“Saya tidak pernah mengenal [Trotsky] lebih besar, dan saya tidak pernah menghormati dia lebih dalam daripada ketika di apartemen-apartemen kumuh Leningrad dan Moskow dimana, beberapa kali, saya mendengar dia berbicara selama berjam-jam untuk memenangkan segelintir buruh pabrik, dan ini setelah dia menjadi satu dari dua pemimpin sah Revolusi [Oktober, di sisi Lenin]. Dia masihlah anggota Politbiro tetapi dia tahu bahwa dia akan segera jatuh dari kekuasaan dan juga, sangat mungkin, kehilangan nyawanya. Dia berpikir bahwa sekarang adalah waktunya untuk memenangkan hati dan nurani orang secara satu-per-satu—seperti yang pernah dilakukan sebelumnya selama kekuasaan Tsar…. Kami tahu bahwa kami lebih mungkin kalah daripada menang. Tetapi tetap saja perjuangan kami tidak sia-sia: bila kita tidak berjuang dan kalah dengan berani, kekalahan Revolusi akan seratus kali lebih parah.” (Victor Bolshevik)
Pada 13 dan 14 September 2022, kami (yang terdiri dari 3 orang muda) memutuskan keluar dan menerbitkan surat pengunduran diri dari oganisasi mahasiswa bermetode borjuis-kecil. Setelah mendapatkan penekanan untuk menegaskan keanggotaan maka sikap demikian diambil bukan berdasarkan pertimbangan organisasional tetapi politis. Begitulah surat kami dibuka dengan mengutip pernyataan Bolshevisme (Jilid I): ‘satu-satunya hal yang menguatkan [kami] adalah keyakinan [kami] akan gagasan, teori, dan perspektif Marxis, walaupun gagasan-gagasan [kami] tampaknya tidak selaras dengan realitas’. Belajar dari pengalaman perjuangan kelas selama 200 tahun terakhir yang dirangkum oleh Marx, Engels, Lenin, Trotsky, dan Ted Grant—kami yakin: tidak cukup membangun gerakan mahasiswa dengan mengenakan Strategi Mobilisasi Persatuan, tapi mesti membangun kepemimpinan proletariat melalui Kepeloporan Revolusioner (Bolshevisme): ‘lapisan paling maju dan sadar-kelas dari kaum buruh dan muda harus mengorganisir diri dengan membangun organisasi revolusioner demi menarik lapisan paling luas dari kelas buruh dan kaum muda serta memenangkannya ke arah politik Marxisme untuk memperjuangkan revolusi sosialis dan kediktatoran proletar demi melawan musuh-musuh kelasnya dan mewujudkan masyarakat tanpa kelas’. Membela keyakinan teoritik inilah mengapa diterbitkanlah artikel berjudul: “Mobilisasi Persatuan dan Kebuntuan Teoritik”, “Pembebasan Nasional atau Revolusi Dua-Tahap?”, dan “Leninisme atau Stalinisme?” Deretan artikel itu dibuat berdasarkan perspektif politik kami sekarang di organisasi sosialis untuk kaum muda dan buruh revolusioner. Bahwa untuk menggulingkan kapitalisme dan menegakkan sosialisme tak cukup dengan terpenuhinya kondisi obyektif, melainkan pula dibutuhkan syarat subyektif: praksis revolusioner—kesatuan praktek dan teori Marxisme Revolusioner. Lenin pernah berucap: ‘tanpa teori revolusioner tidak akan ada gerakan revolusioner’ dan ‘peran pejuang garda depan hanya dapat dipenuhi oleh teori yang paling maju!’ Begitulah tahap-tahap awal pembangunannya organisasi politik tertinggi proletariat (Partai Sosialis Revolusioner berbasiskan Marxisme Revolusioner) tidak mendasarkan dirinya pada persoalan organisasional tapi politik. Dalam Bolshevisme Jalan menuju Revolusi Jilid I: 1883-1905, Aland Woods menulis:
“Sebuah partai bukan hanya sebuah organisasi, sebuah nama, sebuah panji, sebuah koleksi individu-individu, atau sebuah aparatus. Bagi seorang Marxis, sebuah partai revolusioner adalah pertama-tama program, metode, ide, dan tradisi; dan hanya setelah itu sebuah organisasi dan aparatus (yang tidak diragukan kepentingannya) guna merealisasikan ide-ide tersebut ke dalam lapisan terluas rakyat pekerja. Partai Marxis, semenjak kelahirannya, harus mendasarkan dirinya pada teori dan program, yang merupakan ringkasan umum dari pengalaman historis kaum proletar. Tanpa ini, partai tersebut bukanlah apa-apa. Pembangunan sebuah partai revolusioner selalu dimulai dengan kerja mengumpulkan dan mendidik kader yang membutuhkan waktu yang lama dan melelahkan, dan kader-kader ini akan menjadi tulang punggung partai selama masa kehidupannya.”
Begitulah kecenderungan kami ke arah politik revolusioner (Marxisme Revolusioner) bukan lantaran pikatan bendera, logo, dan pelbagai persoalan organisasional lainnya. Pertama-tama, kami melirik dan mengikuti aktivitas politik Front Muda Revolusioner (FMR)/Perhimpunan Sosialis Revolusioner (PSR)/International Marxist Tendence (IMT) atas keyakinan pada teori dan programnya. Dalam situasi krisis yang sedang mengepung kita; kami semakin percaya terhadap pernyataan Trotsky: ‘syarat ekonomi untuk revolusi proletar sudah secara umum mencapai tingkatan tertinggi yang dapat dicapai di bawah kapitalisme. [Namun] situasi politik dunia dalam keseluruhannya digambarkan oleh sebuah krisis historis kepemimpinan proletariat’. Di tengah berkepanjangannya efek pandemi, pemberontakan massa Kazakhstan, penggulingan rezim Sri Langka, perang imperialis Rusia-Ukraina, menajamnya konflik Cina-Taiwan, KTT G-20, siaga perangan Korut-Korsel, persoalan kebangsaan West Papua, hutang dan kebangkrutan Dunia Ketiga, krisis pangan dan energi, hingga inflasi yang merongrong negeri-negeri kapitalis berkembang dan maju—pembangunan partai revolusioner tidak bisa lagi ditunda. Kita semua sedang didorong oleh gerak material memasuki periode yang penuh dengan gejolak revolusi, kontra-revolusi, dan perang. Dalam kondisi inilah kelas proletar dan kaum muda bukan saja teradikalisasi oleh peristiwa, tapi juga bergerak mencari ide-ide revolusioner. Menghadapi kenyataan inilah kami pikir Perspektif Politik Revolusioner 2022 (Sebuah Draft)—dari FMR/PSR/FMR—adalah tepat:
“Gambaran yang semakin terang benderang di hadapan kita adalah membusuknya kapitalisme. Tetapi selama tidak ada organisasi revolusioner, maka krisis kapitalisme ini akan berkepanjangan dan menghasilkan letupan-letupan besar namun sesaat, yang mengguncang sistem ini tetapi tidak mampu menumbangkannya. Massa-rakyat siap berjuang dan mereka menunjukkan kesiapan mereka lagi dan lagi. Yang kurang adalah partai revolusioner yang bisa memberi mereka ide dan program untuk mencapai kemenangan akhir. Apa yang harus kita kerjakan? Jawabannya hanya satu: membangun partai revolusioner yang profesional dengan kegigihan dan fokus yang intens. Tidak boleh ada satu halpun yang mengalihkan kita pada kerja ini.”
Keyakinan akan gagasan itu semakin mengkristalkan keputusan kami untuk bergabung dengan sebuah gerakan revolusioner yang sedang membangun Bolshevisme. Kami keluar dari organisasi mahasiswa dan tinggalkan kawan-kawan di Mataram untuk belajar dengan Komite Pusat dan kamerad-kamerad di Surabaya. Kini setelah meninggalkan merekalah rumor pun diarahkan kepada kami. Ada yang menganggap kalau kami kecewa, baper, bahkan nir-komitmen organisasi. Tetapi yang pasti: persoalan politik tidaklah kami tempatkan di bawah masalah-masalah organisasional. Begitulah segera setelah memahami kebutuhan akan organisasi revolusioner profesional yang kuat dan tersentral; kami memutuskan memilih organisasi sosialis bermetodekan proletariat ketimbang organisasi mahasiswa bermetode borjuis-kecil. Kini kami tergabung di sini bukan lagi sebagai mahasiswa atau buruh, melainkan kaum Marxis Revolusioner, Sosialis-Komunis, Bolshevik-Leninis. Hanya pendirian ini diejek kawan-kawan Mataram melalui status medsos maupun halaman facebook organisasinya. Tentu kami enggan menerima dituduh: ‘yang ngaku-ngaku Bolshevik tapi tidak Bolshevik ya’; jika seseorang mengikuti kiblatnya Bolshevik maka ikuti Lenin, yang lain hanya penambahan pikiran tentang analisisnya tentang revolusi, karena Lenin pejuang Revolusi Rusia, yang melihat realitas sosial, itu sebabnya Revolusi Proletariat Rusia bisa terwujud padahal masih dalam cengkraman kekuasaan feodalistik (kapitalis belum matang), Lenin menggunakan elemen progresif (petani kecil, buruh, dsb.) tidak dengan menutup mata dan bertindak dengan kehilangan arah’; ‘Revolusi Permanen tidak relevan di manapun, apalagi di Indonesia’.
Mendengar komentar mereka tak sedikitpun membuat kami bersentimen dan marah, melainkan bersemagat untuk ‘menjelaskan dengan sabar’. Inilah mengapa kami tidak membalas pernyataan mereka dengan komentar-komentar sampah di status whatsapp maupun postingan-postingan facebook-nya—kami justru berusaha menggarap artikel untuk menjawab tudingan kawan-kawan Mataram. Mengenai pernyataan-pernyataan tersebut, kami tahu kalau kalian baru saja membuka pembebasan-pusat.blogspot.com dan membaca tulisan John Percy terkait “Sebuah Tanggapan untuk Strategi ‘Partai Luas’ (Bagian I)” dan Daniel Indrakusuma tentang “Kritik Leninis terhadap Revolusi Permanen (Bagian I)”. Menelusuri kritikan keduanya kami pun menangkap beberapa poin: (1) Proyek Partai Luas yang diasosiasikan dengan seabrek tendensi Trotkyis dan Internasional Keempat; (2) Taktik ‘turn to industry’ atau ‘entry’ secara permanen yang telah diangkat menjadi strategi; (3) Memvulgarisasi Marxisme dengan mengabaikan pembangunan Partai Revolusioner; (4) Mengadopsi ketidaksepakatan Trotsky terhadap Bolshevik sebelum 1917; (5) Trotsky menolak peran kaum tani sebagai kekuatan cadangan proletariat; (6) Trotsky mau segera menuju sosialisme dengan mengabaikan penuntasan revolusi demokratik; dan (7) Revolusi Permanen merupakan teori yang memaksakan revolusi proletariat-sosialis di negeri terbelakang.
Membaca tulisan John Percy tanpa menelusuri sejarah Internasional Keempat membuat kawan-kawan Mataram melancarkan kritik secara membabi-buta. Kami mengerti kalau kalian merupakan angkatan muda radikal yang kekritisannya begitu rupa. Pengalaman membangun organisasi mahasiswa bersama kalian dahulu telah membuktikannya: kita pernah mengkritik bukan hanya kaum sektarian tapi juga oportunis dalam gerakan mahasiswa dan buruh. Kami yang kini memilih membangun organisasi revolusioner profesional tidak menyangkalnya. Bahkan berkat pembelajaran-pembelajaran dari pengalaman-pengalaman itulah kami sekarang bergerak ke arah Marxisme Revolusioner. Berbagai catatan telah kita booklet-kan lewat Independent Movement (yang telah beralih menjadi saluran propaganda ilegal FMR Mataram)—mulai dari gerakan libertarian menggunakan Kelompok Studi Independen, kampanye melalui Komite Aksi Kamisan Mataram, hingga pembangunan PEMBEBASAN Mataram bersama kelompok-kelompok agitasi-propaganda di sekitarnya. Meski banyak cerita telah kita torehkan dahulu, tetapi serangan kalian baru-baru ini mengharuskan kami memberikan respon. Bahwa penyimpangan yang dilakukan beberapa tendensi Trotskyis dan degenerasi Internasional Keempat tidak sepantasnya dibebankan pada Trotsky dan api Bolshevisme yang diteruskannya. Di awal kelahirannya Internasional Keempat didirikan Trotsky untuk menjaga internasionalisme kelas pekerja dari kepungan Stalinisme beserta klik birokrasinya dan meneruskan Program Partai Boshevik tentang Revolusi Sosialis Dunia. Sejak Komite Militer Revolusioner-nya Bolshevik berhasil merebut kekuasaan dari Pemerintahan Sementara untuk diserahkan sepenuhnya kepada Soviet-Soviet Buruh dan Prajurit; Lenin dan Trotsky, tertanggal 25 Oktober 1917 (penanggalan baru Gregorian: 7 November 1917), mengakhiri pidatonya di hadapan Kongres Soviet dengan semangat internasionalis: ‘kita sekarang telah belajar untuk melakukan upaya bersama. Revolusi yang baru dicapai ini adalah buktinya. Kita memiliki kekuatan organisasi massa, yang akan mengatasi segala rintangan dan memimpin proletariat menuju revolusi dunia. Sekarang kita harus mulai membangun negara sosialis proletar di Rusia. Hidup Revolusi Sosialis Dunia!’
Internasional Keempat berembrio dari Oposisi Kiri yang terbentuk sejak 1923. Segera setelah Oposisi terbentuk maka kasta-birokrasi mulai melancarkan serangan tanpa hentinya. Stalin yang mewakili birokrasi menggencarkan tekananya terhadap Oposisi. Pada 1927, dipecat dari partai dan diasingkan ke tempat pembuangan di Turki. Dari kesunyian dan keterisolasian selama pembuangan Trotsky mampu bertahan dan meneruskan prinsip, metode, serta tradisi-tradisi Bolshevik. Februari 1933, dirinya merilis dokumen programatik mengenai posisi Oposisi Kiri dalam menghadapi imperialisme dan kasta-birokrasi: ‘pembelaan tanpa kondisi-kondisi terhadap Uni Soviet dari imperialism dunia adalah sebuah tugas yang begitu mendasar bagi setiap buruh revolusioner, sehingga Oposisi Kiri tidak mentolerir kebimbangan atau keraguan dalam masalah ini di antara anggota-anggotanya. Seperti sebelumnya, Oposisi Kiri akan pecah secara tegas dengan semua kelompok dan elemen yang berusaha mengambil posisi ‘netral’ antara Uni Soviet dan kapitalis dunia’. Selain internasionalisme proletariat, Oposisi Kiri juga mempertahankan metode Bolshevik-Leninis mengenai pembagunan organisasi revolusioner profesional. Begitulah Trotsky menegaskan kepada Oposisi Kiri Seksi Italia untuk mengambil sikap yang tegas terhadap kaum Bordigist yang telah lama dijadikannya sebagai sekutu namun masih belum menemukan kesatuan gagasan selama berkerjasama: ‘daripada saling menghalangi, saling melumpuhkan, dan membuat semakin rumit perbedaan pendapat dengan pertentangan dan pertengkaran organisasi setiap hari, jauh lebih baik untuk berpisah sementara secara damai dan tanpa permusuhan. Dengan demikian pemeriksaan kedua garis politik yang berbeda ini dapat diserahkan pada jalannya perjuangan revolusioner’. Sementara tradisi Bolshevisme yang diteruskannya menyangkut Koran Revolusioner (salah satunya). Dalam Program Transisional; untuk Revolusi Sosialis dan Sejarah Internasional Keempat (2012), Ted Sprague menjelaskan tentang tradisi koran Bolshevik yang diteruskan Oposisi Kiri. Bahwa Koran Revolusioner bukanlah wahana perdebatan internal, melainkann media ‘agitasi dan propaganda, untuk menyajikan kepada massa gagasan-gagasan dan garis politik yang jelas, yang telah disetujui melalui jalan demokrasi partai. Tidak seperti publikasi-publikasi borjuis-kecil yang suka menyajikan gado-gado ide, koran Bolshevik terbit dengan gagasan Marxis yang koheren’. Sementara guna menghadapi Komintern yang telah diambil-alih birokrasi Stalinis dan merebut kembali panji Bolshevisme dari klaim Stalinis (Marxis-Leninis)—Trotsky mengkritik dan menganjurkan kamerad-kameradnya untuk berkeja di organisasi massa sereaksioner apapun secara fleksibel tetapi tegas soal prinsip:
“Kecenderungan dari beberapa kamerad (seperti di Prancis) untuk memahami peran faksi sedemikian rupa dimana Oposisi Kiri tidak boleh mengambil langkah di luar batasan Partai Komunis adalah keliru. Hubungan kita yang sesungguhnya denga Komintern menemukan ekspresinya bukan dengan tidak melakukan aksi independen, tetapi dalam konteks dan arah aksi tersebut. Konyol kalau kita bersikap layaknya anggota resmi Komintern. Kita harus melaksanakan kebijakan-kebijakan yang akan membuka gerbang Komintern untuk kita. Untuk ini, kita harus menjadi lebih kuat, yang tidak adapat kita capai bila kita mengikat tangan kita pada birokrasi Stalinis dengan disiplin yang artifisial dan palsu. Kita harus pergi ke buruh di mana mereka berada, kita harus ke kaum muda, mengajari mereka ABC Komunisme, membangun sel-sel di pabrik dan serikat-serikat buruh. Tetapi kerja ini harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga kaum Komunis dapat melihat bahwa bagi kita ini bukan untuk membangun partai yang baru [apalagi Partai Luas], tetapi untuk menghidupkan kembali Komunis Internasional.”
Namun setelah kemenangan fasisme Jerman dengan menghancurkan serikat-serikat buruh, maka Oposisi Kiri Seksi Jerman mulai memisahkan dirinya dari Komintern. Keputusan ini diambil karena Komintern di bawah kekuasaan Stalin mempertahankan Kebijakan Sosial Fasis yang menanggap bahwa kaum Sosial-Demokrat adalah Sosial-Fasis dan harus dijadikan sebagai musuh utama karena tidak berbeda dengan fasisme. Begitulah Partai Komunis Jerman (Stalinis) mengusir buruh-buruh reformis dan Sosial-Demokrat dari serikat-serikat buruh, menolak seruan front perjuangan buruh dari Oposisi Kiri dalam melawan fasisme, hingga akhirnya melancarkan berkuasanya Nazi Hitler. Inilah kondisi yang mengharuskan Oposisi Kiri Internasional memisahkan Seksi Jerman-nya dari Partai Komunis Jerman (Stalinis). Setelah semakin parahnya pembusukan dalam Komintern, Trotsky akhirnya menyerukan pembentukan Internasional yang baru. Selama 1930-an, di tengah perjuangan mempertahankan semangat internasonalisme inilah birokrasi Stalinis melancarkan pembersihan terhadap para pendukung gagasa-gagasan Trotsky: 1000-1500 anggota partai dan kaum muda yang membela Trotsky dimasukkan paksa di kamp Ukhta-Pechora dan 100.000 di kamp-kamp di Voktura dan kamp-kamp lainnya. Mereka tidak saja disiksa tapi juga diminta untuk mengakui kejahatannya untuk kemudian dieksekusi atas tuduhan melawan negara pada Pengadilan Pembersihan Stalin (1936). Tetapi 3 September 1938, Internasional Keempat berhasil didirikan dengan menghadirkan tuntutan transisional sebagai dokumen programatiknya. Melalui dokumen itu Trotsky menawarkan perspektif bukan sekadar mengenai Perang Dunia II yang dapat memprovokasi revolusi—memicu gelombang revolusioner. Tetapi terutama: ‘mempersiapkan kader-kader yang mampu menghubungkan program-program tuntutan sehari-hari dengan tugas historis kaum buruh dalam menumbangkan kapitalisme dan membawa sosialisme’. Dia lantas menjelaskan tugas strategis menghadapi periode selanjutnya—pra-revolusioner dan krisis kepemimpinan proletariat—adalah menekankan pada agitasi, propaganda, dan organisasi dalam menyediakan jembatan penghubung untuk menyelesaikan kontradiksi antara kondisi obyektif revolusioner yang sudah matang dan ketidakmatangan kelas proletariat dan kaum pelopornya: ‘di dalam proses perjuangan sehari-hari kita harus membantu massa untuk menemukan jembatan penghubung antara tuntuan-tuntutan hari ini dengan program revolusi sosialis. Jambatan penghubung ini harus memasukan sebuah sistem tuntutan transisional, yang berasal dari kondisi saat ini dan dari kesadaran umum kelas buruh sekarang ini, dan menuju ke satu kesimpulan akhir: perebutan kekuasaan oleh kelas proletar’:
“Tugas strategis dari Internasional Keempat adalah untuk menumbangkan kapitalisme, bukan mengubahnya. Tujuan politiknya adalah penaklukan kekuasaan oleh kelas proletariat guna menyita hak kepemilikan kelas borjuasi. Akan tetapi, pencapaian tugas-tugas strategis ini adalah mustahil tanpa perhatian penuh pada masalah taktik, sebagaimanapun kecilnya atau parsialnya. Semua seksi-seksi kelas proletar, semua lapisannya, harus ditarik masuk ke dalam gerakan revolusioner. Epos sekarang ini berbeda bukan karena dia membebaskan partai reolusioner dari kerja-kerja sehari-harinya, akan tetapi karena dia mengijinkan kerja tersebut untuk dijalankan secara terikat dengan tugas-tugas revolusi yang sebenarnya.”
Dua tahun setelah Internasional Keempat didirikan dan melancarkan kerja-kerja politiknya, Trotsky pun dibunuh oleh polisi rahasia Stalinis (GPU). Tepat 21 Agustus 1940, Trotsky dikapak kepalanya sampai pendarahan parah yang membuatnya tewas. Internasional Keempat pun kehilangan ahli teori terkemukanya. Setelah Perang Dunia II, Internasional Keempat akhirnya memasuki fase disorientasi. Partai-partai yang berada di dalamnya sangatlah lemah, berbentuk sekte-sekte kecil, dan masih belum sepenuhnya menyerap metode-metode Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky. Fred Weston menjelaskan demikian lewat artikelnya tentang “Asal-Usul Runtuhnya Internasional Keempat—dan Upaya Kaum Trotskyis Inggris untuk Menghindarinya”. Bahwa gelombang revolusioner pada akhir PD II yang diharapkan Program Transisional (1938)—supaya Internasional Keempat menjadi kekuatan dominan dalam gerakan buruh—terkonfirmasi melalui sebarek peristiwa: Perang Saudara di Yunani, Pemogokan di Italia dan Perancis, Revolusi Cina, dan kebangkitan gerakan pembebasan nasional di seluruh negeri kolonial. Tetapi persoalannya adalah kecilnya kekuatan Internasional Keempat sehingga tidak memainkan peran signifikan dalam mengintervensi situasi revolusioner. Begitulah para pemimpin Internasional Keempat akhirnya mendekati Marxisme bukan sebagai metode ilmiah tetapi dogma. Weston menegaskan kalau mereka telah menjadikan ‘perspektif 1938 sebagai sebuah cetak biru’—inilah mengapa sepeningal Trotsky Internasional Keempat terseret menuju lembah kehancurannya:
“Perpecahan-demi-perpecahan gerakan Trotskyis berakar pada periode itu. Kepemimpinan Internasional Keempat saat itu sama sekali tidak mampu memahami apa yang sedang terjadi. Jika Anda membaca tulisan para pemimpin seperti James Cannon (pemimpin SWP Amerika pada saat itu) di akhir tahun 40-an dan di awal tahun 50-an. Anda akan menemukan perspektif yang sama sekali salah. Perspektifnya adalah salah satu krisis langsung kapitalisme dan dengan demikian perkembangan revolusioner dalam jangka pendek…. Pada tahun 1946 Internasional Keempat mengadakan ‘Pra-Konferensi Internasional’. Ernest Mandel dan yang lainnya berkontribusi dalam penyusunan manifesto itu. Tapi itu bernar-bernar berbenturan dengan kenyataan. Kepemimpinan Internasional Keempat telah mengembangkan teori bahwa ledakan apapun tidak mungkin terjadi. Ini terbukti benar-benar salah. Kelas pekerja akhirnya dikalahkan oleh teori para pemimpin Stalinis dan reformis. Internasional Keempat terlalu lemah untuk menghadapi ini. Kekalahan kelas pekerja setelah Perang [Dunia II] adalah prasyarat politik untuk kemajuan ekonomi. Amerika telah muncul dengan sangat kuat dari Perang. Itu adalah Negara Adifaya kapitalis utama yang telah mengumpulkan keuntungan besar dari produksi perang. Karena takut akan revolusi di Eropa, AS memompa uang dalam jumlah besar ke negara-negara seperti Jerman, Italia, Prancis, dll., untuk menghidupkan kembali ekonomi mereka—Marshall Plan yang terkenal. Kehancuran yang disebabkan oleh perang berarti program rekonstruksi besar-besaran diperlukan. Semua ini meletakkan dasar bagi ledakan ekonomi terbesar dalam sejarah kapitalisme. Kepemimpinan Internasional Keempat tidak dapat menerima perkembangan ini. Mereka tidak mengerti bahwa diperlukan penilaian kembali situasi itu perlu. Faktanya adalah bahwa mereka pikir dapat menyatukan kekuatan mereka dengan menjanjikan revolusi ‘di tikungan’. Kebijakan seperti itu hanya dapat menyebabkan pecahnya Internaisonal, dan itulah yang terjadi.”
Hancurnya Internasional Keempat disertai perpecahan dalam gerakan Trotskyis secara internasional. Persis yang dikritik oleh John Percy. Bahwa di antara mereka bukan saja menerapkan taktik sebagai strategi, tapi terutama mengabaikan pembangunan Partai Revolusioner dan menggantikannya dengan Partai Luas. Meski demikian tidaklah adil kiranya untuk membebankan segala penyimpangan itu kepada Trotsky apalagi semua Trotskyis yang menganggap diri mereka sebagai Bolshevik-Leninis. Adalah Ted Grant sebagai kader Seksi Inggris dari Internasional Keempat sekaligus pemimpin Partai Komunis Revolusioner (RCP) mengembangkan perspektif yang berbeda dari para pemimpin Internasional Keempat: situasi berubah begitu cepat, kapitalisme stabil sementara waktu, dan menghadapi ledakan. Dia juga memahami bahwa penggulingan kapitalisme di Cina dan Eropa Timur buka berarti kemenangan sosialisme tetapi karikaturnya: Stalinisme. Bahkan ketika kepemimpinan Internasional Keempat mengindentifikasi rezim-rezim Stalinis sebagai kapitalisme negara, Ted justru membantahnya sebagai bentuk Bonapartisme Proletar. Pada 1949-1950, RCP akhirnya dibubarkan melalui intevensi kepemimpinan Internasional Keempat. Segera setelah dibubarkan Grant menjadi pelanjut Trotsky yang mengedepankan Marxisme melalui kerja-kerja teorinya di koran Banding Sosialis dan Tendensi Marxis Internasional. Pada 1964, bersama Alan Woods dia menjadi salah satu pendiri sekaligus editor Militant. Sejak 1970, Militant bangkit sebagai tendensi yang sangat berpengaruh bagi kelas buruh dan kaum muda. Ted mengambil tauladan dari para pendahulunya: mendidik dengan perspektif yang jelas dan menekankan pentingnya organisasi massa. Tugasnya bukan sekadar membangun tendensi-tendensi Marxis dalam gerakan buruh, tetapi juga mendidik revolusioner profesional yang berasal dari kaum muda. Begitulah dia member penekanan seperti Lenin: ‘dia yang memiliki kaum muda memiliki masa depan’. Bersama angkatan muda yang telah dididik dalam tradisi Marxisme-lah, Militant menebar pengaruh dan memenangkan kelas proletar. Dalam memberi pengantar untuk karya Ted Grant berjudul “Benang Tak Terputus”, John Pickard menulis bahwa selama empat dekade sejak berakhirnya perang—hampir lima dekade setelah kematian Trotsky—Grant telah membela metode Marxisme melawan segala macam ide kelas-asing:
“Di Inggris, Militant telah menempatkan Marxisme … sebagai opini arus utama dalam gerakan buruh. Stalinisme beberapa dekade telah menodai warisan asli Marx dan Lenin, dan telah menimbulkan awan kebingungan di benak kelas pekerja. Baru-baru ini, tradisi Leon Trotsky telah diseret ke dalam lumpur oleh berbagai kelompok ultra-kiri kelas menengah yang membingungkan…. Mengambil karya-karya Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky sebagai metode, bukan sebagai dogma tetap, Ted Grant telah mencapai lebih dari ahli teori Marxis lainnya dalam menjelaskan perkembangan pasca-perang…. Bukan berarti tidak pernah ada kesalahan, terutama dalam perspektif, dalam memperkirakan tempo kejadian. Dia yang tidak membuat kesalahan tidak melakukan apa-apa. Tetapi tradisi Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky selalu mengakui kesalahan mereka secara terbuka, menjelaskannya dan ke depan diperkuat, dengan program atau perspektif yang diubah menjadi tepat.”
Sekarang waktunya kawan-kawan Mataram mengerti! Warisan dari Internasional Keempat-nya Trotsky bukanlah penyimpangan-penyimpangan Trotskyis dan pemimpin-pemimpin Internasional Keempat, melainkan ide-ide Marxisme serta tradisi perjuangan kelas yang sejati: yang utama bukanlah ‘aparatus’ tetapi ‘gagasan-gagasan’ untuk diteruskan kepada generasi-generasi masa depan—ide-ide yang ditakuti imperialisme dan birokrasi Stalinis. Hanya mungkin kalian kurang jujur, tidak berendah hati, atau terlalu berprasangka untuk mempelajarinya. Begitulah ‘Kata Pengantar’ dari Ted Sparague untuk “Kediktatoran Proletariat dan Kautsky si Pengkhianat” yang pernah diterbitkan revolusionner.org kalian terbitkan ulang di situs apipembebasan.wordpress.com (yang dulu pernah sama-sama kita kelola), namun dirubah begitu rupa; bukan saja judulnya menjadi “Oportunisme dan Revolusi Proletariat”, melainkan pula penulisnya jadi ‘Benjoss’. Pengantar diadopsi sebagai bahan propaganda PEMBEBASAN Mataram itu sebenarnya bersemangatkan internasionalisme proletariat dan memadukan gagasan anti-oportunisme dari Lenin dan Trotsky. Makanya tak sekadar pemikiran Lenin yang diintrodusir tetapi juga digarisbawahi karya Trotsky yang mengkritik Kautsky. Bahkan antara Lenin dan Trotsky disejajarkan sebagai pemimpin Revolusi Oktober yang membela kediktatoran proletariat dari kebimbangan kaum oportunis. Hanya sesudah memberi tempat untuk mendudukan Lenin dan Trotsky sebagai serangkai; kalian lantas berupaya mendiametralkan ide keduanya. Begitulah artikelnya Daniel Indrakusuma tentang “Kritik Leninis terhadap Revolusi Permanen” kalian muat pula.
Menelan semua penjelasan Daniel tanpa mendaras pemikiran Trotsky atau mempelajari proses pembangunan Bolshevisme; mereka lantas menuding Trotsky (bahkan semua pendukung ide-idenya) sebagai kaum yang sekadar mengaku-ngaku Boslhevik. Kalian pikir kami hanya mengklaim diri tanpa mengambil tauladan dari pendirian Partai Bolshevik. Kalian rupanya belum mengerti mengapa kami lebih mengutamakan teori, program, metode dan tradisi perjuangan kelas yang tepat ketimbang persoalan organisasional, panji dan bendera. Itulah mengapa kami menyarankan kalian mendaras Bolshevisme—baik yang bisa diakses gratis dalam revolusioner.org (situs resmi PSR) dan marxist.com (situs resmi IMT), edisi cetak dari Bolshevisme Jalan menuju Revolusi (Jilid I dan II), maupun artikel kami di percikkanapi.data.blog (situs ilegal dari kamerad-kamerad FMR Mataram) yang berjudul “Bolshevisme: Pelajaran Memenangkan Revolusi Oktober” dan “Leninisme atau Stalinisme?”. Boleh jadi setelah sedikit berendah hati untuk mempelajari terbitan-terbitan itulah kawan-kawan dapat mengetahui kalau sebelum 1917 tidak ada perbedaan prinsipil antara Lenin dan Trotsky. Sepanjang 1903-Maret 1917, ketidakterimaan Trotsky terhadap Bolshevik-Leninis dapat diredusir menjadi kurangnya pemahaman mengenai organisasi yang tersentral dan kuat. Maka segera setelah Trotsky memahami kebutuhan akan organisasi revolusioner profesional, Lenin mengungkap: ‘[persatuan dengan Menshevik] adalah mustahil. Trotsky memahami ini, dan sejak saat itu tidak ada Bolshevik yang lebih baik darinya’.
Dalam bagian pengatar tulisannya, Daniel menyelipkan penilaian James Cannon selaku Trotskyis yang telah dikritik oleh Ted Grant dan kamerad-kameradnya. Dia selanjutnya menjelaskan kalau sejak 1905 Bolshevik menganjurkan gagasan ‘Kediktatoran Demokrasi Revolusioner Proletariat dan Tani’ tetapi gerakan Trostkyis Internasional (Internasional Keempat) menolak posisi itu dengan menghidupkan kembali teori Revolusi Permanen. Sementara kita mengetahui bahwa para pemimpin Internasional Keempat telah menerapkan Marxisme bukan sebagai metode ilmiah melainkan dogma. Bahkan yang diterapkan mereka bukanlah menyangkut teori Revolusi Permanen secara keseluruhan, melainkan perspektif 1938 tentang kemunculan gelombang revolusioner yang mereka hadapi dengan taktik ‘entry’ secara permanen dalam serikat-serikat buruh dengan mengabaikan kaum tani. Revolusi Permanen tidak pernah menolak peran tani atau kediktatoran revolusioner buruh dan tani. Dalam “Hasil dan Prospek”—tepat pada sub-bahasan ‘Rezim Proletariat’—Trotsky menjelaskan bahwa ‘kaum proletar hanya dapat menaklukan kekuasaan dengan bergantung pada kebangkitan nasional dan antusiasme nasional’. Artinya: direbutnya pemerintahan oleh kelas buruh membutuhkan bantuan dari kaum tani dan borjuis-kecil yang teradikalisasi sebagai kekuatan sosial dari sebuah bangsa. Segera setelah merebut kekuasaan maka kaum buruh yang menjadi wakil dari bangsanya haruslah membubarkan tentara-tentara reguler: ‘ini harus dilakukan dilakukan di hari pertama revolusi, yakni jauh sebelum situasi memungkinkan untuk mengenalkan sistem pemilihan fungsionaris-fungsionaris negara yang bertanggung jawab dan mengorganisir sebuah milisi nasional’. Di sisi lain Trotsky menjelaskan setelah itulah demokrasi buruh akan menyelesaikan persoalan-persoalan demokratik yang langsung berhubungan dengan hak milik feodal dan borjuis:
“Penghapusan feodalisme akan didukung oleh seluruh kaum tani, yang merupakan kelas yang memikul beban ini. Paja-penghasilan progresif juga akan didukung oleh mayoritas kaum tani. Tetapi undang-undang apapun yang ditujukan untuk melindungi kaum proletar tani (kaum buruh tani) tidak akan menerima simpati aktif dari mayoritas kaum tani dan juga akan ditentang oleh minoritas kaum tani…. Segera setelah ia merebut kekuasaan , kaum proletar harus mencari dukungan dari antagonisme antara kaum desa yang miskin dan kaum desa yang kaya, antara kaum buruh tani dan kaum borjuasi tani…. Mendinginnya kaum tani, kepasifan politiknya, dan terutama oposisi aktif dari lapisan atas kaum tani, ini semua akan mempengaruhi kaum intelektual dan borjuis-kecil perkotaan. Maka dari itu, semakin jelas dan tegas kebijakan kaum proletar yang berkuasa, semakin sempit dan goyah pijakan di bawah kakinya…. Masalah-masalah yang serupa muncul di pertanian bila penyitaan tanah dilakukan. Kita tidak boleh berpikir bahwa pemerintahan proletar, dalam menyita tanah-tanah pertanian skala besar milik bangsawan, akan memecah tanah-tanah ini dan menjualnya kepada produsen-produsen kecil untuk digarap. Satu-satunya jalan adalah mengorganisir koperasi di bawah kotrol komunal atau diorganisir secara langsung oleh negara. Tetapi jalan ini adalah jalan menuju sosialisme…. Untuk alasan ini kita tidak bisa berbicara mengenai bentuk kedikatoran proletar yang unik di dalam revolusi borjuis, mengenai kediktatoran proletar yang demokratis (atau kediktatoran proletar dan tani). Kelas buruh tidak dapat mempertahankan karakter demokratik dari kediktatorannya bila pada saat yang sama mereka tidak melampaui batas-batas program demokratiknya. Ilusi dalam hal ini akan sangat berbahaya…. Kelas proletar, setelah merebut kekuasaan, akan berjuang sampai garis akhir. Salah satu senjata dalam perjuangannya untuk mempertahankan dan mengkonsolidasi kekuasaan ini adalah agitasi dan pengorganisasian, terutama di daerah pedesaan; satu senjata yang lain adalah kebijakan kolektivisme. Kolektivisme akan menjadi satu-satunya jalan ke depan bagi partai yang berkuasa, dan juga akan menjadi senjata untuk mempertahankan posisi kekuasaannya….”
Hanya dalam artikelnya Daniel, kebijakan kolektivisasi tanah dengan mengorganisir koperasi di bawah kontrol negara dianggap sebagai karakter ultra-kiri dan pengabaian terhadap kaum tani secara keseluruhan. Makanya secara gegabah ditudinglah Trotsky tidak mengakui cara mendapatkan dukungan dari kaum tani adalah dengan memperhatikan ‘antagonisme kelas pedesaan’ dan ‘menuntaskan reforma agraria’, Padahal Trotsky tidak mengabaikan para petani bersama kepentingan-kepentingannya, tetapi mensubordinasikan kepentingan kaum tani di bawah kepentingan proletariat: ‘nasib dari kepentingan-kepentingan revolusioner kaum tani yang paling fundamental—bahkan seluruh kaum tani sebagai sebuah kelas—tergantung pada nasib seluruh revolusi, yakni nasib kelas proletar’. Daniel tidak mengerti kalau di sebuah negeri terbelakang maka kelas pekerja yang baru tumbuh tidak akan pernah mampu memimpin kaum tani dan merebut kekuasaan jika persoalan agraria dihadapi dengan sekadar membagi-bagikan tanah. Bagi Trotsky: masalah agraria justru akan dapat diselesaikan melalui penerapan demokrasi buruh. Begitulah kediktatoran proletariat menjadi niscaya di atas basis revolusi demokratik, karena ‘tidak ada kekuatan lain dan jalan lain’ untuk menyelesaikan persoalan agraria kecuali meletakkan kekuasaan di tangan proletariat: ‘kaum proletar yang berkuasa akan berdiri di depan kaum tani sebagai sebuah kelas yang telah membebaskan mereka. Dominasi kaum proletar bukan hanya akan berarti perampasan hak yang demokratis, pemerintahan-independen yang bebas, pemindahan seluruh beban pajak ke kelas-kelas yang kaya, pembubaran tentara reguler dan pembentukan rakyat bersenjata, dan penghapusan pajak-pajak gereja, tetapi juga akan berarti pengesahan semua perubahan-perubahan relasi tanah (penyitaan tanah) secara revolusioner yang dilakukan oleh kaum tani’ melalui kediktatoran proletariat. Begitulah soal agraria, posisi Trotsky serupa dengan Lenin. Lenin tidak pernah mengusulkan reformasi agraria yang sebatas menyangkut redistribusi tanah, melainkan revolusi agraria untuk membersihkan semua sampah feodalisme. Lenin pula tak menyerukan beraliansi dengan petani-petani kaya tetapi cuma dengan kaum-kaum miskin desa dan kota. Maka ketimbang mengadopsi UU Reformasi Tani 1861 (mengembalikan tanah-tanah petani yang diserobot tuan-tanah); Lenin justru memancang program yang lebih radikal dengan slogan ‘Revolusi Rakyat’. Dalam Bolshevisme: Jalan menuju Revolusi Jilid II: 1906-1914, Alan Woods menulis:
“Tugas dasarnya adalah solusi radikal terhadap masalah tanah yang dimiliki oleh para tuan tanah, dengan cara revolusi agraria yang menyerluruh yang menjurus ke penyitaan tanah oleh komite-komite tani guna menghancurkan kekuasaan tuan tanah; dan tergantung pada situasi, misalnya kemenangan pemberontakan bersenjata, menjurus juga ke pembentukan sebuah republic demokratik dan nasionalisasi tanah…. Ini berdasarkan perspektif perjuangan revolusioner melawan autokrasi dan pemberontakan bersenjata, bukan kolaborasi kelas dengan kaum liberal dan parlementerisme yang kerdil … Lenin menunjukkan revolusi agrarian hanya bisa diselesaikan melalui revolusi atau tidak sama sekali. Lenin menentang tuntutan munisipalisasi tanah yang reformis (kiranya munisipalisasi tanah ini akan dicanangkan oleh rezim autokrasi!), dan sebagai gantinya dia memajukan tuntutan nasionalisasi tanah. Akan tetapi, Lenin dengan hati-hati menunjukkan bahwa nasionalisasi tanah adalah tuntutan borjuis [tuntutan revolusi borjuis-demokratik], yang dalam dirinya sendiri tidak menandai penghapusan kepemilikan borjuis, tetapi hanya menghapuskan relasi property pertuantanahan feodal…. Mengenai kekuatan-kekuatan kelas untuk revolusi ini, Lenin menjabarkan ini ribuan kali: kaum borjuis liberal adalah kekuatan yang kontra-revolusioner. Revolusi borjuis-demokratik hanya bisa dilaksanakan oleh sebuah aliansi antara buruh dan kaum tani miskin (massa semi-proletar di kota dan pedesaan)….”
Dalam masalah fundamental mengenai tugas-tugas gerakan revolusioner tidak ada perbedaan antara Lenin dan Trotsky. Begitulah keduanya bersepakat kalau Revolusi Rusia haruslah oleh proletariat yang beraliansi dengan massa tani. Saat menulis “Hasil dan Prospek” Trotsky baru berumur sekitar 26 tahun, tetapi ikatannya dengan gerakan buruh sebagai Presiden Soviet Peterburg memberikannya gambaran yang jelas mengenai keditatoran proletariat itu. Dalam Bolshevisme; Jalan menuju Revolusi Jilid I: 1883-1905, Alan Woods menjelaskan kalau Trotsky melaksanakan kerja yang terpisah bukan hanya dengan Bolshevik tetapi juga Menshevik. Lenin mungkin beberapa kali mengecamnya mengenai masalah persatuan partai, namun berkait urusan politik Trotsky begitu dekat dengan pandangannya Lenin. Selain dari belum sampai pada kesimpulan pentingnya organisasi revolusioner profesional, Trotsky saat itu juga menolak bergabung dalam Bolshevik karena melihat Komite Bolshevik di Petersburg (lingkaran Vperyod) yang mengambil jarak dengan Soviet. Pada 1906, dari balik jeruji tsar dirinya menulis pamlet seruan diselenggarakannya Kongres Nasional Soviet. Tetapi selama berkuasanya birokrasi Stalinis gagasan itu dipelintir sebagai karikatur untuk menuduh Trotsky mendukung Kongres Buruh Menshevik, mengabaikan peran kaum tani-prajurit dan menolak slogan kediktatoran demokratik buruh dan tani dari Bolshevik. Inilah mengapa tidak tepat kiranya tudingan Daniel kalau Trotsky ‘sama dengan posisi Menshevik yang melihat kaum tani bukan sebagai sekutu strategis dalam revolusi demokratik’. Trotsky justru mengemukakan tantangan mengenai kekuatan sosial yang menyelimuti kaum tani: ‘keprimitifan dan karakter borjuis-kecil yang dimiliki kaum tani, pandangan ruralnya yang sempit, dan keterisolasiannya dari hubungan politik dunia, akan menciptakan kesulitan-kesulitan yang luar biasa bagi konsolidasi kebijakan revolusioner kaum proletar yang berkuasa’. Singkatnya, Trotsky tidak menyangkal persekutuan dengan kaum tani tetapi mengutarakan karakter-karakter sosial borjuis-kecil yang mempersulitnya. Dalam “Tiga Elemen Kediktatoran Domokratik: Kelas-Kelas, Tugas-Tugas, dan Mekanika Politik”, Trotsky pernah menjawab kritikan semacam yang dilontarkan Daniel tersebut. Dahulu dia menulisnya untuk berpolemik melawan kaum Epigon, Karl Radek:
“Perbedaan antara titik pandang ‘Revolusi Permanen’ dan titik pandang Leninis terekspresikan secara politik dengan membandingkan slogan kediktatoran proletariat yang mengandalkan kaum tani dengan slogan kediktatoran demokratik proletariat dan tani. Perbedaan mengenai slogan ini bukanlah mengenai apakah tahapan borjuis-demokratik dapat diloncati dan apakah sebuah aliansi buruh dan tani dibutuhkan—perbedaannya adalah mengenai mekanika politik dari kolaborasi proletariat dan kaum tani dalam revolusi demokratik…. Radek menyatakan—tanpa bukti—bahwa Lenin meruduksi persoalan ini menjadi kolaborasi antara kedua kelas dalam tugas-tugas objektif sejarah…. Perselisihan teori dan juga perselisihan politik antara saya dan Lenin bukanlah mengenai aliansi antara buruh dan tani, namun mengenai program dan kolaborasi tersebut, bentuk partai dan metode politiknya…. Iya, selama bertahun-tahun Lenin menolak untuk mendakwa terlebih dahulu persoalan bagaimana partai politik dan organisasi negara kediktatoran demokratik proletariat dan tani akan mengambil bentuk, dan dia mendorong ke depan kolaborasi antara kedua kelas tersebut dengan menentang koalisi dengan borjuasi liberal. Lenin berkata: pada sebuah tahapan sejarah tertentu, karena situasi objektif secara keseluruhan maka akan lahir aliansi revolusioner antara kelas buruh dan kaum tani untuk penyelesaian tugas-tugas revolusi demokratik…. Juga, Lenin sendiri tidak berpendapat bahwa persoalan ini akan terjawab ileh basis kelas kediktatoran dan tujuan obyektif sejarahnya. Pentingnya faktor subjektif—tujuan, metode yang sadar, partai—dipahami dengan baik oleh Lenin dan diajarkan ini kepada kita semua … Bagaimanapun juga, pendekatan Lenin terhadap persoalan ini dalam waktu yang berbeda mengambil bentuk yang berbeda-beda. Pemikiran Lenin tidak boleh dilihat secara dogmatis. Ia harus dilihat dalam konteks sejarah. Lenin tidak membawa perintah dari Gunung Sinai, namun dia menganalisa ide-ide dan slogan-slogan yang disesuaikan dengan realitas, membuatnya konkrit dan tepat, dan pada waktu yang berbeda memenuhinya dengan isi yang berbeda.”
Begitulah Trotsky menjelaskan posisinya dan melawan kaum Epigon yang mendekati pemikiran Lenin secara dogmatik. Dia tak seperti tudingan Daniel: ‘secara tak langsung mengatakan kalau teorinya lebih unggul dari Lenin’ apalagi sampai menentang kebijakan Bolshevik. Tetapi memberikan penafsiran mengenai bentuk politik yang hendak diambil dalam aliansi buruh dan tani. Hanya Daniel lagi-lagi mencoba menyudutkan Trotsky dengan menerangkan kalau pernyataan programatik dalam pendirian Internasional Keempat melukiskan bagaimana ‘kediktatoran demokratik proletariat dan tani sudah dikubur oleh sejarah’. Padahal tujuan utama dari Program Transisional (1938) adalah membangun organisasi revolusioner profesional dengan mempersiapkan kader-kader masa depan. Hanya setelah dibunuh oleh agen rahasia Stalinis, Trotsky tak dapat meneruskan kerja-kerja persiapan. Inilah mengapa penyimpangan-demi-penyimpangan menjadi tren dari kepemimpinan Internasional Keempat. Namun Daniel justru mendasarkan kritikan terhadap Revolusi Permanen bukan dengan menelusuri teori tersebut, melainkan berpatokan pada dogmatisme dan praktek-praktek keliru seabrek Trotskyis. Begitulah kebangkrutan Negara Komunis Hongaria dibebankan sepenuhnya terhadap Trotsky. Padahal fakta memperlihatakan kehancuran kaum buruh dan Komunis Hongaria didorong oleh birokrasi Stalinis dengan mengirim tentara Rusia dalam mengonsolidasikan kontra-revolusi Stalinis melawan tuntutan-tuntutan rakyat. Ted Grant menjelaskannya melalui artikelnya tentang “Hongaria dan Krisis di Partai Komunis”:
“Peristiwa yang terjadi menjelang akhir tahun 1956 di Hongaria mengguncang semua Partai Komunis di dunia. Garis resmi Partai Komunis adalah bahwa apa yang terjadi di Hongaria adalah kontra-revolusi Fasis! Tidak semua jajaran CP tertipu. Banyak yang melihat bahwa para pekerja Hongaria telah bangkit melawan kasta-birokrasi yang berkuasa…. Di Polandia, Hongaria, dan negara-negara Eropa Timur lainnya, birokrasi Rusia melalui perwakilan dan agen lokalnya menindas massa dengan metode brutal dan teroris sewenang-wenang…. Sekarang pasukan asing yang digunakan untuk melawan revolusi adalah pasukan Rusia … sepuluh tahun setelah revolusi telah dikonsolidasikan di Hongaria, inilah kesudahannya. Tentara Rusia dan Pemerintahan boneka Kadar mewakili kontra-revolusi Stalinis di Hongaria…. Setelah lebih dari sepuluh tahun pemerintahan Stalinis, ini memuncak dalam pemberontakan massa di Hongaria. Ini adalah perjuangan nasional yang luar biasa dan heroik yang sebanding dengan Komune Paris dan Revolusi Rusia itu sendiri…. Dengan kekalahan Pemerintah, kaum buruh segera mengorganisir komite-komite revolusioner buruh, prajurit, mahasiswa, petani, bahkan pengacara, begitu kuatnya perasaan revolusioner di Hongaria. Komite-komite revolusioner ini adalah Soviet, tetapi penindasan Rusia dan Stalinis-Hongaria telah membuat nama Soviet begitu bau sehingga massa [hanya] menyebutnya komite-komite revolusioner. Komite-komite ini berdasarkan pabrik, dll., adalah bentuk paling demokratis yang mungkin dicapai, namun tindakan berbahaya Pemerintah Kadar setelah intervensi berbahaya kedua oleh pasukan Rusia adalah memerintahkan pembubaran komite prajurit dan penunjukan ‘Komisaris’ sebagai tuan bagi komite buruh.”
Menyerang Trotsky dengan mengatasnamakan perspektif Marxis-Leninis; Daniel selanjutnya mengambil Revolusi Cina sebagai sampelnya. Dalam peristiwa ini dirinya menerangkan: ‘Trotsky mengajurkan kediktatoran proletariat yang didukung massa miskin (kota dan desa), bukan kediktatoran demokratik buruh dan tani’. Dengan berpatokan pada dokumen kritik Trotsky terhadap Stalin yang beredar dalam partai—selama pertarungan kasta-birokrasi melawan Oposisi Kiri—Daniel menjelaskan kalau Trotsky menyerukan ditanggalkannya posisi Leninis mengenai kediktatoran demokratik buruh dan tani untuk digantikan kedikatoran proletariat di Cina. Padahal dalam pertarungan faksional yang berlangsung; Trotsky sebenarnya menentang kebijakan kolaborasi kelas Stalinisme. Sepanjang 1925-27, birokasi Stalinis telah menjadikan Komintern untuk mengarahkan perjuangan revolusioner di Cina menjadi revolusi nasional di bawah kepemimpinan borjuis nasional. Dalam Revolusi Permanen: Teori Revolusi Sosialis untuk Dunia Ketiga (2013), Trotsky menjelaskan bahwa kasta-birokrasi memaksa Partai Komunis Tiongkok (PKT) mendirikan front popular bersama partai borjuis, hingga meleburkan diri dan tunduk pada disiplin Koumintang. Bahkan melalui telegram khusus kepada kaum Komunis Cina, Stalin dan Bukharin membatasi gerakan agraria dan melarang buruh dan tani membentuk Soviet agar tidak mengasingkan diri dari Chiang Kai-shek karena keduanya berpendapat: ‘Koumintang adalah pengganti Soviet’. Pada 1927, Revolusi Cina akhirnya diremukkan oleh Koumintang di bawah kepemimpinan Chiang Kai Shek dan ribuang anggota PKT ditenggelamkan dalam lautan darah. Namun dalam artikelnya Daniel menulis kalau seruan-seruan Oposisi Kiri mengenai Revolusi Cina—saat melawan birokrasi Stalinis—merupakan karakter ultra-kiri karena Trotsky menyerukan kediktatoran proletariat tanpa membertimbangkan ketiadaan Soviet di Cina. Daniel rupanya mengabaikan kalau berlangsungnya situasi revolusioner menjadi momen untuk mendirikan Soviet-Soviet di Cina. Maka bukanlah teorinya Trotsky yang seharusnya menanggung kesalahannya, melainkan kebijakan-kebijakan luar negeri Stalinisme yang telah menyia-nyiakan kebangkitan revolusioner dan menghancurkan Revolusi Cina.
Sementara keberanian Trotsky untuk mengusung slogan kediktatoran proletariat, bukan sekadar untuk menandingi posisi Bolshevik berkait kediktatoran demokratik buruh dan tani tetapi revolusi dua-tahapan birokrasi Stalinis. Dalam Revolusi Permanen (2013), Trotsky mengutarakan tiga aspek penting dari Revolusi Permanen: (1) dalam epos zaman imperialisme, tugas-tugas demokratik negeri-negeri borjuis terbelakang akan mengantarkan langsung ke kediktatoran proletariat dan terbentuknya kediktatoran proletariat membawa-serta tugas-tugas sosialis saat itu juga—berkait penghapusan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi; (2) melalui waktu yang sangat panjang dan perjuangan internal yang berkesinambungan, semua hubungan sosial mengalami transformasi secara bertahap yang muncul dari tahapan sebelumnya, dan mengambil bentuk politik yang berkembang melalui bentrokan antara kelompok masyarakat yang sedang bertransformasi: pecahnya perang sipil dan perang imperialis yang diikuti oleh periode reformasi damai, dan seterusnya secara bergantian; dan revolusi dalam ekonomi, politik, keluarga, pengetahuan, moral, dan kehidupan sehari-hari dalam aksi timbal-balik yang kompleks dan tidak memungkinkan mencapai keseimbangan; (3) dari kondisi ekonomi dan struktur sosial masyarakat—ekonomi dunia, kekuatan produktif dunia, dan perjuangan kelas dunia—maka konflik dan ketidakseimbang yang berlangsung di skala nasional, menyebar ke skala internasional, dan hanya dapat diselesaikan di skala global. Berdasarkan keterkaitan aspek-aspek Revolusi Permanen dengan Revolusi Cina inilah mengapa Trotsky mengusulkan slogan kediktatoran proletariat. Dia memandang kalau Revolusi Cina serupa dengan Revolusi Rusia. Gambaran umumnya dapat disimak pada artikel Ted Grant mengenai “Stalinisme di Pasca-Perang Dunia”:
“Kombinasi kekuatan yang aneh yang menghasilkan kemenangan Stalinisme di Eropa Timur, sedang bekerja menuju hasil yang sama di Asia. Di Cina, kami memiliki contoh luar biasa dari hasil multiplisitas faktor historis ini. Kekalahan revolusi 1925-1927 (karena kesalahan kaum Stalinis) yang menjanjikan keberhasilan, membuat para pemimpin Stalinis dan kader-kader yang berhasil mereka pertahankan, meninggalkan kota-kota dan naik ke pegunungan secara berurutan, untuk mendasarkan diri pada perang tani, perang yang memiliki banyak preseden dalam sejarah Cina. Keruntuhan dan keruntuhan rezim polisi militer kapitalis-tuan tanah ditunjukkan dalam ketidakmampuan totalnya untuk memecahkan satu pun masalah Cina pada periode 1924-25. Jauh lebih busuk daripada Tsar Rusia, bahkan dalam kondisi terburuknya, ia berhasil mengasingkan hampir seluruh penduduk selain dari klik Chiang Kai Shek di Puncak…. Pada periode yang sama, kehancuran imperialism yang mengerikan setelah Perang Dunia Kedua membuat kaum imperialis tidak mampu melakukan intervensi. Pada tahun 1925-7 imperialisme Inggris membalas ‘penghinaan terhadap Bendera’ dengan membombardir pelabhan-pelabuhan utama Cina dengan kapal perang mereka. Ini dengan persetujuan pemimpin-pemimpin serikat pekerja. Pada tahun 1949, begitulah perimbangan kekuatan, kaum imperialis memuji dengan gembira kapal perang yang menyelinap pergi dai perairan Yangtze! Begitu setelah perimbangan kekuatan berubah. Imperialis Amerika campur tangan dengan senjata, uang, dan amunisi yang sangat besar, untuk membantuk geng korup Chiang Kai Sek, tetapi hampir selalu persediaannya mampu direbut Tentara Merah Cina.”
Dalam situasi inilah kader-kader Stalinis Cina membangun kekuatannya kembali. Segera setelah PKT diremukan melalui kebijakan kolaborasi kelas dan teori dua-tahapan, para pemimpin dan kader-kader Stalinis meninggalkan kota-kota untuk masuk ke hutan dan pegunungan. Kini Partai Komunis-Stalinis bangkit bukan saja di Eropa Timur tetapi juga di Asia. Di sisi lain, kehancuran akibat Perang Dunia II telah melemahkan imperialisme untuk melancarkan intervensi-intervensinya. Berkat melemahnya negeri-negeri imperialis, ditambah sokongan birokrasi Stalinis yang sedang berjaya, dan kecilnya kekuatan Oposisi—maka PKT ditegakkan kembali dengan cepatnya. Kelompok-kelompok Maois tumbuh pesat hingga basis massanya meraksasa. Perang-perang tani yang di masa lalu berlangsung sporadis dan cepat berakhir kini meluas dan lebih lama. Seiring perang tani berkepanjangan Mao Zedong mengembangkan strategi gerilyaisme: desa mengepung kota. Pada tahun 1949 Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang dipimpin oleh PKT berhasil menggulingkan kekuasaan borjuis dan tuan-tanah. PLA dan PKC terdiri dari petani-petani borjuis-kecil dan terisolasi dari kelas pekerja di kota-kota yang telah lelah dan dihancurkan melalui penumpasan Koumintang sebelumnya. Melalui komposisi kelas dan kekuatan sosial inilah pembangunan kekuasaan negara di Cina mengutip citra birokrasi Stalinis Rusia. Walaupun tanpa mengakuinya mereka telah mengonsolidasikan rezim Bonarpartisme di Cina dan menambah kekuatan kasta birokrasi di Rusia. Sementara Internasional Keempat tidak berdaya menghadapi itu semua. Sebagai akibatnya maka kaum muda dan gerakan Trotskyis terilusi dan memberikan dukungan terhadap rezim bonapartis Cina. Pada ‘Pengantar’ untuk “Dari Revolusi Permanen ke Kontra-Revolusi”, John Peter Roberts menjelaskannya begitu rupa:
“Sebuah negara pekerja yang cacat sejak lahir tetapi tetaplah negara pekeja. Tidak ada Soviet, atau kontrol pekerja, atau serikat buruh nyata yang independen dari negara, atau kepemimpinan Marxis yang otentik. Kondisi yang paling mendasar bagi demokrasi pekerja sudah tidak ada sejak awal. Peristiwa semacam itu menjadi tantangan teoritis baru dan serius bagi kaum revolusioner. PKT telah berkuasa dengan menganut teori tahapan Stalinis, dengan kebijakan yang diumumkan untuk mendirikan republik borjuis…. Kemenangan PKT bergema di seluruh dunia dan memenangkan banyak orang muda ke Maoisme. Menutup mata mereka terhadap kurangnya demokrasi pekerja di Tiongkok, mereka menyimpulkan bahwa untuk menang, PKT pasti telah memutuskan hubungan dengan Stalinisme. Mao dipercantik dan diromantisasi, bahkan oleh bagian-bagian gerakan Troskyis: Mao ditampilkan sebagai Fidel Castro versi Asia, dia telah membebaskan PKT dari dominasi Stalin dan Komintern, … dia bertanggung jawab dalam mengembangkan strategi perang gerilya berkepanjangan.”
Tetapi dengan membaca artikelnya Daniel kita diseret mendekati semua penyimpangan Internasional Keempat dan Partai Komunis (birokasi Stalinis) bukan dari validitas historis, melainkan pembebanan sepenuhnya terhadap gagasan-gagasan Trotsky. Akhirnya “Kritik Leninis terhadap Revolusi Permanen” lebih mirip posisinya kaum Stalinis dan Epigon, ketimbang Bolshevik-Leninis. Padahal jalannya peristiwa telah membuktikan kebenaran Revolusi Permanen: baik yang terdemonstrasikan secara positif melalui kemenangan kediktatoran proletariat dalam Revolusi Oktober, maupun diterangkan secara negatif lewat degenerasi Uni Soviet akibat keterisolasiannya dan kekalahan Revolusi Cina tanpa kediktatoran proletariatnya. Teori Revolusi Permanen sudah dibuktikan lewat perkembangan sejarah dan tidak dapat disangkal sebegitu mudahnya. Bahwa negeri-negeri yang perkembangan kapitalismenya terlambat (koloni dan semi-koloni), maka kelas borjuisnya ditemukan sangat lemah dan tidak mampu mengemban tugas historisnya karena terikat seribu benang dengan imperialisme dan sisa-sisa feodalisme. Inilah mengapa perjuangan untuk revolusi demokratik, demokrasi nasional atau pembebasan nasional haruslah dicapai dengan kediktatoran proletariat sebagai perwakilan dari bangsanya. Segera setelah kekuasaan diraih kediktatoran proletariat mendapati tugas-tugas yang bukan saja langsung berhubungan dengan penghancuran relasi-relasi kepemilikan pribadi borjuisme, tetapi juga situasi dimana kekuasaannya hanya bisa dipertahankan dan tugasnya cuma bisa dituntaskan dengan mengobarkan revolusi dunia. Inilah mengapa Revolusi Permanen hadir sebagagi teori revolusi sosialis untuk Dunia Ketiga. Lenin sesungguhnya telah lama memahami ini semua. Pada 1905, dia menulis di koran partainya: ‘gagasan utama di sini telah diformulasikan berulang kali di Vperyod, yang telah menyatakan bahwa kita tidak boleh takut pada kemenangan penuh Sosial-Demokratik dalam sebuah revolusi demokratik, yakni kemenangan kediktatoran demokratik-revolusioner proletariat dan tani, karena kemenangan ini akan membangkitkan Eropa pada gilirannya akan membantu kita memenuhi revolusi sosialis’. Bersama tesis April 1917, slogan lama itu pun ditinggalkan dan penggantinya adalah ‘Semua Kekuasaan untuk Soviet’. Alan Woods merekamnya dalam Bolshevisme; Jalan menuju Revolusi Jilid II: 1906-1917: ‘ketika Lenin berbenturan dengan para pemimpin Bolshevik lainnya persis mengenai slogan “Kediktatoran Demokratik Proletariat dan Tani”, yang Lenin campakkan untuk kebijakan yang identik dengan Revolusi Permanen’:
“Dari sudut pandang materialis, ujian akhir dari semua teori adalah praktik. Semua teori, program dan perspektif yang diajukan dan dibela dengan penuh semangat oleh berbagai tendensi politik dalam gerakan buruh Rusia mengenai watak dan motor pendorong revolusi diuji pada 1917. Pada poin ini, garis yang memisahkan Trotsky dan Lenin menghilang sepenuhnya. Garis Lenin yang tertuang di ‘Letters from Afar’ dan ‘Tesis April’ sama dengan yang kit abaca dalam artikel-artikel Trotsky yang dia terbitkan di koran Novy Mir pada saat yang sama, tetapi ribuan kilometer di Amerika. Dan, seperti yang Trotsky pada 1909, sisi konta-revolusioner dari teori kediktatoran demokratik proletariat dan tani hanya menjadi jelas selama jalannya revolusi itu sendiri, ketika Kamenev, Zinoviev, dan Stalin menggunakan teori ini untuk menentang Lenin dan membenarkan dukungan mereka terhadap Pemerintahan Provisional borjuis. Perpecahan terbuka berkembang antara Lenin dan para pemimpin partai lainnya, yang secara efektif menuduh Lenin sebagai Trotskyis.”
Bilamana kawan-kawan Mataram terus memagut tulisannya Daniel: mempertentangkan Revolusi Permanen dengan garis politik Bolshevik-Leninis, maka bukan tidak mungkin kalian akan terseret semakin dalam-dan-dalam hingga meyakini kalau teori revolusi dua-tahap bukanlah dari Menshevik-Stalinis melainkan kebijakannya Bolshevik—yang dalam artikelnya Daniel diasosiasikan sebagai ‘revolusi tanpa hambatan’. Bahwa kebenaran revolusi dua-tahap baginya dibuktikan melalui delapan bulan revolusi tanpa hambatan dari revolusi demokratik ke revolusi sosialis: ‘proses terciptanya kesiapan tersebut antara musim panas hingga musim gugur 1918’. Tahap pertama, April-Juli 1918—transfer kekuasaan politik di kota kepada Soviet Buruh dan organ-organ lain kekuasaan proletariat yang bersekutu dengan tani; transfer kekuasaan politik di desa disertai penyerahan tanah-tanah semi-feodal kepada Soviet Tani. Tahap kedua, Juli-November 1918—proletariat menggunakan kekuasaan negara yang direbutnya untuk mengonsolidasikan kekuasaan di kota dalam membuat aliansi dengan semi-proletar tani melawan borjuis desa dan kota. Dengan meredusir proses memenangkan Revolusi Proletariat menjadi delapan bulan, maka sesugguhnya—meminjam pernyataannya sendiri—bukan “Trotsky” yang ‘gagal memahami signifikansi perjuangan Lenin untuk membentuk—dengan penuh kehati-hatian—pelopor (vanguard) kelas buruh yang harus bersih dari pengaruh borjuis liberal dalam gerakan buruh, yakni, seperti Menshevik’ tetapi “Daniel” sendirilah. Dia telah memperkenalkan Lenin sebagai sesosok liberal yang mengadopsi teori dua-tahap yang merupakan manifestasi dari tendensi reformis dalam gerakan buruh. Di tangan Daniel teori dua-tahap diperbaharui begitu rupa: bukan lagi ‘bersandar pada borjuis nasional progresif dan membangun front bersamanya’, melainkan ‘bersandar pada borjuis-kecil dan membangun persatuan bersamanya’ dengan dalih kalau revolusi di zaman kita bukanlah revolusi proletariat-sosialis tapi revolusi borjuis-demokratik. Padahal Trotsky pernah memberi peringatan: ‘ilusi terburuk dari seluruh sejarahnya, yang sampai sekarang masih diderita oleh kaum proletariat, adalah ilusi ketergantungan pada orang lain’.
Walhasil, konsekuensi paktis dari posisi Daniel adalah mengabaikan pembangunan kepemimpinan proletariat: organisasi revolusioner profesional—Bolshevisme. Sebab kemenangan Revolusi Oktober—yang telah meletakkan semua kekuasaan di tangan Soviet (Kediktatoran Proletariat)—diklaim sebagai pembuktian kebenaran revolusi dua-tahap. Dengan mengambil tempo delapan bulan maka berpuluh-puluh tahun persiapan Bolshevisme ditanggalkan begitu saja. Padahal tanpa kehadiran Bolshevik maka revolusi bukan saja tiada terpikirkan keberhasilannya, tapi terutama Soviet-Soviet Buruh dan Prajurit tidak dapat dipastikan kesiapannya. Berlangsungnya krisis ekonomi selama Perang Dunia I belumlah memadai untuk revolusi. Trotsky berucap: ‘jika kemiskinan adalah penyebab revolusi, massa akan selalu dalam keadaan memberontak’. Kebangkitan revolusioner dengan jumlah massa meraksasa barulah sebagai potensi yang membutuhkan pengaktualannya melalui Bolshevik sebagai ekspresi sadar dan terorganisir dari gerakan proletariat. Hanya partai revolusioner dengan teori yang paling maju ini tidaklah dipersiapkan dalam beberapa bulan saja. Partai ini dibangun selama 34 tahun lamanya: dari kelahiran Kelompok Emansipasi Buruh (1883), pembentukan Liga Perjuangan Buru Petersburg (1895), pendirian Serikat Buruh Rusia Selatan (1897), pengelompokan Partai Buruh Sosial Demokrasi Rusia (1898), Revolusi Rusia dan dimulainya pertarungan faksional Bolshevik dan Menshevik (1905), berdirinya Bolshevik sebagai partai tersendiri (1912), Revolusi Februari (1917), memperjuangkan Tesis April (1917), melawan Pemberontakan Kornilov dan perebutan kekuasaan di Istana Musim Dingin hingga penyerahannya kepada Kongres Soviet (1917). Selama puluhan tahun inilah kaum Marxis Rusia menempah dirinya dengan segala persoalan praktek dan teoritis: mengatasi masalah reforma agraria, kaum tani; melakukan kerja bawah tanah; mengombinasikan kerja parlementer dan ekstra parlementer; mematahkan tendensi-tendensi kelas-asing—anarkisme, reformisme, ekonomisme, bahkan marxisme legal; menyelesaikan persoalan perang, imperialism, dan kolonialisme; memecahkan masalah-masalah kebangsaan, penindasan perempuan, minoritas seksual, dan keagamaan; sampai pada perebutan kekuasaan.
Akhirnya sampailah saatnya untuk mempertimbangkan kembali ocehan kalian kepada kami. Waktunya kalian bukan lagi sekadar berani, tetapi lebih sadar dan semakin sadar dengan berendah-hati belajar dari setiap kekeliruan yang dilalui. Kami pikir: kita tidak hanya bisa belajar dari pengalaman sendiri, tetapi juga pengalaman perjuangan kelas selama 200 tahun terakhir yang terekpresi melalui pemikiran Marx, Engels, Lenin, Trotsky, dan Ted Grant. Maksud kami: kawan-kawan membutuhkan pelajaran, penarikan kesimpulan dan prinsip-prinsip umum dari sentralisasi pengalaman selama pembangunan gerakan revolusioner—organisasi yang tersentral dan kuat untuk melayani kepentingan kelas buruh. Itulah mengapa kami mengajak kalian bergabung bersama kami dalam membangun Bolshevisme untuk menggulingkan kapitalisme dan menegakkan sosialisme. Pada ‘Pengantar’ untuk Bolshevisme; Jalan menuju Revolusi Jilid I: 1883-1905, Ted Sprague memberitahu kita semua:
“Memenangkan sebuah revolusi sosialis—sebuah tugas historis maha besar—bukanlah tugas yang muda, tetapi seperti yang telah ditunjukkan oleh proletariat Rusia seratus tahun yang lalu bukanlah sesuatu yang mustahil selama kita memiliki perspektif yang tepat dan belajar dari sejarah … kelas penguasa takut akan menemui sejarah Bolshevisme dan mengulang Revolusi Oktober, sehingga mereka gunakan segala cara untuk menjauhkan rakyat pekerja dari Bolshevisme…. Tidak hanya kelas kapitalis yang bertanggung jawab atas sejarah penggulingan Bolshevisme. Kaum Stalinis [dan Epigon] memainkan peran yang sama kejinya dalam memelintir sejarah Partai Bolshevik yang sesungguhnya. Stalin dan kaum birokrasi harus menghancurkan seluruh tradisi Bolshevisme sebelum bisa berkuasa. Partai Bolshevik dihancurkan secara fisik, dimana bunga-bunga terbaik dari proletariat Rusia ditumpas untuk membuka jalan degenerasi birokratik Soviet…. Selain pemusnahan secara fisik, kasta birokrasi Stalinisme juga harus menghancurkan memori Bolshevisme. Sejarah Bolshevisme dan Revolusi Oktober ditulis ulang, tidak hanya sekali tetapi berulang kali. Sejarah Partai Bolshevik digambarkan dengan vulgar, bukan untuk mendidik kaum proletariat mengenai membangun partai yang dapat memenangkan revolusi…. [Padahal] peran organisasi di sini tak tergantikan untuk menempah kaum revolusioner—yakni bungan terbaik proletariat—agar siap untuk mengemban tugas ini. Seperti yang dikatakan oleh Leon Trotsky, ‘Bolshevisme bukanlah sebuah doktrin (yakni, tidak sekadar sebuah doktrin) tetapi adalah sistem pelatihan revolusioner untuk pemberontakan proletariat. Apa artinya memBolshevikkan Partai Komunis? Ini berarti melatih mereka dan menyeleksi jajaran kepemimpinannya supaya partai-partai ini tidak menyimpang ketika momen Revolusi Oktober mereka tiba’.”
Bergabunglah bersama kami dalam membangun ‘Boshevisme’ untuk menggulingkan Kapitalisme dan menegakkan Sosialisme:
