Kategori
Sejarah

Bolshevisme: Pelajaran Memenangkan Revolusi Oktober

“…Bolshevisme lahir … atas dasar yang paling teguh dari teori Marxisme. Dan kebenaran teori revolusioner ini—dan hanya inilah satu-satunya—telah dibuktikan tidak hanya oleh  pengalaman sedunia selama seluruh abad ke-19, tetapi terutama sekali oleh pengalaman kesesatan-kesesatan dan kebimbangan-kebimbangan, kesalahan-kesalahan dan kekecewaan-kekecewaan dari pikiran revolusioner di Rusia.… Rusia memperoleh Marxisme, sebagai satu-satunya teori revolusioner yang benar, dengan melalui penderitaan yang sesungguhnya, dengan mengalami siksaan dan pengorbanan yang tak ada taranya, heroisme revolusioner yang tak ada bandingnya, energi yang luar biasa,  penyelidikan dengan sepenuh tenaga, studi, percobaan praktek, kekecewaan, ujian dan perbandingan dengan pengalaman di Eropa selama setengah abad.” (Vladimir Ilych Ulyanov—Lenin)

“Tanpa teori revolusioner tidak akan ada gerakan revolusioner. Gagasan ini tidak dapat dilebih-lebihkan di saat ajaran oportunisme yang meluas bersandingan dengan penyembahan atas bentuk aktivitas politik yang paling sempit.… Peran pejuang garda depan hanya dapat dipenuhi oleh sebuah partai yang dipandu oleh teori yang paling maju!” (V.I. Lenin)

“Kemajuan historis umat manusia secara keseluruhan dapat diringkas sebagai serangkaian kemenangan kesadaran manusia selangkah-demi-selangkah atas kekuatan-kekuatan buta yang bisa ditemui dalam alam, masyarakat, bahkan dalam diri manusia itu sendiri … Revolusi Oktober adalah yang pertama yang menumbangkan ketidaksadaran yang mengakar ini. Sistem Soviet bercita-cita membangun masyarakat yang berdasarkan tujuan dan rencana, di mana sampai hari ini hanya akumulasi konsekuensi yang berkuasa.” (Lev Davidovich Bronstein—Leon Trotsky)

Seratus lima tahun yang lalu (25 Oktober 1917—7 November 1917 dalam penanggalan baru: Gregorian), semua terperangah oleh kemegahan Revolusi Proletariat yang mencapai kemenangannya di negeri kapitalis terbelakang: Rusia. Keberhasilan menggulingkan kapitalisme dibuktikan lewat berdirinya Republik Sosialis pertama di dunia: sebuah negara buruh yang dibangun di atas reruntuhan monarki absolut yang dipertahankan oleh birokrasi raksasa dan kekuatan imperialisme—kekuasaan dari kaum-kaum tertindas dan terhisap yang berkepentingan untuk menegakkan sosialisme. Begitulah ketika Soviet Buruh, Tani, dan Prajurit menancapkan pengaruhnya maka tentara dan polisi reguler digantikan milisi-milisi sipil—massa rakyat bersenjata dengan tugas mempertahankan revolusi dari ancaman elemen-elemen kontra-revolusi. Hak-hak demokrasi bagi kelas proletar dan rakyat dialirkan sepenuhnya. Kebebasan pers, berkespresi, berserikat dan berkumpul yang sebelumnya dirantai oleh kelas borjuis kontan dibuka. Sistem multi-partai bergelora. Kongres Soviet, Komite Eksekutif, dan Dewan Komisar Rakyat dibangun dari pemilihan-pemilihan umum yang bebas dan demokratis serta dapat segera diganti (recall) apabila dikehendaki massa—buruh, tani, dan rakyat lainnya. Bahkan gaji mereka yang memegang jabatan pemerintahan tidak boleh melebihi pekerja-pekerja terampil. Kekuasaan dijalankan bukan untuk melayani minoritas tetapi mayoritas. Maka Soviet menarik diri dari Perang Dunia I dan mengakhiri perang imperialis; mengesahkan reforma agraria dengan redistribusi tanah kepada petani; mendeklarasikan hak bangsa-bangsa kecil dan tertindas untuk menentukan nasibnya sendiri; memisahkan agama dan negara dengan mengakhiri privilege sosial-politik dari Gereja Ortodoks Rusia, hingga meleluasakan berkeyakinan dan menetapkan kepercayaan keagamaan sebagai urusan pribadi; menasionalisasi semua bank dalam negeri dan melancarkan kontrol buruh atas industri; menyediakan lapangan pekerjaan dan jaminan kebutuhan hidup bagi tunawisma, lansia, dan difabel; mendirikan layananan kesehatan, pendidikan, dan perumahan gratis bagi massa-rakyat; meningkatkan pengembangan sains dan seni revolusioner; menyosialisasikan pekerjaan domestik jadi pekerjaan publik melalui pendirian tempat perawatan anak, taman kanak-kanak, binatu dan dapur umum; menghapuskan seluruh aturan kriminalisasi LGBT dan diskriminatif terhadap perempuan, membebaskan segala macam orientasi seksual sebagai sesuatu yang alamiah dan privat, melegalkan aborsi dan hubungan seksual di luar nikah menjadi bagian dari kesehatan publik, menjamin cuti-hamil tetap mendapatkan upah baik sebelum maupun sesudah melahirkan, menghapus konsep ‘anak haram’, menghukum praktek kekerasan dan pelecehan seksual dalam bentuk apapun. 

Kini proses Revolusi Oktober menjadi sesuatu yang sangat penting untuk dipelajari. Tidak saja karena capaian-capaiannya tetapi juga juluran pengaruhnya ke pelbagai negeri. Keberhasilannya telah mengilhami kebangkitan gerakan rakyat dunia. Kaum buruh dan tani miskin yang selama ini dihisap, dihina, dan diremehkan membuktikan ketajaman kuku dan taringnya dalam menggulingkan borjuasi dan memegang kuasa. Pesan yang ditabur begitu berdaya: tak bisa gerombolan penghisap terus berkuasa dan tak dapat massa terhisap membiarkan kekuasaannya bertahan lama. Pertentangan tanpa ampun dari buruh dan tani Rusia menjadi buktinya. Bukti bagaimana kapitalisme mampu diruntuhkan dan berlangsungnya perjuangan kelas menebar pengaruh ke mana-mana. Pada 1918, kemenangan Revolusi Proletariat Rusia tak sekadar menambah kepercayaan diri Partai Sosialis Amerika melainkan pula meningkatkan jumlah keanggotaannya. Bahkan para penulis, editor, dan artis-artis di Amerika  dan Eropa mengambil banyak inspirasi dari perkembangan kebudayaan di Republik Sosialis Uni Soviet. Memasuki 1919, massa-rakyat di tanah-tanah jajahan melangsungkan gerakan revolusioner dengan menyerap pelajaran berharga dari perjuangan buruh dan tani Rusia. Maka 1920 digelarlah Kongres Baku oleh 25 negeri koloni dan semi-koloni untuk memproklamirkan perlawanan sengit bukan sebatas terhadap kolonialisme, tapi lebih-lebih kapitalisme-imperialisme. Dalam forum politik massa-rakyat dari Timur inilah tercetuslah sepenggal manifesto yang menggugah:

“Di sini, di Baku, di perbatasan Eropa dan Asia, kami perwakilan puluhan juta petani dan buruh Asia serta Afrika dalam pemberontakan menunjukan kepada dunia luka kami, menunjukan kepada dunia luka bekas cambukan di punggung kami, tanda yang ditinggalkan oleh rantai di tangan dan kaki kami. Dan kami mengangkat belati, revolver dan pedang kami dan bersumpah di hadapan dunia bahwa kami akan menggunakan senjata ini bukan untuk memerangi satu sama lain namun untuk melawan kapitalis. Percaya bahwa kalian, buruh Eropa dan Asia, akan bersatu dengan kami di bawah bendera Internasional Komunis untuk perjuangan bersama, untuk kemenangan bersama.”

Revolusi Proletariat di Rusia menjelma seiras cahaya bintang merah dari Timur. Capaian-capaian dan pengaruhnya menginspirasi dan membuat massa-rakyat Dunia Ketiga takjub. Begitulah sepanjang abad ke-20, kelas proletar dan kaum muda bergerak ke arah politik revolusioner. Di Hindia, Tiongkok, Jepang, Korea, Turki, Palestina, Persia, Mesir, Syiria, India, Afghanistan, Iran, dan negeri-negeri lainnya mulai membangun Partai Komunis. Sebuah organisasi politik tertinggi proletar yang memiliki peran signifikan dalam keberhasilan Revolusi Oktober. Tanpa kehadiran Bolshevik (Partai Komunis Uni Soviet) maka kemenangan buruh dan tani menjadi tiada terpikir. Sebuah perubahan mandasar dalam tatanan masyarakat soalnya tidak saja cukup dengan kematangan kondisi obyektif (perkembangan teknik yang mendorong ke arah krisis masyakarat berkelas—perpecahan di antara kelas-kelas penindas, kebangkrutan negara-bangsa, hingga ketidakterimaan kelas tertindas untuk diperintah dengan cara-cara lama), tapi juga membutuhkan kesiapan dari faktor subyektif (kesadaran, militansi, dan disiplin revolusioner untuk berjuang sampai titik penghabisan; organisasi tersentral yang mampu menghubungkan antara massa dan pelopor secara dialektis guna mengonsentrasikan kekuatan untuk bertindak secara solid dan terkoordinasi; dan kepemimpinan revolusioner yang mampu mengorganisir pertempuran dengan perspektif, program, metode dan tradisi perjuangan kelas yang tepat). Dalam Revolusi Rusia, Bolshevik menjadi ekspresi sadar dan terorganisir bagi perjuangan kelas proletar. Pada artikel tentang ‘Pelajaran-Pelajaran Revolusi Oktober’, Trotsky menulis:

“Pada 1917, Rusia memasuki krisis sosial yang  terbesar, Berdasarkan sebuah pengalaman sejarah, kita bisa mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa bila pada saat itu tidak ada partai Bolshevik maka energi revolusioner rakyat yang begitu besar itu akan tersia-siakan dalam ledakan-ledakan sporadis, dan gejolak-gejolak besar itu akan berakhir dengan kediktatoran kontra-revolusioner yang paling kejam. Perjuangan kelas adalah penggerak utama sejarah. Ia membutuhkan program yang tepat, partai yang kokoh, kepemimpinan yang dapat dipercaya dan berani—bukan pahlawan-pahlawan dalam ruang gambar yang penuh dengan frase-frase revolusioner, tetapi kaum revolusioner yang siap berjuang sampai akhir. Inilah pelajaran utama Revolusi Oktober…. Bolshevisme bukanlah sebuah doktrin (yakni, sekadar sebuah doktrin) tetapi adalah sebuah sistem pelatihan revolusioner untuk pemberontakan proletariat. Apa artinya mem-Bolshevik-kan Partai Komunis? Ini berarti melatih mereka dan menyeleksi jajaran kepemimpinannya supaya partai-partai ini tidak menyimpang ketika momen Revolusi Oktober mereka tiba.”

Sebelum revolusi menyalak, Rusia merupakan negeri feodal yang disanggah oleh kekuasaan tsar dan modal-asing. Ketika di Belanda, Inggris, Amerika, dan Prancis feodalisme sudah dihapuskan oleh revolusi borjuis-demokratik; Rusia masih menjadi negeri di mana monarki absolut menancapkan aneka eksploitasi dan penindasan di bawah tekanan-tekanan dari Eropa Barat. Perhambaan dan pembatasan membandul secara keji terhadap mayoritas petani dan bangsa tertindas—Finlandia, Lituania, Ukraina Polandia, dan lain-lain. Begitulah autokrasi Rusia menghambat perkembangan kelas-kelas sosial masyarakat, terutama merampas produksi-produksi penting dari kaum tani. Dalam kondisi inilah populasi dan gerakan-gerakan perlawanan di Rusia didominasi oleh borjuis-kecil yang tidak terorganisir dan bimbang. Mereka menghadapi tsarisme yang menanggalkan kebebasan sipil, berorganisasi, dan hak-hak ekonomi-politik secara umum. Sepanjang 1855-1860 tercatat 400 pemberontakan tani dan 20 tahun sebelumnya (1854-1835) praktek terorisme individual (aksi langsung—propaganda melalui perbuatan)—melawan elemen-elemen yang menjadi bagian kelas penguasa—telah beronggokan korbannya: 230 tuan tanah dan pengacara tsar tewas terbunuh. Memasuki 1857-1860, pemberontakan-pemberontakan spontan kembali menelan 54 nyawa tuan tanah dan pejabat-pejabat pemerintah. Begitulah sejarah Rusia diselimuti pembangkangan dan darah. Menghadapi gerakan yang membabi-buta—yang diperparah oleh kekalahan Rusia dalam Perang Krimea—mendorong tsar menggulirkan reformasi-palsu. Pada 1861, tsar mengeluarkan kebijakan mengenai penghapusan perhambaan tapi sebatas mengalihkan tani-hamba dari satu tuan-tanah ke tuan-tanah lainnya, meningkatkan kepemilikan tuan-tuan-tanah, dan membanduli tani-tani hamba dengan pajak yang menggila.

Kebijakan emansipasi-ilutif memperdalam kemelaratan, memperluas kesenjangan, dan memperuncing kesewenang-wenangan. Inilah mengapa kemarahan menjalar dan kekacauan merayap ke mana-mana. Di tengah pembusukan feodalisme yang semakin cepat dan perkembangan kapitalisme yang terlambat, maka borjuis-kecil tampil sebagai kekuatan dominan di lautan sosial dan mudah teradikalisasi oleh ledakan peristiwa. Begitulah intelektual-intelektual borjuis-kecil tampil gagah berani menggerogoti tsarisme. Meskipun berlimpah jumlahnya tapi bobot sosialnya lemah sesuai dengan posisinya di basis produksi: eksis dengan alat produksi berskala kecil dan tidak memegang kendali dalam corak produksi yang mendominasi. Dengan kepemilikan pribadinya dalam skala kecil maka rute kesadaran mereka diam-diam menjadikan borjuis besar sebagai inspirasi. Begitulah politik borjuis-kecil tidak memegang teguh prinsip-prinsip perjuangan kelas. Mereka mengganti kebutuhan-kebutuhan akan teori, program, metode dan tradisi perjuangan kelas dengan sentimen-sentimen pribadi dan spontanitas. Menajamnya antagonisme kelas menyeret mereka dalam medan perjuangan kelas melawan kekuasaan autokratik. Setelah 12 bulan reforma picik menghadapi penentangan dari kaum muda radikal, tsar pun menebar reaksi: sekolah-sekolah dilarang keras mengajarkan ilmu alam dan sejarah karena berpotensi subversif, dan dicekoki tata-bahasa (bahasa Latin 47 jam per minggu dan bahasa Yunani 36 jam per minggu).

Penderitaan hidup di bawah bengisnya despotisme mempersengit perlawanan dari borjuis-borjuis-kecil. Pada 1874, angkatan muda Narodnik tampil sebagai gerakan radikal. Mereka memandang kalau minoritas buruh Odesa jauh dari sosialisme dan memancang taktik ‘turun ke bawah’ untuk mengobarkan amarah dan mengorganisir kaum tani. Aktivtas politik itu berdiri di atas keyakinan kalau feodalisme bisa langsung menuju sosialisme tanpa melewati kapitalisme. Mikhail Bakunin adalah salah satu teoretikus Anarkisme yang berhasil menanam pengaruh. Meneguk teori-teori Bakunin yang berdiri di atas dialektika-mekanik maka intelektual-intelektual radikal terjun ke desa-desa guna membangun basis dan menyebarkan keyakinan kalau mir (komune desa) merupakan embrio dari masyarakat sosialis. Mereka tidak mengerti kalau transformasi sosialis tak bisa diintrodusir di desa dan petani bukanlah kelas sosial utama dalam menegakkan sosialisme. Kebenaran praktikal akhirnya membuktikan kesalahan teoritik mereka. Bahkan kesulitan mengorganisir petani yang terpencar-pencar, menghadapi gelombang penangkapan brutalnya tsar, dan kekalutan mengarungi petualangan tanpa akhir ini membuat intelektual-intelektual radikal terdemoralisasi dan terperosok menuju filsafat idealisme dan mistisisme. Begitulah cerita pembangkangan terhadap kelas penguasa disesaki aksi-aksi terorisme individual—yang bertujuan menyulut kekacauan—untuk mengobarkan api pemberontakan berbuntut kemunduran. Tepat 1 Maret 1881, Tsar Alexander II dilempari bom. Tewasnya tsar tak memperkuat gerakan, tapi justru memperhebat autokrasi dengan pengerahan aparatus represif secara membabi-buta. Mereka kira aksi-aksi pelemparan bomnya sekelebat memantik revolusi; padahal memperkuat kelas penguasa. Dalam situasi inilah seluruh intelektual radikal diburuh, disiksa, terbunuh dan dipenjara. Narodnik kemudian pecah: Narodnaya Volya, Cherny Peredel, dan Zemlya i Volya—kelompok pertama mengadopsi aksi terorisme individual dan mengembangkannya menjadi gerilya kota, kelompok kedua mempertahankan gagasan mengenai revolusi agraria dan komune desa, dan kelompok ketiga mencoba pengorganisiran buruh.

Memasuki penghujung abad ke-19, Rusia mengalami industrialisasi besar-besaran. Rel kereta api telah mencapai lebih dari 24.000 kilometer. Selain pusat-pusat industri lama di Moskow dan Petrograd; pusat-pusat industri baru bermunculan di Baku, Donbass, dan Baltik. Antara 1893-1900 produksi minyak meningkat 2 kali lipat dan produksi batubara bertambah 3 kali lipat. Melalui perkembangan teknik inilah buruh-buruh semakin bermunculan: jutaan kaum tani terlempar memasuki pabrik-pabrik besar secara cekatan. Begitulah sejak 1865-80 buruh pabrik meningkat 60 persen dan buruh tambang mencapai 106 persen. Populasi Petrograd pun bertambah: dari 668.000 (1869) menjadi 928.000 (1881). Dalam keadaan inilah serikat-serikat buruh mulai terbentuk, pemogokan-pemogokan bermunculan, dan booming ekonomi akibat perang Russo-Turki memperhebat pemogokan. Di tengah situasi inilah Georgi Plekhanov—selaku pimpinan seksi pekerja Zemlya i Volya—terseret lebih jauh ke arah gerakan buruh. Pada 1880-an, dia secara serius mempelajari Sosialisme Ilmiah—karya-karya Marx dan Engels. Sepanjang Januari 1880, perburuan rezim tsar memaksanya mengasingkan diri ke luar negeri. Di situlah dirinya bertemu kaum Marxis dari Prancis dan Jerman serta melibatkan diri dalam pertentangan teoretik melawan Anarkisme. Bertemu dengan Marxisme maka pengalaman gerakan bersama Zemlya i Volya (Narodnisme) diakui Plekhanov sebagai sebuah kekeliruan masa lalu. Kini Plekhanov telah menemui lompatan dialektis yang mendorong maju perjuangannya: dari Narodnisme-Anarkisme ke Sosialisme Ilmiah. Itulah diakuinya:

“Siapapun yang tidak hidup melewati masa-masa tersebut bersama kami tidak akan bisa membayangkan betapa antusiasnya kami melemparkan diri kami untuk mempelajari literature Sosial-Demokratik, di mana karya-karya teoritis Jerman adalah yang terutama kami pelajari. Dan semakin kami memahami literatur Sosial-Demokratik, semakin kami sadar poin-poin lemah dari pandangan kami sebelumnya, semakin kami yakin dari kebenaran perkembangan revolusioner kami…. Teori-teori Marx [dan Engels] memberi kami jalan keluar dari labirin kontradiksi yang menyesaki pikiran kami, karena berada di bawah pengaruh Bakunin.”

Di sisi Plekhanov, Pavel Axelrod dan Vera Zasulich juga menjadi eks-Narodnik yang ikut memagut Sosialisme Ilmiah. Pada September 1883, ketiganya membentuk Kelompok Emansipasi Buruh dengan dua kamerad lainnya. Segera setelah pembentukannya mereka langsung menempuh perjuangan melawan arus: kerja-kerja teori digencarkan untuk menyebarkan ajaran Marxisme di tengah tendensi-tendensi borjuis-kecil, terutama secara tajam mengkritik Anarkisme. Sebagai lingkaran kecil propaganda persoalan yang kerap dihadapinya bukan saja pengasingan, keterisolasian dan kebosanan tetapi juga kekurangan sumber daya dalam memproduksi, menerbitkan dan mendistribusikan bacaan. Hanya mereka mampu bertahan dan mengarungi samudera dengan membuktikan ketepatan Marxisme. Alan Woods melukiskan pendirian mereka: ‘satu-satunya hal yang menguatkan mereka adalah keyakinan mereka akan gagasan, teori, dan perspektif Marxis, walaupun gagasan-gagasan mereka tampaknya tidak selaras dengan realitas’. Kekeraskepalaan kelompok propaganda dalam pertempuran ideologis akhirnya membuahkan hasil. Kelas proletar dan kaum muda antusias mempelajari Marxisme. Pada 1893, Liga Perjuangan Buruh Petrograd didirikan dengan peran utama dan fundamentalnya adalah ‘mengubah para partisipan di lingkaran-lingkaran buruh menjadi Marxis yang berkembang sepenuhnya dan sadar, serta dapat menggantikan kaum propagandis intelektual’. V.I. Lenin dan Nadya Krupskaya—yang menjadi istri dan patner seumur hidupnya—bertemu dan melaksanakan kerja-kerja edukasi dan agitasi-propaganda di lingkaran ini. Krupskaya menceritakannya begini:

“Vladimir Ilyich tertarik dengan detil-detil yang paling kecil mengenai kondisi-kondisi dan kehidupan buruh. Dia ingin memahami kehidupan buruh secara keseluruhan—dia mencoba mencari apa yang bisa digunakan dalam mendekati buruh dengan propaganda revolusioner. Kebanyakan kaum intelektual pada saat itu tidaklah memahami buruh. Seorang intelektual akan datang  ke lingkaran studi dan memberikan ceramah kepada para buruh. Untuk waktu yang lama, manuskrip terjemahan karya Engels ‘Asal-Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi, dan Negara’ disebarkan di lingkaran-lingkaran buruh. Vladimir Ilyich akan membaca bersama buruh karya Marx, Kapital, dan menjelaskan karya tersebut kepada mereka. Paruh kedua dari lingkaran studi ini digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan buruh mengenai pekerjaan dan kondisi-kondisi kerja mereka. Dia menunjukkan bagaimana hidup mereka terhubungkan dengan seluruh struktur masyarakat, dan mengatakan kepada mereka dengan cara apa sistem hari ini dapat diubah. Kombinasi teori dan praktek adalah fitur terutama dari kerja Vladimir Ilyich di lingkaran-lingkaran ini. Perlahan-lahan, anggota lain di lingkaran kita mulai menggunakan pendekatan ini.”

Memasuki 1890-an, Kelompok Emansipasi Buruh berhasil meluaskan pengaruh. Plekhanov dan kamerad-kameradnya tidak saja membangun kontak dengan kelas proletar tetapi juga intelektual-intelektual borjuis yang mencoba mempelajari Marxisme. Namun di ruang-ruang dan meja-meja akademik mereka lahir sebuah Marxisme Legal yang berkecenderungan reformis-oportunis: menanggalkan independensi kelas, kediktatoran proletariat dan revolusi sosialis dunia sebagai fitur perjuangan kelas. Inilah mengapa perlawanan terhadap reformisme dan oportunisme menjadi persoalan serius. Pada 1895, utusan dari Liga Perjuangan Buruh Petrograd (Lenin dan Takhtarev) menemui Kelompok Emansipasi Buruh (Plekhanov, Axelrod, dan Zasulich) di Swiss (eksterior). Mereka tidak hanya membicarakan soal penerimaan-penerimaan akan Marxisme di Rusia, tapi juga perkembangan Marxis Legal yang menumpulkan gagasan Marx dan Engels. Lewat pertemuan inilah Liga Petrograd mulai secara aktif bekerjasama dengan para veteran-eksil dan mengambil mandat untuk melakukan perjuangan teoritik dan pengorganisiran dari dalam Rusia (interior) dengan menerbitkan Jurnal Marxis ‘Rabotnik (Buruh)’ dan Koran Marxis ‘Rabocheye Dyelo (Perjuangan Buruh)’. Kuatnya agitasi-agitasi lokal pun ikut menyeret buruh-buruh muda menuju politik revolusioner. Tahun 1897, Leon Trotsky yang baru berumur 17 tahun tertarik dalam aktivitas revolusioner. Bersama kamerad-kamerad buruhnya, dia membentuk Serikat Buruh Rusia Selatan. Menggunakan pena bernama ‘Lvov’, menulis artikel, selebaran, pamflet, dan deklarasi-deklarasi untuk mempopulerkan ide-ide revolusioner di antara kelas proletar dan kaum muda. Menilai kegiatan itu sebagai sebuah ancaman maka sekelebat rezim tsar meringkus Trotsky bersama 200 anggota serikat buruh untuk dipenjara selama 2 tahun dan diasingkan ke Siberia. Kekuasaan autokratik mengira dengan represi-represinya gerakan perlawanan dapat dipadamkan begitu saja—itu semua salah! Tepat 1 Maret 1898, angkatan muda dan proletariat yang telah teradikalisasi bersepakat mendirikan Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (PBSDR). Memang setelah penetrasi modal-asing mengguncang kehidupan rakyat—dimana rutinitas kehidupan bersahaja di desa-desa tergantikan oleh neraka industri di kota-kota—maka slogan ‘turun ke bawah’ segera diganti ‘turun ke buruh’. Begitulah berlangsungnya perubahan fundamental menuntut kaum Marxis mengubah metode. Kebangkrutan rezim autokrasi yang ditandai dengan meledaknya bencana kelaparan dihadapi Plekhanov dan kamerad-kameradnya menekankan agitasi-agitasi lokal. Kerja ini bertujuan menghubungkan gerakan buruh dengan gerakan-gerakan borjuis-kecil radikal dan liberal dalam menentang tsarisme. Ketika seabrek teoretikus borjuis mengkritik perubahan metode Kelompok Emansipasi Buruh; dalam Bolshevisme: Jalan menuju Revolusi; Jilid I 1883-1905, Alan Woods memberikan penjelasannya:

“Masalah-masalah mengenaskan yang dihadapi oleh rakyat secara langsung mengedepankan perjuangan revolusioner melawan Tsarisme, dimana kelas buruh akan memainkan peran revolusioner melawan Tsarisme. Di mana kelas buruh akan memainkan peran kunci. Sementara, pada tahapan ini, di mana tidak ada seorangpun yang berbicara mengenai kemungkinan revolusi sosialis di Rusia, penggunaan secara cerdik tuntutan-tuntutan demokratik revolusioner, seperti penyelenggaraan Zemsky Sobor, memainkan peran agitasi penting yang mendorong kekuatan-kekuatan revolusioner ke program-program Marxis. Kebijakan ini sama sekali tidak sama dengan kebijakan-kebijakan Menshevik dan Stalinis, yang, di bawah kedok ‘menyatukan semua kekuatan progresif’, ingin menyobordinasikan gerakan kelas buruh pada apa-yang-disebut  kelas borjuasi progresif. Plekhanov dan, terutama Lenin mengutuk gagasan ‘Front Rakyat’ yang digagaskan oleh sejumlah kaum Narodnik pada saat itu.”

Transisi menuju kerja agitasi disediakan kondisinya oleh perkembangan kapitalisme di Rusia. Memasuki dekade 1890-an jumlah pemogokan mengalami peningkatan luar biasa. Menghadapi kenyataan inilah kaum Marxis mustahil menempuh transformasi sosialis tanpa melibatkan diri dalam perjuangan reforma di bawah kapitalisme. Menggencarkan gerakan revolusioner dengan meninggalkan perjuangan untuk tuntutan-tuntutan mendesak rakyat mengarahkan gerakan menuju ultra-kiriisme; sementara menempuh gerakan reforma tanpa menghubungkannya dengan perjuangan revolusioner akan menyeret ke lubang oportunisme. Kaum Marxis mengakui kalau perjuangan mengenai kebutuhan sehari-hari massa menjadi tempat mengorganisir, melatih, dan mendidik kelas proletar untuk pertempuran penghabisan melawan musuh-musuh kelasnya. Kaum Marxis tidak menolak reforma tetapi memajukannya ke arah politik revolusioner guna melayani kepentingan kelas buruh. Apalagi di bawah manuver dan tekanan-tekanan autokrat-borjuis tak akan ada reforma-reforma yang dapat bertahan lama kecuali dengan kemenangan proletar. Bahkan memenangkan sebuah reforma pun dibutuhkan gerakan revolusioner untuk menggulingkan kapitalisme dan menegakkan kediktatoran proletariat. Liga Perjuangan Petrograd berusaha menjelaskan itu semua. Namun saat mencetak koran edisi pertama ‘Rabocheye Dyelo (Perjuangan Buruh)’, Lenin dan kamerad-kameradnya mendapatkan penggerebekan yang berujung penahanan oleh polisi tsar. Dari penjara, Lenin merencanakan penulisan ‘Perkembangan Kapitalisme di Rusia’ dan mempertahankan korespondensi dengan Liga Petrograd secara klandestin. Pesan-pesan kepada kameradnya ditulis di antara baris-baris buku bertintakan susu yang dituangkan dalam bolongan roti dan cuma dapat terbaca ketika disinari cahaya lilin. Selama dibui Lenin secara sembunyi-sembunyi membuka kembali bacaan-bacaan Marxis Klasik, terutama Manifesto Komunis. Membaca ulang karya Marx dan Engels dan menganalisa perkembangan gerakan buruh Rusia semakin meyakinkannya kalau terbitan agitasi-agitasi lokal yang bersifat terbatas harus segera digantikan Koran Marxis yang mampu menyatukan gerakan pemogakan dan gerakan revolusioner guna melawan rezim autokrasi, sekaligus menjadi embrio dari organisasi politik tertinggi proletariat yang dibangun secara serius dengan mendidik kader menjadi revolusioner profesional. Setelah massa penghabisannya, pada 1900 Lenin berangkat secara ilegal ke Petrograd untuk mengontak kembali Kelompok Emansipasi Buruh. Perjalanan ini berusaha mempersiapkan pendirian Koran Marxis Nasional dengan sebuah tendensi untuk membangun Partai Revolusioner Rusia. Dalam ‘Deklarasi Dewan Editorial Iskra’, Lenin menerangkannya:

“Kita sedang melalui sebuah periode yang teramat penting di dalam sejarah gerakan kelas buruh Rusia dan Sosial-Demokrasi* Rusia. Beberapa tahun terakhir telah ditandai dengan penyebaran gagasan gagasan Sosial-Demokratik yang sungguh-sungguh cepat di antara kaum intelektual kita, dan gerakan kaum proletariat industrial yang mandiri telah menemui gagasan-gagasan sosial ini dan mulai bersatu dan  berjuang melawan penindas-penindas mereka, dan dengan penuh semangat berjuang menuju sosialisme. Lingkaran-lingkaran studi kaum buruh dan kaum intelektual Sosial-Demokratik muncul di mana-mana, selebaran-selebaran agitasi lokal disebar luas, permintaan akan bahan-bahan bacaan Sosial-Demokratik terus meningkat dan sudah jauh melebihi apa yang bisa kita penuhi, dan persekusi yang semakin intensif dari pemerintah tidaklah mampu menahan gerakan ini. Penjara-penjara dan tempat-tempat pembuangan sudah penuh dan meluber. Setiap bulan kita pasti mendengar berita diciduknya kaum sosialis di berbagai daerah di Rusia, ditangkapnya kurir-kurir bawah tanah, disitanya literatur dan mesin-mesin cetak. Tetapi gerakan ini terus tumbuh, terus menyebar ke wilayah-wilayah yang semakin luas, terus mempenetrasi semakin dalam ke dalam kelas buruh dan semakin menarik perhatian publik. Seluruh perkembangan ekonomi Rusia dan sejarah pemikiran sosial dan gerakan revolusioner di Rusia menjadi jaminan bahwa gerakan kelas-buruh Sosial-Demokratik akan tumbuh dan akan, pada akhirnya, menanggulangi semua halangan yang ada di mukanya…. Lingkaran-lingkaran studi lokal bermunculan dan berjalan secara terpisah satu sama lain. Terutama, lingkaran-lingkaran dari distrik  yang sama berjalan secara terpisah satu sama lain. Tradisi tidak dibentuk dan kontinuitas tidak  dipertahankan; koran-koran lokal secara penuh merefleksikan perpecahan ini dan ketiadaan kontak  dengan apa yang telah dicapai oleh Sosial-Demokrasi Rusia…. Kita harus menarik kesimpulan praktis dari semua ini: kita kaum Sosial Demokrat Rusia harus bersatu dan mengarahkan semua usaha kita untuk membentuk sebuah partai yang kuat, yang harus berjuang di bawah panji tunggal Sosial Demokrasi revolusioner. Inilah tugas yang dipaparkan oleh kongres pada 1898 di mana Partai Buruh Sosial Demokrasi Rusia dibentuk, dan yang menerbitkan Manifestonya…. Seperti yang telah kami katakan, persatuan ideologi kaum Sosial-Demokrat Rusia masih harus dibangun, dan untuk ini maka, menurut pendapat kami, kita harus melakukan sebuah diskusi yang terbuka dan menyeluruh mengenai masalah-masalah prinsip dan taktik yang fundamental, yang telah diajukan oleh ‘kaum ekonomis’, para pengikut Bernstein, dan para ‘kritikus Marxisme’. Sebelum kita dapat bersatu, dan supaya kita dapat bersatu, kita harus pertama-tama menarik garis demarkasi yang tegas dan jelas. Kalau tidak maka persatuan kita akan sepenuhnya fiktif. Persatuan macam ini akan menutup-nutupi kebingungan yang ada dan menghalangi penyelesaiannya secara radikal. Oleh karenanya, kita bisa memahami mengapa kita tidak menginginkan koran kita menjadi semacam gudang yang menyuguhkan berbagai cara pandang. Sebaliknya, kita harus menerbitkan koran kita dengan semangat sebuah tendensi yang secara tegas jelas. Tendensi ini dapat diekspresikan dengan kata Marxisme, dan kita tidak perlu menambahkan kalau kita mendukung perkembangan gagasan-gagasan Marx dan Engels dan secara empatik menolak “koreksi-koreksi” yang sengaja dibuat tidak jelas untuk menutup-nutupi maksud sebenarnya, kabur, dan oportunis yang dibuat oleh Eduard Bernstein, P. Struve, dan banyak lainnya.”

Sebagai upaya membangun fondasi gerakan yang kuat, mengakar, dan mampu menyatukan gerakan-gerakan lokal di seluruh Rusia; Lenin mendeklarasikan Iskra sebagai Koran Marxis Nasional. Tugas Iskra bukan sebatas menyebarkan gagasan Marxisme, mengkritik reformisme dan oportunisme, penyatuan sekutu-sekutu politik, menceritakan pengalaman-pengalaman massa-rakyat menghadapi kelas penguasa, atau propaganda dan agitator kolektif. Tetapi terutama menjadi ‘organisator kolektif’: mencari kontak massa guna membentuk partai revolusioner Rusia. Begitulah strategi Kepeloporan Revolusioner—yang menuntun kaum muda dan proletariat sadar-kelas menuju pembangunan organisasi politik guna memenangkan lapisan terluas dari massa ke arah politik revolusioner sekaligus menjadi angkatan proletar dalam melawan musuh-musuh kelasnya—dapat tersalurkan melalui kerja-kerja Iskra. Tulisan-tulisan Lenin tentang pembangunan organisasi revolusioner ini tersalurkan pula melalui aneka artikelnya: ‘Dari Mana Kita Mulai?’, ‘Sebuah Surat untuk Kamerad’, dan ‘Apa yang Harus Dikerjakan?’ Berdirinya koran itu kontan menebar pengaruh ke mana-mana. Begitulah Trotsky yang melawati masa-masa pengasingan di Siberia sampai tertarik oleh tujuan Iskra: pembentukan organisasi politik tertinggi bagi proletariat dengan mendidik kaum revolusioner profesional. Pada 1902, dia melarikan diri dari pengasingannya untuk menemui Lenin terlebih dahulu. Bertemu Lenin maka Trotsky pun diperkenalkan dengan Axelrod dan Zasulich selaku anggota Dewan Editorial Iskra. Bersama merekalah dirinya belajar banyak mengenai Marxisme dan bersiap-siap menunggu tibanya Kongres II PBSDR pada 1903. Hanya menjelang Kongres meletuslah pertentangan antara Lenin dengan Plekhanov—dalam pertemuan Dewan Editorial Iskra—menyangkut draf program partai. Perdebatannya menganai formula yang berbeda: Plekhanov mengusulkan kalau kapitalisme di Rusia ‘sedang menjadi bentuk produksi yang dominan’; Lenin menegaskan bahwa kapitalisme di Rusia ‘telah menjadi bentuk produksi dominan’. Dalam Bolshevisme: Jalan menuju Revolusi; Jilid I 1883-1905, Alan Woods memberikan komentar mengenai pertentangan keduanya: ‘esensi dari ketidaksetujuan ini bukanlah seputar masalah-masalah fundamental , tetapi seputar pendekatan kerja dan konsepsi mengenai peran program partai’. Bahwa draf dari Pelkhanov adalah abstrak: akademik dan kurang kongkret. Drafnya mengekspresikan ‘suara propagandis di tempat pengasingan’, bukan ‘seruan lantang dari sebuah partai massa revolusioner’. Lenin menegaskan: ‘bila kapitalisme belumlah menjadi bentuk yang dominan, maka bukankah ini berarti kita harus menunda gerakan Sosial-Demokratik [menuju revolusi sosialis]’.

Pada 17 Juli 1903, Kongres II PBSDR dibuka di Brussels. Namun akibat pengintaian ketat dari polisi maka lokasinya dipindahkanlah ke London dengan kedok pertemuan klub pemancing ikan. Meski diselimuti badai pengawasan; Kongres tetap berjalan. Dalam forum inilah berlangsung perdebatan antara Lenin dan Yuli Martov mengenai urusan keanggotaan—draf dari Lenin mengusulkan anggota PBSDR haruslah seseorang yang menerima program, membayar iuran, dan ‘berpartisipasi dalam salah satu organisasi partai’; Martov mengusung draf bahwa anggota PBSDR adalah orang yang menerima program, membayar iuaran dan ‘memberi partai kerjasama pribadinya secara reguler di bawah arahan salah satu organisasi partai’. Setelah melalui perdebatan panjang akhirnya Martov mendapat 28 suara dan Lenin 23 suara. Kekalahan Lenin disebabkan oleh goyahnya elemen-elemen yang sebelumnya bergabung dalam tendensi koran Iskra. Mereka yang sebelumnya bersepakat dengan Lenin banting stir ke arah kelompok-kelompok yang mendukung Martov—kaum ekonomis, bund, dan moderat—yang diwakili oleh tendensi jurnal Yuzhny Rabochii. Alan Woods menjelaskan kalau kegoyahan itu merupakan bagian dari ‘tekanan-tekanan kelas-asing, opini publik borjuis, dan terutama tekanan dari lapisan-lapisan menengah, kelas menengah, kaum intelektual yang ada di sekitar organisasi-organisasi buruh’, yang merupakan bekas dari ‘periode panjang dimana Kelompok Emansipasi Buruh yang lebih tua melakukan kolaborasi dekat dengan kelas menengah radikal yang diwakili kaum Marxis Legal telah meninggalkan jejak dalam kesadaran mereka’. Drafnya Lenin paralel dengan perspektifnya tentang sebuah organisasi revolusioner yang kuat dan tersentral untuk mendidik kaum revolusioner profesional. Sementara draf Martov mengekspresikan kesulitan untuk keluar dari periode lingkaran-lingkaran kecil. Begitulah Alan Woods menulis lewat Bolshevisme: Jalan menuju Revolusi; Jilid I: 1883-1905:

“Setiap periode transisi dari satu tahap perkembangan partai ke tahap yang lain selalu menyebabkan fiksi internal. Kita telah mengupas kesulitan-kesulitan di masa awal peralihan dari propaganda ke agitasi. Sekarang masalah-masalah yang sema terulang kembali, tetapi dengan masalah yang jauh lebih serius…. Kebiasaan-kebiasaan kelompok eksil kecil yang telah membatu secara insting memberontak melawan perubahan terhadap cara-cara lama. Pemilihan yang formal, minoritas yang harus tunduk pada kehendak mayoritas, kerja yang disiplin, walaupun semua ini dapat diterima dalam teori tetapi dalam praktek susah ditelan. Para anggota kelompok Plekhanov, yang sudah terbiasa dalam kehidupan lingkaran perkawanan yang kecil dan informal, telah lama menikmati otoritas politik yang besar sebagai veteran dan anggota Dewan Editorial Iskra yang ternama, sebuah posisi yang tidak lagi sesuai dengan peran yang mereka sekarang dimainkan.”

Perdebatan antara Lenin dan Martov saat Kongres II PBSDR barulah berupa embrio dari Bolshevisme dan Menshevisme; belum mengambil bentuknya yang politis hingga membentuk dua tendensi yang berlawanan: Bolshevik dan Menshevik. Dalam keadaan ini sikap Trotsky terhadap perbedaan itu ialah serupa kebanyakan anggota PBSDR lainnya: menyerukan persatuan. Kelak, seruan persatuan itu dituduhkan Stalinis sebagai ‘konsiliasionisme’. Padahal tuduhan konsiliasi (bersatu dengan musuh-musuh kelas proletar—kaum liberal, borjuis-progresif) tidak memiliki hubungan dengan seruan-seruan untuk menyatukan partai. Namun setahun kemudian perpecahan di antara keduanya menajam dan mulai mengambil bentuk politisnya. Martov dan kelompoknya (minoritas) mengkritik sentralisme-demokrasi sebagai kebijakan diktatorial. Padahal mereka  tidak memahami kalau sentralisme-demokratik pertama-tama bukan persoalan administratif tapi politis: sentralisasi ide, pengalaman, kesimpulan, dan prinsip-prinsip umum yang ditarik dari hasil-hasil konkret perjuangan kelas. Menerapkan sentralisme demokrasi maka kebebasan berdiskusi menjadi syarat dalam setiap pengambilan keputusan dan kesatuan aksi. Hanya bukanlah perspektif regresif maupun reaksioner yang dipakai berdiskusi, melainkan cara pandang dengan teori-teori yang paling maju. Lewat diskusi inilah kesamaan pemahaman ditemukan dan aksi dapat bersatu: tanpa pemahaman yang sama maka tidak mungkin ada kesatuan aksi. Martov dan para pendukungnya tiada memahami ini. Mereka menuntut agar keputusan-keputusan partai tidak ditetapkan berdasarkan suara mayoritas tetapi minoritas. Begitulah mereka menebarkan intrik terhadap Lenin dan kelompoknya (mayoritas), menolak bekerja di Komite Pusat (berkolaborasi dengan Organ Sentral) dan melancarkan pemboikotan. Hasil-hasil Kongres II kemudian porak-poranda. Satu-per-satu badan kepemimpinan yang ditempati pihak mayoritas direnggut minoritas dengan aneka manuvernya. Intrik-intrik dan manuver-manuver ini bukan saja menjadi tendensi yang asing dalam PBSRD, tapi juga mengobrak-abrik partai yang dipersiapkan untuk proletariat. Draft Presentasi Revolusi Oktober (2022) oleh Perhimpunan Sosialis Revolusioner (PSR—Seksi Indonesia dari International Marxist Tendence, IMT) menjelaskan mengenai persoalan tersebut:

“Sebuah partai revolusioner berada di bawah tekanan dari kekuatan-kekuatan politik lain. Di setiap tahapan perkembangannya, partai mengelaborasi metode-metodenya sendiri untuk menetralkan dan melawan tekanan ini. Pada saat belokan taktis, dan pengelompokan dan friksi internal yang merupakan konsekuensi  dari belokan ini, kekuatan partai untuk melawan tekanan ini menjadi lemah. Dari sini selalu ada kemungkinan bahwa pengelompokan-pengelompokan internal di dalam partai, yang berasal dari perlunya mengambil belokan dalam taktik, dapat berkembang jauh melampaui titik berangkat kontroversi awal dan menjadi penunjang untuk berbagai tendensi kelas. Dalam kata lain: partai yang ketinggalan di belakang tugas-tugas historis kelasnya akan menjadi, atau beresiko menjadi, alat tidak-langsung dari kelas-kelas lain.”

Persis seperti itulah perkembangan tendensi yang asing bagi kelas buruh dalam PBSDR—yang kelak diwakili minoritas (Menshevisme). Namun di akar rumput perspektif mayoritas semakin menebar pengaruh. Itulah mengapa bertambah banyak komite-komite partai yang mendukung untuk segera dilaksanakannya kongres baru. Pada Agustus 1904, 22 anggota mayoritas menyelanggarakan Konferensi di Swiss yang mendeklarasikan seruan pelaksanaan Kongres III. Memasuki bulan September, 12 dari 20 komite partai dengan hak suara penuh mendukung kongres yang diserukan mayoritas. Di akhir Desember, 13 Pusat Organisasi Bolshevik didirikan dan didukung 13 komite partai. Memasuki 1905, Bolshevik sudah menjadi sebuah tendensi yang serius walau keberadaannya masih rapuh. Kondisi finansial dan aparatus lainnya begitu lemah. Hanya demi melanjutkan kerja-kerja politik mereka melakukan pengorbanan. Guna mendapatkan uang untuk mendirikan koran politik, Lenin dan kamerad-kameradnya menguras kantong, menyumbangkan gaji, hingga menjual jam tangan. Tepat 22 Desember, Vperyod (Kebenaran) muncul sebagai koran pertama Bolshevik. Hanya keterbatasan sumber daya mengharuskan setengah edisi sajalah yang dapat terbit. Sementara perkembangan ekonomi-politik di bawah rezim tsar mulai mengarah ke tikungan sejarah. Situasi revolusioner menggema. Kemelaratan, penderitaan, kemuakkan dan amarah yang mengonggok berpuluh-puluh tahun akhirnya bertumpah-ruah. Revolusi Rusia yang pertama berlangsung begitu rupa. Di awal Januari pemogokan meledak. 3 Januari, 13 ribu buh mogok dengan tuntutan: 8 jam kerja, pelarangan kerja-lembur, kenaikan upah buruh perempuan, kesehatan gratis, izin mengorganisir komite perwakilan, dan pembayarn upah selama mogok. 5 Januari jumlah pekerja dalam pemogokan  meningkat menjadi 26.000. 7 Januari bertambah 105.000, dan 8 Januari mencapai 111.000. Dan, 9 Januari intensitas gerakan kelas buruh mengambil bentuk pemberontakan yang membuat tsar begitu ketakutan. Hanya dalam kebangkitan revolusioner ini bukan saja Bolshevik yang lemah, tapi juga PBSDR yang tampil sangat menyedihkan. Penangkapan dan perpecahan melumpuhkan aktivitas politiknya selama berbulan-bulan. Partai dicemari Menshevik dan Bolshevik berantakan.

Selama Revolusi Rusia 1905, kedua faksi itu berdiri tanpa dukungan dari kelas proletar. Melemahnya partai beriringan dengan menguatnya gerakan-gerakan buruh. Mereka membentuk Dewan Buruh (Soviet) untuk pertama kalinya dalam sejarah Rusia. Setelah kian lama dikerangkeng kekuasaan tsar kini kebangkitan massa-rakyat hendak meluncurkan pemberontakan bersenjata. Pada 10 Januari, barikade-barikade proletariat memancang di Petrograd. 17 Januari pemogokannya sudah menarik 160.000 buruh ke dalam barisan. Sampai 22 Januari, 400.000 pekerja telah terlibat pemogokan. Perlawanan berlangsung spontan. Tendensi-tendensi borjuis-kecil mendominasi gerakan. Tepat 22 Januari, pendeta Gapon terdorong ke depan untuk memimpin longmarch ke Istana Musim Dingin dan mengajukan petisi. Aksi damai kontan dibalas reaksi teramat keji. Kebrutalan pasukan bersenjata menelan kurang-lebih 1000 jiwa. Peristiwa ini dikenal sebagai Minggu Berdarah. Gelombang reaksinya tak sebatas menanggalkan nyawa, tapi juga mengakibat demoralisasi dan kemunduran gerakan buruh. Dalam kondisi inilah Boshevik meningkatkan kerja-kerja intervensi terhadap kaum tani di desa-desa. Walau partai sangatlah lemah di pedesaan tetapi sejumlah lingkaran Bolshevik telah tumbuh di Nizhegorod, Kazan, Tver, Sarato, dan Samara. Kelompok-kelompok agitator melakukan pengorganisasian terhadap petani-prajurit (Cossack). Sepanjang April-Agustus desa-desa mulai bergejolak dengan konflik tani dan pemogokan buruh-buruh pertanian di Don, Kuban, Kaukasus, Ukraina, dan Baltik. Perpaduan antara gejolak pedesaan dan kerja-kerja agitasi lantas mempengaruhi seabrek prajurit. Pada 27-28 Mei, para kelasi armada laut di Tsushima melancarkan pembangkangan. Perwira-perwira rendah memimpin perlawanan terhadap perwira-perwira tinggi melalui pemberontakan di atas kapal perang Prince Potemkin. Peristiwa-peristiwa ini kontan membuat kelas penguasa gemetar ketakutan. Takut kalau gelombang pemberontakan semakin meluas dan membangkitkan kembali gerakan buruh yang tengah mengalami pasang-surut, maka rezim tsar menyiasati pelaksanaan pemilihan Duma (Parlemen Monarki). Sejak saat inilah persoalan terlibat atau memboikot Duma menempati posisi sentral dalam diskusi-diskusi partai. Lenin mengerti kalau Bolshevik perlu fleksibel mengenai masalah-masalah taktik dan organisasional supaya enggan terseret mood ultra-kiri. Maka berkait masalah-masalah seputar parlemen haruslah didekati secara hati-hati. Sosialisme soalnya tidak bisa diwujudkan melalui pemilihan, birokrasi, dan dekrit-dekrit; melainkan gerakan massa yang sadar dan terorganisir—di pabrik-pabrik, sekolah-sekolah, pemukiman penduduk, jalananan dan tempat-tempat massa-rakyat berada—untuk membangun sosialisme di atas reruntuhan masyarakat kapitalis. Begitulah Lenin dan kamerad-kameradnya menempatkan parlemen sebagai langkah taktik dalam kerja-kerja agitasi-propaganda Bolshevik. Di Komunisme Sayap Kiri; Suatu Penyakit Kekanak-kanakan (1953) tertulis:

“…Mencoba ‘menghindari’ kesukaran  ini dengan ‘melompati’ pekerjaan yang  sulit dalam menggunakan parlemen-parlemen yang reaksioner untuk tujuan revolusioner adalah sungguh kekanakanakan…. ikut serta dalam pemilihan untuk parlemen dan dalam perjuangan di atas mimbar parlemen adalah wajib bagi partai proletariat revolusioner justru untuk maksud mendidik lapisan-lapisan yang masih terbelakang dari kelasnya sendiri, justru untuk maksud mengubah dan membuka-pikiran massa desa yang belum maju, yang tertindas, yang gelap pikirannya. Selama kawan-kawan belum mampu membubarkan parlemen burjuis dan segala bentuk badan reaksioner macam lain, kawan-kawan wajib bekerja di dalamnya justru karena di situlah masih terdapat kaum buruh yang diperbodoh oleh pendeta-pendeta dan oleh kesunyian hidup di desa; kalau tidak, kawan-kawan akan menanggung resiko menjadi tukang obrol belaka. sebab yang menjadi soal bukannya apapak parlemen-parlemen burjuis sudah lama ada atau baru saja ada, tetapi sampai beberapa jauh massa yang luas dari Rakyat pekerja telah siap (dalam ideologi, politik dan praktek) untuk menerima sistim Soviet dan membubarkan parlemen burjuis-demokratis (atau membolehkan ia dibubarkan)…. Kami kaum Bolshevik ikut serta dalam parlemen-parlemen yang paling kontra-revolusioner, dan pengalaman telah menunjukkan bahwa ikut sertanya ini tidak hanya berguna, tetapi juga perlu bagi partai proletariat revolusioner justru sesudah revolusi burjuis yang pertama di Rusia (1905)…. Sudah tentu akan salahlah barang siapa yang coba berbicara secara lama dan pada umumnya bahwa menolak ikut serta dalam parlemen-parlemen burjuis adalah tidak diperbolehkan dalam segala keadaan. Saya tidak akan mencoba merumuskan di sini dalam keadaan-keadaan mana suatu pemboikotan adalah berguna, karena  tujuan brosur ini adalah jauh lebih sederhana, yaitu menyimpulkan pengalaman Rusia yang bersangkutan dengan beberapa  soal yang hangat tentang taktik Komunis internasional. Pengalaman Rusia telah memberikan kepada kita satu contoh yang berhasil dan benar (1905) dan satu contoh yang salah (1906) tentang dilakukannya pemboikotan oleh kaum Bolshevik. Dalam menganalisa contoh yang pertama, kita lihat bahwa kami berhasil dalam mencegah diadakannya  parlemen reaksioner oleh pemerintah reaksioner dalam situasi mana aksi massa yang revolusioner di luar parlemen (khususnya aksi-aksi pemogokan) sedang meningkat dengan luar biasa cepatnya, ketika tidak ada satu lapisan pun dari proletariat dan kaum tani dapat menyokong pemerintah reaksioner dengan jalan apapun juga, ketika proletariat revolusioner sedang menjamin pengaruhnya atas massa terbelakang yang luas melalui perjuangan pemogokan dan gerakan tani….”

Setelah Revolusi 1905 dikalahkan situasi revolusioner ternyata masih berlangsung berbulan-bulan lamanya. Dalam kondisi inilah melemahnya gerakan buruh segera diisi oleh kekuatan cadangannya: kaum tani dan prajurit-prajurit bawahan yang berasal dari desa-desa. Bertahannya gerakan revolusioner memaksa tsar memberi konsesi lewat pelaksanaan pemilihan parlemen baru. Bertumpu pada kekuatan massa dari luar parlemen; Bolshevik mengambil langkah yang tepat untuk memasuki Duma guna memblejeti monarkis-kapitalis dan telinga massa-rakyat secara lebih luas lagi. Meski revolusi kalah tetapi kelas proletar dan kaum tertindas Rusia belajar banyak hal baru. Pembelajaran mereka dapatkan bukan sebatas dari proses revolusionernya, melainkan pula kekalahan revolusi dan peristiwa-peristiwa yang mengikutinya. Dalam Revolusi 1905 massa mendapatkan pengalaman bagaimana melancarkan pemogokan ekonomi dan petisi, pemogokan umum politik dan aksi massa, pembentukan Soviet dan pemberontakan bersenjata, hingga keterlibatan dan boikot Duma—begitulah revolusi yang pertama ini menjadi gladi resik untuk Revolusi Oktober nantinya. Di sisi lain, kaum Bolshevik juga memetik pelajaran berharga dari revolusi yang kalah. Bahwa revolusi terjadi bukan berdasarkan kehendak kaum revolusioner karena perkembangan kapitalismelah yang menciptakan kondisinya. Maka tanpa kaum revolusioner akumulasi penindasan massa-rakyat sewaktu-waktu dapat meledak menjadi pemberontakan tiba-tiba. Walau dimulai secara spontan pada akhirnya gerakan massa pasti menemukan atau mengusung kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kesadaran gerakannya. Hanya pembangkangan massa akan berujung kekalahan, kecuali terdapat kepemimpinan revolusioner ‘yang siap’ untuk memulai perjuangan penggulingan dan perebutan kekuasaan dengan segera. Namun kepemimpinan macam ini bukanlah sejenis kepemimpinan Gapon, melainkan sebuah partai revolusioner. Kekalahan revolusi bukannya membuat kaum Bolshevik berputus asa, tapi menambah keyakinan berkait signifikansi pembangunan Partai Revolusioner Rusia. Begitulah dalam menghadapi situasi revolusioner Lenin menekankan kepada kamerad-kameradnya:

“Kita membutuhkan kekuatan anak-anak muda. Saya akan mengecam siapapun yang berasumsi bahwa tidak ada orang yang bisa direkrut. Rakyat Rusia sangatlah besar. Yang perlu kita lakukan adalah merekrut anak-anak muda dengan lebih luas dan lebih berani, dengan lebih berani dan lebih luas, dan sekali lagi dengan lebih luas dan lebih berani tanpa takut terhadap mereka. Ini adalah waktunya perang. Kaum muda—para pelajar dan terutama kaum buruh muda—akan menentukan hasil dari seluruh perjuangan ini. Singkirkan semua kebiasaan pasif yang lama, kebiasaan hormat jabatan, dan lain-lain. Bentuk ratusan lingkaran Vperyodist [Bolshevik] di antara kaum muda dan dorong mereka untuk bekerja keras. Perbesar komite tiga kali lipat dengan menerima kaum muda ke dalamnya, bentuk setengah lusin sub-komite, ‘kooptasi’ setiap orang yang jujur dan energetik. Perbolehkan setiap sub-komite untuk menulis selebaran dan tanpa halangan birokratis apapun (tidak apa-apa kalau mereka membuat kesalahan, kita yang di Vperyod dengan ‘sabar’ akan memperbaiki mereka). Kita harus, dengan teramat segera, menyatukan semua orang yang punya inisiatif revolusioner dan segera mengirim mereka untuk bekerja. Jangan takut kalau mereka kurang terlatih, jangan takut kalau mereka tidak berpengalaman dan belum berkembang … [karena] peristiwa-peristiwa akan mengajari mereka dengan semangat kita. Peristiwa-peristiwa sudah mengajar semua orang dengan semangat Vperyod.”

Kebijakan untuk membuka pintu partai bagi kelas proletar dan kaum muda sesuai dengan perkembangan situasi Rusia. Setelah peristiwa besar berlangsung maka kesadaran massa terguncang dan merangsek maju. Meski gerakan buruh dikalahkan dalam Minggu Berdarah, tapi pemogokan terus mengada. Sepanjang September-Oktober 1905 pemogokan-pemogokan dari lapisan buruh terbelakang dan lebih tertindas (proletar kilang gergaji, tukang roti, tukang pos, pelayan hingga pembantu rumah tangga) memancang di Petrograd dan Moskow. Walau tanpa kehadiran serikat buruh yang mapan; mereka bergerak mengorganisir pemogokan dengan membentuk komite-komite pemogokan untuk merangkul lapisan-lapisan lainnya. Dengan cepat komite-komite pemogokan ini merangkul proletariat dan berhasil membetuk Soviet Petrograd dan Soviet Moskow. Segera setelah embrio Negara buruh ini lahir; Bolshevik bukan malah bersikap mendukungnya tetapi cenderung mencurigainya. Karakter non-partai dari Soviet dan dominasi Menshevik di dalamnya menjadi alasan kecurigaannya. Sementara Lenin dari tempat pengasingannya memberikan sambutan hangatnya. Maka dari eksterior Lenin mengkritik kamerad-kameradnya yang berada di interior: ‘satu-satunya masalah—dan ini adalah masalah yang sangat penting—adalah bagaimana membagi, dan bagaimana mengombinasikan, tugas-tugas Soviet dan tugas-tugas PBSDR’. Lenin menegaskan: ‘kita tidak boleh menutup diri kita dari rakyat revolusioner’. Dalam Komunisme Sayap Kiri; Suatu Penyakit Kekanak-Kanakan (1953), Lenin menulis:

“…bahwa hubungan dengan ‘massa’ melalui serikat buruh-serikat buruh tidaklah cukup. Selama revolusi  aktivitas  nyata telah  menimbulkan  di  negeri  kami konferensi-konferensi kaum  buruh dan kaum  tani non-partai, dan  kami  berusaha  dengan  segala jalan untuk membantu, mengembangkan dan meluaskan  badan-badan  ini  supaya dapat mengikuti sentimen-sentimen  massa, lebih mendekati  mereka, memenuhi  kebutuhan-kebutuhan mereka, mempromosikan yang terbaik di kalangan  mereka  ke  jabatan-jabatan negara, dan  sebagainya…. Pada  masa permulaan perkembangan kapitalisme serikat buruh-serikat buruh adalah suatu kemajuan raksasa bagi kelas buruh, sebagai peralihan dari keadaan terpencar-pencar dan tak berdaya-nya kaum buruh ke  benih-benih pertama dari penyatuan klas. Ketika bentuk yang tertinggi dari  penggabungan  klas  kaum proletar  mulai lahir,   yaitu  partai  proletariat revolusioner (yang tidak akan layak mendapat sebutan itu sebelum ia belajar menyatukan pemimpin-pemimpin dengan klas dan massa menjadi satu keutuhan, sesuatu yang tak terpecahkan), maka buruh  dan  kaum tani…. Menunda tercapainya  Diktator  Proletariat [Soviet] sampai datang masanya, di mana tidak ada lagi  seorang buruh pun yang mempunyai pandangan yang sempit menurut keahliannya, seorang buruh yang mempunyai purbasangka-purbasangka reaksioner dan serikatburuhisme, akan merupakan kesalahan yang lebih besar lagi. Kecakapan seorang politikus (serta pengertian yang benar dari setiap Komunis  tentang  kewajiban-kewajibannya) terletak justru dalam memperhitungkan dengan tepat  syarat-syarat  dan saat, di mana pelopor proletariat dapat merebut kekuasaan dengan berhasil, di mana ia dapat sewaktu dan sesudah perebutan kekuasaan, mendapat bantuan yang cukup dari lapisan yang cukup luas dari kelas buruh dan massa pekerja non-proletar, dan di mana sesudah itu ia  dapat  mempertahankan, mengkonsolidasi dan meluaskan kekuasaannya dengan mendidik, melatih dan menarik semakin luas massa Rakyat pekerja.”

Dengan mempertimbangkan kritikan Lenin maka kebijakan partai berubah: Bolshevik bukan hanya mulai melakukan kerja di Soviet, tapi juga serikat-serikat buruh. Sekarang kerja di organisasi massa dilancarkan untuk mengintervensi pelbagai pemogokan-pemogokan buruh. Intensitas pemogakan selama Oktober menginspirasi bangsa-bangsa kecil yang tertindas di dalam Rusia Raya untuk melancarkan pemberontakan. Sekarang 57 persen populasi bangsa minoritas ikut terseret dalam persoalan kebangsaan. Di Finlandia, daerah Baltik dan Kaukasus berlangsung kekacuan dan pembangkangan terhadap rezim. Di Ukraina, selama 3 bulan terakhir telah berlangsung 1590 pemberontakan tani dan sekarang massa-rakyat membanjir di Kiev dan Odessa untuk menentang autokrasi. Merangseknya bangsa-bangsa tertindas ke dalam perjuangan kelas mengharuskan Bolshevik segera menentukan sikapnya terhadap masalah kebangsaan. Sikapnya terpancar melalui selebaran-selebaran agitatifnya: ‘kamerad sekalian, kita kaum buruh tidak membutuhkan perbudakan satu bangsa oleh bangsa lainnya. Orang Finlandia, Polandia, Yahuhi, Jerman, Armenia adalah saudara-saudari kita semua. Kita tidak boleh berjuang melawan mereka, tetapi berjuang melawan autokrasi dan kapitalisme’. Tidak ada solusi terbaik dari masalah kebangsaan kecuali merajut ‘persatuan sukarela’ dalam menggulingkan kekuasaan monarki dan borjuis untuk menegakkan demokrasi dan kediktatoran proletariat. Hanya persatuan yang dibangun bukan dalam front-front demokratik atau kiri dari borjuis-liberal dan borjuis-borjuis-kecil, melainkan bersatu dan bercampur-baur bersama organisasi-organisasi proletariat. Begitulah pengakuan Bolshevik atas hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa tertindas tidak mengcualikan agitasi-propaganda menentang separasi atau nasionalisme borjuis. Dalam artikelnya tentang ‘Revolusi Sosialis dan Hak Bangsa Menentukan Nasib Sendiri’, Lenin menulis:

“Bertentangan dengan segala bentuk nasionalisme borjuis, demokrasi kelas-buruh mengedepankan tuntutan persatuan tanpa-syarat dan amalgamasi penuh buruh dari semua kebangsaan dalam organisasi kelas buruh—serikat buruh, koperasi, asosiasi konsumen, badan pendidikan, dan yang lainnya—sebagai tandingan atas percekcokan nasionalis antara berbagai partai borjuis mengenai masalah bahasa dan sebagainya. Hanya persatuan dan amalgamasi macam ini yang dapat menjaga demokrasi [proletariat] dan membela kepentingan buruh dalam melawan kapital—yang sudah internasional dan semakin hari semakin internasional—dan mendorong perkembangan umat manusia ke sebuah cara hidup baru yang asing dari semua privelese dan semua eksploitasi.”

Menghadapi gelombang perlawanan terus-menerus maka tsar menyiasati sebuah reforma. Tanggal 17 Oktober, tsar mengeluarkan manifesto yang sedikit membuka kebebasan pers, berekspresi, berserikat dan berkumpul selama tidak terlalu membahayakan kekuasaannya. Terbitnya reforma ini disebut Lenin sebagai ‘kemenangan pertama revolusi’. Dengan memberikan konsesi kekuasaan autokratik berusaha menenangkan situasi, sembari mempersiapkan pukulan baliknya di lain hari. Begitulah Manifesto Oktober menebar ilusi-demokrasi yang disambut kaum liberal dengan memisahkan dirinya dari revolusi dan membentuk gerakannya sendiri: ada yang mendirikan Perhimpunan 17 Oktober (Oktobris) dan terdapat pula Partai Konstitusional Demokratik. Keduanya sama-sama mendukung tsar dalam mempertahankan kekuasaan autokratik dengan kedok konstitusional dan demokratik. Di sisi lain, Bolshevik mulai melakukan penetrasinya ke dalam organisasi-organisasi massa. Kerja-kerja legal dan semi-ilegal berdasarkan prinsip ‘menjelaskan dengan sabar’ digencarkan untuk meraih telinga dan memenangkan massa ke arah Marxisme dan membangun Bolshevisme. Alan Woods menceritakannya: ‘tugas kaum revolusioner dalam situasi ini adalah untuk memahami bahwa pertempuran-pertempuran yang menentukan masih harus diperjuangkan di hari depan, untuk merenggut kesempatan yang ada dengan kedua tangan, dan menggunakan kebebasan yang baru diraih ini untuk membangun partai dengan pesat, memperluas pengaruhnya ke semua ranah kehidupan sosial, dan mempersiapkan diri untuk pertempuran penentuan’.

Pada 27 Oktober 1905, edisi pertama Novaya Zhizn diterbitkan Bolshevik. Koran ini menjadi organ resmi Bolshevisme sampai bulan Desember. Oplahnya mencapai 50.000-80.000. Melalui koran inilah kerja kontak berlangsung begitu rupa. Akhir 1905, metode ini meningkatkan jumlah Boslhevik hingga 8.400 anggota. Dari semua pimpinan PBSDR kala itu yang memainkan peran utama selama Revolusi 1905 adalah Trotsky. Sewaktu berumur 26 tahun, dia sudah mampu memimpin serikat buruh dengan menjadi Presiden Soviet Petrograd. Capaian terbesarnya adalah diubahnya koran liberal Ruskaya Gazeta menjadi Nachalo sebagai koran buruh yang revolusioner dan militan. Dipimpin oleh Trotsky koran itu melejit oplahnya: dari 30.000 menjadi 100.000 hingga mencapai 500.000. Meski di atas kertas merupakan korannya Menshevik, tapi garis politik Nachalo dekat dengan Bolshevik: mulai dari kebutuhan akan perjuangan bersenjata, kepemimpinan proletariat, hingga soal kekuasaan Soviet. Martov mengakui hal tersebut. Berkali-kali ia mencoba menekan Trotsky dan berakhir gagal. Serupa dengan pengakuan Dan—selaku pimpinan Menshevik, dirinya membeberkan keluhanya lewat sebuah surat kepada Kautsky: ‘di Petrograd mereka menerbitkan sebuah koran, Nachalo, yang menggantikan Iskra, dan selama November dan Desember 1905 koran ini memuat pernyataan-pernyataan yang paling radikal, yang hampir-hampir tidak dapat dibedakan dari koran Bolshevik, Novaya Zeizn’. Setelah setahun sebelumnya pecah dari Menshevik; kecenderung Trotsky semakin mengarah ke Boslhevik. Walaupun dirinya memilih berada di luar kedua faksi itu, tapi dalam urusan fundamental pemikiran Trotsky sejalan dengan Bolshevisme: ‘secara politik saya berseberangan dengan kaum Menshevik dalam masalah fundamental. Dalam kecenderungan politik umum saya jauh lebih dekat dengan kaum Bolshevik. Tetapi saya menentang rezim Leninis karena saya belum memahami bahwa untuk bisa memenuhi gol revolusioner dibutuhkan sebuah partai yang tersentralir dan kokoh’.

Kebangkitan kembali gerakan buruh menajamkan persoalan faksionalisasi dan menuntut diakhiri secepatnya. Tahun 1910, seluruh perwakilan dari pelbagai tendensi PBSDR bertemu dan berusaha menanggalkan pelbagai perbedaan mereka. Hanya persatuan pelbagai tendensi yang beragam begitu mustahil bertahan lama. Segera setelah bertemu semua tendensi yang ada dalam PBSDR kembali saling berlawanan mulai dari perspektif, taktik dan tujuan yang berbeda. Setelah melalui pengalaman-pengalaman untuk menyatukan Bolshevik-Menshevik dan menuai kegagalan, maka Lenin beroleh kesimpulan kalau perpecahan merupakan keniscayaan. Sikap kaum oportunis dan likuidator justru menghambat gerakan buruh. Pada 1912, Bolshevik pecah sepenuhnya dengan Menshevik dan mendeklarasikan partai tersendiri. Dari perturangan faksional yang baru saja diselesaikan inilah kamerad-kameradnya Lenin beroleh pelajaran berharga. Bersama Lenin, mereka mulai memahami signifikansi untuk membangun partai revolusioner dengan pespektif, program, metode dan tradisi yang tepat. Begitulah segera setelah perpecahan penuh itulah Bolshevik semakin besar dan menguat. Pravda hadir sebagai koran terbarunya Bolshevik. Meluapnya mood pemberontakan di barisan tentara Baltik dan buruh Petrogard diarungi Bolshevik dengan seruan-seruan pemogokan. Selama tahun ini berlangung lebih dari 3000 pemogokan dengan keterlibatan 1.463.000 buruh—1.100.000 di antaranya membersamai pemogokan politik. Melancarkan pelbagai intervensi dan kerja-kerja politik di tengah-tengah massa membawa pertumbuhan pesat bagi partai. Pada 1913 Bolshevik mempunyai 22 sel buruh di Moskow, Pravda semakin menancapkan pengaruh, dan sampai September berhasil meningkatkan keanggotaan dari 30-50 ribu. Setahun ini 2 juta buruh telah melancarkan pemogokan—1.272.000 di antaranya merupakan pemogokan politik. Bolshevik lagi-lagi berhasil menjulurkan pengaruhnya. Kepopuleran Pravda dan ide-ide Bolshevik kemudian menghadirkan ketakutan di benak kelas penguasa. Meski berkali-kali koran Bolshevik dibredel namun termenangkannya kelas proletar dan kaum muda ke arah Marxisme terus menghidupkan Bolshevisme. Dalam Bolshevisme; Jalan menuju Revolusi Jilid II: 1906-1914, Alan Woods menceritakannya:

“Koran yang baru ini tidak luput dari perhatian polisi. Pravda harus menghadapi sensor, denda, dan penggerebekan polisi. Sekitar 17 persen dari semua edisi di sita pada 1912. Dari Mei-Juni 1913, ini mencapai 40 persen. Dan pada Juli-September, jumlah yang disita mencapai 80 persen! Untuk mengelabui polisi mereka mengubah nama korannya berkali-kali: Rabochaya Pravda, Pravda Truda, Severnaya Pravda, dst. Setiap kali pemerintah menggerebek koran Bolshevik, koran dengan judul baru muncul, dan permainan kucing-dan-tikus ini terus berlanjut. Selain masalah legalitas, juga ada masalah keuangan yang terus menghantui penerbitan koran. Usaha penggalangan dana dilakukan terus-menerus. Tidak seperti kaum Menshevik yang memperoleh dana mereka dari simpatisan kaya, kaum Bolshevik bangga kalau mereka menggalang mayoritas dana mereka dari recehan yang dikumpulkan oleh buruh sendiri. Dalam jangka panjang, ini adalah satu-satunya fondasi yang kokoh untuk mendanai partai revolusioner. Pada 1912, ada 620 kelompok buruh yang mengorganisir koleksi dana untuk koran, dan pada 1913, jumlah meningkat menjadi 2.181. Pravda didanai terutama dari ‘recehan buruh’.”

Dalam melancarkan kerja-kerja politik Bolshevik tidak saja memperlihatkan peran sentral dari Koran Marxis Nasional tetapi juga primernya persoalan finansial. Dengan keuangan revolusionerlah Lenin dan kamerad-kameradnya dapat membangun organisasi revolusioner profesional. Hanya dana ini berasal bukan dari kelas borjuis melainkan proletariat yang dikumpulkan sekitar koran revolusioner. Diorganisir melalui koran revolusioner maka persoalan finans bukan berpijakan tuntutan ekonomis atau persoalan organisasional tapi politis. Melalui Draf Panduan Membangun Finans Bolshevik (2022), PSR menegaskan kalau Partai Sosialis Revolusioner mendasarkan sumber keuangannya pertama-tama dari anggota yang mengumpulkan iuran sesuai dengan tingkat kesadaran politiknya dan tidak ditajuk pada nominalnya; dan selanjutnya anggota dan rakyat-pekerja yang bersimpati memberikan dana juang dan membeli koran dan literatur-literatur terbitan organisasi revolusioner. Begitulah Bolshevik membiayai kerja-kerja politiknya: membayar staff full-timer, kantor, produksi koran, booklet, buku, dan lain-lain. Maka keuangan bagi Bolshevisme bukanlah menyangkut reguleritas dan syarat keanggotaan semata, tapi terutama adalah politik bersperpektif Marxis Revolusioner. Bersama kerja-kerja politik dari kaum revolusioner profesionalnya Bolshevik; reori revolusioner semakin mencengkeram massa dan Bolshevik berdiri bukan saja sebagai organisasi politik tertinggi proletariat, melainkan pula sejak kelahirannya menjadi ‘universitas perjuangan kelas’ yang mendidik kaum muda dan kelas proletar. Sepanjang Kebangkitan Revolusioner (1912-1914), pengaruh dan kekuatan Bolshevik bertambah besar. Momen Perang Dunia I (1914-1918) pun tidak dilewatkannya. Sejak Mei-Maret 1914, Bolshevik secara bersunggguh-sungguh melaksanakan kerja-kerja politik dalam gerakan perempuan pekerja. Pada 23 Februari (8 Maret) 1913, Bolshevik mampu mengorganisir pertemuan Hari Perempuan Internasional (HPI) di sekitar Pravda. Begitulah Pravda secara reguler menerbitkan satu halaman khusus persoalan-persoalan perempuan. Memasuki 1914, HPI kemudian diperingati dengan demonstrasi berskala raksasa yang diorganisir oleh partai. Setelah Revolusi 1905, memang partai telah menjalin kontak dengan buruh-buruh perempuan dalam serikat-serikat buruh dan lingkar-lingkar studi buruh. Bolshevik lantas berhasil merekrut buruh-buruh tekstil perempuan yang mendirikan serikat-serikat buruh dengan aneka pekerja informal perempuan: pembantu rumah tangga, asisten toko, penjahi, pencuci, dan sebagainya. Tahun 1907, mereka dididik oleh Alexandra Kollontai dan kamerad-kamerad Lenin lainnya dengan mendirikan lingkar-lingkar studi di Petrograd yang memiliki seabrek kegiatan: membaca, menulis, panggung budaya dan tur museum. Memasuki 1913-1914, Bolshevik semakin intens melancarkan intervensi ke dalam serikat-serikat buruh dan mendorongnya melawan musuh-musuh kelasnya.

Selama 1914, sudah banyak serikat buruh yang berhasil dimenangkan ke arah Boslhevisme: 19 di Petrograd dan 13 di Moskow. Pada 9 Januari 1917, buruh-buruh sadar kelas, kaum muda dan perempuan, serta seluruh lapisan-lapisan tertindas lainnya berhasil diorganisir untuk memperingati Minggu Berdarah melalui pemogokan. Dalam menghadapi dampak-dampak dari Perang Dunia yang sedang bergejolak, maka rapat-rapat akbar dan demonstrasi pun berlanjut sampai Februari. Ketika Menshevik menyerukan massa-rakyat untuk berdemonstrasi dengan motif memberikan dukungan kepada Duma [badan perwakilan kapitalis-feodal] dan borjuis-liberal dalam tubuh pemerintahan; Bolshevik menggagalkan seruan-seruan kaum oportunis—yang mengajak berkolaborasi kelas—dengan pengorganisiran 90.000 buruh dari 58 pabrik dengan slogan ‘Gulingkan Pemerintahan’, ‘Hentikan Perang’, dan ‘Hidup Republik’. Tepat 23 Februari (8 Maret), HPI diperingati dengan pemogokan-pemogokan yang meledak menjadi revolusi. Dalam Revolusi Februari 1917, perempuan-perempuan pekerja—yang sebelumnya diorganisir di sekitar Pravda—turun ke jalan untuk menyulut api pemberontakan. Begitulah buruh-buruh perempuan dari pabrik tekstil di distrik Viborg, Petrograd menggencarkan agitasi yang berhasil menyeret sekitar 80.000 buruh dengan slogan Bolshevik: ‘Roti’, ‘Perdamaian’, ‘Kebebasan’, dan terutama ‘Gulingkan Pemerintahan’. Dua hari setelahnya berlangsung mobilisasi yang melibatkan pelajar, mahasiswa, pelayan toko, pembantu rumahan, pekerja kantoran, dan prajurit—mereka bergabung dengan buruh-buruh pabrik hingga kekuatannya melebih dari 240.000 massa. Inilah isi selebaran menggetarkan yang ditebarkan buruh-buruh perempuan mulai dari pabrik-pabrik, barak-barak, perkantoran, restoran, sekolah-sekolah, pemukiman, gang-gang dan jalan raya:

“Kamerad, kaum buruh perempuan, demi siapakah perang dilancarkan? … Perang dilancarkan demi emas, yang berkilauan di mata kaum kapitalis, yang menangguk untung darinya. Para menteri, pemilik penggilingan, dan bankir berharap memancing di air yang keruh. Mereka menjadi kaya pada masa perang. Sesudah perang, mereka tidak akan membayar pajak militer. Kaum buruh dan tanilah yang akan menanggung semua pengorbanan dan membayar semua biayanya. Kamerad-kamerad permpuan, akankah kita terus membiarkan hal ini dengan berdiam diri untuk waktu yang sangat lama, dan letupan amarah yang mendidih sesekali terhadap pedagang-pedagang kecil? Jelas, musibah rakyat bukan salah mereka. Mereka sendiri juga kacau. Pemerintahlah yang salah. Merekalah yang memulai perang ini dan tidak sanggup mengakhirinya. Negeri terkoyak-koyak. Salah pemerintah bila kalian kelaparan. Kaum kapitalis yang salah. Perang dilancarkan demi keuntungan mereka … Turunkan pemerintah penjahat beserta serombongan maling dan pembunuhnya. Hidup Perdamaian!”

Setelah kian lama dikerangkeng oleh kekuasaan autokratik dan ditambah keterlibatang Rusia dalam Perang Dunia I—maka kondisi hidup kelas pekerja semakin mengenaskan. Buruh perempuan adalah yang paling menderita di antara semuanya. Setelah sebanyak mungkin buruh laki-laki dipaksa ke medan pertempuran; maka perempuan-perempuan pekerjalah mengisi kekosongan di pelbagai pabrik. Perempuan pekerja akhirnya menanggung beban-ganda yang semakin berat. Mereka bukan saja dipekerjakan dengan waktu kerja yang panjang, tapi juga mendera kekurangan makanan dan kemelaratan di tengah kecamuk perang. Perang lebih-lebihnya menjadi sebuah peristiwa kolosal yang membongkar semua selubung kontradiksi kapitalisme: mulai dari ketiadakmanusiawian masyarakat berkelas, kemunafikan kelas borjuis, hingga kebangkrutan pemimpin-pemimpin reformis dan oportunis. Begitulah perkembangan kondisi selama Perang Dunia I. Selama perang berkecamuk eksploitasi dan penindasan terhadap massa-rakyat semakin tajam dan tanpa preseden sebelumnya. Kebijakan-kebijakan autokratik tidak mampu mengobati penderitaan dan luka massa yang menganga. Perang telah menyeret buruh dan tani menjadi umpan peluru. Sementara Karl Kautsky dan pemimpin-pemimpin Internasional Kedua justru mendukung peperangan imperialisme. Dalam situasi inilah proses radikalisasi massa bertambah luas dan agitasi-propaganda Pravda makin keras terdengar. Pada 25 Februari, 35 pemimpin serikat buruh terdorong bertemu di kantor Perserikatan Koperasi Buruh Petrograd. Di pertemuan itu Soviet yang spontan berdiri dalam Revolusi 1905 kembali didirikan secara sadar pada Revolusi Februari 1917. Lalu 26 Februari, Komite Bolshevik Petrograd ditangkap oleh polisi tsar. Mereka ditangkap karena sebelumnya telah terlibat aktif dalam pendirian Soviet. Segera setelah mereka ditangkap gelombang perlawanan semakin menderas. Ratusan ribu massa menyeberangi sungai beku untuk bergerak ke Nevsky dengan slogan-slogan dan lagu-lagu revolusioner yang diagitasikan Bolshevik. Pertempuran tebuka dengan aparat pun berlangsung. Terdidik di sekitar Pravda dan menjadi kaum yang paling tertindas selama perang—maka buruh perempuan tampil begitu militan di medan pertempuran. Mereka tidak takut berhadapan dan menerjang barisan aparatus represif tsar. Bahkan dengan kemampuan agitatif mereka mampu meluhkan tentara—yang juga berasal dari keluarga-keluarga petani dan proletar. Begitulah tentara-tentara kemudian menolak menembak, mulai membelot, dan bergabung menggulingkan tsar.

Memasuki 27 Februari, ibukota sepenuhnya diduduki buruh dan prajurit dengan 2 juta massa-rakyat yang mendukung penggulingan tsar. Kekuasaan autokratik secara praktis telah lengser tetapi Soviet-Soviet belum sepenuhnya mantap merebut kekuasaan. Walaupun terdapat kemajuan besar soal agitasi-propaganda tapi urusan kondolidasi organisasi Bolshevik belumlah cukup kuat dikarenakan perang yang menelan bunga-bunga terbaik proletar. Inilah mengapa mayoritas pemimpin Soviet terpilih berasal dari Menshevik dan Sosial Revolusioner (borjuis-borjuis kecil dengan tendensi Narodnisme). Kaum oportunis begitu ragu-ragu, tidak mempercayai kelas buruh dan kepemimpinan proletariat. Maka situasi obyektif yang matang untuk memulai transformasi sosialis ditunda dengan pembentukan Pemerintahan Sementara oleh kaum borjuis-liberal dan borjuis-kecil. Ini sejalan dengan teori Revolusi Dua-Tahap yang mereka anut: diperlukan revolusi demokratik-borjuis terlebih dahulu guna membangun kapitalisme dan setelah semuanya dirasa cukup (berdirinya republik-borjuis, reforma agraria, pemisahan agama dengan negara, parlemen dan pemilu demokratis, dan sebagainya) barulah menuju revolusi sosialis. Kebimbangan borjuis-liberal dan borjuis-kecil kontan menghadirkan kekuasaan ganda di seluruh Rusia. Dalam menghadapi Soviet; Pemerintahan Sementara  menebarkan aneka ilusi-demokrasi untuk melemahkan kekuasaan proletariat. Mereka menipu massa-rakyat melalui seabrek agitasi-propaganda oportunistik. Pada 1917, Trotsky menulis artikel tentang ‘Sandiwara Kekuasaan Ganda’ yang secara keras memblejeti oportunisme Menshevik dan Narodnik:

“Para intelektual borjuis-kecil setelah mereka diangkat oleh Soviet Delegasi Buruh dan Prajurit ke ketinggian yang tak pernah mereka duga, sangatlah takut akan tanggung jawab, dan oleh karenanya mereka dengan hormat menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan kapitalis-feodal yang lahir dari rahim Duma … Ketakutan organik borjui-kecil di hadapan kekuasaan tampak jelas di antara kaum populis. Di antara kaum Menshevik-patriot, ketakutan ini diungkapkan dengan doktrin bahwa kaum Sosialis tidak boleh mengambil tampuk kekuasaan di dalam revolusi borjuis…. karena itu munculah ‘Kekuasaan Ganda’, atau yang lebih tepat disebut ‘Keimpotenan Ganda’. Kaum borjuis meraih otoritas untuk menjaga ketertiban dan meneruskan perang. Akan tetapi, tanpa Soviet-Soviet pemerintahan borjuis tersebut tidak dapat memerintah. Hubungan antara Soviet dan Pemerintahan [Sementara] adalah hubungan yang dipenuhi dengan rasa setengah-percaya, dikombinasikan dengan ketakutan kalau-kalau kaum proletariat revolusioner tiba-tiba mengacaukan keadaan.” 

Mengerti kalau Soviet merupakan embrio dari Negara Sosialis tetapi Bolshevik lemah dalam Soviet, maka Lenin bergegas kembali dari pengasingannya. Tanggal 16 April 1917, Lenin tiba di Petrograd. Segera setelah kehadirannya partai kontan dipersenjatai ulang dengan program yang berbentuk Tesis April. Melalui program inilah Bolshevik diharuskan merebut pengaruh dalam Soviet dengan agitasi-propaganda yang  gigih, sistematis, dan sabar untuk memerangi oportunisme borjuis-liberal dan borjuis-kecil, mempersiapkan proletariat dalam merebut kekuasaan dan mengakhiri perang hingga memastikan seluruh kekuasaan berada di tangan Soviet; melaksanakan Kongres untuk membahas mengenai imperialism, perang imperialis, sikap terhadap Negara Sosialis, amandemen program minimum, perubahan nama Sosial-Demokrasi menjadi Komunis, dan mendorong pembentukan Internasional yang baru karena Partai Komunis Dunia telah dirembesi oportunisme. Sepakat dan ikut memperjuangkan program-program itulah Trotsky tampil sebagai dwitunggal dengan Lenin—yang berusaha memenangkan seluruh Kaum Bolshevik ke arah Tesis April—dan memastikan Partai Bolshevik berjuang memimpin Soviet dalam merebut kekuasaan sepenuhnya. Di penghujung April kerja-kerja agitasi mengenai perlunya pendirian milisi sipil sebagai nukleus bagi Soviet diterima. Pada 28 April,  Konferensi Soviet diorganisir dengan perwakilan 156 pabrik untuk mendirikan Garda Merah yang bertujuan: ‘melawan intrik kontra-revolusioner dari kelas berkuasa dan mempertahankan menggunakan senjata seluruh kemenangan kelas buruh’. Mulai 1-4 Mei, sekitar 100.000 buruh dan prajurit Petrograd melancarkan demonstrasi di bawah pimpinan Bolshevik, yang kemudian diikuti kota-kota lainnya dengan membawa slogan tegas: ‘Hentikan Perang!’ dan ‘Semua Kekuasaan untuk Soviet!’

Pada 3-24 Juni berlangsung Kongres Soviet Seluruh Rusia yang dihadiri sekitar seribu orang perwakilan yang berasal dari sekitar 53 Soviet Provinsi/Regional, 305 Soviet Lokal, dan 34 Garda Merah. Meski pengaruh Bolshevik bertambah tetapi dalam Soviet jumahnya masihlah minoritas—mereka mempunyai 105 perwakilan; sementara Sosial Revolusioner (285), Menshevik (248), dan gabungan partai-partai kecil (111). Dalam kongres inilah dibahas berkait sikap Soviet terhadap Pemerintah Sementara. Tsereteli mengusulkan Soviet mendukung Pemerintahan Sementara (Menshevik dan Sosia Revolusioner). Lenin kontan menegaskan kalau seluruh kekuasaan sudah saatnya diserahkan kepada Soviet. Hanya lemahnya perwakilan Bolshevik dalam pemungutan suara mengharuskan usulan Tserateli diterima dan Lenin ditolak oleh kongres. Meski di forum tertinggi ini Bolshevik tidak berdaya dan di bagian akar rumput tidak terima. Buruh-buruh Petrograd menyerukan secara tegas: Soviet jangan beri Pemerintahan Sementara kepercayaan secuilpun, semua kekuasaan harus diserahkan ke tangan Soviet, dan tinggakan koalisi untuk membersamai proletariat dalam merebut kekuasaan untuk Soviet. Maka dukungan mayoritas delegasi Kongres Soviet kepada Pemerintahan Sementara membuat buruh-buruh Petersbur resah dan marah. Mereka akhirnya merencanakan demonstrasi untuk segera menggulingkan Pemerintahan Sementara. Mendengar rencana pemberontakan maka secara cekatan Kongres Soviet menyerukan demonstrasi untuk menggagalkannya. Tetapi 400.000 buruh dan prajurit yang kemudian berdemonstrasi justru membawa slogan-slogan Bolshevik: ‘Gulingkan Sepuluh Menteri Kapitalis’, ‘Semua Kekuasaan untuk Soviet’, dan ‘Hentikan Perang’.

Tanggal 1 Juli, Pemerintahan Sementara semakin memperlihatkan kebangkrutannya dengan meluncurkan ofensif Rusia dalam Perang Dunia I dan penyebuan markas Anarkis yang mengakibatkan tewasnya pimpinan Resimen Senapan Mesin Pertama. Kontan pada hari itu juga buruh dan prajurit melancarkan demonstrasi berskala raksasa. Tiba 2 Juli, perpecahan mulai terlihat di tubuh kelas penguasa: beberapa menteri Kerensky mengundurkan dirinya. Dan, 3 Juli, prajurit-prajurit dari Resimen Senapan Mesin Pertama memberontak atas kematian pimpinannya—mereka ingin menangkap danmenghukum Kerensky. Pukul 4 Sore, Komite Sentral Bolshevik melangsungkan pertemuan dan memutuskan menahan gerakan pemberontakan ini. Tetapi malam harinya Komite Sentral bertemu dengan Komite Petrograd serta Garda Merah dan mendapatkan informasi kalau pemberontakan itu didukung oleh massa buruh di akar rumput yang ‘lebih kiri’ daripada Komite Sentral Bolshevik. Dengan pertimbangan inilah Boslhevik cekatan memutuskan terlibat untuk memberinya karakter terorganisir dan meminimalisir pertumpahan darah. Segera setelah pemberontakan meledak, maka buruh-buruh akar rumput merangsek memasuki pertemuan pemimpin-pemimpin Soviet dan memaksa mereka segera merebut kekuasaan dari Karensky. Melihat situasi yang semakin memanas maka kelas penguasa mulai memburu pimpinan-pimpinan Bolshevik. Tepat 4 Juli: Lenin, Trotsky, Kamenev, Zinoviev, dan Lunacharsky dibanduli perintah penangkapan. Lalu 5 Juli: Kantor Pravda dihancurkan, koran-koran dibakar, dan penerbitannya dibredel. Dalam kondisi inilah Garda Merah terjun untuk meminta Resimen Pasukan Mesin Pertama mengentikan demonstrasinya supaya prajurit kembali ke barak, buruh dapat bekerja, dan penggulingan Kerensky disiapkan secara seksama.

Sesudah Hari-Hari Juli yang begitu melelahkan dan menguras sumber daya kelas proletar, Bolshevik, dan Soviet—maka Karensky kembali menancapkan kekuasaannya yang hampir lepas. Demonstrasi Juli gagal memercikkan revolusi, namun berhasil digunakan kelas penguasa untuk melemahkan kepemimpinan proletariat. Bolshevik difitnah mencoba melancarkan kudeta. Dalam kondisi inilah Lenin terpaksa bersembunyi, Trotsky  ditangkap, sementara seluruh elemen yang bersimpati kepada partai itu ikut direpresi. Begitulah Karensky bereaksi. Bahkan untuk kembali menguatkan rezimnya dia menunjuk Jenderal Larv Kornilov—selaku figur otoriter yang disukai kelas borjuis dan aristokrat—sebagai Panglima Angakatn Bersenjata. Segera setelah Karnilov diangkat dia bekerjasama dengan gerombolan orang-orang kaya untuk menuntut pemberlakuan hukuman mati di medan perang dan bagi penduduk sipil, pelarangan resimen revolusioner, pertemuan garis depan, pemogokan di industri pertahanan dan rel kereta api, hingga pemberlakuan darurat militer. Inilah awal dari kudeta yang sesungguhnya. Kini bukan sekadar Soviet yang terancam, tapi juga kekuasaan Karensky pula. Pada 25 Agustus, Kornilov mulai menggerakan pasukannya menuju Petrograd untuk menumpas Soviet dan merebut kekuasaan Pemerintahan Sementara. Karensky sekelebat panik, gemetar, hingga mengemis bantuan Lenin, Trotsky dan kamerad-kameradnya. Bolshevik lantas menerapkan taktik Front Perjuangan—bersama Sosial Revolusioner dan Menshevik—dengan mempertahankan independensi kelas dan kebebasan agitasi-propaganda—untuk meningkatkan pengaruhnya—dengan melawan Kornilov sekaligus memblejeti kebangkrutan Pemerintahan Sementara. Taktik ini hanya dapat berpengaruh ketika organisasi revolusioner sudah mencampai jumlah tertentu dari total populasi di negerinya. Trotsky menjelaskan jika saja Bolshevik secara kuantitas adalah ‘minoritas tidak signifikan’ maka penerapan Front Perjuangan tidak memiliki ‘signifikansi secara praktek dan organisasional’: ‘kapanpun Partai Komunis telah menyusun kekuatan politik yang besar, terorganisir namun belum dalam ukuran yang menentukan; kapanpun partai secara organisasional merangkul, katakanlah, seperempat, sepertiga, atau bagian yang lebih besar lagi dari pelopor proletar yang terorganisir, maka partai tersebut dihadapkan dengan persoalan front persatuan dengan semua kejelasannya’. Tetapi sejak Agustus partai tumbuh dalam jumlah signifikan dengan kader-kader berkualitas. Ratusan agitator Bolshevik mendapat senjata dan dikerahkan untuk menginfiltrasi kamp Kornilov. Meski setelah Hari-Hari Juli perbendeharaan finans dan sirkulasi koran partai melemah tetapi Bolshevik memiliki berpengaruh. Hasilnya: Bolshevik bukan sekadar mampu mengalahkan Kornilov secara telak, tapi juga memenangkan pasukan-pasukan Kornilov untuk mendukung Soviet dengan menyebrang ke sisi revolusi dan menangkap komandan-komandan mereka. Dalam Draft Presentasi Revolusi Oktober (2022), PSR memberikan paparannya:

“Bagaimana mungkin dengan aparatus yang lemah ini dan sirkulasi pers partai yang dapat diabaikan ini, ide-ide dan slogan Bolshevisme dapat menguasai rakyat? Penjelasannya sangat sederhana: slogan-slogan yang sesuai dengan tuntutan tajam kelas dan zaman menciptakan ribuan saluran untuk diri mereka sendiri. Media revolusioner yang sangat panas adalah konduktor ide yang tinggi. Koran-koran Bolshevik dibacakan dengan lantang. Dibaca sampai berkeping-keping. Artikel-artikel yang paling penting dipelajari dengan hati, dibacakan, disalin, dan sedapat mungkin dicetak ulang. ‘Pabrik percetakan staff kami’, kata prajurit itu, Pereiko, ‘melakukan pelayanan yang luar biasa untuk revolusi. Berapa banyak artikel individu dari Pravda dicetak ulang oleh kami, dan berapa banyak brosur kecil, sangat dekat dan dapat dipahami oleh prajurit! Dan semua ini didistribusikan di bagian depan dengan bantuan pos udara, sepeda dan sepeda motor….’”

Segera setelah peran besar Bolshevik dalam menghadang dan memukul mundur Kornilov maka perimbangan kekuatan pun berubah. Bolshevik, prajurit dan buruh-buruh bersenjata sudah mengendalikan jalan-jalan ibukota. Lapisan-lapisan terbelakang kini bukan saja tidak lagi mempercayai Karensky karena relasinya dengan Kornilov, tapi juga menarik dukungannya dari Menshevik dan Sosial Revolusioner yang terus menopang kekuasaan Pemerintahan Sementara. Selama Agustus-Oktober 1917 berlangsung perubahan drastis dalam Soviet, serikat-serikat buruh, dan pelbagai organisasi massa di Rusia. Slogan ‘Semua Kekuasaan untuk Soviet’ kini telah diterima oleh mayoritas elemen yang bergabug dalam Soviet-Soviet Buruh, Petani, dan Prajurit. Sejak April-Oktober, keanggotaan Bolshevik meningkat dari 10.000 menjadi seperempat juta dengan 60 persennya merupakan buruh industri. Selama Juni, delegasi Bolshevik pada Kongres Soviet Seluruh Rusia cumalah 13 persen; Oktober delegasinya telah mencapai 51 persen. Dengan terorganisirnya kekuatan proletariat inilah Lenin menjadi yakin kalau syarat untuk kemenangan pemberontakan berhasil dicapai. Tetapi para pimpinan Bolshevik masih terpengaruh oleh kekalahan pemberontakan bersenjata di Hari-Hari Juli. Pada 1917, dirinya menulis surat untuk Komite Sentral yang membahas mengenai ‘Marxisme dan Insureksi’. Bahwa selama Hari-Hari Juli belum terdapat: (1) tidak terdapat dukungan kuat dari kelas proletar yang menjadi pelopor dari revolusi; (2) belum ada situasi revolusioner yang meluas ke seluruh wilayah; (3) tiadanya kegoyahan dan keretakan di antara kelas penguasa; (4) kurangnya amarah dan kebencian massa terhadap kelas penguasa. Kini situasi telah berubah. Syarat-syarat memenangkan insureksi berada di hadapan mata: (1) menangnya Bolshevik sebagai mayoritas di Soviet dengan popularitas dan dukungan besar dari massa-rakyat terhadap program partai; (2) tibanya situasi revolusioner yang meluas setelah kegagalan Kudeta Kornilov yang kemudian membawa kaum tani dan prajurit ke arah partai; (3) perpecahan internal rezim Karensky dengan menteri-menterinya dan juga angkatan bersenjatanya (4) runtuhnya kredibilitas Pemerintahan Sementara, Sosial Revolusioner dan Menshevik yang memicu kemuakkan dan kemarahan massa. Dalam Negara dan Revolusi (2016), Lenin tak sekadar menulis oportunisme tetapi juga menjelaskan signifikansi pemberontakan bersenjata bagi kelas buruh:

“Sepanjang hidupnya Marx berjuang melawan sosialisme borjuis-kecil ini—yang sekarang dihidupkan kembali di Rusia oleh partai-partai Sosial Revolusioner dan Menshevik. Marx dengan konsekuen menerapkan ajarannya tentang perjuangan kelas, sampai kepada ajaran mengenai kekuasaan politik, dan ajaran mengenai negara. Penggulingan kekuasaan borjuis hanya dapat diselesaikan oleh proletariat, sebagai kelas istimewa yang syarat-syarat ekonomi eksistensinya menyiapkannya untuk tugas ini dan melengkapinya dengan kemungkinan dan kekuatan untuk melakukannya … Hanya proletariatlah—disebabkan oleh peranan ekonomi yang dilakukannya dalam produksi besar-besaran—yang mampu menjadi pemimpin dari seluruh massa yang bekerja membanting tulang dan terhisap, yang oleh borjuasi dihisap, ditindas, dan dipukul tidak kurang malah sering kali lebih hebat daripada kaum proletariat, tetapi tidak mampu menjalankan perjuangan yang independen demi kebebasannya. Ajaran tentang perjuangan kelas, bila diterapkan oleh Marx pada masalah negara dan masalah revolusi sosialis tidak boleh tidak menjurus pada pengakuan atas kekuasaan politik proletariat, diktatornya, yaitu kekuasaan yang tidak dibagi dengan siapapun dan yang langsung bersandar pada kekuasaan massa bersenjata….”

Meski berlangsung perbedaan pendapat kapan dimulainya pemberontakan bersenjata, tetapi perdebatannya tak berlangsung lama. Situasi revolusioner yang berlangsung menuntut pengambilan keputusan yang segera. Pada 10 Oktober, Komite Sentral Bolshevik melangsungkan pertemmuan untuk membahasnya. 10 dari 12 anggota Komite Sentral mendukung usulan Lenin: ‘memulai perlawanan bersenjata’. Soviet Petrograd yang dipimpin Trotsky lantas mendirikan Komite Militer Revelousioner (KMR) dengan kedok menjaga ketertiban; padahal melancarkan pemberontakan. Tanggal 24 Oktober, Bolshevik memimpin KMR yang berhasil menggerakan semua pasukan buruh bersenjata untuk menggulingkan Pemerintahan Sementara. Buruh-buruh bersenjata merebut gudang-gudang senjata, pusat-pusat komunikasi, percetakan, kantor-kantor pos, stasiun kereta api, dan bank-bank pemerintah maupun swasta. Pada 25 Oktober 1917, Istana Musim Dingin pun diserbu Garda Merah dan rezim Karensky runtuh. Dalam pemberontakan ini tidak ada perlawanan yang berarti dan hampir tiada korban jiwa—cuma 18 orang ditangkap dan 2 lainnya tewas. Di tempat lain—ketika penggulingan kekuasaan berlangsung—Kongres Soviet sedang digelar dan Lenin menyatakan perpindahan kekuasaan kepada Soviet Deputi Buruh, Tani, dan Prajurit. Begitulah perebutan kekuasaan begitu mulus. Dalam Draf PSR tentang Masalah Kongres Soviet (2022) itu diberi penjelas. Ada dua alasan yang membuat perebutan kekuasaan dalam Revolusi Oktober tampil memukau. Pertama, teknik: persiapan teknis melalui KMR yang dipimpin Trotsky seperti sebuah peperangan: ‘pada waktu yang menentukan dan pada titik yang menentukan, dan kemudian memukul  dengan keras’. Begitulah KMR saat pembentukannya berusaha mengecoh dan ketika melancarkan aksinya mengambil waktu Kongres Soviet guna memberi kejutan dan manuver untuk menipu musuh-musuhnya. Hanya alasan utamanya bukanlah persoalan teknik tetapi politik: Sembilan persepuluh dari tugas pemberontakan telah dituntaskan sebelumnya—dengan memenangkan mayoritas besar di dalam Soviet-Soviet Buruh dan Prajurit.

Itulah mengapa segera setelah KMR menggulingkan Pemerintah Sementara, Lenin memproklamirkan kalau kekuasaan Rusia sekarang berada di tangan Deputi-Deputi Soviet Buruh, Prajurit dan Tani, dan menutupnya dengan seruan: ‘sekarang kita harus mulai membangun Negara Sosialis-Proletar di Rusia. Jayatalah Revolusi Sosialis Dunia!’ Sejak kejatuhan Pemerintahan Sementara yang sekaligus menandai kemenangan atas kekuasaan dalam Revolusi Oktober, Lenin menegaskan: Revolusi Oktober bukanlah revolusi yang bersifat nasional tetapi internasional. Paralel dengan Trotsky: bukan pula revolusi dua-tahap tapi permanen—dimulai dari satu negeri, disebarkan ke pelbagai negara, dan berakhir pada skala dunia. Pernyataan ini demikian menyiratkan kalau Revolusi Oktober tidaklah berisi revolusi borjuis-demokratik melainkan proletar-sosialis. Inilah kenapa kepemimpinan Revolusi Oktober berada di tangan proletariat yang didukung oleh kaum tani. Di bawah kekuasaan proletar maka transformasi yang berlangsung tidak lagi berbentuk revolusi-demokratik tapi revolusi sosialis. Begitulah Leon Trotsky—dalam Revolusi Permanen: Teori Revolusi Sosialis untuk Dunia Ketiga (2013)—menjelaskannya: ‘kediktatoran proletariat yang telah naik ke tampuk kekuasaan sebagai pemimpin revolusi demokratik [menggulingkan monarki-kapitalis dan mendirikan Negara buruh] secara tak terelakkan dan segera dihadapkan pada tugas-tugas, yang sesungguhnya terikat dengan sangat erat pada hak-hak kepemilikan pribadi borjuis. Revolusi demokratik berkembang secara langsung menjadi revolusi sosialis dan oleh karena itu menjadi sebuah Revolusi Permanen’:

“Penaklukan kekuasaan oleh proletariat belumlah menyelesaikan revolusi, namun hanya membukanya. Pembangunan sosialis hanya dapat dicapai di atas pondasi perjuangan kelas, dalam skala nasional dan internasional. Perjuangan ini, di bawah kondisi dominasi relasi-relasi kapital di panggung dunia, secara tak terelakkan akan mengakibatkan ledakan-ledakan, yaitu secara internal perang sipil dan secara eksternal perang revolusioner. Di sinilah letak karakter permanen dari revolusi sosialis, tidak peduli apakah negeri terbelakang, yang baru saja mencapai revolusi demokratik, atau sebuah negeri kapitalis tua yang sudah melalui periode demokrasi dan parlementerisme yang panjang. Penentuan revolusi sosialis di dalam batasan-batasan nasional adalah sesuatu yang tak terbayangkan. Salah satu alasan dasar dari krisis masyarakat borjuis adalah kenyataan bahwa kekuatan produksi yang diciptakan olehnya tidak dapat lagi didamaikan dengan kerangka negara-bangsa. Dari sini muncul di satu sisi perang-perang imperialis, di sisi lainnya utopia Uni Eropa borjuis…. Garis besar di atas yang menggambarkan perkembangan revolusi dunia menghilangkan persoalan mengenai negeri-negeri yang ‘sudah matang’ atau ‘belum matang’ untuk sosialisme yang dipaparkan oleh program Komintern hari ini dengan semangat klasifikasi akademik dan kaku. Selama kapitalisme telah menciptakan pasar dunia dan kekuatan-kekuatan produksi skala dunia, dia juga telah menyiapkan ekonomi dunia secara keseluruhan untuk transformasi sosialis.”

Segera setelah proletariat merebut kekuasaan dalam Revolusi Oktober; hak-hak rakyat rusia dideklarasikan oleh Soviet. Dalam Sepuluh Hari yang Mengguncang Dunia (2020), John Red mencatat poin-poin deklarasi tersebut: (1) para petani dibebaskan dari kekuasaan tanah, karena tidak ada lagi hak-hak tuan tanah atas tanah—telah dihapuskan; (2) prajurit darat dan laut dibebaskan dari kekuasaan para jenderal otokratik karena, sejak sekarang hingga seterusnya, jenderal-jenderal akan dipilih dan bisa diganti, diturunkan (recall); dan (3) buruh dibebaskan dari cambuk dan kesewenang-wenangan kapitalis, sejak sekarang, hingga seterusnya, akan diciptakan kontrol buruh atas kilang-kilang dan pabrik-pabrik. Semua yang hidup dan dapat hidup akan dibebaskan dari belenggu tidak membahagiakan. Sementara dalam persoalan kebangsaan Soviet menetapkan: (1) kesetaraan dan kedaulatan bagi semua rakyat Rusia; (2) hak semua rakyat untuk, secara bebas menentukan nasibnya sendiri, bahkan hingga pada titik berpisah untuk membentuk negara yang merdeka; (3) penghapusan semua bentuk keistimewaan semua bangsa, agama, juga pemulihan hak-hak mereka yang dihilangkan; dan (4) perkembangan bebas bagi semua kebangsaan minoritas. Di sisi lain Soviet juga menasionalisasi semua bank yang ada menjadi bank satu bank yang dikuasai buruh dan tani, menerbitkan prinsip pemilihan dan pengorganisasian wewenang dalam ketentaraan untuk melayani kehendak proletar dan rakyat tertindas, hingga penghapusan organisasi dan institusi kelas serta semua gelar-keistimewaan dalam masyarakat. 

Keputusan Pemerintahan Soviet memerangi hak-hak milik borjuis segera membangkitkan kontra-revolusi. Tanggal 8 November 1917, Kerensky bersekutu dengan jenderal pasukan Kossack yang didukung Kaledin, Kornilov, Kadet, Duma, Yunker dan Tentara Putih untuk melancarkan kudeta dan memulai perang sipil—di belakang mereka terdapat 21 negara imperialis yang memberikan dukungannya untuk segera merebut kekuasaan dari tangan Soviet. Menghadapi ancaman kontra-revolusi, Komite Militer Revolusioner mengorganisir milisi buruh di bawah pimpinan Trotsky. Sebagai Ketua Soviet Buruh dan Prajurit Petrograd dikeluarkanya perintah: (1) untuk mengeluarkan buruh sebanyak mungkin untuk menggali parit perlindungan, mendirikan barikade, dan memperkuat kawat beduri; (2) demi menyelesaikan tujuan tersebut secepatnya, di setiap tempat, pekerjaan lain harus dihentikan; (3) semua kawat biasa dan berduri yang tersedia harus dikumpulkan, dan semua peralatan lain harus dikerahkan, untuk menggali parit-parit perlindungan dan mendirikan barikade; (4) semua sumber daya yang tersedia harus dikerahkan; dan (5) pengawasan terhadap disiplin akan dilakukan dengan ketat. Setiap orang harus siaga untuk mendukung Tentara Revolusi dengan semua cara. Pada 12 November, pertempuran meledak di dekat Tsarkoye Selo dengan kekalahan bagi pasukan kontra-revolusionernya Karensky dan Kornilov. Di sisi lain Menshevik dan Sosial Revolusioner menyiasati pemilihan Majelis Konsituante untuk merenggut kekuasaan Soviet. Januari 1918 mereka melaksanakan pertemuan yang menyepakati pembubaran Soviet dan pemberontakan bersenjata. Ketika pemberontakannya digulirkan mereka tidak mendapatkan dukungan massa dan Komite Militer Revolusioner-nya Bolshevik secara mudah mengalahkannya. Tepat 25 Desember, Majelis Konstituante pun dibubarkan oleh Komite Eksekutif Pusat Soviet.

Meski telah berhasil mengatasi musuh-musuh dari dalam negeri; Soviet masih terancam oleh kepungan maha-dahsyat pasukan imperialisme di Perang Dunia I. Di Siberia saja, Soviet menghadapi armada tempur yang meraksasa: 73.000 Tentara Jepang, 60.000 Tentara Ceko, 8.000 Tentara Amerika Serikat, 2.500 Tentara Inggris, 1.500 Tentara Italia, dan 1.000 Tentara Perancis. Tahun 1918, Rusia kontan menjadi negeri yang terisolasi dan keselamatan Revolusi Oktober diletakkan pada perjuangan kelas proletariat di negeri-negeri lainnya. Begitulah pertolongan kepada Soviet datang dari gelombang revolusi yang menyapu Eropa. Bulan November, Revolusi Jerman meletus dan berhasil menggulingkan Dinasti Hohenzollern. Rate (Dewan Buruh) kemudian terbentuk dan mengakhiri keterlibatan Jerman dalam Perang Dunia i. Di Inggris, buruh-buruh pelabuhan London tidak saja melakukan pemogokan dan menolak bongkar-muat di atas kapal pengangkut amunusi Tentara Polandia ke Rusia, tapi juga secara sengit memprotes keterlibatan Inggris di Perang Dunia I. Di Pelabuhan Laut Hitam dan Odessa, armada laut dan perwira-perwira rendahan Prancis memberontak dan menolak melanjutkan peperangan. Berkat solidaritas dari prajurit dan proletariat dunia, perang imperialisme pun dapat dihentikan dan Revolusi Oktober terselamatkan. Tetapi akibat perang sipil dan terisolasinya Rusia oleh kepungan negara-negara imperialis telah mengganggu perencanaan ekonomi negara buruh.

Dalam mempertahankan kekuasaan Soviet dari kudeta dan perang imperialis, perekonomian diarahkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan di medan tempur. Sepanjang 1918-1921, Komunisme Militer diterapkan guna mendukung industri perang dan menggunakan cadangan-cadangan ekonomi masa lalu untuk kepentingan militer dan menjaga kelangsungan kehidupan kota-kota. Pemerintahan Soviet mengirim datasemen buruh bersenjata ke desa-desa untuk mengambil gandum petani—pemilik-pemiliki kecil ini marah dan bentuk protesnya adalah mengurangi produksinya. Pada 1922, total panen gandum turun dari 36,3 juta ton menjadi 22,8 juta ton. Produksi industri baja pun merosot tajam dari 4,2 juta jadi 183 ribu ton. Di sampingnya perdagangan luar negeri anjlok dari 2,9 milyar rubel menuju 30 juta rubel. Dalam kondisi inilah pendapatan nasional kurang dari sepertiga angka pada 1913, ransum harian buruh cumalah 60 gram roti dan sedikit kentang beku, dan 36 juta petani dihantam kelaparan parah. Kekuatan produktif runtuh dan Soviet berada dalam bahaya. Dua pemberontakan petani yang bertendensi anarkis meledak: Antonov di Tambov (1920) dan Makhno di Ukraina (1921). Guna keluar dari situasi melemahkan maka Soviet mulai menerapkan Kebijakan Ekonomi Baru: bermotif meredam pembangkangan petani menyeret negara buruh memberikan konsesi-konsesi kepada petani berkait kebolehan berkait pengembangan pertanian individu. Hasilnya adalah kebangkitan ekonomi terbatas dengan cacat bawaan: membebaskan jutaan petani pemilik kecil untuk menjual surplus makanannya dan memperkaya pedagang-pedagang yang menjadi kaum perantara di pasar terbuka. Norma-norma sosial borjuis dan borjuis-kecil muncul kembali dan segera mendominasi. Di tengah kemiskinan yang sudah menjadi umum dan terbunuhnya bunga-bungan terbaik proletariat selama peperangan, maka partai mulai dirembesi tendensi-tendensi kelas-asing dan terdegenerasi bersama negara buruh yang terisolasi. Bangkitnya kasta-birokrasi dan melenggangnya Stalinisme merupakan efek terburuknya. Kasta birokrasi hadir dari kemerosotan moral yang disebabkan oleh persaingan untuk mempertahankan hidup di tengah kemelaratan akibat perang-perang sebelumnya. Dalam Revolusi yang Dikhianati; Sebab-sebab Kebangkrutan Uni Soviet (2010), Trotsky menjelaskan bahwa setelah meninggalnya Lenin, percepatan degenerasi partai dilakukan kasta birokrasi dengan membuka gerbang partai dan sengaja tak memperhatikan perkembangan peristiwa. Dengan mengumumkan ‘rekrutmen wajib Leninis’, maka ‘garda depan revolusi’ dilarutkan di tengah banjirnya anggota baru yang tidak memiliki pengalaman dan kemandirian tetapi menganut ‘kebiasaan lama’ dan tunduk pada ‘otoritas kekuasaan’. Kasta birokrasi menemukan Stalin sebagai perwakilan yang mampu menjamin kebutuhannya: ‘prestise dia telah lama menjadi anggota Bolshevik, karakter yang kuat, visi yang sempit, dan ikatan erat dengan mesin politik yang menjadi satu-satunya sumber pengaruhnya’. Begitulah Stalin sangat disukai kasta birokrasi yang sedang tumbuh. Stalinisme mengganti Sentralisme-Demokrasi dengan Sentralisme-Birokrasi; Revolusi Sosialis Dunia (Internasional) dengan Revolusi di Satu Negeri (Nasional); Independensi Kelas dengan Kolaborasi Kelas; Bolshevisme (Kepemimpinan Proletariat) dengan Frontisme (Front Demokratik atau Kiri); Kediktatoran Proletariat (Soviet) dengan Kediktatoran Borjuis-Kecil (Birokrasi):

“Kasta penguasa ini segera menyingkapkan ide-idenya, perasaan-perasaannya, dan yang terutama, kepentingannya. Mayoritas besar generasi tua dari jajaran birokrasi saat ini berdiri berseberangan dengan kita selama berlangsungnya Revolusi Oktober … Atau setidaknya berpangku tangan selama pertarungan berlangsung. Mereka yang pada saat ini menghuni jajaran birokrasi, yang ada di kubu Bolshevik saat hari-hari Oktober, sebagian besar tidak memainkan peran yang penting. Mengenai para birokrat muda, mereka dididik dan dipilih oleh para tetua mereka, sering kali anak-anak mereka sendiri. Orang-orang ini tidak akan berhasil jika disuruh melancarkan Revolusi Oktober, tetapi mereka sangat cocok untuk mengeksploitasi kemenangan revolusi itu…. Partai Bolshevik menyiapkan dan memastikan kemenangan Revolusi Oktober. Mereka juga mendirikan negara Soviet, memasoknya dengan sebuah kerangka yang kokoh. Degenerasi Partai Bolshevik merupakan penyebab dan konsekuensi dari birokratisasi negara…. Rezim internal Partai Bolshevik dicirikan oleh metode sentralisme demokratik. Kombinasi dari dua konsep ini, demokrasi dan sentralisme, sama sekali tidak kontradiktif. Partai bukan hanya menjaga agar batasannya selalu didefinisikan dengan tegas, tetapi juga menjamin siapapun yang berada dalam batasan ini akan menikmati hak untuk ikut menikmati kebijakan partai. Kebebasan mengkritik dan perjuangan intelektual adalah kandungan mutlak dari demokrasi partai…. Kemampuan kepemimpinan Bolshevik untuk melihat jauh ke depan sering kali memungkinkan diperlukannya konflik dan dipersingkatnya pertarungan faksional, tetapi tidak lebih dari itu. Komite Sentral mengandalkan dukungan demokratik yang membara ini. Dari sinilah mereka mendapatkan keberanian untuk mengambil keputusan dan memberikan perintah. Ketepatan dari kepemimpinan dalam semua tahapan yang genting memberinya otoritas yang tinggi yang merupakan kapital moral tak ternilai dari sentralisme…. Bersama dengan teori sosialisme di satu negeri, birokrasi juga mengedarkan sebuah teori bahwa, dalam Bolshevisme, komite sentral adalah segalanya dan partai tidak ada artinya … Sentralisme demokrasi menyerah pada sentralisme birokratik. Dalam aparatus partai itu sendiri kini terjadi kocok-ulang radikal atas personilnya, dari puncak ke dasar. Mereka mendeklarasikan bahwa seorang Bolshevik yang terpuji adalah yang patuh. Di bawah kedok pertarungan melawan Kelompok Oposisi [Trotsky dan kamerad-kameradnya], terjadilah sebuah penyingkiran besar-besaran kaum revolusionis yang digantikan dengan kaum Chinovnik [aparatus profesional pemerintah]. Sejarah partai Boslhevik menjadi sejarah pembusukan yang berlangsung cepat.”

Catatan Kaki:

Kala itu Sosial-Demokrasi masih diasosiasikan dengan Marxisme dan setiap kaum Marxis menyebut juga diri mereka sebagai kaum Sosial-Demokrat. Hanya pada 1914, ketika organisasi internasional Sosial-Demokrasi (Internasional Kedua) mengkhianati perjuangan kelas buruh dengan mendukung Perang Dunia I maka nama Sosial-Demokrasi telah ternodai. Sejak saat itu Sosial-Demokrasi terasosiasikan dengan reformisme dan Sosial-Demokrasi revolusioner diidentikan dengan Marxisme.

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai