Kategori
Teori

Sosialisme dan Pembebasan Perempuan

“Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Kami memiliki kemauan untuk revolusi dunia, oleh karena itu kami harus menemukan cara untuk menjangkau massa perempuan yang dieksploitasi dan diperbudak, apakah kondisi historis membuatnya mudah atau sulit.” (Clara Zetkin)

“Sejarah dibentuk oleh manusia [massa—dengan menempuh perjuangan kelas]. Oleh karena itu, kita harus melawan sejarah yang tidak adil terhadap kaum perempuan…. Siapapun, yang tidak memiliki komitmen terhadap pembebasan perempuan sepenuhnya, tidak akan mampu untuk berbicara tentang pembebasan kelas buruh, dan oleh karena itu mereka juga tidak memiliki hak dan kemampuan berbicara tentang sosialisme.” (John Molyneux)

Sosialisme Ilmiah berpandangan bahwa akar sejarah penindasan perempuan tertanam, berkembang dan berjaya dalam masyarakat berkelas. Bentuk-bentuk penindasan perempuan saat ini merupakan hasil dari gerak material produksi dan perkembangan keluarga-inti: sejak 5.800 atau 4.500 tahun yang lalu—ketika dimulainya pembentukan masyarakat berkelas—maka kaum perempuan terseret memasuki posisi paling buncit dan terpinggirkan. Pada masa komunal primitif perempuan memang mendapatkan kesetaraan dan kebebasan seperti gender dan seksualitas lain. Tetapi memasuki masa perbudakan, feodalisme, hingga kapitalisme mereka dirundung penyingkiran, isolasi, eksploitasi dan aneka bentuk penindasan. Dalam keluarga-inti, kondisi perempuan begitu mengerikan. Peran mereka dipasung untuk mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat anak sebagai calon pekerja masa depan bagi kelas-kelas yang berkepemilikan dan berkekuasaan.

Keadaan itu telah lama merecoki kesataraan dan kebebasan perempuan. Gaji, karir, karya dan prospek-prospek kerja perempuan dilumpuhkan. Hari-harinya terisolasi bahkan terdemoralisasi begitu menggetirkan. Akibat terdomestifikasi begitu rupa maka perempuan kukuh sebagai kaum yang teremehkan, terendahkan dan ternistakan. Meski sekarang perempuan berangsur-angsur terlibat dalam aktivitas publik, tapi setiap pekerjaan yang disediakan amat memerosotkan kemanusiaan. Sebab kekuatan modal tidak pernah memperhatikan urusan gender dan seksualitas, karena hanya menitiberatkan pengejaran keuntungan. Demi meraup laba berlimpah banyak pekerja perempuan dikorbankan. Mitos inferioritas perempuan tidak sekadar dilanggengkan dalam keluarga-keluarga inti, tapi juga di arena produksi barang dagangan. Itulah mengapa kekuatan modal cenderung mengurung perempuan dalam sangkar kerja upahan bergaji rendah maupun kerja paruh-waktu atau sampingan. Kedaan inilah yang meringkus perempuan dalam penindasan berganda dan panjang: mulai dari rumah hingga lapangan-lapangan pekerjaan. Akibatnya perempuan menjadi lapisan sosial yang rentan mengalami eksploitasi dan penindasan, tapi juga terus-menerus dilemahkan sepanjang kehidupan.

Dalam tatanan masyarakat berkelas, perempuan didekati dengan prasangka bengis: mereka tidak saja dianggap memiliki derajat yang lebih rendah dari laki-laki, tapi juga dipandang lemah, kurang produktif, dan dibanduli pelbagai stereotip lainnya. Dimulai dari peralihan masyarakat komunal menuju perbudakan, feodal hingga memasuki fase sosio-historis kapitalisme–anggapan umum peyoratif itu masih terawat begitu rupa. Padahal dalam sejarahnya terdapat masa di mana tak ditemukannya penindasan terhadap perempuan.

a. Tersingkirnya perempuan dari kegiatan produksi.

– Ketika pada zaman Neolitikun berdiri pemukiman-pemukiman matrilineal yang didorong oleh penemuan pertanian oleh perempuan. Mereka memproduksi kebutuhan-kebutuhan sehari-hari berdasarkan holtikultural dan domestifikasi hewan bukan sebagai komoditi-pertukaran, melainkan cuma diambil daging dan kulitnya untuk kelangsungan kehidupan.

– Perubahan kualitatif dalam karakter tenaga produktif berlangsung saat akhir Neolitikum; ketika peralihan holtikultura kolektif yang dikontrol perempuan berubah jadi aktivitas agrikultur bajak di bawah kendali laki-laki.

– Penggunaan bajak awal sebagai alat produksi tak saja memerlukan besarnya kekuatan fisik dan pemanfaatan hewan lebih beragam, tapi juga mengisolasi tenaga produktif pada lahan-lahan tertentu. Inilah mengapa perempuan disingkirkan dari kegiatan itu; bukan karena kelemahan kekuatan fisiknya, melainkan perempuan sangat diberatkan oleh kegiatan ini: mengisolasinya dan memberatkannya ketika haid, melahirkan dan menyusui dilakukan.

– Perkembangan bajak kontan menyingkirkan perempuan dari akvitas produksi makanan yang menjadi pekerjaan utamanya dalam aktivitas ekonomi holtikultura. Di sisi lain, kaum laki-laki mendakukan kekuasaannya atas mata bajak awal. Pergantian kepemilikan komunal menjadi kepemilikan privat atas alat produksi mendorong bergulirnya penindasan terhadap perempuan: mereka disingkirkan dari ranah-ranah sosial hingga dikerangkeng dalam soal-soal urusan rumah tangga semata.

– Meskipun tidaklah terlalu banyak lahan yang diperlukan untuk kegiatan agrikultur dibanding aktivitas holtikultur, tapi agrikultur bajak membutuhkan banyak tenaga kerja–lebih-lebih di lahan-lahan yang kurang subur. Dalam kondisi inilah didorong perkembangan populasi untuk melancarkan kegiatan produksi. Perempuan akhirnya menjadi korban utama: mereka didomestifikasi untuk berkegiatan yang tak bisa beringsut dari mengurus rumah tangga–melayani suami, melahirkan dan membesarkan anak semata.

– Dominasi laki-laki terhadap alat produksi dan aktivitas produksi makanan serta kebutuhan skunder lainnya berimplikasi pada komunitas organisasi sosial dan menjadi basis peralihan kelompok matrilineal ke patrilineal.

– Penyingkiran perempuan dari ranah produksi terjadi sejak ditemukannya mata bajak dan peningkatan domestifikasi dan pembiakan hewan oleh laki-laki. Dalam kondisi inilah sistem klan menjadi unit-unit individual dan mendirikan keluarga-inti dengan suami sebagai kepala keluarganya.

b. Keluarga-inti.

– Sejak kelompok patrilineal terbentuk, maka sistem keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak menjadi yang utama diterapkan. Dalam jenis kekeluargaan inilah peran bapak hadir sebagai penguasa, yang diproyeksikan memiliki kekuatan untuk melindungi keluarganya. Walhasil, peran perempuan pun tersubordinasi begitu rupa.

– Dalam sistem keluarga inti, laki-laki melakukan perdagangan, pertukaran komoditi, atau segala pekerjaannya atas nama rumah tangga. Inilah mengapa produk-produk atau hasil-hasil kerja laki-laki pun digabungkan dengan kebutuhan rumah tangganya. Dalam keadaan inilah posisi perempuan yang tidak melakukan kegiatan produksi dibuat lemah. Sedangkan laki-laki terus memperteguh kepemilikian individu dan penguasaan atas produk atau hasil kerjanya.

– Menjadi produsen utama dari bahan makanan dan kekayaan rumah tangga, maka selanjutnya laki-laki menuntut dilakukannya pewarisan harta-bendanya berdasarkan garis keturunan laki-laki.

– Kepemilikan materi dan warisan dalam keluarga inti mendorong akumulasi kekayaan antar-generasi, membangun hierarki sosial kelas, status dan kekuasaan. Proses inilah yang membuat manusia terobyekfikasi hingga diperlakukan secara sub-human sebagai obyek yang bisa dipertukarkan: anak-anak atau perempuan dapat diserahkan kepada bangsawan, tuan tanah, dan raja-raja guna membayar utang keluarga miskin.

– Dalam masyarakat perbudakan dan feodal, sistem kekayaan dan hak waris patriarkal bukan saja tidak mengakui hak-hak perempuan tapi juga memosisikan perempuan sebagai hak milik yang bisa diwariskan ayah kepada anak-anaknya atau di jual ke penguasa. Sementara pada masyarakat kapitalis, sistem itu tidak jarang dapat dilihat dari bagaiamana suami memaksa istri atau anak-anak perempuannya menjadi pekerja seks.

c. Kritik terhadap teori patriarki.

– Teori ini berpandangan bahwa penindasan terhadap perempuan bersumber dari kekuasaan laki-laki yang disebabkan bukan hanya oleh budaya, tapi lebih-lebih perbedaan biologis antara keduanya. Bahkan dalam analisis teoritisnya tidak menghubungkan antara dominasi laki-laki atas perempuan pada ranah ekonomi dengan ideologi.

– Dibaginya antara ekonomi dan ideologi menyeret teori patriarki dalam kubangan determinisme biologis yang memandang penindasan terhadap perempian disebabkan oleh perbedaan gen antara keduanya. Inilah mengapa teori ini gagal melihat bagaimana penindasan perempuan berawal dari perkembangan kekayaan material dan keluarga inti, melainkan berkitat pada persoalan dominasi lelaki semata.

– Kumunculan dominasi dam ketidaksetaraan bagi teori patriarki bukan merupakan bentukan masyarakat berkelas, tapi berkait kebutuhan-kebutuhan biologis dan perbedaan-perbedaan seksual antara perempuan dan laki-laki yang berkembang dalam budaya. Sementara analisa Marxis mamandangnya sebagai keliru: karena dapat membuat perjuangan pembebasan perempuan hanya sebatas mengubah ide-ide saja, bukan perubahan masyarakat secara mendasar.

d. Marxisme untuk pembebasan perempuan.

– Kaum Marxis berpendirian bahwa penindasan terhadap perempuan bersumber dari kepemilikan pribadi terhadap alat produksi dan kemunculan masyarakat berkelas. Maka perjuangan untuk pembebasan perempuann baginya adalah menempuh perjuangan kelas dalam upaya menghapuskan kepemilikan pribadi dan mempersiapkan masyarakat tanpa kelas.

– Walau perempuan dalam masyarakat berkelas menempati posisi sub-human, tapi mereka merupakan komponen penting bagi gerakan-gerakan pembebasan. Hanya kekuatan modal berusaha merecoki pelbagai elemen pengganggunya dengan cara beragam. Seksisme adalah salah satu senjata ampuh yang digunakan kelas borjuis untuk melemahkan musuhnya. Melaluinya gender perempuan dan laki-laki bersama minoritas seksual lainnya tidak saja dipatok upahnya berdasarkan jenis kelamin, tetapi juga solidaritas dan persatuan mereka dipecah hingga dibuat bermusuhan.

– Faktor kunci perkembangan gerakan pembebasan perempuan—mulai dari isu-isu bawaan, tuntutan-tuntutan perjuangan hingga bentuk-bentuk gerakannya—berkait dengan pemahaman teoritis mengenai asal-usul historis, akar sosio-ekonomis, serta sifat dari penindasan perempuan. Adalah Sosialisme Ilmiah sebagai ilmu sosial-kritis yang mencoba menjelaskan itu semua. Lebih-lebih bagaimana masyarakat berkelas dan institusi keluarga inti selalu menempatkan perempuan sebagai korban utamanya.

– Marxisme memandang kalau perempuan tidak sekedar bagian terbesar dalam kelas buruh, tapi terutama dapat menjadi sekutu potensial untuk menghancurkan kapitalisme. Maka upaya membebaskan perempuan seharusnya tidak menjadi kebutuhan sampingan. Tetapi harus seiring-sejalan dengan semua gerakan kaum tertindas, terhisap dan miskin kebanyakan.

Perjuangan untuk Pembebasan Perempuan

“Proses revolusi sosialis akan memberikan permulaan untuk mengakhiri penindasan terhadap perempuan dan transisi menuju sosialisme sepenuhnya akan menghapuskan penindasan itu…. Alasannya sederhana, sosialisme adalah emansipasi kelas buruh, sedangkan mayoritas kelas buruh adalah perempuan.” (John Molyneux)

Kita menjadi saksi atas zaman kapitalis. Sebuah tatanan kelas yang sangat culas, rakus dan brutalis. Di mana eksploitasi dan kekerasan menyalak begitu beringas. Kekejian-demi-kekejian meletup, menajalar, dan berbanding lurus dengan akumulasi modal di tangan kelas borjuis. Di tangan spesies minoritas inilah massa manusia dikurung dalam situasi tertindas, terhidap dan miskin. Kepemilikan pribadi mereka terhadap alat produksi tidak saja mendorong pembagian kerja fisik dan mental serta perolehan surplus tak berimbang. Tetapi juga simultan membagi kelas-kelas sosial masyarakat dalam posisi saling bertentangan, penuh persaingan dan penundukan. Semuanya berlangsung bukan berdasarkan sifat dasar manusia, melainkan perampasan sumberdaya-sumberdaya kolektif untuk dikuasai segelintir orang. Begitulah kerakusan dirawat dan keuntungan dipupuk melalui sistem perbudakan, perhambaan, hingga perampokan kerja-upahan yang berlangsung sampai sekarang. Hanya kita menyaksikan penindasan itu tidak saja menargetutamakan kelas pekerja, tapi juga teramat merendahkan, menyengsarakan, dan melemahkan kaum perempuan. Sebagai bagian dari rakyat-pekerja; perempuan tak sebatas dihisap dan dilecehkan di tempat-tempat kerja, melainkan pula di rumah-rumah tangga dan keluarga. Seksisme hadir sebagai produk kapitalisme yang terus-menerus menyetigmatisasi dan menyubordinasi, bahkan mengisolasi dan mendemoralisasi perempuan di mana-mana. Baik dalam ranah domestik maupun publik kekuatan modal selalu berkepentingan menempatkan mereka sebagai gender nomor dua. Diklasifikasinya perempuan dengan stereotip lemah dan tidak seproduktif laki-laki bukan sebatas dijadikan alasan ketidaksetaraan kerja dan upah, tapi juga dipandang perlu dalam mengembalikan perempuan ke rumah-rumahnya dan mempertahankan pekerjaan reproduksi calon-calon pekerja masa depan tanpa diberikan bayaran.

Dalam masyarakat kapitalis kemampuan menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui tak diperlakukan sebagai fakta-fakta alamiah yang melekat pada perempuan. Melainkan hal-hal yang menghinakan, melemahkan dan menguntungkan. Begitulah seksisme mempolitisasi tubuh perempuan mulai dari lingkungan keluarga sampai tempat-tempat umum. Di rumah perempuan dibebani tugas berat yang menguntungkan kapitalisme: merawat anak (calon pekerja) dan suaminya (pekerja). Tenggelam dalam aktivitas domestik inilah mereka kemudian bukan sekadar dianggap melakukan kegiatan non-produktif, tapi juga bertugas utama sebagai kekuatan prokreasi—menghasilkan anak dan melayani laki-laki. Namun ketika kebutuhan tenaga kerja kapitalisme menyeret mereka keluar dari aktivitas domestik—untuk diperkerjakan di industri-industri yang tidak membutuhkan keterampilan—stereotip terhadap perempuan tetap dipertahankan. Begitulah mereka lebih banyak ditempatkan sebagai pekerja-pekerja paruh-waktu, industi-industri ringan, dan berupah kerja selalu rendah dibanding laki-laki. Bahkan untuk melanggengkan stereotip itulah mengapa mengapa kapitalisme lebih banyak menyeret masuk perempuan dalam industri media, iklan, club malam dan film porno. Penyebaran pandangan dan perbuatan seksis yang mengomodifikasi seksualitas, tubuh dan menyubordinasi perempuan tidak saja berlangsung dalam saluran hiburan, tapi juga pendidikan, budaya dan agama. Menjalarnya seksisme dalam kehidupan kita bukan sekadar menindas perempuan dan minoritas seksual lainnya, melainkan pula menghalangi solidaritas dan memecahkan persatuan antara sesama kaum tertindas di mana-mana. Berlangsungnya situasi ini sekarang harusnya tak sekadar membuat kita berwaspada, tapi terutama mencari cara melawannya.

Kenapa Harus dengan Organisasi?

“Jika kita mau mengubah diri kita dan orang-orang yang setiap hari menggabungkan diri dengan kita, maka kita harus berorganisasi…. Tanpa organisasi kita tidak mungkin mengubah diri kita, dan sebaliknya, kita akan menjadi tertahan oleh beban berat adat, kebiasaan, dan selera…. Generasi muda harus selalu dididik dengan benar…. Kita mendidik massa dengan memberikan contoh pelaksanaan garis politik kita. Kalau sikap para militan kita sesuai dengan garis politik kita, maka kita mendidik massa mengenai kehidupan baru.” (Samora Machel)

Seksisme hadir dan menjalar dalam masyarakat kapitalis. Pandangan ini tidak sekedar mengomodifikasi, menistakan, dan melemahkan perempuan; tapi terutama merecoki kelangsungan perlawanan terhadap kelas borjuis. Kapitalisme menyatukan rakyat-pekerja di tempat kerja untuk membangun kontak dan berhubungan secara nasional dan internasional dengan berpusatkan di perkotaan. Tetapi menjalarkan seksisme (juga beragam bentuk rasisme), kapitalisme berusaha mengalihkan antagonisme kelas proletar dengan kelas borjuis menjadi permusuhan antara sesama kaum tertindas, terhisap dan miskin. Keadaan inilah yang melemahkan gerakan perlawanan bukan sebatas pada perpecahan, melainkan pula atomisasi, isolasi dan demoralisasi yang tergencarkan. Tahu bahwa solidaritas dan persatuan rakyat-pekerja itu berbahaya bagi imperium modal maka kapitalisme menebarkan pandangan-pandangan seksis dan rasial sebagai pemecah-belah perlawanan kolektif. Sementara pengalaman dan sejarah gerakan proletariat telah mencatat kalau perjuangan melawan kapitalisme tidak bisa dilakukan secara individual namun kolektif—dari demonstrasi kecil-kecilan sampai pemogokan besar-besaran saat melawan perusahaan raksasa maupun negara; buruh melakukannya secara bersama-sama, bukan sendiri-sendiri. Bahkan dalam Revolusi Rusia (1917), kelas proletar memberi tauladan bersekutu dengan semua kaum tertindas, terhisap dan miskin untuk merebut kekuasaan hingga membangun kediktatoran proletariat dalam rangka melaksanakan demokrasi sosialis guna menekan kelas borjuis, melucuti kepemilikan pribadi, mengontrol ekonomi, meningkatkan produksi, berupaya melenyapkan negara, dan menuju masyarakat tanpa kelas.

Sekarang! Mengerti kalau seksisme merupakan produk bawaan kapitalisme maka perlawanan terhadapnya tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri dan berpecah-pecahan. Dan, melawan seksisme tak akan pernah terpikirkan tanpa perjuangan menghancurkan kapitalisme. Itulah kenapa setiap serangan terhadap seksisme harus dilakukan secara terorganisir dalam solidaritas dan persatuan dengan organisasi, bukan terpisah dan terpencar-pencar oleh individu-individu. Sebab penggulingan kapitalisme menjadi syarat penghapusan seksisme. Makanya berjuang melenyapkan seksisme berarti mendedikasikan kehidupan untuk mendukung dan terlibat perjuangan kelas proletariat untuk membangun sosialisme. Dan, kemenangan sosialisme tidak mampu dijamin oleh individu yang terpencar-pencar melainkan kepemimpinan proletariat (Partai Revolusioner) yang bersekutu dan memimpin gerakan kaum tertindas lainnya.

Apa itu Organisasi Anti-Seksisme?

“Jawaban sosialis atas pertanyaan ‘bagaimana kita dapat memenangkan pembebasan perempuan’ adalah dengan melihat pada tradisi perjuangan kolektif kelas buruh…. Intinya adalah menghubungkan hal demikian dengan kepentingan kelas buruh merupakan cara yang tepat untuk membangun gerakan yang mampu menyatukan jutaan orang, dan ‘mendesak’ perubahan.” (Sandra Bloodworth)

Organisasi anti-seksisme adalah organisasi yang mempunyai perspektif Sosialis Revolusioner: menempuh perjuangan kelas di atas kesatuan teori dan praktik Marxisme Revolusioner. Tanpa memagut pandangan dan gerakan Sosialis Revolusioner, maka sebuah organisasi tidak akan mungkin mempunyai komitmen politik anti-seksisme. Seksisme soalnya mendapat kritik mendasar dalam tradisi Sosialisme Ilmiah. Penindasan terhadap perempuan ini tidak saja dilacak asal-usul historisnya, tapi juga akar ekonomi-politiknya serta pengaruh-pengaruhnya pada perjuangan kelas buruh. Melihat penindasan perempuan sebagai penindasan pertama dalam sejarah hingga seksisme yang menjadi senjata borjuasi dalam melemahkan kekuatan proletariat, maka kaum Sosialis Revolusioner berkepentingan membebaskan perempuan bahkan dengan menegaskan: ‘tidak ada pembebasan kelas buruh tanpa pembebasan perempuan’.

Kaum Sosialis Revolusioner bukan hanya melihat perempuan sebagai mayoritas dari kelas buruh. Tetapi juga meyakini kalau revolusi sosialis dapat mengintrodusir pembebasan perempuan. Mula-mula dengan penyetaraan legal: mengatur alat kontrasepsi dan aborsi sebagai hak perempuan secara gratis, menetapkan kesamaan kesempatan bekerja dan gaji yang setara perempuan dan laki-laki, menghapuskan sisa-sisa aturan yang mendiskriminasi gender dan seksual, hingga melarang segala bentuk penindasan terhadap perempuan. Lalu dilanjutkan dengan berusaha melenyapkan keluarga-inti melalui transformasi sosialis: menggantikan peran mengurus anak (reproduksi tenaga kerja) dan rumah tangga yang semula dibebankan kepada perempuan menjadi tanggungan negara sosialis dengan menyediakan tempat penitipan anak dan laundry gratis, pembersihan rumah dan restoran berbasis komunitas, sampai kesehatan dan pendidikan gratis. Maka organisasi anti-seksime merupakan organisasi revolusioner karena bertujuan mentransformasikan fase sosio-historis kapitalisme menjadi sosialisme—sebagai tahapan membangun masyarakat tanpa kelas. Organisasi macam ini adalah organisasi yang meyakini perjuangan kelas sebagai motor penggerak sejarah, serta memiliki orientasi internasionalis (memprioritaskan kepentingan global proletariat untuk berkuasa dan mewujudkan revolusi sosialis dunia) dan menghapuskan kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi (mendorong sarana-sarana yang dapat memenuhi kebutuhan rakyat untuk dikuasai oleh negara sosialis di bawah kepemimpinan proletariat dengan menjalankan demokrasi sosialis dan perencanaan ekonomi).

Bagaimana Membangun Organisasi Anti-Seksisme?

“Bagi mereka yang ingin mengubah dunia, mereka harus membangun gerakan proletariat, mengembangkan taktik dan strategi perjuangan proletariat, dan membangun partai sosialis revolusioner berbasis Marxisme.” (John Molyneux)

Membangun organisasi anti-seksisme berarti menyiapkan organisasi revolusioner untuk melayani kepentingan proletariat dan menasbihkan masyarakat tanpa kelas sebagai tujuan utamanya. Itulah mengapa organisasi macam ini harus terlibat aktif dalam perjuangan kelas: (1) perjuangan ekonomi: memberi dukungan dan intervensi dalam perjuangan buruh dan rakyat yang memperjuangkan kebutuhan sosial-ekonomi mendesak mereka sehari-hari: upah, keamanan, pendidikan dan kesehatan; (2) perjuangan politik: bersolidaritas dan mengintervensi perjuangan buruh dan rakyat untuk kebutuhan transformasi-transformasi politik yang radikal—memperjuangkan hak-hak demokratis, pemeliharaan perdamaian, pemebebasan nasional tanah jajahan, pembebasan perempuan dan LGBT, penggulingan kekuasaan borjuis dan menegakkan kediktatoran proletariat; (3) perjuangan ideologis: membebaskan kesadaran buruh dan rakyat dari ide-ide, prasangka-prasangka, dan kebudayaan-kebudayaan borjuis dengan melakukan edukasi, agitasi dan propaganda sosialis untuk melawan kapitalisme-imperialisme-kolonialisme, militerisme-fasisme-seksisme, sisa-sisa feodalisme dan segala macam ideologi reaksioner, hingga mengungkapkan peran historis proletariat dan memajukan Marxisme Revolusioner sebagai teori-praktik ilmiah. Dan, di atas segalanya kepentingan strategis mengarungi ketiga bentuk perjuangan kelas itu adalah membangun kepemimpinan revolusioner: merekrut satu, dua orang, lapisan terluas dari massa untuk mengorganisir diri dalam organisasi politik sekaligus menjadi angkatan politik dalam melawan musuh-musuh kelas proletar.

Organisasi anti-seksisme bukan organisasi sektarian, oportunis, reformis apalagi reformis gadungan, melainkan Sosialis Revolusioner: meletakkan Marxisme Revolusioner sebagai perspektif politiknya, meyakini perjuangan kelas sebagai prinsip perubahan mendasar, dan mendedikasikan perjuangannya untuk melayani kepentingan buruh dan rakyat akan kediktatoran proletariat dan revolusi sosialis dunia untuk membangun masyarakat tanpa kelas. Maka organisasi macam ini harus menetapkan program dan mendidik kamerad dan militan-militannya dengan kesatuan teori dan praktek sosialis. Sejak dalam proses perekrutan anggota tidak boleh sembarangan, tapi harus dapat membersihkan diri dari mereka yang sekedar bergabung untuk popularitas, prestise dan tujuan-tujuan pribadi serta motif-motif rendahan lainnya. Itulah mengapa dalam merekrut anggotanya organisasi revolusioner mesti menjelaskan garis politiknya hingga mampu menuntut anggotanya untuk bekerjasama dalam memperjuangkannya. Tetapi kerja-kerja organisasinya berdasarkan asas sentralisme demokratik (pelaksanaan demokrasi yang seluas-luasnya tapi dengan kontrol yang terpusat) dan prinsip organisasi Bolshevik-Leninis (pertanggungjawaban/kepemimpinan kolektif, minoritas mengikuti mayoritas, kebebasan berdiskusi, kritik-otokritik terhadap setiap yang terpengaruhi ideologi kelas-asing, hingga penegakkan disiplin internal organisasi).

Dengan perspektif Marxisme Revolusioner, asas sentralisme demokratik dan prinsip organisasi Bolshevik-Leninis itulah komitmen politik anti-seksisme dapat ditanam dan bermekaran dalam organisasi sebagai karakter gerakan, pekerjaaan dan tingkah laku anggotanya, bahkan mengilhami dan memperluas pengaruhnya kepada elemen gerakan-gerakan lainnya. Mungkin dengan cara inilah organisasi anti-seksisme dapat dibangun dan mengajarkan kepada anggota-anggotanya bukan saja mengenai tanggung jawab laki-laki Sosialis Revolusioner pada pembebasan perempuan, tapi juga kewajiban perempuan Sosialis Revolusioner untuk mendukung penuh kepentingan kelas proletariat sekaligus memperjuangkan hak-haknya sebagai perempuan: mengontrol tubuhnya sendiri; bebas dari eksploitasi, kekerasan dan pelecehan seksual; kemandirian ekonomi dan kesetaraan di ranah industri, pendidikan, sosial, politik, dan hukum.

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai