“Hidup ini sungguh penuh dengan kejutan yang menegangkan. Hidup ini pergi lebih jauh melampaui apa yang kita rencanakan. Dan kerjakan. Kita tidak hanya hidup dari pasar untung dan rugi. Kita hidup dari kepercayaan, harapan, dan cinta. Pendeknya dari apa yang tidak dapat kita jual dan beli.” (Franz Kamphaus)
Karl Heinrich Marx–lahir 5 Mei 1818 di Trier, Jerman; wafat 14 Maret 1883 di London, Inggris. Dirinya berasal dari pasangan keluarga kelas menengah: Heinrich Marx (ayah—sesosok jaksa) dan Henriette Pressburg (ibu—putri pengusaha). Dalam masa-masa pertumbuhannya Karl Marx beroleh pendidikan privat dari ayahnya–gagasan liberal dari pemikir Zaman Pencerahan (Imanuel Kant dan Voltaire) mengisi cangkang kepala sang ayah. Tetapi dengan penerapan edukasi macam inilah mereka tampil sebagai keluarga berpikiran maju dan terbuka. Tahun 1830, Karl Marx lantas dimasukan ke kampus yang bertendensi liberalis: Universitas Trier. Dipadati tenaga-tenaga pengajar humanis liberal, maka peserta-peserta didik disuguhkan bacaan-bacaan sastra yang mengajak berpikir bebas dan menentang pemerintahan konservatif. Kekuasaan kemudian melihatnya sebagai sebuah ancaman. Pada 1832, gerombolan polisi kontan dikirim untuk melancarkan tekanan dan pembatasan.
Di depan matanya Karl Marx secara langsung melihat bagaimana perlakuan negara: perguruan tingginya digerayangi, buku sastra liberal disita, dan staf-staf pengajar liberalnya dipecat begitu rupa. Sejak kejadian ini Marx pun semakin meminati filsafat dan sastra. Mendapat perlakuan represi–ia bukan malah menyurutkan minat pendidikanya, tapi sebaliknya: tambah penasaran dan menggebu-gebu. Pada 1835, dirinya beringsut ke Universitas Bonn untuk melanjutkan studinya. Dalam usia 17 tahun ini dia tidak saja pindah ke kampus baru, tapi juga mulai menjalin pertunangan dengan Jenny von Westphalen yang berusia 21 tahun. Meski Jenny berasal dari keluarga bangsawan Prusia, tapi cinta kepada Marx membuatnya tak peduli dengan golongan. Ia juga mengerti kalau dirinya merupakan orang terdidik sementara Marx bermasalah soal pendidikan. Hanya kasih sayang terhadap Marx membuatnya tak menghiraukan status demikian.
“Oh, Karl, kalau saja aku bisa tenteram dalam cintamu, didambakan dan hatiku tidak akan sakit dan berdarah. Seandainya saja aku bisa beristirahat di sini, Karl, mungkin hidup dan prosa-prosa dingin tak pernah melintas di kalbuku.” (Jenny)
“Jika kau mencintai seseorang tanpa menuntut perasaan yang sama, maka kau gagal menjadi orang yang dicintai, maka cintamu impoten, malang!” (Marx)
Seperti kekasihnya; Marx juga sangat mencintai Jenny. Marx berkomitmen hidup dan berjuang bersama Jenny. Hanya sekarang Marx mesti melanjutkan kuliahnya. Jenny mengerti itu dan membiarkan Marx kembali mengarungi kehidupan mahasiswa. Tetapi ayahnya tidak setuju kalau dia mendalami filsafat dan sastra. Ayah soalnya menekankannya mempelajari hukum. Satu tahun lebih mengikuti bidang pendidikan yang diinginkan orangtua akhirnya dirinya menyerah. Sebab selama di kampus ini ia tak banyak belajar hukum, tapi diam-diam bergabung dengan Poets’ Club–kelompok mahasiswa yang mendalami filsafat dan politik radikal. Ayahnya tidak tahu tentang aktivitas politik Marx, namun ayahnya mengerti kalau nilai kuliah Marx anjlok karena tidak bisa serius belajar hukum. Maklum di kampus itu Marx terbebani oleh wajib militer yang kerap membuatnya jatuh sakit. Perlakuan-perlakuan militeristik jadinya begitu dibenci Marx; bukan mengasah nalar, tapi mendidik jadi robot dan picik. Maka pada 1836, ayahnya memindahkan Marx ke Universitas Berlin. Meski kembali mengambil jurusan hukum, tetapi di tempat inilah Marx semakin mendalami filsafat pencerahan.
Sejak pertama belajar di kampus barunya, Marx langsung bergelut dengan pengajaran dosen-dosen Hegelian. Terpengaruh oleh lingkungan studi dan ceramah-ceramah filsafat Hegel, dirinya kontan masuk Klub Doktor–kelompok mahasiswa Hegelian. Hanya berada dalam lingkungan pengkaji pemikiran Hegel dirinya tidak takjub pada Hegelian Tua (Kanan)–tendensi yang melanggengkan status-quo: meyakini kalau kemajuan-kemajuan historis telah usai dengan perkembangan nalar (pusat eksistensi) serta kebebasan manusia yang telah mencapai puncaknya–mulai dari keluarga, masyarakat sipil, hingga perwujudan sempurnanya ‘Negara Prusia’. Melainkan memagut keyakinan bersama Hegelian Muda yang menegaskan kalau ‘Negara Prusia’ justru mensubordinasi agama untuk melanggengkan kekuasaannya sekaligus membatasi perkembangan fakultas-fakultas pikiran, perasaan, dan kehendak manusia.
Sejak 1837, dia menjadi akrab bersama kawan-kawan Hegelian Muda yang berpikir radikal: Ludwig Feuerbach, Bruno Bauer, dan Adolf Rutenberg. Dengan bergabung dalam kelompok itulah Marx kemudian belajar mengkritik metafisika Hegel, sekaligus mengadopsi metode dialektikanya, dan mendekati pertanyaan-pertanyaan mengenai sejarah, sastra, politik, dan agama menggunakan perspektif kiri. Bahkan mendalami filsafat Jerman inilah dirinya menjadi lebih maju. Bahwa kesimpulannya bukan lagi berpatut pada agama, melainkan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi, pembagian kerja, hingga akumulasi kapital. Makanya Marx secara berani melayangkan kritik kepada materialisme Feurbach dan pengikutnya–bersifat mekanik, kasar, abstrak, non-praksis, dan lebih-lebih tak berguna untuk merubah dunia.
“Suatu hari kita pasti akan ‘mengurangi’ pemikiran secara eksperimental menjadi gerakan molekuler dan kimiawi di otak; tetapi apakah itu menghabiskan esensi pemikiran?” (Engels)
“Para filsuf hanya menafsirkan dunia dengan berbagai cara; namun intinya adalah untuk mengubahnya!” (Marx)
Secara pasti bergerak sebagai pemikir sayap kiri menyeret perjalanan akademik Marx dalam petualangan menegangkan–sarat tantangan dari kaum liberal dan penuh ancaman oleh kekuasaan. Kala itu penguasa Prusia begitu anti terhadap perkembangan Hegelian Muda, lebih-lebih pemikiran-pemikiran Marx. Dalam keadaan inilah dia mesti berwaspada. Di sisi lain, kematian ayahnya pada 1838 amat mempengaruhi kestabilan emosional dan kemampuan membiayai kuliahnya. Menghadapi masa-masa sulit ini ia tidak sedikitpun menyerah, tapi semakin liat dan teguh dalam perjuangannya. Meski tesis doktoralnya yang terlampau radikal ditolak Universitas Berlin tapi dirinya tak menyerah. Tahun 1841, akhirnya Marx dapat menyelesaikan kuliahnya dengan meraih gelar doktor setelah tesisnya tentang Epicurus diterima oleh Universitas Jena.
Pada 1842, Marx kemudian memutuskan pindah ke Cologne–perpindahannya bukan seperti doktor kebanyakan: mengajar di kampus-kampus ternama, memupuk penghasilan, dan menempuh hidup mapan. Melainkan: bekerja untuk menentang kekuasaan sebagai penyunting di surat kabar radikal–Rheinische Zeitung. Lewat koran inilah dirinya bukan sekadar menulis aneka kritik, tapi juga mengalirkan visi sosialisnya. Bahkan lewat kerja-kerja propagandanya dia juga menentang pemerintahan sayap kanan Eropa, kaum liberal dan sosialis utopis. Perbuatan dihadapi oleh kekuasaan melalui sensor-demi-sensor. Meski disensor namun Marx tetap berlawan tanpa kompromis. Hanya setelah memborbardil monarki Rusia dengan hunusan pena dan tulisan-kritisnya, kantor Rheinische Zeitung sekelebat dibredel dan Marx diusir atas kerjasama Tsar Rusia dengan Raja Prusia. Di tengah tekanan, tantangan dan ancaman yang terus-menerus mengepung, mengintai dan menerjang perjuangannya—pada musim panas 1843, Marx menepi ke Gereja Kreuznach. Penepiannya di tempat suci bukan untuk mencari perlindungan pendeta atau memalingkan diri pada yang adikodrati, melainkan melangsungkan pernikahan dengan Jenny. Setelah 7 tahun lebih bertunangan dan menjalin asmara jarak jauh. Kini mereka bukan sekadar bertemu dan menjadi suami-istri, tapi lebih-lebih hidup dan berjuang bersama. Sejak saat ini keduanya tidak lagi berjarak dan memendam rindu, namun selalu berdua mengarungi suka-duka perjuangan untuk sosialisme.
Begitulah ketika pada musim gugur 1843, Marx memberitahu istirinya. Bahwa dirinya akan berangkat ke Paris untuk bekerja dengan sosialis Jerman Arnold Ruge sebagai penyunting jurnal radikal Deutsch-Franzosische Jahrbucher–istrinya lantas secara berani menemani suaminya yang menjadi propagandis. Di tempat ini Marx banyak mempelajari jalannya sejarah revolusi Prancis; sementara bagi Jenny inilah pertama kali dirinya terlibat langsung dalam perjuangan bersama Marx. Meski hidup di bawah represi kekuasaan, berkalang penderitaan dan kemiskinan; Jenny tetap tabah, komit dan bertahan. Eleanor Marx melukiskan itu semua melalui catatan ringan tentang Karl Heinrich Marx dan Jenny von Westphalen:
“…sepanjang kebersamaannya, mereka berdua … mengarungi dunia yang sarat dengan badai dan tekanan, pengusiran, kemiskinan yang getir, fitnah, perjuangan yang keras dan dahsyat; mereka tidak pernah mengelak maupun tenggelam walaupun didera tugas berat dan bahaya. Kehidupan mereka benar-benar seperti kata Browning: ‘Oleh karena dia selamanya adalah pasangan saya/Kesempatan tidak pernah mengubah cinta saya/Waktu pun tidak bisa memisahkan kami’.”
Bersama Jenny perjuangan Marx berlanjut. Tetapi gagasan-gagasannya tentang sosialisme pun mulai menemukan bentuk. Dalam jurnal yang baru dikelolanya ia mengemukakan gagasan tentang teralienasinya kemanusiaan, kritik terhadap materialisme Feurbach, proletariat sebagai kelas revolusioner, hingga perjuangan kelas sebagai motor penggerak sejarah. Semuanya diselipkan melalui kedua karyanya–‘Pengantar Kritik Filsafat tentang Hak Hegel’ dan ‘Tentang Persoalan Yahudi’. Hanya tulisannya lagi-lagi disensor penguasa. Negara-negara bagian Jerman bahkan merintangi setiap upaya penyaluran tulisannya. Dalam kondisi inilah Ruge menciut nyalinya untuk membantu dan mendanai peneribatan tulisan Marx. Hanya Marx terus berusaha melancarkan penerbitan, namun hubungan keduanya pun retak. Walhasil, Deutsch-Franzosische Jahrbucher pun meredup dan bubar.
Tetapi dari mengelola jurnal itulah dirinya tidak saja dapat berkenalan dengan Friedrich Engels–yang pernah mengirimkan artikel mengenai ‘Garis-Garis Besar Kritik Ekonomi Politik’–, melainkan pula mulai melakukan korespondensi. Dari Engels, Marx mendapatkan berbagai informasi tentang kelas pekerja di Inggris hingga terpagut mendalami ekonomi-politik klasik. Pada Agustus 1844, Marx dan Engels pun bertemu secara langsung dalam Café de la Régence di Paris dan Engels pun memberikan Marx karyanya tentang ‘Kondisi Kelas Pekerja di Inggris’. Pertemuan itu semakin merekatkan persahabatan keduanya menjadi kamerad seperjuangan. Memasuki bulan September kemudian, dua-duanya mulai melakukan kerja-kerja pengorganisiran. Hanya elemen-elemen revolusioner di Paris kebacut terhegemoni oleh kepemimpinan intelektual dan moral Proudhon. Proudhonisme menganjurkan kepada pengikutnya untuk terus melancarkan aksi-aksi dalam spektrum kebutuhan ekonomis semata dan menolak aksi-aksi politik melawan kekuasaan. Dijerambabkannya kelas pekerja dalam kubangan sponitas dan gerakan reformis mengharuskan Marx dan Engels berbuat sesuatu. Mula-mula Liga Keadilan yang didominasi oleh kaum anarkis dengan kecenderungan Sosialisme Utopia diintervensi melalui pengiriman tulisan-tulisan Marx ke surat kabar mereka: Vorwärts! Di sisi lain, Marx terus memperdalam gagasannya tentang Sosialisme Ilmiah dengan 3 bangunan utamanya.
Pertama, Filsafat Jerman (Materialisme Feuerbach dan Dialektika Hegel yang dimajukan menjadi Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis). Kedua, Ekonomi-Politik Klasik (Ekonomi-Politik dari Adam Smith dan David Ricardo yang dikritik: laba tidak dihasilkan di pasar, tapi dalam kegiatan produksi dengan menciptakan komoditas melalui eksploitasi kemampuan kerja). Ketiga, Sejarah Revolusi Prancis (kritik terhadap Sosialisme Utopia dan kesimpulan bahwa pertentangan kelas merupakan motor penggerak sejarah serta proletariat sebagai kekuatan revolusioner). Hanya keberadaan Marx di Paris kemudian terasa kecut bagi penguasa. Masuk 1845, upaya mengorganisir elemen revolusioner dan intervensinya terhadap Liga Keadilan dibatasi dengan represi dan pengusiran begitu rupa. Maka 1846 dia dan keluarga kecilnya berpindah ke Brussel, Belgia. Engels lantas mengikuti mereka. Dari sini Marx dan Engels melanjutkan perjuangannya. Keduanya tidak sekadar menyelesaikan ‘Keluarga Suci’, ‘Kritik terhadap Idealisme Hegelian Muda’, dan ‘Ideologi Jerman (Manuskrip)’. Tetapi juga mendirikan Komite Korespondensi Komunis untuk menghubungkan kaum sosialis seluruh Eropa.
Pada 1847, elemen-elemen revolusioner yang sejalan dengan pemikiran Marx dan Engels lantas melaksanakan pertemuan Komite Sentral di London. Bertemunya mereka kemudian berhasil mendirikan Liga Komunis dan dengan mencuatnya sinyalemen Revolusi 1848, maka Liga memandatkan Marx dan Engels menyusun dokumen perjuangan. Tahun 1848, dokumennya berhasil disusun–‘Manifeto Partai Komunis’. Pembukaannya tegas dan mampu mengusik ketentraman kaum yang bermilik, berkuasa, dan menindas:
“Ada hantu berkeliaran di Eropa—hantu Komunisme. Semua kekuasaan di Eropa lama telah menyatukan diri dalam suatu persekongkolan keramat–Paus dan Tsar, Metternich dan Guizot, kaum Radikal Perancis dan mata-mata polisi Jerman–untuk mengusir hantu tersebut. Di manakah ada partai oposisi yang tidak dicaci sebagai Komunis oleh lawan-lawannya yang sedang berkuasa? Di manakah ada partai oposisi yang tidak melontarkan kembali cap, tuduhan Komunisme, baik kepada partai-partai oposisi yang lebih maju maupun kepada lawan-lawannya yang reaksioner? Dua hal timbul dari kenyataan ini. Pertama, Komunisme telah diakui oleh semua kekuasaan di Eropa sebagai suatu kekuasaan pula. Kedua, telah tiba waktunya bahwa kaum Komunis harus dengan terang-terangan terhadap seluruh dunia menyiarkan pandangan mereka, cita-cita mereka, tujuan mereka, aliran mereka, dan melawan dongengan kanak-kanak tentang Hantu Komunisme ini dengan sebuah Manifesto Partai Komunis.”
Tetapi setelah kekalahan Revolusi 1848, kaum Komunis (Sosialis Revolusioner) diserang pelbagai aneka fitnah dan tuduhan kelas penguasa. Marx sendiri kemudian diisolir, diasingkan, dan tidak diterima oleh banyak negara Eropa. Pada 1849, didepak keluar dari Belgia dan tidak diterima di Prancis maupun Prusia. Dirinya bersama Jenny, anak-anaknya, dan dibantu kamerad seperjuangannya Engels diam-diam menyeberang ke London–walau mengerti Inggris tak pernah mau menerima kehadiran Marx. Sementara sejak 1850, Engels dipaksa ayahnya mengurusi industri keluarganya di Manchester. Meski serba-terbatas dan bersusah-payah di Inggris, Marx tetap melanjutkan perjuangannya. Bersama keluarga kecilnya, dia mencari penginapan termurah. Setelah Engels pergi untuk mengelola bisnis ayahnya, Marx berfokus menyelesaikan proyek raksasanya tentang Das Capital volume I-III. Saat serius melakukan kerja-teori, Marx tentunya tak dapat mencari pekerjaan yang layak guna membiayai keperluan rumah tangga. Dalam keterbatasan dan kemiskinan inilah Engels tiap bulannya mengirimi Marx uang secukupnya. Pada 1867, jilid 1 berhasil diselesaikan. Hanya jilid 1 dan 2 tak sukar dirampungkannya. Selain pekerjaannya menulis di New York Tribune, aktivitas di Asosiasi Kelas Pekerja Internasional membelah fokusnya. Walau Engels sebisa mungkin membantunya menulis di surat kabar ternama Amerika itu, tapi penyakit yang mendera Marx (dan Jenny) mengakibatkan fisik dan psikisnya melemah dan proses penyelesaian Capital terganggu.
Pada 1870, Engels pensiun dari bisnis keluarganya. Saat inilah dia kembali sedekat mungkin berjuang bersama kameradnya. Sementara 1871 meledaklah peristiwa besar yang didambakan Marx, Engels, Jenny, dan Sosialis Revolusioner lainnya: revolusi proletariat dan berdirinya Komune Paris. Tetapi pemerintahan kelas pekerja itu tak bertahan lama. Karena mereka cuma merebut negara dan tidak bisa mengoperasikan alat-alat kekuasaannya. Lalu darinya Marx mengambil pelajaran berharga. Bahwa alat-alat politik dalam negara borjuis sejak awal dirancang, dibentuk, dan digunakan untuk melancarkan kepentingan kelas penguasa. Inilah mengapa segala perangkat kenegaraan bersifat elitis, terpisah dari massa, terutama terasing dari mayoritas kelas pekerja. Maka guna membalikan keadaan ditekankanlah untuk ‘melenyapkan negara’: menghapus alat represi ideologi, hukum, dan fisiknya, sekaligus mempertahankan fungsi administrasinya. Begitulah ditulisnya lewat Brumaire XVIII Louis Bonaparte:
“Sistem administrasi tidak dapat dan tidak boleh melenyap, karena sistem administrasi dan manajemen ini adalah salah satu komponen pokok dalam sistem produksi modern … di bawah sistem sosialis, sistem administrasi dan manajemen ini akan dikendalikan oleh massa—bukan oleh aparat khusus yang memang ditempatkan semata-mata untuk keperluan pengaturan. Massa mengendalikan pengaturan-pengaturan itu melalui dewan-dewan yang dibentuknya. Jabatan-jabatan pengaturan (seperti jabatan dalam milisia, dalam administrasi, dan mungkin dalam pengaturan lalu-lintas) dikerjakan secara bergiliran oleh semua angggota Dewan dengan masa jabatan yang, ‘sangat, sangat pendek’. Dengan cara ini tidak ada lagi orang yang secara khusus mengurusi masalah spiritual, birokrasi, dan kemiliteran–Negara lenyap.
Setelah kekalahan Komune Paris, Marx dan Engels terus melalukan kerja-kerja teori dan pengorganisasian dalam Asosiasi Kelas Pekerja Internasional. Sedangkan Jenny yang terbaring lemah semakin tak berdaya. Sakitnya bertambah parah. Pada 1881, dia pun menghembuskan nafas terakhirnya. Ditinggal oleh istrinya, ibu dari anak-anaknya, sekaligus kawan juangnya—maka Marx sangat terpukul dan gelisah. Dengan kondisi yang juga pesakitan ditambah faktor kelelahan dan perasaan kehilangan mendalam; 15 bulan kemudian Marx tiba-tiba tumbang karena demam dan meninggal dunia. Hanya di saat-saat terakhir sebelum kepergian Marx. Dia menyempatkan diri untuk berpesan kepada anaknya agar memberitahukan Engels untuk melanjutkan jilid 2 dan 3 dari Capital. Dipercayakan menyelesaikan tugas itu Engels menyanggupinya. Sore hari setelah kepergian dan melihat jasad Marx terakhir kalinya, Engels cekatan mempersiapkan segala kebutuhan untuk melanjutkan kerja-teori almarhum kameradnya. Pekerjaan akhirnya mampu dirampungkan di tengah kerinduan yang teramat berat terhadap Marx. 12 Tahun setelah kematian Marx, Engels pun ikut menghembuskan nafas terakhir.
Pembelaan untuk Marxisme
“Bila tiang utama sistem adalah hidup dalam kebohongan, maka tak mengherankan apabila ancaman utamanya adalah hidup dalam kebenaran.” (Vaclav Havel)
Sejak keruntuhan Republik Sosialis Uni Soviet (RSUS) maka fitnah-fitnah dan tuduhan mulai memborbardil Marxisme. Runtuhnya negara sosialis pertama di dunia ini dijadikan kelas borjuis dan musuh-musuh kelas proletariat sebagai ajang mengambingkanhitamkan Marxisme. Padahal kemerosotan itu tidaklah membatalkan kebenaran Marxisme, tapi semakin membenarkan ketepatan ajarannya. Begitulah pada 1936, Leon Trotsky mampu memberikan prediski yang tepat berkait kemunduran-kemunduran yang akan menimpa RSUS dengan menggunakan pisau analisa Marxisme: ‘hanya kemiskinan yang akan menjadi umum, dan dengan kemiskinan maka perjuangan untuk kebutuhan hidup akan dimulai kembali, dan semua sampah lama itu akan bangkit lagi’. Begitulah melalui Revolusi yang Dikhianati; Sebab-Sebab Kebangkrutan Uni Soviet (2010), Trotsky menjelaskan kalau kemiskinan umum akibat perang sipil, kelambanan perkembangan revolusi sosialis di Eropa, hingga blokade perdagangan dan isolasi imperialis yang memundurkan perekonomian Soviet tidak saja menjadi basis pembentukan kasta birokrasi tapi juga melahirkan Stalinisme dan retaknya program nasionalisasi ekonomi terencana:
“Basis bagi kekuasaan birokratik adalah kemiskinan masyarakat dalam hal obyek konsumsi, yang hasilnya adalah pertarungan yang satu dengan yang lainnya. Ketika terdapat cukup barang di satu toko, para pembeli dapat datang kapanpun yang mereka inginkan. Ketika barang sedikit, para pembeli terpaksa mengantri. Ketika antrian terlalu panjang, perlulah ditunjuk seorang polisi untuk menjaga ketertiban. Demikianlah awal munculnya kekuasaan birokrasi Soviet. Mereka tahu siapa yang harus mendapat jatah terlebih dahulu dan siapa yang harus menunggu.”
Sebagai akibat dari menjalarnya kemiskinan maka persaingan-persaingan borjuis-kecil dalam mempertahankan kehidupan pun berlangsung begitu rupa. Disertai menajamnya perang sipil bunga-bunga proletariat (kaum Bolshevik yang militan dan berpengalaman) juga kebanyakan menemui ajalnya. Dalam kondisi inilah Partai Komunis Uni Soviet (PKUS) mendera kehilangan banyak kader-kader terbaiknya. Mengisi kekosongan maka bekas-bekas pejabat Tsar Rusia dan Karensky beringsut memasuki kerja-kerja partai dan negara sosialis. Kamerad-kamerad yang mempunyai inisiatif revolusioner, dedikasi dan semangat pengorbanan diri, serta kebanggaan sebagai bagian dari proletariat kemudian diganti birokrat-birokrat keji, pengecut, bimbang dan pengejar karir. Begitulah elemen-elemen sosial yang bermental borjuis mencemari PKUS. Bahkan setelah kematian Lenin (1924); pada 1925 mereka membuat kebijakan ‘menghadap pada kulak’, hingga menimbulkan kontradiksi internal pada penerapan perekonomian terencana Uni Soviet: kepemilikan sosialis (ekonomi) berhadap-hadapan dengan norma distribusi borjuis (politik). Keadaan ini kemudian mendorong kesenjangan dan pembentukan kasta-birokrasi yang menanggalkan program demokrasi proletariat: semua pejabat harus dipilih secara demokratik dan dapat ditarik kembali, gaji pejabat tidaklah dapat melampaui pekerja terampil, tentara reguler digantikan milisi sipil, hingga tugas-tugas menjalankan negara sosialis yang mesti dijalankan buruh secara bergiliran—semuanya diremukkan melalui kediktatoran birokratik. Ketika degenerasi birokrasi dimulai maka penghancuran Bolshevik oleh rezim totaliter berlangsung vulgar: Teori Revolusi Permanen, Internasionalisme Proletariat, dan Sentralisme Demokratik digantikan Revolusi Dua Tahap, Sosialisme di Satu Negara, dan Otoritas Penuh Komite Sentral. Menghadapi kegetiran inilah peninggalan-peninggalan paling kaya dan jernih dari Revolusi Oktober 1917 dipelintir sekenanya—Stalinisme bertanggung jawab atasnya, terutama berkait pelemahan dan pembubaran Internasional Ketiga (Komunis Internasional—Komintern). Bangkitnya Stalinisme, bagi Trotsky merupakan bentuk Thermidor (konter-revolusi): epos dimana rakyat mulai letih dan elemen-elemen yang konservatif dan lebih birokratis mengambil-alih kendali revolusi—istilah ini diadopsi dari peristiwa Revolusi Prancis: saat Pemerintahan Jacobin yang progresif digulingkan elemen konservatif hingga akhirnya Napoleon Bonaparte merebut kekuasaan dan mengubur semua pencapaian besar Revolusi Prancis 1789:
“Dalam kondisi kediktatoran besi, antagonisme sosial tidak dapat menampakan diri pada awalnya kecuali melalui kelembagaan partai penguasa. Banyak anggota kaum Thermidor muncul dari anggota kaum Jacobin. Bonaparte sendiri adalah anggota lingkaran itu di tahun-tahun pertamanya, dan lalu justru dari antara mantan kaum Jacobin-lah Konsul Pertama dan Kaisar Prancis memilih para pelayannya yang paling setia. Massa berubah dan kaum Jacobin berubah bersama mereka, tidak terkecuali kaum Jacobin abad ke-20. Dari anggota Politbiro kini tinggal Stalin yang masih bertahan…. Tuntutan untuk demokrasi dalam partai saat itu merupakan slogan-slogan seluruh kelompok oposisi, dengan intensitas yang setara dengan keputusasaannya. Platform Oposisi Kiri [Trotsky dan kamerad-kameradnya] yang disebutkan barusan menuntut pada tahun 1927 untuk disahkannya satu aturan tambahan pada UU Pidana yang “menghukum sebagai sebuah kejahatan serius terhadap negara setiap penghambatan secara sengaja atas seorang buruh yang kritis.” Yang terjadi malah disahkannya sebuah pasal yang melarang Oposisi Kiri itu sendiri… GPU [polisi rahasia Uni Soviet yang mulai 1922-1934 dan berubah nama menjadi KGB—menjadi alat represi utama Stalin untuk membungkam, mengusir, memenjarakan, dan membunuh Oposisi Kiri] telah menjadi faktor penentu dalam kehidupan internal partai … Partai Bolshevik yang lama telah mati dan tidak ada kekuatan apapun yang akan sanggup membangkitkannya kembali.”
Itulah bentuk pengkhianatan Stalinisme: partai, soviet-soviet buruh, tani, prajurit, dan semua lembaga-lembaga demokratis ditenggelamkan melalui kebuasan GPU/KGB. Penjara-penjara penuh dan kamp-kamp konsentrasi berdiri untuk menghancurkan Oposisi Kiri–Trotsky dan kamerad-kameradnya. Bahkan ketika Stalin menjadi Sekretaris Jenderal maka posisi yang semulanya mengurus persoalan administrasi jadi punya otoritas-politik yang tiada terkira. Hasil-hasil Revolusi Oktober 1917 kemudian dijungkirbalikan dan kapitalisme kembali dihidupkan oleh kasta-birokrasinya. Kini terdegenerasinya PKUS dan runtuhnya RSUS sebagai negara sosialis pertama di dunia dijadikan dalih maha-besar dalam menyalahkan Marxisme sekaligus mendukung pemulihan kapitalisme. Padahal negara-negara dan Partai Komunis yang runtuh di Rusia, Eropa Timur, bahkan Asia itu bukanlah Komunisme (Marxisme-Leninisme atau Bolshevisme)—melainkan karikaturnya semata: Stalinisme. Rezim Stalin yang berkuasa setelah kematian Lenin telah mencemari revolusi sosialis dunia. Begitulah Komintern dibubarkan dan kepada semua Partai Komunis tidak saja didiktekan Teori Revolusi Dua Tahap yang mendorong berkolaborasi kelas dengan borjuis-borjuis nasional di Dunia Ketiga. Berlindungnya Partai Komunis Indonesia (PKI) di ketiak Presiden Soekarno dan meleburnya Partai Komunis Cina (PKC) pada Koumintang—hingga kehancuran kedua partai itu dalam pembantaian berskala raksasa terhadap massanya—merupakan dosa sejarah Stalinisme. Secara mendetil dan mengambil banyak contoh, Alan Woods dan Ted Grant menjelaskannya lewat Melawan Imperialisme (1999):
“TEORI “dua tahapan” tersebut memainkan peran kriminal dalam perkembangan revolusi di dunia jajahan. Di Cina, Partai Komunis yang masih muda terpaksa masuk dalam aturan main kaum borjuis nasional. Koumintang, yang kemudian melakukan likuidasi secara fisik terhadap Partai Komunis, serikat-serikat buruh, dan dewan-dewan tani selama berlangsungnya Revolusi Cina tahun 1925-1927. Yang kedua mengambil bentuk perang kaum tani, dimana kelas buruh tetap pasif, adalah perluasan dari kehancuran kaum proletar Cina sebagai akibat kebijakan-kebijakan Stalin yang oleh Trotsky dicirikan sebagai “karikatur jahat dari Menshevisme”. Dimanapun ia diterapkan dalam dunia jajahan, teori kaum Stalinis tentang “dua tahapan” telah mendorong terjadinya malapetaka secara susul-menyusul. Di Sudan dan Irak pada 1950-an dan 1960-an, Partai Komunis merupakan kekuatan massa yang mampu menyerukan dilakukannya demonstrasi sejuta orang di Baghdad dan dua juta orang di Khartoum. Bukannya melanjutkan pelaksanaan kebijakan kelas secara independen dan memimpin para buruh dan kaum tani untuk merebut kekuasaan, mereka justru mengajak beraliansi kaum borjuis serta golongan-golongan “progresif” dalam jajaran militer. Bahkan yang disebut terakhir ini, setelah mengambil-alih kekuasaan dengan dukungan penuh dari partai-partai Komunis, kemudian mulai mengeliminir mereka dengan pembunuhan dan pemenjaraan para anggota serta pimpinan partai tersebut. Di Sudan, proses yang sama terjadi bukan hanya sekali, tetapi dua kali. Masih saja, bahkan sampai sekarang, para pemimpin Partai Komunis Sudan mempunyai kebijakan “Aliansi Patriotik” dengan kaum gerilya di Selatan (sekarang disokong oleh imperialisme AS) dan kaum borjuis “progresif” di Utara, untuk melawan rezim fundamentalis…. Contoh paling tragis yang mempunyai konsekuensi paling menakutkan dari teori dua tahapan adalah apa yang terjadi di Indonesia. Di tahun 1960-an Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah kekuatan massa yang utama di negara ini. PKI ketika itu merupakan Partai Komunis terbesar kedua sedunia di luar Blok Soviet, dengan tiga juta anggota dan sepuluh juta orang berafiliasi kepada serikat-serikat pekerja serta organisasi buruh taninya. Bahkan PKI mengklaim memiliki dukungan 40 persen tentara (termasuk jajaran perwira). Kaum Bolshevik Rusia tidak memiliki dukungan terorganisir yang sebanyak itu di saat Revolusi Oktober! PKI bisa dengan mudah mengambil-alih kekuasaan dan memulai transformasi sosialis terhadap masyarakat, hingga akan memiliki efek luar biasa besar di seluruh dunia jajahan, menjadi rantai revolusi-revolusi di Asia. Akan tetapi, bukannya melakukan itu, para pemimpin PKI (di bawah kontrol kaum Maois Cina) malah membentuk aliansi dengan Soekarno, seorang pemimpin nasionalis-borjuis yang ketika itu mengadopsi fraseologi “kiri”. Kebijakan-kebijakan itu menyebabkan PKI sepenuhnya tidak siap saat kaum borjuis (di bawah instruksi langsung CIA) mengorganisir sebuah pembantaian terhadap anggota dan simpatisannya, di mana sedikitnya 1,5 juta orang dijagal.”
Stalinisme telah menyeret partai-partai Komunis pada posisi paling buncit. Partai yang seharusnya menjaga kemandirian kelas proletariat diikatkan pada kelas borjuis. Massa-rakyat diorganisir bukan menjadi kekuatan untuk merebut kekuasaan, tapi ditumbalkan lewat sebrek tragedi berdarah: kontra-revolusi. Hanya sekarang pemenjaraan, kebrutalan, pembantaian, dan kematian berjuta-juta manusia inilah yang dikolosalkan secara sentimental dalam menyudutkan dan memvonis kegagalan Komunisme. Kehidupan masyarakat kapitalis lantas dianggap sebagai keniscayaan hanya karena mampu bertahan saja. Maka ukuran kebenaran bukan lagi diajuk dari ajarannya, melainkan kegagalan dan kesuksesannya. Jika salah dan benar suatu ajaran cuma dipatok dari gagal dan sukses, tidakkah Iblis dapat disebut sebagai penganjur kebenaran sedangkan Nabi adalah pendakwah kesesatan? Dibanding para Nabi, Iblis malah begitu sukses menjerat umat manusia. Sementara banyak sekali Nabi yang gagal beroleh kepercayaan umatnya: daripada petuahnnya diindahkan, nabi-nabi justru diusir dan dicelakakan oleh orang-orang yang diseru membersamai ajarannya! Dalam Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914-1942 (2015), Syamsul Bakri menjelaskan pemikiran Haji Misbach tentang ekses kapitalisme. Bagi Misbach masyarakat kapitalis memang mengandung penyakit bawaan: tipu-daya. Muslihat ini disebutnya menggunakan bahasa keagamaan sebagai fitnah: godaan untuk menguji kesetiaan umat beragama. Hanya fitnah bukan merupakan godaan yang berasal dari dalam, melainkan dari kenyataan-kenyataan di luar diri manusia.
Pandangan Misbach fitnah itu mengigatkan bahwa kapitalisme membuat orang-orang berhamba pada uang, bukan kepada Tuhan. Makanya hidup di dunia modal kerap kali ditemui goda-goda yang dapat memelorotkan keimanan. Kepada orang-orang beriman dia mengingatkan: ‘mereka yang mengaku muslim dan Islam, tetapi tidak berjuang melawan prasangka dan fitnahan kapitalisme—adalah munafik’. Pada masa penjajahan kolonial, iman kepada wahyu mendorong Misbach untuk tidak menyerah kepada kenyataan negeri jajahan yang penuh dengan ketimpangan. Melainkan berjuang melayangkan proposal perubahan. Dalam perjuangannya, ilmu Komunis baginya: dapat membantu memerangi penindasan oleh kekuatan-kekuatan kemodalan. Komunisme sebagai kerangka teoritis telah menerangkan soal uang lebih jauh, hingga ia mengidentifikasi keinginan mengeruk laba dari kapitalisme adalah sebagai ‘setan’. Maka orientasi terhadap uang menurutnya: adalah tipu muslihat setan yang dapat menjauhkan manusia dari Tuhan. Dengan pendirian seperti itulah dia mengukuhkan dirinya menjadi pejuang tanpa mengenal kompromi. Ituah mengapa kepada kawan pergerakannya seperti H.O.S. TJokroaminoto sekalipun, ia tidak segan-segan melayangkan kritikan berani. Lewat tulisannya di Medan Moeslim yang berjudul ‘Islam dan Gerakan’, Misbach berusaha mengingatkan Tjokro agar segera keluar dari jerambab fitnah kapitalisme. Rembesan modal pada Sarekat Islam (SI) soalnya telah membelokan orientasi pemimpin organisasi ini. Maka kepada pimpinan SI, Misbach membandingkannya dengan kisah kekalahan Adam di tangan iblis:
“Pada waktoe bapa kita nabi Adam masih di taman firdaus, setan telah menipunya dan menjatuhkannya dengan berboeat seolah-olah membawa perintah Toehan. Sekarang H.O.S. Tjokroaminoto akan memperdayai anak-anak Adam dengan berboeat seolah-olah adalah pemimpin yang aktif di jalan Islam.”
Kala itu gerakan SI yang dipimpin Tjokro begitu menjijikan. Orientasinya bukan sekedar merebut jatah kursi dalam parlemen kolonial, tapi juga mengutip untung dari dana-dana keanggotaaan. Kelakuannya memperkaya diri itu diakibatkan hasutan setan. Tapi setan di sini bukanlah makhluk halus, melainkan tatanan masyarakat kapitalis, Melalui analisis menggunakan ilmu Komunis yang materialis, maka kisah penciptaan manusia dipandang Misbach amat jelas: tidak boleh terlepas dari keadaan-keadaan kongkret. Itulah mengapa dalam kehidupan nyata setan menampilkan diri ke dalam bentuk uang. Pemikiran Misbach sejalan dengan Hisham Sharabi yang menyatakan bahwa untuk memahami makna dan pesan dari bahasa simbolik Islam, maka penafsiran atas ajaran langit mestilah disekularisasikan dan dirasionalkan:
“Tanpa melalui berpikir sejarah (historical thingking) atau mencari kebenaran dalam proses (truth a process), pengikut-pengikut yang imannya bersemangat, tetapi mereka hidup dalam kesadaran-kesadaran palsu yang menentramkan. Untuk itu dinyatakan bahwa gerakan Islam harus melakukan transformasi pada tingkatan ekonomi, yakni pertama penataan infrastruktur material, kedua pembaharuan sosial, ketiga dalam praktek politik yang mendudukan posisi yang jelas hubungan negara dan warganya. [Dr. Moeslim Abdurrahman (Pengantar), (2003), Islam Pribumi, Jakarta: Erlangga]
Sebagai ilmu, Komunisme mampu membuka cakrawala berpikir penggunanya. Bukan sekadar diajarkan untuk berpikir sejarah, tapi lebih menyeluruh: meliputi suatu tafsiran luas tentang manusia, masyarakat, alam, hingga Tuhan. Bahkan teori ekonomi-politik yang diwariskan Marx, sampai kini masih menjadi senjata pamungkas untuk menelanjangi perkembangan masyarakat kapitalis. Inilah mengapa Marxisme mempunyai tiga pilar teoritis yang tidak dapat dipisahkan: filosofis, antropologis, dan historis. Cuma selaku ilmu, Marxisme muncul dengan pemikiran yang tak mengenal kompromi: guna menghadapi tatanan kapitalisme sama sekali tidak dianjurkan untuk berdamai, melainkan melakukan perlawanan tanpa henti. Dalam Marxisme, Ilmu, dan Amalnya (2017), Njoto menjelaskan bagaimana Sosialisme Marxis menunjukan hukum perkembangan kapitalisme hingga menemui ajalnya dengan menegaskan: ‘bahwa perjuangan kelaslah motor atau lokomotif dari sejarah, dan oleh sebab itu [perjuangan] kelas buruh adalah satu-satunya jalan menuju ke sosialisme’.
Argumentasi itu paralel dengan apa yang dijelaskan John Molyneux dalam Mana Tradisi Marxis yang Sejati? (2015). Baginya: inti dari Marxisme ialah revolusi proletariat yang diekspresikan di bidang teori.
Pertama, orientasi internasionalis. Internasionalisme Marxis bukanlah komitmen moral yang bersifat abstrak sebagaimana praktek liberal ala borjuasi: persaudaraan internasional kepada semua bangsa tanpa membedakan siapa penindas dan tertindas. Melainkan mendasarkan diri pada keberadaan proletariat sebagai sebagai kelas internasional yang terus-menerus ditindas oleh kepentingan kelas borjuis: ‘karena memprioritaskan kepentingan keseluruhan kelas buruh, maka internasionalisme Marxis dapat mengakui hak suatu bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri (self-determitanion right) dan mendukung perjuangan pembebasan nasional, jika kelas secara internasional menginginkannya’. Kedua, kepemilikan alat-alat produksi secara bersama. Prinsip ini mengharuskan penguasaan alat produksi oleh negara (sosialis) tapi harus disertai dengan pelaksaan ekonomi terencana. Dengan perencanaan dalam bidang perekonomian, maka kesejahteraan dan keadilan akan dapat tersalurkan secara menyeluruh. Pada saat itulah alat-alat produksi tidak akan lagi dikuasai oleh segelintir orang, melainkan sudah dapat dimiliki bersama-sama. Hanya untuk mewujudkan keadaan itu kelas buruh harus mengalahkan kelas yang berkuasa dengan meancarkan perjuangan kelas. Marx dan Engels dalam Manifesto Partai Komunis (1848) memberi penjelasan yang cukup lugas:
“…langkah pertama dalam revolusi kelas buruh adalah mengangkat proletariat pada kedudukan kelas yang berkuasa, memenangkan perjuangan demokrasi. Proletariat akan menggunakan kekuasaan politiknya untuk merebut, selangkah demi selangkah, semua kapital dari borjuasi, memusatkan semua perkakas produksi ke dalam tangan negara [sosialis], yaitu proletariat yang terorganisasi sebagai kelas yang berkuasa; dan untuk meningkatkan jumlah tenaga-tenaga produktif secara mungkin.”
Mengerti akan kandungan pemikiran dan luapan gerakan revolusioner itulah mengapa Marxisme sejak kelahiran dibenci oleh kelas penguasa. Fitnah dan tuduhan tentang keburukan, kebiadaban, hingga kesesatannya ditebarkan di mana-mana. Kontrol atas kebenaran yang mereka lakukan disebut sebagai ‘dominasi simbolik’. Bentuk kekerasan ini walau tak kasat mata dan agak halus, tapi sangat menghambat perkembangan masyarakat. Kondisi kehidupan rakyat di bawah cengkeraman pemerintahan fasis Soeharto adalah contohnya. 32 tahun barada dalam kendali kekuasaan Orde Baru (Orba) bukan hanya menjalarkan kemiskinan, kehinaan, penindasan, dan kematian mengenaskan; melainkan juga mengakarkan kebebalan dengan membatasi akses terhadap pengetahuan-pengetahuan revolusioner secara sewenang-wenang. Propaganda-propaganda picik terus-menerus mereka lancarkan untuk membasmi paham-paham dan gerakan anti-status quo. Mulai dari media-massa, sekolah-sekolah, organisasi-organisasi masyarakat, hingga institusi-institusi pemerintahan dan partai-partai politik maupun lembaga-lembaga keagamaan dan kemahasiswaan—semuanya ditundukan demi mengamankan kekuasaan dan kepentingan kemodalan. Antonio Gramsci menyebut perbuatan itu sebagai kuasa hegemonis. Hegemoni mula-mula bukanlah hubungan dominasi dengan menggunakan kekerasan, melainkan mendapatkan persetujuan memakai kekuatan kepemimpinan politik—Intelektual, moral, dan ideologis:
“Supremasi sebuah kelompok mewujudkan diri dengan dua cara, sebagai “dominasi” dan sebagai ‘kepemimpinan intelektual dan moral’. Dan di satu pihak sebuah kelompok kelompok sosial mendominasi kelompok-kelompok oposisi untuk “menghancurkan” atau menundukan mereka, bahkan mungkin dengan menggunakan kekuatan bersenjata….” [Nezar Patria & Andi Arief, (2003), Antonio Gramsci; Negara dan Hegemoni, Yogyakarta: Pustaka Pelajar]
Melalui kekuasaan hegemoni dari pemerintahan fasis, bukan hanya merebak pembatasan kebenaran tapi juga menjalarkan kekerasan fisik hingga pembunuhan dan pembataian. Pelarangan terhadap ajaran Marxisme-Leninisme dan pemusnahan terhadap orang-orang serta simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan buktinya. Kala itu budaya kehidupan tidaklah mekar di atas keadilan, kemanusiaan, dan kebebasan; melainkan kehinaan, kepongahan, dan kebebalan. Semua ini berlangsung persis kata pepatah: ‘hasrat manusia yang terdalam dibiarkan tersumbat oleh norma-norma yang berada di luar otoritas dirinya’. Setelah Reformasi 1998 bergulir ternyata pembatasan-pembatasan masih bermunculan. Seiring dengan mendorong kebangkitan kembali keluarga Cendana, negara borjuis juga tetap tegar menyebarkan fitnah dan tuduhan terhadap para penyintas yang selamat dari genosida 1965.
Sikap kelas penguasa terhadap segala yang berhubungan dengan Komunisme memang sangatlah gila. Di istana-istananya, mereka berkelakar sambil menyetigma Marxisme tanpa sedikitpun membaca dan memahaminya. Sementara di tempat-tempat kumuh pemutaran film senyap kerap berujung pemukulan, pengejaran, hingga penahanan. Bahkan penerbit dan toko-toko buku progresif berkali-kali diteror oleh kalangan bajingan dari militer dan aparat kepolisian. Dengan memperlihatkan keangkuhan dan kepandiran, maka kelas penguasa di setiap zaman sepertinya tidak pernah berubah pendirian. Mereka tak sekadar memusuhi rakyat, tapi juga membenci yang namanya keindahan pemikiran. Itulah mengapa sampai sekarang masih saja terjadi pembatasan kebenaran. Meski kolot, naïf, dan kaku—kalangan ini sangatlah licin dalam mendayagunakan kekuasaan. Dengan mengerahkan aparatus ideologis dan aparat-aparat represifnya, keindahan gagasan mudah sekali dilecehkan dengan fitnahan dan tuduhan. Amr ibn Bahr dalam catatannya bukan saja mencercah komplotan tersebut sebagai ‘perompak akal’, melainkan pula menganjurkan pembangkangan:
“Dalam setiap manifestasi kehidupan, baik dalam kehidupan binatang atau tumbuhan, saya menjumpai pelajaran, dan saya benci, teramat membenci, intelektual-satu-dimensi. Saya hidup memerangi moral picik kaum perompak akal, kaum tradisionalis, dan kaum birokrat. Saya hidup membela keindahan pemikiran dan seni bernalar sebab tidak hanya nalar yang dibenci oleh kaum perompak melainkan juga estetika nalar.”
Sosialisme Ilmiah sebagai Alternatif
“Teori adalah realitas yang digeneralisasi. Di dalam sebuah sikap yang jujur terhadap teori revolusioner terekspresikan sebuah keinginan yang penuh semangat untuk membangun kembali realitas sosial.” (Leon Trotsky)
Pada 1847, ada dua macam golongan yang dianggap sebagai orang-orang sosialis. Pertama, ialah mereka yang menjadi penganut Sosialisme Awal: kaum Owenis di Inggris dan kaum Fourieris di Prancis. Dalam volume pertama A History of Socialist Thought, G.D.H. Cole mencatat: kata ‘sosialis’ dipakai sejak dipropagandakan melalui Cooperative Megazine. Pemakainya berasal kalangan yang berkiblat kepada pemikiran Robert Owen: perlu adanya sebuah mode koperasi sistem industri. Ia percaya bahwa produksi dan kesejahteraan umum cuma dapat ditingkatkan dengan peraturan kolektif. Aturan itu diterapkan secara bersama dalam pabrik-pabrik dan bengkel-bengkel dengan berbasis koperasi. Hanya pandangan ini dibantah oleh Charles Fourier. Baginya, gagasan Robert Owen dapat menjerumuskan masyarakat dalam industrialisme. Daripada tersentral pada pabrik dan bengkel, dirinya bersepakat apabila koperasi dibangun mulai dari desa. Tujuannya untuk menumbuhkembangkan masyarakat hingga mekar sampai ke kota-kota. Walau keduanya memiliki pandangan berbantahan, tetapi Bernard Crick–dalam Sosialisme: Konsep dan Cara Berpikir Sosialis (2016)–menjelaskan bahwa gagasan Owen dan Fourier memiliki konotasi serupa:
“Sosialisme adalah sebuah sistem masyarakat yang ditemukan yang menekankan sosial sebagai lawan keegoan, kooperatif sebagai lawan kompetitif, sosiabilitas melawan pemenuhan-diri individu: kontrol-kontrol sosial yang ketat pada akumulasi dan pemakaian hak milik pribadi; dan baik persamaan ekonomi maupun setidaknya penghargaan-penghargaan menurut kebaikan (kebaikan dinilai secara sosial), atau (posisi menengah) penghargaan yang dinilai sesuai kebutuhan.”
Dengan konotasi seperti itulah sejak awal kemunculannya sosialisme dinilai Bernar Crick: sebagai sebuah reaksi minoritas untuk pelaksaan sebagian kecil dari etika kapitalis. Sosialisme Awal soalnya mengupayakan pengembangan masyarakat dengan beragam kecenderungan yang agak elitis: mulai dari industrialisme, lembaga-lembaga kooperatif, hingga berkecenderung menempuh pengasingan diri atau kelompok. Meski membawa gagasan tentang pentingnya koperasi dalam pabrik, bengkel, desa, dan kota. Tapi keduanya lebih memprioritaskan kaum terpelajar ketimbang gerakan buruh. Walau begitu sejak kehadirannya sosialisme bukan sebatas sebagai cita-cita, tapi juga transformasi hubungan-hubungan sosial secara bertahap. Perubahan itu diiringi dengan perkembangan dan pemilikan bersama terhadap alat-alat produksi. Makanya kemunculan sosialisme bangkit dari kekejaman tatanan lama dan kontradiksi-kontradiksi dalam tubuh kapitalisme.
Lewat Teori Empat Gerakan dan Takdir Umum Umat Manusia (1808), Fourier membagi perjalanan masyarakat dalam 80.000 tahun terakhir ke dalam fase besar: dua-menaik dan dua-menurun. Fase menaik (asccendant) berciri kehidupan penuh harmoni yang mengikat manusia baik secara individual maupun komunal—inilah saat-saat di mana manusia dan binatang hidup berkawan karena kehidupan rimba masih polos dan sensual. Kala itu ikatan-ikatan afektif antar-manusia amat kuat dan kebal. Sehingga manusia bukan hanya akur dengan sesamanya, melainkan pula alam sekitarnya. Tetapi ketika memasuki fase menurun (decadent) semuanya kontan berubah menyeringai. Penyebabnya adalah ditemukannya metalurgi. Peradaban metalurgi bagi Fourier mengawali dua fase menurun yang selama ribuan tahun membuat kehidupan umat manusia jadi dekaden: penuh dengan penindasan, pelecehan, kerakusan, muslihat dan kemunafikan. Tatanan itu kini kita kenal bersama sebagai fase kapitalisme. Francis Fukuyama mengklaim kapitalisme sebagai bentuk akhir dari sejarah umat manusia. Tapi Fourier tidak bersepakat dengannya: baginya, kapitalisme hanyalah bentuk kulminasi dari fase menurun saja. Karena jika dipelajari dari kehidupan para leluhur primitif di era metalurgi, kapitalisme cumalah satu periode pendek dari perjalanan historis manusia.
Hanya gagasan Sosialisme Utopis Fourier tidak menjelaskan bagaimana caranya menghancurkan kapitalisme. Dia cuma menegaskan bahwa: tatanan ini akan berakhir dan harmoni akan kembali tegak dalam kehidupan umat manusia. Inilah mengapa pemikirannya dikenal sebagai sebuah utopia. Sehingga kelak dalam melawan kapitalisme, gagasan sosialis disempurnakan oleh Karl Marx dan Frederick Engels menjadi Sosialisme Ilmiah. Bersama-sama keduanya bersepakat memproklamasikan permusuhan terhadap tatanan yang dikuasai kapital. Maka dua-duanya mencurahkan banyak waktu untuk belajar, membaca dan menuliskan semua temuan-temuan sosial. Sebagai sosok-sosok yang gandrung dengan ilmu pengetahuan—dalam Kongres Liga Komunis pada bulan November 1847—sepasang sahabat ini dimandatkan untuk mempersiapkan sebuah program perjuangan dalam melawan kapitalisme. Dari pemikirannya kemudian hadirlah Manifesto Partai Komunis (1848). Dalih yang menjadi inti karya itu berasal dari Marx dan Engels. Argumennya lugas:
“…bahwa dalam setiap zaman sejarah, cara produksi ekonomi dan cara pertukaran yang sedang berlaku dan organisasi kemasyarakatan yang mesti timbul darinya merupakan dasar yang di atasnya terbangun, dan yang hanya dari situ dapat diterangkan sejarah politik dan intelek zaman itu; bahwa oleh karena itu seluruh sejarah umat manusia (sejak lenyapnya masyarakat kesukuan primitif, yang memiliki tanah dan hak milik bersama) adalah sejarah perjuangan kelas, pertandingan antara kelas yang menghisap dengan yang dihisap, antara kelas yang memerintah dengan kelas yang ditindas; bahwa sejarah perjuangan kelas ini merupakan serangkaian evolusi yang di dalamnya, pada masa ini, telah tercapai suatu tingkat di mana kelas yang dihisap dan ditindas–proletariat–tidak dapat mencapai kebebasannya dari kekuasaan kelas yang menghisap dan memerintah–borjuasi–tanpa bersamaan dengan itu dan selama-lamanya membebaskan masyarakat dari penghisapan, penindasan, dan perbudakan kelas.
Dengan corak permikiran seperti itu Frederick Engels kemudian mendeklarasi gagasan yang dibawakan Karl Marx sebagai Sosialisme Ilmiah (Marxisme). ‘Sosialisme’ ini ditempeli kata ‘Ilmiah’ karena dirinya bukan sekadar ideologi, tapi lebih merupakan pengetahuan yang menyingkap fenomena-fenomena sejarah dan masyarakat secara radikal. Bagi Marx dan Engels, kemajuan yang dicapai umat manusia adalah perkembangan dari kekuatan-kekuatan produktif: industri, pertanian, sains, dan teknik. Tetapi itu bukanlah merupakan generalisasi kasar yang mereduksi segala persoalan ke dalam spektrum ekonomi saja. Karena Marx dan Engels juga memperhitungkan sepenuhnya fenomena-fenomena seperti seni, moralitas, hukum, politik, agama, karakter nasional, dan pelbagai perwujudan kesadaran manusia lainnya: Itulah mengapa dalam suratnya kepada J. Bloch pada 21 September 1890, Engels menjelaskannya begitu rupa:
Menurut pandangan materialis terhadap sejarah, elemen penentu akhir dalam sejarah adalah produksi dan reproduksi dari kehidupan keseharian. Baik Marx maupun saya tidak pernah mengatakan lebih dari ini…. Situasi ekonomi adalah basis, tetapi berbagai unsur dalam superstruktur—bentuk-bentuk politik, dari perjuangan kelas dan hasil-hasilnya, dalam kata lain: konstitusi-konstitusi yang disusun oleh kelas yang menang dalam pertempuran, dsb, bentuk-bentuk peradilan, dan berbagai pemikiran yang timbul dibenak para pelaku perjuangan kelas ini secara politik, teori-teori pilitik, yudisial, dan filosofis, pandangan-pandangan religius dan perkembangan mereka lebih lanjut menjadi sistem-sistem dogma; semua ini juga mempunyai pengaruh dalam jalannya perjuangan-perjuangan historis, dan dalam berbagai kasus merupakan faktor dominan dalam menentukan bentuk-bentuk perjuangan yang diambil.
Melalui pemikiran sosialisnya, dalam Manifesto Partai Komunis (1848) Marx dan Engels memutuskan untuk mengambil jalan perjuangan kelas. Metode perlawanan ini sepenuhnya dipandu oleh pisau analisis Marxis: Materialisme-Dialektika-Historis (MDH). Melalui materialisme dialektis, ditemukan tiga dalih tajam dalam mendekati, memahami, dan mengubah realitas.
Pertama, ‘hukum perubahan dalam kuantitas dapat menimbulkan perubahan dalam kualitas, dan vice versa’. Kala itu materi menjadi sebuah peristiwa tapi pada taraf kuantitatif, sehingga pengintegrasian materi-materi dapat menetesekan sesuatu yang baru-baru. Tapi perubahan yang berlangsung secara kuantitatif tak bisa ditangkap panca indera. Misalnya, saat dipanaskan suhu air dapat berubah dari 0 derajat celcius (titik beku) menuju 100 derajat celcius (titik didih): di sini terjadi lompatan dialektis dalam alam kebendeaan. Dalil inilah yang juga digunakan dalam mendekati persoalan manusia. Bahwa kemajuan peradaban dan kemanusiaan tidak terjadi secara gradual, melainkan melalui lompatan-lompatan material. Dalam Diamat, lompatan itu dimaksudkan sebagai revolusi. Kedua, ‘hukum kesatuan dan pertentangan dari lawannya (kontradiksi)’. Dalam Dialectika of Nature (1875) dan Anti-Duhring (1878), Engels mengurai bahwa pada realitas terdapat pertentangan-pertentangan. Tetapi di saat yang sama kontradiksi itu berbentuk sebuah kesatuan. Semisal, antara kutub positi dengan negatif dari baterai: di mana proton dan elektron saling berdiametral, namun membentuk kesatuan yang memberi daya, hidup, dan gerakan. Persis fenomena masyarakat sekarang: pertentangan antara borjuis dan proletar. Ketiga, ‘hukum negasi dari negasi’. Pengingkaran dari pengkiran ini berisaha menjelaskan bahwa realitas tidak dapat berhenti. Melainkan terus terjadi proses yang silih berganti: antara kemenjadian dan kehancuran. Keadaan ini terjadi secara spiral: dark tesis, antitesis, hingga sintesis (kembali jadi tesis). Bila tesis lemah karena kecamuk kontradiksi, maka akan segera diganti oleh antitesis untuk menghilangkan kontradiktif. Tetapi antitesis selalu saja ikut melemah hingga datanglah sintesis yang berusaha mencakup keduanya: tesis dan antitesis. Namun sintesis pun kemudian kembali menjadi tesis, dan begitu seterusnya. Negasi dari negasi yang mengandung perubahan kuantitas ke kualitas dan kontradiksi itulah yang berlangsung dalam masyarakat dan sejarah. Kesimpulan ini diperoleh Marx dan Engels setelah meneliti tentang proses perkembangan umat manusia.
Dari penelitian itulah materialisme dialektis dikembangkan hingga sampai pada materialisme historis. Dalam materialisme historis, faktor produksi ditempatkan sebagai perangkat yang paling dominan mempengaruhi kesadaran manusia. Maka analisis materialisme historis atas sejarah bertolak dari interperetasi kekuatan-kekuatan produksi dan hubungan-hubungan produksi. Melalui Manifesto Partai Komunis (1848), Marx dan Engels menorehkan tesis kalau sistem kehidupan masyarakat berubah dari satu formasi sosial-ekonomi lama ke yang baru: perubahannya terjadi melalui lompatan-lompatan revolusioner yang dimotori perjuangan kelas. Begitulah keduanya berkata: ‘sejarah seluruh umat manusia ialah sejarah perjuangan kelas’. Gagasan tentang perjuangan kelas sangat sentral bagi Sosialisme Ilmiah. Sebab perjuangan kelas merupakan motor penggerak sejarah manusia: membentuk banyak peristiwa besar, institusi, dan beragam pemikiran yang sekilas tampak tak berkaitan dengannya. Agen perkembangan ini bukanlah individu tapi massa-pekerja. Perjalanan historis mereka melahirkan kelas-kelas sosial dengan kepentingan-kepentingan berbeda. Itulah mengapa Marx dan Engels memandang sejarah sebagai serangkaian aktivitas manusia untuk mengejar tujuan-tujuannya. Sementara kepentingan utama masyarakat adalah kemajuan sosial, kesesuaian antara tenaga-tenaga dan relasi produksinya. Maka kemunculan kelas itu berdasarkan pengaturan produksi material yang begitu rupa. Tetapi sejak masyarakat terbagi dalam kelas-kelas sosial berbeda mereka mulai bertarung guna melancarkan kepentingan kelasnya.
Sampai sekarang perjuangan kelas itu dapat mengambil aneka bentuk—damai, bersenjata, terselubung, maupun terbuka—dan merasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat berkelas. Maka konflik-konflik sosial di dunia, mulai dari perang dunia berjilid-jilid, represifitas negara beronggok-onggok, perlawanan kaum buruh, gerakan bangsa jajahan, hingga gerakan pembebasan perempuan dan kaum minoritas lainnya dapat dikategorikan sebagai manifestasi konkret dari perjuangan kelas. Hanya dalam Manifesto Partai Komunis (1848), Marx dan Engels sekadar memberikan gambaran dari apa yang dimaksudnya dengan perjuangan kelas melalui penjelasan umum mengenai alur perkembangan masyarakat dan sejarah (sosio-historis).
Pertama, masyarakat komunal primitif (Komunisme-primitif): memakai alat kerja yang sifatnya amat sederhana. Tapi alat produksinya itu merupakan milik bersama. Hanya keadaan ini tak bertahan lama, karena ditemukannya metalurgi untuk memudahkan kerja. Maka kebutuhan untuk menghasilkan barang-barang pun meningkat, sehingga terciptalah surplus dan hubungan produksi yang menempatkan ketua gen sebagai embrio dari kelas pengeksploitasi pertama dalam sejarah. Keadaan inilah yang bukan saja menjadi awal pembagian kerja dan terbelahnya kelas-kelas sosisl masyarakat, tapi terutama kehidupan orang-orang mulai dibedakan antara miskin (budak) dan kaya (tuan). Kedua, masyarakat perbudakan: Tercipta akibat hubungan produksi antara pemilik alat-alat produksi dengan tenaga produktifnya. Dalam kondisi ini pendapatan budak sangatlah rendah. Kehidupannya menderita. Sementara tuan budak dan agen penjual budak mendapat keuntungan berlimpah. Atas penindasan yang dirasakannya, budak kemudian sadar di mana posisi kelasnya. Pemberontakan terhadap tuan-tuan pemilik budak pun bergelora. Perlawanan itu melemahkan ekonomi tuan budak dan menguatkan perekonomian mereka-mereka yang menjual-belikan budak. Dengan kekuatan ekonominya mereka kemudian menjadikan tanah sebagai alat produksi kekayaannya. Ketiga, masyarakat feodal–perhambaan (feodalisme): Bermula dari runtuhnya perbudakan, maka selanjutnya sistem sosio-ekonomi memasuki masa perhambaan: pemilikan alat produksi terpusat pada bangsawan, khususnya tanah. Kala itu buruh-buruh tani (petani miskin) menggarap lahan bukan untuk dirinya, melainkan tuan-tuan pemilik tanah. Hubungan produksi ini lama-lama mendorong munculkan progresivitas dalam kerja. Dari keadaan ekonomi inilah hamba-hamba dapat memenuhi kebutuhan hidup minimalnya. Sementara kaum perantara yang menjadi jembatan antara konsumen dan produsen dalam masyarakat feodal semakin kaya hingga menguasai perdagangan dan mendirikan pabrik-pabrik. Walhasil, embrio kapitalisme sejak itu mulai memancar dengan aroma menusuk: pekerja upahan bermunculan di mana-mana yang diikuti oleh menjamurnya pedagang. Keempat, masyarakat kapitalis (kapitalisme). Sistem feodal tak mampu membendung kelahiran kapitalisme. Hubungan produksinya didasarkan atas kepemilikan individu yang telah ditetaskan oleh kemajuan produksi dalam masyarakat feodal. Pemilik alat produksi terkenal sebagai kelas borjuasi: memperkerjakan buruh yang terpaksa menjual tenaganya karena ketidakberpemilikan alat produksi. Pekerja-pekerja ini disebut kelas proletariat. Sejak dipekerjakan di pabrik, mereka dieksploitasi begitu rupa. Bos-bos perusahaan hanya mementingkan laba ketimbang hak-hak pekerjanya. Maka pertentangan kelas makin membuncah. Dengan perjuangan kelas buruh kemudian tatanan kapitalis berusaha dihancurkan melalui upaya membangun masyarakat sosialis-Komunis. Kelima, masyarakat sosialis-Komunis (Komunisme). Hubungan produksinya disandarkan atas kepemilikan bersama: riuh akan kerja sama dan saling membantu tanpa soal rugi atau laba. Sistem ini merupakan bagian awal transisi menuju masyarakat tanpa kelas—dirancang supaya bisa memberikan kebebasan kepada setiap manusia tanpa penindasan dan penghisapan di antara sesamanya. Maka alat-alat produksi berasal dari olahan kebudayaan manusia yang lebih mulia. Hanya masyarakat ini tidak dapat muncul dengan sendirinya, melainkan melalui perjuangan atau pertentangan kelas. Ketika sosialisme telah diterima sebagai paham dominan, konsolidasi kekuatan kelas buruh membesar, dan pertarungan melawan kelas borjuasi mampu dimenangkan—maka tatanan kapitalis dapat dihancurkan. Kala itu umat manusia akan memasuki fase sosio-historis Komunisme. Dalam kehidupan masyarakat Komunis, komunitas jadi motor penggeraknya dan tiap pribadi-manusia jadi pengarah gerak sejarah. Cita-cita dari komunitas sangat mulia: ingin mengembangkan segenap fakultas dalam diri manusia. Dalam Manifesto Partai Komunis (1848), Marx dan Engels memaparkannya:
“…sebagai ganti dari masyarakat borjuis lama, dengan struktur kelas-kelas dan antagonisme antar-kelasnya, muncullah masyarakat paguyuban, masyarakat di mana gerak perkembangan dari setiap individu menjadi prasyarat bagi gerak perkembangan seluruh masyarakat.”
Itulah mengapa dalam masyarakat Komunis, tak ada lagi kelas-kelas sosial. Karena tidak terdapat seorang pun yang diistimewakan apalagi dipuja-puji, bahkan dituhankan secara bebal. Setiap orang berhak mengembangkan perasaan, pikiran, dan kehendaknya dengan optimal. Kehidupan seperti inilah yang sangat ideal. Makanya kapitalisme haruslah sesegara mungkin dilawan, disingkirkan, dan dihancurkan. Sudah muak rasanya menyimak manusia yang tidak lebih berharga daripada laba. Kondisi ini telah lama menempatkan orang-orang kecil, lemah, dan tak berdaya pada kubangan paling hina: (1) modus pembagian kerja secara mekanis telah mendehumanisasi makna bekerja yang sesungguhnya. Sehingga pekerjaan tak pernah beringsut dari soal pemenuhan keuntungan untuk pemilik modal saja; (2) masifikasi hasil produksi dan pengutipan untung sebesar-besarnya telah menciptakan keberlimpahan benda yang harus diperjual-beli. Ini kemudian mengokohkan kesadaran akan pentingnya komoditi. Sebagai konter atas kesadaran komoditas, maka kini waktunya kita membangun kesadaran kelas. Untuk itulah perlunya mempelajari Marxisme. Bagi John Molineux: warisan-pemikiran Marx ‘bukan hanya merupakan teori tenyang perlawanan dan perjuangan kelas buruh melawan sistem kapitalis, tetapi juga, dan yang lebih penting adalah teori tentang kemenangannya’. Hanya sejarah tidak dapat diubah oleh aku, kamu, kami atau kalian secara sendiri-sendiri—melainkan kita: mesti bersama-sama memperjuangkannya. Antonina Yermakova & Valentine Ratnikov—dalam Kelas dan Perjuangan Kelas (2020)—pernah berkata:
“Sejarah tidak dibuat oleh individu-individu, tetapi pertama, dan terutama, oleh kelas-kelas yang mengondisikan kelas-kelas menciptakannya dalam usahanya mewujudkan kepentingan-kepentingannya masing-masing. Dalam kesimpangsiuran relasi-relasi sosialis yang carut-marut, bagaimana ruwetnya dan keleidoskop yang bertentangan mengenai pandangan-pandangan, teori-teori, standar-standar moral, selera-selera estetis, dan lain sebagainya, kita tidak boleh gagal melihat kepentingan-kepentingan sejati dari kelas-kelas yang berbeda….”
