“Kepemimpinan politik dalam momen-momen krusial dalam persimpangan sejarah dapat menjadi faktor yang menentukan, seperti halnya peran seorang jenderal dalam momen-momen kritis selama peperangan. Sejarah bukanlah sesuatu yang otomatis. Bila demikian, buat apa pemimpin? Buat apa partai? Buat apa program? Buat apa perjuangan teoritis?” (Jurnal Dialektika III; Perlunya Kepemimpinan Revolusioner)
“Ketika sejarah mengambil belokan tajam, bahkan partai-partai yang progresif tidak mampu beradaptasi pada situasi yang baru ini dan mengulang slogan-slogan yang sebelumnya tepat tetapi sekarang telah kehilangan semua maknanya—kehilangan semua makna ini dengan tiba-tiba seperti halnya belokan tajam dalam sejarah adalah tiba-tiba…. Dalam kata lain: partai yang ketinggalan di belakang tugas-tugas historis kelasnya sendiri akan menjadi, atau beresiko menjadi, alat tidak-langsung dari kelas-kelas lain.” (Perhimpunan Sosialis Revolusioner; Draft Presentasi Revolusi Oktober)
Sepanjang 1853-56, Rusia mengikuti perang Krimea: peperangan melawan aliansi Prancis, Inggris, Ottoman, dan Sardinia untuk memperebutkan pengaruh atas wilayah-wilayah di bawah kekuasaan Kerajaan Ottoman yang sedang melemah. Tetapi kelemahan industri untuk memasok persenjataan membawa Rusia mengakhiri peperangannya sebagai pihak yang kalah dan mengorbankan jutaan penduduknya. Dalam keadaan inilah goncangan historis mengekspos kebangkrutan rezim. Guna menanggulangi ledakan sosial maka tsar segera mengeluarkan dekrit penghapusan perhambaan. Terlambatnya perkembangan kapitalisme di Rusia telah memaksa kekuasaan feodal melaksanakan tugas-tugas kelas borjuis; reformasi dari atas terpaksa dilakukan demi menghadang gerakan revolusi dari bawah yang ditandai oleh berlangsungnya onggokan pemberontakan tani. Selama 1855-60, 400 pemberontakan telah meledak dan menghantui autokrasi. Namun pengeluaran dekrit bukan malah meredam insureksi. Dekrit tidak membebaskan kaum tani melainkan menambah kedigdayaan tuan-tanah. Keluarnya kebijakan reformis akhirnya mengundang kekacauan dan pemberontakan berskala raksasa. Pemerintahan Tsar lantas bereaksi teramat brutal: selama setahun penuh teror, intimidasi, pemenjaraan dan pembunuhan dilancarkan, dan setahun kurikulum pendidikan dirombak dengan dalih adanya potensi subversif di sekolah dan kampus-kampus.
Cepatnya pembusukan feodalisme di tengah kelas borjuis yang terlambat memasuki panggung sejarah menempatkan Rusia dengan lautan sosial borjuis-kecil. Bukan sekadar kaum tani, kaum muda yang datang dari keluarga aristokrat juga terlempar keluar dari cengkeraman feodal dan sukar merangsek jadi borjuis-besar. Bakunin dan Kropotkin merupakan contohnya. Sebagai bagian dari orang-orang terpelajar di zamannya mereka gampang tersulut hatinya melihat penindasan terhadap rakyatnya. Selama berlangsungnya gerakan Narodnik–intelektual-intelektual radikal ini menyediakan landasan teorinya. Anarkisme menjadi monumen petualangan dalam kebangkitan gerakan muda Rusia. Mereka ingin meloncati sosialisme dengan menjadikan komune-komune desa sebagai embrio sosialisme dan menempatkan kaum tani sebagai kelas yang berhari depan. Kekeliruan teoritik membawa mereka dalam aksi-aksi terorisme individual. Pada 1 Maret 1881, Grinevitsky melempar bom ke Tsar Alexander II sampai keduanya sama-sama meninggal. Tentu kematian penguasa sesaat menambah rasa percaya diri kaum muda radikal. Banyak pelajar tertarik bergabung, termasuk Alexander Ulyanov (kakaknya Lenin). Tetapi kematian penguasa menjadi alasan bertambahnya reaksi-reaksi brutal. Negara semakin kuat dan memburu seluruh angkatan radikal. Namun pemuda-pemuda yang gagah berani ini nyalinya tak ciut. Tepat 1 Maret diupayakanlah pembunuhan terhadap Tsar Alexander III. Tetapi pekerjaan itu gagal dan Ulyanov merupakan salah seorang pemuda yang tertangkap.
Vladimir Illyich Ulyanov (Lenin) lahir 22 April 1870 dan saat kakaknya tertangkap dia berumur 17 tahun. Tepat 8 Mei 1887—Ulyanov dan kawan-kawannya dieksekusi mati, gerakan Nardonik semakin terdemoralisasi, dan Lenin sangat tergoncang. Dia tidak tahu kalau Ulyanov tergabung dalam gerakan radikal. Segera setelahnya Lenin mulai mencari tahu aktivitas politik dengan membaca catatan dan buku-buku peninggalannya—tetapi tidak mengikutinya memagut Narodnisme. Pada 1887, Lenin mulai mengikuti protes mahasiswa di Universitas Kazan—walau bukan perangkat aksi tetapi citra keluarganya yang telah tercoreng menjadi alasan kenapa otoritas kampus mendepaknya. Selama 1890-an, Rusia mulai dirembesi modal asing secara berlimpah. Konflik perburuhan meningkat dan kelas pekerja tumbuh dalam jumlah meraksasa, dari 674.000 (1865) menjadi 1.180.000 (1890)–serikat buruh bermekaran di Rusia dan Marxisme meningkatkan pengaruhnya terhadap gerakan buruh di Eropa. Dalam keadaan inilah seabrek pemuda bergerak ke arah Sosialisme Ilmiah. Mengerti kalau teori-teori Bakunin, Kropotkin, dan gerakan Narodnik menawarkan jalan buntu; seabrek kaum muda lantas mempelajari gagasan-gagasan Marx dan Engel begitu lahapnya. Plekhanov, Zasulich, dan Axelrod merupakan eks-Narodnik yang bergerak ke arah Marxisme. Sejak 1883, mereka mulai mendirikan Kelompok Emansipasi Buruh dan menjulurkan perjuangan teorinya. Bangkitnya kaum proletariat meningkatkan antusiasme kaum muda terhadap politik revolusioner. Lenin adalah salah satu di antaranya. Pada 1893, ia tiba di Petersburg dan melibatkan dirinya dalam kerja-kerja pengorganisiran buruh sepenuhnya. Dua tahun kemudian Lenin berhasil mendirikan Liga Perjuangan Buruh Petersburg. Tiba 1898, Kongres I Partai Buruh Sosial Demokrasi Rusia (PBSDR) berhasil diorganisirnya bersama kamerad-kameradnya. Desember 1990, Iskra diluncurkannya dan menandai dimulainya kerja-kerja revolusioner profesional–membangun organisasi revolusioner Rusia untuk mempersiapkan kepemimpinan proletariat dalam memenangkan Revolusi Oktober nantinya.
Begitulah sejarah merupakan proses perjuangan kelas yang tidak saja membentuk organ-organ independen sebagai perwakilan dari kelas tertentu, tetapi juga menyediakan basis terbentuknya kepribadian manusia yang menjadi personifikasi dari periode sejarahnya. Saat kapitalisme memasuki tahapan imperialisme, kontradiksi-kontradiksinya bertambah tajam, perang sipil dan imperialis mengepung, dan revolusi dan kontra-revolusi meledak-ledak—Lenin tampil sebagai perwakilan kelas yang termaju dan merupakan pemimpin dari elemen sosial yang berhari depan. Dia menjadi personifikasi dari proletariat yang paling aktif, terorganisir dan sadar-kelas. Benturan-benturan antara kelas maupun gesekan-gesekan antar-kelas telah melahirkan organisasi revolusioner dan pemimpinnya. Dalam perjalanannya Lenin berjuang membangun Partai Bolshevik bukan sekadar mengumpulkan orang-per-orang dan menyatukan gerakan-gerakan lokal menjadi gerakan nasional, tetapi terutama mendidik kader-kader untuk menggulingkan kapitalisme, menegakkan sosialisme, dan melanjutkan perjuangannya untuk revolusi proletariat-sosialis dunia. Organisasi yang kuat dan tersentralnya diorganisir di seputar koran revolusioner, memerangi tendensi-tendensi asing bagi kelas pekerja, menerapkan fleksibilitas soal kebijakan dan ketegasan mengenai prinsip teoritik, dan menjalankan kerja-kerja politiknya dengan pendanaan dari kaum buruh dan kader-kadernya sendiri. Semua ini membutuhkan penyatuan antara teori dan praktek yang dikembangkan dengan penuh antusiasme, keberanian, kesabaran, penderitaan dan pengorbanan tiada tara, dan disiplin sekeras baja. Dalam “Komunisme Sayap Kiri; Suatu Penyakit Kekanak-Kanakan”, Lenin menenjelaskan bagaimana Marxisme menerangi Rusia:
“Pada satu pihak, Bolshevisme lahir dalam tahun 1903 atas dasar yang paling teguh dari teori Marxisme. Dan kebenaran teori revolusioner ini—dan hanya inilah satu-satunya—telah terbuktikan tidak hanya oleh pengalaman internasional selama seluruh abad ke-19, tetapi terutama sekali oleh pengalaman kesesatan-kesesatan dan kebimbangan-kebimbangan, kesalahan-kesalahan dan kekecewaan-kekecewaan dari pikiran revolusioner di Rusia. Selama hampir setengah abad—kira-kira dari tahun 40-an sampai dengan 90-an abad yang lalu—pikiran yang maju di Rusia, yang ditindas oleh tsarisme yang tak ada bandingan kejam dan reaksionernya, dengan haus mencari teori revolusioner yang benar dan setiap ‘kata terakhir’ dalam lapangan ini di Eropa dan Amerika diikutinya dengan ketekunan dan ketelitian yang mengagumkan. Rusia memperoleh Marxisme, sebagai satu-satunya teori revolusioner yang benar, dengan melalui penderitaan yang sesungguhnya, dengan mengalami siksaan dan pengorbanan yang tak ada taranya, heroisme revolusioner yang tak ada bandingnya, energi yang luar biasa, penyelidikan dengan sepenuh tenaga, studi, percobaan-praktek, kekecewaan, ujian dan perbandingan dengan pengalaman di Eropa selama setengah abad. Berkat imigrasi yang dipaksakan oleh tasrisme, maka Rusia yang revolusioner dalam pertengahan kedua dari abad ke-19 mempunyai hubungan-hubungan internasional yang begitu banyak dan informasi yang begitu baik tentang bentuk-bentuk dan teori-teori gerakan revolusioner sedunia yang tidak dipunyai oleh negeri manapun di dunia ini. Di pihak lain, sesudah lahir atas dasar teori yang keras seperti granit ini, Bolshevisme melalui sejarah dalam praktek selama lima belas tahun (1903-1917) yang dalam soal kekayaan pengalaman tidak ada bandingnya di dunia ini. Karena tidak ada satu negeri lain pun yang selama limabelas tahun ini mempunyai sesuatu apapun yang menyerupai pengalaman revolusioner ini, pergantian yang cepat dan bermcam-macam dari berbagai bentuk gerakan—legal dan ilegal, dalam suasana damai dan bergejolak, di bawah tanah dan terang-terangan, secara grup-grup dan gerakan massal, parlementer dan teroris. Tidak ada negeri lain manapun juga, di mana selama waktu yang begitu pendek terpusat suatu kekayaan yang begitu besar dari bentuk, corak, dan cara-cara perjuangan dari semua kelas dalam masyarakat modern, lagi pula, suatu perjuangan yang, berhubung dengan keterbelakangan negeri dan kejamnya tindasan tsarisme, menjadi matang dengan kecepatan yang luar biasa dan secara sangat giat dan berhasil mencernakkan ‘kata terakhir’ yang sesuai dari pengalaman politik Amerika dan Eropa.”
Tetapi segera setelah Revolusi Oktober terisolasi dalam kondisi keterbelakangan yang ekstrim akibat peperangan berkepanjangan maka jalannya sejarah mulai terbelokan. Perang Sipil (1918-1921) telah menempatkan Rusia pada keadaan mengerikan: 21 negara imperialis melakukan pembelokadean perekonomian, mengirim pasukan militernya dan memberi bantuan kepada elemen-elemen kontra-revolusi di dalam negeri yang terkepung. Kemelaratan akhirnya merajalela dan bunga-bunga terbaik proletariat tewas di parit-parit pertempuran. Di sisi lain pelacuran serta perampokan menjulur di tengah-tengah pemberontakan kaum Muzhik. Kondisi inilah yang membenarkan pernyataan Marx: ketika kemiskinan menjadi umum maka sampah-sampah lama bangkit kembali. Perang saudara dan imperialis telah mengakibatkan inflasi yang kronis, menghentikan perdagangan antara kota dan desa, hingga menyebabkan eksodus massal dari industri (buruh) ke tanah (petani). Sepanjang 1917-1919, terjadi penurunan dalam produksi pertanian 16%, pakan ternak 16%, dan ekspor-impor rami 32%. Berlanjut 1920–besi menurun 1,6%, besi tuang 2,4%, dan batubara 41%. Situasi ini bukan sekadar mengakibatkan 5 juta jiwa tewas memendam kelaparan, tetapi juga mendorong pengurangan jumlah pekerja industri, bangunan, dan rel kerata api. Kebijakan Komunisme Perang yang memobilisasi produksi-produksi petani ke medan pertempuran memicu pembangkangan tani yang berapi-api. Akhirnya dibuat Kebijakan Ekonomi Baru sebagai penggantinya. Tetapi setelah terkikisnya massa pekerja sebagai basis kelas dalam Revolusi Oktober, kebijakan yang mencoba memberlakukan pasar bebas secara terbatas itu kontan melecut aktivitas persaingan mempertahankan hidup, antagonisme, kejahatan, ketidaksetaraan, korupsi, hingga menjadi pengungkit tumbuhnya hak istimewa. Terkepung oleh norma-norma sosial borjuis inilah yang memicu terdegenerasinya Uni Soviet dan partai. Perang dan revolusi telah membuat massa begitu lelah dan menguras sumber daya yang ada. Revolusi Oktober akhirnya berada di bawah bayang-bayang Thermidor Bonarpartisme: proletariat paling sadar-kelas yang melemah, elemen-elemen konservatif dan birokratis mengambil-alih posisinya dan tampil sebagai pengkhianat revolusi. Pada 1920, saat berpidato di mimbar Kongres XI Partai, Lenin mengantisipasi itu semua–dia berargumen dengan pendekatan Marxisme yang bukan sebagai dogma melainkan metode ilmiah:
“Selama perang orang-orang yang sama sekali bukan proletar pergi ke pabrik-pabrik; mereka pergi ke pabrik untuk menghindari perang. Dan apakah kondisi sosial dan ekonomi di negara kita saat ini seperti mendorong kaum proletar sejati untuk masuk ke pabrik-pabrik? Tidak. Itu benar menurut Marx; tetapi Marx tidak menulis tentang Rusia; dia menulis tentang kapitalisme secara keseluruhan, dimulai pada abad kelima belas. Itu berlaku selama enam ratus tahun, tetapi tidak berlaku untuk Rusia saat ini [apalagi dalam situasi perang, revolusi dan kontra-revolusi]. Sangat sering mereka yang pergi ke pabrik bukanlah kaum proletar; mereka adalah elemen kasual dari setiap deskripsi.”
Guncangan historis akibat perang saudara dan imperialisme kini menyingkap secara tajam antara kepemimpinan dengan kelas yang diwakilinya. Begitulah belangsungnya disintegrasi kelas pekerja dihadapi oleh Lenin dengan berjuang keras melawan kebangkitan borjuisme. Berbondongnya elemen-elemen terbelakang pedesaan memasuki pabrik-pabrik membawa-serta dampak mengerikan terhadap partai dan negara. Digantikannya lapisan termaju proletariat oleh lapisan-lapisan terbelakang segera meretakan Uni Soviet dan Bolshevik. Melemahnya basis-kelas revolusi terekspresi melalui pelemahan serius yang berlangsung dalam partainya Lenin. Dalam kondisi ini posisi Lenin sebagai representasi dari kelas yang termaju mendera gelombang tekanan. Bangkitnya kasta-birokrasi dan tersingkirnya bunga-bunga terbaik proletar menggerogoti kediktatoran dan kepemimpinan proletariat begitu rupa. Pada 1919, Sherdlov meninggal dunia dan posisinya sebagai organisator partai digantikan Stalin. Ketika diberikan kesempatan menggantikan peran pengorganisasian Sherdlov untuk memimpin Inspektorat Buruh dan Tani (RABKRIN) dalam menyingkirkan birokrat dan kariries dari Soviet dan Bolshevik–Stalin justru mengkhianatinya. Dia menduduki jabatan itu bukan demi membersihkan kelas-asing, melainkan melayani kepentingan kasta-birokrasi: memilih personel untuk mengepalai pos di negara bagian dari rekan-rekan dekatnya, mengumpulkan di sekitar dirinya blok sekutu, dan membangun posisinya sendiri dengan menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Begitulah sejak mendapat pengaruh dari mesin politik inilah dia bukan saja menempati pimpinan RABKRIN, tetapi juga Komite Sentral dan Politbiro. Dengan kekuasaan yang telah berada di tangannya; Stalin selanjutnya merubah jabatannya selaku Sekretaris Umum dengan kedudukan administratif menjadi Sekretaris Jenderal yang berkekuasaan politik maha-besar.
Di tengah kembali didominasinya lautan sosial oleh borjuis-kecil, maka birokrat-birokrat kariris (sisa rezim tsar) mulai bergerak memasuki partai. Pada momen inilah sejarah memperlihatkan bagaimana agensi individu diberi tempat, tetapi tidak pernah melewati batas-batas historis: kondisi ekonomi, sosial, dan politik sebagai akumulasi tindakan manusia dari masa lalu. Jika Lenin sebelumnya merupakan perwakilan kelas proletar dalam Revolusi Oktober; Stalin tampil sebagai personifikasi elemen konservatif dan birokratis di momen kontra-revolusioner. Dia terangkat menjadi Sekjen Partai Komunis Rusia dengan dukungan dari mayoritas kasta-birokrasi yang bobot sosialnya telah menenggelamkan keanggotaan garda depan revolusi. Stalin naik ke tampuk kekuasaan bukan karena integritas, dedikasi, dan militansi terhadap revolusi—melainkan ditemukan oleh birokrasi sebagai spesies berkepribadian yang cocok untuk mewakili kasta-birokrasi. Saat Februari 1917 cuma berkeaggotaan 23.000; ketika memasuki akhir dari perang sipil anggotanya bertambah menjadi 200.000—peningkatan drastis berlangsung bukan sekadar karena kondisi peperangan, tetapi juga diperantarai pemberian pangkat tehadap anggota-anggota partai oleh birokrasi Stalinis. Begitulah Stalin dilukiskan Trotsky melalui “Revolusi yang Dikhianati”: ‘dia membawa pada mereka semua jaminan yang dibutuhkan: prestise karena dia telah lama menjadi anggota Bolshevik, karakter yang kuat, visi yang sempit, dan ikatan erat dengan mesin politik yang menjadi satu-satunya sumber pengaruhnya.’ Segera setelah berkuasa, dirinya menggunakan mesin politik yang telah direbutnya untuk mengisolir Lenin dan menolak menerbitkan tulisan-tulisan Lenin dalam Pravda karena mengkritik kasta-birokrasi.
Padahal Lenin berkali-kali mengingatkan: ‘ekonomi subsisten di negeri petani kecil dengan industri besar yang hancur. Dia adalah elemen borjuis-kecil yang mengelilingi kita seperti udara, dan menembus jauh ke dalam barisan proletariat. Dan kelas proletariat dideklasifikasikan, yakni dicabut dari alur kelasnya. Pabrik-pabrik menganggur—proletariat menurun, tecerai-berai, lemah. Sebaliknya, unsur borjuis-kecil di negeri ini didukung oleh borjuasi-internasional yang mempertahankan seluruh kekuasaannya di seluruh dunia.’ Begitulah bobot sosial borjuis-kecil mendominasi lautan sosial Rusia. Stalin mendapatkan dukungan mayoritas kasta-birokrasi bukan saja dalam membuka pintu partai untuk menarik pemuda-pemudi kariris dan sanak-keluarga mereka; tetapi juga mulai menggantikan disiplin revolusioner, revolusioner profesional, sentralisme demokrasi, dan kediktatoran proletariat dengan kedisiplinan reaksioner, kepeloporan birokratik, sentralisme birokrasi, dan kediktatoran komite sentral. Pada 1920, Trotsky tampil sebagai Bolshevik yang melancarkan ktitikan keras terhadap kasta-birokrasi. Terutama mengkritik kalau RABKRIN sesungguhnya bukanlah menjadi pembersih partai dan negara dari tendensi kelas-asing, tetapi menjadi sarang elemen-elemen birokratis dan kariris. Lenin yang saat itu mengalami stroke dan terisolasi dari realitas belum melihat Stalin sebagai wakil dari kasta-birokrasi. Tetapi setelah mendengar informasi kalau Stalin (dan konco-konco pilihannya: Dzerzhinsky dan Ordzhonikidze) yang ditugaskan ke negara bagian jutsru menggunakan metode-metode birokratik—mulai dari menginjak-injak kesadaran nasional rakyat Georgia, melancarkan kekerasan-fisik dalam mengahadapi pemimpin-pemimpin partai terbaik dari Georgia, hingga mencetak Pravda secara khusus untuk memberikan kabar-kabar keliru mengenai Georgia. Lenin dengan cekatan mengajak Trotsky supaya bersamanya mempersiapkan pertarungan faksional. Di sisi lain, Stalin yang menghadapi kritikan juga membentuk Troika (Blok Penguasa) bersama Zinoviev dan Kamenev guna menghadapi Lenin dan Trotsky. Pada 1921-23 Kongres XII Partai berlangsung. Lenin sesungguhnya telah beroleh kesimpulan untuk menanggalkan jabatan Sekretaris Jenderal Stalin. Tetapi stroke kebacut menyerang dan Lenin tidak bisa menghadiri forum secara langsung. Dia lantas meminta Trotsky agar lebih berhati-hati supaya pertarungan faksional yang berlangsung tidak memprovokasi perpecahan yang lebih luas seturut garis kelas dengan menyampaikan surat terakhirnya kepada Kongres. Di bawah kekejian Stalinis surat itu tidak pernah diperlihatkan kepada siapapun dalam Kongres, kecuali diketahui oleh pencatat tulisan yang didiktekannya dan Krupskaya (istri Lenin) yang membawa suratnya ke Kongres. Dalam suratnya tertanggal 25 Desember 1922 (penanggalan baru: 4 Januari 1923)—yang baru terungkap 34 tahun setelahnya—Lenin bukan sekadar mengkritik Stalin tetapi juga membandingkan kepribadiannya dengan Trotsky (selaku personifikasi dari kepentingan dua kelas yang berbeda):
“Partai kita bergantung pada dua kelas dan oleh karena itu ketidakstabilan akan mungkin terjadi dan kejatuhannya tak terhindarkan jika ada kesepakatan antara dua kelas tersebut. Dalam hal tindakan ini atau itu, dan umumnya semua berbicara tentang stabilitas CC kita, akan sia-sia. Tidak ada ukuran apapun yang dapat mencegah perpecahan dalam kasus seperti itu. Tetapi saya berharap bahwa ini adalah masa depan yang terlalu jauh dan terlalu mustahil untuk dibicarakan…. Saya pikir dari sudut pandang ini faktor utama dalam masalah stabilitas adalah anggota CC seperti Stalin dan Trotsky…. Kamerad Stalin, setelah menjadi Sekretaris Jenderal, memiliki otoritas tak terbatas yang terkonstentrasi di tangannya, dan saya tidak yakin apakah dia akan selalu mampu menggunakan otoritas itu dengan cukup hati-hati. Kamerad Trotsky, sebaliknya, seperti yang telah dibuktikan oleh perjuangannya melawan CC dalam masalah Komisariat Komunikasi Rakyat, tidak hanya dibedakan oleh kemampuannya yang luar biasa. Dia secara pribadi mungkin merupakan orang yang paling cakap di CC saat ini, tetapi dia telah menunjukkan kepercayaan diri yang berlebihan dan keasyikan yang berlebihan dengan sisi pekerjaan yang murni administratif…. Bagian turunan: Stalin terlalu kasar dan cacat ini, meskipun cukup dapat ditoleransi di tengah-tengah kita dan dalam berurusan di antara kaum komunis, menjadi tidak dapat ditolerir pada seorang Sekretaris Jenderal. Itulah saya menyarankan agar kawan-kawan memikirkan cara untuk menyingkirkan Stalin dari jabatan itu dan menunjuk orang lain sebagai penggantinya yang dalam segala hal berbeda dari Kamerad Stalin, dalam hal hanya memiliki satu keunggulan, yaitu lebih toleran, lebih setia, lebih sopan, dan lebih perhatian kepada rekan-rekannya tidak mudah goyah, dan lain-lain. Keadaan ini mungkin tanpak sebagai detail yang dapat diabaikan. Tetapi saya berpikir bahwa dari sudut pandang perlindungan terhadap perpecahan dan dari sudut pandang apa yang saya tulis di atas tentang hubungan antara Stalin dan Trotsky, ini bukanlah detail [kecil], tetapi ini adalah detail yang dianggap sangat penting.”
Delapan belas hari setelah menuangkan pandangannya melalui surat itu Lenin menutup usia. Dalam “Revolusi yang Dikhianati”, Trotsky menyampaikan di mana semasa sakit dan sepeninggalnya Lenin pembusukan partai berlangsung cepat: ‘bila saja Lenin hidup lebih lama tentunya tekanan kekuatan birokratik tentu akan berkembang dengan lebih lambat, setidaknya di tahun-tahun pertama.’ Tetapi dengan mengutip pernyataan Krupskaya, Trotsky mengingat bahwa kehadiran Lenin diperkirakan bakal mendapatkan reaksi Stalinisme: ‘jika Ilych masih hidup, dia mungkin sudah berada di penjara.’ Begitulah lukisan mengerikan dari birokrasi Stalinis. Segera setelah mencermati surat Lenin mereka bahkan mulai menggencarkan prasangka, fitnahan, pembatasan, dan kekerasan-fisik terhadap Trotsky. Semua ini dilancarkan bukan sebatas karena Trotsky merupakan pimpinan Oposisi Kiri, tetapi juga berhubungan dengan pembalasan atas wasiat Lenin yang memperbandingkan antara Stalin dan Trotsky dengan menghina perwakilan kasta-biorkrasi. Inilah mengapa Oposisi Kiri selanjutnya tak sekadar diusir dari partai dan Trotsky dibunuh secara keji oleh agen rahasia Stalinis, tetapi juga sepanjang sejarah Partai Bolshevik didiskreditkanlah Trotsky, gagasan dan kelompoknya. Lihat saja bagaimana penulisan sejarah Partai Komunis Uni Soviet: perbedaan Lenin dan Trotsky sebelum 1917 divulgarisasi, Teori Revolusi Permanen dipertentangkan dengan Kebijakan Bolshevik tentang Kediktatoran revolusioner buruh dan tani, hingga Trotsky dicemooh sebagai ultra-kiri yang anti-kaum tani dan mencoba melompati tahapan sejarah menuju sosialisme.
Didiskreditkannya Trotsky menandai kegilaan birokrasi Stalinis: memoles Stalin sebagai penerus Lenin dan mengasosiasikan Leninisme dengan Stalinisme yang merupakan karikatur sosialisme. Sampai sekarang tidak sedikit di antara kaum muda menelan mentah-mentah pemalsuan sejarah itu. Pada Kongres II PBSDR ditelannya kalau Trotsky menyerang draf tawaran Lenin dan memilih drafnya Martov. Mereka tidak mau tahu kalau Trotsky, memberanikan diri lari dari tempat pembuangannya dan menghadiri Kongres itu hanya karena tertarik dengan gagasan-gagasan yang dituangkan Lenin dalam Deklarasi Dewan Editorial Iskra untuk membangun organisasi revolusioner profesional. Pada 1902, Trotsky tiba di Rusia dan bekerja secara sembunyi-sembunyi dalam mendistribusikan Iskra. Memiliki antuasiasme yang tinggi terhadap gerakan Marxisme dan ditambah kemampuan menulisnya yang membuatnya dijuluki sebagai ‘Pena Muda’ mendapat perhatian Lenin. Kepada Plekhanov, Lenin menyarankan agar Trotsky dikooptasi sebagai anggota Dewan Redaksi Iskra. Tetapi perbedaan Lenin dan Trotsky dalam Kongres justru dijadikan dalih untuk mempertentangkan keduanya. Trotsky mengakuinya kalau mengenai draf organisasional dirinya tidak langsung mengambil sikap mendukung drafnya Lenin dikarenakan bukan sekadar belum sampainya dia pada kesimpulan tentang pentingnya organisasi yang kuat dan tersentral, tetapi juga posisinya yang terpengaruh oleh Zasulich–perempuan muda yang berpengaruh dan dijuluki sebagai bibi bagi generasi Marxis Rusia. Maka Trotsky tidak memberikan dukungannya pada Lenin, lebih-lebih untuk menjaga perasaannya Zasulich yang hendak Lenin keluarkan dari Dewan Editorial Iskra. Trotsky belum menyadari kalau komposisi redaksi baru yang ditawarkan Lenin bersifat politis, bukan pribadi. Dalam usianya yang begitu muda ini dia rupanya belum mempunyai banyak pengalaman dan kedewasaan politik. Begitu pulalah dirinya tidak menyadari kalau proposal keanggotaannya Martov sangat berbahaya: partai akan membukan pintunya terhadap semua elemen yang bimbang asalkan menerima arahan salah satu organisasi partai dan membayar iuran. Walau demikian sikap Trotsky sesungguhnya serupa dengan kecenderungan mayoritas anggota partai lainnya: sukar menghadapi belokan sejarah yang mengharuskan mereka keluar dari lingkaran kecil propaganda. Setelah perbedaan itu mencuat Lenin dan Martov pun tidak langsung membentuk partai tersendiri melainkan turus melewati perkembangan sejarah: dentuman Revolusi Rusia (1905) berpengaruh besar dalam menajamkan perbedaan Boshevisme dan Menshevisme yang sebelumnya hanya sebagai embrio menjadi sebuah faksi-faksi dalam PBSDR dan Kebangkitan Revolusioner (1910-1915) gerakan buruh menyeret perbedaan kedua faksi ini dalam perpecahan sepenuhnya di Kongres PBSDR tahun 1912. Di sisi lain, semenjak bergulirnya peristiwa besar 1905, keterlibatan Trotsky secara aktif dalam Revolusi Rusia telah mengangkatnya pada perolehan politik yang memukau. Melalui “Revolutionary Silhouettes”, Lunacharsky memberikan kesaksiannya:
“Saya harus mengatakan bahwa dari semua pemimpin Sosial-Demokrat tahun 1905-1906, Trotsky tidak diragukan lagi menunjukan dirinya, meskipun masih muda, sebagai yang paling siap. Kurang dari siapapun di antara mereka, dia menanggung cap semacam sempitnya pandangan emigran tertentu. Trotsky memahami lebih baik daripada yang lain apa artinya melakukan perjuangan politik dalam skala nasional yang luas. Dia muncul dari revolusi setelah memperoleh tingkat popularitas yang luar biasa, sedangkan baik Lenin maupun Martov tidak memperoleh popularitas sama sekali. Plekhanov telah kehilangan banyak hal, berkat penampilannya yang cenderung kuasi-Kadet [liberal]. Trotsky berdiri saat itu di peringkat paling depan.”
Ledakan-ledakan peristiwa itulah yang membawa Trotsky lebih dekat dengan Bolshevik ketimbang Menshevik dan April 1917, ketika Lenin mengeluarkan Tesis-nya, Trotsky-lah yang menjadi orang pertama yang mendukung dan menyebarluaskan kebijakan Bolshevik-Leninis. Tetapi setelah birokrasi Stalinis berkuasa maka perbedaan-perbedaan sekunder dan non-esensial dibesar-besarkan. Teori Revolusi Permanen dipertentangkan dengan kebijakan Bolshevik mengenai kediktatoran revolusioner buruh dan tani. Kaum Stalinis dan epigon menulis bertumpuk-tumpuk artikel dan buku-buku yang menggugat kediktatoran proletariat dalam revolusi borjuis-demokratik. Mereka terus-menerus mempertentang Lenin dan Trotsky. Bagi mereka kebijakan Bolshevik bukan kediktatoran proletariat tetapi kediktatoran revolusioner buruh dan tani. Pemikiran Lenin didekatinya secara dogmatik. Mereka rupanya tak mendengarkan penjelasan Marx: ‘perjuangan kelas selalu mengarah pada kediktatoran proletariat.’ Padahal sebagai taktik, pandangan Lenin haruslah didekati secara fleksibel, namun dengan tetap terikat pada prinsip teoritik mengenai kemandirian proletariat—seperti yang ditulisnya September 1905 dalam Vperyod: ‘kami mendukung gerakan tani sejauh itu adalah demokratik revolusioner. Kami sedang bersiap-siap (melakukannya sekarang, sekaligus) untuk melawannya ketika, dan sejauh itu, ia menjadi reaksioner dan anti-proletar. Hakikat Marxisme terletak pada tugas ganda itu, yang hanya bisa divulgarisasi atau dipadatkan oleh mereka yang tidak memahami Marxisme menjadi satu tugas yang sederhana.’ Bahkan walaupun Lenin pada 1905 mengusung slogan ‘kediktatoran revolusioner buruh dan tani’, tetapi Lenin tidak menanam ilusi kepada bobot-sosial kaum tani–kebijakan ini diorientasikan untuk melayani kepentingan proletariat. Lenin menulis pada tahun dan koran yang sama tentang “Sikap Sosial-Demokrasi terhadap Gerakan Tani”:
“Awalnya kami mendukung kaum tani secara massal melawan tuan-tanah, mendukungnya sampai akhir dan dengan segala cara, … kami akan mengarahkan segala upaya untuk membantu kaum tani mencapai revolusi demokratik, agar dengan demikian memudahkan kami … partai proletariat, untuk secepat mungkin meneruskan tugas baru yang lebih tinggi—revolusi sosialis. Kami tidak menjanjikan harmoni, tidak ada egalitarianisme atau ‘sosialisasi’ setelah kemenangan pemberontakan kaum tani saat ini, sebaliknya, kami ‘menjanjikan’ perjuangan baru, ketidaksetaraan baru, revolusi baru yang kami perjuangkan.”
Dengan pernyataan itulah kebijakan Bolshevik tentang kediktatoran revolusioner buruh dan tani sedari awal tidak memberi tempat hegemoni untuk borjuis-kecil atau menempatkan kaum tani secara keseluruhannya sebagai sekutu sepanjang waktu untuk memperjuangkan revolusi sosialis: kaum tani setelah kepentingannya terpenuhi seketika menjadi elemen reaksioner yang mempertahankan kepemilikan pribadi dalam skala kecil. Bolshevik tidak mendedikasikan dirinya untuk melindungi kepemilikan pribadi terhadap alat produksi. Pandangan Lenin sesungguhnya serupa dengan Trotsky. Dalam “Hasil dan Prospek” telah ditegaskan bahwa kepemimpinan dalam perjuangan bersama kaum tani harus diletakkan di pundak partai proletar. Teori Revolusi Permanen pada hakikatnya bukan sebagai lompatan proletariat kepada sosialisme, melainkan rekonstruksi bangsa di bawah kepemimpinan proletariat. Trotsky menulis: ‘kediktatoran proletariat yang telah naik ke tampuk kekuasaan sebagai pemimpin revolusi demokratik secara tak terelakkan dan dengan sangat segera dihadapkan pada tugas-tugas, yang pemenuhannya terikat dengan sangat erat pada penghapusan hak-hak kepemilikan pribadi borjuis. Revolusi demokratik berkembang secara langsung menjadi revolusi sosialis dan oleh karena itu menjadi Revolusi Permanen.’ Revolusi Permanen adalah teori yang mengalir dari kebutuhan historis akan sebuah kebijakan esensial dalam perjuangan buruh untuk revolusi sosialis: kediktatoran proletariat. Dan jika ada yang bertentangan secara prinsipil dengan Revolusi Permanen–itu bukan posisi Bolshevik tapi posisi Menshevik. Trotsky menulis: ‘kaum borjuis liberal kita maju ke depan sebagai sebuah kekuatan kontra-revolusioner bahkan sebelum klimaks revolusi. Di setiap momen yang penting kaum demokrat intelektual kita hanya menenjukan ketidakberdayaan mereka’. Sampai di sini dapat terlihat kalau posisi Lenin dan Trotsky sesungguhnya seperti pidato Marx dan Engels dalam Komite Sentral Liga Komunis dahulu:
“Sementara kaum borjuis-kecil yang demokratik ingin mengakhiri revolusi secepat mungkin … adalah kepentingan dan tugas kita untuk menjadikan revolusi permanen sampai semua kelas yang kurang lebih bermilik telah disingkirkan dari eksistensi berkuasa mereka, sampai proletariat merebut kekuasaan negara dan … setidak-tidaknya kekuatan-kekuatan produksi yang menentukan terkonsentrasi di tangan kaum buruh.”
Tetapi kaum Stalinis dan epigon mendekati kebijakan Bolshevik bukan dengan metode dialektik tetapi mekanik. Inilah mengapa slogan kediktatoran revolusioner buruh dan tani yang sebenarnya berkarakter aljabar dan membutuhkan penafsiran lebih lanjut—yang diterapkan Lenin pada periode sejarah tertentu—hendak dipakai setiap saat dan menolak kritik historis. Mereka tidak dapat menerima fakta kalau Lenin telah mengembangkan pandangannya dalam Tesis April 1917; dengan mengusung slogan utama ‘Semua Kekuasaan untuk Soviet’ yang dapat diasosiasikan dengan Kediktatoran Proletariat dan Revolusi Permanen. Stalin, Kamenev, dan seabrek Bolshevik lama tidak mudah menerima pandangan Lenin. Mereka justru mempertahankan slogan kediktatoran revolusioner buruh dan tani serta mengusung perspektif yang berbeda dari Lenin: revolusi Rusia berkarakter borjuis-demokratik dan kelas proletar belum siap merebut kekuasaan. Mereka menolak memahami hukum perkembangan tak berimbang dan tergabungkan. Bahwa kapitalisme dalam skala dunia telah meletakan basis material (industri dan teknik) untuk perkembangan sosialisme: pasar dunia, pembagian kerja dunia, dan kelas pekerja dunia. Secara keseluruhan, situasi dunia telah matang untuk revolusi sosialis tetapi tidak bisa berlangsung bersamaan di setiap negeri. Berdasarkan hukum ini revolusi proletariat Rusia ditujukan untuk memicu revolusi sosialis di Eropa dan hanya dengan kemenangan proletariat Eropa-lah pembangunan sosialisme di Rusia mendapatkan sumber daya materialnya. Baik Lenin meyakini bahwa jaminan atas sosialisme di Rusia berada pada keberhasilan revolusi-revolusi proletariat di Eropa Barat, terutama Revolusi Jerman. Dalam Teori Revolusi Permanen diterangkan: adalah mungkin bagi kaum buruh di negeri yang ekonominya terbelakang untuk berkuasa lebih awal daripada kaum buruh di negeri maju, namun dalam pembangunan sosialisme di negerinya hanya bisa dijamin oleh keberhasilan revolusi proletar di negeri-negeri yang potensi produktifnya tinggi.
Inilah yang dikomentari Alan Woods dalam “Communists Against Stalin: The Massacre of a Generation”. Bahwa Lenin dan Trotsky menginsyafi kalau kondisi material untuk sosialisme di Rusia belum terpenuhi. Sebelum tahun 1924 tidak ada yang mempertanyakan proposisi dasar ini. Itulah mengapa kaum Bolshevik mendasarkan diri pada perspektif perluasan revolusi ke negara-negara kapitalis maju di Eropa: ‘jika Revolusi Jerman berhasil—yang bisa terjadi pada tahun 1923—seluruh situasi Rusia akan berbeda! Atas dasar federasi sosialis, yang menyatukan potensi produktif yang sangat besar dari Jerman dengan cadangan bahan mentah dan tenaga kerja Rusia yang sangat besar, kondisi material massa akan diubah. Dalam kondisi seperti itu, kebangkitan birokrasi akan terhenti, dan faksi Stalin tidak akan mampu merebut kekuasaan. Moral kelas pekerja Soviet akan ditingkatkan dan kepercayaan pada revolusi dunia dipulihkan.’ Pada “Revolusi Permanen”, Trotsky telah menerangkan: ‘untuk berpikir bahwa kediktatoran proletariat secara otomatis bergantung pada perkembangan teknik dan sumber-daya sebuah bangsa adalah sebuah prasangka materialisme “ekonomi” yang menggelikan. Cara berpikir seperti ini bukanlah Marxisme’. Dalam “Lenin, Trotsky, and the Permanent Revolution”, John Peter Roberts memberi analisa berdasarkan penilaian obyektif atas jalannya peristiwa dalam Revolusi Rusia. Dia menyampaikan tidak ada alasan obyektif bagi kaum buruh untuk tidak merebut kekuasaan, kecuali ketidaksiapan, kekurangan kesadaran dan kepemimpinan organisasinya:
“Orang yang sekarang hanya membicarakan kediktatoran revolusioner-demokratis proletariat dan kaum tani berada di belakang zaman, akibatnya, ia pada dasarnya telah menyeberang ke borjuasi-kecil melawan perjuangan kelas proletar; orang itu harus dimasukkan ke dalam arsip barang antik pra-revolusioner ‘Bolshevik Lama’….. Pada titik ini kami mendengar teriakan protes dari orang-orang yang menyebut diri mereka ‘Bolshevik Tua’. Bukankah kita selalu mempertahankan, kata mereka, bahwa revolusi borjuis-demokratik diselesaikan hanya dengan ‘kediktatoran revolusioner-demokratik dari proletariat dan kaum tani’? Apakah revolusi agraria, yang juga merupakan revolusi borjuis-demokratik, sudah selesai? Bukankah ini fakta, sebaliknya bahkan belum dimulai? Jawaban saya adalah: slogan-slogan dan ide-ide Bolshevik secara keseluruhan telah dikonfirmasi oleh sejarah; tetapi secara konkret semuanya berjalan berbeda; mereka lebih orisinal, lebih aneh, lebih beraneka ragam dari yang diharapkan siapapun. Mengabaikan atau tidak memperhatikan fakta ini berarti … mengulangi formula yang dipelajari secara tidak masuk akal dengan menghafal alih-alih mempelajari fitur spesifik dari realitas baru dan hidup…. Seseorang harus tahu bagaimana menyelesaikan skema dengan fakta, alih-alih mengulangi kata-kata yang sekarang tidak berarti tentang ‘kediktatoran proletariat dan kaum tani’ secara umum … yang mengatakan bahwa ‘revolusi borjuis-demokratis belum selesai’? Itu tidak baik sama sekali. Itu sudah mati. Dan tidak ada gunanya mencoba menghidupkannya kembali.”
Birokrasi Stalinis telah memalsukan itu semua. Kasta birokrasi tidak puas dengan membunuh Trotsky dan menyeret semua Oposisi Kiri ke dalam kamp-kamp Gulag-nya; mereka berkeperluan menghancurkan semua ide-ide Bolshevisme dengan memalsukan sejarah Partai Bolshevik dan mempertentangkan Lenin dengan Trotsky. Sejak Stalin berkuasa maka kekayaan pengalaman perjuangan kelas proletariat semuanya ditutupi dengan kabut prasangka, fitnah, distorsi, bahkan mitos-mitos mengerikan. Sejarah-sejarah resmi dari pemerintahan Republik Sosialis Uni Soviet telah membuktikan bagaimana pemalsuan-pemalsuan dihidangkan. Tak berhati-hati membaca literatur-literaturnya telah memperpanjang lajur kebohongan dan barisan pembodohan. Kegelapan lantas diwariskan secara bergenerasi. Kaum muda yang antusias mempelajari Marxisme diseret ke lubang kepicikan. Bukan Sosialisme Ilmiah yang dipelajari tetapi karikatur sosialisme. Sebuah perspektif, program, metode dan tradisi-tradisi yang berdiri di altar pembantaian, penipuan, penghancuran dan pengkhianatan terhadap perjuangan kelas, kepemimpinan revolusioner, kediktatoran proletariat, revolusi proletariat-sosialis dan internasionalisme sosialisme. Hanya karena menjadi referensi dari orang-orang yang mempunyai prestise, maka mudah sekali angkatan politik kita terjatuh dalam lumpur Stalinisme. Mereka jadinya belajar bukan berdasarkan fakta sejarah perjuangan buruh tetapi sampah Bonapartisme. Mereka kira sedang menerangi pikirannya dengan cahaya Marxisme—padahal tengah meneguk racun dalam gulita sembari berjalan menuju lembah darah. Begitulah kawan-kawan muda di zaman kita tercekoki teori-teori yang terdegenerasi dan terbukti bangkrut. Mereka mendalami Sosialisme Ilmiah bukanlah dari Marx, Engels, Lenin, Trotsky, dan Ted Grant—melainkan gembol-gembol Stalinis dan epigon. Tenggelam semakin dalam dan dalam, mereka akhirnya meminum racun teori revolusi dua-tahap dan kediktatoran buruh dan tani sebagai kebohongan dan kebingungan yang manis, dan pada gilirannya, menggantikan signifikansi pembangunan kepemimpinan partai revolusioner profesional dengan membangun front-front dan partai-partai borjuis-kecil yang amatir dan sangat menggetirkan.
“Kita tidak hanya harus menolak dan mengecam prasangka-prasangka ini, tetapi juga harus menyingkirkannya sepenuhnya dari kesadaran kita…. Kemajuan historis umat manusia secara keseluruhan dapat diringkas sebagai rangkaian kemenangan kesadaran manusia selangkah-demi-selangkah atas kekuatan-kekuatan buta yang bisa ditemui dalam alam, masyarakat, dan bahkan dalam diri manusia sendiri.” (Leon Trotsky)
“Tradisi dan rutinitas sehari-hari membebani benak manusia dan memaksa mereka untuk mematuhi penilaiannya. Ini berarti bahwa massa, setidaknya pada awalnya, akan selalu menempuh jalan yang paling mudah. Namun pada akhirnya, hantaman peristiwa-peristiwa besar akan memaksa mereka untuk mulai mempertanyakan norma, moralitas, agama, dan kepercayaan yang telah membentuk cara berpikir mereka sepanjang hidup mereka.” (Jurnal Dialektika III; Perlunya Kepemimpinan Revolusioner)
