Kategori
Teori

Praksis Revolusioner

“Kekuatan material harus digulingkan dengan kekuatan material; tetapi teori juga menjadi kekuatan material segera setelah ia mencengkeram massa.” (Karl Marx)

“Kita melayani massa dengan memberi contoh kepada mereka tentang kehidupan yang terorganisasi, dengan memberi mereka cara-cara hidup yang terorganisasi, dan membimbing mereka mengorganisasi diri dengan lebih baik.” (Revolusioner Afrika)

Esensi kemanusiaan adalah kerja dan sejarah umat manusia berlangsung di atas perkembangan kekuatan produksi: tenaga produktif dan hubungan produktif. Sejak kehadirannya manusia mempertahankan dan melanjutkan kehidupannya dengan menekuni pekerjaan kolektif: berburu, meramu dan mencari ikan. Dalam keadaan inilah keberlangsungan kehidupannya bergantung apa yang disediakan oleh alam. Hanya seiring meningkatkan populasi dan kebutuhannya mereka mulai mengembangkan kekuatan produksi dengan tak lagi bergantung pada hasil-hasil hutan dan lautan. Periode bercocok tanam pun digalakkan. Alat maupun teknik-teknik produksi dikembangkan hingga menemui kemudahan-kerja dan keberlimpahan-barang. Namun surplus produksi bukan malah memberikan ketercukupan, melainkan ketidakpuasan dan keserakahan. Sebab produksi kekayaan material masyarakat tidak dapat diakses secara bersama, tapi sakadar oleh mereka yang menguasai alat produksi secara pribadi. Revolusi industri merupakan monument perkembangan pesat kekuatan produksi. Kemajuan ini menyeret kehidupan sosial mengambil bentuk kukuh sebagai masyarakat barang dagangan dengan berlandaskan niai-tukar komoditi. Situasi itulah yang membentuk cara bereksistensi sekaligus berelasi antar-manusia menjadi begitu mengerikan: kerja bukan lagi untuk mengejewantahkan dan mengembangkan fakultas-fakultas perasaan, pikiran dan kehendak manusia secara obyektif, tapi merosot jadi skrup kegiatan produksi massal. Dalam kondisi inilah massa-rakyat-pekerja mendapati posisinya teralienasi dari kehidupan sosial. Semua itu berlangsung di atas dua efek kapitalisme: (1) modus pembagian kerja secara mekanis yang mendehumanisasi makna bekerja dan (2) masifikasi hasil produksi dengan motif menumpuk laba yang menciptakan keberlimpahan komoditi sekaligus meluas dan kokohnya kesadaran masyarakat barang dagangan. Dalam masyarakat barang dagangan kemanusiaan mengalami proses dehumanisasi. Dia tak lagi bekerja sebagai manusia karena merupakan bagian dari perkakas industri. Itulah sebabnya berkerja tiada melayani tujuan-tujuan sejati kemanusiaannya, melainkan sebatas pelayan kepentingan kelas borjuasi: memeras kemampuan kerja, menghasilkan produk secara masif, meningkatkan konsumsi, dan mengutip laba yang sebasar-besarnya guna mengintensifikasi produksi. Dikepung oleh keadaan inilah konsumerisme menjadi sajian sehari-hari. Kita diseret bukan saja dalam kubangan eksploitasi tenaga kerja, tapi juga disihir untuk mengonsumsi dan memberhalakan benda-benda. Fenomena ini disebut sebagai ‘reifikasi’: mendorong masyarakat untuk terbiasa memuaskan kebutuhan-kebutuhannya dalam kerangka pertukaran komoditi. Melalui Manifesto Partai Komunis (1848), Karl Marx dan Friedrich Engels menggambarkan itu semua sebagai proses pembentukan manusia satu dimensi berdasarkan citra-citra borjuis dengan kepentingan menciptakan pasar dunia yang membawa-serta kehancuran bagi kelas borjuasi:

“Kebutuhan untuk terus-menerus memperluas pasar bagi produk-produknya mendorong kaum borjuis harus mengakar di mana-mana, ada di mana-mana, dan membangun mata rantai di mana-mana…. Suatu gerakan serupa sedang berlangsung di hadapan mata kita sendiri. Masyarakat borjuis modern dengan hubungan-hubungan produksinya, dengan hubungan-hubungan pertukarannya, dengan hubungan-hubungan pemilikannya, dan merupakan masyarakat yang menjelmakan alata-alat produksi serta alat-alat pertukaran yang begitu raksasa, adalah seperti tukang sihir yang tidak dapat lagi mengontrol tenaga-tenaga alam gaib yang telah dipanggil oleh mantera-manteranya…. Di bawah ancaman kepunahan, semua bangsa dipaksa oleh kaum borjuis untuk mengadopsi modus berproduksinya kaum borjuis sebagai peradaban, atau dengan kata lain untuk menjadi borjuis baru. Ringkasnya, kaum borjuis mencipta dunia sesuai dengan citra dirinya…. [Tetapi] kondisi-kondisi masyarakat borjuis terlalu terbatas untuk bisa menampung keberlimpahan yang diciptakannya sendiri. Dan bagaimana kaum borjuis keluar dari krisis ini? Di satu sisi, dengan menghancurkan sekelompok besar kekuatan produktif; di sisi lain, dengan menaklukan pasar-pasar baru, dan dengan mengeksploitasi lebih dalam lagi pasar-pasar lama. Itu artinya, membukakan jalan bagi krisis-krisis yang lebih luas dan lebih merusakkan, dan mengurangi syarat-syarat yang dapat mencegah krisis itu…. Syarat terpokok untuk hidup dan berkuasanya kelas borjuis adalah terbentuknya dan bertambah besarnya kapital; syarat untuk kapital ialah kerja-upahan. Kerja-upahan semata-mata bersandar pada persaingan di kalangan kelas buruh sendiri. Kemajuan industri, yang pendorognya tak sengaja adalah borjuis, merubah keterpencilan kelas buruh yang disebabkan oleh persaingan, hingga ia kini bergabung secara revolusioner dalam perserikatan.”

Dalam perkembangannya sekarang kapitalisme telah mencapai puncak tertingginya: imperialisme. Eksploitasi, ekspansi, dan akumalasi kapital tidak saja tampil melalui persaingan, tapi juga monopoli-monopoli pasar dunia, pembagian kerja yang mendunia, merger kapital perbankan dan kapital industri menjadi kapital finans, hingga pembagian-pembagian dunia yang telah selesai untuk dikuasai oleh lembaga-lembaga imperialis. Dalam kondisi inilah kekuatan-kekuatan produksi umat manusia sudah tidak mampu beringsut maju. Investasi dan pembukaan industri-industri baru, pencarian sumber daya alam dan tenaga kerja murah, peleburan pasar nasional ke pasar internasional, sampai penciptaan-penciptaan negeri-negeri tergantung dan jajahan telah mengonggokan kesenjangan, kelaparan, kemiskinan, peperangan dan kematian. Di sisi lain, melemahnya sistem keuangan pelbagai negara dengan meningkatnya jumlah pekerja dan penganggur semakin mendekatkan kita pada prognosisnya Marx dan Engels: ‘perkembangan industri besar merenggut dari bawah kaki borjuis landasan borjuis untuk menghasilkan dan memiliki hasil-hasil produksi. Oleh sebab itu, apa yang dihasilkan borjuis ialah, penggali-penggali liang kuburnya sendiri. Keruntuhan borjuis dan kemenangan proletariat adalah sama-sama tak terelakkan’. Sekarang kapitalisme telah mendunia, semakin rapuh, dan memasuki limitnya. Sistem ini telah merantai perkembangan kekuatan-kekuatan produktif umat manusia dengan pelbagai krisisnya. Kapitalisme global tampil serupa rantai yang terdiri dari mata-mata rantai negara-negara nasional. Kini di setiap negara-negara kapitalis bobot sosial dan politik kelas pekerja telah mencapai skala kolosal. Mereka bekerja dalam unit-unit produksi besar dengan jumlah yang beribu-beribu. Dalam situasi inilah revolusi proletariat yang mendunia tidak saja mungkin, tapi juga semakin tak terelakan. Ketika tekanan telah mencapai titik ekstrem maka mata rantai kapitalisme dunia akan terputus dan memberi efek ke pelbagai mata rantai lain. Hanya untuk memutuskan mata rantai itulah kaum muda dan proletariat yang sadar kelas perlu mengobarkan perjuangan kelas untuk menggulingkan kekuasaan borjuis, menerapkan kediktatoran proletariat atau dewan-dewan rakyat, melaksanakan demokrasi sosialis dan perekonomian terancana, menempuh perjuangan revolusi permanen, menyatukan republik-republik sosialis secara sukarela, melenyapkan negara, dan membangun masyarakat tanpa kelas.

Dalam menjamin keberhasilan perjuangan kelas itulah kaum muda dan proletar harus bersekutu dengan kaum tertindas lainnya untuk melawan kapitalisme—sebagai musuh yang terorganisasi, terpusat, dan mendunia—dengan organisasi pelopor atau partai revolusioner dan sentralisme demokratik serta melaksanakan tugas historis dan internasional proletariat dalam meruntuhkan kekuasaan borjuis. Tahu kalau kapitalisme sebagai sistem yang tidak mengenal kebangsaan, ras, etnis, seksualitas, gender, dan agama; melainkan membentuk kelas sosial antagonis antara borjuis dan proletariat berdasarkan kepemilikan pribadi alat produksi—maka perjuangan menggulingkan kapitalisme mestilah mengambil prinsip internasionalisme dan penghapusan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi. Syarat pertama untuk mempersiapkan kemenangan proletariat kita harus mengorganisir diri, bergabung dan membangun organisasi pelopor atau partai revolusioner yang kuat. Melalui keterlibatan pada kerja-kerja organisasi atau partai itulah kita dapat mengarungi situasi non-revolusioner dengan membendung dan memerangi ideologi-ideologi borjuis yang mengepung kita dengan kesadaran-kesadaran palsu masyarakat barang dagangan—media-media sosial, pranata kenegaraan dan beragam lembaga kemasyarakatan yang dikontrol sebagai medium hegemonik borjuis. Lewat organisasi atau partai macam inilah kita dididik untuk berdisiplin dalam melancarkan perjuangan kelas untuk revolusi proletariat—revolusi sosialis dunia. Tauladannya terdapat dalam pengalaman-pengalaman perjuangan kelas yang dirangkum oleh Marx, Engels, Lenin, Trotsky, dan kamerad-kamerad sosialis revolusioner lainnya. Sejak kelahiran kapitallisme di Inggris pada abad ke-19, Marx dan Engels memulai upaya untuk mendidik proletariat dari pengelaman perjuangan mereka yang mengambil bentuk kolektif. Di tahun 1840-an, Inggris menjadi saksi bangkitnya gerakan politik pertama proletariat sebagai sebuah kelas; membentuk serikat-serikat buruh dan menarik pemahaman bersama perlunya aksi terpadu dalam perjuangan melawan kapitalisme dan kelas borjuis dengan berlandaskan solidaritas internasional kelas proletariat. Terhitung sampai 1864 telah berlangsung aneka konsolidasi dan mobilisasi untuk demonstrasi, pemogokan dan insureksi yang dilakukan oleh kelas proletariat hingga berpuncak pada pendirian Internasional Pertama. Tetapi bersama dengan kekalahan Komune Paris 1871 berlangsunglah kecamuk reaksi dari kelas borjuis, hingga mendemoralisasi gerakan proletariat dan memaksa Internasional Pertama membubarkan dirinya. Meskipun secara organisasional (de facto) bubar tapi Internasional Pertama selamat sebagai ide dan landasan programatik perjuangan kelas proletariat yang pada 1889 bangkit sebagai Internasional Kedua. Hanya menghadapi bombardir Perang Dunia I maka Internasional Kedua remuk berkeping-keping dengan tendensi pemimpin-pemimpinnya ke arah reformisme.

Meski berlangsung penyimpangan ke arah reformis dalam Internasional Kedua, tetapi tidak bisa menafikan kalau sejak awal dalam mempersenjatai proletariat Marx dan Engels telah merumuskan teori dan program perjuangan buruh internasional: Manifesto Partai Komunis. Manifesto menjelaskan kalau sejarah semua masyarakat adalah sejarah perjuangan kelas dan merangkum kalau praktek-praktek proletariat bersifat internasionalis, bertujuan menggulingkan kekuasan borjuasi, dan menghapuskan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi. Hanya Manifesto mengaskan bahwa tidak ada yang bisa menjamin keberhasilan perjuangan kelas proletariat tanpa gerakan yang sadar, terencana, terorganisir, terpusat dan kuat melalui kepemimpinan proletariat—Partai Komunis. Partai ini bukanlah organisasi tersendiri yang terpisah dari kepentingan-kepentingan proletarian secara keseluruhan, tetapi sebatas memandatkan dirinya membawa peran kepeloporan. Marx dan Engels menjelskan: ‘Partai Komunis, pada prakteknya adalah bagian yang paling maju dan teguh hati ketimbang partai-partai buruh di setiap negeri, merupakan bagian yang mendorong maju semua bagian lainnya; di sisi lain, secara teoritik, mereka mempunyai kelebihan atas massa proletariat yang besar tersebut dalam pengertian garis perjalannnya, syarat-syaratnya, dan dilihat dari hasil umum gerakan proletariat’. Kepemimpinan proletariat bukan sebatas mempersyaratkan mengonggoknya jumlah pekerja, tapi terutama mempersenjatai kelas proletariat secara teoritis dan membutuhkan lapisan proletariat termaju yang berupaya memajukan ‘yang lain’. Begitulah Marx menentang pernyataan Weitling (‘cukup seratus ribu proletar bersenjata yang didukung empat puluh ribu kriminal, kita bisa menggulingkan tirani borjuis!’) dengan keras: ‘ketidaktahuan tidak pernah menolong siapapun!’ Itulah mengapa kedisiplinan pertama untuk mempersiapkan revolusi sosialis dunia adalah disiplin dalam bidang teori. Begitulah yang dapat kita pelajari dari pengalaman perjuangan kelas di Rusia: kepemimpinan proletariat—Bolshevik. Organisasi politik ini sejak kehadirannya tampil sebagai partai pelopor revolusioner yang menghimpun lapisan kaum muda dan buruh paling sadar kelas dengan menerapkan metode Kepeloporan Revolusioner: ‘lapisan paling maju dan sadar kelas dari proletariat mengorganisir diri membentuk organisasi berperspektif Marxis revolusioner demi menarik lapisan lebih luas dari kelas buruh serta memenangkannya ke politik revolusioner sekaligus menjadi perwujudan angkatan politik proletar melawan musuh-musuh kelasnya’. Selama masa-masa awal pembangunannya pekerjaan melelahkan dan membosankan yang dilakukan oleh Lenin bukan menggencarkan kerja advokasi dan tenggelam dari satu isu-ke-isu lainnya, melainkan kerja-teori—pemblejetan ideologi kelas berkuasa, pencarian kontak dan pengorganisiran para kamerad seputar koran revolusionernya.

Melalui kerja-teori Lenin tidak hanya merekrut kamerad, tapi juga mendidiknya secara sadar dan sistematis dengan mempraktikan sentralisme demokratik yang berdimensi politis: sentralisasi pengalaman, pengetahuan, kesimpulan dan prinsip-prinsip umum perjuangan kelas.  Bersama pendirian inilah satu, dua orang yang berhasil direkrut tak sekadar digembleng menjadi aktivis yang lihai beretorika dan berorasi di jalanan semata (hiperaktivisme/superaktivisme maupun radikal bebas), tetapi terutama menjadi ‘kader-pelopor’ yang memahami Marxisme sebagai revolusi proletarian yang diekspresikan di bidang teori dan pasti terwujud dalam kehidupan nyata. Setelah meletusnya revolusi proletariat pertama di dunia, Revolusi Oktober 1917 di Rusia—signifikansi kerja-teori dan disiplin teori dilanjutkan Trotsky. Pembentukan Internasional Keempat merupakan monumen perjuangan teoritik Trotsky untuk menyelamatkan Marxisme—dengan prinsip internasionalisme dan penghapusan kepemilikan pribadi terhadap alat produksinya—dan pencapaian revolusi Rusia di bawah panji-panji Bolshevisme dari penyimpangan-penyimpangan Stalinisme: sosialisme di satu negara, kasta birokrasi, hingga kolaborasi kelas dengan musuh-musuh proletariat. Ted Sprague menjelaskannya dalam Pengantar untuk Program Transisional; untuk Revolusi Sosialis dan Sejarah Internasional Keempat (2012):

“Ketika Stalin sedang menghancurkan Internasional Ketiga dan mencampakkan perjuangan untuk sosialisme sedunia, Leon Trotsky membangun di bawah situasi yang sangat sulit, Internasional Keempat tidak hanya untuk mempertahankan revolusi proletarian yang pertama, yakni Revolusi Oktober, tetapi juga untuk menyebarkannya ke negeri-negeri lain. Internasional Keempat adalah usaha Trotsky untuk memastikan lahirnya generasi kaum Bolshevik selanjutnya untuk meneruskan apa yang telah dimulai oleh kaum Bolshevik Rusia. Yang utama bukanlah aparatus, tetapi gagasan-gagasan yang ingin dilindungi dan diteruskan untuk generasi yang selanjutnya oleh Internasional Keempat.”

Dengan begitu pendidikan teori haruslah menjadi program yang pertama dan terutama dari sebuah organisasi pelopor atau partai revolusioner. Sebab perjuangan untuk revolusi sosialis begitu berbeda dengan revolusi-revolusi yang sebelumnya telah menggulingkan masyarakat komunal primitif (revolusi tuan budak), masyakarat perbudakan (revolusi feodalis), dan masyarakat feodalisme (revolusi kapitalis). Semua kelas terdahulu yang berhasil menumbangkan kelas lainnya berusaha menundukan masyarakat terhadap syarat-syarat eksistensi mereka: tuan budak menguasai budak, tuan feudal menguasai tanah bersama petani hamba, dan borjuasi menguasai alat produksi bersama proletariat. Inilah perbedaan revolusi proletariat, revolusi sosialis dunia dengan revolusi lainnya: kelas proletar tidak berkepentingan untuk menindas manusia lainnya karena hendak menghapuskan kelas-kelas sosial dalam masyarakat dengan menghancurkan semua cara kepemilikan lama—perlindungan dan jaminan atas kepemilikan perseorangan terhadap semua alat produksi yang menghasilkan kekayaan material masyarakat. Membawa tugas historis itulah perjuangan untuk revolusi sosialis harus dilaksanakan dengan tingkat kesadaran dan pengorganisasian diri yang tinggi—dimulai dengan persiapan dan perencanaan sekaligus dikerjakan dengan terorganisir, terpusat dan demokratis di bawah kepemimpinan proletariat: organisasi pelopor atau Partai Revolusioner. Hanya melalui pembangunan kepemimpinan politik macam itu kita dapat merekrut dan mendidik pelopor. Inilah mengapa kedisiplinan akan teori dan program menjadi langkah awal untuk menempuh perjuangan secara sadar, terorganisir, dan kuat demi mencapai revolusi sosialis. Tanpa berdisiplin ide dan programatik maka kita tidak akan pernah siap dan mampu menjamin keberhasilan revolusi sosialis. Ketiadaan disiplin teori dan program pun dapat menjerumuskan kita ke lubang reformisme, superaktivisme dan kecenderungan-kecenderungan radikal bebas dari borjuis-kecil. Abstainnya disiplin teori dan program membuat harapan akan sosialisme tetap sebagai sesuatu yang abstrak. Bahkan dengan menanggalkan disiplin teori dan program memajukan tingkat kesadaran dan pengorganisiran diri memerosotkan kita ke lubang absurditas dan aneka bentuk demoralisasi. Sebab cuma dengan pemahaman teoritik dan programatiklah kita menamengi diri dengan metode dan tradisi perjuangan kelas untuk bertahan dan melawan dominasi dan hegemoni borjuasi. Dalam kepungan situasi non-revolusioner hari-hari ini maka disiplin teori, program, metode dan tradisi perjuangan kelas menjadi niscaya. Inilah mengapa pembangunan organisasi pelopor atau partai revolusioner tidak bisa lagi ditunda. Keberadaannya persis yang dijelaskan Ernest Mandel dalam Organisasi Pelopor dan Perjuangan Kelas (1983). Bahwa pada setiap fase perjuangan kelas terdapat hubungan dialektis antara massa dengan kepemimpinan yang menjadi lapisan paling maju dan sadar kelas dari proletariat:

“Anda dapat memiliki aktivitas perjuangan kelas tingkat tinggi dengan kesadaran yang reklatif rendah. Dan sebaliknya juga benar. Anda dapat memiliki tingkat kesadaran yang relatif rendah daripada yang diharapkan. Saya berbicara, tentu saja, tentang kesadaran kelas massa luas, jutaan orang, bukan kesadaran kelas lapisan pelopor kecil. Keluar dari perbedaan konseptual ini, kita dapat menyimpulkan perlunya formasi pelopor segera. Anda membutuhkan organisasi pelopor untuk mengatasi potensi berbahaya yang ditimbulkan oleh perkembangan militansi kelas dan kesadaran kelas yang tidak merata. Jika kaum muda dan proletariat akan berada di titik tertinggi militansi dan kesadaran sepanjang waktu, Anda tidak membutuhkan organisasi pelopor. Tapi, sayangnya, militansi dan kesadaran tidak bisa bertahan dan tidak mungkin bertahan di bawah kapitalisme…. Anda membutuhkan sekelompok orang yang mewujudkan tingkat militansi dan aktivitas politik yang tinggi secara permanen, dan tingkat kesadaran kelas yang tinggi secara permanen. Setelah setiap gelombang perjuangan kelas yang meningkat, ketika titik-balik tiba dan aktivitas massa menurun, kesadaran turun ke tingkat yang lebih rendah, dan aktivitas politik turun ke hampir nol. Fungsi pertama dari organisasi pelopor revolusioner adalah untuk menjaga kelangsungan perolehan teoritis, program politik, dan organisasional dari fase sebelumnya dari aktivitas kelas tinggi, dan kesadaran kelas pekerja yang tinggi. Ini berfungsi sebagai memori permanen perjuangan kelas dan gerakan buruh, memori yang dikodifikasikan, dengan satu atau lain cara, dalam sebuah program di mana Anda dapat mendidik generasi baru yang kemudian tidak perlu memulai dari awal dengan cara kongkretnya intervensi dalam perjuangan kelas. Fungsi pertama ini, adalah untuk menjamin kesinambungan pelajaran yang diambil dari akumulasi pengalaman sejarah, karena itulah program sosialis: jumlah total pelajaran yang diambil dari semua pengalaman perjuangan kelas yang kongkret, revolusi yang kongkret, dan kontra-revolusi yang kongkret dalam seratus lima puluh tahun terakhir.”

Dari pengalaman-pengalaman perjuangan kelas di masa lalu kita sekarang dapat belajar bahwa partai bukan sekedar sebentuk kepemimpinan dan kendaraan politik proletariat, melainkan pula universitas atau memori kolektif yang mampu menjaga tingkat kesadaran kelas dan aktivitas politik proletariat. Dengan begitu kita mengerti kalau yang dibutuhkan untuk memperkuat disiplin teori, program, metode dan tradisi Marxis revolusioner—tidak ada cara lain selain mendedikasikan diri untuk membangun organisasi pelopor atau Partai Revolusioner sebagai syarat subyektif untuk revolusi sosialis dunia. Ini persis yang dijelaskan oleh Lenin: untuk memelihara ‘disiplin partai proletariat revolusioner’ tak akan dicapai tanpa ‘pengalaman yang lama’ yang diperoleh secara ‘susah-payah’: (1) kesadaran kelas dari pelopor proletariat dan kesetiannya kepada revolusi, dengan keuletannya, pengorbanan diri dan heroisme; (2) kecakapan menghubungkan diri, mendekati, dan, sampai batas tertentu meleburkan diri dengan lapisan massa yang seluas-luasnya—terutama sekali dengan proletariat, tetapi juga dengan massa pekerja non-proletariat; (3) ketepatan politik yang dijalankan pelopor tersebut, dengan tepatnya strategi dan taktik politiknya, terlebih bila massa yang seluas-luasnya, dari pengalamnnya sendiri, sudah menjadi yakin akan ketepatannya. Hanya untuk memenuhi ketiga syarat disiplin internal organisasi revolusioner itulah kita tidak cukup belajar dari buku-buku, karena yang terpenting adalah pengalaman-pengalaman langsung dalam ‘praksis’ (kesatuan teori dan praktek) dalam organisasi revolusioner. Guna mempermudah terciptanya syarat-syarat itu Lenin juga memberitahu: kedisiplinan revolusioner membutuhkan ‘teori revolusioner yang tepat, yang pada gilirannya bukan merupakan suatu dogma, namun mencapai bentuknya yang terakhir cuma dalam kaitannya yang erat dengan praktek gerakan yang benar-benar revolusioner’. Melalui keseimpulan inilah kita mengerti kalau kedisiplinan revolusioner memiliki hubungan dialektis dengan gerakan dan kepemimpinan proletariat—organisasi pelopor atau Partai Revolusioner. Artinya, upaya memperkuat disiplin internal organisasi atau kedisiplinan revolusioner hanya bisa diwujudkan dengan mendedikasikan diri dalam pembangunan organisasi pelopor atau Partai Revolusioner.

 “Rusia memperoleh Marxisme, sebagai satu-satunya teori revolusioner yang benar, dengan melalui penderitaan yang sesungguhnya, dengan mengalami siksaan dan pengorbanan yang tak ada taranya, heroisme revolusioner yang tak ada bandingannya, energi yang luar biasa, penyelidikan dengan sekuat tenaga, studi, percobaan-praktek, kekecewaan, ujian dan perbadingan dengan pengalaman di Eropa selama setengah abad.” (Komunisme Sayap Kiri Kekanak-Kanakan)

“Kaum Bolshevik tidak akan bisa mempertahankan kekuasaan selama dua setengah bulan, apalagi sampai dua setengah tahun, tanpa disiplin yang paling keras, disiplin baja yang sungguh-sungguh di dalam partai kita.” (V.I. Lenin)

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai