“Revolusi sosial harus dipersiapkan … mendorong proses evolusi, mencerahkan rakyat tentang kejahatan masyarakat [kapitalis] hari ini dan meyakinkan mereka tentang keinginan dan kemungkinan, keadilan dan kemudahan kehidupan sosial yang didasarkan atas kebebasan [dan kesetaraan].” (Revolusioner Amerika)
“Revolusi internasional sudah dekat, meskipun Revolusi tidak bisa membuat perintah. Kaum imperialis akan membakar seluruh dunia dan akan memulai kebakaran di mana mereka sendiri akan binasa jika mereka berani memadamkan Revolusi.” (V.I. Lenin)
Kontradiksi masyarakat kapitalis semakin mendalam. Antagonisme antara kelas penguasa dengan kelas terkuasai bertambah tajam. Sekarang tidak ada lagi negeri yang tak dicengkeram modal-asing. Sebab kapitalisme telah mencapai apa yang dimaksud Lenin sebagai puncak perkembangan tertingginya: imperialisme. Imperium modal menampilkan lima ciri utama: (1) konsentrasi produksi dan kapital telah berkembang menuju tahapan tertinggi hingga menciptakan monopoli sebagai pemegang peran penting dalam kehidupan ekonomi; (2) merger antara kapital bank dan kapital industri menciptakan basis kemunculan kapital finans dan oligarki finansial; (3) ekspor kapital yang berbeda dengan ekspor komoditi menjadi signifikan dan mendominasi; (4) terbentuknya asosiasi atau formasi kapitalis-monopolis internasional dan pembagian dunia untuk dikuasai oleh mereka sendiri; dan (5) pembagian-pembagian teritori secara global di antara kekuatan-kekuatan imperialis sudah selesai. Dalam keadaan inilah peperangan dan penaklukan sumber daya alam, kelaparan dan pembodohan di tengah surplus produksi, serta kesenjangan dan pemelaratan mayoritas oleh minoritas pemilik alat produksi—yang mencari tenaga-tenaga kerja murah—menjadi tampilan umum kehidupan kita. Sejak krisis kapitalisme 2008 menyebar dari Amerika Serikat sampai negara-negara Dunia Ketiga, kelas penguasa mulai menambah tajam daya penghisapan. Tahun 2009, pertemuan KTT G-20 di Toronto, Kanada—adalah yang dilancarkan. Melalui forum inilah dituangkan dua garis besar kebijakan neoliberal: (1) konsolidasi fiskal untuk mengurangi defisit pemerintah melalui pemangkasan beragam subsidi dan (2) perang melawan segala bentuk proteksionisme yang dipandu oleh gairah ‘perdagangan bebas’. Dipupuk oleh skema neoliberalisme itulah Oxfam International mengeluarkan data mengenai ketimpangan ternaas. Mulai 2010 kekayaan para konglomerat meningkat rata-rata 13 persen setiap tahunnya. Antara 2016-2017, dalam dua hari selalu bermunculan miliarder-miliarder baru. Jumlah miliarder Asia saja meningkat dari 558 (2016) menjadi 680 (2017). Sementara masuk 2019, miliarder dunia mencapai 2.153 orang (0,3%) dengan total kekayaan melebihi 4,6 miliar (60%) warga dibanding 88% penduduk bumi.
Dari laporan Oxfam International: secara keseluruhan kekayaan miliarder itu diperoleh dari warisan, monopoli, kronisme, hingga pengemplangan pajak yang dilakukan melalui penerapan-penerapan kebijakan neoliberal. Dari perhitungan Oxfam dengan ekonom Gabriel Zucman, akhir 2008-2017 ditemukan kalau pertahunnya 1% pebisnis-pebisnis terkaya dunia mengemplang pajak sebanyak 200 miliar dolar AS. Perekonomian pasar bebas memberi pelumas bagi pertumbuhan kekayaan kelas borjuis. Memasuki 2020-2022, 1 miliarder baru bermunculan setiap 30 jam. Bisnis pangan dan energi adalah yang paling meningkatkan pundi-pundi pendapatan. Meski Covid-19, perang Ukraina-Rusia, hingga inflasi memorak-morandakan aktivitas perekonomian rakyat, tapi skema neoliberalisme memperlancar akumulasi kekayaan kaum kapitalis. Dalam tahun-tahun belakangan, Oxfam melaporkan: selama 2 tahun terakhir kekayaan miliarder dunia di sektor pertanian dan pertambangan global naik 453 miliar dolar AS. Angka ini ditunjang oleh subsidi-subsidi yang diberikan negara borjuis terhadap pebisnis raksasa melalui konsolidasi fiskal dan anti-proteksionisme terhadap perekonomian rakyat. Pendekatan demikianlah yang mendorong laju ketimpangan dan kemiskinan ekstrem. Oxfam International dan World Bank mencatat sejak 2020 saja, sebanyak 573 pengusaha berhasil memupuk keuntungan hingga menjadi miliarder baru dan total penduduk miskin dunia telah mencapai 100 juta orang. Kemelaratan yang menjalar ini ditenggarai krisis inheren sistem kapitalisme serta ketidakmampuan pemerintahan imperialis dan kapitalis-kapitalis di negeri terbelakang untuk menangani persoalan.
Begitulah luapan pandemi tidak dihadapi dengan menunjang kebutuhan akan bahan maupun peralatan kesehatan dan tenaga medis, serta menguatkan sektor-sektor perekonomian riil; tetapi semakin meningkatkan anggaran militer, kapital-fiktif dan mengamankan investasi, hingga menyangga perusahaan-perusahaan besar agar tetap stabil beroperasi. Langkah ini diambil demi mempertahankan tingkat keuntungan kapitalisme. Guna melancarkan sirkulasi dan akumulasi modal agar tidak macet, maka kelas borjuasi tak sekadar mendorong peningkatan kapital organik dengan terus memperbaharui alat-alat produksi sekaligus memperpanjang waktu kerja, memotong upah, maupun memecat buruh. Tetapi juga semakin agresif mengekspor modalnya—ke segala belahan bumi, negara-negara Dunia Ketiga, sektor bisnis dan industri—untuk memperpanjang barisan kerja upahan dan produksi komoditas dalam rangka memupuk laba. Perang Ukraina-Rusia hingga konglik Cina-Taiwan menjadi bukti dari kepentingan imperialisme. Sejak 1996 terdapat 37.000 perusahaan multinasional di dunia—90% darinya berpusat di negara-negara imperialis dengan 200.000 cabangnya yang tersebar di negara-negara Dunia Ketiga. Selama pertengahan 90-an TNC/MNC telah memegang 70% perdagangan dunia dan memiliki 90% paten teknologi dan produksi di seluruh dunia. Lewat keuntungan yang diperoleh dari kerjasamanya dengan negeri-negeri tergantung dan jajahan, maka memasuki 1997 jumlah perusahaan multinasional meningkat pesat menjadi 53.607. Sepanjang 1980-1990-an kekayaan pemegang saham gabungan TNC/MNC pula ikut meroket: mulai dari 1,9 triliun dolar AS (1982) hingga 12,6 triliun dolar AS (1997). Pertumbuhan perusahaan-perusahaan multinasional tidak saja meningkatkan jumlah pekerja, melainkan pula mendorong pengangguran berlimpah. Pada 2020, ILO mengungkap kalau jumlah buruh sedunia sudah mencapai 2,7 miliar. Memasuki 2022, 207 juta orang di antaranya terancam menganggur. Kebijakan neoliberal menjadi pendorong penyerapan tenaga kerja sekaligus mempercepat pemberhentian dan penggantian tenaga kerja guna menambah kadar penghisapan nilai-lebih.
Dalam menjalankan kelicikan itulah negara-negara borjuis menerapkan politik osteritas: penghematan anggaran rakyat dan pemberian dana talangan bagi perusahaan besar. Politik macam inilah yang membuat kehidupan kaum tertindas, terhisap dan miskin semakin terpuruk: kelas borjuasi yang menghisap kemampuan kerja buruh terlindung di atas aneka subsidi, pengampunan pajak, kemudahan-kemudahan hukum, hingga penghapusan hambatan-hambatan legal bagi investasi dan penerapan upah murah. Di tengah keberlimpahan produksinya kelas proletariat tidak mampu menikmati komoditas. Ketidakmampuan itu nampak melalui peningkatan harga-harga atau jatuhnya daya beli penduduk yang tercermin dalam setiap krisis kapitalisme—anjloknya pasar saham, goncangan moneter, inlasi maupun stagflasi.
Hanya untuk keluar dari krisis-krisis inilah kelas borjuis di seluruh negeri semakin mengikatkan dirinya dengan imperialisme: demi menstimulus lapisan terluas masyarakat untuk membeli komoditas maka mereka tidak sekadar memperluas pinjaman atau kredit di sektor ekonomi dan rekonsumerisme di sektor kultural, tetapi juga mengonggokan hutang luar negerinya sebagai penawar krisis kapitalisme. Dengan memberikan pinjaman atau kredit seolah perekonomian tengah menaik dan mulai membaik. Padahal hutang luar negeri yang mengikat seribu benang antara borjuis nasional dengan kapitalis-imperialis semakin menguat. Inilah mengapa di bawah panji globalisasi dan pembukaan pasar dunia maka IMF, WTO dan Bank Dunia—yang pendanaannya bersumber dari TNC/MNC—semakin mudah mendiktekan kepada negara-negara pengutang untuk melaksanakan aneka penyesuaian struktural dalam menurunkan tarif dan melancarkan swastanisasi terhadap sarana-prasarana publik di negerinya. Sejak krisis moneter 1997 hingga dalam menghadapi krisis kapitalisme yang dipercepat oleh Covid-19 pada akhir 2019 lalu dan inflasi yang menjadi menggerogoti negara-bangsa saat ini—sudah banyak negara-negara borjuis yang mengikuti rekomendasi dari lembaga-lembaga imperialisme. Melalui Marxisme dan Perjuangan Melawan Imperialisme (2003), Alan Woods dan Ted Grant menjelaskan bagaimana skema hutang menjadi saluran ekspansionis bagi kekuatan imperialis dan jeratan pesakitannya Dunia Ketiga:
“Eksploitasi berlebihan terhadap Dunia Ketiga … mempunyai arti terjadinya perpindahan kekayaan dari negara-negara ke peti penyimpanan uang milik perusahaan-perusahaan multinasional raksasa dan bank-bank. Hal ini dapat terlihat pada beban hutang yang telah mencapai proporsi yang bahkan sebelum pertemuan G-8 di Birmingham (Mei 1998) telah ada beberapa pembicaraan mengenai inisiatif yang disetujui oleh Bank Dunia dan IMF; tanpa membicarakan pengembalian hutang yang sebenarnya, juga telah memulai sebuah program HIPC (Highly Indebteb Poor Countries) yang bertujuan untuk memotong beban hutang negara yang membelanjakan lebih dari 20 persen pendapatan ekspor mereka untuk pembayaran bunga hutang…. Ada tiga alasan untuk hal ini. Yang pertama adalah sangat tidak mungkin negara-negara mampu membayar hutang mereka. Oleh karena itu, Bank Dunia dan IMF telah memutuskan untuk mengenali realita dan membuat pemerintahan-pemerintahan Dunia Barat mengembalikan apa ang dipinjamkan dari bank-bank penyandang dana dengan uang pembayar pajak. Dengan cara ini bank tidak pernah kalah. Tujuan utama dari inisiatif-inisiatif keringanan utang ini adalah, di satu sisi, untuk memastikan bahwa para bankir memperoleh kembali uang mereka, dan di sisi lain, untuk mengangkat negara-negara yang banyak hutang ini ke suatu posisi di mana mereka bisa meminta lebih banyak pinjaman! Kedua, jumlah hutang yang dipinjam oleh negara-negara penghutang terbesar ini, sebagai sebuah persentase dari total pinjaman dari negara-negera yang dulunya menjadi tanah jajahan, adalah sangat kecil. Dan ketiga, rencana-rencana keringan tadi datang bersama-sama dengan banyak syarat-syarat terkait. Negara-negara yang terlibat harus melaksanakan ‘rekomendasi-rekomendasi’ (yaitu, perintah) dari IMF.”
Dengan berekspansinya modal secara agresif, beban hutang dan tekanan-tekanan struktural itulah imperialisme menggabungkan pasar-pasar nasional untuk menciptakan pasar dunia, meningkatkan pembagian kerja dunia, dan memperbanyak kelas pekerja dunia. Kebutuhan menemukan bahan-bahan mentah, pekerja-pekerja murah, dan senantiasa memperluas pasar bagi komoditas telah memberikan sifat kosmopolitan pada kegiatan produksi dan konsumsi kapitalisme. Dalam keadaan inilah sebuah basis material (industri, teknik, dan tenaga-tenaga produktif) yang mampu mendorong sosialisme dan membangun masyarakat tanpa kelas sudah kentara di depan mata. Pada 1938, Program Transisional dari Leon Trotsky pun menegaskan bahwa syarat obyektif untuk revolusi sosialis telah mencapai tingkatan tertinggi di bawah kapitalisme:
“…Krisis-krisis yang saling bertautan di bawah kondisi krisis sosial dari seluruh sistem kapitalis mengakibatkan kelaparan dan kesengsaraan yang semakin parah di dalam masyarakat. Tingkat pengangguran yang makin membengkak, pada gilirannya, memperdalam krisis finansial negara dan melemahkan sistem keuangan yang sudah tidak stabil…. Semua argumen bahwa kondisi sejarah belumlah ‘matang’ untuk sosialisme adalah produk dari kebodohan atau penipuan yang dilakukan secara sadar. Syarat-syarat obyektif untuk revolusi proletariat bukan hanya sudah ‘matang’, mereka sudah mulai membusuk. Tanpa sebuah revolusi sosialis di dalam periode sejarah yang selanjutnya, sebuah bencana akan mengancam seluruh peradaban umat manusia. Sekarang semua tergantung pada kelas proletariat, terutama kaum pelopor revolusioner kelas tersebut. Krisis sejarah umat manusia tereduksi ke krisis kepemimpinan revolusioner.”
Dalam Manifesto Partai Komunis (1848), Karl Marx dan Friedrich Engels menjelaskan kalau syarat hidup-berkuasanya kelas borjuis adalah terbentuk dan bertambah besarnya kapital yang berasal dari kerja upahan. Tetapi setiap kemajuan-kemajuan industri dan teknik kapitalisme bukan saja melahirkan pekerja dalam jumlah raksasa, melainkan pula ‘menciptakan penggali kuburnya sendiri’—menguatkan buruh menjadi sebuah ‘kelas yang terorganisir’ melalui unit-unit produksi besar, korporasi yang sama, dan menempuh perjuangan kolektif. Hanya untuk menggali kubur bagi kapitalisme maka proletariat harus mengerjakannya secara sadar: mempersiapkan revolusi sosialis dunia, menggulingkan kekuasaan dan syarat-syarat eksistensi borjuis, mendirikan kediktatoran proletariat sebagai penangkal kontra-revolusi, melaksanakan perencaan ekonomi dan demokrasi sosialis untuk meningkatkan kekayaan material, menyebarkan revolusi ke pelbagai negeri hingga menyatukan republik-republik sosialis secara sukarela, melenyapkan negara dan membangun masyarakat tanpa kelas. Inilah mengapa proletariat membutuhkan kepemimpinan revolusioner. Kepemimpinan ini bukanlah dengan menghadirkan pemimpin kharismatik, diplomatis dan retoris. Sebab kepemimpinan yang dibutuhkan proletariat bukan menyangkut individu atau tokoh sekaliber tapi Partai Revolusioner. Marx dan Engels menyebutnya sebagai Partai Komunis—mempunyai prinsip internasionalisme dan penghapusan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi dengan tujuan terdekat mengorganisir proletariat sebagai sebuah kelas untuk menggulingkan kekuasaan borjuis dan mendirikan kekuasaan proletariat. Kehadirannya harus mendorong maju proletariat bersama elemen-elemen sosial-historis yang menjadi kekuatan cadangan proletariat di atas kesatuan praksis (praktek dan teoritik) dalam melancarkan revolusi proletariat untuk mencapai perubahan masyarakat secara mendasar. Inilah mengapa partai itu mula-mula tidak dibentuk sebagai organisasi massa-luas untuk mendekati dan memenangkan massa ke sisinya, melainkan organisasi kader-pelopor berperspektif Marxis revolusioner untuk memajukan kesadaran lapisan terluas rakyat-pekerja dan menarik massa yang sadar dalam pembangunan Partai Revolusioner.
Singkatnya, Partai Komunis dalam Manifesto karya Marx dan Engels itu dibangun bukanlah berdasarkan konsepsi partai massa melainkan partai kader seperti Bolshevik—kepemimpinan proletariat yang pertama kali berhasil memenangkan Revolusi Proletariat 1917. Tugas organisasi kader-pelopor membangun Bolshevik adalah dengan mengembangkan Kepeloporan Revolusioner: meraih lapisan paling maju dan sadar-kelas dari proletariat untuk mengorganisir dirinya dengan membentuk organisasi politik (kepemimpinan proletariat) dan terlibat aktif dalam kerja-kerja revolusioner guna menarik lapisan luas dari rakyat-pekerja (massa-terbelakang) untuk memajukan kesadarannya dan mengikutsertakannya dalam perjuangan revolusioner melawan musuh-musuh kelas proletariat. Begitulah dalam tahapan awal kemunculan Marxisme di Rusia. Mula-mula terlukis melalui usaha keras kepala Plekhanov—dalam melakukan kerja-teori dengan keyakinan akan gagasan, teori dan perspektif Marxisme—dalam memberi dasar sosialis revolusioner bagi kelas pekerja dan kaum muda Rusia. Lalu lanjutkan Lenin melalui kerja-teori melawan hegemoni borjuis, mengekspresikan pengalaman dan gagasan-gagasan revolusioner melawan penindas, dan pengorganisiran proletariat berdasarkan kesimpulannya dalam Dari Mana Kita Mulai? (1901):
“Menurut kami, titik tolak kegiatan kita, langkah pertama menuju organisasi yang dicita-citakan, atau, mari kita katakan, jalur utama yang, bila diikuti, memungkinkan kita secara pasti untuk mengembangkan, memperdalam, dan memperluas organisasi tersebut, ialah pendirian sebuah Koran politik yang menjangkau seluruh Rusia. Apa yang kita butuhkan adalah Koran. Tanpa Koran kita tidak akan sistematis menjalankan propaganda dan agitasi secara menyeluruh, yang konsisten dalam prinsip, yang merupakan tugas utama dan permanen dari Sosial-Demokrasi secara umum, dan juga merupakan tugas yang paling mendesak pada saat ini … Pergerakan kita lemah secara ideologis, sebagaimana juga dalam praktek dan organisasi, karena pergerakan kita ini berada dalam kondisi tercerai-berai, juga disebabkan juga karena mayoritas luas—bahkan hampir-hampir seluruhnya—kaum Sosial-Demokrat terbenam pada kerja-kerja lokal, yang menyempitkan pandangan mereka, aktivitas mereka, kecakapan mereka, dalam menjaga kerahasiaan dan kesiapan mereka … guna mentransformasikan pergerakan-pergerakan lokal menjadi gerakan nasional yang tunggal, haruslah berupa pendirian sebuah Koran nasional. Dan apa yang dibutuhkan adalah sebuah koran politik. Tanpa koran semacam itu tidak mungkin dapat memenuhi tugas-tugas kita—tugas mengonsentrasikan unsur ketidakpuasan dan protes politik, guna memperkokoh pergerakan revolusioner kaum proletariat.”
Diawali oleh kerja-kerja teori, konter-hegemoni, penyulutan protes dan pengorganisiran macam itulah Bolshevik dibangun: kesadaran politik dan ideologi revolusioner diletakkan sebagai komponen utama dalam perjuangan kelas melawan kapitalisme. Sejak awal pembangunannya Partai Revolusioner tidak mengekor pada kesadaran massa-terbelakang, melainkan berjuang memajukannya hingga memenangkannya ke dalam perjuangan revolusioner. Inilah mengapa bukan organisasi massa-luas yang dibentuk, tapi organisasi kader-pelopor. Sebab bagi Lenin memulai perjuangan untuk revolusi sosialis dibutuhkan kamerad-kamerad yang lebih tegas, berkomitmen, maju kesadarannya atau penguasaan teorinya sebagai syarat untuk melakukan kerja-kerja yang berdisiplin, terorganisir, dan memimpin perjuangan melawan musuh-musuh kelas proletariat. Dalam kondisi inilah lapisan luas dari rakyat-pekerja (massa-terbelakang), yang berjuang secara terpencar-pencar, inkonsistensi, spontan dan untuk tuntutan ekonomis semata haruslah dipersenjatai terlebih dahulu dengan keyakinan, gagasan dan perspektif Marxis revolusioner. Inilah mengapa Bolshevik sejak tahap pembangunannya tidak tampil dengan citra-citra artifisial, melainkan teori, program, metode dan tradisi perjuangan kelas yang digariskan Marx dan Engels. Dalam Bolshevisme; Jalan menuju Revolusi, Jilid I: 1883-1903—Alan Woods menulis:
“Bagi seorang Marxis, sebuah Partai Revolusioner adalah pertama-tama program, metode, ide, dan tradisi; dan hanya setelah itu sebuah organisasi dan aparatus (yang tidak diragukan kepentingannya) guna merealisasikan ide-ide tersebut ke dalam lapisan terluas rakyat pekerja. Partai Marxis, semenjak kelahirannya, harus mendasarkan dirinya pada teori dan program, yang merupakan ringkasan umum dari pengalaman historis kaum proletar. Tanpa ini, partai tersebut bukanlah apa-apa. Pembangunan sebuah Partai Revolusioner selalu dimulai dengan kerja mengumpulkan dan mendidik kader yang membutuhkan waktu yang lama dan melelahkan, dan kader-kader ini akan menjadi tulang punggung partai selama masa kehidupannya.”
Partai Revolusioner sejak pembangunannya sudah harus mendidik kamerad-kameradnya menjadi kader-pelopor yang bersedia dan bersetia melaksanakan tugas-tugas untuk revolusi sosialis. Maka pendidikan-pendidikan politik sejak perekrutan harus dilaksanakan secara reguler guna mendidik kamerad sesuai garis politik dan prinsip Partai Revolusioner: internasionalisme proletariat dan penghapusan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi. Tingkatan inilah yang menjadi pembeda antara Partai Revolusioner dengan partai massa. Hanya hubungan kader-pelopor dengan lapisan terluas rakyat-pekerja berlangsung secara dinamis dalam perkembangan militansi dan kesadaran kelas yang tidak merata. Dalam situasi non atau pra-revolusioner kader-kader pelopor harus bersusah-payah dalam melaksanakan kerja-kerja edukasi, agitasi dan propaganda politik revolusioner berkelanjutan di tengah-tengah massa dengan memenangkan satu atau dua orang saja. Namun ketika tibanya situasi revolusioner lapisan terluas rakyat-pekerja akan secara lahap menerima ide-ide sosialisme dan keadaan ini menjadi kesempatan bagi Partai Revolusioner merekrut massa dalam jumlah raksasa—sebagai syarat mengubah dirinya menjadi Partai Massa-Revolusioner.
Tetapi transformasi partai kader-pelopor ke partai massa-revolusioner itu cuma dapat dipastikan dengan kesiapan secara kuantitas dan kualitas dari kader-pelopor untuk mengintervensi perjuangan massa untuk revolusi sosialis. Dalam mempersiapkan organisasi dengan kamerad-kameradnya untuk menempuh perjuangan revolusioner itulah Partai Revolusioner sejak masa pembangunannya haruslah melaksanakan pendidikan politik yang terus-menerus untuk menguatkan pemahamahan akan teori, program, metode dan tradisi perjuangan kelas. Hanya dengan cara inilah tingkat militansi, aktivitas politik, dan kesadaran kelas yang tinggi dapat terjaga. Sebab sebuah perjuangan untuk revolusi sosialis, penghancuran dan pembentukan kembali masyarakat secara terencana tidak akan pernah mungkin berhasil tanpa dilaksanakan secara sadar-kelas. Demi memenuhi kebutuhan inilah organisasi kader-pelopor atau Partai Revolusioner bukan sekadar sebagai senjata politis, tapi juga sekolah ideologis bagi kelas proletariat. Trotsky bahkan menyebut kalau Partai Revolusioner itu sebagai ‘gudang memori sejarah perjuangan kelas pekerja’: universitas yang menyediakan bacaan akan pengalaman-pengalaman terkait perjuangan kelas di masa lalu yang lengkap dengan analisa mengenai kekalahan dan kemenangannya sebagai basis material untuk menetapkan prinsip umum hingga kesimpulan yang tersentral untuk perjuangan kelas yang sedang berlangsung di seluruh dunia dan pengembangan teoritis guna memenangkan sosialisme dan membangun masyarakat tanpa kelas. Begitulah Ernest Mandel menjelaskannya dalam Organisasi Pelopor dan Perjuangan Kelas (1983):
“Anda tidak dapat memiliki revolusi sosialis spontan. Anda tidak dapat membuat revolusi sosialis tanpa benar-benar berusaha. Dan Anda tidak dapat melaksanakan revolusi sosialis yang dikomandoi dari atas, diperintah oleh pemimpin atau kelompok pemimpin yang mahatahu. Anda membutuhkan kedua bahan dalam revolusi sosialis: (1) tingkat kesadaran setinggi mungkin, dan (2) tingkat pengorganisasian diri dan aktivitas diri tertinggi oleh segmen populasi seluas mungkin. Semua masalah antara organisasi pelopor dengan massa berasal dari kontradiksi dasar itu…. Setelah setiap gelombang perjuangan kelas yang meningkat, ketika titik balik tiba dan aktivitas massa yang sebenarnya menurun, kesadaran turun ke tingkat yang lebih rendah dan aktivitas turun ke hampir nol. Fungsi pertama dari organisasi pelopor revolusioner adalah untuk menjaga kelangsungan perolehan teoritis, program, politik dan organisasional dari fase sebelumnya…. Ada dimensi kedua, …. Marxis Revolusioner berdiri untuk sentralisme demokratis, dan sama sekali bukan dimensi administratif. Ini adalah politik…. Ini berarti sentralisasi pengalaman, sentralisasi pengetahuan, sentralisasi kesimpulan yang ditarik dari militansi aktual. Di sini, sekali lagi kita melihat bahaya yang luar biasa bagi kelas pekerja dan gerakan buruh jika tidak ada sentralisasi pengalaman seperti itu: inilah bahaya dari sektorisasi dan fragmentasi, mereka memiliki [perjuangan, pengalaman] dan kesadaran parsial yang terfragmentasi…. Jika Anda hanya berkonsentrasi pada Eropa Timur, Anda memiliki pandangan parsial tentang realitas dunia. Jika Anda berkonsentrasi pada negara-negara terbelakang, semi-kolonial, dan tergantung, Anda memiliki pandangan parsial tentang realitas dunia. Jika Anda hanya berkonsentrasi pada negara-negara imperialis, Anda memiliki pandangan parsial tentang realitas dunia. Hanya jika Anda menyatukan pengalaman perjuangan konkret yang dilakukan oleh massa yang konkret di tiga sektor dunia (yang juga disebut tiga sektor revolusi dunia), maka Anda akan memiliki pandangan yang benar dan menyeluruh tentang realitas dunia … Keunggulan ini bukan karena kepintaran para kamerad Internasional Keempat. Itu hanya karena sentralisasi dasar dari pengalaman konkret perjuangan dalam skala global, ditambahkan ke program sejarah yang benar….”
