“…sebagai kaum revolusioner, kami memahami bahwa kesadaran manusia pada umumnya tidak revolusioner. Pikiran manusia sangat menolak perubahan dalam bentuk apapun. Ini adalah mekanisme pertahanan diri psikologis yang mendalam yang kita warisi dari masa lalu yang jauh, yang telah lama terhapus dari ingatan kita, tetapi meninggalkan jejak yang terpatri begitu dalam di alam bawah sadar kita. Ini adalah hukum yang berakar pada hasrat untuk mempertahankan diri…. Orang-orang akan berlarian kesana-kemari, mencoba mencari keselamatan. Tetapi dengan paham-paham lama tidak ada keamanan yang dapat ditemukan. Oleh karena itu, paham lama harus ditinggalkan dan paham baru harus ditemukan. Guncangan yang mendalam sudah mulai menggoyahkan kepercayaan rakyat terhadap tatanan masyarakat yang ada.” (Alan Woods)
“Kami bukan penipu, kita harus mendasarkan diri kita hanya pada kesadaran massa. Sekalipun perlu tetap menjadi minoritas, biarlah begitu … Kita tidak boleh takut menjadi minoritas … Kami akan terus melakukan kerja-kritik untuk membebaskan massa dari tipu-daya. Garis kami akan terbukti benar. Semua yang tertindas akan datang kepada kami. Mereka tidak punya jalan keluar lain.” (V.I. Lenin)
Tiga dekade yang lalu konglomerat dan ahli strategi kapital bersorak-gembira. Keruntuhan Uni Soviet dan berakhirnya perang dingin segera disambut dengan berpesta pora. Mereka merayakan kemenangan kapitalisme dan kekalahan sosialisme. Pada 1992, Francis Fukuyama bahkan menulis buku mengenai akhir sejarah. Bahwa dia memproklamirkan kejayaan pasar bebas di atas puing-puing perekonomian terencana: ‘[liberalisme] adalah titik akhir dari evolusi ideologi umat manusia dan universalisasi demokrasi liberal Barat sebagai bentuk akhir pemerintahan manusia’. Dirinya memandang kalau yang tumbang di Rusia dan Eropa Timur adalah komunisme, bukan karikatur dari sosialisme: Stalinisme. Begitulah perekonomian terencana yang dikontrol secara birokratis oleh kasta-birokrasi dipandang sebagai dosa Marxisme. Padahal di samping keterisolasian perekonomian Soviet dan kekalahan revolusi Eropa; pengkhianatan revolusi oleh birokrasi Stalinis menjadi dasar-politik bagi pemulihan kapitalisme. Namun mendengar pidato-pidato ilmuan kapital meroketkan kepercayaan diri kelas borjuis. Bangkrutnya partai-partai Komunis (Stalinis) diekploitasi dan dipropagandakan begitu rupa. Kolom-kolom berita, jurnal-jurnal universitas, buku-buku sekolah, hingga aneka lembaga pendidikan dan kebudayaan berperan melancarkan fitnah dan stigma-stigma terhadap Sosialisme Ilmiah. Berpuluh-puluh tahun massa-rakyat dunia dijejali kebohongan tanpa peyangkalan dan perlawanan berarti. Kelas penguasa membebani benak kelas terkuasai dengan onggokan rutinitas yang menggumpal sebagai tradisi, patuh dan menerima status-quo. Mayoritas manusia dibuat percaya pada pemerintahan borjuis. Hanya ledakan peristiwa yang melemparnya keluar dan menentang tipu-daya borjuis. Krisis Kapitalisme 2008 telah menggoncang kesadaran kaum muda dan kelas proletar. Setelah mengklaim kemenangannya di atas kestabilan relatif kini kapitalisme memasuki periode instabilitas berlarut-larut. Lonceng zaman baru berdenting. Awal 2011 melebihi seratus ribu anggota serikat pekerja bersama seabrek petani kecil dan mahasiswa menduduki gedung DPR negara bagian Wisconsin. Di tengah krisis perumahan, kejatuhan pasar saham, PHK massal, merebaknya kemelaratan dan kekerasan; massa-rakyat bangkit menentang Undang-Undang Anti-Buruh oleh Gubernur Scott dan memasuki akhir tahun gerakan Occupy menjalar dari Wall Strett di Lower Manhattan ke ratusan kota-kota Amerika Serikat, Afrika, dan Arab. Setelah 2013 Trayvon Martin ditembak polisi dan setahun setelahnya Eric Garner dicekik sampai mati, Desember 2014 gelombang pertama gerakan Black Lives Matter meledak dan 2020 pembunuhan kepada George Floyd kontan menyulut perlawanan berskala dunia.
Sejak krisis 2008 berlangsung di Amerika; ide-ide sosialis bangkit dan menginspirasi letupan-letupan pemogokan dan protes massa. Oktober 2018, Fukuyama akhirnya menelan kembali ludahnya—melalui New Statesman ditulisnya pernyataan sumbang: ‘[demokrasi liberal] ini semua adalah kebijakan yang didorong oleh elit yang ternyata cukup membawa malapetaka, ada beberapa alasan bagi orang biasa untuk marah’ dan ‘pada titik ini, menurut saya hal-hal tertentu yang dikatakan Karl Marx adalah benar’. Marx menulis: ‘di satu sisi perkembangan kekuatan-kekuatan produksi dan pertumbuhan kekayaan yang tidak ada hentinya, yang, pada saat yang sama, terdiri dari komoditas dan harus diubah menjadi uang tunai; di sisi lain, sistem ini didasarkan pada massa produsen dibatasi [upahnya] pada kebutuhan pokok’. Ledakan-ledakan peristiwa telah mengangkat Marxisme ke panggung sejarah dan segera menjadi pehatian massa karena ketepatannya. Setelah krisis perumahan (over-produksi) memicu krisis finansial 2008; krisis Euro menjadi ancaman besar bagi Yunani, Spanyol, Italia, bahkan Eropa dan Uni Eropa. Ekspropriasi kapital variabel oleh kapital konstan mengakibatkan ketidakmampuan kelas pekerja untuk membeli rumah-rumah yang telah berjamuran rupanya. Pemberian kredit-murah kemudian diadopsi sebagai siasat menunda krisis untuk sementara waktu, tetapi lama-lama gelembung spekulasi sektor perumahan menumpuk dan meledak-menjalari seluruh perekonomian dunia. Siklus boom-and-bust—kejatuhan ekonomi disusul ledakan ekonomi—yang menjadi fenomena klasik krisis kapitalisme tidak dapat terulang lagi. Resep menunda krisis dengan menjulurkan subsidi dan menambah beban utang pemerintah terbukti tak ampuh, melainkan menjadi bom waktu yang menunjukkan kebangkrutan negara-bangsa, kebiadaban kapitalisme, dan membenarkan Marxisme. Ledakan peristiwa bahkan mendorong segelintir analis borjuis sampai pada kesimpulan malu-malu dan seolah menyangkal posisinya. Dalam Bloomberg View, George Magnus—selaku pemikir sekaliber dari lembaga keuangan raksasa UBS yang berbasis di Swiss—menulis esai dengan judul yang membuat semua orang terperangah: “Berikan Karl Marx Kesempatan untuk Menyelamatkan Ekonomi Dunia”:
“Pertimbangkan, misalnya, prediksi Marx tentang bagaimana konflik inheren antara modal dengan tenaga kerja memanifestasikan dirinya. Seperti yang dia tulis dalam Das Kapital, pengejaran keuntungan dan produktivitas perusahaan secara alami akan membuat mereka menyerap lebih sedikit pekerja, menciptakan ‘pasukan cadangan industri’, dari orang-orang miskin dan pengangguran: ‘oleh karena itu, akumulasi kekayaan di satu kutub adalah akumulasi waktu yang sama dari kesengsaraan’. Proses yang dia [Marx] gambarkan terlihat di seluruh negara maju, khususnya di AS. Upaya perusahaan untuk memotong biaya dan menghindari perekrutan telah meningkatkan laba perusahaan AS sebagai bagian dari total output ekonomi ke level tertinggi selama lebih dari enam dekade, sementara tingkat pengangguran mencapai 9,1 persen dan upah riil stagnan. Ketimpangan pendapatan AS, sementara itu, dalam beberapa ukuran mendekati level tertinggi sejak 1920-an, sebelum tahun 2008, disparitas pendapatan tertutup oleh faktor-faktor seperti kemudahan kredit, yang memungkinkan rumah tangga miskin menikmati gaya hidup yang lebih sejahtera. Sekarang masalahnya adalah menjadi bumerang [bagi kelas penguasa].”
Kapitalisme yang pada masa-masa awalnya berjalan di atas usaha kecil, persaingan dan pasar bebas; kini telah berkembang menjadi imperialisme yang menempatkan monopoli transisional raksasa sebagai tumpuannya. Lihatlah bagaimana segelintir perusahaan raksasa mendominasi pasar dunia: JPMorgan Chase & Co (Amerika) beraset 2,3 triliun dolar AS; Barclays PLC (Inggris) beraset 2,3 triliun dolar AS; Merrill Lynch & Co (Amerika) beraset 2,2 triliun dolar AS, Vanguard Group (Amerika) beraset 1,7 triliun dolar AS; AXA (Prancis) beraset 1,5 triliun dolar AS; USB AG (Swiss) beraset 1,4 triliun dolar AS; dan seterusnya. Mereka tak sekadar memonopoli kepemilikan saham, tetapi juga membentuk kartel (kerjasama) antar-monopoli—bidang minuman (Coca-Cola), sepatu (Nike), komputer (Microsoft dan Exxon), hingga beragam tambang minyak—dengan selubung perjanjian berkait harga, jumlah produksi, pembagian pasar, dan sebagainya. Super-profit mereka raih dan kelas pekerja (selaku produsen sekaligus konsumen) dirugikan secara leluasa—terutama melalui konglomerasi perusahaan raksasa yang bergerak di pelbagai macam industri demi meraup semakin banyak laba. Wujud konglemerat ini telah lama menampak di Indonesia. Salim Group memiliki 400 perusahaan yang bergerak dalam aneka industri: Indofood (mie instan), Bogasari (tepung), Indomart (retail modern), Indocement (semen), Indosiar (televisi), dan lain-lain. Di sampingnya terdapat pula Djarum Group—selain menjadi monopolis rokok juga mendominasi properti, agribisnis, telekomunikasi, multimedia, bahkan mempunyai BCA. Namun dalam industri rokok, Djarum (bersama Sampoerna) sahamnya diakuisisi oleh Imperial Tobacco dan Philip Moriss yang menguasai perindustrian rokok dunia. Dalam keadaan inilah para pemiliki modal tidak lagi secara langsung mempekerjakan pekerja, tetapi mereka cukup meminjamkan uang dan melakukan investasi. Beginilah mereka memisahkan dirinya dari aplikasi produksi, tetapi terus menginvestasikan modalnya dalam relung-relung industri. Makanya setelah konglomerasi-konglomerasi yang menggabungkan antara kapital industri dan kapital perbankan; imperialisme menempatkan ekspor kapital sebagai fitur utamanya, menarik bangsa-bangsa tertinggal ke arena sejarah dunia, dan menyulap Dunia Ketiga sebagai negeri-negeri tergantung dan tanah-tanah jajahan. Kami—Front Muda Revolusioner (organisasi kaum muda sosialis dari Perhimpunan Sosialis Revolusioner—Seksi Indonesia dari International Marxist Tendency)—lewat Imperialisme; Apa itu dan Bagaimana Cara Melawannya (2021)—sudah memaparkan:
“Ekspor kapital menjadi fitur dominan di tahapan tertinggi kapitalisme. Kapital diekspor ke negeri-negeri miskin kapital—atau sektor industri di sebuah negeri yang miskin kapital—untuk membangun infrastruktur (rel, jalan raya, pelabuhan, sekolah), pabrik, tambang, perkebunan, dll., dengan tujuan meningkatkan nilai-nilai yang dapat diraup. Ekspor kapital ke negeri-negeri terbelakang biasanya memberikan profit yang lebih tinggi karena mereka miskin kapital, harga tanah murah, upah buruh murah, sumber daya alam murah. Inilah bagaimana kapitalisme dicangkokkan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di negeri-negeri koloni. Tidak seperti kaum borjuasi Eropa yang bangkir sendiri dan menumbangkan sistem sosial dan ekonomi feodal, kaum borjuasi negeri-negeri koloni lahir dari kapital asing. Mereka lahir terlambat dan secara artifisial, dan menjadi tergantung pada modal asing [dan sisa-sisa masyarakat pra-kapitalis yang bangkrut]…. Dengan menyebarkan kapital, kapitalis menyebar kontradiksi ke setiap sudut dunia dan mengikat seluruh dunia ke dalam sistem kapitalisme. Inilah watak krisis finansial 2008 baru-baru ini, yang masih terus berlanjut dengan ‘contagion’ yang terus menyebar. Bayangkan, krisis Yunani, sebuah ngeri kecil yang jumlah penduduknya hanya 11 juta, kurang-lebih sebesar Jakarta, dapat menyeret seluruh perekonomian dunia … Karena kapital negeri-negeri besar seperti Jerman, Inggris, Prancis, dan Amerika ada di Yunani. Jatuhnya Yunani akan berimbas pada negeri-negeri pengekspor kapital ini dan lalu tentunya menyebar ke seluruh dunia…. Ekspor kapital juga harus dilihat dalam koneksinya dengan kapitalisme monopoli yang sudah berkembang, yang tujuan utamanya adalah dominasi absolut. Dengan ekspor kapital yang berupa pinjaman kredit, negeri penerima kredit biasanya harus menyetujui sejumlah syarat yang menguntungkan pemberi kredit, seperti akses ke sumber daya alam, konsensi-konsensi pembangunan jalur transportasi dan komunikasi, penghapusan tariff bea masuk, dan berbagai kebijakan lainnya yang tujuannya adalah memperkuat dominasi monopoli. Ekspor kapital juga, menciptakan pasar bagi negeri pengekspor kapital, karena negeri penerima kapital akan menggunakan kapital ini untuk membeli jasa dan barang dari negeri pengekspor kapital.”
Di zaman imperialisme, ekspor kapital bukan hanya diadopsi sebagai strategi kapitalisme untuk memupuk laba tetapi juga menjadi bom waktu yang selalu digencarkan di masa-masa krisis. Puncak dari kegilaan ini adalah hutang beronggokan rupanya. Juni 2008-Juni 2018, hutang global—pemerintah, korporasi, dan rumah tangga—mencapai 178 triliun dolar AS (50%). Dalam menjerat negeri-negeri tergantung, IMF dan Bank Dunia—yang didanai oleh perusahaan-perusahaan multinasional—memberikan pinjaman dengan suku bunga teramat rendah dan tanpa pengontrolan sama sekali. Sejak pertemuan KTT G-8 di Birmingham, Inggris (1998) maka mekanisme menambah beban hutang dunia telah menjadi pembicaraan serius—begitu pun dalam KTT G-20 di Toronto, Kanada (2009) dan di Bali, Indonesia (2022). Melalui permudahan dan pemberian hutang-hutang baru; para bankir mendapat jaminan pengembalian uang mereka dan negara-negara penghutang semakin dibuat pesakitan oleh IMF dan Bank Dunia untuk melayani kepentingan imperialisme dengan melakukan penyesuaian struktural guna penurunan tarif hingga menswastanisasi beragam prasarana Dunia Ketiga. Sejak 1998, The Economist melaporkan kalau jebakan hutang telah menghasilkan mimpi buruk bagi Afrika Sub-Sahara: negara-negara di benua ini pailit, kemiskinan umum merebak, bisnis gelap menjalar, perang gangster berkecamuk, dan kriminalitas menumpuk. Akhir 2019, perkembangan kapitalisme mengharuskan Cina mengembankan atau membuka pasar-pasar baru untuk meraih profit. Ketika hutan-hutan dan lautan berusia jutaan tahun dirambah maka mereka merusak habitat patogen, menyeretnya semakin dekat dengan pemukiman penduduk, sampai akhirnya Covid-19 meledak di pasar Wuhan dan menyebar ke segala penjuru secepat kilat. Perekonomian masyarakat kapitalis yang rapuh dan ditambah goncangan pandemi dan perang Ukraina-Rusia, bukan saja dihadapi dengan menguatkan anggaran militer guna memperhebat pembatasan sosial dan saling menerapkan proteksionisme sebagai balasan terhadap kebijakan proteksionis negara lainnya dan mengamankan bahan baku, tetapi juga menebar subsidi, kredit murah, dan meningkatkan hutang global. Sejak 1980-2020, total hutang global memang merangsek liar: dari 100 persen PDB menjadi 256 persen PDB (226 triliun dolar AS).
Memasuki April 2022, khusus hutang pemerintah saja—belum terhitung korporasi dan rumah tangga—telah mencapai 71,6 triliun dolar AS (67%) dan tiga per empat ekonomi dunia mendera inflasi di atas 5 persen. Di bulan Juli; inflasi di Jerman, Amerika, dan Inggris masing-masing mencapai 8,5 persen, 9 persen, dan 10 persen. Sementara di negeri-negeri Dunia Ketiga, IMF membeberkan bahwa sepanjang 2021 rasio hutang publik sudah memecahkan rekor 67 persen. Keadaan ini menebar ancaman bagi negeri-negeri (kapitalis) terbelakang: 54 negara menuju lembah kepailitan akibat hutang yang tidak sehat, dorongan korupsi atas persaingan hidup di tengah kelimpahan dan kemiskinan, hingga membuat pemerintahan-pemerintahan korup tak mampu melakukan pelunasan. Pada 2022, setelah inflasi dan represi melecut pemberontakan massa dan kekacauan di Kazakhstan dan Iran yang dipicu oleh melambungnya harga elpiji dan pembunuhan Zina Amini oleh polisi; Sri Langka menjadi negara yang pertama mengalami kebangkrutan-hutang dengan letupan gerakan spontan yang membuat Gotabaya Rajapaksa tunggang-langgang. November 2022, ketika di negeri-negeri barusan kenaikan harga-harga, kondisi hidup yang mengenaskan, keresahan rakyat dan darurat militer masih menajam; Timur Leste menjadi negeri penerus kekacuan di tengah persoalan inflasi dan kekorupan yang tiada terselesaikan. Dalam seabrek kebangkitan gerakan inilah ide-ide sosialisme disuarakan: di Iran perlawanan kaum muda berhasil melibatkan serikat-serikat buruh dan mengambil inspirasi dari Revolusi Iran dengan menggemakan nyanyian “Perempuan, Kebebasan, dan Revolusi” dan di Timur Leste slogan “Bubarkan Sarang Korupsi; Hancurkan Demokrasi Minoritas atas Mayoritas” digelorakan barisan muda melalui pertempuran jalanan.
Berlarut-larutnya krisis 2008–tiada terpecahkannya sampai 2022–menjalarkan ketidakpercayaan massal terhadap kelas penguasa dan membangkitkan harapan akan sosialisme. Tepat 6 November 2008, sekitar 500 kaum muda Kuba berkumpul untuk memperingati Revolusi Oktober. Fernando Rojas, salah seorang organisator kegiatan mengucap: ‘dengan pertemuan seperti ini untuk belajar dan mendiskusikan revolusi itu, Anda sedang mengeraskan identitas Anda sendiri, mengenal diri Anda lebih baik, memperluas cakupan gagasan Anda dan memperkuat fondasi hasrat, pandangan, pemberontakan, dan militansi Anda’. Pelajar dan buruh muda adalah yang paling terdorong maju oleh peristiwa. Di Amerika, mereka melihat kalau 8,6 juta orang sudah kehilangan pekerjaannya selama 2008; 6,9 juta orang kembali di-PHK pada Maret 2020; dan melebihi 20 juta orang sedang bersiap-siap melepas pekerjaannya juga. Socialist Revolution (Seksi Amerika Serikat dari International Marxist Tendency) melaporkan bahwa Demokrat Sosialis Amerika tumbuh mencapai 92.000 anggota—sejak 2016 sampai 2021, jutaan angkatan muda Amerika teradikalisasi dalam krisis kapitalisme yang telah menyingkapkan bagaimana berlangsungnya ‘kesulitan yang lebih besar bagi pekerja dan kaum muda: pemotongan dan penghematan bagi mayoritas dan kekayaan yang tak terbayangkan bagi minoritas, ketidaksetaraan yang mengejutkan, standar hidup yang semakin memburuk, upah rendah, misogini, homophobia, rasisme dan kebrutalan polisi’. Sepanjang 2019, pembangkangan-demi-pembangkangan juga meledak di mana-mana dan merefleksikan krisis kapitalisme yang mendunia: Chile, Ekuador, Bolivia, Kolombia, Haiti, Prancis, Brazil, Alzajair, Catalonia, Kashmir, Sudan, Lebanon, Irak, Hongkong, Indonesia, dan Papua. Bahkan ketika 2020, di tengah pandemi, krisis kapitalisme dan brutalitas negara yang merumahkan paksa rakyat-pekerja; kaum muda menghabiskan waktu luangnya untuk menonton film-film kiri dan mendiskusikan tontonannya itu. Forum Internet dan Media Sosial Cina mencatat beberapa film kiri yang ditonton meliputi: “Siapa Tokoh Terbesar dalam Sejarah Revolusi Tiongkok?” (47 juta tayangan), “Mengapa Mereka Mempelajari Marxisme di Usia yang Muda?” (1, 95 juta tayangan), dan sebagainya.
Pada 2021, Financial Times—selaku buletin bagi investor dan konglomerat—memberitakan kepanikan yang mewakili kelas borjuis: ‘sulit untuk dibayangkan’, ‘revolusi komunis’ menjadi ancaman di depan mata. Dan, surat kabar ini mengakui bahwa kaum muda—pelajar dan terutama buruh muda—menjadi elemen sosial yang sedang teradikalisasi dalam krisis kapitalisme. Jajak pendapat yang mereka adakan memberitahu bahwa sekitar 60-80 persen orang-orang muda berusia 18-34 di Amerika Serikat, Afrika Selatan, Inggris, India, Spanyol, Italia, Rusia, Meksiko, dan Kanada memandang kekacauan sedang melanda negara-negara itu. Sementara di bulan Juli, Institute of Economic Affairs (IEA) mengungkap temuan mencengangkan di antara kaum muda Inggris: 70 persen menyalahkan kapitalisme atas krisis iklim dan rasisme, 67 persen ingin hidup di bawah sosialisme, dan 75 persen sepakat kalau sosialisme sebagai ‘ide yang bagus’ tetapi ‘gagal di masa lalu karena diterapkan dengan buruk’ [oleh Partai-Partai Komunis (Stalinis) di Uni Soviet dan Eropa Timur]. November 2022, ratusan pelajar, pekerja dan aktivis sosial berpartisipasi mengikuti Konferensi Kaum Muda yang diorganisir oleh Aliansi Pemuda Progresif (Seksi Pakistan dari International Marxist Tendency) di Sindh Scouts Club. Melalui pertemuan inilah dideklarasikanlah perang kelas ‘melawan pengangguran, inflasi, pelecehan seksual, pendidikan mahal, penindasan nasional dan kapitalisme’ dengan perspektif Marxisme Revolusioner. Di 34 negara OECD (Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan Eropa), 18 persen angkatan muda berusia 25-34 tahun menganggur dan mendera kemiskinan di tengah krisis yang berlarut-larut. Peristiwa-peristiwa yang mereka lihat dan rasakan selama krisis kapitalisme membuka pikirannya untuk menerima ide-ide sosialis. Dalam situasi krisis terparah sepanjang sejarah inilah mereka tidak saja menyerap keresahan dari jantung masyarakat kapitalis, tetapi juga ikut merasakan sendiri bagaimana susahnya memenuhi kebutuhan hidup tanpa memiliki pekerjaan yang tetap dan layak. Sejak 2013, skandal pengangguran kaum muda menjadi mimpi buruk. Organisasi Buruh Internasional (ILO) melaporkan kalau 75 juta pengangguran di seluruh dunia adalah orang muda—Bank Dunia memperkirakan jumlahnya justru menyentuh 260 juta, dan The Economist bahkan lebih horor: 290 juta angkatan muda menganggur! Keganasan skandal pengangguran yang menghantam kaum muda saat ini benar-benar tanpa preseden. Pengangguran dalam zaman imperialisme berarti menganggur secara mengenaskan. Dalam Ideas of Karl Marx (2018), Alan Woods menguraikan:
“Jenis pengangguran massal yang kita alami sekarang jauh lebih buruk daripada apapun yang diramalkan, Marx menulis tentang tentara cadangan industri: yaitu kumpulan tenaga kerja yang dapat digunakan untuk menekan upah dan bertindak sebagai pekerja cadangan ketika ekonomi pulih dari kemerosotan. Tetapi jenis pengangguran yang kita lihat sekarang bukanlah pasukan cadangan yang dibicarakan Marx, yang dari sudut pandang kapitalis, memainkan peran yang berguna. Ini bukan bukan jenis pengangguran siklis yang sudah dikenal baik oleh para pekerja di masa lalu dan yang akan naik dalam resesi hanya untuk menghilang ketika ekonomi bangkit kembali. Ini adalah pengangguran permanen, struktural, organik yang tidak berkurang secara nyata bahkan ketika ada ‘boom’. Ini adalah bobot mati yang bertindak sebagai hambatan yang sangat besar pada aktivitas produktif, sebuah gejala bahwa sistem telah mencapai jalan buntu.”
Dalam masyarakat kapitalis tingkat pengangguran terus meninggi. Kaum muda disulap menjadi sampah industri. Orang-orang muda menganggur bukan karena tidak memiliki kemampuan dan bakat, tetapi pemutusan hubungan kerja sepihak dan persaingan mempertahankan hidup yang mengambil bentuk kolusi dan nepotisme menghadang bahkan mendepak mereka dari kantor dan pabrik-pabrik. Di Spanyol, Yunani, dan Inggris, krisis over-produksi telah menghantam lulusan baru universitas dan buruh muda secara keras. Di Inggris bahkan penganggur muda telah mencapai angka jutaan. Pada 2021, situasi di negeri-negeri (kapitalis) terbelakang jauh lebih mengerikan: Afrika Selatan, tingkat pengangguran angkatan muda mencapai 66,5 persen (20-29 tahun); Indonesia, penganggur muda mengalami peningkatan sampai 17,66 persen (20-24 tahun) dan 9,72 persen (25-29 tahun). Seusai masa studi sama sekali tiada jaminan mendapatkan pekerjaan tetap dan layak. Selama krisis kapitalisme kemiskinan bagi kaum muda adalah pasti, bukan sekadar setelah lulus tetapi telah menjadi ancaman nyata selama berkuliah. Ongkos pendidikan yang meningkat setiap tahunnya dan meroketnya harga-harga kebutuhan riil selama inflasi telah memaksa seabrek pelajar terjebak hutang. Pertengahan November 2022, Tempo memberitakan 311 mahasiswa IPB tertipu pinjaman online. Pandemi hingga Perang Ukraina-Rusia mendongkak inflasi dan mempercepat kemiskinan, menambah beban hidup, dan menyulut kemarahan kaum muda terhadap kapitalisme. Ledakan-ledakan peristiwa selama 2008-2022 telah mengoncang kesadaran massa-pelajar dan buruh muda untuk memeluk sosialisme. Ketika kapitalisme membangkitkan barbarisme maka sosialisme adalah alternatif satu-satunya. Pergolakan revolusioner tersirat melalui seluruh situasi zaman kita. Hanya di saat angkatan muda teradikalisasi kepemimpinan revolusioner belumlah muncul dan mengambil peran menentukan dalam menyambut lapisan sosial yang sedang mencari jalan keluar dari kebuntuan kapitalisme.
Meski guncangan-guncangan historis telah menggoyahkan kepercayaan massa-rakyat terhadap kapitalisme, tetapi begitu banyak orang-orang muda memeluk sosialisme menunjukkan kalau yang dipelajarinya bukanlah Marxisme tapi sosialisme borjuis-kecil (Anarkisme) atau karikatur sosialisme (Stalinisme). Menajamnya perjuangan kelas akibat krisis kapitalisme memang telah menarik massa bergabung bersama organ-organ politik, tetapi terbangunnya massa dalam kehidupan politik berlangsung di tengah kekosongan kepemimpinan revolusioner dan dominasi kecenderungan reformis kiri dan sentris (berayun-ayun antara revolusi dan reformisme). Seabrek peristiwa (dan catatan-catatan mengenai pengalaman perjuang kelas) mungkin telah mengajari pelajar dan buruh muda bahwa borjuis-nasional sudah tidak lagi progresif, parlementer-oportunis merupakan pengkhianat gerakan buruh, kekuasaan borjuis harus digulingkan dan masyarakat yang baru mesti didirikan. Namun mereka yang tidak sabar untuk merubah masyarakatnya secara mendasar gampang sekali terperosok menuju lumpur ultra-kiri; sementara mereka yang menelan mentah-mentah teks-teks Stalinis dan epigon tentu akan bergerak menjauhi sosialisme yang sejati. Maka menghadapi krisis kapitalisme bukan kepemimpinan proletariat yang dipersatukan oleh prinsip-prinsip Marxisme yang dibangun, melainkan front demokrasi atau front kiri untuk memperluas persatuan dan melancarkan gerakan-demi-gerakan penekanan. Pembangunan persatuan lintas-kesadaran (bukan persatuan Marxis—kepemimpinan revolusioner) tak akan pernah memberikan kekuatan dalam menggulingkan kapitalisme, tetapi justru melemahkan dan menghabiskan sumber daya. Mengganti pembangunan kepemimpinan revolusioner dengan membangun front demi menekan kekuasaan semata sesungguhnya merupakan bentuk aktivitas praktis paling sempit dan keamatiran borjuis-kecil.
Menolak pembangunan kepemimpinan revolusioner sesungguhnya menyangkal signifikansi faktor subjektif dalam sejarah dan secara terselubung memvulgarisasi Marxisme—bergerak menuju oportunisme. Dalam “Negara dan Revolusi” maupun “Revolusi Proletariat dan Kautsky si Pengkhianat”, Lenin memberikan penerangan bahwa oportunisme bukan sebatas menjadi pendirian parlementer-oportunis, tetapi juga Anarkis, Bakuninis, Proudhonis, Bernsteinis, Kautskyis, dan seabrek gerakan-pemikiran yang menyangkal Kediktatoran Proletariat sebagai esensi perjuangan kelas Marxisme dan mengabaikan pembangunan kepemimpinan revolusioner yang dibutuhkan untuk mengangkat kediktatoran proletariat ke tampuk kekuasaan. Dahulu Stalin pernah menolak front persatuan dengan gerakan proletariat dan melalui Komintern mamaksakan penerapan Front Populer. Perspektif Stalinis membagi tiga periode perjuangan kelas: pertama, kebangkitan revolusioner dan kekalahan kelas proletar pasca-PD I; kedua, konsolidasi kapitalis selama dasawarsa 1920-an; dan ketiga, meluasnya keambrukan ekonomi dan radikalisasi proletariat. Kebijakan ini memiliki peranan penting dalam kekalahan dan pembantaian pekerja Jerman oleh pasukan Hitler. Dengan meyakini kebutuhan akan Front Populer maka birokrasi Stalinis menuding kaum buruh sebagai Sosial-Fasis, mengusir dan menolak persatuan dengan proletar, dan membiarkan terbantai Nazi. Selanjutnya pembangunan Front Populer menyeret organisasi politik dalam persoalan kolaborasi-kelas. Gerakan-gerakan buruh yang dipimpin partai-partai Komunis di Hungaria, Bulgaria, Korea, Cina, bahkan Indonesia telah menjadi korban dari kebijakan Stalinis. Stalinisme mengusung Front Populer dan mendistorsi Demokrasi Proletariat menjadi Demokrasi Rakyat. Padahal Kritik Lenin terhadap Kautsky telah memperingatkan ‘tidak ada demokrasi murni’ atau ‘negara rakyat bebas’:
“Bila kita tidak ingin menghina akal sehat dan sejarah, jelas bahwa kita tidak bisa berbicara mengenai ‘demokrasi murni’ selama kelas-kelas yang berbeda eksis; kita hanya dapat berbicara mengenai demokrasi kelas. (Mari kita katakana dalam tanda kurung bahwa ‘demokrasi murni’ bukan hanya sebuah frase yang bodoh, yang mengungkapkan ketidakpahaman mengenai perjuangan kelas dan watak negara, tetapi juga sebuah frase yang kosong, karena dalam masyarakat komunis demokrasi akan melayu dalam proses di mana ia berubah menjadi sebuah kebiasaan, tetapi tidak akan pernah menjadi demokrasi ‘murni’). ‘Demokrasi murni’ adalah sebuah frase tidak-jujur dari seorang liberal yang ingin menipu para buruh. Sejarah mengenal demokrasi borjuis yang menggantikan feodalisme, dan demokrasi proletariat akan menggantikan demokrasi borjuis…. Demokrasi proletariat yang mana pemerintahan Soviet [Kediktatoran Proletariat] adalah salah satu bentuknya, telah membawa sebuah perkembangan dan perluasan demokrasi yang tidak ada presedennya di dunia, bagi mayoritas besar rakyat tertindas dan rakyat buruh. Untuk menulis sebuah pamflet tentang demokrasi, seperti yang dilakukan oleh Kautsky, di mana dua halaman didedikasikan mengenai kediktatoran dan puluhan halaman untuk ‘demokrasi murni’, dan gagal menyadari fakta ini, berarti mendistorsi sepenuhnya kediktatoran proletariat dengan metode liberal.”
Sesudah kematian Lenin, pemusnahan dan fitnah terhadap Oposisi Kiri dan Trotsky; Stalinisme menggerogoti Marxisme bukan saja dengan mempertentangkan ide-ide Lenin dengan Trotsky, melainkan pula merusak partai, memalsukan sejarah Bolshevik, dan menenggelamkan Komintern dalam kebijakan-kebijakan kelas-asing. Di tangan Stalinis dan epigon, kekayaan-kekayaan teoritik dari Revolusi Oktober ditutupi dengan kabut kebohogan dan mitos-mitos–Teori Revolusi Permanen dan Kediktatoran Proletariat adalah yang mendapat serangan utama. Inilah mengapa kaum muda-pelajar dan buruh muda—harus berwaspada dan teliti dalam mempelajari Marxisme. Di tengah kecamuk perang imperialis, inflasi yang meroket, dan kebangkitan revolusioner—kita mesti memeluk ide-ide revolusioner ‘yang tepat’ untuk memandu perjuangan kelas. Meski gerakan buruh Rusia telah menemukan Bolshevisme sebagai ‘dasar yang paling teguh’ dari Sosialisme Ilmiah dan menyajikan semua pengalaman perjuangan kelas buruh Rusia untuk kita pelajari, tetapi bukan berarti kita dapat dengan mudah mengutipnya dan menampilkannya menjadi dogma. Rusia menemukan Marxisme sebagai satu-satunya ‘teori yang benar’, terang Lenin dalam “Komunisme Sayap Kiri; Sebuah Penyakit Kekanak-kanakan”: ‘dengan melalui siksaan yang sesungguhnya, dengan melalui siksaan dan pengorbanan yang tak ada taranya, heroisme revolusioner yang tak ada bandingnya, energi yang luar biasa, penyelidikan dengan sepenuh tenaga, studi, percobaan-praktek, kekecewaan, ujian dan perbandingan dengan pengalaman Eropa selama setengah abad’. Maka Marxisme sebagai sebuah aliran filsafat dan metode ilmiah dalam perjuangan kelas tidak bisa dipelajari untuk memuaskan dahaga intelektual dan menyesaki ruang-ruang akademik. Tauladan paling penting yang diajarkan kaum Marxis Rusia bukanlah sebatas melancarkan gerakan-gerakan penekanan, tapi lebih-lebih penyatuan teori dan praktek (praksis revolusioner) selama membangun Partai Bolshevik. Dan, tugas paling besar, panjang dan berat yang ditampilkan Lenin sejak 1900 bukanlah membangun persatuan yang berwujud front-front beragam, melainkan ‘Persatuan Marxis Revolusioner’ yang berbentuk organisasi bagi kaum revolusioner profesional untuk menempuh perjuangan kelas dan memastikan kemenangan kediktatoran proletariat saat ‘momen’ Revolusi Oktober. Lewat “Deklarasi Dewan Editorial Iskra”, Lenin menulis:
“Kita harus menarik kesimpulan praktis dari semua ini: kita kaum Sosial-Demokrat Rusia harus bersatu dan mengarahkan semua usaha kita untuk membentuk sebuah partai yang kuat, yang harus berjuang di bawah panji tunggal Sosial-Demokrasi revolusioner [Marxisme]. Inilah tugas yang dipaparkan oleh kongres pada 1898 di mana Partai Buruh Sosial Demokrasi Rusia dibentuk, dan yang menerbitkan Manifestonya…. Untuk membangun dan mengkonsolidasikan Partai berarti membangun dan mengkonsolidasikan persatuan di antara semua kaum Sosial-Demokrat Rusia, dan untuk alasan-alasan yang telah diindikasikan di atas, persatuan semacam ini tidak dapat dititahkan lewat sebuah dekrit, ia tidak dapat diperoleh dengan, katakanlah, sebuah keputusan dari sebuah pertemuan perwakilan-perwakilan partai; persatuan ini harus diperjuangkan. Pertama-tama, kita harus membangun kesatuan ideologis yang kokoh, yang akan menghapus perseteruan dan kebingungan yang—mari kita jujur saja!—menjangkiti kaum Sosial-Demokrat Rusia sekarang ini.”
Di tengah krisis kapitalisme–yang menjadi situasi obyektif zaman imperialisme–maka pembangunan faktor subjektif menjadi semakin penting dan tak bisa ditunda. Ledakan peristiwa dan belokan tiba-tiba dari jalannya sejarah akhir-akhir ini telah mengguncang kesadaran sebagian besar orang-orang muda—pelajar dan buruh muda. Kaum Marxis Revolusioner tak bisa menunggu kelas proletar dan lapisan terluasnya menjadi sadar-kelas semua baru mempersiapkan kepemimpinan proletariat—organisasi politik tertinggi dalam perjuangan kelas proletar. Kepemimpinan proletariat mesti dipersiapkan sekarang juga dengan membangun Bolshevisme: lapisan paling maju dan sadar-kelas dari proletariat dan kaum muda mengorganisir dirinya ke dalam organisasi revolusioner yang memiliki orientasi politik yang memadai untuk meyakinkan lapisan terluas buruh dan muda ke arah Marxisme Revolusioner dan mendidik mereka menjadi revolusioner profesional dalam perjuangan kelas revolusioner melawan musuh-musuh proletar demi memenangkan kediktatoran proletariat dan melancarkan transformasi sosialis. Tanpa mengemban tugas historis dan merawat keyakinan inilah setiap orang yang sedang mempelajari Marxisme dapat terperosok menuju penyimpangan-penyimpangan teoritik. Bahkan di saat sosialisme borjuis-kecil dan karikatur sosialisme masih mendominasi literatur dan gerakan massa, maka potensi penyimpangan teoritik menjadi besar. Tidak ada cara lain untuk memerangi distorsi-distorsi terhadap Marxisme dan menyelamatkan angkatan muda dari teori yang tidak tepat, kecuali dengan membangun kepemimpinan revolusioner sebagai sekolah perjuangan kelas. Begitulah Trotsky menegaskannya melalui “Pengalaman-Pengalaman Revolusi Oktober”: ‘Bolshevisme bukanlah sebuah doktrin (yakni, tidak sekadar sebuah doktrin) tetapi adalah sistem pelatihan revolusioner untuk pemberontakan proletariat’. Apa artinya memBolshevikkan partai-partai Komunis? Ini berarti melatih mereka dan menyeleksi jajaran kepemimpinannya supaya partai-partai ini tidak menyimpang ketika momen Revolusi Oktober mereka tiba’. Inilah mengapa mempelajari Marxisme tak bisa instan, tapi membutuhkan pelatihan-langsung: kerja-pembangunan organisasi revolusioner—mempersiapkan kepemimpinan proletariat sebelum tibanya situasi revolusioner. Pada sepucuk surat bertahun 1919, Trotsky pernah memperingatkan orang-orang muda yang mengaku sebagai Trotskyis Amerika Serikat:
“Dalam buku memoar saya [My Life], saya telah mencoba menguraikan kaum sosialis tipe Babbit ini [tokoh dalam novel ‘Babbit’ oleh Sinclair Lewis, yang mengisahkan seorang kelas-menengah [borjuis-kecil] yang bosan dengan kehidupan kelas menengahnya yang monoton dan lalu terjun-aktif menjadi aktivis-sosialis dalam waktu luangnya, tetapi tidak lama kemudian kembali ke kehidupan kelas menengahnya dan mencampakkan politik [Marxisme Revolusioner]. Oposisi [Kiri] harus menjauhi orang-orang borjuis-kecil seperti Babbit, dan mencari proletariat seperti Jimmie Higgins [tokoh dalam novel ‘Upton Sinclair’, seorang buruh dan pejuang sosialis yang gigih dan konsekuen], di mana gagasan Komunisme, setelah merasukinya, menjadi esensi dari keseluruhan hidup dan aktivitas mereka. Tidak ada yang lebih memuakkan dan berbahaya dalam aktivitas revolusioner daripada dilettantisme (keamatiran) borjuis-kecil, yang konservatif, egois, dan cinta-diri-sendiri, dan tidak mampu berkorban demi gagasan yang besar. Kaum buruh yang maju [dan kader-kader Marxis] harus mengadopsi dengan tegas satu hukum yang sederhana tetapi tidak akan pernah berubah: pemimpin-pemimpin atau calon-calon pemimpin yang di masa-masa damai tidak mampu mengorbankan waktu mereka, tenaga mereka, sumber daya mereka, demi perjuangan Komunisme, sering kali dalam masa-masa revolusioner akan menjadi pengkhianat, atau menyeberang ke kamp orang-orang yang menunggu sisi mana yang akan menang.”
Bergabunglah bersama kami dalam membangun ‘Bolshevisme’ untuk menggulingkan Kapitalisme dan menegakkan Sosialisme:
