“…mengabdikan hidup seseorang untuk emansipasi semua orang yang tereksploitasi dan tertindas dan untuk penciptaan masyarakat tanpa kelas adalah satu-satunya ambisi yang layak bagi umat manusia.” (Internasional Keempat)
Sejak 2008 silam, kapitalisme mengalami goncangan yang mencengangkan. Ditandai dengan krisis di negara imperialis Amerika Serikat yang menjalar ke berbagai negara lain dan merembesi aneka sektor kehidupan rakyat: pangan, lingkungan, hingga yang meliputi semakin rendahnya upah, bertambahnya pengangguran, peningkatan harga bahan pokok, dan sebagainya. Krisis yang terjadi telah memicu kemarahan massa yang termanifestasikan melalui seabrek aksi massa besar-besaran di pelbagai belahan dunia: Amerika, Inggris, Australia, Lebanon, Hongkong, Cina, Catalonia, London, Spanyol, dan Swedia. Sementara di Indonesia ledakan kemarahan massa-rakyat berskala raksasa terhadap sistem yang keji itu baru dimulai pertengahan 2019: ini dipicu oleh rasisme kelas penguasa kepada mahasiswa Papua di Surabaya, Malang, Yogyakarta dan Semarang. Kekejian kapitalisme yang dihadapi dengan gelombang perlawanan kolosal kembali meletus sesudahnya—dapat dilihat dari protes dan pemogokkan Reformasi Dikorupsi 2019 (menentang pelbagai aturan bermasalah), Mosi Tidak Percaya 2020 (menolak pengesahan Omnibus Law), dan Solidaritas untuk Bangsa Tertindas 2020-2022 (Tolak Otsus Jilid II serta Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri sebagai Solusi Demokratis bagi Bangsa West Papua). Dalam setiap gerakan ini kita tidak hanya menemukan kerja perlawanan berdasarkan spontanitas, melainkan pula ide-ide sosialisme. Adalah kaum muda yang memiliki peran besar di dalamnya. Mereka melakukan aktivitas pengorganisiran dengan membuat poster-poster Marxis, website maupun koran-koran kiri, dan pendidikan-pendidikan sosialis.
Dalam situasi krisis kapitalisme yang terus-menerus berlangsung kebangkitan perlawanan menjadi mungkin. Lebih-lebih yang mengusung teori dan praktek Marxis revolusioner sebagai alternatif gerakan. Mereka hadir bukan sekadar melawan eksploitasi dan kekerasan kapitalisme, tapi juga membawa keyakinan tentang perubahan menuju tatanan baru: masyarakat tanpa kelas—saling memanusiakan, menyetarakan dan membebaskan. Berdiri di atas harapan itulah mereka menempuh perjuangan revolusioner—mengupayakan meledaknya revolusi sosialis untuk mengganti pondasi masyarakat, karakter politik, ekonomi, dan sosialnya. Hanya perubahan ini tidak dapat melalui tindakan-tindakan hiper-aktivisme dan radikal bebas, melainkan mesti berdiri dan bergerak berlandaskan kesatuan teori-praktik (praksis) revolusioner. Memang mencermati keadaan sekarang kita belum berada dalam situasi revolusioner, melainkan gejolak pembangkangan fluktuatif dan sporadis. Inilah kenapa penindasan dan kesengsaraan yang terjadi mungkin saja bisa mempercepat revolusi, namun tidak pernah menjamin keberhasilannya. Tanpa tujuan dan kesadaran revolusi maka gerakan rentan jatuh ke jurang insureksi belaka—pembangkangan dan pemberontakan sementara, bahkan cenderung menguatkan negara melalui pengerahan alat-alat represinya. Maka bagi kaum Marxis revolusi itu harus dipersiapkan, bukan ditunggu atau berharap meletus tiba-tiba. Sedangkan menyiapkan revolusi bukan saja berarti mendorong proses evolusi dengan ‘mencerahkan massa-rakyat tentang kejahatan mesyarakat kapitalis dan negara borjuis hari ini dan meyakinkan mereka tentang keinginan dan kemungkinan menghadirkan tatanan tanpa penindasan’, tapi terutama ‘mulai membangun organisasi revolusioner atau Partai Revolusioner yang akan bertransformasi menjadi Partai Massa Buruh Revolusioner sebagai syarat subyektif revolusi sosialis.
Sosialisme Ilmiah yang dikembangkan oleh Marx, Engels, Lenin dan Trotsky memberikan panduan lengkap untuk menempuh perjuangan revolusioner. Lebih-lebih Lenin lewat Dari Mana Kita Mulai?, mengharuskan adanya kerja-kerja penyadaran lebih dahulu. Terutama dengan agitasi dan propaganda politik melalui selebaran, pamflet dan koran-koran revolusioner. Bersama bacaan inilah kita tidak saja menceritakan pengalaman melawan penindasan, mengekspresikan gagasan-gagasan berkemajuan, dan menyalurkan teori-teori menentang hegemonik kekuasaan. Melainkan pula menjadi organisator kolektif: mencari kontak massa untuk memenangkan mereka ke arah politik revolusioner dan melawan musuh-musuh proletariat. Baginya, tidak mungkin kita bisa membangkitkan gerakan dan membicarakan soal pembebasan tanpa adanya penyebaran bacaan-bacaan mencerahkan dan seruan-seruan berlawan. “Tanpa sebuah organ atau koran politik, sebuah gerakan tidak pantas disebut gerakan politik,” Lenin tegaskan! Tujuannya jelas: memerangi kegelapan pikiran dengan suluh penyadaran dan merekrut elemen-kekuatan sosial termaju dari kalian. Kami memandang kegiatan kaum muda sekarang dikepung oleh bayang-bayang kekuatan modal yang sangat mengerikan. Itulah mengapa dalam menempuh aktivitas akademik kalian tak sekedar dibanduli ongkos kuliah yang kemahalan, tapi juga pelbagai bentuk pembodohan dan pembatasan.
Sejak neoliberalisme menerobos dunia pendidikan maka kampus didikte untuk mengikuti aneka kepentingan pasar: merubah kurikulum, membuka prodi baru, menggencarkan magang, hingga mengadakan kerjasama industri yang begitu vulgar. Di sisi lain kita juga dapat melihat bagaimana aturan dan disiplin ditegakkan secara kasar: mulai dari soal tata busana, jam malam, sistem kredit semester, hingga organisasi mana yang bisa atau tidak bisa diikut. Keadaan ini telah lama membuat pendangan mahasiswa seragam: harus menurut, berlomba-lomba mengejar prestasi dan wisuda secepat kilat. Singkatnya: daya-daya kreatif dan imajinatif serta potensi-potensi kritis dan radikalisasi gerakan mahasiswa terus dipangkas. Menghadapi keadaan inilah kami menyerukan kepada kalian untuk bergerak ke arah politik revolusioner. Kami ingin kawan-kawan sekalian belajar dan berjuang bersama organisasi revolusioner. Sewalaupun kalian telah memasuki organisasi mahasiswa tertentu, kami pikir: dalam situasi sekarang, kalian harus mempertimbangkan kembali keterlibatanmu itu, lebih-lebih jika yang kalian ikuti adalah organisasi mahasiswa yang menjadi bagian Cipayung Plus. Bisakah kalian menghancurkan kapitalisme dan membangun sosialisme dengan organisasi borjuis kecil? Kalian harus mengerti: di tengah krisis masyarakat kapitalis dan kebangkitan revolusioner, kita tak membutuhkan organisasi yang melandaskan dirinya pada gerakan moralisme, nasionalisme, sektarianisme, maupun oportunisme. Kita juga tak cukup berjuang dengan organisasi mahasiswa yang bergerak–dan tenggelam–dari isu-ke-isu. Kita tidak butuh organisasi yang melayani kepentingan kelas penguasa, ketimbang kelas buruh. Organisasi macam itu bukan mendorong individu berperan sebagai kaum pelopor dan pejuang, melainkan membentuk pribadi-pribadi hipokrit, renegad, filistin dan bigot. Kini kita membutuhkan organisasi politik yang memiliki perspektif revolusioner dengan teori, program, tradisi dan metode perjuangan yang dipandu oleh praksis Marxis revolusioner.
Dalam membangun organisasi dan melancarkan gerakannya, organisasi macam itu harus menegakkan prinsip Sentralisme-Demokratis. Sentralisme demokrasi adalah praksis Marxisme revolusioner yang paling konsisten menyatukan praktik dengan teori yang berasal dari pengalaman-pengalaman perjuangan kelas proletariat 150 tahun terakhir. Pertama-tama sentralisme demokrasi harus dimaknai sebagai sentralisasi ide, pengalaman, kesimpulan dan prinsip-prinsip umum yang ditarik dari hasil perjuangan kelas proletar. Maka sentralisme demokrasi bagi kaum Marxis revolusioner bukan bersifat administratif tapi politis:
Pertama. Kebebasan berdiskusi dan kesatuan aksi: tidak akan mungkin kita dapat bersatu dalam tindakan tanpa perspektif yang serupa. Inilah mengapa dibutuhkan kebebasan berdiskusi namun bukan untuk unjuk-diri dengan memancang teori apa saja, melainkan memunculkan pandangan termaju, menguji ketepatannya, hingga meyakinkan mayoritas agar tercapai sentralisasi pemahaman untuk aksi yang bersatu.
Kedua. Minoritas mengkuti mayoritas: setiap individu harus membiasakan dirinya untuk tunduk pada keputusan-keputusan kolektif guna meminimalisir dan menjaga kesadaran dan aktivitas dari tendensi-tendensi borjuis dan borjusi-kecil yang individualis, liberalis, egois, dan raksioner—yang memberi tempat tumbuhnya sindrom-sindrom tertentu dalam organisasi.
Ketiga. Pertanggunjawaban kolektif: setiap kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan dalam organisasi tidak dikambinghitamkan pada kemerosotan-kemerosotan personal, melainkan dicarikan akarnya dan solusinya dari hubungan-hubungan sosial dan tanggung jawab kolektif. Begitupun dengan keberhasilan dan kemajuan yang diperoleh bukan dari kemampuan-kemampuan perorangan, tapi kerja-kerja kolektif.
Keempat. Kritik-otokritik terhadap kamerad yang terpengaruh ideologi kelas-asing: untuk memajukan tenaga produktif dalam organisasi, kepemimpinan organisasi perlu mengkritik kesalahan dan penyimpangan dengan memberikan penjelasan yang sabar, mengenai apa saja yang baik dan buruk; benar dan salah, berdasarkan prinsip-prinsip sosialisme yang sejati dan kesatuan teori-praktek perjuangan kelas yang tepat.
Kelima. Disiplin internal: sentralisme demokrasi hanya mungkin dijalankan dengan kedisiplinan yang lahir bukan dari ancaman dan represi, melainkan tingkat kesadaran dan pengorganisasian diri yang tinggi. Inilah mengapa disiplin internal membutuhkan pemahaman akan teori, program, metode dan tradisi perjuangan kelas buruh yang memadai.
Di organisasi ini yang mengikat kamerad-kameradnya bukan kata-kata maupun perintah, tetapi kerja-kerja dalam mengaplikasikan teori, program, metode, dan tradisi perjuangan kelas revolusioner. Inilah mengapa ketika seorang kamerad terjatuh dan mengalami kemunduran, maka kamerad lainnya berkewajiban membangunkan dan memperbaikinya secara bersama. Sebab penderitaan yang dialami satu orang dapat mengakibatkan kelemahan gerakan dan akan mempengaruhi kerja-kerja setiap orang di dalamnya. Itulah mengapa semua kamerad harus maju bersama dan mempersiapkan dirinya untuk revolusi. Kekurangan seorang kamerad tidak akan pernah menjadi kelebihan bagi yang lainnya, melainkan mempersulit kerja-kerja politik revolusioner. Singkatnya, individu-individu dalam organisasi revolusioner harus bergerak ke depan seperti gelombang dan sebisa mungkin tidak-meninggalkan seorangpun di belakang. Setiap kamerad bertugas mendidik diri dan saling-mendidik bersama kamerad-kamerad lain.
“Jika kita mau mengubah diri kita dan orang-orang yang setiap hari menggabungkan diri dengan kita. Maka kita harus berorganisasi. Tanpa organisasi kita tidak mungkin mengubah diri kita, dan sebaliknya, kita akan tertahan oleh beban berat adat-kebiasaan dan selera … generasi muda harus selalu dididik dengan benar. Kita mendidik massa dengan memberikan contoh pelaksanaan garis politik kita. Kalau sikap para militan kita sudah sesuai dengan garis politik kita, maka kita mendidik massa mengenai kehidupan baru.” (Revolusioner Afrika)
