Kategori
Perjuangan

Krisis Kapitalisme dan Sosialisme Borjuis-Kecil

“Pengabdian pada perjuangan revolusioner massa tidak mungkin tanpa pemahaman teoritis tentang hukum perjuangan revolusioner ini. Pengabdian revolusioner hanya mungkin jika seseorang mendapatkan kepastian bahwa pengabdiannya masuk akal, memadai; bahwa itu sesuai dengan tujuannya. Kepastian seperti itu hanya bisa diciptakan oleh wawasan teoritis ke dalam perjuangan kelas.” (Trotsky)

“…suatu fakta yang tidak bertentangan sedikitpun dengan teori Marxisme, karena kita selalu mengetahui dan berulang kali menunjukkan bahwa kaum borjuasi mempertahankan dirinya dalam kekuasaan tidak hanya dengan kekerasan tetapi, juga karena kurangnya kesadaran kelas dan organisasi, rutinitasisme dan kondisi massa yang tertindas.” (Lenin)

Kita hidup di tengah situasi kekusutan terparah dan horor tanpa akhir dengan kontradiksi yang terus-menerus bertambah tajam. Sajak 2008 sampai 2022, krisis over-produksi sebagai tampilan umum masyarakat kapitalis meledak, luas-menjalar, dan kejam. Mendapati kelimpahan-kelimpahan produksi tidak mampu terserap oleh perkonomian rakyat; lembaga-lembaga finansial, negeri-negeri imperialis dan kapitalis-terbelakang berulang-kali melaksanakan pertemuan untuk memecahkan persoalan dengan solusi tambal-sulam yang memicu krisis besar di masa mendatang. Ekspor kapital dan kemudahan hutang, penghapusan proteksionis dan subsidi, bahkan pencapaian-pencapaian sains, teknik, dan industri tak pernah menunjukkan jalan menuju kemakmuran, kesetaraan, dan kedamaian umat manusia. Ekspansi perdagangan, modal, dan pendirian industri-industri baru selama krisis berlangsung hanya menawarkan kestabilan relatif, bukan perbaikan menyeluruh dan ketahanan lama. Kontradiksi antara sempitnya pasar nasional untuk menampung surplus produksi dengan kecenderungan perkembangan alat produksi berskala dunia sudah tiada terperikan lagi. Otomatisasi dan robotisasi seiring penggunaan teknologi mutakhir boleh saja menjamur tapi takkan pernah menggantikan posisi sentral proletariat pada basis produksi. Dalam Capital I, Marx menjelaskan bahwa sumber profit bagi kapitalis bukanlah dari kapital-konstan yang meliputi mesin-mesin-mesin dan bahan-bahan produksi dari pasar, melainkan kapital-variabel yang merupakan kemampuan kerja buruh yang ditolaknya untuk dibayar. Maka pengenalan mesin di bawah kapitalisme berarti peningkatan eksploitasi: penambahan hari kerja, pemotongan upah, pemutusan kerja, dan sebagainya. Melalui Manifesto Komunis, Marx dan Engels telah menjelaskannya:

“Dalam krisis-krisis ini, sebagian besar tidak hanya dari produk-produk yang ada, tetapi juga dari tenaga-tenaga produktif yang diciptakan sebelumnya, dihancurkan secara berkala. Dalam krisis ini, pecah sebuah epidemi yang, di semua zaman sebelumnya, akan tampak absurd—epidemi kelebihan produksi. Masyarakat kemudian menemukan dirinya kembali ke keadaan barbarisme sesaat: tampaknya seolah-seolah kelaparan, perang kehancuran universal telah memutus pasokan segala kebutuhan hidup: industri dan perdagangan tampaknya dihancurkan dan mengapa? Karena terlalu banyak peradaban, terlalu banyak sarana penghidupan, terlalu banyak industri, terlalu banyak perdagangan. Tenaga-tenaga produktif yang tersedia bagi masyarakat tidak lagi memajukan perkembangan syarat-syarat produksi milik borjuis; sebaliknya, mereka menjadi terlalu kuat untuk kondisi ini, mereka membawa seluruh kekacauan ke dalam masyarakat borjuis, membahayakan keberadaan milik borjuis. Kondisi masyarakat borjuis terlalu sempit untuk menampung kekayaan yang mereka ciptakan. Dan bagaimana kaum borjuis menguasai krisis ini? Di satu pihak dengan penghancuran paksa sejumlah besar tenaga produktif; di lain pihak, dengan penaklukan pasar-pasar baru, dan dengan eksploitasi yang lebih menyeluruh terhadap pasar-pasar lama. Artinya, dengan membuka jalan bagi krisis yang lebih luas dan lebih merusak, dan dengan mengurangi sarana pencegahan krisis.”

Begitulah kapitalisme menciptakan perkembangan teknik berskala global namun secara simultan mempersengit kontradiksi hubungan produksi dengan tenaga produktifnya: capaian-capaian mutakhir umat manusia menghadirkan mimpi buruk tentang pengangguran, kemelaratan, kesenjangan, kerusakan ekosistem, wabah dan perang antar-negara. Saat periode kebangkitan kapitalisme memang kelas borjuis telah memainkan peran progresif dalam mengembangkan tenaga produktif, berinvestasi pada industri, ilmu pengetahuan dan teknologi; tetapi memasuki kebuntuan kapitalisme semuanya berubah: borjuasi mengganti investasi untuk sektor produktif investasi dengan investasi sektor parasistik dan menggencarkan spekulasi mata uang (perjudian bursa saham). Inilah mengapa di tengah krisis kapitalisme yang mengepung kehidupan massa-rakyat dan kelas pekerja dengan ancaman kemiskinan, namun kelas borjuasi justru dapat meningkatkan jumlah miliarder-miliarder barunya di seluruh dunia bahkan setiap 30 jam. Berlarut-larutnya krisis kapitalisme telah membelokan jalannya sejarah secara tajam. Bank Federal Reserve AS menaikan suku bunga dengan keyakinan naïf: dapat menjinakan inflasi. Kebijakan ini justru memperkeruh kekuacauan Dunia Ketiga: melancarkan penarikan investasi secara deras dari negeri-negeri kapitalis terbelakang, meningkatkan defisit anggaran pemerintahan dan biaya pembayaran hutang, hingga memperdalam ketergantungan terhadap lembaga-lembaga donor.

Upaya menyelesaikan krisis dengan meningkatkan partisipasi di pasar dunia berakhir buntu: peningkatan konsentrasi kapital dan produksi telah meluapkan banjir kapital di negeri-negeri imperialis di tengah dunia yang sudah habis dibagi sebagai tujuan ekspor kapital. Dalam kondisi inilah pembagian-ulang pun dilakukan dengan penuh ketegangan dan konflik. Makanya bukan sekadar perang-perang imperialis yang meledak, melainkan pula menebarkan ancaman perang sipil dan membumbungkan persoalan penindasan nasional terhadap bangsa-bangsa miskin kapital. Pada 2022, kerasnya dentuman perang Ukraina-Rusia kontan mengacaukan rantai pasok global, memprovokasi proteksionisme, mempertinggi inflasi, mengonggokan pencetakan uang, memperluas jaminan sosial dan kredit murah, hingga menambah pinjaman-hutang dari lembaga-lembaga pengekspor kapital-finans. Gerak perekonomian global akhirnya meluncur ke arah resesi dan menyingkapkan kebangkrutan negara-bangsa atas merajalelanya kekorupan birokrasi, kepailitan banyak negeri, dan reaksi di mana-mana. Sepanjang 2019-2022, pembangkangan, pemberontakan, dan pemogokan umum telah merefleksikan krisis kapitalisme yang mendunia dan merobek kestabilan pelbagai negeri: Chile, Ekuador, Bolivia, Kolombia, Haiti, Prancis, Brazil, Alzajair, Catalonia, Kashmir, Sudan, Lebanon, Irak, Iran, Pakistan, Kazakshtan, Sri Langka, Hongkong, Cina, Amerika, Jerman, Inggris, Timur Leste, India, Indonesia dan Papua. Menghadapi amukan-amukan massa maka kelas penguasa bukan saja mengerahkan aparat-aparat bersenjatanya, tetapi juga mengeluarkan aneka aturan reaksionernya dalam memukul-mundur dan melemahkan massa. Gelombang-gelombang perlawanan rakyat direpresi bukan sekadar melalui kekuatan badan-badan bersenjata, melainkan pula fitnah dan stigma-stigma. Begitulah krisis yang berlarut-larut di zaman imperialisme menunjukkan ‘kebangkrutan demokrasi borjuis’ sekaligus lemahnya kepemimpinan revolusioner dari kaum pelopor proletariat untuk merebut kekuasaan dan memulai transformasi sosialis. Melalui Program Transisional (1938), Leon Trotsky menulis:

“Syarat ekonomi untuk revolusi proletariat sudah secara umum mencapai tingkatan tertinggi yang mampu dicapai di bawah kapitalisme. Kekuatan-kekuatan produksi umat manusia tidak bertambah maju. Penemuan-penemuan dan perkembangan-perkembangan baru sudah tidak mampu meningkatkan kesejahteraan material. Krisis-krisis yang saling bertautan di bawah kondisi krisis sosial dari seluruh sistem kapitalis mengakibatkan kelaparan dan kesengsaraan yang semakin parah di dalam masyarakat. Tingkatan pengangguran yang makin membengkak, pada gilirannya, memperdalam krisis finansial negara dan melemahkan sistem keuangan yang sudah tidak stabil, rezim-rezim demokratik dan juga rezim-rezim fasis, terhuyung-huyung dari satu kebangkrutan ke kebangkrutan yang lain…. Semua argumen bahwa kondisi sejarah belumlah matang untuk sosialisme adalah produk dari kebodohan atau penipuan yang dilakukan secara sadar … Sekarang semua tergantung pada kelas proletariat, terutama kaum pelopor revolusioner kelas tersebut. Krisis sejarah umat manusia terduksi ke krisis kepemimpinan revolusioner.”

Sepanjang 1948-1974, kapitalisme memasuki masa kebangkitannya: peningkatan luar biasa tenaga produktif yang distimulasi oleh ekspansi perdagangan dunia dari Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa Barat telah berhasil menciptakan pembagian kerja dunia dan peningkatan kelas pekerja dunia. Selama periode inilah produktivitas tenaga kerja meningkat pesat atas dorongan revolusi alat-alat produksi yang berlangsung konstan hingga mengembankan industri-industri baru: energi atom, plastik, komputer, robot, laser, transitor, dan sebagainya. Rantai produksi kapitalisme telah melintasi seluruh benua. Dalam komputer dan elektronik terlihat bahwa produksi-produksi komponen utamanya sudah tersebar di pelbagai negara. Tetapi krisis-overproduksi yang menjadi cacat bawaan kapitalisme segera membawanya pada jalan buntu: pasar nasional tak dapat menampung konsentrasi kapital dan alat-alat di satu negara. Jepang yang dahulu memegang peranan penting dalam produksi semi-konduktor—untuk komputer dan elektronik—surut beberapa dekade terakhir dan mulai tergantikan oleh Korea Selatan, Taiwan, dan lebih-lebih Cina telah bangkit melaksanakan perang dagang (membanting harga produk dalam negerinya) untuk melawan Amerika Serikat. Namun selama kelas borjuis masih berkuasa dengan memegang tuas-tuas ekonomi maka kekayaan material yang tercipta tak dapat dinikmati oleh massa-rakyat dan kelas pekerja. Tetapi semakin kapitalisme berkembang kaum buruh tumbuh meraksasa dan makin menempati posisi sentral sebagai produsen kekayaan material umat manusia. Semua perkembangan progresif secara historis inilah yang menjadi basis material untuk mendirikan sosialisme. Namun proletariat belum cukup sadar dan terorganisir dalam melaksanakan transformasi sosialis: begitulah ketika di zaman imperialisme, kapitalisme sudah mencapai limit perkembangannya—yang ditandai dengan krisisnya yang berlarut-larut dan penajaman kontradiksi masyarakat kapitalis—tapi di panggung sejarah proletariat mengalami kekosongan kepemimpinan revolusioner. Berdasarkan analisa Marxis: tanpa kepemimpinan revolusioner krisis kapitalisme tidak akan pernah berakhir: kapitalisme akan terus merestorasi dirinya secara relatif dengan meningkatkan penghisapannya terhadap proletar. Marxisme memahami kalau sejarah sebagai perjuangan kelas merupakan perjuangan dari kekuatan-kekuatan yang hidup, bukan skema abstrak apalagi dengan hasil-hasil yang dapat ditentukan secara mekanis. Bagi Marx, berlangsungnya intensifikasi eksploitasi (nilai-lebih relatif) dapat memulihkan tingkat keuntungan untuk sementara waktu. Menghadapi kenyataan inilah jika proletariat dan para pelopornya tidak segera membangun kepemimpinan revolusioner untuk menggulingkan kapitalisme; kelas borjuis akan selalu menemukan jalan keluar artifisial untuk memperpanjang nafas kapitalisme.

Tetapi semakin kapitalisme—yang telah memenuhi tugas historisnya—berusaha diselamatkan; kelas borjuis justru memperdalam krisis di masa depan, menambah onggokan kontradiksi, dan mengintensifkan perjuangan kelas dengan meningkatkan eksploitasi dan penindasannya. Begitulah perlambatan ekonomi dunia, pengetatan kebijakan moneter, meroketnya inflasi di negara-negara Uni Eropa, Amerika Latin, Afrika, dan Asia, hingga hancurnya ketahanan pangan global selama perang Ukraina-Rusia telah menyingkapkan kebuntuan kapitalisme. Ditambah pemutusan-pemutusan hubungan kerja dan kesulitan untuk mendapatkan perkerjaan yang layak bukan saja menjamurkan pengangguran, tetapi juga membanduli penderitaan hidup tiada terkira. Dalam situasi demikianlah kesadaran massa gampang terguncang dan saat inilah hegemoni kelas penguasa merosot begitu rupa. Oktober 2022, Financial Times mengabarkan kalau sejak satu dekade yang lalu integritas pemerintah Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Cina merosot drastis hingga sekarang mencapai titik terendahnya. Sedangkan sejak Maret tahun ini popularitas Presiden Jokowi pun beringsut merendah. Kondisi obyektif yang semakin memburuk membuat kepercayaan lapisan massa-luas terhadap kelas penguasa runtuh. Gerakan-gerakan anti-kapitalisme bangkit dan kaum muda yang teradikalisasi mencari ide-ide revolusioner sebagai alternatifnya. Ledakan-ledakan peristiwa dan gelombang-gelombang gerakan menarik mereka turun ke jalanan dan melawan kelas penguasa. Jurnal Dialektika III—Mengapa Sampai Sekarang Belum Ada Revolusi? Perlunya Kepemimpinan Revolusioner (terbitan Front Muda Revolusioner: organisasi kaum muda sosialis dari Perhimpunan Sosialis Revolusioner, Seksi Indonesia International Marxist Tendency)—menguraikannya:

“Gerakan revolusioner massa yang spontan mengungkapkan kekuatan massa yang sangat besar. Tetapi hanya sebagai kekuatan potensial, tidak aktual. Bila tidak ada faktor subyektif, bahkan gerakan massa yang paling besar sekalipun tidak akan dapat menyelesaikan problem-problem paling penting yang dihadapi oleh kelas buruh…. Pergolakan revolusioner tergolak dalam seluruh situasi ini. Mereka akan terjadi seperti malam mengikuti siang, terlepas apakah ada partai revolusioner atau tidak. Tetapi dalam perang antar kelas, seperti halnya dalam perang antar negara, memiliki jenderal yang baik adalah faktor yang menentukan. Dan di situlah letak masalahnya. Massa berusaha mencari jalan keluar dari mimpi buruk ini. Mereka mencoba satu-demi-satu partai dan pemimpin, membuang satu-demi-satu ke dalam tong sampah sejarah. Ini menjelaskan ketidakstabilan ekstrem kehidupan politik di semua negara saat ini. Pendulum politik berayun ke keras ke kanan, lalu ke kiri.” 

Setelah kian lama tertidur massa akhirnya terbangun, namun kekosongan kepemimpinan revolusioner mengharuskan mereka bergerak dan belajar dengan susah-payah. Abstainnya kepemimpinan revolusioner di panggung sejarah bukan saja menampak dengan kurangnya ekspresi terorganisir dari perjuangan massa, tapi terutama penampilan massa-rakyat yang rentan menginjak ranjau reformisme. Di Indonesia, gelombang protes selama 2011-2012 berhasil mendirikan Mogok Nasional pada 3 Oktober 2012 dan memenangkan peningkatan upah sebesar 40 persen. Tetapi kosongnya kepemimpinan revolusioner menjadi kesempatan pemimpin-pemimpin reformis-kanan untuk mengambil-alih kepemimpinan gerakan buruh. Dalam gelombang massa inilah Said Iqbal, Andi Gani, dan spesies sejenisnya tampil sebagai pemimpinnya, dan keberhasilan gerakan buruh memberi mereka segudang otoritas moral dan politik yang segera mereka gunakan sebagai bargaining dalam negosiasi, lobby-lobby, dan menempuh jalur hukum bersama kelas penguasa. Melihat kenaifan inilah ketidakpercayaan buruh akar rumput tumbuh dan pasang gerakannya mendadak surut atas pengkhianatan kepemimpinannya. Akhir Oktober 2012, jumlah anggota serikat buruh menyusut 4,6 persen dan bertambah parah 5 tahun setelahnya: menurun 20 persen—dari 3,4 juta keanggotaan dengan 14.000 serikat buruh (2007) menjadi 2,7 juta keanggotaan dengan 7000 serikat buruh (2017). Sementara di Inggris, krisis kapitalisme juga mendorong teradikalisasinya pelajar dan buruh muda. Mereka berduyun-duyun memasuki Partai Buruh Inggris, menggerogoti kepemimpinan reformis-kanan Blairate, dan mengangkat reformis-kiri Jeremy Corbyn sebagai pemimpinnya pada Kongres 2015. Namun sayap Blairate yang telah lama mendominasi partai melancarkan intrik-intrik birokratik untuk melengserkan Corbyn dan membersihkan anggota-anggotan partai yang mendukungnya. Ayunan gerakan ke kiri pun berakhir: ofensif reformis-kanan tidak mampu ditandingi kebimbangan reformis-kiri. Akhirnya, kecacatan reformisme mengakibatkan merosotnya integritas gerakan buruh di mata kaum muda. Jurnal Dialektika III menjelaskannya begitu rupa:

“…kaum kanan menunjukkan kebulatan tekad mereka, sementara ini absen di kaum kiri. Para pemimpin momentum lebih takut di anggota akar rumput daripada sayap kanan. Di setiap langkah mereka mengerem dan menyabotase kampanye untuk me-re-call anggota parlemen Partai Buruh sayap kanan, yang dituntut secara konsisten oleh kaum Marxis sejak awal dan mendapat dukungan luas di antara anggota akar rumput. Sebagai akibatnya, anggota akar rumput partai berjuang melawan kaum kanan dengan kedua tangannya terikat di belakang. Tetapi peran fatal dimainkan oleh Corbyn [kaum reformis] sendiri … [yang] tidak siap untuk meluncurkan perjuangan serius melawan sayap kanan Fraksi Parlemen Partai Buruh. Para pemimpin momentum membenarkan pengkhianatan mereka dengan mengatakan: ‘kami menunda recall karena ini permintaan Jeremy pada anggota … kita mendambakan persatuan’. Mereka takut pecah dengan sayap kanan. Tapi itu mutlak diperlukan jika kita ingin menyelamatkan pencapaian kaum kiri…. Yang jelas, ketika kaum kanan melakukan ofensif, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kebimbangan seperti kaum kiri. Mereka menyerang dengan ganas, dan memanfaatkan semua kekuatan media borjuis untuk memfitnah dan mendiskreditkan Corbyn. Pada akhirnya, mereka secara efektif memecat Corbyn, bersama dengan sejumlah besar kaum kiri….  Gerakan Corbyn yang dimulai dengan begitu banyak janji, berakhir dengan kekalahan yang memalukan. Ribuan orang telah meninggalkan partai dengan jijik dan sayap kiri benar-benar hancur. Ilusi besar yang telah dibangkitkan oleh Corbyn telah digantikan dengan skeptisisme yang mendalam di Partai Buruh.”

Di tengah krisis kapitalisme, selanjutnya kekosongan kepemimpinan revolusioner berarti terbukanya saluran untuk meluasnya ideologi-ideologi kelas-asing di tengah lautan sosial. Di Dunia Ketiga, Indonesia contohnya: terlambatnya perkembangan kapitalisme bukan saja menempatkannya sebagai negeri miskin kapital, tetapi juga mengharuskan perkembangan borjuis nasionalnya menjadi terikat seribu-benang dengan imperialis dan memenuhi lautan sosialnya dengan borjuis-kecil yang melepaskan dirinya dari birokrasi kebangsawanan dan keagamaan yang sedang membusuk. Dikepung krisis kapitalisme, borjuis-borjuis kecil juga semakin tidak memiliki harapan untuk merangsek menjadi borjuis-besar. Baik di negeri kapitalis maju, lebih-lebih di negeri kapitalis terbelakang; lapisan-lapisan pelajar dan mahasiswa terancam menganggur. Di zaman imperialisme, Alan Woods menjelaskan—dalam Gagasan Karl Marx—kalau jenis pengangguran yang ada bukan lagi bersifat ‘siklis’ (naik-turun sesuai dengan siklus perdagangan kapitalisme normal) dan berdiri sebagai ‘tentara cadangan industri’ (yang akan diserap pasar tenaga kerja saat kapitalisme pulih-sementara dari krisisnya), melainkan pengangguran dengan sifat permanen dan berkembang secara organik. Lukisan suram ini persis yang dilaporkan The Economist pada 7 Juli 1993: ‘banyak orang yang telah bekerja keras dan lama untuk menaiki tangga karir, sesungguhnya, menemukan bahwa anak tangganya telah jatuh di bawah kaki mereka’. Maka pengangguran ini menjadi kanker dalam masyarakat kapitalis akhir: menghabiskan tunjangan dan jaminan sosial hingga memperparah defisit-defisit anggaran pemerintahan-pemerintahan Barat dan Dunia Ketiga. Woods menerangkannya:

“Pengangguran adalah kanker yang menggerogoti perut masyarakat. Pemborosan mengerikan yang diwakili oleh pengangguran ditunjukkan oleh fakta bahwa kita saat ini kehilangan (dalam angka resmi) setara dengan 35 juta tahun produksi setiap tahun…. Seperti epidemi yang tak terkendali dan menakutkan, pengangguran menyerang kaum muda dan tua, pria dan wanita, hitam dan putih, berpendidikan dan tidak berpendidikan. Bahkan strata manajerial, orang-orang profesional dan pekerja kerah putih yang tidak pernah berpikir mereka akan kehilangan pekerjaan menemukan diri mereka terlempar ke tumpukan sampah di puncak kehidupan. Banyak orang yang berusia 40 tahun (dan bahkan orang-orang yang lebih muda) yang kehilangan pekerjaan sekarang mungkin tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan lagi…. Kaum kapitalis tidak memiliki jawaban atas masalah pengangguran. Resep Keynesian lama telah terbukti bangkrut. Defisit anggaran yang sangat besar yang ada di semua negara kapitalis berarti pembiayaan defisit dan cadangan anggaran untuk meningkatkan permintaan secara artifisial melalui pengeluaran negara dikesampingkan [untuk mempertahankan hidup para penganggur].”

Dalam kondisi inilah lautan sosial semakin disesaki oleh borjuis kecil. Tetapi di tengah krisis kapitalisme, bangkitnya gerakan borjuis-kecil—lebih-lebih pelajar dan mahasiswa—bukanlah sesuatu yang artifisial, melainkan menjadi gema keresahan masyarakat kapitalis yang sedang sekarat. Kaum muda terpelajar memiliki kemampuan memainkan peran yang mandiri walaupun secara relatif. Tingkat intelektual mereka menjadi barometer bukan hanya untuk mengukur ketegangan masyarakatnya, tetapi juga memudahkannya untuk meresapi keresahan masyarakatnya. Sebagian kecil di antara mereka yang terpelajar memang pesimistik melihat keadaan, tetapi lebih banyak mereka yang tersentuh oleh penderitaan massa berhasil menarik kesimpulan-kesimpulan revolusioner dari apa yang berlangsung di depan matanya. Para pelajar yang pesimis menolak progres dalam sejarah. Lama dijejali ilmu-pengetahuan borjuis telah membuat mereka memeluk postmodernisme sebagai bentuk paling kasar dari idealisme subyektif. Di sekolah dan kampus-kampus, mereka mendiskusikan mengenai krisis kapitalisme menggunakan terminologi-terminologi radikal tetapi selalu berujung penyimpulan secara pesimis: ketidakmungkingan revolusi, boleh mendukung aksi-aksi kecil untuk mengasah daya ‘semantik’ dan ‘narasi’, dan pengabaian perjuangan kelas. Obsesi terhadap bahasa dan kosa-kata baru yang tidak mengerti massa menjadi mode eksistensi kaum postmodernis. Dari satu seminar-ke-seminar, konsolidasi-ke-konsolidasi, maupun diskusi-ke-diskusi—makhluk-makhluk pesimistik ini tampil memainkan kata-katanya secara akrobatik. Mereka menyangkal kebenaran akan kemajuan-kemajuan historis, konsep, ide, dan bahkan  ‘bahasa’ yang mereka gunakan dengan konstruksi-konstruksi paling arbitrer. Inilah mengapa saat mereka mengetahui kemunduran gerakan buruh, maka tidak pernah mengaitkannya dengan tingkat kesadaran dan kekuatan organisasi yang tercermin pada kepemimpinan gerakan yang reformis melainkan ketidakmungkinan merubah masyarakat kapitalis. Dalam Jurnal Dialektika I (Melawan Postmodernisme) menguraikan bahwa kebuntutan ‘filsafat postmodernisme’ merupakan ekspresi dari krisis kapitalisme di zaman imperialis:

“Di masa mudanya, kelas borjuasi mampu menghasilkan pemikir-pemikir hebat: Locke, Hobbes, Kant, Hegel, Adam Smith, dan Ricardo. Dalam periode kemundurannya, kelas borjuasi hanya mampu menghasilkan filsuf kacangan…. Masa yang kita masuki hari ini adalah masa kemunduran sistem kapitalisme [yakni, tahap imperialisme]. Sistem kapitalisme jelas menunjukkan gejala-gejala pasien terminal. Di sini kita dihadapkan pada sebuah paradox. Di satu sisi kemajuan ilmu-pengetahuan telah membawa pengetahuan manusia ke ketinggian yang luar biasa. Satu-demi-satu alam terpaksa membocorkan rahasianya. Misteri-misteri lama yang dulu dijelaskan manusia dengan agama, kini telah dianalisis dan dipahami…. [Namun filsafat borjuis telah mencapai jalan buntu.] Akta kelahirannya ditekan oleh postmodernisme, yang sama sekali tidak pantas disebut sebagai filsafat…. Keranjingan postmodernisme yang hari ini mengklaim dirinya sebagai filsafat dengan sendirinya merupakan pengakuan akan kebangkrutan intelektual yang paling dalam. Kenyataan bahwa ‘narasi’ postmodernis ini dapat dianggap serius sebagai sebuah filsafat baru dengan sendirinya merupakan kecaman atas kebangkrutan teoritis kapitalisme dan kaum intelektual borjuis [dan borjuis-kecil] dalam epos kebangkrutan imperialis.”

Meskipun monopoli, konglomerasi, dan ekspor kapital dari imperialisme telah meningkatkan jumlah proletariat dan menguatkan bobot sosialnya dalam aktivitas-aktivitas produksi yang semakin terkonsentrasi di negeri-negeri kapitalis-maju, tetapi dengan tampilnya pengkhianatan-pengkhianatan reformisme masih merentangkan jurang keragu-raguan borjuis-kecil untuk membangun gerakan buruh. Menghadapi krisis kapitalisme dengan meningkatnya eksploitasi dan penindasan; kaum muda terpelajar yang teradikalisasi oleh peristiwa bangkit dan berusaha mengambil peran kepeloporan. Mereka tampil ke muka dengan membawa sentimen anti-kapitalisme yang kuat dan memulai pembangkangan, memprovokasi keberangan, hingga meletuskan pemberontakan. Tanpa kehadiran kepemimpinan revolusioner diam-diam mereka memagut keyakinan naif kalau dengan menciptakan kekacauan akan mempercepat perubahan. Di kota-kota, pelajar dan mahasiswa radikal menyulap jalanan, gang dan lorong sebagai medan gerilya perkotaan. Amarah dan keresahan mereka salurkan melalui beragam bentuk perlawanan-perlawanan spontan dan cara-cara ekstrem. Mengakui borjuasi sebagai kelas yang sedang mengalami kebangkrutan; mereka juga memandang buruh sebagai kelas terbelakang. Hilangnya kepercayaan terhadap pemimpin-pemimpin reformis; mendorong mereka mengambil tindakan-tindakan perlawanan beragam—mulai dari individual sampai afinitas dan kolektif, namun tak pernah bertujuan membangun kekuasaan proletariat. Bangkrutnya negara borjuis, instiutusi kebangsawanan dan keagamanan telah membawa mereka pada kesimpulan vulgar: otoritas-hierarkis merupakan sumber penghisapan dan kekerasan; segala kekuasaan yang terlembagakan harus segera dihancurkan. Begitulah slogan-slogan ‘Bubarkan Penjara’, ‘Hapuskan Polisi’, dan ‘Hancurkan Negara’ mereka propagandakan bukan saja dengan retorika, melainkan pula aksi-aksi langsung dan sabotase. Sebagai alternatif dari kapitalisme; angkatan radikal mendambakan masyarakat tanpa kelas dan bebas—Anarkisme: gerakan dan pemikiran sosialisme borjuis-kecil yang menentang segala bentuk negara, bahkan kediktatoran proletariat dan kepemimpinan revolusioner, dan memuja kebebasan individu.

Lambang ‘A bulat’, ‘seragam, bendera, dan topeng-topeng hitam’, hingga ‘aksi-aksi vandal’ menggincu gerakan mereka. Tanpa kontrol, hierarki, bahkan berkecenderungan anti-teori—mereka bergerak seturut hasrat otonomi diri dan katersis-katersis emosionalitas. Begitulah mereka mencoba mendirikan prototip masyarakat yang harmonis dan kooperatif—sebuah komunitas-komunitas kecil Anarkis dengan menyingkir ke pinggir-pinggir kota maupun pedesaan. Dengan menjauh dari pusat-pusat pemerintahan mereka seolah sedang mendirikan pulau-pulau sempit masyarakat Sosialis-Utopis di tengah lautan luas masyarakat kapitalis. Sementara di perkotaan mereka juga mencoba melakukan tindakan serupa: mendirikan pasar gratis, cukur gratis, makan gratis, sablon gratis, dan lebih banyak hal gratis. Semua kegiatan ini boleh saja berbentuk filantropi, tetapi amat apolitis dan tidak berguna untuk transformasi sosialis. Bermotif menyangkal norma-norma atau otoritas-borjuis; kegiatan-kegiatan tersebut justru menebar ilusi-ilusi reformis dalam krisis masyarakat kapitalis. Percaya kalau solidaritas sebagai senjata; mereka juga mengusung solidaritas tanpa batas hingga selalu ingin aktif di lapangan dan mengabaikan prinsip-prinsip persatuan secara teoritik sampai menanggalkan persoalan program maupun strategi dan taktik dalam perjuangan melawan kelas borjuis. Meski di setiap protes Jalanan mereka memekikkan ‘Revolusi’, ‘Anti-Kapitalisme’, dan ‘Anti-Fasista’, tetapi perjuangan yang ditempuh bukanlah perjuangan kelas yang tepat: bukan membangun gerakan buruh dengan kepemimpinan revolusioner yang akan meningkatkan kesadaran dan pengorganisasian diri lapisan terluas proletar dan memenangkan kediktatoran proletariat, melainkan memimpikan revolusi dengan gerakan-gerakan konspiratif dari para pemberontak.

Pendirian Anarkis sesungguhnya persis populisme-kiri (mood ultra-kiri) dari kaum Narodnik Rusia: revolusi dapat dikobarkan oleh tekad baja dan keteguhan dari sekolompok kecil angkatan muda radikal. Mereka berpikir kalau propaganda lewat tindakan yang mengambil metode aksi langsung dan sabotase dapat menggerakan massa, tetapi justru strategi-taktik Anarkis membelokan perjuangan kelas ke kubangan introspektif: menyalahartikan emosi, ego, kebimbangan, dan kenaifan borjuis-kecil sebagai sentimen dari gerakan massa yang lebih besar. Dalam Bolshevisme Jalan menuju Revolusi; Jilid I: 1883-1905, Alan Woods bahwa fenomena Narodnisme berhubungan dengan keterbelakangan perekonomian Rusia: ‘tidak adanya kelas buruh yang kuat, tidak adanya tradisi yang jelas atau contoh dari masa lalu yang bisa menerangi jalan mereka. Sensor yang mencegah mereka untuk bisa mengakses tulisan-tulisan Marx [dan Engels], semua ini membuat kaum muda revolusioner Rusia tidak mampu memahami proses-proses yang sedang berlangsung dalam masyarakat’. Di tengah kekosongan kepemimpinan revolusioner—selaku partai yang dipandu oleh teori yang paling maju—maka kebingungan teoritik itu kembali menyelimuti benak angkatan muda yang baru saja teradikalisasi di zaman imperialis. Mereka berkeinginan menggulingkan kapitalis tapi anti terhadap semua otoritas. Inilah mengapa ide dan tindakannya begitu kontradiktif: kehendak menggulingkan kapitalisme tidak disertai pengakuan atas otoritas proletariat untuk menundukan kelas borjuis melalui kediktatoran proletariat. Anarkisme terlalu romantik dan terlampau imajinatif: ingin menggulingkan kapitalisme tapi menolak merebut kekuasaan; ingin bertempur sampai akhir tapi menolak kehadiran pemimpin revolusioner profesional di medan perjuangan kelas; ingin mentranfrormasikan masyarakat tapi menolak pemerintahan buruh; dan sangat-sangat ingin revolusi tapi menolak pendirian partai sebagai kendaraan politik dalam menumbangkan borjuis dan menjamin kemenangan revolusi dari kontra-revolusi. Dalam Negara dan Revolusi, Lenin berusaha menjelaskan kepada kaum Anarkis tentang kekeliruan mereka:

“Menghapuskan biokrasi seketika, di mana-mana, dan sampai ke akar-akarnya, adalah mustahil. Itu utopia. Tetapi menghancurkan seketika mesin birokasi lama [negara borjuis] dan segera mulai membangun mesin [negara buruh—negara yang melenyap], yang memungkinkan dihapuskannya secara berangsur-angsur segala birokrasi—ini bukan utopia, ini pengalaman Komune [Paris], ini tugas langsung dan terdekat dari kaum proletariat revolusioner…. Kita bukan kaum utopis. Kita tidak menghayalkan menyingkirkan dengan seketika semua administrasi, semua ketertundukan. Khayalan Anarkis ini yang didasarkan pada ketiadaan pengertian akan tugas-tugas diktator proletariat, secara fundamental asing bagi Marxisme dan pada kenyataannya hanya membantu menunda revolusi sosialis sampai orang-orang berubah. Tidak, kita menghendaki revolusi sosialis dengan orang-orang sebagaimana adanya sekarang, yaitu orang-orang yang tidak dapat tanpa ketundukan, tanpa kontrol, tanpa ‘mandor dan akuntan’…. Kita sendiri, kaum buruh akan mengorganisir produksi secara besar-besaran [perekonomian terencana internasional] atas dasar yang sudah diciptakan oleh kapitalisme, dengan bersandar pada pengalaman buruh sendiri, dengan menegakkan disiplin yang paling keras, disiplin baja, yang didukung oleh kekuasaan negara dari kaum buruh bersenjata [kediktatoran proletariat], kita akan menurunkan pejabat-pejabat negara untuk memainkan peranan sebagai pelaksana biasa dari instruksi-instruksi kita, sebagai ‘mandor dan akuntan’, yang bertanggung jawab, dapat diganti dan dibayar dengan gaji yang tidak besar (tentu saja dengan bantuan teknisi-teknisi dari segala mutu, jenis, dan tingkat)—inilah tugas kita, tugas proletariat. Permulaan yang demikian itu, di atas dasar produksi secara besar-besaran, dengan sendirinya akan menuju ‘melenyapnya’ berangsur-angsur segala birokrasi, menuju pembentukan berangsur-angsur tata tertib-tata tertib yang tanpa tanda kutip, tata tertib yang tidak ada persamaannya dengan perbudakan upah—tata tertib di mana fungsi-fungsi pengawasan dan memberi pertanggungjawaban yang semakin sederhana akan dilaksanakan oleh semua secara bergilir, kemudian akan menjadi kebiasaan dan akhirnya tidak lagi menjadi fungsi khusus dari orang-orang lapisan khusus [negara—badan-badan bersenjata dan birokrasi].” 

Jika pun mereka mulai melihat kebangkitan dan kekuatan kelas buruh, tetapi tetaplah Anarkisme menolak pembangunan partai revolusioner dan pembentukan negara buruh sebagai syarat perubahan tatanan secara mendasar karena mereka menyangkal otoritas-proletariat sebagai satu-satunya kelas yang mempunyai bobot-sosial terkuat dalam menggulingkan masyarakat kapitalis, menegakkan revolusi proletariat dan transformasi sosialis. Begitulah kepongahan Anarkis dalam Revolusi Spanyol (1936-1937). Pada 1929, perekonomian dunia mendera kemerosotan. Di tengah krisis kapitalisme yang menjulur sampai ke Spanyol, kaum buruh dan tani Spanyol bangkit melancarkan perlawanan terhadap monarki hingga basis rezim dirusak. Tahun 1930, kediktatoran bonapartis Primo de Rivera terjungkal dan segera menghasilkan konsensi pemilihan umum: upaya menyeimbangkan kekuatan antar-kelas demi menyetabilkan kekuasaan. April 1931, proletariat di kota-kota besar pun memberikan suara terbanyak untuk calon-calon dari partai-partai Sosialis dan Republik. Sementara di desa-desa kecurangan jajak pendapat—oleh aristokrat dan tuan-tanah kepada kaum tani—telah membuat Partai Monarkis memperoleh suara mayoritas. Segera setelah pengumuman kemenangan monarkis; buruh-buruh di perkotaan bergerak menuju revolusi. Tanggal 14 April 1931, Monarki Bourbou jatuh dan gerakan massa-rakyat memproklamasikan pendirian republik. Pemerintahan Koalisi Republik Sosialis (1931-1933) pun berdiri tapi tidak mampu menghapuskan kepemilikan pribadi dan menyelesaikan persoalan mendasar rakyat karena dalam jajarannya didominasi kelas borjuis. Di sisi lain kebangkitan Hitler Jerman (1933) yang telah menghancurkan buruh Austria (1934) segera membawa kekhawatiran di benak kelas pekerja internasional. Tetapi sepanjang 1931-1937, perjuangan revolusioner buruh dan tani belangsung begitu rupa dengan melewati pasang-surut secara heroik.

Pada 1936, perang saudara meletus dengan tampilnya Jenderal Franco yang berusaha merebut kekuasaan republik. Februari 1936, gelombang radikalisasi buruh akhirnya meningkat. Konfederasi Buruh Nasional (Confederacion Nacional del Trabajo/CNT) berhasil menghimpun 1 juta massa-anggota, namun kelompok kecil konspiratoris Federacion Anarquista Iberica (FAI) yang menjadi pemimpin-pemimpin CNT mengarahkan perjuangan revolusioner dengan penuh kebingungan: saat elemen kontra-revolusi mengancam hasil-hasil perjuangan kelas buruh dan mulai menghancurkan serikat-serikat buruh, ketimbang menyerukan semua kekuasaan untuk buruh atau membentuk Soviet (kediktatoran proletariat—proletar yang terorganisir dan bersandar pada kekuatan massa bersenjata); CNT dengan kekuatan massanya justru menarik Partai Buruh Unifikasi Marxis (Partido Obrero de Unificacion Marxis/POUM) ke lembah kebijakan luar negeri Komintern di bawah birokrasi Stalinis: Popular Front (Front Rakyat, Front Nasional atau Persatuan Nasional)—sebuah manuver untuk berkoalisi dengan kaum liberal dalam memperjuangkan revolusi borjuis-demokratik (demokrasi nasional atau pembebasan nasional)—sebagai kebijakan kolaborasi-kelas yang dikembangkan dari Menshevik dengan berpura-pura mengubah realitas dan hubungan kelas melalui akrobat linguistik. Begitulah pemimpin-pemimpin Anarkis dan POUM yang sebelumnya berada dalam Pemerintahan Koalisi Republik Sosialis akhirnya melangkah bersama Partai Komunis Spanyol (Stalinis)—yang meyakini Fasisme-Sosial (teori Stalinis tak mengandung penjelasan apapun, kecuali tindakan pengusiran kaum buruh ke mulut tentara-tentara kontra-revolusi)—untuk bersekutu dengan Partai Republik (kaum liberal—Republikan) guna melawan fasisme. Namun di belakang layar—di bawah perlindungan Front Rakyat—para jenderal militer dan monarkis justru bersekongkol dengan kaum fasis; Pemerintahan Front Rakyat (Negara Rakyat Bebas) tidak mengambil sikap serius untuk menentang komplotan perwira tentara fasis Franco. Di saat mereka bimbang dan mematung maka para kapitalis, bankir, dan tuan-tanah dengan penuh keyakinan merangsek ke sisi Franco untuk memberikan dukungan terhadap kelompok fasis dalam membasmi serikat-serikat buruh: memasok dana dan senjata. Dalam Revolusi Spanyol Dikhianati, Alan Woods menjelaskannya begitu rupa:

“Mereka lebih takut pada buruh dan tani daripada kaum fasis, kepada siapa mereka siap untuk menyerah. Oleh karena itu, satu-satunya kebijakan yang benar adalah memutuskan hubungan dengan kaum Republiken borjuis dan membenduk pemerintahan buruh berdasarkan kaum Sosialis, Komunis, dan CNT. Satu-satunya cara untuk mengalahkan Franco adalah dengan menghubungkan perjuangan militer melawan fasisme dengan perjuangan revolusione untuk melikuidasi kediktatoran ekonomi sisa-feodal dan kapitalis…. Mempersenjatai kelas pekerja dan pembentukan komite pekerja atau Soviet yang terorganisir akan mengubah setiap pabrik, distrik pekerja, dan desa menjadi benteng Revolusi dan kekuatan perlawanan yang tangguh terhadap kaum fasis…. Tetapi mereka berpegang teguh pada sayap kanan [dalam Front Rakyat], yang pada gilirannya berpegang pada ekor kemeja kaum Republikan, yang berjuang untuk mencapai kesepakatan dengan reaksi dan melakukan segala daya mereka untuk melumpuhkan perlawanan kaum buruh…. Peran paling merusak dalam semua ini dimainkan oleh para pemimpin Parta ‘Komunis’, yang menerima perintah dari Moskow. Stalin takut akan kemungkinan kemenangan revolusi buruh di Spanyol. Contoh demokrasi proletariat yang sehat di Spanyol akan memberikan efek yang kuat pada pekerja Rusia, yang tumbuh bergolak di bawah pemaksaan rezim totaliter birokratis…. Setelah meninggalkan kebijakan internasionalis revolusioner Lenin, yang mendasarkan pertahanan Uni Soviet secara fundamental pada dukungan kelas pekerja dunia dan kemenangan sosialisme secara internasional, birokrasi Rusia berusaha mendapatkan dukungan dari kapitalis yang ‘baik’, negara ‘demokratis’ (Inggris dan Prancis) melawan Hitler. Pada satu tahap, mereka bahkan mendukung fasisme Italia yang ‘baik’ melawan variates Jerman yang ‘buruk’! Dengan demikian mencekik revolusi Spanyol akan memberikan keuntungan tambahan untuk membuktikan kehormatan Stalin ke London dan Paris. Kebijakan sebenarnya dari kaum kapitalis Inggris dan Prancis tidak didikte oleh kecintaan mereka pada ‘demokrasi’ [yang dibayangkan Stalinis], tetapi oleh kepentingan kelas yang telanjang, dan, di atas segalanya, ketakutan akan revolusi di Spanyol. Bersembunyi di balik kebijakan mengerikan ‘non-intervensi’, mereka secara munafik menutup mata terhadap bantuan yang diberikan oleh fasis Jerman dan Italia kepada Franco.”

Di tengah kepungan fasisme, dalam momen hidup-mati, dan tanpa kepemimpinan revolusioner; sebagai kelas yang memiliki bobot-sosial yang besar, kelas proletar bangkit melawan fasisme tanpa mempedulikan CNT-FAI (Kepemimpinan Anarkis), POUM (Kepemimpinan Sentris), dan Partai Komunis Spanyol (Kepemimpinan Stalinis) yang menolak mempersenjatai proletariat. Sepanjang Februari-Juli 1936 berlangsung 113 pemogokan umum dan 228 pemogokan parsial dari kaum buruh yang menyangkal dan menarik dukungannya dari Pemerintahan Front Rakyat. Pada 13 Juli, semua lokasi strategi telah dikuasai kaum fasis dengan persenjataan komplit. Tanggal 17 Juli pembangkangan berlangsung di Maroko dan Kepulauan Cinary yang sehari setelah segera diikuti 100.000 pekerja Madrid yang menentut pemerintah memberikan senjata untuk memerangi gerombolan fasis. Sementara di Sevila, Granada, dan Cordoba tuntutan-tuntutan akan senjata segera dihadapi oleh POUM dan Partai Komunis dengan bujukan untuk pulang ke rumah. Tetapi memasuki Agustus 1936, setelah para pelaut berinisiatif memperlihatkan keberanian dan kekuatannya dalam membuang perwira-perwira ke laut; para pekerja Barcelona, Madrid, dan lusinan kota lainnya mengambil inisiatif berbaris menghadang tentara kepalan tangan, tongkat, batu, belati, dan beberapa pistol rakitan. Mereka membanjiri jalanan, mengorganisiran pertahanan, dan melakukan penyerangan hingga berhasil merebut baterai artileri dan senapan-senapan mesin. Kelas buruh tampil mempersenjatai dirinya sendiri, mengorganisir komite-komite tempat tinggal, dan merebut pabrik-pabrik hingga kapitalis melarikan diri ketakutan, dan gerombolan fasis dikalahkan. Setelah Soviet-Soviet berdiri; Partai Komunis Stalinis Rusia segera mengirimkan pasokannya secara terbatas kepada Partai Komunis Stalinis Spanyol untuk membantu Rupublikan menegakkan hukum dan ketertiban, menekan pimpinan CNT-FAI dan POUM supaya ikut membubarkan milisi buruh dan menggantikannya dengan tentara reguler, hingga bersama Partai Republik membangun kembali negeri kapitalis yang hancur.  

Desember 1936, Front Persatuan memekikkan slogan: ‘Tuntaskan Perang Sipil, Baru Revolusi’. Mei 1937, birokrasi Stalinis lantas menambah kepecikan: ‘Semua Kekuasaan untuk Generalitat!’. Tank-tank dikirim untuk menguasai melancarkan pembasmian proletariat. Kaum buruh Catalunia lantas melawannya dengan mendirikan pemogokan umum dan barikade. Di tengah gempuran serdadu-serdadu bonarpartisme sekali lagi kelas proletar menunjukkan kekuatannya. Buruh kembali mempersenjatai dirinya tapi pemimpin-pemimpin CNT-FAI dan POUM lagi-lagi dikirim oleh birokrasi Stalinis untuk melucuti senjata dan membubarkan barikade-barikade yang telah menguasai Barcelona selama empat hari lamanya. Garcia Oliver dan Federica Montseny membujuk buruh untuk menghentikan perlawanannya dan kembali bekerja. Pusat Anarkis, Casa CNT-FIA menjelaskan bahwa mereka bisa saja menegakkan kekuasaan buruh, tapi mereka tidak ingin membangun negara buruh: ‘jika kami ingin merebut kekuasaan, kami dapat mencapainya pada bulan Mei dengan pasti. Tetapi kami menentang kediktatoran’. Maka bersama POUM mereka memilih bertahan dalam pemerintahan bersama kaum Stalinis dan liberal untuk menghancurkan gerakan buruh dan memulihkan kapitalisme: melikuidasi komite-komite aksi, memaksakan kebijakan-kebijakan di serikat buruh dengan keliru, berkapitulasi dan mendukung slogan-slogan Stalinis, hingga menemukan diri mereka ragu-ragu dan melayani kediktatoran-bonapartisme saat Pemberontakan Mei 1937. Segera setelah kekalahan ini buruh-buruh CNT diburu, POUM dicap ilegal, dan para pemimpin-pemimpinnya disiksa dan dibunuh oleh polisi rahasia Stalinis (GPU). Soviet-Soviet yang baru saja terbentuk di Spanyol akhirnya diremukkan dan kapitalis pun berpesta di atas pusaranya. Begitulah Anarkisme (CNT-FAI) bersama Sentrisme (POUM) dan Stalinisme (Partai Komunis Spanyol) mengkhianati gerakan buruh: dalam momen kebenaran gerombolan sosialis borjuis-kecil ini bergelayut pada kaum liberal (Partai Republik), menyeberang ke sisi reaksi, dan membaluti kelemahan teoritiknya dengan darah.

Dengan kepemimpinan politik borjuis-kecil maka kelas proletar bukan saja dirintangi merebut kekuasaan, tetapi juga membiarkannya sendirian mengarungi badai kontra-revolusi, dan lebih-lebih oleh Stalinisme diperangi begitu rupa. Anarkisme, Sentrisme, dan Stalinisme menolak mengakui apa yang telah lama ditemukan Marx, Engels, Lenin dan Trotsky: keberlangsungan kapitalisme bergantung pada mesin negara: tentara, polisi, penjara, pengadilan, hukum, dan sebagainya. Begitulah kelas penguasa—baik yang berkarakter liberal, konservatif, hingga fasis sekalipun—selalu menjadikan dukungan jenderal dan perwira-perwira militernya (dari kasta tentara, polisi, menteri, dan pegawai negeri ‘atas’ yang telah dipilih secara khusus untuk melayani sistem kapitalis) sebagai tumpuannya. Maka dengan melawan mesin-mesin negara borjuis berarti berjuang melemahkan dan menghancurkan basis kekuasaan politik dan demokrasi borjuis. Tetapi tidak ada yang sanggup melaksanakannya, kecuali kediktatoran proletariat yang dipandu oleh teori yang paling maju dari kepemimpinan revolusioner—partai revolusioner dari kaum pelopor proletariat. Sebagian besar CNT—terutama pelajar dan buruh muda—kini muak dengan kepemimpinan mereka yang telah berkhianat dan mencari alternatif lainnya. Dalam situasi revolusioner belokan historis terjadi: angkatan muda itu lantas menarik kesimpulan revolusioner dan membentuk tendensi ‘Friends of Durruti’. Meski peristiwa besar telah menggoncang kesadaran mereka akan pentingnya organisasi politik yang kuat dan tersentral dengan kader-kader revolusioner profesional, tetapi pembangunan partai revolusioner tidak bisa diimprovisasi di tengah jalannya revolusi apalagi saat menghadapi kontra-revolusi. Ini membutuhkan waktu belajar yang lama dalam membangun organisasi bagi revolusioner profesional. Trotsky menjelaskannya dengan tegas:

“Tidak ada yang lebih memuakan dan berbahaya dari aktivitas revolusioner daripada dilettantisme [keamatiran] borjuis-kecil yang konservatif, cinta-diri-sendiri, dan tidak mampu berkorban demi gagasan yang besar. Kaum buruh yang maju harus mengadopsi dengan tegas satu hukum yang sederhana tetapi tidak akan pernah berubah. Pemimpin-pemimpin atau calon-calon pemimpin yang di masa-masa damai tidak mampu mengorbankan waktu mereka, tenaga mereka, sumber daya mereka demi perjuangan Komunisme, sering kali dalam masa-masa revolusioner akan menjadi pengkhianat, atau menyeberang ke kamp orang-orang yang menunggu sisi mana yang akan menang. Bila elemen-elemen seperti ini memimpin Partai, mereka pasti akan menghancurkannya saat tiba ujian besar. Dan tidak jauh lebih baik adalah para birokrat berotak-udang yang diterima menjadi staf Komintern seperti halnya mereka adalah notaris, dan dengan patuh menyesuaikan diri dengan setiap bos baru…. Saya tidak akan percaya pada kepemimpinan yang dapat dipanggil melalui kabel dari Moskow, atau dari mana pun, tanpa disadari oleh massa. Kepemimpinan seperti itu akan menjamin kebangkrutan. Kita harus mengarahkan organisasi kita ke kaum [muda—pelajar dan] proletariat muda yang ingin belajar dan berjuang, yang memiliki antusiasme dan siap berkorban. Dari orang-orang seperti ini kita harus menarik dan mendidik kader-kader sejati Partai dan proletariat.”

Namun setelah Stalinisme berkuasa dan mencemari Komintern hingga membuarkannya secara sepihak; partai-partai Komunis dan lebih-lebih gerakan-gerakan kiri di pelbagai negeri diseret dalam pelajaran-pelajaran kepalsuan Stalinis. Di negeri-negeri Dunia Ketiga bahkan terus-menerus diyakinkan untuk menempuh revolusi borjuis-demokratik dan menunda revolusi proletariat-sosialis. Keterbelakangan perkembangan kapital di tengah zaman imperialisme tidak dihadapi dengan teori revolusi dunia tapi revolusi di satu negeri. Internasionalisme proletariat digantikan filistinisme borjuis-kecil. Dengan melihat keterbelakangan negerinya, jumlah kaum tani yang meraksasa, dan belum kuatnya kesadaran dan organisasi proletariat—maka segeralah mereka menyimpulkan: revolusi internasional haruslah diundur sampai dituntaskannya perjuangan pembebasan nasional atau demokrasi nasional. Tanpa menghiraukan pembangunan kepemimpinan revolusioner; mereka turun mengorganisir petani dan membangun basis di desa-desa dengan program utama reforma agraria. Garis politik mereka adalah massa, bukan kesadaran massa—inilah mengapa pengorganisasian bukan dengan mendahulukan lapisan paling sadar-kelas: pelopor proletariat. Jika pun mereka bergerak di kota-kota; lagi-lagi bukanlah gerakan buruh yang dibangun melainkan kaum miskin kota dengan berprogramkan penggulingan rezim. Itulah kenapa kebijakan kuno kediktatoran revolusioner buruh dan tani—yang sudah dimasukan ke museum Bolshevik ‘Tua’—dihidupkannya kembali dan dipandangnya lebih tepat ketimbang kediktatoran proletariat. Melalui Bolshevisme Jilid I, Alan Woods pernah mengomentari mereka: ‘seperti kaum Narodnik Rusia, mereka mencoba mencari basis di antara kaum tani negeri-negeri Ketiga lumpen-proletariat, semua kelas kecuali kelas proletar. Marx dan Engels menjelaskan bahwa satu-satunya kelas yang mampu memimpin revolusi sosialis dan membentuk negara buruh yang sehat untuk menuju masyarakat tanpa kelas adalah kelas buruh. Dan ini bukanlah kebetulan. Hanya kelas buruh, karena perannya dalam masyarakat dan produksi, terutama produksi industri skala besar, yang memiliki insting kesadaran sosialis. Bukan kebetulan kalau metode-metode perjuangan kelas proletar adalah berdasarkan aksi massa kolektif: pemogokkan, demonstrasi, mogok umum’.

Walaupun mereka mengadopsi metode-metode perjuangan buruh, namun aksi-aksinya tidak bertujuan membangun gerakan buruh. Jika pun mobilisasi persatuan dilakukan maka sebatas untuk meradikalisasi, menaikan isu, atau menjadi ritual gerakan kiri semata; bukan bertujuan utama mencari kontak, menjangkau lapisan terluas massa dan memenangkannya ke arah Marxisme revolusioner dalam membangun kepemimpinan revolusioner. Saat menerapkan taktik front perjuangan pun mereka lebih menekankan garis massa ketimbang kesadaran massa: maka setiap perpecahan dilarang hingga upaya mendorong massa menuju kesadaran revolusioner dibatasi demi menghindari perpecahan dan memperluas persatuan tanpa mempertimbangkan prinsip-prinsip ideologis dan pembangunan kepemimpinan revolusioner. Bilamana sosialis-sosialis borjuis-kecil hendak membentuk organisasi politik atau partai; lagi-lagi tidaklah stratifikasi atau homogenitas kesadaran massa yang diperhatikan tapi kuantitas—untuk membangun partai massa atau kiri luas dengan merekrut kaum buruh dan rakyat seluas-luasnya—meskipun harus menurunkan level politik, mengadaptasikan program, menenggelamkan metode dan tradisi organisasi seturut garis massa, dan akhirnya menanggalkan signifikansi pembangunan organisasi yang kuat dan tersentral dengan mendidik revolusioner profesional untuk menempuh perjuangan kelas dan memenangkan kediktatoran proletariat. Inilah bentuk keamatiran, ketidaksabaran, dan keangkuhan organisasional borjuis-kecil: hendak mempersatukan dan memimpin massa, namun mengabaikan peningkatan kesadarannya. Kalaupun mereka memberikan pendidikan politik tetapi mengabaikan prinsip teoritik (mencampuradukan teori yang berkontradiksi) hingga memicu keragu-raguan untuk membangun kepemimpinan revolusioner. Ketidakonsistenan inilah yang semestinya disingkirkan dengan mempelajari teori revolusioner sebagai landasan pembangunan kepemimpinan revolusioner. Pada akhirnya: karena hanya dalam organisasi atau partai revolusionerlah praktek dan teori menemukan kesatuan dialektisnya, maka dengan membangun kepemimpinan revolusioner sesungguhnya kita sedang mengembangkan teori revolusioner. Jurnal Dialektika I memperjelas:

“Perjuangan kelas revolusioner tidak dapat direduksi menjadi perjuangan roti dan mentega semata. Di antara banyak sekte yang mengklaim sebagai Marxis, yang tak terhitung jumlahnya dan kerap beselisih satu sama lain, sering kali kita temui kebencian terhadap teori yang terselubung dan penyembahan pada apa yang mereka anggap ‘isu-isu praktis’. Koran-koran [dan literatur-literatur] sekte ini penuh dengan agitasi murahan yang ditulis dengan gaya ‘populer’, seolah-olah buruh adalah anak kecil yang tidak mampu memahami ‘gagasan-gagasan rumit’. Ini hanya menunjukkan kecongkakkan mereka terhadap rakyat-pekerja, yang merupakan mentalitas tipikal borjuis-kecil dan orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan nyata mengenai kelas buruh….. Perjuangan untuk teori adalah persyarat mendasar dalam mempersiapkan buruh untuk perjuangan perebutan kekuasaan. Siapapun yang tidak memahami ini tidak memiliki pemahaman tentang apa itu Marxisme. Di samping perjuangan ekonomi dan politik, seperti yang dijelaskan Engels, kelas buruh juga harus berjuang melawan ide-ide dominan dalam masyarakat borjuis…. Hanya dengan cara ini jalan dapat dibuka untuk kemajuan gerakan buruh dan persatuan dari semua kaum tertindas di bawah panji revolusi sosialis.”

Di zaman imperialisme, sosialisme borjuis-kecil begitu penuh kepura-puraan dan sangatlah terombang-ambing, berayun-ayun kencang di antara reformisme dan Marxisme. Di Dunia Ketiga, meskipun gerakan Narodnisme dan pengkhianatan-pengkhianatan Sentrisme dengan Stalinisme telah menunjukkan kelemahan bobot-sosial borjuis-kecil tetapi mereka tetap mengabaikan kekuatan kelas buruh. Tanpa membangun kepemimpinan revolusioner; mereka kira cukup untuk mempelajari beragam literatur sosialisme, telibat-aktif dalam gerakan-gerakan sosial, dan mengasosiasikan dirinya telah melakukan bunuh diri kelas. Yang terakhir ini adalah konsep abstrak tapi paling umum ditemukan di tengah-tengah gerakan borjuis-kecil. Bunuh diri kelas dalam masyarakat berkelas merupakan frase-frase kosong, moralis, dan cenderung postmodernis. Bunuh diri kelas bukan saja menunjukkan kebimbangan, tetapi juga kepengecutan borjuis-kecil untuk melayani kepentingan kelas proletar. Tanpa mempelajari teori revolusioner—yang berasal dari pengalaman perjuangan kelas yang tepat—dengan membangun organisasi revolusioner untuk mempersiapkan syarat subyektif untuk memenangkan revolusi proletariat-sosialis—maka kaum intelektual, pelajar dan mahasiwa sekalipun tidak akan punya cukup alasan dan keyakinan yang kuat untuk eksis sebagai tendensi politik yang terpisah dari kelas asalnya. Momen kebenaran akan membuktikannya secara telak. Momen itu tidak saja membuktikan karakter kelas dan kebuntuan teoritik dari kepemimpinan CNT dan POUM, tetapi juga Partai Komunis Indonesia (Stalinis) yang dokumen-dokumen teoritiknya masih menjadi landasan gerakan atau dikembangkan melalui pendidikan politik organisasi-organisasi kaum muda sekarang.

Sesuai dengan perspektif PKI, mereka mungkin menyembulkan slogan-slogan anti-imperialisme tetapi sesugguhnya mengandung kontradiksi: melawan imperialisme tetapi memisahkan dengan perjuangan kelas anti-kapitalisme; anti imperialisme tetapi tidak mengusung kediktatoran proletariat; melawan imperialisme tetapi menggeser revolusi sosialis dunia dengan revolusi dua-tahap, revolusi borjuis-demokratik; melawan imperialisme tetapi membangun front nasional dengan borjuasi-nasional-rekasioner ‘yang lemah’; anti-imperialisme tetapi menyangganya dengan teori negara dengan dua aspek—pro-rakyat dan anti-rakyat; Kini angkatan-angkatan kiri kita masih mengikuti kecenderungan serupa: anti-imperialisme tetapi mengganti signifikansi pembangunan kepemimpinan revolusioner dan kediktatoran proletariat dengan persatuan pembebasan nasional; anti-imperialisme, anti-fasisme, dan anti(-sisa-)feodalisme tetapi mengusung demokrasi nasional yang sudah bangkrut dan mengabaikan demokrasi proletariat. Semua ini mengkristal dari dokumen ‘Masyarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia’. Padahal materi ini tidak secara konsisten teori Lenin tentang ‘Imperialisme sebagai Tahapan Perkembangan Tertinggi Kapitalisme’, melainkan merevisinya—penggulingan imperialisme tiada dihubungkan dengan penghapusan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi: meletakkan perjuangan melawan imperialisme di atas perjuangan kelas, mensubordinasi perjuangan kelas di bawah perjuangan nasional, menggantikan peran kepemimpinan revolusioner dan kediktatoran proletariat dengan kepemimpinan kelas-asing (borjuis-nasional yang sudah bangkrut, bahkan pula borjuis-kecil yang bobot-sosialnya lemah) dan pemerintahan front nasional. 

Mendekati persoalan imperialisme—atau fasisme sekalipun—tanpa kapitalisme sesungguhnya merupakan kekeliruan tinjauan borjuis-kecil. Jika bukan keliru maka ini merupakan keranjingan—di tengah krisis kapitalisme yang sudah tidak mungkin lagi memberi kesempatan mereka meningkatkan kasta-sosialnya, maka mereka bermimpi menjadi borjuis-besar tetapi dengan menyangkal kepeloporan revolusioner dan kediktatoran proletariat. Trotsky pernah mengkritik mentalitas tersebut: penyembahan kaum populis terhadap kaum tani dan komune adalah cermin kepura-puraan kaum pekerja intelektual [Narodnisme] yang ingin menjadi instrumen progres utama kalau bukan satu-satunya’. Kelemahan CNT-FAI dan POUM di Spanyol juga telah memberikan gambaran bagaimana hubungan dan perimbangan kekuatan antara borjuis-kecil dengan borjuis-besar: borjuis-kecil merupakan kelompok yang ikut tereksploitasi tapi juga dalam kelemahan bobot-sosialnya dapat menjadi pendukung sosial bagi kelas borjuis; saat kepemimpinan borjuis-kecil terlempar ke depan untuk membuka jalan bagi ‘perkembangan borjuis’ (mendirikan republik atau demokrasi borjuis) oleh lapisan terluas poletaraiat yang tidak cukup sadar dan terorganisir; politik borjuis-kecil dalam perjuangannya menghadapi bentrokan tajam dan melancarkan serangan kepada borjuis, tetapi setelah sampai di puncak historisnya maka borjuis-kecil mengalami kebangkrutan dan tidak dapat mengelak dari dominasi kapital karena kepemimpinannya yang lemah. Dalam Manifesto Komunis, Marx dan Engels melukiskan secara tragis nasib dari sosialisme borjuis-kecil:

“Ajaran Sosialisme [Borjuis-Kecil] ini dengan sangat tajamnya mengurai kontradiksi-kontradiksi di dalam syarat-syarat industri modern. Ia menelanjangi pembelaan-pembelaan munafik dari kaum ekonomis. Ia membuktikan dengan tak dapat disangkal lagi, akibat-akibat yang mencelakakan dari mesin dan pembagian kerja; konsentrasi kapital dan tanah ke dalam beberapa tangan saja; produksi-kelebihan dan krisis-krisis; ia menunjukkan keruntuhan yang tak terelakkan dari burjuis-kecil dan tani, kesengsaraan proletariat, anarki dalam produksi, ketidakadilan yang sangat menyolok dalam pembagian kekayaan, perang pemusnahan di bidang industri di kalangan nasion-nasion, penghancuran ikatan-ikatan moral lama, hubungan-hubungan kekeluargaan lama, nasionalitet-nasionalitet lama…. Akhirnya, ketika kenyataan-kenyataan sejarah yang tak dapat dibantah lagi telah menghapuskan semua pengaruh dari penipuan diri sendiri yang memabukkan, Sosialisme macam ini mengundurkan diri dengan hina dan sangat mengibakan.”

Bergabunglah bersama kami dalam membangun Bolshevisme untuk menggulingkan Kapitalisme dan menegakkan Sosialisme:

BANGUN BOLSHEVISME SEKARANG JUGA!

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai