Kategori
Sejarah

Bolshevisme: Pelajaran Memenangkan Revolusi Oktober

“…Bolshevisme lahir … atas dasar yang paling teguh dari teori Marxisme. Dan kebenaran teori revolusioner ini—dan hanya inilah satu-satunya—telah dibuktikan tidak hanya oleh pengalaman internasional selama seluruh abad ke-19, tetapi terutama sekali oleh pengalaman kesesatan-kesesatan dan kebimbangan-kebimbangan, kesalahan-kesalahan dan kekecewaan-kekecewaan dari pikiran revolusioner di Rusia.… Rusia memperoleh Marxisme, sebagai satu-satunya teori revolusioner yang benar, dengan melalui penderitaan yang sesungguhnya, dengan mengalami siksaan dan pengorbanan yang tak ada taranya, heroisme revolusioner yang tak ada bandingnya, energi yang luar biasa, penyelidikan dengan sepenuh tenaga, studi, percobaan praktek, kekecewaan, ujian dan perbandingan dengan pengalaman di Eropa selama setengah abad.” (Vladimir Ilych Ulyanov—Lenin)

“Tanpa teori revolusioner tidak akan ada gerakan revolusioner. Gagasan ini tidak dapat dilebih-lebihkan di saat ajaran oportunisme yang meluas bersandingan dengan penyembahan atas bentuk aktivitas politik yang paling sempit.… Peran pejuang garda depan hanya dapat dipenuhi oleh sebuah partai yang dipandu oleh teori yang paling maju!” (V.I. Lenin)

“Kemajuan historis umat manusia secara keseluruhan dapat diringkas sebagai serangkaian kemenangan kesadaran manusia selangkah-demi-selangkah atas kekuatan-kekuatan buta yang bisa ditemui dalam alam, masyarakat, bahkan dalam diri manusia itu sendiri … Revolusi Oktober adalah yang pertama yang menumbangkan ketidaksadaran yang mengakar ini. Sistem Soviet bercita-cita membangun masyarakat yang berdasarkan tujuan dan rencana, di mana sampai hari ini hanya akumulasi konsekuensi yang berkuasa.” (Lev Davidovich Bronstein—Leon Trotsky)

Lebih dari seabad yang lalu (25 Oktober 1917—7 November 1917 dalam penanggalan baru: Gregorian), semua negeri terperangah oleh kedahsyatan revolusi proletariat yang mencapai kemenangannya di negeri kapitalis terbelakang: Rusia Raya. Kaum terhisap dan tertindas di seluruh dunia mengagumi perjuangan revolusioner kaum buruh dan tani Rusia. Di seluruh negeri, setiap laki-laki dan perempuan pekerja yang sedang berjuang memandang Revolusi Oktober sebagai bagian dari perjuangan mereka sendiri. Semua mereka terilhami dan bersimpati terhadap revolusi. Dalam proses perkembangan revolusi—kemajuan maupun kemundurannya, keberhasilan maupun kegagalannya—membangkitkan minat untuk mempelajari dan memahaminya. Rusia yang sebelumnya asing dan tidak terkenali, kini didekati sebagai sumber inspirasi bagi perjuangan massa. Semua yang terhisap dan tertindas, miskin dan menderita, dalam sistem sosial, politik dan moral yang tidak manusiawi terilhami untuk mendirikan gerakan revolusioner yang serupa—untuk merebut kekuasaan dari tangan kelas penguasa yang rakus dan jahat, berperut buncit dan berhati iblis.

Keberhasilan menggulingkan kapitalisme ditandai dengan berdirinya Republik Sosialis pertama di dunia: sebuah negara buruh yang dibangun di atas reruntuhan monarki absolut—kekuasaan masa lalu yang dipertahankan oleh mesin birokrasi raksasa yang bersekutu dengan kekuatan imperialis. Negara buruh, kekuasaan proletariat yang terorganisir dan beraliansi dengan kaum tani, secara langsung ditopang oleh milisi rakyat yang dipersenjatai sebagai perwujudan utamanya. Segera setelah pemerintahan Soviet Buruh dan Tani-Prajurit menancapkan pengaruhnya, tentara dan polisi reguler dibubarkan untuk digantikan dengan massa bersenjata yang bertugas mempertahankan revolusi dari segala ancaman elemen kontra-revolusi. Demokrasi buruh ditegakkan dengan senjata dari massa yang tak bernama. Kebebasan pers, berkespresi, berserikat dan berkumpul yang sebelumnya dirantai menjadi terbuka untuk rakyat pekerja. Sistem multi-partai diakui dalam Soviet buruh dan tani. Tidak ada pemisahan wewenang dan tanggung jawab antara eksekutif dan legislatif—semuanya tersatukan dalam sistem Soviet. Tidak ada jabatan tetap dan yang dapat diwariskan secara gelap. Semua laki-laki dan perembuan berkesempatan sama untuk menjadi pejabat. Kongres Soviet, Komite Eksekutif, dan Dewan Komisar Rakyat berdiri di atas pemilihan-pemilihan umum yang bebas dan demokratis dengan semua perwakilan dapat segera diganti apabila dikehendaki rakyat Soviet. Bahkan gaji mereka yang memegang jabatan pemerintahan tidak boleh melebihi pekerja-pekerja terampil—kekuasaan dijalankan bukan untuk melayani minoritas tetapi mayoritas. 

Dalam Perang Dunia I, pemerintahan buruh dan tani menarik semua prajurit yang sebelumnya dijadikan umpan meriam oleh rezim borjuasi. Soviet menarik-diri dari peperangan dan mengakhiri perang imperialis tanpa kesepakatan ganti-rugi dan perjanjian rahasia. Dalam urusan tani, Soviet mengesahkan reforma agrarian dengan ekspropriasi tuan-tanah untuk diredistribusi dan dikolektivisasi tani miskin dan buruh tani. Dalam masalah kebangsaan, Soviet mendeklarasikan hak bangsa-bangsa kecil dan tertindas untuk menentukan nasibnya sendiri. Dalam pertanyaan spiritual, Soviet memisahkan agama dan negara dengan mengakhiri privilege sosial-politik dari Gereja Ortodoks Rusia dan meleluasakan setiap orang berkeyakinan dan menetapkan semua kepercayaan keagamaan sebagai urusan pribadi. Negara buruh yang beraliansi dengan kaum tani lebih jauh menasionalisasi semua bank dalam negeri; memulai kontrol buruh atas industri; menyediakan lapangan pekerjaan dan jaminan kebutuhan hidup bagi tunawisma, lansia, dan difabel; mendirikan layananan kesehatan, pendidikan, dan perumahan gratis; meningkatkan pengembangan sains, seni dan budaya revolusioner; menyosialisasikan pekerjaan domestik menjadi pekerjaan publik melalui pendirian tempat perawatan anak, taman kanak-kanak, binatu dan dapur umum; menghapuskan seluruh aturan kriminalisasi LGBT dan diskriminasi perempuan, membebaskan orientasi seksual sebagai sesuatu yang alamiah dan privat, melegalkan aborsi dan hubungan seksual di luar nikah sebagai bagian dari kesehatan publik, menjamin cuti-hamil yang tetap mendapatkan upah baik sebelum maupun sesudah melahirkan, menghapus konsep ‘anak haram’, menghukum praktek kekerasan dan pelecehan seksual dalam bentuk apapun. 

Sejarah Revolusi Oktober merupakan peninggalan historis yang sangat penting untuk dipelajari dan dipahami. Tidak saja karena capaian-capaiannya tetapi juga pengaruhnya yang memberi ilham dan menjadi sumber inspirasi. Keberhasilannya berpengaruh besar atas kebangkitan gerakan rakyat dunia. Kaum buruh dan tani miskin yang selama ini dihisap, dihina, dan diremehkan membuktikan ketajaman kuku dan taringnya dalam menggulingkan borjuasi dan menjalankan pemerintahannya sendiri. Revolusi yang menang memancarkan sinar harapan ke kelopak mata yang buta dan mengalirkan lagu-lagu pembebasan ke gendang telinga yang tuli. Bahwa tak bisa lagi gerombolan penghisap terus berkuasa dan tak bisa terus massa terhisap membiarkan kekuasaan mereka bertahan lama. Perjuangan berkeras kepala dan perlawanan tanpa belas-kasihan dari rakyat pekerja telah membuktikan kalau kapitalisme dapat digulingkan. Pengalaman Rusia, sebuah negeri yang terbelakang, namun terhubung secara organik dengan pengalaman-pengalaman pekerja di negeri-negeri maju dan seluruh dunia, menunjukkan bagaimana kaum buruh yang beraliansi dengan kaum tani, di bawah kepemimpinan revolusioner, mampu merebut kekuasaan lebih dulu daripada kelas pekerja di negeri maju. Pada 1918, kabar kemenangan Revolusi Proletariat Rusia tak sekadar menambah kepercayaan diri Partai Sosialis Amerika melainkan pula meningkatkan jumlah keanggotaannya. Para penulis, editor, dan artis-artis di Amerika dan Eropa bahkan mengambil banyak pelajaran dari perkembangan kebudayaan di Republik Sosialis Uni Soviet. Di negeri-negeri jajahan, rakyat pekerja dari bangsa-bangsa tertindas melancarkan gerakan revolusioner dengan menyerap pelajaran berharga dari perjuangan buruh dan tani Rusia. Tahun 1920—Komunis Internasional (Komintern), yang dipandu oleh kepemimpinan Bolshevik-Leninis, menggelar Kongres Baku yang dihadiri oleh 25 perwakilan negeri koloni dan semi-koloni, mendeklarasikan perjuangan komunis sebagai perlawanan sengit bukan sekadar terhadap kolonialisme tapi juga kapitalisme-imperialisme. Di sini gerakan pembebasan nasional disubordinasi di bawah perjuangan kelas buruh untuk revolusi dunia. Dalam pertemuan politik rakyat dari Timur ini tercetus sepenggal manifesto yang menggugah:

“Di sini, di Baku, di perbatasan Eropa dan Asia, kami perwakilan puluhan juta petani dan buruh Asia serta Afrika dalam pemberontakan menunjukan kepada dunia luka kami, menunjukan kepada dunia luka bekas cambukan di punggung kami, tanda yang ditinggalkan oleh rantai di tangan dan kaki kami. Dan kami mengangkat belati, revolver dan pedang kami dan bersumpah di hadapan dunia bahwa kami akan menggunakan senjata ini bukan untuk memerangi satu sama lain namun untuk melawan kapitalis. Percaya bahwa kalian, buruh Eropa dan Asia, akan bersatu dengan kami di bawah bendera Internasional Komunis untuk perjuangan bersama, untuk kemenangan bersama.”

Revolusi proletar Rusia bersinar sebagai cahaya bintang merah dari Timur. Kobaran apinya membara memenuhi seluruh cakrawala dengan ledakannya yang hebat. Capaian-capaian dan pengaruhnya menginspirasi dan membuat rakyat pekerja di Dunia Ketiga takjub. Sepanjang abad ke-20, kelas proletar dan kaum muda yang paling sadar-kelas, paling jujur dan tulus berjuang untuk pembebasan umat manusia bergerak ke arah politik revolusioner Bolshevisme-Leninisme. Di Hindia, Tiongkok, Jepang, Korea, Turki, Palestina, Persia, Mesir, Syiria, India, Afghanistan, Iran, dan negeri-negeri lainnya mulai membangun Partai Komunis. Sebuah organisasi politik tertinggi proletar yang memiliki peran signifikan dalam keberhasilan Revolusi Oktober. Tanpa kehadiran Bolshevik (Partai Komunis Uni Soviet), kemenangan kediktatoran buruh yang beraliansi dengan tani menjadi tak terpikir; tanpa partai revolusioner yang mampu mengarahkan revolusi proletar, revolusi itu sendiri menjadi mustahil. Sebuah perubahan mandasar dalam tatanan masyarakat tidak saja cukup dengan kematangan kondisi obyektif (bentrokan tenaga produktif dengan hubungan produksi yang mendorong ke arah krisis masyakarat berkelas—perpecahan di antara kelas-kelas penindas, kebangkrutan negara-bangsa, hingga ketidakterimaan kelas tertindas untuk diperintah dengan cara-cara lama), tapi juga membutuhkan kesiapan dari faktor subyektif (kesadaran, kehendak, militansi dan disiplin revolusioner untuk berjuang sampai titik penghabisan; organisasi tersentral, yang secara dialektis menghubungkan garda massa dan garda pelopor, guna mengonsentrasikan kekuatan untuk bertindak secara solid dan terkoordinasi; kepemimpinan revolusioner yang mampu mengorganisir pertempuran dengan perspektif, program, metode dan tradisi perjuangan kelas yang tepat). Boslhevisme-Leninisme adalah ekspresi sadar dan terorganisir bagi perjuangan kelas revolusioner proletariat, yang secara organik menggabungkan setiap pidato dan tulisan para revolusioner proletar dengan roda gigi, pedang dan peluru massa revolusioner pekerja, yang dengan orientasi yang jelas dan kebijakan yang benar menghubungkan lapisan lapisan terdepan dan lapisan terbelakang di bawah kepemimpinan partai revolusioner. Dalam “The Lessons of October Revolution”, Trotsky menulis:

“Pada 1917, Rusia memasuki krisis sosial yang terbesar. Berdasarkan sebuah pengalaman sejarah, kita bisa mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa bila pada saat itu tidak ada partai Bolshevik maka energi revolusioner rakyat yang begitu besar itu akan tersia-siakan dalam ledakan-ledakan sporadis, dan gejolak-gejolak besar itu akan berakhir dengan kediktatoran kontra-revolusioner yang paling kejam. Perjuangan kelas adalah penggerak utama sejarah. Ia membutuhkan program yang tepat, partai yang kokoh, kepemimpinan yang dapat dipercaya dan berani—bukan pahlawan-pahlawan dalam ruang gambar yang penuh dengan frase-frase revolusioner, tetapi kaum revolusioner yang siap berjuang sampai akhir. Inilah pelajaran utama Revolusi Oktober…. Bolshevisme bukanlah sebuah doktrin (yakni, sekadar sebuah doktrin) tetapi adalah sebuah sistem pelatihan revolusioner untuk pemberontakan proletariat. Apa artinya mem-Bolshevik-kan Partai Komunis? Ini berarti melatih mereka dan menyeleksi jajaran kepemimpinannya supaya partai-partai ini tidak menyimpang ketika momen Revolusi Oktober mereka tiba.”

Sebelum revolusi merubah segalanya, Rusia merupakan negeri feodal yang disanggah oleh kekuasaan tsar dan modal-asing. Ketika di Belanda, Inggris, Amerika, dan Prancis feodalisme sudah dihapuskan dalam revolusi borjuis-demokratik; Rusia masih merupakan negeri di mana monarki absolute berkuasa tapi dengan menancapkan eksploitasi dan penindasan yang paling bar-bar di bawah tekanan imperialis Eropa Barat. Perhambaan dan pembatasan membandul secara keji terhadap mayoritas petani dan bangsa tertindas—Finlandia, Lituania, Ukraina Polandia, dan lain-lain. Autokrasi yang dibenci menghambat perkembangan kelas-kelas sosial masyarakat, terutama merampas produksi-produksi penting dari kaum tani. Gerakan-gerakan perlawanan di Rusia dibuka dengan perjuangan massa borjuis-kecil yang tidak terorganisir dan bimbang ini. Mereka menghadapi tsarisme yang menanggalkan kebebasan sipil, berorganisasi, dan hak-hak ekonomi-politik secara umum. Sepanjang 1855-1860 tercatat 400 pemberontakan tani dan 20 tahun sebelumnya (1854-35) praktek terorisme individual (aksi langsung—propaganda melalui perbuatan)—melawan elemen-elemen yang menjadi bagian kelas penguasa—telah beronggokan korbannya: 230 tuan tanah dan pengacara tsar tewas terbunuh. Selama 1857-60, aksi-aksi pemberontakan berkeras kepala dan terorisme individual kembali menelan 54 nyawa tuan tanah dan pejabat-pejabat pemerintah. Sejarah Rusia Raya diselimuti pembangkangan dan darah. Menghadapi gerakan yang membabi-buta—yang diperparah oleh kekalahan Rusia dalam Perang Krimea—mendorong tsar menggulirkan reformasi-palsu. Pada 1861, tsar mengeluarkan kebijakan penghapusan perhambaan sebagai manuver ‘reforma agraria’ dari atas untuk meredam amuk massa dari bawah. Itu mengalihkan tani-hamba dari satu tuan-tanah ke tuan-tanah lainnya, meningkatkan kepemilikan tuan-tuan-tanah, dan membanduli tani-tani hamba dengan pajak yang menggila.

Kebijakan emansipasi-ilutif memperdalam kemelaratan, memperluas kesenjangan, dan memperuncing kesewenang-wenangan. Kemarahan dan kekacauan yang menjalar bertambah besar dan tidak terkendalikan. Dalam proses pembusukan feodalisme yang semakin cepat dan perkembangan kapitalisme yang begitu terlambat, borjuis-kecil terkondisikan menjadi kekuatan sosial yang dominan dan mudah teradikalisasi oleh ledakan peristiwa. Intelektual-intelektual borjuis-kecil tampil gagah berani menggerogoti tsarisme. Meskipun berlimpah jumlahnya tapi bobot sosialnya lemah sesuai dengan posisinya di basis produksi: eksis dengan alat produksi berskala kecil dan tidak memegang kendali dalam corak produksi yang mulai mendominasi. Berdasarkan kepemilikan pribadi dalam skala kecil, rute kesadaran mereka diam-diam menjadikan borjuis besar sebagai inspirasi. Politik borjuis-kecil tidak pernah bisa memegang teguh prinsip-prinsip perjuangan kelas yang sejati. Mereka mengganti kebutuhan-kebutuhan akan teori, program, metode dan tradisi perjuangan kelas dengan sentimen-sentimen pribadi, penekanan terhadap subyektivitas dan spontanitas. Namun menajamnya antagonisme kelas menyeret mereka dalam medan perjuangan kelas melawan kekuasaan autokratik. Setelah 12 bulan reforma picik menghadapi penentangan dari kaum radikal, tsar meluncurkan akrobat reaksi: sekolah-sekolah dilarang keras mengajarkan ilmu alam dan sejarah karena berpotensi subversif, dan dicekoki tata-bahasa (bahasa Latin 47 jam per minggu dan bahasa Yunani 36 jam per minggu).

Penderitaan hidup di bawah bengisnya despotisme mempersengit perlawanan dari para pemberontak borjuis-kecil. Pada 1874, angkatan muda Narodnik tampil sebagai gerakan radikal yang paling meresahkan di puncak-puncak bukit Kaukasus dan Istana Musim Dingin. Mereka berani dan militan, tidak takut kematian di tiang gantungan yang suram dan ruang bawah tanah yang dingin. Jika ada yang kurang—itu adalah pandangan dan sikap yang benar untuk melihat dan mendengarkan dengan baik suara sayup-sayup yang datang dari pabrik-pabrik, stasiun kereta dan pelabuhan yang sedang bermekaran.. Mereka menyimpulkan kalau buruh Odesa yang masih berjumlah sedikit itu jauh dari sosialisme, dan oleh karenanya, memancang taktik ‘turun ke bawah’ untuk mengobarkan amarah dan mengorganisir mayoritas kaum tani. Aktivtas politik ini berlandaskan keyakinan kalau feodalisme bisa langsung menuju sosialisme tanpa melewati jalan penggulingan kapitalisme. Mikhail Bakunin adalah salah satu teoretikus Anarkisme yang berhasil menanam pengaruh. Meneguk doktrin Bakunin yang bermetodekan dialektika-mekanik, para pemuda radikal terjun ke desa-desa untuk membangun basis dan menyebarkan tinjauan vulgar: mir’, komune desa itu, adalah embrio dari masyarakat sosialis. Mereka tidak mengerti kalau transformasi sosialis tak bisa diintrodusir di desa dan petani bukanlah kelas sosial utama dalam menegakkan sosialisme. Kebenaran dalam kegagalan-kegagalan praktikal mereka, pada akhirnya, membuktikan kekacauan metodik mereka yang mengalir dari teori Bakuninis yang keliru. Dalam perkembangannya: kesulitan mengorganisir petani yang terpencar-pencar, menghadapi gelombang penangkapan brutalnya tsar, dan kekalutan mengarungi avonturisme tanpa akhir membuat para intelektual radikal terdemoralisasi dan terperosok menuju filsafat idealisme dan mistisisme.

Cerita pembangkang yang kebingungan, disesaki aksi-aksi terorisme individual—yang bertujuan menyulut kekacauan—untuk mengobarkan api pemberontakan–berbuntut kemunduran. Tepat 1 Maret 1881, Tsar Alexander II dilempari bom. Tewasnya tsar tak memperkuat gerakan, tapi justru memperhebat autokrasi dengan pengerahan badan khusus orang-orang bersenjata yang membabi-buta. Mereka kira aksi-aksi pelemparan bomnya sekelebat memantik revolusi; padahal memperkuat negara otokrasi yang hina dan diperangi. Di bawah mulut raksi, seluruh generasi pemberontak diburuh, disiksa, terbunuh dan dipenjara. Menghadapi tekanan peristiwa yang tajam, Narodnik kemudian pecah menjadi Narodnaya Volya, Cherny Peredel, dan Zemlya i Volya—kelompok pertama mengadopsi aksi terorisme individual dan mengembangkannya menjadi gerilya kota; kelompok kedua mempertahankan gagasan mengenai revolusi agraria dan komune desa; dan kelompok ketiga mencoba pengorganisiran buruh. Narodnaya dan Cherny tidak sanggup pecah dari masa lalu; Zamlya melangkah maju menuju masa depan yang jauh.

Akhir abad ke-19, Rusia mengalami industrialisasi besar-besaran. Rel kereta api telah memanjang lebih dari 24.000 kilometer. Selain pusat-pusat industri lama di Moskow dan Petrograd, pusat-pusat industri baru bermunculan di Baku, Donbass, dan Baltik. Antara 1893-1900 produksi minyak meningkat 2 kali lipat dan produksi batubara bertambah 3 kali lipat. Dengan perkembangan teknik yang ada, pekerja tradisional semakin berkurang dan buruh-upahan semakin bermunculan. Kaum tani terlempar ke pabrik-pabrik secara besar-besaran. Selama 1865-80, buruh pabrik meningkat 60 persen dan buruh tambang mencapai 106 persen. Populasi Petrograd ikut bertambah: dari 668.000 (1869) menjadi 928.000 (1881). Keadaan ini mendorong pembentukan serikat-serikat buruh. Pemogokan-pemogokan bermunculan dan ‘booming’ ekonomi dalam perang Russo-Turki memperhebat pemogokan. Inilah situasi yang membawa Georgi Plekhanov—pimpinan seksi pekerja Zemlya i Volya—untuk bergerak lebih jauh ke dalam gerakan buruh. Arus besar sejarah yang kuat memanggil irisan paling maju dari gerakan Narodnik untuk menceburkan dirinya ke kolam perjuangan kelas yang lebih tinggi—untuk menerima panggilan historis dari kelas revolusioner yang sedang tumbuh dan membersihkan dirinya dari segala kelemahan gerakannya yang terdahulu. Di medan politik yang baru, Plekhanov secara serius mempelajari Sosialisme Ilmiah: teori-teori Marx dan Engels. Januari 1880, perburuan rezim tsar memaksanya mengasingkan diri ke luar negeri. Namun di situlah dirinya bertemu dengan kaum Marxis dari Prancis dan Jerman, yang melibatkannya dalam pertentangan teoretik melawan Anarkisme. Di hadapan kebenaran Marxisme, Plekhanov mengakui Narodnisme dan semua tendensi yang mengalir langsung darinya sebagai kebingungan masa lalu. Kini ia telah menemui lompatan dialektis yang mendorong maju perjuangannya: dari Narodnisme-Anarkisme ke Sosialisme Ilmiah. Dia berkata:

“Siapapun yang tidak hidup melewati masa-masa tersebut bersama kami tidak akan bisa membayangkan betapa antusiasnya kami melemparkan diri kami untuk mempelajari literatur Sosial-Demokratik, di mana karya-karya teoritis Jerman adalah yang terutama kami pelajari. Dan semakin kami memahami literatur Sosial-Demokratik, semakin kami sadar poin-poin lemah dari pandangan kami sebelumnya, semakin kami yakin dari kebenaran perkembangan revolusioner kami…. Teori-teori Marx [dan Engels] memberi kami jalan keluar dari labirin kontradiksi yang menyesaki pikiran kami, karena berada di bawah pengaruh Bakunin.”

Di sisi Plekhanov, Pavel Axelrod dan Vera Zasulich juga menjadi eks-Narodnik yang ikut kesegaran mata air Sosialisme Ilmiah. September 1883, ketiganya membentuk Kelompok Emansipasi Buruh dengan dua kamerad lainnya. Segera setelah pembentukannya mereka langsung menempuh perjuangan teoretik untuk meletakan dasar bagi perkembangan Marxisme di Rusia. Kerja-kerja teori digencarkan dengan menyebarkan ajaran Marxis di tengah tendensi-tendensi borjuis-kecil, yang terutama secara tajam mengkritik Anarkisme. Sebagai lingkaran kecil propaganda maka persoalan yang kerap mereka hadapi bukan saja pengasingan, keterisolasian dan kebosanan tetapi juga kekurangan sumber daya dalam memproduksi, menerbitkan dan mendistribusikan bacaan. Mereka bertahan dan mengarungi samudera keadaan hanya dengan usaha yang terus-menerus untuk membuktikan ketepatan Marxisme. Alan Woods melukiskan pendirian mereka: ‘satu-satunya hal yang menguatkan mereka adalah keyakinan mereka akan gagasan, teori, dan perspektif Marxis, walaupun gagasan-gagasan mereka tampaknya tidak selaras dengan realitas.’ Kekeraskepalaan mereka dalam pertempuran ideologis membuahkan hasil. Angkatan politik proletar dan muda antusias mempelajari Marxisme. Pada 1893, Liga Perjuangan Buruh Petrograd didirikan dengan peran utama dan fundamentalnya adalah ‘mengubah para partisipan di lingkaran-lingkaran buruh menjadi Marxis yang berkembang sepenuhnya dan sadar, serta dapat menggantikan kaum propagandis intelektual.’ V.I. Lenin, dan Nadya Krupskaya—yang kemudian menjadi istri dan kawan seperjuangan seumur hidupnya—bertemu, dan melaksanakan kerja-kerja edukasi dan agitasi-propaganda di lingkaran itu. Krupskaya menceritakannya:

“Vladimir Ilyich tertarik dengan detil-detil yang paling kecil mengenai kondisi-kondisi dan kehidupan buruh. Dia ingin memahami kehidupan buruh secara keseluruhan—dia mencoba mencari apa yang bisa digunakan dalam mendekati buruh dengan propaganda revolusioner. Kebanyakan kaum intelektual pada saat itu tidaklah memahami buruh. Seorang intelektual akan datang ke lingkaran studi dan memberikan ceramah kepada para buruh. Untuk waktu yang lama, manuskrip terjemahan karya Engels ‘Asal-Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi, dan Negara’ disebarkan di lingkaran-lingkaran buruh. Vladimir Ilyich akan membaca bersama buruh karya Marx, Kapital, dan menjelaskan karya tersebut kepada mereka. Paruh kedua dari lingkaran studi ini digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan buruh mengenai pekerjaan dan kondisi-kondisi kerja mereka. Dia menunjukkan bagaimana hidup mereka terhubungkan dengan seluruh struktur masyarakat, dan mengatakan kepada mereka dengan cara apa sistem hari ini dapat diubah. Kombinasi teori dan praktek adalah fitur terutama dari kerja Vladimir Ilyich di lingkaran-lingkaran ini. Perlahan-lahan, anggota lain di lingkaran kita mulai menggunakan pendekatan ini.”

Dalam 1890-an, Kelompok Emansipasi Buruh telah berhasil meluaskan pengaruh. Namun pengaruhnya bukan saja sampai di tempat-tempat kerja, lingkaran dan organisasi-organisai buruh yang diwakili oleh Liga Perjuangan Buruh Petersburg. Pengaruhnya lebih luas ke kalangan akademisi, lapisan atas borjuis-kecil yang melubangi cangkang kepalanya untuk memasukan Marxisme secara termutilasi. Keberhasilan perluasan pengaruh ke kelas proletar tidak diberikan oleh sejarah secara cuma-cuma, tetapi dengan membawa-serta lapisan kelas-asing yang terserap ke dalam Marxisme. Perluasan pengaruh ke kedua sisi yang berlawanan dapat terpahami secara dialektis: di satu sisi berdiri kaum revolusioner yang mewakili masa kelas yang maju dan di sisi lainnya berdiri kaum reaksioner yang mewakili unsur-unsur masa lalu. Namun dalam psikologi yang diwarisi dari periode sebelumnya, keterisolasian sebagai kelompok kecil propaganda, Plekhanov tidak dapat melihat penyakit yang inheren dari tendensi borjuasi-kecil dalam gerakan buruh. Dalam kelas proletar, dengan waktu-luang yang terbatas ditambah tembok sensor dan kebrutalan polisi tsar menjadi pembatas, menuntut kerja-kerja propaganda yang berkeras kepala dan sangat-sangat sabar. Ini berbeda dengan gerombolan akademisi, yang punya banyak waktu-senggang dan sanggup mengelabui reaksi dengan alasan akademik, begitu terbuka aksesnya untuk belajar Marxis. Dalam perkembangannya, mereka mengambil-alih Marxisme seturut keberadaan sosialnya sendiri—untuk melayani tujuan-tujuan yang berlawanan dengan kepentingan kelas buruh. Di ruang-ruang dan meja-meja akademik mereka yang dingin dan beku itu lahir karikatur sosialisme: Marxisme Legal, yang berkecenderungan reformis-oportunis—menanggalkan independensi kelas, kediktatoran proletariat dan revolusi sosialis dunia sebagai fitur perjuangan kelas. Marxisme sejatinya bukanlah doktrin akademis tapi pengungkit aksi revolusioner. Ini adalah filsafat tindakan untuk mengubah dunia. Reformisme dan oportunisme adalah penyakit yang sangat serius bagi gerakan buruh. Perlawanan terhadap segala ideologi kelas-asing ini menjadi tugas kaum Marxis yang sejati.

Pada 1895—utusan dari Liga Perjuangan Buruh Petrograd, Lenin dan Takhtarev, menemui Kelompok Emansipasi Buruh di Swiss (eksterior). Mereka tidak sekadar membicarakan soal penerimaan-penerimaan akan Marxisme di Rusia, tapi juga perkembangan Marxis Legal yang menumpulkan gagasan Marx dan Engels. Sejak pertemuan ini Liga Petrograd mulai bekerjasama dengan para veteran-eksil dan mengambil peran utama dalam melakukan perjuangan teoritik dan pengorganisiran dari dalam Rusia (interior). Dengan menerbitkan jurnal “Rabotnik” (Buruh) dan koran “Rabocheye Dyelo” (Perjuangan Buruh), Lenin dan para kameradnya meluncurkan perjuangan yang berkeras kepala dalam melawan Marxisme Legal.’ Kuatnya agitasi-agitasi lokal menyeret angkatan muda proletar ke arah politik revolusioner. Tahun 1897, Leon Trotsky yang baru berumur 17 tahun tertarik dalam aktivitas revolusioner. Bersama kamerad-kamerad buruhnya, dia membentuk Serikat Buruh Rusia Selatan. Menggunakan nama pena ‘Lvov’; ia menulis artikel, selebaran, pamflet, dan deklarasi-deklarasi untuk mempopulerkan ide-ide revolusioner dalam kehidupan kelas pekerja dan muda. Menilai kegiatan itu sebagai ancaman maka sekelebat rezim tsar meringkus Trotsky bersama 200 anggota serikat buruhnya. Semuanya dipenjara selama 2 tahun dan diasingkan ke Siberia. Kekuasaan autokratik mengira: dengan peningkatan represi gerakan perlawanan dapat dipadamkan begitu saja. Itu keliru. Tepat 1 Maret 1898, angkatan muda dan proletariat yang teradikalisasi bersepakat mendirikan Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (PBSDR). Di tengah penetrasi modal-asing  mengguncang atmosfer sosial, rutinitas kehidupan bersahaja di desa-desa tergantikan oleh neraka industri di kota-kota. Kini teriakan ‘turun ke bawah’ digantikan dengan auman ‘turun ke buruh.’ Peralihan situasi menuntut kaum Marxis mengubah metode. Kebangkrutan rezim autokrasi yang ditandai dengan meledaknya bencana kelaparan dihadapi Lenin dan kamerad-kameradnya menekankan agitasi-agitasi lokal. Kerja ini bertujuan menghubungkan gerakan buruh dengan massa yang teradikalisasi, untuk menunjukkan kepemimpianan proletar di muka gerakan-gerakan borjuis-kecil radikal dan liberal yang sedang berjuang melawan tsarisme, dan pada akhirnya untuk merontokkan pengaruh ideologi borjuis-kecil dalam perjuangan revolusioner massa. Ketika seabrek teoretikus borjuis mengkritik perubahan metode Kelompok Emansipasi Buruh, dalam “Bolshevisme: Jalan menuju Revolusi; Jilid I 1883-1905”, Alan Woods memberikan penjelasannya:

“Masalah-masalah mengenaskan yang dihadapi oleh rakyat secara langsung mengedepankan perjuangan revolusioner melawan Tsarisme, dimana kelas buruh akan memainkan peran revolusioner melawan Tsarisme. Di mana kelas buruh akan memainkan peran kunci. Sementara, pada tahapan ini, di mana tidak ada seorangpun yang berbicara mengenai kemungkinan revolusi sosialis di Rusia, penggunaan secara cerdik tuntutan-tuntutan demokratik revolusioner, seperti penyelenggaraan Zemsky Sobor, memainkan peran agitasi penting yang mendorong kekuatan-kekuatan revolusioner ke program-program Marxis. Kebijakan ini sama sekali tidak sama dengan kebijakan-kebijakan Menshevik dan Stalinis, yang, di bawah kedok ‘menyatukan semua kekuatan progresif’, ingin menyobordinasikan gerakan kelas buruh pada apa-yang-disebut kelas borjuasi progresif. Plekhanov dan, terutama Lenin mengutuk gagasan ‘Front Rakyat’ yang digagaskan oleh sejumlah kaum Narodnik pada saat itu.”

Transisi menuju kerja agitasi disediakan kondisinya oleh perkembangan kapitalisme di Rusia. Memasuki dekade 1890-an jumlah pemogokan mengalami peningkatan luar biasa. Menghadapi kenyataan inilah kaum Marxis mustahil menempuh transformasi sosialis tanpa melibatkan diri dalam perjuangan untuk reforma di bawah kapitalisme. Melancarkan gerakan untuk revolusi dengan meninggalkan perjuangan untuk tuntutan-tuntutan mendesak rakyat akan membawa ke arah ultra-kiriisme; menempuh gerakan reforma tanpa menghubungkannya dengan perjuangan untuk revolusi akan menyeret ke lubang oportunisme—kedua-duanya sama-sama vulgar dan berat-sebelah. Kaum Marxis mengakui kalau perjuangan mengenai kebutuhan sehari-hari merupakan tempat mengorganisir, melatih, dan mendidik kelas proletar untuk pertempuran penghabisan melawan musuh-musuh kelasnya. Kaum Marxis tidak menolak reforma tetapi memajukannya ke arah politik revolusioner yang sepenuhnya bertujuan melayani kepentingan kelas buruh. Di bawah manuver dan tekanan autokrat-borjuis tidak ada reforma yang dapat bertahan lama. Satu-satunya jaminan untuk pelaksanaan reforma yang konsisten adalah dengan kemenangan revolusi proletar—keberhasilan kelas pekerja dalam mengorganisir dirinya sebagai kelas yang berkuasa: kediktatoran proletariat. Bahkan untuk memenangkan satu saja tuntutan reforma—itu dibutuhkan sebuah pukulan keras dari gerakan revolusioner massa untuk melampui batas-batas yang disetujui borjuasi. Liga Perjuangan Petrograd berusaha menjelaskan itu semua. Namun dalam permulaan diterbitkannya koran Rabocheye Dyelo (Perjuangan Buruh), Lenin dan kamerad-kameradnya mendapatkan penggerebekan yang berujung penahanan paksa. Dari penjara, Lenin merencanakan penulisan “Perkembangan Kapitalisme di Rusia” dan mempertahankan korespondensi dengan Liga Petrograd secara klandestin. Pesan-pesan kepada kameradnya ditulis di antara baris-baris buku, bertintakan susu yang dituangkan dalam bolongan roti, dan hanya terbaca ketika disinari cahaya lilin. Selama dibui Lenin sembunyi-sembunyi membuka kembali bacaan-bacaan Marxis Klasik, terutama Manifesto Komunis. Membaca ulang karya Marx dan Engels dan menganalisa perkembangan gerakan buruh Rusia semakin meyakinkannya kalau terbitan agitasi-agitasi lokal yang bersifat terbatas harus segera digantikan dengan Koran Marxis, untuk menyatukan semua gerakan lokal yang ada ke dalam aksi-aksi pemogokan umum di skala nasional,  dalam perjuangan revolusioner melawan rezim autokrasi. Gerakan ini sekaligus dimaksudkan untuk menjadi embrio dari organisasi politik tertinggi proletariat, yang dibangun secara serius dengan mendidik kader untuk menjadi revolusioner profesional. Setelah melewati massa pembuangan, pada 1900, Lenin berangkat secara ilegal ke Petrograd untuk mengontak kembali Kelompok Emansipasi Buruh. Perjalanan ini berusaha mempersiapkan pendirian Koran Marxis Nasional dengan sebuah tendensi untuk membangun Partai Revolusioner Rusia. Dalam “Deklarasi Dewan Editorial Iskra”, Lenin menerangkannya:

“Kita sedang melalui sebuah periode yang teramat penting di dalam sejarah gerakan kelas buruh Rusia dan Sosial-Demokrasi Rusia. Beberapa tahun terakhir telah ditandai dengan penyebaran gagasan gagasan Sosial-Demokratik yang sungguh-sungguh cepat di antara kaum intelektual kita, dan gerakan kaum proletariat industrial yang mandiri telah menemui gagasan-gagasan sosial ini dan mulai bersatu dan berjuang melawan penindas-penindas mereka, dan dengan penuh semangat berjuang menuju sosialisme. Lingkaran-lingkaran studi kaum buruh dan kaum intelektual Sosial-Demokratik muncul di mana-mana, selebaran-selebaran agitasi lokal disebar luas, permintaan akan bahan-bahan bacaan Sosial-Demokratik terus meningkat dan sudah jauh melebihi apa yang bisa kita penuhi, dan persekusi yang semakin intensif dari pemerintah tidaklah mampu menahan gerakan ini. Penjara-penjara dan tempat-tempat pembuangan sudah penuh dan meluber. Setiap bulan kita pasti mendengar berita diciduknya kaum sosialis di berbagai daerah di Rusia, ditangkapnya kurir-kurir bawah tanah, disitanya literatur dan mesin-mesin cetak. Tetapi gerakan ini terus tumbuh, terus menyebar ke wilayah-wilayah yang semakin luas, terus mempenetrasi semakin dalam ke dalam kelas buruh dan semakin menarik perhatian publik. Seluruh perkembangan ekonomi Rusia dan sejarah pemikiran sosial dan gerakan revolusioner di Rusia menjadi jaminan bahwa gerakan kelas-buruh Sosial-Demokratik akan tumbuh dan akan, pada akhirnya, menanggulangi semua halangan yang ada di mukanya…. Lingkaran-lingkaran studi lokal bermunculan dan berjalan secara terpisah satu sama lain. Terutama, lingkaran-lingkaran dari distrik yang sama berjalan secara terpisah satu sama lain. Tradisi tidak dibentuk dan kontinuitas tidak dipertahankan; koran-koran lokal secara penuh merefleksikan perpecahan ini dan ketiadaan kontak dengan apa yang telah dicapai oleh Sosial-Demokrasi Rusia…. Kita harus menarik kesimpulan praktis dari semua ini: kita kaum Sosial Demokrat Rusia harus bersatu dan mengarahkan semua usaha kita untuk membentuk sebuah partai yang kuat, yang harus berjuang di bawah panji tunggal Sosial Demokrasi revolusioner. Inilah tugas yang dipaparkan oleh kongres pada 1898 di mana Partai Buruh Sosial Demokrasi Rusia dibentuk, dan yang menerbitkan Manifestonya…. Seperti yang telah kami katakan, persatuan ideologi kaum Sosial-Demokrat Rusia masih harus dibangun, dan untuk ini maka, menurut pendapat kami, kita harus melakukan sebuah diskusi yang terbuka dan menyeluruh mengenai masalah-masalah prinsip dan taktik yang fundamental, yang telah diajukan oleh ‘kaum ekonomis’, para pengikut Bernstein, dan para ‘kritikus Marxisme.’ Sebelum kita dapat bersatu, dan supaya kita dapat bersatu, kita harus pertama-tama menarik garis demarkasi yang tegas dan jelas. Kalau tidak maka persatuan kita akan sepenuhnya fiktif. Persatuan macam ini akan menutup-nutupi kebingungan yang ada dan menghalangi penyelesaiannya secara radikal. Oleh karenanya, kita bisa memahami mengapa kita tidak menginginkan koran kita menjadi semacam gudang yang menyuguhkan berbagai cara pandang. Sebaliknya, kita harus menerbitkan koran kita dengan semangat sebuah tendensi yang tegas dan jelas. Tendensi ini dapat diekspresikan dengan kata Marxisme, dan kita tidak perlu menambahkan kalau kita mendukung perkembangan gagasan-gagasan Marx dan Engels dan secara empatik menolak ‘koreksi-koreksi’ yang sengaja dibuat tidak jelas untuk menutup-nutupi maksud sebenarnya, kabur, dan oportunis yang dibuat oleh Eduard Bernstein, P. Struve, dan banyak lainnya.”

Sebagai upaya membangun fondasi gerakan yang kuat, mengakar, dan mampu menyatukan gerakan-gerakan lokal di seluruh Rusia; Lenin mendeklarasikan Iskra sebagai Koran Marxis. Tugas Iskra bukan sebatas menyebarkan gagasan revolusioner, mengkritik reformisme dan oportunisme, penyatuan sekutu-sekutu politik, menceritakan pengalaman-pengalaman massa-rakyat menghadapi kelas penguasa, atau propaganda dan agitator kolektif. Tetapi terutama menjadi ‘organisator kolektif:’ mencari kontak lapisan-lapisan muda proletariat untuk membangun kepemimpinan partai revolusioner. Inilah strategi Bolshevisme, yang menuntun angkatan muda politik proletar yang paling maju dan sadar-kelas dalam pembangunan organisasi revolusioner bagi kaum revolusioner proletar, untuk memenangkan lapisan terluas massa ke arah politik Marxisme yang sejati, mempersiapkan laki-laki dan perempuan pekerja menuju kemenangan revolusi proletariat, yang akan mengangkat kaum buruh secara sadar dan terorganisir—yang beraliansi dengan kaum tani—sebagai kelas revolusioner yang berkuasa.

Tulisan-tulisan Lenin tentang pembangunan organisasi revolusioner ini tersalurkan pula melalui beberapa tulisan tulisan utamanya: “Dari Mana Kita Mulai?”, “Sebuah Surat untuk Kamerad”, dan “Apa yang Harus Dikerjakan?” Berdirinya koran Lenin menebar pengaruh ke mana-mana. Bahkan Trotsky yang melawati masa-masa pengasingan di Siberia sampai tertarik oleh tujuan Iskra: pembentukan organisasi politik tertinggi bagi proletariat dengan mendidik kaum revolusioner profesional, revolusioner proletar. Pada 1902, dia melarikan diri dari pengasingannya untuk menemui Lenin terlebih dahulu. Bertemu Lenin maka Trotsky diperkenalkan dengan Axelrod dan Zasulich selaku anggota Dewan Editorial Iskra. Bersama merekalah dirinya belajar banyak mengenai Marxisme dan bersiap-siap menunggu tibanya Kongres II PBSDR pada 1903. Menjelang Kongres meletus pertentangan antara Lenin dengan Plekhanov—dalam pertemuan Dewan Editorial Iskra—menyangkut draf program partai. Perdebatan keduanya itu mengenai formula yang berbeda: berkait perkembangan kapitalisme di Rusia, Plekhanov berpandangan ‘sedang menjadi bentuk produksi yang dominan’ dan Lenin mengklarifikasi ‘telah menjadi bentuk produksi dominan.’ Dalam “Bolshevisme: Jalan menuju Revolusi; Jilid I 1883-1905,” Alan Woods memberikan komentar mengenai pertentangan keduanya: ‘esensi dari ketidaksetujuan ini bukanlah seputar masalah-masalah fundamental , tetapi seputar pendekatan kerja dan konsepsi mengenai peran program partai.’ Bahwa draf dari Pelkhanov adalah abstrak: akademik dan kurang kongkret. Drafnya mengekspresikan ‘suara propagandis di tempat pengasingan’, bukan ‘seruan lantang dari sebuah partai massa revolusioner.’ Lenin menerangkan: ‘bila kapitalisme belumlah menjadi bentuk yang dominan, maka bukankah ini berarti kita harus menunda gerakan Sosial-Demokratik.’

Pada 17 Juli 1903, Kongres II PBSDR dibuka di Brussels. Dirundung pengintaian ketat dari polisi, lokasinya dipindahkanlah ke London dengan kedok pertemuan klub pemancing ikan. Meski diselimuti badai pengawasan; Kongres tetap berjalan. Dalam forum ini berlangsung perdebatan antara Lenin dan Yuli Martov mengenai urusan keanggotaan—draf dari Lenin mengusulkan anggota PBSDR haruslah seseorang yang menerima program, membayar iuran, dan ‘berpartisipasi aktif dalam salah satu organisasi partai’; Martov mengusung draf bahwa anggota PBSDR adalah orang yang menerima program, membayar iuaran dan ‘memberi partai kerjasama pribadinya secara reguler di bawah arahan salah satu organisasi partai.’ Setelah melalui perdebatan panjang, Martov mendapat 28 suara dan Lenin 23 suara. Lenin kalah atas kegoyahan dan menyebrangnya elemen-elemen yang sebelumnya bergabung dalam tendensi koran Iskra. Mereka yang kemarin mendukung Lenin hari ini banting stir ke arah barisan pendukung Martov—kaum ekonomis, bund, dan moderat—yang diwakili oleh tendensi jurnal Yuzhny Rabochii. Alan Woods menjelaskan kalau kegoyahan itu merupakan bagian dari ‘tekanan-tekanan kelas-asing, opini publik borjuis, dan terutama tekanan dari lapisan-lapisan menengah, kelas menengah, kaum intelektual yang ada di sekitar organisasi-organisasi buruh’, yang merupakan bekas dari ‘periode panjang dimana Kelompok Emansipasi Buruh yang lebih tua melakukan kolaborasi dekat dengan kelas menengah radikal yang diwakili kaum Marxis Legal telah meninggalkan jejak dalam kesadaran mereka.’ Drafnya Lenin paralel dengan perspektifnya tentang sebuah organisasi revolusioner yang kuat dan tersentral untuk mendidik kaum revolusioner profesional. Sementara draf Martov mengekspresikan kesulitan untuk keluar dari periode lingkaran-lingkaran kecil. Dalam “Bolshevisme: Jalan menuju Revolusi; (Jilid I: 1883-1905)”, Alan Woods menulis:

“Setiap periode transisi dari satu tahap perkembangan partai ke tahap yang lain selalu menyebabkan friksi internal. Kita telah mengupas kesulitan-kesulitan di masa awal peralihan dari propaganda ke agitasi. Sekarang masalah-masalah yang sama terulang kembali, tetapi dengan masalah yang jauh lebih serius…. Kebiasaan-kebiasaan kelompok eksil kecil yang telah membantu secara insting memberontak melawan perubahan terhadap cara-cara lama. Pemilihan yang formal, minoritas yang harus tunduk pada kehendak mayoritas, kerja yang disiplin, walaupun semua ini dapat diterima dalam teori tetapi dalam praktek susah ditelan. Para anggota kelompok Plekhanov, yang sudah terbiasa dalam kehidupan lingkaran perkawanan yang kecil dan informal, telah lama menikmati otoritas politik yang besar sebagai veteran dan anggota Dewan Editorial Iskra yang ternama, sebuah posisi yang tidak lagi sesuai dengan peran yang mereka sekarang mainkan.”

Perdebatan antara Lenin dan Martov saat Kongres II PBSDR barulah berupa embrio dari Bolshevisme dan Menshevisme; belum mengambil bentuknya yang politis hingga membentuk dua tendensi yang berlawanan: Bolshevik dan Menshevik. Dalam keadaan ini sikap Trotsky terhadap perbedaan itu serupa kebanyakan anggota PBSDR lainnya: menyerukan persatuan internal. Kelak, seruan persatuan itu dituduhkan Stalinis sebagai ‘konsiliasionisme.’ Tuduhan konsiliasi (bersatu dengan musuh-musuh kelas proletar—kaum liberal, borjuis nasional) tidak memiliki hubungan dengan seruan-seruan untuk menyatukan partai. setahun kemudian perpecahan di antara keduanya menajam dan mulai mengambil bentuk politis. Martov dan kelompoknya (minoritas, Menshevik) mengkritik sentralisme-demokrasi sebagai kebijakan diktatorial-birokratis. Mereka tidak memahami kalau sentralisme-demokratik pertama-tama bukan persoalan administratif tapi politik: sentralisasi ide, pengalaman, kesimpulan, dan prinsip-prinsip umum yang ditarik dari hasil-hasil konkret perjuangan kelas. Menerapkan sentralisme demokrasi maka kebebasan berdiskusi menjadi syarat dalam setiap pengambilan keputusan sebelum dapat bersatu dalam aksi. Di sini bukanlah perspektif regresif maupun reaksioner yang dipakai berdiskusi tapi cara pandang dengan teori-teori yang paling maju. Dalam diskusi perbedaan pemahaman dapat dirumuskan, kesamaan pemahaman dapat dikonsolidasikan, dan kesatuan aksi menjadi terpikirkan: tanpa pemahaman yang sama maka tidak mungkin ada kesatuan dalam aksi. Martov dan para pendukungnya tiada memahami ini. Mereka menuntut agar keputusan-keputusan partai tidak ditetapkan berdasarkan suara mayoritas tetapi minoritas. Mereka menebarkan intrik terhadap Lenin dan kelompoknya (mayoritas, Bolshevik), menolak bekerja di Komite Pusat (berkolaborasi dengan Organ Sentral), dan melancarkan boikot seluruh keputusan Bolshevik. Hasil-hasil Kongres II porak-poranda: satu-per-satu badan kepemimpinan yang ditempati pihak mayoritas direnggut minoritas dengan aneka intrik dan manuver. Semua tendensi borjuis-kecil yang asing ini mengobrak-abrik partai yang dipersiapkan untuk proletariat. Atas nama moralitas borjuis-kecil, Menshevik merampok organ teoretis partai proletar. Demokrasi internal bagi mereka membolehkan setiap individu mengatakan dan menulis apapun sesuai keinginannya. Dan birokratisme menurut mereka merupakan rezim mayoritas yang menegakan keputusan dan disiplinnya dengan metode demokratis. Dalam “Draft Presentasi Revolusi Oktober”, Perhimpunan Sosialis Revolusioner (PSR—Seksi Indonesia Revolutionary Communist International, RCI) menulis:

“Sebuah partai revolusioner berada di bawah tekanan dari kekuatan-kekuatan politik lain. Di setiap tahapan perkembangannya, partai mengelaborasi metode-metodenya sendiri untuk menetralkan dan melawan tekanan ini. Pada saat belokan taktis, dan pengelompokan dan friksi internal yang merupakan konsekuensi dari belokan ini, kekuatan partai untuk melawan tekanan ini menjadi lemah. Dari sini selalu ada kemungkinan bahwa pengelompokan-pengelompokan internal di dalam partai, yang berasal dari perlunya mengambil belokan dalam taktik, dapat berkembang jauh melampaui titik berangkat kontroversi awal dan menjadi penunjang untuk berbagai tendensi kelas. Dalam kata lain: partai yang ketinggalan di belakang tugas-tugas historis kelasnya akan menjadi, atau beresiko menjadi, alat tidak-langsung dari kelas-kelas lain.”

Situasi yang berubah menuntut penyesuaian taktis dan organisasional. Lenin memahami ini dengan baik. Tahap baru yang dilalui PBSDR memunculkan pertanyaan akan kepemimpinan politik yang tersentral dan kuat. Pengelompokan minoritas yang diwakili Martov tidak memahaminya. Berdasarkan tinjauan yang cenderung sempit dan formalistik, mereka tidak sanggup pecah dari taktik yang terwariskan oleh periode sebelumnya. Namun di akar rumput perspektif mayoritas semakin meraih pengaruh. Bertambah banyak komite-komite partai yang mendukung untuk segera dilaksanakannya kongres baru. Pada Agustus 1904, 22 anggota mayoritas menyelanggarakan Konferensi di Swiss yang mendeklarasikan seruan pelaksanaan Kongres III. Bulan September, 12 dari 20 komite partai dengan hak suara penuh mendukung kongres yang diserukan mayoritas. Akhir Desember, 13 Pusat Organisasi Bolshevik didirikan dan didukung 13 komite partai. Tahun 1905, Bolshevik telah berkembang menjadi sebuah tendensi yang serius walau keberadaannya masih rapuh. Kondisi finansial dan aparatus lainnya begitu lemah. Demi melanjutkan kerja-kerja politik mereka melakukan pengorbanan. Lenin mendidik para kameradnya dengan semangat berkorban, yang mengalir dari posisi revolusionernya untuk secara aktif memperjuangkan revolusi sosial. Menunggu, dalam situasi obyektif untuk perjuangan revolusioner yang sedang memanggil, bukan sikap dan kebijakan revolusioner—tapi oportunis. Dalam Kepemimpinan Lenin, kaum Boshevik dididik bukan hanya tentang pentingnya teori tapi juga untuk menjadi lebih militan dalam praktik—menjadi laki-laki dan perempuan dewasa yang dapat membentuk aturan-aturan kewajiban moral yang sesuai dengan kepentingan kelas proletar. Untuk mendapatkan uang yang bisa mendanai berdirinya koran politik, Lenin dan para kameradnya menguras isi kantongnya sendiri, menyumbangkan gaji, hingga menjual jam tangan. Dalam keterbatasan hidup yang kejam, semangat pengorbanan bukan saja dilandasi oleh kebenaran teori yang diyakini tapi juga kehendak untuk menang dan tidak menyerah dari semua rintangan penderitaan yang muncul bertubi-tubi. Kehendak revolusioner hanya bisa diperoleh dalam praksis untuk mengubah dunia, dalam kesatuan teori dan praktik revolusioner untuk maju, lebih maju, dan lebih maju lagi. Lenin memimpin kamerad-kameradnya dengan mengorganisir kehendak ini sebagai motor penggerak kesadaran yang terorganisasi.

Tanggal 22 Desember, Vperyod (Kebenaran) muncul sebagai koran pertama Bolshevik. Kekurangan keuangan mengondisikan hanya setengah edisi yang dapat dicetak. Perkembangan sosial dalam rezim tsar mengarah ke tikungan sejarah yang tajam. Peristiwa-peristiwa bergerak dengan cepat. Intensitas perjuangan kelas meningkat. Kemelaratan, kesengsaraan, kemuakkan dan kemarahan yang terpendam lama akhirnya meledak ke permukaan. Revolusi Rusia yang pertama datang seperti badai di malam suntuk yang mengagetkan mata yang tertidur pulas. Percepatan keruntahan politik feodal di dunia ekonomi kapitalis termanifestasikan dalam perang yang berkobar. Perang saat ini lebih besar dari Perang Rusia-Jepang. Perang ini membangkitan pemberontakan besar terhadap kekuasaan. Perang menyeret jutaan buruh dan tani untuk menggali parit-parit perlindungan sebagai liang-kubur mereka sendiri. Perang melumat roti dan daging manusia menjadi abu. Perang membuka aib tsarisme. Tsar dan sekutunya, lapisan atas bangsawan dan borjuasi ditelanjangi: sebagai gerombolan penjarah dengan keserakahan tak terbatas, yang sangat tidak becus dan tambun, dan lumpuh dalam masalah mendasar peperangan—industri persenjataan dan perbekalan makanan.

Di awal Januari pemogokan meledak. Tanggal 3 Januari, 13 ribu buruh mogok dengan tuntutan: 8 jam kerja, pelarangan kerja-lembur, kenaikan upah buruh perempuan, kesehatan gratis, izin mengorganisir komite perwakilan, dan pembayarn upah selama mogok. 5 Januari jumlah pekerja dalam pemogokan meningkat menjadi 26.000. 7 Januari bertambah 105.000, dan 8 Januari mencapai 111.000. Dan, 9 Januari gelombang gerakan massa mengambil bentuk pemberontakan hebat yang membuat tsar dan segenap sekutunya gemetar ketakutan. Kaum radikal di sekitar koran Osvoboshdenie (Pembebasan) tersontakan. Liberalisme borjuis-kecil yang tidak peduli dengan prospek revolusi mendapati di jalan-jalan dan alun-alun Petersburg dipenuh kebisingan dan deru pertempuran. Revolusi menghancurkan seluruh bangunan politik liberal. Mereka tertangkap kebingungan dengan apa yang sedang berlangsung. Beribu laki-laki dan perempuan yang selama ini tidur terlentang dalam kebungkaman kini merangsek ke dalam sejarah dengan membawa tuntutan: “Roti, Tanah, dan Perdamaian.” Medan aksi telah dibuka untuk partai. Namun PBSDR berada dalam kondisi yang menyedihkan: perpecahan dan penangkapan telah melumpuhkan seluruh aktivitas partai.

Selama Revolusi Rusia 1905, Menshevik dan Bolshevik berdiri tanpa dukungan dari rakyat pekerja. Kekosongan kepemimpinan revolusioner proletar membuka kebingungan dalam gerakan revolusioner massa. Dalam perjuangan kelas yang bertambah tajam, massa menemukan kepemimpinan pendeta sebagai saluran bagi energi revolusionernya. Inilah keharusan yang mengekspresikan dirinya dalam kebetulan. Seorang pemimpin asal-asalan, yang hanya mengandalkan keberanian berkorban, terdorong oleh gelombang besar sejarah untuk mengisi peran kepemimpinan. Berdiri di kepala gerakan, Gapon memimpin dengan stempel kepribadian luhur, konsepsi wahyu, dan pangkat gereja; Gapon tertangkap tidak memiliki program, kebijakan, dan perspektif yang memadai untuk revolusi. Pada 10 Januari, ratusan buruh membanjiri jalanan Petrograd. Tanggal 17 Januari, pemogokannya telah menarik 160.000 buruh ke dalam barisannya. Sampai 22 Januari, 400.000 pekerja telah terlibat pemogokan. Perlawanan berlangsung spontan. Tendensi-tendensi borjuis-kecil mendominasi gerakan. Tepat 22 Januari, pendeta Gapon terdorong ke depan untuk memimpin longmarch ke Istana Musim Dingin dan mengajukan petisi. Tsar membalasnya dengan pembubaran yang keji. Kebrutalan pasukan bersenjata menelan 5.000 jiwa.

Peristiwa itu dikenal sebagai Minggu Berdarah. Momen ini tidak saja menampilkan cambuk reaksi, tapi terutama menghancurkan romantisisme dalam gerakan buruh. Kaum proletar Petersburg menunjukkan tingkat kewaspadaan politik dan energi revolusioner yang melampaui rencana-rencana vulgar Kepemimpinan Gapon. Aksi memohon belas-kasih berubah jadi aksi protes yang paling berkeras kepala, pengajuan petisi berubah jadi pemogokan umum dan pukulan reaksi dibalas dengan pemberontakan bersenjata. Gelombang massa yang terus berdatangan membentuk barikade pertahanan-diri, bentrok dada ke dada dengan resimen pengawal dan Cossack. Gapon telah menghilang dari kepala massa dan menyebrang ke sisi reaksi. Kini kelas utama dalam Revolusi Rusia menunjukkan dirinya, mengambil-alih kepemimpinan bangsa dengan cakar dan taringnya. Seluruh kota dipenuhi dengan seruan pertempuran terbuka dan pemberontakan menyebar ke desa seperti api. Masuk paksa ke dalam sejarah Rusia, kelas proletar telah mendorong pendulum politik untuk semakin bergerak ke kiri. Naluri revolusioner proletar untuk kediktatoran kelasnya memainkan peran setengah-sadar atau bawah-sadar dalam membawa perjuangan revolusioner massa ke pembentukan badan pemerintahan mandiri. Oktober 1905, Soviet Buruh dan Tani dibentuk: dengan membangun komite-komite aksi yang berbasiskan massa yang sedang berjuang, kelas proletar yang beraliansi dengan kaum tani membentuk embrio kekuasaan yang secara langsung bersandar pada kekuatan milisi dari organisasi-organisasi proletar dan semi-proletar.

Soviet bertindak sebagai pemerintahan revolusioner, yang memperhatikan peristiwa politik dengan seksama, mendapat pengaruh dalam kaum buruh dan tani, memimpin pemogokan umum, mengorganisir pemberontakan bersenjata, dan mengisolasi pemerintahan Romanoff. Namun, Soviet dengan milisinya, tidak cukup terorganisir dan sadar untuk merebut kekuasaan. Kepemimpinan revolusioner kosong. Menshevik bergerak ke dalam revolusi tapi dengan mempertahakan warisan liberalisme, yang berkompromi dengan kelas penguasa di sekitar konsesi kecil dan perjanjian rahasia, yang telah dinyatakan runtuh oleh gerakan revolusioner massa. Di sisi yang berdekatan, kaum intelektual borjuis-kecil semakin menjauh dari revolusi untuk memberikan dukungannya terhadap Zemstvo: badan perwakilan untuk urusan lokal yang menempatkan tuan-tanah liberal sebagai lapisan terkemukanya. Dari posisi yang nampak berbeda, Menshevik dan kaum liberal pada umumnya tersatukan dalam pendirian politik utama: tidak memandang kaum buruh sebagai kelas revolusioner yang dapat memimpin bangsa dalam perebutan kekuasaan secara revolusioner.

Dalam Revolusi 1905, Bolshevik benar-benar belum siap untuk memberikan kepemimpinannya. Satu-satunya lapisan pemimpin PBSDR yang terlibat aktif dan menjadi kunci dalam pemerintahan Soviet adalah Trotsky. Dalam perkembangan perjuangan kelas, kaum proletar secara organik melahirkan atau menemukan pemimpin dari rahimnya sendiri. Di Soviet Petersburg, Trotsky terpilih sebagai anggota Komite Eksekutif dan selanjutya menjadi pemimpin utamanya. Dengan menjadi Ketua Soviet Petersburg, Trotsky tertarik ke dalam pusaran revolusi untuk memainkan peran yang sangat penting. Dia menyampaikan pidato dengan penuh semangat di hadapan massa buruh dan tani, menyelenggarkan konferensi bersama organisasi-organisasi buruh di seluruh negeri, menyuplai revolver bagi front-front pertahan-diri, dan tampil sebagai perwakilan utama dari demokrasi proletariat. Namun tanpa kepemimpinan dari sebuah partai yang berpedoman pada teori yang paling maju, bahkan keberadaan pemerintahan revolusioner yang dipimpin oleh seorang revolusioner sekalipun menjadi tidak cukup untuk membawa perjuangan revolusioner massa sampai ke garis akhir. Kepentingan dari sebuah kelas hanya bisa dirumuskan secara jelas ke dalam program sebuah partai dan kemandirian politik kelas hanya bisa dipertahankan secara tegas dengan kebijakan politik indenpenden dari sebuah partai. Di kepala massa bersenjata ada pemerintahan Soviet dan di pucuk Soviet ada Trotsky, namun Trotsky dalam perkembangan awalnya belumlah sepenuhnya memanifestasikan kepemimpinan dari partai revolusioner. Dalam pertarungan faksional di internal PBSDR, Trotsky secara organisasional berada di antara Bolshevik dan Menshevik namun secara politik lebih dekat dengan Bolshevik daripada Menshevik.

Soviet sedang berjuang dalam posisi yang genting: kran revolusioner telah terbuka, namun kekosongan kepemimpinan partai revolusioner secara perlahan membuat energi revolusioner terkuras. Dalam sekolah revolusi, Trotsky menyimpulkan: ‘kemenangan tidak membutuhkan metode romantis yang didasarkan pada rencana ilusi, tetapi taktik revolusioner. Aksi serentak proletariat seluruh Rusia harus dipersiapkan. Ini adalah syarat pertama. Tidak ada demonstrasi lokal yang memiliki signifikansi politik serius lagi; setelah pemberontakan Petersburg, hanya pemberontakan seluruh Rusia yang harus terjadi.’ Namun, setelah berdiri sekitar satu setengah bulan, Soviet yang melemah sudah tidak kuat menahan terjangan badai reaksi. Para pemimpin Soviet Petersburg diseret ke penjara di mana Trotsky sendiri dibuang ke luar negeri. Persoalan kekuasaan yang mengemuka menuntut untuk diselesaikan bukan sekedar dengan kekuatan tapi juga kesadaran dan kehendak yang terorganisir. Tanpa kehadiran partai revolusioner, perjuangan massa yang sedang bangkit mengarah ke jalan buntu. Dalam gelombang reaksi tidak ada kebijakan yang mengalir dari pandangan yang jelas untuk mundur secara teratur. Trotsky sudah ditangkap dan diasingkan. Pemimpin terbaik Soviet, yang garis politiknya dekat dengan Bolshevik, hilang. Sepembuangan Trotsky, energi revolusioner Soviet tidak lagi terarah untuk pemberontakan seluruh Rusia tapi terbuang sia-sia dalam aksi-aksi sporadis yang terisolasi. Mobilisasi di kota-kota melemah dengan cepat. Pukulan reaksi menjadi semakin percaya diri, lebih luas dan lebih kejam. Pendulum politik secara tajam beralih ke kanan.

Kebuntuan kepemimpinan organisasi-organisasi proletar dan semi-proletar dalam Soviet membuka periode kemunduran dan demoralisasi. Di seluruh kota, gerakan buruh lumpuh. Dalam kondisi ini Boshevik meningkatkan kerja-kerja intervensi terhadap kaum tani di desa-desa. PBSDR begitu lemah di pedesaan tapi sejumlah lingkaran Bolshevik telah tumbuh di Nizhegorod, Kazan, Tver, Sarato, dan Samara. Kelompok-kelompok agitator melakukan pengorganisasian terhadap tani-prajurit Cossack. Bulan April-Agustus 1905, desa-desa bergejolak dengan konflik tani dan pemogokan buruh-buruh pertanian di Don, Kuban, Kaukasus, Ukraina, dan Baltik. Perpaduan antara gejolak pedesaan dan kerja-kerja agitasi lantas mempengaruhi seabrek prajurit. Tanggal 27-28 Mei, para kelasi armada laut di Tsushima juga melancarkan pembangkangan terhadap gerombolan perwira tingginya. Di sini para perwira rendah memimpin pemberontakan di atas kapal perang Prince Potemkin. Semua peristiwa itu semakin membuat kelas penguasa gemetar ketakutan. Kelas penguasa takut kalau gelombang pemberontakan semakin meluas dan membangkitkan kembali gerakan buruh yang sedang mengalami pasang-surut. Sebagai manuver, rezim yang lemah menyiasati pelaksanaan pemilihan Duma (Parlemen Monarki). Sejak saat ini persoalan terlibat atau memboikot Duma menempati posisi sentral dalam diskusi-diskusi partai. Lenin mengerti kalau Bolshevik perlu fleksibel mengenai masalah-masalah taktik dan organisasional agar tak terseret mood ultra-kiri. Masalah parlemen didekati dengan hati-hati. Sosialisme tidak bisa dimenangan melalui pemilihan, mesin birokrasi, dan dekrit-dekrit; melainkan gerakan massa yang sadar dan terorganisir di pabrik-pabrik, pemukiman pekerja, sekolah, jalananan dan tempat-tempat di mana rakyat pekerja berada. Lenin menempatkan parlemen hanya sebagai taktik untuk kerja-kerja politik Bolshevisme. Dalam “Komunisme Sayap Kiri; Suatu Penyakit Kekanak-Kanakan”, Lenin menerangkannya:

“…Mencoba ‘menghindari’ kesukaran ini dengan ‘melompati’ pekerjaan yang sulit dalam menggunakan parlemen-parlemen yang reaksioner untuk tujuan revolusioner adalah sungguh kekanak-kanakan…. ikut serta dalam pemilihan untuk parlemen dan dalam perjuangan di atas mimbar parlemen adalah keharusan bagi partai proletariat revolusioner justru untuk maksud mendidik lapisan-lapisan yang masih terbelakang dari kelasnya sendiri, justru untuk maksud mengubah dan membuka-pikiran massa desa yang belum maju, yang tertindas, yang gelap pikirannya. Selama kawan-kawan belum mampu membubarkan parlemen borjuis dan segala bentuk badan reaksioner macam lain, kawan-kawan wajib bekerja di dalamnya justru karena di situlah masih terdapat kaum buruh yang diperbodoh oleh pendeta-pendeta dan oleh kesunyian hidup di desa; kalau tidak, kawan-kawan akan menanggung resiko menjadi tukang obrol belaka. sebab yang menjadi soal bukannya apakah parlemen-parlemen borjuis sudah lama ada atau baru saja ada, tetapi sampai beberapa jauh massa yang luas dari rakyat pekerja telah siap (dalam ideologi, politik dan praktek) untuk menerima sistem Soviet dan membubarkan parlemen burjuis-demokratis (atau membolehkan ia dibubarkan)…. Kami kaum Bolshevik ikut serta dalam parlemen-parlemen yang paling kontra-revolusioner, dan pengalaman telah menunjukkan bahwa ikut sertanya ini tidak hanya berguna, tetapi juga perlu bagi partai proletariat revolusioner justru sesudah revolusi sosial yang pertama di Rusia (1905)…. Sudah tentu akan salahlah barang siapa yang coba berbicara secara lama dan pada umumnya bahwa menolak ikut serta dalam parlemen-parlemen borjuis adalah tidak diperbolehkan dalam segala keadaan. Saya tidak akan mencoba merumuskan di sini dalam keadaan-keadaan mana suatu pemboikotan adalah berguna, karena tujuan brosur ini adalah jauh lebih sederhana, yaitu menyimpulkan pengalaman Rusia yang bersangkutan dengan beberapa soal yang hangat tentang taktik Komunis Internasional. Pengalaman Rusia telah memberikan kepada kita satu contoh yang berhasil dan benar (1905) dan satu contoh yang salah (1906) tentang dilakukannya pemboikotan oleh kaum Bolshevik. Dalam menganalisa contoh yang pertama, kita lihat bahwa kami berhasil dalam mencegah diadakannya parlemen reaksioner oleh pemerintah reaksioner dalam situasi mana aksi massa yang revolusioner di luar parlemen (khususnya aksi-aksi pemogokan) sedang meningkat dengan luar biasa cepatnya, ketika tidak ada satu lapisan pun dari proletariat dan kaum tani dapat menyokong pemerintah reaksioner dengan jalan apapun juga, ketika proletariat revolusioner sedang menjamin pengaruhnya atas massa terbelakang yang luas melalui perjuangan pemogokan dan gerakan tani….”

Setelah Revolusi 1905 melemah, situasi revolusioner belum sepenuhnya berhenti. Masalah perang yang menuntut diatasi tidak membiarkan gelombang revolusi mereda. Kekalahan dan demoralisasi hanyalah merupakan bagian yang sementara dalam perkembangan perjuangan kelas yang sedang bangkit. Menurunnya gerakan buruh di kota-kota segera diisi oleh kekuatan cadangannya: kaum tani dan prajurit-prajurit bawahan yang berasal dari desa-desa. Bertahannya gerakan revolusioner memaksa tsar memberi konsesi lewat pelaksanaan pemilihan parlemen baru. Bertumpu pada tinjauan atas kekuatan massa dari luar parlemen, Bolshevik mengambil langkah yang tepat dalam pendekatan taktisnya: memasuki Duma, untuk memblejeti otokrasi liberal dan seluruh sekutu borjuisnya dan untuk memperluas pengaruh Bolshevisme dengan melawan ideologi-ideologi asing dalam gerakan buruh. Gerakan revolusi melemah tapi kaum buruh Rusia telah mendapat banyak pelajaran darinya. Revolusi adalah sekolah politik besar, yang dalam apinya mendorong maju kesadaran massa. Dalam revolusi, baik pada periode kebangkitan maupun kemundurannya—massa telah belajar bagaimana menuntut dengan mengajukan petisi, pemogokan ekonomi, pemogokan politik, pembentukan Soviet, pemberontakan bersenjata, serta terlibat atau boikot Duma. Dan dari lapisan pemimpin revolusi, Trotsky menorehkan pandangannya tentang Soviet: komite-komite aksi yang lahir dalam revolusi ‘adalah otoritas terorganisir dari massa itu sendiri atas anggota-anggota mereka yang terpisah. Ini adalah bentuk demokrasi sejati, yang ditegakkan oleh rakyat yang dipersenjatai, tanpa sistem dua-kamar, tanpa bioraksi profesional, dengan hak pemilih untuk mencabut perwakilan mereka sesuka hati dan menggantinya dengan yang lain.’

Revolusi Rusia yang pertama ini menjadi gladi resik untuk Revolusi Oktober nantinya. Darinya kaum Bolshevik memetik pelajaran berharga, terutama dari revolusi yang kalah. Revolusi terjadi bukan atas kehendak kaum revolusioner karena perkembangan kapitalismelah yang sejatinya menciptakan kondisi untuk revolusi. Tanpa kaum revolusioner akumulasi eksploitasi dan opresi terhadap massa sewaktu-waktu dapat meledak menjadi pemberontakan raksasa. Walau dimulai secara spontan, namun dalam setiap langkahnya, gerakan massa akan melahirkan atau menemukan lapisan pemimpin yang sesuai dengan tingkat kesadarannya. Dan sebuah pembangkangan massa akan berujung kekalahan, kecuali terdapat kepemimpinan revolusioner ‘yang siap’ untuk memandu perjuangan untuk perebutan kekuasaan dengan segera. Kepemimpinan macam ini bukanlah sejenis kepemimpinan Gapon, melainkan sebuah partai revolusioner. Pada akhirnya: kekalahan revolusi tidaklah sedikitpun membuat Bolshevik berputus asa, melainkan bertambah yakin akan signifikansi pembangunan kepemimpinan revolusionernya. Memandang kawah proletar yang masih panas, yang membutuhkan satu guncangan saja untuk meletuskan lava revolusionernya, Lenin dari tempat pengasingannya menulis untuk korannya:

“Kita membutuhkan kekuatan anak-anak muda. Saya akan mengecam siapapun yang berasumsi bahwa tidak ada orang yang bisa direkrut. Rakyat Rusia sangatlah besar. Yang perlu kita lakukan adalah merekrut anak-anak muda dengan lebih luas dan lebih berani, dengan lebih berani dan lebih luas, dan sekali lagi dengan lebih luas dan lebih berani tanpa takut terhadap mereka. Ini adalah waktunya perang. Kaum muda—para pelajar dan terutama kaum buruh muda—akan menentukan hasil dari seluruh perjuangan ini. Singkirkan semua kebiasaan pasif yang lama, kebiasaan hormat jabatan, dan lain-lain. Bentuk ratusan lingkaran Vperyodist di antara kaum muda dan dorong mereka untuk bekerja keras. Perbesar komite tiga kali lipat dengan menerima kaum muda ke dalamnya, bentuk setengah lusin sub-komite, ‘kooptasi’ setiap orang yang jujur dan energetik. Perbolehkan setiap sub-komite untuk menulis selebaran dan tanpa halangan birokratis apapun (tidak apa-apa kalau mereka membuat kesalahan, kita yang di Vperyod dengan ‘sabar’ akan memperbaiki mereka). Kita harus, dengan teramat segera, menyatukan semua orang yang punya inisiatif revolusioner dan segera mengirim mereka untuk bekerja. Jangan takut kalau mereka kurang terlatih, jangan takut kalau mereka tidak berpengalaman dan belum berkembang …  Peristiwa-peristiwa akan mengajari mereka dengan semangat kita. Peristiwa-peristiwa sudah mengajar semua orang dengan semangat Vperyod.”

Kebijakan untuk membuka pintu partai bagi kelas proletar dan kaum muda sesuai dengan perkembangan Rusia. Dalam sekolah revolusi, kesadaran massa merangsek maju. Meski gerakan buruh dikalahkan dalam Minggu Berdarah, tetapi perjuangan revolusioner massa belum berhenti. Pada September-Oktober 1905, pemogokan-pemogokan dari lapisan belakang kelas pekerja, lapisan pekerja yang lebih tertindas (proletar kilang gergaji, tukang roti, tukang pos, pelayan hingga pembantu rumah tangga) memenuhi Petrograd dan Moskow. Meski tidak ada serikat buruh yang mapan, tetapi mereka terus bergerak mengorganisir pemogokan dengan membentuk komite-komite aksi untuk merangkul lapisan-lapisan lainnya. Dengan cepat komite-komite pemogokan ini merangkul sebanyak mungkin rakyat pekerja. Di sinilah tepatnya Soviet Petersburg berdiri: berbasiskan massa pekerja yang sedang berjuang. Namun para pemimpin Bolshevik yang menjalankan mesin partai tertinggal di belakang peristiwa. Terhadap Soviet Petersburg, Kepemimpinan Komite Bolshevik Petersburg di bawah Kamenev, Stalinin dan Zinoviev mendekatinya dengan prasangka dan rasa curiga. Kelemahan dalam memandang karakter non-partai dari Soviet dan dominasi Menshevik di dalamnya membangkitkan kecurigaan mereka. Sementara Lenin dari tempat pengasingannya memberikan sambutan hangatnya. Dan dari eksterior Lenin mengkritik kamerad-kameradnya yang berada di interior: ‘satu-satunya masalah—dan ini adalah masalah yang sangat penting—adalah bagaimana membagi, dan bagaimana mengombinasikan, tugas-tugas Soviet dan tugas-tugas PBSDR.’ Lenin menegaskan: ‘kita tidak boleh menutup diri kita dari massa revolusioner.’ Dalam “Komunisme Sayap Kiri; Suatu Penyakit Kekanak-Kanakan”, Lenin menulis:

“…bahwa hubungan dengan ‘massa’ melalui serikat buruh-serikat buruh tidaklah cukup. Selama revolusi aktivitas nyata telah menimbulkan di negeri kami konferensi-konferensi kaum buruh dan kaum tani non-partai, dan kami berusaha dengan segala jalan untuk membantu, mengembangkan dan meluaskan badan-badan ini supaya dapat mengikuti sentimen-sentimen massa, lebih mendekati mereka, memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, mempromosikan yang terbaik di kalangan mereka ke jabatan-jabatan negara, dan sebagainya…. Pada masa permulaan perkembangan kapitalisme serikat buruh-serikat buruh adalah suatu kemajuan raksasa bagi kelas buruh, sebagai peralihan dari keadaan terpencar-pencar dan tak berdaya-nya kaum buruh ke benih-benih pertama dari penyatuan klas. Ketika bentuk yang tertinggi dari persatuan kelas proletar mulai lahir, yaitu partai proletariat revolusioner (yang tidak akan layak mendapat sebutan itu sebelum ia belajar menyatukan pemimpin-pemimpin dengan klas dan massa menjadi satu keutuhan, sesuatu yang tak terpecahkan), maka buruh dan kaum tani…. Menunda tercapainya Kediktatoran Proletariat sampai datang masanya, di mana tidak ada lagi seorangpun buruh yang mempunyai pandangan yang sempit menurut keahliannya, seorang buruh yang mempunyai purbasangka-purbasangka reaksioner dan serikatburuhisme, akan merupakan kesalahan yang lebih besar lagi. Kecakapan seorang politikus (serta pengertian yang benar dari setiap Komunis tentang kewajiban-kewajibannya) terletak justru dalam memperhitungkan dengan tepat syarat-syarat dan saat, di mana pelopor proletariat dapat merebut kekuasaan dengan berhasil, di mana ia dapat sewaktu dan sesudah perebutan kekuasaan, mendapat bantuan yang cukup dari lapisan yang cukup luas dari kelas buruh dan massa pekerja non-proletar, dan di mana sesudah itu ia dapat mempertahankan, mengkonsolidasi dan meluaskan kekuasaannya dengan mendidik, melatih dan menarik semakin luas massa rakyat pekerja.”

Dengan mempertimbangkan kritik Lenin maka kebijakan partai berubah: Bolshevik bukan hanya mulai melakukan kerja di Soviet, tapi juga serikat-serikat buruh. Sekarang metode kerja di organisasi massa dilancarkan untuk mengintervensi setiap pemogokan yang ada. Intensitas pemogakan buruh selama Oktober menginspirasi bangsa-bangsa kecil yang tertindas di dalam Rusia Raya untuk melancarkan pemberontakan juga. Sekarang 57 persen populasi bangsa minoritas terseret dalam arus persoalan kebangsaan. Di Finlandia, daerah Baltik dan Kaukasus berlangsung kekacuan dan pembangkangan terhadap rezim. Di Ukraina, selama 3 bulan terakhir telah berlangsung 1.590 pemberontakan tani dan sekarang rakyat pekerja membanjir di Kiev dan Odessa untuk menentang otokrasi borjuasi. Merangseknya bangsa-bangsa tertindas ke dalam perjuangan kelas mengharuskan Bolshevik segera menentukan posisi terhadap masalah kebangsaan. Posisi Bolshevik terpancar melalui selebaran-selebaran agitatifnya: ‘kamerad sekalian, kita kaum buruh tidak membutuhkan perbudakan satu bangsa oleh bangsa lainnya. Orang Finlandia, Polandia, Yahuhi, Jerman, Armenia adalah saudara-saudari kita semua. Kita tidak boleh berjuang melawan mereka, tetapi berjuang melawan autokrasi dan kapitalisme.’ Tidak ada solusi terbaik dari masalah kebangsaan, kecuali merajut ‘persatuan sukarela’ untuk menggulingkan kekuasaan monarki dan borjuis—untuk menegakkan demokrasi dan kediktatoran proletariat. Persatuan ini dibangun bukan dalam front-front demokratik atau kiri dari borjuis-liberal dan borjuis-borjuis-kecil, melainkan bersatu dan bercampur-baur bersama organisasi-organisasi proletar dan semi-proletar. Dan pengakuan Bolshevisme atas hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa tertindas tidak mengecualikan agitasi-propaganda menentang separasi atau nasionalisme borjuis. Dalam “Revolusi Sosialis dan Hak Bangsa Menentukan Nasib Sendiri”, Lenin menulis:

“Bertentangan dengan segala bentuk nasionalisme borjuis, demokrasi kelas-buruh mengedepankan tuntutan persatuan tanpa-syarat dan amalgamasi penuh buruh dari semua kebangsaan dalam organisasi kelas buruh—serikat buruh, koperasi, asosiasi konsumen, badan pendidikan, dan yang lainnya—sebagai tandingan atas percekcokan nasionalis antara berbagai partai borjuis mengenai masalah bahasa dan sebagainya. Hanya persatuan dan amalgamasi macam ini yang dapat menjaga demokrasi dan membela kepentingan buruh dalam melawan kapital—yang sudah internasional dan semakin hari semakin internasional—dan mendorong perkembangan umat manusia ke sebuah cara hidup baru yang asing dari semua privilese dan semua eksploitasi.”

Menghadapi gelombang perlawanan terus-menerus otokrasi liberal menyiasati sebuah reforma. Tanggal 17 Oktober, tsar mengeluarkan manifesto yang sedikit memberi tempat untuk kebebasan pers, berekspresi, berserikat dan berkumpul selama tidak terlalu membahayakan kekuasaannya. Terbitnya reforma ini disebut Lenin sebagai ‘kemenangan pertama revolusi.’ Namun sebuah kemenangan yang parsial dan sementara. Dengan mengeluarkan konsesi, tsar sesungguhnya bukan saja berupaya menenangkan situasi tapi juga mempersiapkan pukulan balik di lain hari. Manifesto Oktober menebar ilusi-demokrasi yang disambut kaum liberal dengan memisahkan dirinya dari revolusi dan membentuk gerakannya sendiri: ada yang mendirikan Perhimpunan 17 Oktober (Oktobris) dan ada pula yang membentuk Partai Konstitusional Demokratik (Kadet). Keduanya sama-sama mendukung tsar dalam mempertahankan kekuasaan autokratik dengan kedok konstitusional dan demokratik. Di sisi lain, Bolshevik mulai melakukan penetrasinya ke dalam organisasi-organisasi massa. Kerja-kerja legal dan semi-ilegal berdasarkan prinsip ‘menjelaskan dengan sabar’ digencarkan untuk memenangkan massa ke arah Marxisme dan membangun Bolshevisme. Alan Woods menceritakannya: ‘tugas kaum revolusioner dalam situasi ini adalah untuk memahami bahwa pertempuran-pertempuran yang menentukan masih harus diperjuangkan di hari depan, untuk merenggut kesempatan yang ada dengan kedua tangan, dan menggunakan kebebasan yang baru diraih ini untuk membangun partai dengan pesat, memperluas pengaruhnya ke semua ranah kehidupan sosial, dan mempersiapkan diri untuk pertempuran penentuan.’

Pada 27 Oktober 1905, edisi pertama Novaya Zhizn diterbitkan Bolshevik. Koran ini menjadi organ resminya sampai bulan Desember. Oplahnya mencapai 50.000-80.000. Melalui koran inilah kerja kontak berlangsung begitu rupa. Akhir 1905, metode ini meningkatkan jumlah keanggotaan Boslhevik hingga 8.400 anggota. Namun sekali lagi. dari semua kaum Sosial-Demokrat yang ada dan berusaha memberikan kepemimpinannya, hanya Trotsky yang berhasil memainkan peran utama di pusaran revolusi: Soviet. Sewaktu berumur 26 tahun, dia sudah mampu memimpin serikat buruh dengan menjadi Presiden Soviet Petrograd. Capaian terbesarnya adalah diubahnya koran liberal Ruskaya Gazeta menjadi Nachalo sebagai koran buruh yang revolusioner dan militan. Dipimpin oleh Trotsky koran itu melejit oplahnya: dari 30.000 menjadi 100.000 hingga mencapai 500.000. Meski di atas kertas merupakan korannya Menshevik, tapi garis politik Nachalo dekat dengan Bolshevik: mulai dari kebutuhan akan perjuangan bersenjata, kepemimpinan proletariat, hingga soal kekuasaan Soviet. Martov mengakui hal itu. Berkali-kali ia mencoba menekan Trotsky dan berakhir gagal selalu. Serupa dengan pengakuan Dan—selaku pimpinan Menshevik, dirinya membeberkan keluhanya lewat sebuah surat kepada Kautsky: ‘di Petrograd mereka menerbitkan sebuah koran, Nachalo, yang menggantikan Iskra, dan selama November dan Desember 1905 koran ini memuat pernyataan-pernyataan yang paling radikal, yang hampir-hampir tidak dapat dibedakan dari koran Bolshevik, Novaya Zeizn.’

Setelah setahun pecah dari Menshevik; kecenderungan Trotsky semakin mengarah ke Boslhevik. Selama badai Revolusi 1905, garis politik Trotsky sama sekali berlawanan dengan Martov dan lebih dekat dengan Lenin: bukan pemogokan ekonomi tapi pemogokan politik umum, bukan pemberontakan lokal tapi pemberontakan massa seluruh Rusia, dan bukan kediktatoran borjuis tapi kediktatoran proletar. Walau dirinya memilih berada di luar kedua faksi dan belum memutuskan untuk secara organisasional bergabung dengan Bolshevik, namun dalam setiap urusan fundamental pemikiran Trotsky sejalan dengan Bolshevisme. Dalam sekolah revolusi, dan terlebih, dalam sekolah Soviet; Trotsky, lebih dari pemimpin PBSDR manapun, melibatkan diri secara langsung untuk belajar dan memahami arti revolusi sosial dan embrio kekuasaan proletariat. Jika ada yang kurang dari Trotsky di periode awal politiknya–itu bukanlah keyakinannya pada kelas proletar, melainkan kejelasan akan pembangunan kepemimpinan partai revolusioner. Trotsky mengakuinya: ‘secara politik saya berseberangan dengan kaum Menshevik dalam masalah fundamental. Dalam kecenderungan politik umum, saya jauh lebih dekat dengan kaum Bolshevik. Tetapi saya menentang rezim Leninis karena saya belum memahami bahwa untuk bisa memenuhi gol revolusioner dibutuhkan sebuah partai yang tersentralir dan kuat.’

Kebangkitan kembali gerakan buruh menajamkan persoalan faksionalisasi dan menuntut diakhiri secepatnya. Tahun 1910, seluruh perwakilan dari kedua tendensi PBSDR bertemu dan mencoba membuang berbagai perbedaan mereka. Namun persatuan di antara tendensi yang secara prinsipil berlawanan mustahil bertahan lama. Segera setelah berdamai semua tendensi yang berbeda itu kembali bermusuhan. Perspektif, taktik dan tujuan yang beragam memosikan keduanya untuk saling berhadap-hadapan. Setelah melalui pengalaman untuk menyatukan Bolshevik-Menshevik dan menuai kegagalan, Lenin beroleh kesimpulan kalau perpecahan merupakan keniscayaan. Bolshevik tidak mungkin bersatu dengan kaum oportunis dan likuidator. Persatuan dengan mereka dapat menghambat kemajuan bagi gerakan proletar. Pada 1912, Bolshevik pecah sepenuhnya dengan Menshevik dan mendeklarasikan partai tersendiri. Dari perturangan faksional yang baru saja diselesaikan ini, Lenin dan para kameradnya semakin memahami signifikansi untuk membangun partai revolusioner dengan pespektif, program, metode dan tradisi yang tepat. Dan segera setelah perpecahan penuh itulah Bolshevik semakin besar dan menguat. Pravda hadir sebagai koran terbarunya Bolshevik. Meluapnya mood pemberontakan di barisan tentara Baltik dan buruh Petrogard diarungi Bolshevik dengan seruan-seruan pemogokan. Selama tahun ini berlangung lebih dari 3.000 pemogokan dengan keterlibatan 1.463.000 buruh—1.100.000 di antaranya terlibat dalam pemogokan politik. Melancarkan pelbagai intervensi dan kerja-kerja politik di tengah-tengah massa membawa pertumbuhan pesat bagi partai.

Pada 1913, Bolshevik mempunyai 22 sel buruh di Moskow. Pravda semakin menancapkan pengaruhnya. Bulan September, keanggotann Bolshevik sudah mencapai 50 ribu. Selama setahun ini 2 juta buruh telah melancarkan pemogokan—1.272.000 di antaranya merupakan pemogokan politik. Pengaruh Bolshevik semakin membesar. Kepopuleran Pravda dan ide-ide Bolshevisme menghadirkan ketakutan mendalam di benak kelas penguasa. Meski berkali-kali koran Bolshevik dibredel dan percetakannya dihancurkan dalam arti yang sesungguhnya, namun kuatnya cengkeraman Marxisme-Bolshevisme dalam gerakan buruh Rusia telah melahirkan para militan yang sanggup menghidupkannya lagi dan lagi. Dalam “Bolshevisme; Jalan menuju Revolusi Jilid II: 1906-1914”, Alan Woods menceritakannya:

“Koran yang baru ini tidak luput dari perhatian polisi. Pravda harus menghadapi sensor, denda, dan penggerebekan polisi. Sekitar 17 persen dari semua edisi di sita pada 1912. Dari Mei-Juni 1913, ini mencapai 40 persen. Dan pada Juli-September, jumlah yang disita mencapai 80 persen! Untuk mengelabui polisi mereka mengubah nama korannya berkali-kali: Rabochaya Pravda, Pravda Truda, Severnaya Pravda, dan seterusnya. Setiap kali pemerintah menggerebek koran Bolshevik, koran dengan judul baru muncul, dan permainan kucing-dan-tikus ini terus berlanjut. Selain masalah legalitas, juga ada masalah keuangan yang terus menghantui penerbitan koran. Usaha penggalangan dana dilakukan terus-menerus. Tidak seperti kaum Menshevik yang memperoleh dana mereka dari simpatisan kaya, kaum Bolshevik bangga kalau mereka menggalang mayoritas dana mereka dari recehan yang dikumpulkan oleh buruh sendiri. Dalam jangka panjang, ini adalah satu-satunya fondasi yang kokoh untuk mendanai partai revolusioner. Pada 1912, ada 620 kelompok buruh yang mengorganisir koleksi dana untuk koran, dan pada 1913, jumlah meningkat menjadi 2.181. Pravda didanai terutama dari ‘recehan buruh.’”

Dalam melancarkan kerja-kerja politik, Bolshevik tidak saja menerangkan peran sentral dari Koran Marxis tetapi juga primernya persoalan finansial. Dengan keuangan revolusionerlah Lenin dan kamerad-kameradnya dapat membangun organisasi bagi kaum revolusioner proletariat. Sumber pendanaan bukan dari kelas borjuis melainkan proletariat yang dikumpulkan di sekitar koran revolusioner. Diorganisir melalui koran revolusioner maka persoalan finans bukan berpijakan garis ekonomis atau persoalan organisasional tapi politis. Dalam “Draf Panduan Membangun Finans Bolshevik”, PSR menerangkan kalau pembangunan partai revolusioner mendasarkan sumber keuangannya pertama-tama dari anggota yang mengumpulkan iuran reguler seturut dengan tingkat kesadaran politiknya dan selanjutnya anggota dan rakyat pekerja yang bersimpati memberikan dana juang dan membeli koran dan berbagai literatur terbitan organisasi revolusioner. Dengan ini Bolshevik membiayai kerja-kerja politiknya: membayar staff full-timer, kantor, produksi koran, buklet, buku, dan lain-lain. Keuangan bagi Bolshevisme bukanlah menyangkut regularitas dan syarat keanggotaan semata, tapi terutama tentang praktik politik bersperpektif Marxis Revolusioner. Dalam kerja-kerja politik Bolshevisme; teori revolusioner disalurkan untuk mencengkeram massa dan Bolshevik berdiri bukan saja sebagai organisasi politik tertinggi proletariat, melainkan pula—sejak kelahirannya—menjadi ‘universitas perjuangan kelas’ yang mendidik kaum muda dan kelas proletar.

Sepanjang Kebangkitan Revolusioner (1912-14), pengaruh dan kekuatan Bolshevik bertambah besar. Momen Perang Dunia I (1914-18) pun tidak dilewatkannya. Selama Mei-Maret 1914, Bolshevik melancarkan aktivitas politiknya dalam gerakan perempuan pekerja. Pada 23 Februari (8 Maret) 1913, Bolshevik mampu mengorganisir pertemuan Hari Perempuan Internasional (HPI) di sekitar Pravda. Begitulah Pravda secara reguler menerbitkan satu halaman khusus untuk persoalan-persoalan perempuan. Tahun 1914, HPI untuk pertama kalinya diperingati dengan demonstrasi berskala raksasa dan diorganisir oleh partai. Setelah Revolusi 1905, partai telah menjalin kontak dengan buruh-buruh perempuan dalam serikat-serikat buruh dan lingkar-lingkar studi buruh. Bolshevik berhasil merekrut perempuan-perempuan pekerja tekstil yang mendirikan serikat-serikat buruh dengan menggabungkan perempuan-perempuan pekerja informal: pembantu rumah tangga, asisten toko, penjahi, pencuci, dan sebagainya. Pada 1907, mereka dididik oleh Alexandra Kollontai dan kamerad-kamerad Lenin lainnya dengan mendirikan lingkar-lingkar studi di Petrograd. Di sini mereka memiliki banyak kegiatan yang mendidik: membaca, menulis, panggung budaya dan tur museum.

Memasuki 1913-14, Bolshevik semakin intens melancarkan intervensi ke dalam serikat-serikat buruh dan mendorongnya melawan musuh-musuh kelasnya. Tahun 1914, banyak serikat buruh yang berhasil dimenangkan ke arah Boslhevisme: 19 di Petrograd dan 13 di Moskow. Pada 9 Januari 1917, para buruh sadar kelas, kaum muda dan perempuan, serta seluruh lapisan-lapisan tertindas lainnya berhasil diorganisir untuk memperingati Minggu Berdarah melalui pemogokan. Dalam menghadapi dampak-dampak dari Perang Dunia yang sedang bergejolak, rapat-rapat akbar dan demonstrasi digelar sampai Februari. Ketika Menshevik menyerukan untuk berdemonstrasi dengan motif memberikan dukungan kepada Duma dan Zemstvo; Bolshevik menggagalkan seruan kaum oportunis—yang mengajak berkolaborasi kelas—dengan pengorganisiran 90.000 buruh dari 58 pabrik dengan slogan ‘Gulingkan Pemerintahan’, ‘Hentikan Perang’, dan ‘Hidup Republik.’ Tepat 23 Februari (8 Maret), HPI diperingati dengan pemogokan-pemogokan yang meledak menjadi revolusi. Dalam Revolusi Februari 1917, perempuan-perempuan pekerja—yang sebelumnya diorganisir di sekitar Pravda—memulai parade turun ke jalan dan menyulut api pemberontakan. Di sini buruh perempuan dari pabrik tekstil di distrik Viborg, Petersburg, menggencarkan agitasi yang berhasil menarik sekitar 80.000 buruh berdiri di bawah slogan Bolshevik: ‘Roti’, ‘Perdamaian’, ‘Kebebasan’—‘Gulingkan Pemerintahan.’ Dua hari setelahnya berlangsung mobilisasi yang melibatkan pelajar, pelayan toko, pembantu rumahan, pekerja kantoran, dan prajurit—mereka bergabung dengan buruh-buruh pabrik dan membentuk barikade-barikader yang kekuatan tempurnya melebihi 240.000 massa. Inilah isi selebaran kaum perempuan Bolshevik, yang ditebarkan mulai dari pabrik-pabrik, hingga meluap ke barak-barak, perkantoran, restoran, sekolah-sekolah, pemukiman, gang-gang dan jalan raya:

“Kamerad, kaum buruh perempuan, demi siapakah perang dilancarkan? … Perang dilancarkan demi emas, yang berkilauan di mata kaum kapitalis, yang menangguk untung darinya. Para menteri, pemilik penggilingan, dan bankir berharap memancing di air yang keruh. Mereka menjadi kaya pada masa perang. Sesudah perang, mereka tidak akan membayar pajak militer. Kaum buruh dan tanilah yang akan menanggung semua pengorbanan dan membayar semua biayanya. Kamerad-kamerad permpuan, akankah kita terus membiarkan hal ini dengan berdiam diri untuk waktu yang sangat lama, dan letupan amarah yang mendidih sesekali terhadap pedagang-pedagang kecil? Jelas, musibah rakyat bukan salah mereka. Mereka sendiri juga kacau. Pemerintahlah yang salah. Merekalah yang memulai perang ini dan tidak sanggup mengakhirinya. Negeri terkoyak-koyak. Salah pemerintah bila kalian kelaparan. Kaum kapitalis yang salah. Perang dilancarkan demi keuntungan mereka … Turunkan pemerintah penjahat beserta serombongan maling dan pembunuhnya. Hidup Perdamaian!”

Kian lama dikerangkeng oleh kekuasaan otokrasi dan ditambah keterlibatan Rusia dalam Perang Dunia I, kondisi hidup kelas pekerja semakin mengenaskan. Buruh perempuan adalah yang paling menderita di antara semuanya. Setelah sebanyak mungkin buruh laki-laki dipaksa ke medan pertempuran; para perempuan pekerjalah yang mengisi kekosongan di pelbagai pabrik. Buruh perempuan menanggung beban-ganda yang semakin berat. Mereka bukan saja dipekerjakan dengan waktu kerja yang panjang, tapi juga mendera kekurangan makanan dan kemelaratan di tengah kecamuk peperangan. Perang adalah peristiwa kolosal yang membongkar semua selubung kontradiksi kapitalisme. Perang  menyingkap ketiadakmanusiawian masyarakat berkelas, kemunafikan kelas borjuis, hingga kebangkrutan pemimpin-pemimpin reformis dan oportunis. Selama perang berkecamuk, eksploitasi dan penindasan terhadap rakyat pekerjat bertambah tajam dan tanpa preseden. Kebijakan-kebijakan otokratik liberal tidak mampu mengobati penderitaan dan luka massa yang menganga. Perang menyeret sebanyak-banyaknya buruh dan tani untuk menjadi umpan peluru. Sementara Karl Kautsky dan pemimpin-pemimpin Internasional Kedua justru mendukung peperangan imperialisme. Dalam situasi inilah proses radikalisasi massa bertambah luas dan agitasi-propaganda Pravda makin terdengar keras. Pada 25 Februari, 35 pemimpin serikat buruh terdorong bertemu di kantor Perserikatan Koperasi Buruh Petrograd. Di pertemuan itu, Soviet yang spontan berdiri dalam Revolusi 1905 kini didirikan secara sadar. Namun sehari setelahnya, Komite Bolshevik Petrograd ditangkap oleh polisi tsar. Mereka dijerat hukum karena terlibat aktif dalam pendirian Soviet. Segera setelah mereka ditangkap gelombang perlawanan semakin menderas. Ratusan ribu massa menyeberangi sungai beku untuk bergerak ke Nevsky dengan slogan-slogan dan lagu-lagu revolusioner yang diagitasikan Bolshevik. Pertempuran terbuka dengan aparat berlangsung gemiliang. Terdidik di sekitar Pravda dan menjadi kaum yang paling tertindas selama perang, buruh perempuan bertempur secara militan. Mereka sama sekali tidak takut berhadapan dengan resimen pengawal dan tentara Cossack. Bahkan dengan kemampuan agitatif mereka mampu meluluhkan prajurit rendah yang berasal dari keluarga-keluarga kaum tani. Di hadapan barisan perempuan revolusioner, petani-petani berseragam menolak menembak, memulai pembelotan massal, dan bergabung dalam penggulingan tsar.

Tanggal 27 Februari, ibukota diduduki Soviet Buruh dan Prajurit. Di sini 2 juta rakyat pekerja bergerak serentak dalam menggulingkan tsar. Kekuasaan autokratik secara praktis lengser tapi Soviet-Soviet yang ada belum sepenuhnya mantap merebut kekuasaan. Walaupun terdapat kemajuan besar soal agitasi-propaganda tapi urusan konsolidasi organisasi Bolshevik belumlah cukup kuat. Perang telah menelan bunga-bunga terbaik proletar. Mayoritas pemimpin terpilih Soviet berasal dari Menshevik dan Sosial Revolusioner, bukan Bolshevik. Kaum oportunis begitu ragu dan pengecut, tidak mempercayai kelas buruh untuk menegakan kediktatoran proletariat. Sebagai gantinya, situasi obyektif yang matang untuk memulai transformasi sosialis ditunda. Lemahnya kepemimpinan revolusioner dalam Soviet, memungkinkan kaum liberal borjuis dan borjuis-kecil untuk bermanuver membentuk Pemerintahan Sementara. Dengan membentuk pemerintahan borjuis demokratik, kaum reformis dan radikal memahkotai Revolusi Februari sebagai Revolusi Borjuis. Ini mengalir dari Teori Revolusi Dua-Tahap yang mereka anut: diperlukan revolusi demokratik-borjuis terlebih dahulu untuk menuntaskan pembangunan kapitalisme dan setelah semuanya cukup (berdirinya republik-borjuis, reforma agraria, pemisahan agama dengan negara, parlemen dan pemilu demokratis, dan sebagainya) barulah menuju revolusi sosialis. Kebimbangan pemimpin borjuis-kecil dalam Soviet membuka pintu kemunculan kekuasaan ganda di seluruh Rusia. Dalam menghadapi Soviet, Pemerintahan Sementara menebarkan aneka ilusi-demokrasi untuk melemahkan pengorganisasian kediktatoran proletariat yang beraliansi dengan kaum tani. Mereka menipu massa dengan menebar agitasi-propaganda oportunistik. Pada 1917, Trotsky menulis artikel tentang “The Farce of Dual Power” yang dengan keras memblejeti oportunisme Menshevik dan Sosial Revolusioner:

“Para intelektual borjuis-kecil setelah mereka diangkat oleh Soviet Delegasi Buruh dan Prajurit ke ketinggian yang tak pernah mereka duga, sangatlah takut akan tanggung jawab, dan oleh karenanya mereka dengan hormat menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan kapitalis-feodal yang lahir dari rahim Duma … Ketakutan organik borjuis-kecil di hadapan kekuasaan tampak jelas di antara kaum populis. Di antara kaum Menshevik-patriot, ketakutan ini diungkapkan dengan doktrin bahwa kaum Sosialis tidak boleh mengambil tampuk kekuasaan di dalam revolusi borjuis…. karena itu munculah ‘Kekuasaan Ganda’, atau yang lebih tepat disebut ‘Keimpotenan Ganda.’ Kaum borjuis meraih otoritas untuk menjaga ketertiban dan meneruskan perang. Akan tetapi, tanpa Soviet-Soviet pemerintahan borjuis tersebut tidak dapat memerintah. Hubungan antara Soviet dan Pemerintahan [Sementara] adalah hubungan yang dipenuhi dengan rasa setengah-percaya, dikombinasikan dengan ketakutan kalau-kalau kaum proletariat revolusioner tiba-tiba mengacaukan keadaan.” 

Mengerti kalau kaum Bolshevik dalam Soviet itu lemah, sedangkan pengorganisasian proletariat dalam Soviet merupakan embrio dari Negara Buruh, maka Lenin sebagai pemimpin inti Bolshevik bergegas meninggalkan pengasingannya di Swiss. Tanggal 16 April 1917, Lenin tiba di Petersburg yang namanya telah berubah menjadi Petrograd. Segera setelah kehadirannya, kepemimpinan Stalin dan Kamenef atas Bolshevik Petrograd dikritik. Mereka ragu-ragu dan tidak memiliki keyakinan pada kemampuan kelas buruh untuk berkuasa. Di tangan mereka, Pravda menjadi alat kelas-asing yang dijalankan dengan membela kebijakan dua-tahap Menshevik: penundaan terhadap revolusi proletar demi bersekutu dengan borjuasi dalam revolusi demokratik. Dengan sebuah program yang berbentuk Tesis April, Lenin mempersenjatai-ulang Partai Bolshevik. Penyimpangan Stalin dan Kamenev ditunjukkan. Pandangan yang bengkok diluruskan. Partai dibersihkan dari ideologi kelas-asing. Dan dengan menjalankan program ini, Bolshevik berjuang merebut pengaruh dalam Soviet. Semuanya dilakukan dengan agitasi-propaganda yang gigih, sistematis, dan sabar—untuk memerangi oportunisme borjuis-liberal dan borjuis-kecil, mempersiapkan proletariat dalam merebut kekuasaan dan mengakhiri perang, dan memastikan seluruh kekuasaan berada di tangan Soviet; melaksanakan kongres untuk membahas soal imperialisme dan peran, sikap terhadap Negara Sosialis, amandemen program minimum, perubahan nama Sosial-Demokrasi menjadi Komunis, dan mendorong pembentukan Internasional yang baru karena Partai Komunis Dunia telah dirembesi oportunisme. Sepakat dan ikut memperjuangkan program-program itu, Trotsky tampil sebagai dwitunggal dengan Lenin—yang berusaha memenangkan seluruh kaum Bolshevik ke arah Tesis April—dan memastikan Partai Bolshevik berjuang memimpin Soviet dalam merebut kekuasaan sepenuhnya. 

Akhir April, kerja-kerja agitasi mengenai perlunya pendirian milisi rakyat sebagai nukleus bagi Pemerintahan Soviet dan Kediktatoran Proletariat diterima. Pada 28 April, Konferensi Soviet diorganisir dengan perwakilan 156 pabrik untuk mendirikan Garda Merah yang bertujuan: ‘melawan intrik kontra-revolusioner dari kelas berkuasa dan mempertahankan menggunakan senjata seluruh kemenangan kelas buruh.’ Tanggal 1-4 Mei, sekitar 100.000 buruh dan prajurit Petrograd melancarkan demonstrasi di bawah pimpinan Bolshevik, yang kemudian diikuti kota-kota lainnya dengan membawa slogan tegas: ‘Hentikan Perang!’ dan ‘Semua Kekuasaan untuk Soviet!’ Pada 3-24 Juni berlangsung Kongres Soviet Seluruh Rusia, yang dihadiri sekitar seribu orang perwakilan yang berasal dari 53 Soviet Provinsi/Regional, 305 Soviet Lokal, dan 34 Garda Merah. Secara umum pengaruh Bolshevik bertambah besar tapi dalam Soviet jumahnya masihlah minoritas—Bolshevik hanya mempunyai 105 perwakilan; sementara Sosial Revolusioner (285), Menshevik (248), dan gabungan partai-partai kecil (111). Dalam kongres ini dibahas berkait sikap Soviet terhadap Pemerintah Sementara. Tsereteli mengusulkan Soviet mendukung Pemerintahan Sementara (Menshevik dan Sosial Revolusioner). Tapi Lenin bersikukuh agar seluruh kekuasaan diserahkan kepada Soviet. Lemahnya perwakilan Bolshevik dalam pemungutan suara mengharuskan usulan Tserateli diterima dan Lenin ditolak. Di kongres ini program Bolshevik tidak lolos tapi di akar rumput buruh-buruh Petrograd menyerukan secara tegas: ‘Soviet! Jangan beri Pemerintahan Sementara kepercayaan secuilpun’, ‘semua kekuasaan harus diserahkan ke tangan Soviet’, dan ‘tinggakan koalisi untuk membantu merebut kekuasaan untuk Soviet.’ Dukungan mayoritas delegasi Kongres Soviet kepada Pemerintahan Sementara membuat buruh-buruh Petrograd resah dan marah. Mereka akhirnya merencanakan demonstrasi untuk segera menggulingkan Pemerintahan Sementara. Mendengar rencana pemberontakan maka secara cekatan Kongres Soviet menyerukan demonstrasi untuk menggagalkannya. Tetapi 400.000 buruh dan prajurit yang kemudian berdemonstrasi justru membawa slogan-slogan Bolshevik: ‘Gulingkan Sepuluh Menteri Kapitalis’, ‘Semua Kekuasaan untuk Soviet’, dan ‘Hentikan Perang.’

Tanggal 1 Juli, Pemerintahan Sementara semakin memperlihatkan kebangkrutannya dengan meluncurkan ofensif dalam Perang Dunia I dan penyerbuan markas Anarkis yang mengakibatkan tewasnya pimpinan Resimen Senapan Mesin Pertama. Ini memicu di hari itu juga Soviet-Soviet Buruh dan Prajurit melancarkan demonstrasi berskala raksasa di seluruh Rusia. Pada 2 Juli, perpecahan mulai terlihat di tubuh kelas penguasa: beberapa menteri Kerensky mengundurkan dirinya. Dan 3 Juli, prajurit-prajurit dari Resimen Senapan Mesin Pertama memberontak atas kematian pimpinannya—mereka ingin menangkap dan menghukum Kerensky. Pukul 4 Sore, Komite Sentral Bolshevik melangsungkan pertemuan dan memutuskan menahan gerakan pemberontakan ini. Tetapi malam harinya Komite Sentral bertemu dengan Komite Petrograd serta Garda Merah dan mendapatkan informasi kalau pemberontakan itu didukung oleh massa buruh di akar rumput yang ‘lebih kiri’ daripada Komite Sentral Bolshevik. Dengan pertimbangan inilah Boslhevik cekatan memutuskan terlibat untuk memberinya karakter terorganisir dan meminimalisir pertumpahan darah. Segera setelah pemberontakan meledak, para buruh akar rumput merangsek memasuki pertemuan pemimpin-pemimpin Soviet dan memaksa mereka segera merebut kekuasaan dari Karensky. Melihat situasi yang semakin memanas, kelas penguasa mulai memburu pimpinan-pimpinan Bolshevik. Tepat 4 Juli: Lenin, Trotsky, Kamenev, Zinoviev, dan Lunacharsky dibungkus perintah penangkapan. Lalu 5 Juli: Kantor Pravda dihancurkan, koran-koran dibakar, dan penerbitannya dibredel. Dalam kondisi inilah Garda Merah terjun untuk meminta Resimen Pasukan Mesin Pertama mengentikan demonstrasinya supaya prajurit kembali ke barak, buruh dapat bekerja, dan penggulingan Kerensky disiapkan secara seksama.

Sesudah Hari-Hari Juli yang begitu melelahkan dan menguras sumber daya kelas proletar, Soviet dan Bolshevik; Karensky kembali menancapkan kekuasaannya yang hampir lepas. Demonstrasi Juli gagal memercikkan revolusi, namun berhasil digunakan kelas penguasa untuk melemahkan kepemimpinan proletariat. Bolshevik difitnah mencoba melancarkan kudeta. Dalam kondisi ini Lenin terpaksa bersembunyi, Trotsky ditangkap, sementara seluruh elemen yang bersimpati kepada Boslhevik ikut direpresi. Karensky mengayunkan tongkat reaksinya. Bahkan untuk kembali menguatkan rezimnya dia menunjuk Jenderal Larv Kornilov—selaku figur otoriter yang disukai kelas borjuis dan aristokrat—sebagai Panglima Angakatn Bersenjata. Segera setelah Karnilov diangkat, dia langsung menunjukkan persekongkolan dengan gerombolan orang kaya—untuk menuntut pemberlakuan hukuman mati di medan perang dan bagi penduduk sipil; pelarangan resimen revolusioner, pertemuan garis depan, pemogokan di industri pertahanan dan rel kereta api; dan pemberlakuan darurat militer. Inilah awal dari kudeta yang sesungguhnya. Kini bukan sekadar Soviet yang terancam, tapi juga kekuasaan Karensky pula. Pada 25 Agustus, Kornilov mulai menggerakan pasukannya menuju Petrograd untuk menumpas Soviet dan merebut kekuasaan Pemerintahan Sementara. Karensky sekelebat panik, gemetar, hingga mengemis bantuan Lenin, Trotsky dan kamerad-kameradnya. Di pembuangan Lenin disurati permohonan dan dari penjara Trotsky dibebaskan. Kepemimpinan Bolshevik yang memandang Kudeta Kornilov sebagai ancaman bagi kekuasaan Soviet lantas menerapkan taktik Front Perjuangan. Taktik Front Bolshevik mengalir dari strategi pembangunan kepemimpinan revolusioner untuk revolusi proletar dan berdiri di atas situasi yang konkret yang menuntut perjuangan yang segera: ini dijalankan Bolshevik dengan ‘berdiri terpisah tapi memukul bersama’ Sosial Revolusioner dan Menshevik. Menerapkan taktiknya, Bolshevik tidak meleburkan programnya dan melikuidasi dirinya; Bolshevik tetap mempertahankan kebijakan independen proletar untuk menjalankan programnya dan meningkatkan pengaruhnya dengan menuntut kebebasan agitasi-propaganda. Dengan taktik dan metodenya, Bolshevik dalam praktiknya tidak saja bertempur melawan Kornilov tapi juga dapat memblejeti kebangkrutan Pemerintahan Sementara. 

Taktik Front Persatuan hanya dapat berpengaruh ketika organisasi revolusioner sudah mencampai jumlah tertentu dari total populasi di negerinya. Trotsky menjelaskan jika saja Bolshevik secara kuantitas adalah minoritas tidak signifikan maka penerapan Front Perjuangan tidak memiliki signifikansi secara praktek dan organisasional: ‘kapanpun Partai Komunis telah menyusun kekuatan politik yang besar, terorganisir namun belum dalam ukuran yang menentukan; kapanpun partai secara organisasional merangkul, katakanlah, seperempat, sepertiga, atau bagian yang lebih besar lagi dari pelopor proletar yang terorganisir, maka partai tersebut dihadapkan dengan persoalan front persatuan dengan semua kejelasannya.’ Sejak Agustus partai tumbuh dalam jumlah signifikan dengan kader-kader berkualitas. Ratusan agitator Bolshevik mendapat senjata dan dikerahkan untuk menginfiltrasi kamp Kornilov. Meski setelah Hari-Hari Juli perbendeharaan finansial dan sirkulasi koran partai melemah tapi Bolshevik memiliki berpengaruh yang mengakar dalam gerakan buruh. Hasilnya: Bolshevik bukan sekadar mampu mengalahkan Kornilov secara telak, tapi juga memenangkan pasukan-pasukan Kornilov untuk mendukung Soviet dengan menyebrang ke sisi revolusi dan menangkap komandan-komandan mereka. Dalam “Draft Presentasi Revolusi Oktober”, PSR menerangkannya:

“Bagaimana mungkin dengan aparatus yang lemah ini dan sirkulasi pers partai yang dapat diabaikan ini, ide-ide dan slogan Bolshevisme dapat menguasai rakyat? Penjelasannya sangat sederhana: slogan-slogan yang sesuai dengan tuntutan tajam kelas dan zaman menciptakan ribuan saluran untuk diri mereka sendiri. Media revolusioner yang sangat panas adalah konduktor ide yang tinggi. Koran-koran Bolshevik dibacakan dengan lantang. Dibaca sampai berkeping-keping. Artikel-artikel yang paling penting dipelajari dengan hati, dibacakan, disalin, dan sedapat mungkin dicetak ulang. ‘Pabrik percetakan staff kami’, kata prajurit itu, Pereiko: ‘melakukan pelayanan yang luar biasa untuk revolusi. Berapa banyak artikel individu dari Pravda dicetak ulang oleh kami, dan berapa banyak brosur kecil, sangat dekat dan dapat dipahami oleh prajurit! Dan semua ini didistribusikan di bagian depan dengan bantuan pos udara, sepeda dan sepeda motor….’”

Segera setelah peran besar Bolshevik dalam memukul mundur Kornilov, perimbangan kekuatan pun berubah. Bolshevik, prajurit dan buruh-buruh bersenjata sudah mengendalikan jalan-jalan ibukota. Lapisan-lapisan terbelakang kini bukan saja tidak lagi mempercayai Karensky karena relasinya dengan Kornilov, tetapi juga menarik dukungannya dari Menshevik dan Sosial Revolusioner yang terus menopang kekuasaan Pemerintahan Sementara. Pada Agustus-Oktober 1917, berlangsung perubahan drastis dalam Soviet, serikat-serikat buruh, dan berbagai organisasi massa di Rusia. Slogan ‘Semua Kekuasaan untuk Soviet’ diterima oleh mayoritas yang bergabug dalam Soviet-Soviet Buruh, Petani, dan Prajurit. Selama April-Oktober, keanggotaan Bolshevik meningkat dari 10.000 menjadi seperempat juta dimana 60 persennya merupakan buruh industri. Bulan Juni, delegasi Bolshevik pada Kongres Soviet Seluruh Rusia cumalah 13 persen; Oktober, delegasinya telah mencapai 51 persen. Dengan semakin terorganisirnya kekuatan proletariat inilah Lenin menjadi yakin kalau syarat untuk kemenangan pemberontakan berhasil dicapai. Tetapi para pimpinan Bolshevik masih terpengaruh oleh kekalahan pemberontakan bersenjata di Hari-Hari Juli. Oktober 1917, Lenin menulis surat untuk Komite Sentral yang membahas mengenai ‘Marxisme dan Insureksi.’ Bahwa selama Hari-Hari Juli: (1) tidak terdapat dukungan kuat dari kelas proletar yang menjadi pelopor dari revolusi; (2) belum ada situasi revolusioner yang meluas ke seluruh wilayah; (3) sedikitnya kegoyahan dan keretakan di antara kelas penguasa; (4) kurangnya amarah dan kebencian massa terhadap kelas penguasa. Kini situasi telah berubah. Syarat-syarat memenangkan insureksi berada di hadapan mata: (1) menangnya Bolshevik sebagai mayoritas di Soviet dengan popularitas dan dukungan besar dari massa-rakyat terhadap programnya; (2) berlangsungnya situasi revolusioner yang meluas setelah kegagalan Kudeta Kornilov yang kemudian membawa kaum tani dan prajurit ke arah partai; (3) perpecahan internal rezim Karensky dengan menteri-menterinya dan juga angkatan bersenjatanya (4) runtuhnya kredibilitas Pemerintahan Sementara, Sosial Revolusioner dan Menshevik yang memicu kemuakkan dan kemarahan massa. Dalam “Negara dan Revolusi”, Lenin tak sekadar mengkritik keras oportunisme para pemimpin partai dan organisasi buruh tetapi juga menjelaskan signifikansi pemberontakan bersenjata bagi kelas buruh:

“Sepanjang hidupnya Marx berjuang melawan sosialisme borjuis-kecil ini—yang sekarang dihidupkan kembali di Rusia oleh partai-partai Sosial Revolusioner dan Menshevik. Marx dengan konsekuen menerapkan ajarannya tentang perjuangan kelas, sampai kepada ajaran mengenai kekuasaan politik, dan ajaran mengenai negara. Penggulingan kekuasaan borjuis hanya dapat diselesaikan oleh proletariat, sebagai kelas istimewa yang syarat-syarat sosial eksistensinya menyiapkannya untuk tugas ini dan melengkapinya dengan kemungkinan dan kekuatan untuk melakukannya … Hanya proletariatlah—disebabkan oleh peranan ekonomi yang dilakukannya dalam produksi besar-besaran—yang mampu menjadi pemimpin dari seluruh massa yang bekerja membanting tulang dan terhisap, yang oleh borjuasi dihisap, ditindas, dan dipukul tidak kurang malah sering kali lebih hebat daripada kaum proletariat, tetapi tidak mampu menjalankan perjuangan yang independen demi kebebasannya. Ajaran tentang perjuangan kelas, bila diterapkan oleh Marx pada masalah negara dan masalah revolusi sosialis tidak boleh tidak menjurus pada pengakuan atas kekuasaan politik proletariat, kediktatorannya, yaitu kekuasaan yang tidak dibagi dengan siapapun dan yang langsung bersandar pada kekuasaan massa bersenjata….”

Meski berlangsung perbedaan pendapat kapan dimulainya pemberontakan bersenjata, tetapi perdebatannya tak berlangsung lama. Situasi revolusioner yang berlangsung menuntut pengambilan keputusan yang segera. Pada 10 Oktober, Komite Sentral Bolshevik melangsungkan pertemuan untuk membahasnya. 10 dari 12 anggota Komite Sentral mendukung usulan Lenin: ‘memulai perlawanan bersenjata.’ Soviet Petrograd yang dipimpin Trotsky mendirikan Komite Militer Revelousioner (KMR) dengan kedok menjaga ketertiban—suatu muslihat militer yang diperlukan sebelum melancarkan pemberontakan bersenjata. Tanggal 24 Oktober, Bolshevik memimpin KMR yang berhasil menggerakan semua pasukan buruh untuk menggulingkan Pemerintahan Sementara. Tentara-tentara Merah merebut gudang-gudang senjata, pusat-pusat komunikasi, percetakan, kantor-kantor pos, stasiun kereta api, dan bank-bank pemerintah maupun swasta. Tanggal 25 Oktober, Istana Musim Dingin diserbu Garda Merah dan rezim Karensky runtuh. Dalam pemberontakan ini tidak ada perlawanan yang berarti dan hampir tiada korban jiwa—cuma 18 orang yang ditangkap dan 2 lainnya tewas. Di tempat lain, pada saat yang bersamaan dengan perebutan Istana Musim Dingin, Kongres Soviet sedang digelar dan Lenin menyatakan perpindahan seluruh kekuasaan kepada Soviet Deputi Buruh, Tani, dan Prajurit. Inilah perebutan kekuasaan yang dipimpin partai revolusioner proletar—sebuah pemindahan kekuasaan yang mulus apabila partai tempur yang memimpin massa revolusioner di belakangnya telah siap secara politik dan militer.

Dalam “Draft Masalah Kongres Soviet”, PSR menjelaskan persoalan perebutan kekuasaan itu. Ada dua alasan yang membuat perebutan kekuasaan dalam Revolusi Oktober tampil memukau. Pertama, teknik: persiapan teknis melalui KMR yang dipimpin Trotsky seperti sebuah peperangan: ‘pada waktu yang menentukan dan pada titik yang menentukan, dan kemudian memukul dengan keras.’ KMR sejak pembentukannya telah menunjukkan kemampuannya untuk mengecoh dan ketika melancarkan tindakan militernya mengambil waktu Kongres Soviet guna memberi kejutan dan manuver untuk menipu musuh-musuh kelasnya. Namun alasan utama kemenangan Bolshevik dan buruh Rusia bukanlah persoalan teknik—tapi politik: sembilan persepuluh dari tugas pemberontakan telah dituntaskan sebelumnya, dengan memenangkan mayoritas besar di dalam Soviet-Soviet Buruh dan Prajurit.

Segera setelah KMR menggulingkan Pemerintah Sementara, Lenin memproklamirkan kalau seluruh kekuasaan negara telah berada di tangan Soviet dan menutupnya dengan seruan: ‘sekarang kita harus mulai membangun Negara Sosialis-Proletar di Rusia. Jayalah Revolusi Sosialis Dunia!’ Dalam kejatuhan Pemerintahan Sementara yang sekaligus menandai kemenangan revolusi proletariat, Lenin menegaskan: Revolusi Oktober bukanlah revolusi yang bersifat nasional tetapi internasional. Paralel dengan Trotsky: bukan pula revolusi dua-tahap tapi permanen—dimulai dari satu negeri, disebarkan ke pelbagai negara, dan berakhir pada skala dunia. Pernyataan ini menerangkan kalau Revolusi Oktober tidaklah berkarakter revolusi borjuis-demokratik melainkan proletar-sosialis. Kemenangan Revolusi Oktober berada di tangan proletariat: kepemimpinan partai revolusioner proletar dalam kediktatoran proletariat yang beraliansi dengan kaum tani dalam sistem Pemerintahan Soviet. Dan di bawah kediktatoran proletar yang dipandu oleh partai revolusioner, transformasi sosial tidak dapat berkarakter revolusi-demokratik tapi revolusi sosialis—Revolusi Permanen. Dalam “Revolusi Permanen: Teori Revolusi Sosialis untuk Dunia Ketiga”, Trotsky menerangkan:

“Kediktatoran proletariat yang telah naik ke tampuk kekuasaan sebagai pemimpin revolusi demokratik secara tak terelakkan dan segera dihadapkan pada tugas-tugas, yang sesungguhnya terikat dengan sangat erat pada hak-hak kepemilikan pribadi borjuis. Revolusi demokratik berkembang secara langsung menjadi revolusi sosialis dan oleh karena itu menjadi sebuah Revolusi Permanen… Penaklukan kekuasaan oleh proletariat belumlah menyelesaikan revolusi, namun hanya membukanya. Pembangunan sosialis hanya dapat dicapai di atas pondasi perjuangan kelas, dalam skala nasional dan internasional. Perjuangan ini, di bawah kondisi dominasi relasi-relasi kapital di panggung dunia, secara tak terelakkan akan mengakibatkan ledakan-ledakan, yaitu secara internal perang sipil dan secara eksternal perang revolusioner. Di sinilah letak karakter permanen dari revolusi sosialis, tidak peduli apakah negeri terbelakang, yang baru saja mencapai revolusi demokratik, atau sebuah negeri kapitalis tua yang sudah melalui periode demokrasi dan parlementerisme yang panjang. Penentuan revolusi sosialis di dalam batasan-batasan nasional adalah sesuatu yang tak terbayangkan. Salah satu alasan dasar dari krisis masyarakat borjuis adalah kenyataan bahwa kekuatan produksi yang diciptakan olehnya tidak dapat lagi didamaikan dengan kerangka negara-bangsa. Dari sini muncul di satu sisi perang-perang imperialis, di sisi lainnya utopia Uni Eropa borjuis…. Garis besar di atas yang menggambarkan perkembangan revolusi dunia menghilangkan persoalan mengenai negeri-negeri yang ‘sudah matang’ atau ‘belum matang’ untuk sosialisme yang dipaparkan oleh program Komintern hari ini dengan semangat klasifikasi akademik dan kaku. Selama kapitalisme telah menciptakan pasar dunia dan kekuatan-kekuatan produksi skala dunia, dia juga telah menyiapkan ekonomi dunia secara keseluruhan untuk transformasi sosialis.”

Segera setelah proletariat merebut kekuasaan, hak-hak rakyat Rusia dideklarasikan dengan seluas-luasnya oleh Soviet. Dalam “Sepuluh Hari yang Mengguncang Dunia”, John Red mencatat poin-poin deklarasi tersebut: (1) para petani dibebaskan dari kekuasaan tanah, karena tidak ada lagi hak-hak tuan tanah atas tanah—telah dihapuskan; (2) prajurit darat dan laut dibebaskan dari kekuasaan para jenderal otokratik karena, sejak sekarang hingga seterusnya, jenderal-jenderal akan dipilih dan bisa diganti, diturunkan (recall); dan (3) buruh dibebaskan dari cambuk dan kesewenang-wenangan kapitalis, sejak sekarang, hingga seterusnya, akan diciptakan kontrol buruh atas kilang-kilang dan pabrik-pabrik. Semua yang hidup dan dapat hidup akan dibebaskan dari belenggu yang tidak membahagiakan. Sementara dalam persoalan kebangsaan Soviet menetapkan: (1) kesetaraan dan kedaulatan bagi semua rakyat Rusia; (2) hak semua rakyat untuk, secara bebas menentukan nasibnya sendiri, bahkan hingga pada titik berpisah untuk membentuk negara yang merdeka; (3) penghapusan semua bentuk keistimewaan semua bangsa, agama, juga pemulihan hak-hak mereka yang dihilangkan; dan (4) perkembangan bebas bagi semua kebangsaan minoritas. Di sisi lain Soviet juga menasionalisasi semua bank yang ada menjadi satu bank besar yang dijalankan buruh dan tani, menerbitkan prinsip pemilihan dan pengorganisasian wewenang dalam ketentaraan untuk melayani kehendak proletar dan rakyat, hingga penghapusan organisasi dan institusi kelas serta semua gelar-keistimewaan dalam masyarakat. 

Keputusan Pemerintahan Soviet memerangi hak-hak milik borjuis segera membangkitkan kontra-revolusi. Tanggal 8 November 1917, Kerensky bersekutu dengan Jenderal Kossack yang didukung Kaledin, Kornilov, Kadet, Duma, Yunker dan Tentara Putih untuk melancarkan kudeta dan memulai perang sipil—dan di belakang mereka terdapat 21 negara imperialis yang memberikan dukungannya untuk segera merebut kembali kekuasaan dari tangan Soviet. Menghadapi ancaman kontra-revolusi, KMT mengorganisir milisi buruh di bawah pimpinan Trotsky. Sebagai Ketua Soviet Buruh dan Prajurit Petrograd, dia mengeluarkan perintah: (1) untuk mengerahkan buruh sebanyak mungkin untuk menggali parit perlindungan, mendirikan barikade, dan memperkuat kawat beduri; (2) demi menyelesaikan tujuan tersebut secepatnya, di setiap tempat, pekerjaan lain harus dihentikan; (3) semua kawat biasa dan berduri yang tersedia harus dikumpulkan, dan semua peralatan lain harus dikerahkan, untuk menggali parit-parit perlindungan dan mendirikan barikade; (4) semua sumber daya yang tersedia harus dikerahkan; dan (5) pengawasan terhadap disiplin akan dilakukan dengan ketat. Setiap orang harus siaga untuk mendukung Tentara Revolusi dengan semua cara. Pada 12 November, pertempuran meledak di dekat Tsarkoye Selo dengan kekalahan bagi pasukan kontra-revolusionernya Karensky dan Kornilov. Di sisi lain, Menshevik dan Sosial Revolusioner menyiasati pemilihan Majelis Konsituante untuk merenggut kekuasaan Soviet. Januari 1918, mereka melaksanakan pertemuan yang menyepakati pembubaran Soviet dan pemberontakan bersenjata. Ketika pemberontakannya digulirkan mereka tidak mendapatkan dukungan massa dan KMT secara mudah mengalahkannya. Tepat 25 Desember, Majelis Konstituante dibubarkan oleh Komite Eksekutif Pusat Soviet.

Meski telah berhasil mengatasi musuh-musuh dari dalam neger, Soviet masih terancam oleh kepungan maha-dahsyat pasukan imperialisme di Perang Dunia I. Di Siberia, Soviet menghadapi armada tempur yang meraksasa: 73.000 Tentara Jepang, 60.000 Tentara Ceko, 8.000 Tentara Amerika Serikat, 2.500 Tentara Inggris, 1.500 Tentara Italia, dan 1.000 Tentara Perancis. Tahun 1918, Rusia secara praktis menjadi negeri yang terisolasi dan keselamatan Revolusi Oktober diletakkan pada perjuangan kelas proletariat di negeri-negeri lainnya. Pertolongan kepada Soviet datang dari gelombang revolusioner yang menyapu Eropa. Bulan November, Revolusi Jerman meletus dan berhasil menggulingkan Dinasti Hohenzollern. Di sini Rate (Dewan Buruh, Soviet Jerman) dibentuk dan mengakhiri keterlibatan Jerman dalam Perang Dunia I. Di Inggris, buruh-buruh pelabuhan London tidak saja melakukan pemogokan dan menolak bongkar-muat di atas kapal pengangkut amunusi Tentara Polandia ke Rusia, tapi juga secara sengit memprotes keterlibatan borjuis-imperialis Inggris di Perang Dunia I. Di Pelabuhan Laut Hitam dan Odessa, armada laut dan perwira-perwira rendahan Prancis memberontak dan menolak melanjutkan peperangan. Berkat solidaritas dari prajurit dan proletariat dunia, perang imperialisme dapat dihentikan dan Revolusi Oktober terselamatkan. Tetapi akibat perang sipil dan terisolasinya Rusia oleh kepungan negara-negara imperialis perencanaan ekonomi Soviet Rusia menjadi terganggu.

Dalam mempertahankan kekuasaan Soviet dari kudeta dan perang imperialis, perekonomian diarahkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan di medan tempur. Sepanjang 1918-1921, Komunisme Militer diterapkan guna mendukung industri perang dan menggunakan cadangan-cadangan ekonomi masa lalu untuk kepentingan militer dan menjaga kelangsungan hidup di kota-kota. Pemerintahan Soviet mengirim datasemen buruh bersenjata ke desa-desa untuk mengambil gandum petani—pemilik-pemilik kecil ini marah dan bentuk protesnya adalah mengurangi produksinya dengan membakar atau menimbun hasil panennya Pada 1922, total panen gandum turun dari 36,3 juta ton menjadi 22,8 juta ton. Produksi industri baja juga merosot tajam dari 4,2 juta jadi 183 ribu ton. Di sampingnya perdagangan luar negeri anjlok dari 2,9 milyar rubel menuju 30 juta rubel. Dalam kondisi ini pendapatan nasional berkurang dari sepertiga angka pada 1913, ransum harian buruh cuma 60 gram roti dan sedikit kentang beku, dan 36 juta kaum tani dihantam kelaparan parah. Kekuatan produktif runtuh dan Soviet berada dalam bahaya. Dua pemberontakan petani yang bertendensi anarkis meledak: Antonov di Tambov (1920) dan Makhno di Ukraina (1921). Untuk keluar dari situasi yang melemahkan, Soviet mulai menerapkan Kebijakan Ekonomi Baru: kebijkan yang bermotif meredam pembangkangan tani dengan secara relatif membuat negara buruh memberikan konsesi kepada petani untuk secara relatif mengembangkan pertanian individu dan perdagangan bebas. Hasilnya adalah kebangkitan ekonomi terbatas dengan cacat bawaan: membebaskan jutaan petani pemilik kecil untuk menjual surplus makanannya dan memperkaya pedagang-pedagang yang menjadi kaum perantara di pasar terbuka. Norma-norma sosial borjuis dan borjuis-kecil muncul kembali dan segera mendominasi. Di tengah kemiskinan yang sudah menjadi umum dan terbunuhnya bunga-bungan terbaik proletariat selama peperangan, maka partai mulai dirembesi tendensi-tendensi kelas-asing dan terdegenerasi bersama negara buruh yang terisolasi. Bangkitnya kasta-birokrasi dan melenggangnya Stalinisme merupakan efek terburuknya. Kasta birokrasi hadir dari kemerosotan moral yang disebabkan oleh persaingan untuk mempertahankan hidup di tengah kemelaratan akibat perang-perang sebelumnya.

Dalam “Revolusi yang Dikhianati; Sebab-sebab Kebangkrutan Uni Soviet”, Trotsky menjelaskan bahwa setelah meninggalnya Lenin, percepatan degenerasi partai dilakukan kasta birokrasi dengan membuka gerbang partai dan sengaja tak memperhatikan perkembangan peristiwa. Dengan mengumumkan ‘rekrutmen wajib Leninis’, maka ‘garda depan revolusi’ dilarutkan di tengah banjir anggota baru yang tidak memiliki pengalaman dan kemandirian tetapi menganut ‘kebiasaan lama’ dan tunduk pada ‘otoritas’ mesin partai. Kasta birokrasi menemukan Stalin sebagai perwakilan yang mampu menjamin kebutuhannya: ‘prestise dia telah lama menjadi anggota Bolshevik, karakter yang kuat, visi yang sempit, dan ikatan erat dengan mesin politik yang menjadi satu-satunya sumber pengaruhnya.’ Stalin sangat cocok dengan aspirasi dari kasta birokrasi yang sedang tumbuh. Stalinisme mengganti Sentralisme-Demokrasi dengan Sentralisme-Birokrasi; Revolusi Sosialis Dunia dengan Revolusi di Satu Negeri; Independensi Kelas dengan Kolaborasi Kelas; Bolshevisme dengan Frontisme; Kediktatoran Proletariat atau Kekuasaan Negara Buruh dengan Kediktatoran Borjuis-Kecil atau Kekuasaan Komite Sentral. Trotsky menulis:

“Kasta penguasa ini segera menyingkapkan ide-idenya, perasaan-perasaannya, dan yang terutama, kepentingannya. Mayoritas besar generasi tua dari jajaran birokrasi saat ini berdiri berseberangan dengan kita selama berlangsungnya Revolusi Oktober … Atau setidaknya berpangku tangan selama pertarungan berlangsung. Mereka yang pada saat ini menghuni jajaran birokrasi, yang ada di kubu Bolshevik saat hari-hari Oktober, sebagian besar tidak memainkan peran yang penting. Mengenai para birokrat muda, mereka dididik dan dipilih oleh para tetua mereka, sering kali anak-anak mereka sendiri. Orang-orang ini tidak akan berhasil jika disuruh melancarkan Revolusi Oktober, tetapi mereka sangat cocok untuk mengeksploitasi kemenangan revolusi itu…. Partai Bolshevik menyiapkan dan memastikan kemenangan Revolusi Oktober. Mereka juga mendirikan negara Soviet, memasoknya dengan sebuah kerangka yang kokoh. Degenerasi Partai Bolshevik merupakan penyebab dan konsekuensi dari birokratisasi negara…. Rezim internal Partai Bolshevik dicirikan oleh metode sentralisme demokratik. Kombinasi dari dua konsep ini, demokrasi dan sentralisme, sama sekali tidak kontradiktif. Partai bukan hanya menjaga agar batasannya selalu didefinisikan dengan tegas, tetapi juga menjamin siapapun yang berada dalam batasan ini akan menikmati hak untuk ikut menikmati kebijakan partai. Kebebasan mengkritik dan perjuangan intelektual adalah kandungan mutlak dari demokrasi partai…. Kemampuan kepemimpinan Bolshevik untuk melihat jauh ke depan sering kali memungkinkan diperlukannya konflik dan dipersingkatnya pertarungan faksional, tetapi tidak lebih dari itu. Komite Sentral mengandalkan dukungan demokratik yang membara ini. Dari sinilah mereka mendapatkan keberanian untuk mengambil keputusan dan memberikan perintah. Ketepatan dari kepemimpinan dalam semua tahapan yang genting memberinya otoritas yang tinggi yang merupakan kapital moral tak ternilai dari sentralisme…. Bersama dengan teori sosialisme di satu negeri, birokrasi juga mengedarkan sebuah teori bahwa, dalam Bolshevisme, komite sentral adalah segalanya dan partai tidak ada artinya … Sentralisme demokrasi menyerah pada sentralisme birokratik. Dalam aparatus partai itu sendiri kini terjadi kocok-ulang radikal atas personilnya, dari puncak ke dasar. Mereka mendeklarasikan bahwa seorang Bolshevik yang terpuji adalah yang patuh. Di bawah kedok pertarungan melawan Kelompok Oposisi Kiri, terjadilah sebuah penyingkiran besar-besaran kaum revolusionis yang digantikan dengan kaum Chinovnik. Sejarah partai Boslhevik menjadi sejarah pembusukan yang berlangsung cepat.”

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai