kelas mengerti kalau berkali-kali kepemimpinan reformis mengkhianati kepentingan buruh, tetapi lapisan massa berkesadaran terbelakang menaruh ekspektasi pada pimpinan-pimpinan reformis untuk mewakili, membela, dan memperjuangkan nasib mereka. Maka lapisan terluas proletariat yang belum memahami hal itu melalui pengalaman mereka sendiri melihat kritikan untuk kepemimpinan reformis sebagai serangan terhadap serikat atau partai secara menyeluruh. Inilah mengapa cara menjelaskan kepada massa yang terpengaruhi kecenderungan reformis dan ultrakiri jauh berbeda—bergantung pada gerak material dan perimbangan kekuatan ideologis yang ada. Pengaruh reformisme dalam serikat buruh sangat kuat ketimbang ultrakiri-isme. Kaum reformis mengarahkan gerakan massa untuk menyangga kapitalisme, bahkan dengan terang-terangan mendukung program-program kapitalis dan membangun front bersama kelas borjuis. Sementara ultrakiri-isme melihat kelas borjuis dan reformisme dengan penuh kesangsian dan selalu bersedia membombardir kritik terbuka terhadap mereka.

Meski pada setiap kesempatan keduanya nampak diametral, namun keduanya sama-sama menampilkan tendensi oportunisme: mengabaikan pembangunan kepemimpinan revolusioner dan kediktatoran proletariat yang masing-masing menjadi faktor penentu dan tujuan akhir perjuangan kelas. Di atas jalan menuju revolusi dan seiring dengan menajamya kontradiksi, dua-duanya menunjukkan penyimpangan serius: (1) kegirangan kolaborasi-kelas dari reformisme yang berbentuk kretinisme parlementer di momen-momen permulaan perjuangan kelas dan (2) kekeliruan kolaborasi-kelas dari ultrakiri-isme yang berwujud kebingungan dan penyeberangan ke arah kontra-revolusi di momen-momen penentuan perjuangan kelas. Kedua jenis oportunisme ini berakar dari apa yang disebut Leon Trotsky sebagai dilettantisme atau keamatiran borjuis-kecil: ‘konseratif, egois, cinta-diri-sendiri, dan tidak mampu berkorban demi gagasan yang besar’. Meski seakar namun dua-duanya tumbuh dengan berhadap-hadapan. Selama situasi-situasi tenang—ultrakiri merespon gerakan reformis dengan sektarianisme hingga secara membabi-buta mengisolir dirinya dari massa; reformis bertambah kuat dan mudah sekali menghadapi gerakan sektarian dengan intrik dan manuver-manuver reaksioner bersama borjuasi untuk menipu massa. Tetapi dalam situasi-situasi revolusioner—ketegangan di antara ultrakiri dan reformis akan dimediasi oleh gerakan yang sama-sama mengarah ke sisi reaksi. Trotsky menjelaskannya sebagai ‘hukum sederhana yang takkan pernah berubah’: ‘pemimpin-pemimpin atau calon-calon pemimpin yang di masa damai yang tidak mampu mengorbankan waktu mereka, tenaga mereka, sumber daya mereka, demi perjuangan Komunisme, sering kali dalam masa-masa revolusioner menjadi pengkhianat, atau menyeberang ke kamp orang-orang yang menunggu sisi mana yang akan menang’. Sementara ketika menghadapi persoalan kerja di organisasi massa reformis, gerakan sektarian menolak melakukannya dan terus mengkritik kepemimpinan reformis dari luar dan pinggir-pinggir partai tanpa menyiapkan orientasi ke organisasi massa tradisional kelas pekerja. Pertimbangan utama mereka bukanlah berdasarkan gerak secara keseluruhan dari kondisi material dan ideologis secara internasional dan nasional serta kombinasi yang rumit antara situasi obyektif dan subyektif, tapi bersandarkan tinjauan partikular dan parsial atas bagian-bagian yang ada. Padahal untuk mendorong kebangkitan perjuangan atau memimpin massa tak cukup kemampuan meraih mata dan telinga mereka, melainkan pula bekerja di tengah-tengah massa untuk mempercepat ditariknya kesimpulan revolusioner. Trotsky pernah menulis:

“Tidaklah cukup bagi seorang revolusioner untuk memiliki gagasan yang benar. Janganlah kita lupa bahwa gagasan-gagasan yang benar telah ditetapkan dalam Kapital dan Manifesto Komunis. Tapi itu tidak mencegah penyebaran ide-ide palsu. Adalah tugas partai revolusioner untuk menyatukan ide-idenya dengan gerakan massa buruh. Hanya dengan cara ini sebuah ide dapat menjadi kekuatan pendorong…. Kritik, gagasan, slogan-slogan [kita] pada umumnya benar, tetapi dalam periode sekarang ini sangat tidak memadai. Ide-ide revolusioner harus diubah menjadi kehidupan itu sendiri setiap hari melalui pengalaman massa itu sendiri. Tetapi bagaimana [kita] dapat menjelaskan hal ini kepada mereka ketika [kita] terputus dari pengalaman massa? Perlu ditambahkan: beberapa kawan bahkan tidak melihat perlunya pengalaman ini. Tampaknya bagi mereka cukup untuk membentuk opini berdasarkan laporan surat kabar yang mereka baca dan kemudian mengungkapkannya dalam sebuah artikel atau ceramah. Namun jika ide-ide yang paling benar tidak mencerminkan secara langsung ide-ide dan tindakan massa, mereka akan luput dari perhatian massa sama sekali.”

Harus diakui kalau ide mengenai orientasi ke organisasi massa bagi mereka yang mengabaikan pendekatan dialektis—tentang bagaimana kelas bergerak—terlihat mirip dengan oportunisme dari kaum reformis. Namun secara dialektis, orientasi dapat diterapkan secara fleksibel dan akan menjadi pengungkit untuk perjuangan revolusioner yang luar biasa. Kelas proletar adalah satu-satunya kelas revolusioner yang mampu meruntuhkan kapitalisme dan menegakkan sosialisme. Tetapi mereka tidak dapat melaksanakan tugas-tugas historisnya tanpa berhubungan aktif dengan partai massa buruh sebagai perwujudan politik-independen kelasnya. Begitupun sebaliknya, Partai-Partai Buruh manapun ketika tidak ada dukungan aktif dari massanya akan mendapati dirinya gagal menjadi partai massa buruh. Sekarang ancaman kegagalan inilah yang sedang menghantui kepemimpinan reformis PB. Kelas proletar tidak mungkin mengharapkan kelas-asing atau kaum revolusioner sekalipun untuk membangun partai massa untuk mereka; proletariat membangun partai politiknya sendiri dan belajar dari pengalamannya sendiri. Demikianlah gagasan untuk membentuk partai massa, partai alternatif, atau partai kiri luas yang terpisah dari kepentingan proletariat secara keseluruhan dapat berujung kegagalan. Walau di tengah krisis yang berlarut-larut dan perubahan situasi yang mendadak massa mampu belajar secepat kilat dan terdorong memasuki PB, tapi tantangan terbesar saat surutnya gerakan buruh adalah bagaimana memasukan kesadaran kelas dalam perjuangan kaum buruh dan muda. Saat ini kekuatan kaum revolusioner sangatlah kecil dan lapisan terluas proletariat belumlah beringsut menuju PB. Mereka tidak tertarik bergabung dengan PB karena mengalami frustasi melihat pengkhianatan-pengkhianatan reformisme. Telah lama pemimpin-pemimpin reformis membiarkan massa menghadapi sendiri serangan-serangan terhadap standar hidup, pengangguran dan kemiskinan tanpa mobilisasi dan pengorganisiran yang serius. Bukan sikap-sikap naïf atau seruan-seruan munafik yang dapat menyatukan kelas pekerja ke dalam PB, melainkan perjuangan sejati dalam melawan musuh-musuh kelas proletar dengan mempertahankan independensi kelas dan dipandu oleh kepemimpinan yang tulus, berani, tegas, dan siap meluncurkan perjuangan penghabisan untuk menegakkan sosialisme dengan teori, program, metode dan tradisi Marxis Revolusioner.

Tanpa dukungan aktif dari kelasnya maka PB tampil sebagai organisasi politik dengan jumlah anggota yang sedikit dan bersusah-payah merubah partainya menjadi partai massa buruh. Tetapi bukan kewajiban kaum revolusioner untuk bekerja merubah PB menjadi partai massa. Kaum revolusioner tak berkepentingan merebut kekuasaan untuk dirinya sendiri, apalagi mengorientasikan diri untuk berkarir dengan meraih struktur-struktur kepengurusan PB—melainkan memimpin perjuangan kelas dengan mengarahkan kekuatan massa untuk meruntuhkan kapitalisme dan menegakkan kekuasaan kelas pekerja. Walaupun kaum revolusioner membangun organisasinya berdasarkan tendensi Marxisme Revolusioner untuk membentuk Partai Marxis Revolusioner sekaligus mempersiapkan Partai Massa Buruh Revolusioner dalam merebut kekuasaan, tapi tugas utama kaum revolusioner bukanlah menyediakan partai massa tersendiri yang terpisah dari kepentingan buruh secara keseluruhan namun mengorganisir massa ke dalam kepemimpinan revolusioner dari organisasi pelopor proletariatnya. Artinya, kaum revolusioner harus fokus membangun organisasi revolusionernya sendiri demi memberikan ekspresi sadar dan terorganisir kepada perjuangan kelas proletar. Manifesto Komunis telah menjelaskan bahwa organisasi kaum revolusioner, ‘secara praktis, adalah golongan yang paling maju dan tegas dari partai-partai kelas buruh di setiap negeri, golongan yang mendorong maju semua yang lain’ dengan tujuan langsung yang sama dengan partai proletar lainnya: ‘pembentukan proletariat menjadi sebuah kelas, penggulingan supremasi borjuis, perebutan kekuasaan politik oleh proletariat’. Demikianlah peran kaum revolusioner hanyalah menjadi katalisator yang bertugas mempercepat lapisan buruh dan muda mengambil kesimpulan revolusioner. Namun seperti hukum dasar reaksi kimia—dalam mempercepat proses pengambilan kesimpulan revolusioner—kaum revolusioner harus bekerja dengan kuantitas maupun intensitas tertentu untuk mencapai hasil yang signifikan. Begitu pula untuk melaksanakan kerja-kerja di PB, kaum revolusioner tak sekadar memperhatikan perkembangan situasi dan karakter organisasi yang hendak diintervensi tapi juga mengukur kemampuan diri secara konkret. Berdasarkan “Sikap terhadap Partai Buruh” dan artikel Ted Sprague tentang “Kaum Revolusioner, Partai Kader, dan Masalah Partai Buruh”, pertimbangan macam ini merupakan bentuk ‘sense of proportion’ dan keseriusan membangun kepemimpinan revolusioner:

“Bekerja di dalam partai buruh massa bukanlah sesuatu yang mudah. Kerja ini mengandung banyak bahaya, perangkap, dan kesulitan. Kaum reformis dalam banyak hal telah menyempurnakan metode dan cara untuk mengamankan agar partai buruh massa ini tetap berada di koridor yang aman—dalam artian memastikan agar partai ini tidak menantang kekeramatan kapitalisme, dan tepat berfungsi dalam kerangka kapitalisme. Seperti halnya kaum reformis telah menjaga dominasi mereka dalam serikat-serikat buruh massa, mereka juga melakukan ini dalam partai buruh. Dengan metode birokratik-administratif, tekanan sosial, manuver politik, dan bahkan suap (memberikan posisi dan privilese), mereka berhasil entah mengisolasi atau mengkooptasi orang-orang yang awalnya radikal. Sudah menjadi kisah umum bagaimana seorang yang awalnya begitu revolusioner ketika berusaha bekerja di dalam organisasi buruh massa akhirnya memoderasi gagasannya menjadi reformis, atau bahkan jadi bagian dari birokrasi. Tekanan reformis-birokrasi dalam organisasi-organisasi ini bukan main-main.”

“Di sinilah sense of proportion menjadi sangat penting. Kita harus bisa mengukur kekuatan kita sendiri, dan dengan demikian bisa mengukur apa yang bisa dan apa yang tidak bisa kita lakukan dan capai. Ini karena kerja dalam organisasi reformis bukanlah sesuatu yang mudah. Kalau kader-kader kita tidak tertempa secara ideologis dan memahami dengan baik konsep kerja di organisasi massa, mereka bisa, di satu sisi, terkooptasi oleh birokrasi dan reformisme, atau di sisi lain, terlempar ke ultrakiri-isme sebagai reaksi terhadap birokratisme yang menjijikan…. Walaupun orientasi ke organisasi massa adalah krusial, tetapi belum tentu sebuah organisasi revolusioner siap secara ideologis maupun organisasional untuk melakukan intervensi secara sistematis di dalamnya. Aka ada medan-medan lain di luar organisasi massa buruh reformis yang mungkin bisa digarap terlebih dahulu, yang secara logistik lebih mudah untuk diitervensi dan bisa memberi kita peluang rekrut segera. Tujuan kita adalah mempersiapkan organisasi kita untuk kerja yang lebih sulit di dalam organisasi massa reformis ke depannya. Orientasi ke dalam organisasi massa juga tidak harus berarti langsung masuk ke dalam, terutama ketika memang belum memiliki kekuatan untuk bisa masuk ke dalamnya dan melakukan kerja yang sistematis. Intervensi bisa dilakukan dalam bentuk propaganda, dengan tujuan memenangkan lapisan buruh dan muda yang termaju ke barisan kita (memenangkan satu dua) dan penguatan internal (klarifikasi gagasan dan penempaan kader secara ideologis). Ini adalah persiapan untuk intervensi yang lebih terarah, sistematis, dan terorganisir di kemudian hari. Pada akhirnya, seluruh seni politik revolusioner terletak dalam kerja persiapan.”

Bangun kepemimpinan revolusioner sekarang juga(!):

“Bolshevisme”

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai