Kategori
Teori

Pendidikan Sosialis sebagai Alternatif

“Sosialisme adalah gerakan yang muncul dari harapan untuk memerangi kondisi-kondisi yang mengakibatkan keputusaan. Kita diharuskan tidak hanya memerangi tikus-tikus yang berkeliaran, tetapi juga menghancurkan selokan-selokan tempat tikus beranak-pinak.” (Kaum Marxis)

“Kini kebutuhan kita bukan pada keberanian semata-mata, tapi lebih pada ‘pengetahuan revolusioner dan kecakapan mengambil sikap revolusioner’.” (Tan Malaka)

“Teori dan filsafat revolusioner hanya berguna apabila diubah menjadi kepemimpinan revolusioner.” (Karl Marx)

Hidup dalam kepungan kekuatan modal yang keji dan hina mengharuskan kami berbuat sesuatu. Kami tidak bisa menerima kalau kesenjangan, kebodohan, keserakahan, kemiskinan, kerusakan lingkungan dan iklim, hingga kelaparan dan kematian di tengah pemborosan, perang, pembantaian dan pembunuhan sebagai takdir umat manusia. Kami mengerti kalau itu semua merupakan ekses-ekses mengerikan dari kapitalisme. Sebuah horor kehidupan yang dibebankan kepada kaum tertindas, terhisap dan miskin demi melayani kepentingan begundal-begundal pemilik properti dan penguasa. Hanya lewat kegetiran dan kekejaman itulah semua prahara dan duka-cita umat manusia menjadi saluran-saluran laba bagi mereka. Penderitaan kita mengular mulai dari rumah sampai ruang-ruang publik dan lapangan-lapangan kerja. Hari-hari kita mengharu-biru dengan segala pembatasan, perampasan, penghisapan dan pelecehan. Kita tidak sebatas diawasi dan dikontrol melalui polisi, tentara dan paramiliter; tapi juga diberi sanksi lewat hukum dan pengadilan yang mereka jalankan. Sedangkan pikiran-pikiran dan moral kita didikte begitu rupa menggunakan saluran-saluran media, sekolah dan universitas, bahkan agama dan organisasi-organisasi kemasyarakatan sekeliling. Dalam keadaan inilah jalannya penindasan dikaburkan, hingga negara borjuis sebagai alat pemaksa kepentingannya teragung-agungkan.

Sepanjang sejarah masyarakat berkelas massa-rakyat selalu menjadi korbannya. Korban dari penindasan kelas bermilik dan berkuasa. Logika kepemilikan pribadi, pembagian kerja dan surplus terus menempatkan kaum tertindas, terhisap dan miskin pada posisi yang paling buncit dan terpinggirkan. Hanya daya hidup yang membuat kita mampu bertahan. Itulah harapan akan perubahan. Kita mempunyai masa lalu buat dipelajari hari ini dan masa depan serta keinginan kuat mencapainya; sedangkan kelas penguasa cuma memiliki masa lalu dan hasrat mengulangi selamanya. Dalam tatanan masyarakat berkelas kami percaya kalau kaum tertindas, terhisap dan miskin mempunyai harapan yang sama: kesejahteraan, kebebasan dan kesetaraan. Kami menyebut itu dengan masyarakat tanpa kelas; tatanan yang dibangun dengan memperjuangkan sosialisme. Sosialisme dalam perspektif Marxis bukan sekadar fase sosio-historis menuju masyarakat tanpa kelas, tapi juga teori tentang revolusi dan kemenangan proletariat sedunia. Hanya untuk dapat membangun sosialisme kaum Marxis meyakini kekuasaan perlu diletakkan di tangan massa-rakyat-pekerja. Sebab pada masyarakat kapitalis kaum proletar menjadi kekuatan utama bagi pembangunan sosialisme. Maka memenangkan sosialisme berarti menaruh keyakinan terhadap perjuangan kelas pekerja. Perjuangan proletariat mengajari kita kalau melawan kapitalisme tak dapat dilakukan sendiri-sendiri tapi secara bersama-sama. Gerakan kolektif atau kolektivisme menjadi semangat dan sumber kekuatannya untuk membangun sosialisme. Begitulah John Molyneux menjelasakannya melalui Kritik Marxis terhadap Anarkisme (2021):

“Ketika kelas pekerja melakukan perlawanan, dari demonstrasi kecil-kecilan sampai pemogokan besar-besaran, melawan perusahaan-perusahaan raksasa, sampai pemogokan umum melawan kekuasaan negara,  kelas pekerja harus melawan bersama…. Sejarah mencatat, kelas pekerja telah berkali-kali bangkit, bergerak dan bertempur melawan kapitalisme di Paris pada tahun 1848, 1871, 1936, dan 1968, di Jerman pada tahun 1919-1923, di Italia pada tahun 1919-1920, di Cina pada tahun 1926-1927, di Spanyol pada tahun 1936, di Hongaria pada tahun 1956 melawan kapitalisme negara Stalin, di Bolivia pada tahun 1925-1952, di Chile pada tahun 1970-2973, dan di Portugal pada tahun 1974. Dalam berbagai perlawanan ini kelas pekerja berkali-kali dibelokkan, dikalahkan, dan ditumpahkan darahnya. Sejarah juga mencatat kelas pekerja pernah memenangkan revolusi di tanah Rusia pada 25 Oktober 1917, dan berhasil berkuasa hingga kekuasaan mereka direbut oleh Stalin. Terlepas dari perebutan kekuasaan oleh Stalin, kemenangan kelas buruh itu tidak dapat dilepaskan dari peranan Partai Revolusioner Bolshevik.”

Kemenangan revolusi sosialis-proletariat paling kolosal dan berpengaruh di abad XX itu berkait dengan kemampuan kelas pekerja dalam melancarkan perlawanan kolektif. Dari sinilah kita mendapat pelajaran bagaimana caranya melawan kelas borjuis, menggulingkan kekuasaannya dan tatanan kapitalis. Perjuangan kelas proletariat mengajari kita kalau kapitalisme sebagai sebuah sistem hanya dapat disingkirkan dan dihancurkan dengan mengusung sistem tandingan. Dalam konteks inilah organisasi menjadi penting! Mengambil tauladan dari perjuangan kelas revolusioner, maka organisasi yang dibentuk bukanlah organisasi salon–sektarian dan oportunis–dengan kepemimpinan reformis dan sentris. Melainkan organisasi berperspektif sosialis revolusioner. Sebab memerangi kapitalisme tidak akan pernah bisa dilakukan dengan meniru kelancungan Kelompok Cipayung Plus dan kiri-kiri populis yang menekankan pada praktik-praktik gerakan paling sempit. Kita butuh belajar dari pengalaman-pengalaman perjuangan kelas proletar. Pengalaman proletariat mengajari kita kalau organisasi harus menjadi kendaraan perang melawan kapitalisme. Maka organisasi macam ini tidak sekadar melakukan kerja politik dalam mengorganisir massa untuk agenda-agenda protes, pemogokan, kampanye perlawanan dan sebagainya—melainkan pula menggencarkan kerja-kerja teori yang berprinsip untuk mengonter dan menenggelamkan pengaruh ideologi kelas penguasa. Dalam gerakan inilah fungsi organisasi bukan sebagai alat untuk membangun bergaining di hadapan kekuasaan atau menjadi batu lompatan meraih jabatan dan memupuk keuangan, tetapi difungsikan menjadi sekolah atau universitas untuk memajukan perjuangan dan kesadaran kelas dengan mempelajari dan mengembangkan teori-teori Marxisme. Sebelum menyebrang ke arah reformisme bersama kebangkrutan Internasional Keempat, Tony Cliff–selama berpendirian sebagai Marxis revolusioner–dalam Marxisme Abad XXI (2020)–menulis tentang partai revolusioner.

“Partai adalah universitas atau tempat belajar kaum pekerja. Jika Sandhurst adalah tempat tentara Inggris (British Army) belajar berperang membela kepentingan kapitalis, partai revolusioner adalah tempat kaum pekerja belajar berperang melawan kelas kapitalis…. Anda tidak belajar dari apa yang Anda alami sendiri hari ini, tetapi Anda juga harus belajar dari pengalaman sejarah, dan perjuangan kelas pekerja secara internasional, dan itu dapat dilakukan apabila Anda bergabung dengan Partai Marxis Revolusioner. Untuk memperluas pengalamannya, setiap orang harus mengeneralisasi pengalaman sejarah, dan perjuangan internasional, dan itulah yang membuat setiap orang membutuhkan sebuah organisasi.”

Hanya dengan organisasi berperspektif sosialis revolusionerlah tradisi Marxisme dapat dipelajari dan dikembangkan untuk memajukan perjuangan dan kesadaran umat manusia. Dalam organisasi macam inilah bukan sekadar penggulingan tirani yang diupayakan, tetapi lebih jauh meletakkan kekuasaan di tangan proletar dan memulai transformasi sosial secara mendasar. Menjalankan tugas historis itulah organisasi revolusioner mengidentifikasi bahwa kekuatan sosial yang memiliki kapasitas dan kemampuan mengubah dunia adalah kelas proletariat. Pengalaman sejarah telah membuktikan kalau rakyat-pekerja di mana-mana memiliki kemampuan untuk memenangkan revolusi sosialis. Ketika kediktatoran proletariat ditegakkan maka kepemimpinan dan demokrasi buruh–yang kelas pekerja jalankan–melucuti kekuasaan minoritas untuk digantikan kekuasaan mayoritas. Itulah yang kaum Marxis sebut sebagai kekuasaan proletar, kekuasaan rakyat pekerja. Kekuasaan yang menghimpun semua orang yang bekerja untuk menentukan nasibnya sendiri dengan memegang kendali, mengontrol dan menjalankan aktivitas ekonomi, politik, sosial dan budayanya. Dalam keadaan inilah aparatus borjuis akan dibubarkan dan negara kapitalis dengan segala alat represinya akan mulai dilenyapkan begitu rupa. Kekuasaan macam ini bertanggung jawab untuk menghapuskan kepemilikan pribadi atas alat produksi dan meningkatkan hasil-hasil produksi guna memenuhi kebutuhan bersama umat manusia. Makanya kekuasaan rakyat-pekerja tidak berorientasi nasionalis apalagi chauvinis, melainkan internasionalis lewat revolusi permanen: menyebarluaskan revolusinya ke negara-negara lainnya tak melalui agresi militer tapi kerjasama internasional kelas pekerja. Sebab dasar dari kediktatoran proletariat bukanlah kepentingan individu atau kelompok pekerja di satu negara, melainkan kepentingan kolektif dari gerakan rakyat pekerja seluruh dunia. John Molineux menjelaskannya dalam Mana Tradisi Marxis yang Sejati (2015) dan Masa Depan Masyarakat Komunis (2020):

“Internasionalisme ini … mendasarkan diri pada keberadaan proletariat sebagai kelas internasional, yang diciptakan oleh pasar kapitalis secara dunia, dan terdorong untuk berjuang secara internasional melawan sistem kapitalisme itu…. Satu-satunya cara untuk memenangkan perjuangan ini dan membebaskan diri adalah dengan mengalahkan kelas kapitalis di kancah politik serta merebut alat-alat produksi mereka. Ini hanya mungkin jika proletariat menciptakan negaranya sendiri.”

“Inti dari negara buruh adalah bagaimana negara buruh bergantung pada pemobilisasian, kemampuan pengorganisasian, dan kreativitas massa kelas buruh itu sendiri dalam membentuk masyarakat baru dari bawah ke atas. Hal ini, menjadikannya ribuan kali lebih demokratis ketimbang demokrasi liberal model borjuis.”

Membangun sosialisme membutuhkan kepemimpinan revolusioner dan kediktatoran proletariat untuk menghadapi situasi revolusioner dan memenangkan revolusi proletariat. Pendidikan sosialis adalah pendidikan yang berkepentingan untuk melancarkan itu semua hingga merombak seluruh penataan masyarakat kapitalis secara mendasar. Pendidikan macam ini seperti yang dijelaskan John Molyneux dalam Masa Depan Masyarakat Komunis”: ‘mempersiapkan semua orang, tidak hanya beberapa orang terpilih, untuk mengambil peran aktif, dalam perencanaan dan administrasi, yang tujuannya adalah mengembangkan kepribadian manusia secara menyeluruh’. Kami percaya: teori revolusioner begitu penting dan dibutuhkan. Kami yakin: tidak ada pergerakan yang kuat dan serius–yang memperjuangkan perubahan masyarakat secara mendasar–yang bisa mencapai garis akhir kemenangan kesadaran dan kemajuan kehidupan umat manusia–dengan berlandaskan kecenderungan kekanak-kanakan borjuis-kecil: hiper-aktivistisme dan radikal bebas. Sebab perjuangan kelas sebagai motor penggerak sejarah bukan saja menantang, melainkan pula berbahaya: dipenuhi ranjau dan reaksi brutal negara borjuis. Inilah mengapa memagut keyakinan kalau dunia baru itu mungkin maka kami tidak cukup hanya bermimpi dan meneriakan slogan sepanjang hidup. Tetapi kami harus mulai mencari peta dan mempersiapkan perjalanan menuju dunia baru yang kami impikan.

Dalam mencapai cita-cita sosialisme maka teori Marxis dapat diasosiasikan sebagai peta dan organisasi berperspektif sosialis revolusioner sebagai kapalnya. Melaluinya kami akan berlayar mengarungi samudera perjuangan demi mengejar apa yang menjadi mimpi-mimpi kami. Kami mengerti kalau kami bisa saja dianggap gila saat menceritakan dan mempertahankan impian-impian ini. Tetapi begitulah konsekuensi yang harus kami tanggung ketika kami berani bermimpi. Siapa saja yang tidak memberi tempat untuk harapan-harapan terbaik umat manusia sangatlah membosankan dan tidak-manusiawi. Kini mimpi kami mungkin ditertawakan sebagai harapan dari generasi paling buruk dan menyedihkan. Hanya harapan kami bukanlah sesuatu yang mustahil tapi memungkinkan untuk diwujudkan. Sebab kami tidak sedang mengusung Sosialisme Utopis melainkan Sosialisme Ilmiah. Lihatlah sekarang bagaimana teori Marxis semakin relevan dalam kehidupan kita. Kini kontradiksi-kontradiksi inheren kapitalisme semakin tajam dan membuncah. Perang-perang imperialis dan represifitas negara borjuis telah memperdalam eksploitasi dan melecut onggokan persoalan penindasan yang tiada terkira. Perampasan sumber-sumber produksi dan perbudakan upahan, perusakan lingkungan dan pembantaian, kemelaratan dan penderitaan, pembodohan dan kematian kaum buruh dan muda secara mengerikan menyembul di mana-mana. Singkatnya, akumulasi modal berbanding lurus dengan akumalasi kekerasan yang begitu mencemari, menyakiti dan mematikan mayoritas spesies manusia. Namun dalam keadaan inilah kelas pekerja semakin tumbuh meraksasa. Tidak ada kesejahteraan, kesetaraan dan kebebasan yang mereka peroleh di tengah rongrongan kapitalisme dan badan orang-orang bersenjatanya. Penindasan-demi-penindasan membakar hari-hari rakyat pekerja dengan penuh amarah. Keadaan demikian menjadi basis material yang berpotensi meledakan revolusi berdasarkan Sosialisme Ilmiah.

Cepat atau lambat situasi revolusioner akan tiba! Sekarang tugas kami bukan menantinya secara negatif (pasif), melainkan mendirikan penantian positif (aktif): mempersiapkan apa saja yang diperlukan untuk menggelutinya. Kami pikir: penantian lumpuh dan membisu atas revolusi bukan cuma sia-sia, melainkan pula sangat berbahaya. Ketika tiba situasi revolusioner maka kita bukan saja akan diuji, tapi disodori pertanyaan tentang kesiapan kita untuk membawa revolusi sampai ke garis akhir kemenangannya. Kami tahu insureksi mengintrodusir setiap peristiwa revolusi. Tetapi kami tidak yakin pemberontakan belaka dapat menjamin keberhasilan revolusi. Kami percaya revolusi merupakan titik didih dari evolusi. Hanya kami takkan pernah berilusi kalau titik ini dapat sembarang dicapai dan dilewati. Boleh saja eksploitasi dan penindasan kapitalisme menjadi pemicu revolusi. Namun kami tiada meyakininya sebagai penjamin keberhasilan revolusi. Sebab jaminan atas keberhasilannya adalah dengan mulai melakukan persiapan-persiapan revolusioner. Inilah mengapa selain agitasi, propaganda dan aksi-aksi revolusioner; kami juga berusaha menggencarkan pendidikan politik revolusioner untuk membangun organisasi revolusioner dan mendidik kamerad-kamerad kami dengan teori-teori revolusioner yang berasal dari pengalaman perjuangan kelas pekerja sedunia: Sosialisme Ilmiah–Marxisme Revolusioner, Bolshevisme-Leninisme.

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai