“Mereka hidup dan bekerja di antara orang-orang dengan ide-ide … dengan prasangka konservatif yang kuat terhadap sosialisme, di mana ada godaan material …, mereka membutuhkan organisasi revolusioner untuk menghindari kehilangan kesadaran revolusioner mereka.” (Internasional Keempat)
“Membangun alternatif ini mungkin dan penting. Penting, karena padanyalah bergantung masa depan umat manusia.” (Revolusioner Mexico)
Waktu-demi-waktu berlalu, namun tidak ada yang baru. Meski setiap hari berlangsung perubahan secara kuantitatif tapi sejarah belum berubah: tetap pada fase sosio-historis kapitalisme—kepemilikan pribadi terhadap alat produksi, pembagian kerja dan surplus, hingga kegiatan reproduksi berdiri di atas kepentingan sejumput spesies durjana yang menjadi kelas penguasa. Keadaan inilah yang membuat kita terkurung dalam sangkar masyarakat barang dagangan yang sesak dengan persaingan dan monopoli atas laba yang sudah menembus batas-batas negara. Makanya sejak masa kanak-kanak kita dituntut untuk sukses dan meraih juara. Hidup akhirnya seperti ajang perlombaan. Hanya parameter keberhasilan bukanlah kerja dan karya, melainkan kekuasaan dan kekayaan. Inilah mengapa uang menjelma tak sekadar sebagai penyetara nilai barang dan alat pertukaran, tetapi bahkan ciri umum sebuah kesuksesan. Uang soalnya telah menjelma sebagai monumen teralienasinya kemanusiaan. Dalam Konsep Manusia menurut Marx (2001), Erich Fromm melukiskan:
“Kekuasaan untuk membingungkan dan membalikkan semua kualitas manusia dan alam, membuat ketidaksesuaian menjadi persaudaraan, kekuasaan suci uang, berada dalam karakternya sebagai spesies yang teralienasi. Uang adalah kekuasaan kemanusiaan yang teralienasi…. Makanya, uang tampak sebagai kekuasaan yang menganggu individu dan ikatan-ikatan sosial, yag mengklaim menjadi entitas yang mandiri. Uang mengubah kesetiaan menjadi pengkhianatan, cinta menjadi benci, benci menjadi cinta, kebenaran menjadi kesalahan, kesalahan menjadi kebenaran, pembantu menjadi majikan, kebodohan menjadi kecerdasan, dan kecerdasan menjadi kebodohan.”
Kita semua tumbuh dewasa dalam atmosfer masyarakat seperti itu: rumit, membingungkan, serta penuh kesengsaraan dan kekecewaan. Sebab ke manapun kita pergi niscaya akan menemukan seluruh tanah air telah dikapling-kapling untuk kepentingan kekuasaan. Kini dorongan berkuasa dan menumpuk harta telah mengoyak kehidupan. Maka hidup tak pernah beringsut dari kubangan eksploitasi, kesenjangan, dan kekerasan—kita diminta untuk jujur sementara kelas penguasa terus-menerus menebar kebohongan; kita dipaksa untuk mematuhi hukum, sementara kelas penguasa menggunakan beragam aturan guna mlancarkan perampokan; kita diajari kalau kerusuhan dan perusakan merupakan pelanggaran dan kejahatan, sementara kelas penguasa setiap harinya menggusur, memenjarakan, dan mengobarkan perang kelas. Menghadapi perlakuan itulah sepanjang kehidupan kita bukan saja dibodohi, dibohongi dan ditipu, melainkan pula terseret menempuh perjuangan kelas. Hanya perjuangan macam ini membutuhkan kesadaran kelas yang tak cukup dicari dalam bacaan dan transmisi pengetahuan tapi melalui aktivitas perlawanan harian. EP Thompson—dalam The Making oh the English Working Class (1963)—menjelaskan:
“…kelas-kelas [sosial dalam masyarakat] tidak hadir sebagai entitas yang terpisah, melihat sekeliling, lalu menemukan kelas yang harus dimusuhi, lalu mulai bertarung, individu mendapatkan dirinya dalam suatu masyarakat yang tersusun dalam cara yang telah ditentukan (menentukan, namun tidak semata-mata dalam hubungan produksi) mereka mengalami eksploitasi (atau dibutuhkan untuk terus berkuasa atas kaum tertindas), mereka mengindentifikasi titik-titik antagonis yang penting, mereka berjuang di sekitar masalah-masalah ini dan dalam perjuangan itu mendapatkan diri sebagai kelas dan kesadaran kelas selalu merupakan tahap terakhir, bukan yang pertama, dalam proses sejarah yang sebenarnya.”
Kesadaran kelas itu mutlak diperlukan! Kita tidak mungkin mendorong perubahan dengan ketidaksadaran. Perombakan sosial secara mendasar tak cukup melalui pemberotakan dan gerakan-gerakan spontan. Meski insureksi merupakan ibu dari revolusi tapi tak ada yang mampu menjamin keberhasilannya tanpa lebih dahulu menyediakan bahan perubahan. Ernest Mandel mengingatkan kalau perjuangan revolusi sosialis hanya dapat ditempuh dengan persyaratan: (1) tingkat kesadaran setinggi mungkin, dan (2) tingkat pengorganisasian diri dan aktivitas diri tertinggi dari segmen populasi seluas mungkin. Kami diberitahu: untuk mencapai kesadaran revolusioner tidak melulu terlebih dahulu menjadi kelas pekerja. Karena sejarah telah memperlihatkan bagaimana kaum muda dapat memperkenalkan ide-ide revolusioner kepada kelas pekerja. Hanya kesadaran itu harus dipupuk dalam suatu tindakan nyata. Sebab kaum muda tidak dapat melakukan transformasi sosial kecuali mereka dikaitkan dengan kekuatan sosial yang lebih kuat seperti kelas pekerja. Guna membangun jembatan antara dua kekuatan sosial yang tidak setara inilah kebutuhan akan organisasi revolusioner menjadi niscaya.
Meluncurkan perjuangan tak kenal ampun untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas, tidak mungkin bermotorkan gerakan spontanis, radikal bebas, dan hiperaktivisme. Kita membutuhkan organisasi berperspektif politik revolusioner. Mandel menjelaskan kalau organisasi macam ini adalah yang berjuang berdasarkan kesatuan teori-praktik ‘seluruh rangkaian ide-ide kunci dari gerakan sosialis dan tradisi revolusioner’. Baginya: jika kelas buruh dan kaum muda tidak terlibat aktif dalam organisasi revolusioner maka ‘mereka berada dalam bahaya mengintegrasikan diri ke dalam lingkungan sosial yang bermusuhan’. Sebab perubahan sosial bukan berada pada tingkatan kesadaran melainkan akvitas sosial. Bahkan kesadaran revolusioner tidak akan mampu bertahan tanpa disatukan dengan praktik dalam organisasi revolusioner.
Berdasarkan kenyataan itulah pendidikan politik berperspekif sosialis dan organisasi revolusioner menjadi penting. Dalam organisasi ini Sosialisme Ilmiah memandu perumusan prinsip, program, metode dan tradisi gerakan. Melalui organisasi macam inilah tingkat kesadaran dan aktivitas kita menemui kemajuan. Sekarang, keinginan kami untuk menjadi bagian dari kekuatan historis yang ikut mendorong perubahan mendasar—merombak pondasi masyarakat, karakter politik, ekonomi dan sosial—mengharuskan ditempuhnya perjuangan revolusioner. Kami yakin setiap kesengsaraan dan penindasan oleh kelas penguasa dapat mempercepat revolusi sosialis, tetapi tetap tak bisa memberi jaminan keberhasilan revolusi tanpa persiapan revolusioner: memajukan gagasan dan pendapat rakyat dengan membangun organisasi berperspektif politik Marxis revolusioner. Itulah mengapa agitasi dan propaganda sosialis serta pendidikan-pendidikan politik revolusioner harus kami jalankan secara terus-menerus. Kami harus mendidik diri dan saling-mendidik—memajukan kekuatan-kekuatan produktif—bersama kamerad-kamerad kami demi sebuah dunia baru: masyarakat tanpa kelas[!]—seperti yang digambarkan Marx dan Engels dalam Manifesto Partai Komunis:
“…sebagai ganti dari masyarakat borjuis lama, dengan struktur kelas-kelas dan antagonisme antar-kelasnya, muncullah masyarakat paguyuban, masyarakat di mana gerak perkembangan dari setiap individu menjadi prasayarat bagi gerak perkembangan seluruh masyarakat … untuk mengorganisir masyarakat dengan cara sedemikian rupa sehingga setiap anggotanya bisa mengembangkan dan menggunakan segenap kemampuan dan kekuatannya dengan bebas sepenuhnya dan tanpa melanggar kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakatnya.”
Memagut harapan akan masyarakat tanpa kelas itulah kami belajar dan berjuang—berorganisasi, berpropaganda dan berlawanan untuk menggulingkan kapitalisme dan menegakkan sosialisme: membangun Bolshevisme! Kami harus bergerak maju secara kolektif dalam menarik lapisan terluas dari kelas proletar dan kaum muda ke arah Marxisme Revolusioner dan melawan musuh-musuh proletariat beserta segala kebodohan, kebohongan, penghisapan dan aneka kekerasan masyarakat borjuis. Saat pikiran manusia semakin luas, berkembang, dan produktif bersama gagasan-gagasan dan pendapat-pendapat akan dunia baru yang terus merekah, serta terorganisirnya lapisan massa terluas dalam organisasi revolusioner—kami yakin: proses evolusioner ini tidak hanya dapat melancarkan insureksi, tapi juga menjamin keberhasilan revolusi proletariat-sosialis dan terbangunnya masyarakat tanpa kelas di masa depan.
“…semua orang yang yakin akan ide-ide Marxisme revolusioner, sosialisme revolusioner, daripada bertindak dengan cara yang tersebar, tidak terorganisir, dan terputus-putus, harus bertindak dengan cara yang terorganisir dan koheren, dengan demokrasi yang sepenuhnya mungkin dan dengan kebutuhan yang diperlukan, koherensi dan sentralisasi yang membuat tindakan mereka efisien.” (Internasional Keempat)
“Kita punya harapan. Mereka punya kematian. Kita punya kebebasan. Mereka ingin memperbudak kita…. Kita bisa membangun jalan baru, jalan di mana hidup berarti hidup dengan martabat dan kebebasan.” (Revolusioner Mexico)
