Kategori
Perjuangan

Kaum Muda dan Organisasi Revolusioner

“Kita ini Marxis, kita berdiri demi perjuangan kelas proletariat melawan mabuknya borjuis-kecil, melawan chauvinisme-defensisme, jualan istilah dan ketergantungan pada borjuis.” (V.I. Lenin)

“Dunia kapitalis tidak memiliki jalan keluar, kecuali penderitaan kematian yang berkepanjangan dipertimbangkan. Penting untuk bersiap selama bertahun-tahun, jika bukan dekade, perang, pemberontakan, gencatan senjata singkat, perang baru, pemberontakan baru. Sebuah partai revolusioner muda harus mendasarkan diri pada perspektif ini. Sejarah akan memberinya peluang dan kemungkinan-kemungkinan yang cukup untuk menguji dirinya sendiri, untuk mengumpulkan pengalaman, dan untuk menjadi dewasa. Semakin cepat barisan garda depan digabungkan, semakin singkat zaman kejang berdarah, semakin sedikit kehancuran yang akan diderita planet kita. Tetapi masalah sejarah yang besar tidak akan terpecahkan sampai sebuah partai revolusioner berdiri sebagai pemimpin proletariat. Pertanyaan tempo dan interval waktu sangatlah penting; tetapi itu tidaklah mengubah perspektif sejarah umum maupun arah kebijakan kita.” (International Marxist Tendency)

Dunia sedang terbakar dan massa semakin bergejolak! Brutalnya eksploitasi, ekspansi, dan akumulasi kapital terus berkecamuk. Hubungan-hubungan kepemilikan pribadi, pembagian kerja, pembagian surplus, dan reproduksi kekuatan modal telah mengglobal. Negara-negara borjuis—Imperialis, kolonialis, neofasis, hingga demokratis sekalipun—terhuyung-huyung menghadapi krisis kapitalisme yang terus mencabik. Kesimpulan Francis Fukuyama akan kapitalisme sebagai akhir dari sejarah umat manusia kontan tersungkur. Keruntuhan pasar saham dan kegagalan investasi, pemutusan hubungan kerja dan pengangguran massal, pengetatan anggaran dan pemotongan subsidi, kemiskinan mayoritas dan beronggoknya kekayaan segelintir miliarder, kelaparan dalam keberlimpahan produksi, perusakan lingkungan dan pemanasan global, hingga perang dan penaklukan—menjadi monumen umum masyarakat kapitalis yang tengah sekarat. Setelah krisis kapitalisme meletus di Amerika Serikat pada 2008 lalu, banyak negeri yang sampai sekarang masih dikepung keterpurukan dan kesengsaraan. Ditambah dengan menjalarnya Covid-19 di akhir 2019 maka negara-negara borjuis semakin larut dalam krisis-multidimensial yang mereka hadapi melalui peningkatan penghisapan: (1) menaikan harga-harga komoditas secara ekstensif; (2) mendorong negara kapitalis memotong semakin banyak subsidi; dan (3) mempertajam akumulasi kapital-primer. Ketiganya mengakibatkan semakin mendalam penindasan, menjalarkan kesenjangan sosial, mempersengit konflik di antara kubu borjuis, hingga meningkatkan kontradiksi di pelbagai sektor perlawanan-pergerakan. Solusi kapitalisme pada setiap krisis bukan memberikan pengobatan yang ampuh, tapi merecoki demokrasi maupun kesejahteraan rakyat dan proletarian. Begitulah saat krisis 1870-an dan 1880-an mereka melancarkan gelombang mutakhir kolonialisme-imperialisme; krisis 1930-an diatasi lewat fordisme-keynesianisme hingga kapitalisme new deal; dan krisis 1970-an dihadapi melalui penerapan globalisasi-kapitalisme—rustrukturisasi neoliberal, perdagangan bebas, dan integrasi perekonomian global.

Kini, menghadapi krisis 2019-2022, kapitalisme menerapkan politik osteritas sebagai solusi utamanya. Kebijakan ini tidak saja memotong pelbagai anggaran publik sebanyak mungkin, melainkan pula mempertahankan eksitensi borjuis begitu rupa: memasifkan dana talangan bagi perusahaan raksasa, subsidi rutin terhadap korporat, pengampunan pajak bagi konglomerat, hingga pemberian aneka kemudahan hukum sekaligus penghapusan beragam hambatan legal bagi investasi dan upah murah. Menghadapi keadaan inilah buruh dan rakyat berkalang derita. Kenaikan harga-harga dan kekurangan daya-beli jadi santapan sehari-hari. Di sisi lain kemampuan swa-reproduksi dan swa-reparasi semakin melemah. Hanya untuk mempertahankan tingkat konsumsi penduduk dan penyerapan komoditas kapitalisme meluncurkan onggokan kredit di sektor ekonomi dan rekonsumerisme di sektor kultural. Tetapi program-program ini tidak pernah mendorong peningkatan taraf kehidupan buruh dan rakyat, melainkan memupuk keuntungan kelas bermilik dan berkuasa. Credit Suisse mencatat bahwa sejak krisis 2008 kekayaan 1% orang terkaya di dunia meningkat drastis—dari 42,5% (2008) menjadi 50,1% (2017). Jumlah kekayaan mereka mencapai 140 triliun dolar AS dan setara dengan kekayaan 70% populasi dunia.

Dalam situasi krisis seabrek konglomerat bukan saja meningkat kekayaannya, tapi juga mendorong pertumbahan miliarder dunia. Oxfam International bahkan melaporkan kalau mulai krisis 2019 telah bermunculan konglomerat-konglomerat baru setiap 30 jam. Maret 2022, terdapat 537 tambahan miliarder di dunia. Sementara tiap 33 jam terdeteksi satu juta orang jatuh miskin. Begitulah Oxfam mendeteksi pada 2022 ada 230 juta populasi global terpelanting menuju tingkat kemiskinan ekstrem. Dalam keadaan inilah buruh dan rakyat sedunia bangkit melawan kapitalisme dan borjuis. November 2018, di Swedia dilancarkan mogok sekolah yang menuntut penyelamatan lingkungan dari kerusakan. Maret 2019, kaum muda di 125 negara melancakan pemogokan iklim dengan melibatkan 1,6 juta orang demi melawan pengrusakan ekosistem. April berikutnya, di Aljazair memancang gerakan massa untuk memaksa Abdelazis Bouteflika mengundurkan diri dari tubuh kekuasaan. Agustus selanjutnya, eskalasi perlawanan Bangsa West Papua memasuki jilid terbarunya yang didorong oleh serangan rasisme kepada mahasiswa di Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang. Oktober kemudian, penolakan terhadap RUU Ekstradisi mampu memobilisir jutaan massa membanjiri jalanan Hongkong dan penolakan penguasa Spanyol akan Referendum Catalonia (2017) menambah ketegangan perjuangan kemerdekaan. September, kemarahan massa ikut meledak di Haiti untuk menentang korupsi, kesewenang-wenangan dan kekejaman pemerintah. Lalu memasuki Oktober, 1,3 juta massa aksi membanjiri jalan-jalan kota di Lebanon untuk menolak penerapan pajak regresif dan membentuk rantai manusia sepanjang 170 kilometer dari Tripoli sampai Tirus. Di bulan yang sama juga meletus pembangkangan sipil di Chile yang menolak kenaikan tarif kereta bawah tanah.

Sementara memasuki 2020-2021, aksi-aksi kampanye, rapat dan pemogokan umum, pembangkangan sipil dan pemberontakan raksasa meluap di pelbagai negara untuk menuntut penangan Covid-19, penguatan tenaga medis dan obat-obatan, penolakan utang luar negeri dan pelbagai aturan bermasalah. pemberian pendidikan dan kesehatan gratis, hingga penggulingan rezim-rezim anti-demokratis. Tiba 2022, gerakan perlawanan berlanjut dan bersusulan. Bulan Maret pemberontakan anti-imperialis pecah di Kazakhstan dan protes anti-pengetatan anggaran menegang di Iran. April kemudian, ribuan pekerja dan pemuda Sri Langka membanjiri jalanan untuk menuntut perbaikan kondisi hidup di tengah inflasi sampai membuat presidennya melarikan diri. Mei berikutnya, peringatan Hari Buruh Sedunia diikuti puluhan juta buruh dan rakyat di pelbagai negeri untuk menentang kapitalisme dan memperjuangkan kesejahteraan sekaligus demokrasi. Kini memasuki September, buruh dan kaum muda Indonesia kembali menjalarkan protes penolakan kenaikan BBM, tarif dasar listrik, pemindahan Ibu Kota Negara, dan penaikan upah. Dalam gerakan-gerakan itu mahasiswa mengambil peran signifikan. Banyak kampus-kampus geopolitik yang disulapnya jadi benteng dalam melaksanakan rapat-rapat akbar dan pertempuran jalanan. Keterlibatan mahasiswa dalam gerakan mampu membangun kontak dengan elemen-elemen kaum tertindas dan menambah kekuatan perlawanan. Sepanjang sejarah, mahasiswa memang memiliki peranan besar pada setiap gelombang-gelombang perjuangan. Pada abad ke-20, gerakan-gerakan mahasiswa tampil melalui peristiwa-peristiwa kolosal, penuh tantangan dan mencekam. November 1939, barisan mahasiswa berjuang menentang Nazi hingga berujung pengepungan dan pembunuhan oleh serdadu-serdadu Hitler. Seterusnya mahasiswa-mahasiswa terus melibatkan dirinya melawan kelas penindas: turut memperjuangkan Revolusi Hongaria, Kuba, dan Aljazair; menyingkirkan sistem monarki di Yunani; membangkang terhadap tiraniknya Syagman Rhee di Korea Selatan dan Kaseem di Irak; menggulingkan kediktatoran Salazar di Portugal, Franco di Spanyol, Marcos di Filipina, dan Soeharto di Indonesia; terlibat perang kemerdekaan Indonesia, Kenya, dan referendum Timur Leste.

Hanya dalam perlawanan terhadap sistem kapitalisme dan kelas borjuis itu gerakan mahasiswa sampai sekarang masih mengambil bentuk perjuangan demokratis dengan penggulingan rezim sebagai capaian tertingginya. Maka setelah monarki dan kediktatoran digulingkan mereka bukan saja rentan mengalami kebingungan membangun kekuasaan ganda, melainkan pula kerap bersekutu dengan borjuis nasional hingga ikut menjadi bagian dari kelas penguasa baru. Begitulah hasil akhir dari babakan insureksi dan revolusi-revolusi demokratik yang dipimpin oleh gerakan borjuis-kecil. Politik borjuis kecil seperti mahasiswa memang sering kali mengabaikan prinsip teori, ideologi, strategi dan taktik perjuangan anti-kapitalis. Posisi kelasnya sebagai borjuis kecil menggelayutkan dirinya pada watak bimbang, inkonsistensi, dan nirkomitmen untuk memperjuangkan kepemimpinan proletariat. Begitulah setelah berhasil menggulingkan rezim maka mahasiswa-mahasiswa bergerak terombang-ambing, cenderung regresif dan tidak progresif. Lihat saja bagaimana perjuangan mahasiswa setelah berhasil menggulingkan rezim Orba Baru (Orba): kemenangan gerakan buruh dan rakyat dalam mengakhiri kekuasaan Soeharto bukan malah dipastikan melalui perjuangan revolusi yang tak terinterupsi, tapi dilanjutkan dengan seruan-seruan kolaborasi kelas bersama borjuis nasional. Inilah langkah politik yang ditempuh Partai Rakyat Demokratik (PRD) lewat pernyataan politik berikut:

“Kepada Megawati Soekarno Putri, pimpinan Partai Demokrasi Indonesia yang diturunkan secara paksa, Amien Rais ketua Muhammadiyah, Budiman Sudjatmiko ketua PRD yang dipenjarakan Sri Bintang Pamungkas ketua PUDI yang dipenjarakan, dan lain-lainnya; sekaranglah waktunya bagi kalian untuk menegaskan kesiapan kalian menggantikan Soeharto. Hal ini harus dilakukan secepatnya karena Soeharto sudah diinginkan lagi oleh rakyat….”

Seruan ini tidak saja menunjukan kecenderungan kolaborasi kelas dari PRD, tapi juga kebimbangannya sebagai partai yang memimpin gerakan. Kebimbangan PRD dalam momen yang menentukan dan ketidaksanggupan borjuis-borjuis nasional mengisi kekosongan kekuasaan akhirnya memberi cela kepada sisa-sisa Orba menduduki tampuk kepresidenan. Sementara ketidakmampuan PRD mempertahankan kemandiriannya dari borjuis begitu memperlihatkan bagaimana ketidakonsistenan menempuh perjuangan kelas. Didominasi oleh aktivis-aktivis mahasiswa maka penyimpangan prinsipil yang dilakukan partai membuktikan bagaimana bulukannya politik borjuis-kecil. Keterikatan seribu benangnya dengan keluarga-inti—yang menguliahkannya guna menaikan stratifikasi sosial atau menambah kebermilikannya terhadap alat produksi dalam skala kecil—menempatkannya pada basis material yang gampang menjadikan borjuis besar sebagai kiblat sosial. Inilah mengapa perjuangan kelas yang terikat pada teori, program, metode dan tradisi proletariat digantikan borjuis-kecil dengan aneka atiribut personal dan individualitas. Makanya perjuangan kelas yang menuntut kemandirian-kelas kontan diabaikan berdasarkan prasangka subyektif terhadap borjuis nasional: merakyat, demokratis, simpatik, tanpa mempertimbangkan posisinya di basis material dan kepentingan kelasnya.

Dipimpin oleh gerakan borjuis-kecil maka perjuangan anti-kapitalisme ibarat berlayar di lautan tanpa peta. Lihat saja bagaimana strategi perjuangannya: bukan pembangunan partai pelopor untuk revolusi sosialis yang dicanangkan, melainkan mobilisasi persatuan yang tidak akan pernah mampu menorehkan capaian tertinggi selain penggulingan rezim. Ketika persoalannya adalah revolusi demokratik untuk menyingkirkan penguasa bonapartis maka mahasiswa-mahasiswa yang mendominasi PRD berjuang secara radikal, penuh elan dan amat militan. Hanya saat pertanyaanya tentang bagaimana menuntaskan revolusi yang telah dimulai; mereka sekelebat mengalami kebingungan dan kemerosotan perjuangan. Begitulah gerakan mahasiswa yang dulunya progresif tenggelam dalam kubangan keregresifan bahkan cenderung reaksioner. Lihat saja kemerosotan PRD sekarang: slogan-slogan demokratis dan arah pengorganisirannya mengilusikan parlementerisme sebagai strategi, tuntutan-tuntutan demokrasi borjuis sebagai program, revolusi dua-tahap ala Stalin dan persatuan lintas-kelas sebagai teori, dan sentralisme birokratik sebagai tradisi dan metode. Mematutkan garis politik macam inilah banyak sekali mahasiswa dan aktivis PRD yang terseret memasuki aneka sangkar kenegaraan dan partai borjuis. Mencermati degenerasi PRD kita jadi mengerti kalau perjuangan kaum muda tak cukup dengan gerakan demokrasi dan kerakyatan semata. Pengalaman PRD menunjukkan bagaimana politik borjuis-kecil tidak mampu menguatkan partai sebagai kendaraan tempur, mempertahankan prinsip-prinsip perjuangan kelas dan menegakkan kepemimpinan revolusioner kelas pekerja. Inilah mengapa perlawanan terhadap kapitalisme takkan pernah tepat dipimpin oleh mahasiswa, tetapi harus proletariat sendiri. Hanya proletariatlah yang mampu memimpin perjuangan meruntuhkan kekuasaan borjuis dan menggali liang kubur kapitalisme, bukan borjuis-kecil atau kelas-antara. Kelahiran proletariat dari rahim produksi kapitalisme yang menghisap kemampuan kerjanya melalui pemisahan penguasaan alat-produksi secara pribadi dan modus kerja-upahan yang menuntut tingkat kedisiplinan, keterorganisiran, dan kesentralan—membuat keberadaan sosial proletar menjadi istimewa: bukan sekadar menjadi kelas yang berkepentingan menghapus kepemilikan pribadi, melainkan pula tampi sebagai kelas yang kuat dan mempunyai kesanggupan menghancurkan kapitalisme. Dalam Manifesto Partai Komunis (1848), Marx dan Engels menjelaskannya begitu rupa:

“Dari semua kelas yang sekarang berdiri berhadapan dengan borjuis, hanya proletariatlah satu-satunya kelas yang betul-betul revolusioner. Kelas-kelas lainnya melapuk dan akhirnya lenyap ditelah industri besar, hanya proletariatlah yang syarat keberadaannya istimewa dan hakiki. Kelas antara/tengah rendahan, pemilik pabrik kecil, pemilik toko kelontongan, pengrajin, petani, semuanya berjuang melawan borjuis untuk menyelamatkan hidup mereka sebagai golongan kelas antara/tengah agar terhindar dari kemusnahan. Oleh karena itu mereka tidak revolusioner, konservatif. Bahkan lebih dari itu, mereka itu reaksioner, karena mencoba memutar kembali roda sejarah. Jika secara kebetulan mereka itu revolusioner, maka mereka berlaku demikian itu hanyalah karena melihat bahaya yang sedang mendekat, berupa kehancuran mereka menjadi proletariat, jadi mereka tidak membela kepentingan-kepentingannya yang sekarang, tetapi kepentingan-kepentingannya di masa mendatang…. Semua gerakan sejarah yang terdahulu adalah gerakan dari minoritas-minoritas, atau untuk kepentingan minoritas. Perjuangan proletar adalah gerakan yang sadar-diri dan berdiri sendiri di antara mayoritas yang melimpah. Proletariat, lapisan yang paling rendah dari masyarakat kita sekarang, tidak dapat bergerak, tidak dapat mengangkat dirinya ke atas, tanpa hancur-luluhnya seluruh lapisan atas masyarakat yang resmi.”

Syarat-syarat hidup itulah yang membedakan proletariat dan borjuis-kecil, buruh dengan mahasiswa. Berada dalam sistem produksi kapitalisme proletariat menempuh perjuangannya tidak bisa melalui cara perorangan dan terpencar-pencar. Keberadaan sosialnya sebagai suatu kelas yang bekerja secara kolektif mengharuskannya berjuang secara bersama untuk memenangkan kepentingan kelasnya: penghapusan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi. Tetapi perjuangan mewujudkan kepentingan kelas proletariat pertama-tama bukanlah menyangkut hal-hal organisasional melainkan persoalan politis. Makanya organisasi proletariat dibentuk dengan meletakkan kepentingan politik proletariat sebagai pusat pendiskusiannya—ini jadi pembeda antara gerakan proletar dengan gerakan-gerakan borjuis-kecil. Ketika borjuis-kecil menyeret pertanyaan-pertantaan organisasional bahkan personal sebagai prioritas pendiskusian; proletariat justru meletakan teori, program, metode dan tradisi perjuangan untuk didiskusikan. Begitulah fenomena pengelompokan tendensi anarkis—borjuis-kecil untuk memisahkan dirinya dari Internasional Pertama sampai perpecahan antara Bolshevik dan Manshevik dalam Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia. Politik borjuis-kecil menutupi kelemahan teoritis dan programatik mereka dengan memasang prasangka dan menyerang metode organisasional ‘kepemimpinan proletariat’ yang menuntut tingkat kesadaran dan pengorganisiran diri yang tinggi dengan gerakan tersentral dan berdisiplin tinggi. Ketika proletarian meletakkan homogenitas politik atau sentralisme demokratis sebagai prinsip dan metode; borjuis-kecil justru memagut heterogenitas politik atau kombinasiisme. Inilah mengapa politik borjuis-kecil berdiri di atas prasangka-prasangka subyektif dan individualitas, menampilkan beragam kecenderungan atau tidak berprinsip secara teoritis, hingga berpraktik dengan mengabaikan kemandirian kelas. Makanya mereka menetapkan tujuan-tujuan parsial tetapi disangkakan sebagai tujuan universal. Lihat saja bagaimana monumen umum gerakan mahasiswa dalam melawan kapitalisme: berdiri di atas tendensi-tendensi hiperaktivisme, radikal bebas, gerakanisme, dan sebagainya.

Itulah kenapa gerakan-gerakan yang mereka bangun kerap mengabaikan pendirian teoritis dan gampang berkolaborasi kelas. Jika persatuan yang mereka dambakan maka yang disatukan bukanlah individu-individu atau organisasi dengan pandangan dan garis politik yang serupa atau menghubungkan tuntutan reforma dengan kebutuhan perubahan sosial mendasar, karena semua orang disubordinasikannya di bawah kesadaran lapisan terbelakang atau kemenangan-kemenangan perjuangan organisasional. Politik borjuis-kecil memang tak memakai perspektif dan stratak yang teruji untuk memastikan kehancuran masyarakat kapitalis. Sebab mereka berjuang bukan berlandaskan teori, program, tradisi dan metode perjuangan kelas yang tepat, melainkan sebatas berkiblatkan tujuan-tujuan organisasional, sentimen-sentimen emosional, bahkan kepentingan-kepentingan personal yang diyakininya merupakan sikap realistis. Begitulah benang kusut yang mendominasi gerakan mahasiswa sekarang! Meski mereka sering kali terlibat peristiwa-peristiwa kolosal, namun perjuangannya gampang tenggelam dalam gerakan moral, terseret dari isu-ke-isu, sesak akan popularitas-ketokohan, berpikiran seluas piring nasi dan membangun bergaining di hadapan kekuasaan. Singkatnya, borjuis-kecil tampil sebagai spesies tak berprinsip—terombang-ambing seperti ranting di tengah lautan lepas dan gelombang perjuangan kelas yang deras. Mereka keliru mempersepsikan letupan emosi, ketidaksabaran, spontanitas, keraguan dan ketakutannya sebagai ekspresi dan bagian dari perjuangan massa yang besar. Meski borjuis-kecil diasosiasikan berkarakter penuh prasangka, keragu-raguan dan rentan berkhianat, tetapi dalam perkembangan sosio-historis mereka bisa menjadi kekuatan cadangan bagi proletariat. Posisi sosialnya di basis material dengan kepemilikan modal berskala kecil membuatnya ikut tergerus oleh pemilik-pemilik modal skala besar. Pada situasi krisis kapitalisme kontradiksi antara borjuis-kecil dengan borjuis-besar meningkat. Over-produksi sebagai kontradiksi inheren kapitalisme menyeret borjuis-kecil menuju kubangan kesengsaraan, pengangguran, kemiskinan dan kehinaan. Dalam keadaan inilah kepemimpinan proletariat dapat memenangkan massa borjuis-kecil ke sisinya sebagai tambahan kekuatan. Tetapi jika belum ada kepemimpinan proletariat maka borjuis-borjuis kecil saat berlangsungnya krisis dapat terseret ke dua arah: (1) reaksioner karena bermetamorfosis jadi elemen kekuatan fasis yang menjadi penyangga kekuasaan borjuis atau (2) teradikalisasi menempuh perjuangan revolusioner dan mengambil peran kepeloporan. Metamorfosis borjuis-kecil menjadi elemen kekuatan fasis nampak melalui kebangkitan fasisme Mussolini di Italia, nazisme Hitler di Jerman, bahkan neofasisme Soeharto di Indonesia. Sementara teradikalisasinya borjuis-kecil ke arah perjuangan revolusioner menyalak melalui pelbagai gerakan pembebasan nasional melawan otokrasi, kolonialisme, dan kediktatoran borjuis di pelbagai negeri Dunia Ketiga.

Di sisi lain kita dapat menemukan begitu banyaknya pemimpin-pemimpin revolusioner yang datang dari kalangan borjuis-kecil pula. Marx, Engels, Lenin, Trotsky, Tan Malaka, Ted Grant dan Alan Woods—merupakan beberapa di antaranya. Akses mereka di perguruan tinggi tak sia-siakan begitu saja. Pelajaran yang mereka dapatkan tak cuma dari tenaga-tenaga pengajar, tapi lebih banyak dari kelompok-kelompok studi radikal dan konfrontasi-konfrontasi langsung melawan kelas penguasa. Kecerdasan, pengetahuan dan pengalaman yang mereka dapatkan melalui keterlibatan dalam aktivitas pendidikan dan perjuangan politik membentuk perspektif untuk melangkah keluar dari kepentingan kelas sosial awalnya. Tetapi tanpa terus-menerus meningkatkan kesadaran dan pengorganisiran diri maka proses bunuh diri kelas borjuis-kecil akan tertahan oleh semangat, adat dan kebiasaan lamanya. Dalam keadaan inilah kehadiran organisasi pelopor revolusioner dibutuhkan guna mengklarifikasi ideologi atau membangun kejelasan perspektif anti-kapitalisme untuk mendidik borjuis-borjuis kecil yang teradikalisasi menjadi pelayan kepentingan proletariat; sedangkan borjuis-kecil diharuskan menghubungkan dirinya dengan pendidikan dan aksi-aksi revolusioner dari organisasi pelopor revolusioner untuk membangun partai pelopor revolusioner–yang akan menjadi partai massa buruh revolusioner—organisasi politik tertinggi proletariat untuk memastikan keberhasilan revolusi sosialis: menghadapi kekuatan ganda, menggulingkan kekuasaan borjuis, penghapusan kepemilikan pribadi, pelaksanaan kediktatoran proletariat dan perekonomian terencana, meningkatkan produksi kekayaan material dan penguatan republik sosialis, melancarkan revolusi permanen dan penyatuan republik-republik sosialis secara sukarela, pelenyapan negara dan mewujudkan masyarakat tanpa kelas. Hanya organisasi macam itulah yang sanggup berjuang berdasarkan praksis revolusioner: menyatukan teori dan praktik sosialis revolusioner. Tanpa menghubungkan diri dengan organisasi pelopor revolusioner maka mahasiswa yang teradikalisasi dan maju perspektifnya takkan mampu mempertahankan kesadaran dan aktivitas politiknya di tengah hegemoni borjuis. Bagi organisasi pelopor revolusioner, mahasiswa ditempatkan pada posisi strategis. Saat situasi non-revolusioner—ketika organisasi pelopor tidak mempunyai pengaruh signifikan dalam gerakan massa dan belum mampu memimpin perjuangan kelas dengan merekrut lapisan paling maju dari kelas pekerja—maka mahasiswa didekati sebagai elemen sosial yang paling penting untuk dimenangkan melalui strategi kepemimpinan revolusioner: ‘lapisan paling maju dan sadar kelas dari proletariat harus mengorganisir diri membentuk organisasi politik demi menarik lapisan terluas dari kelas buruh serta memenangkannya ke garis politik Marxisme revolusioner sekaligus menjadi perwujudan angkatan politik proletar melawan musuh musuh kelasnya’.

Dengan keseharian mahasiswa yang menggeluti pelajaran-pelajaran teoritis dan abstrak, maka organisasi pelopor berpotensi besar untuk menarik mereka mempelajari teori-teori sosialis revolusioner. Melihat berbagai bentuk pergolakan dan radikalisasi hingga mekarnya aneka kecenderungan radikal di sektor kemahasiswaan; organisasi pelopor berkepentingan untuk melancarkan intervensi guna melawan penyimpangan ideologis dan perekrutan pelopor. Melalui Kepentingan Strategis atas Pengorganisiran Mahasiswa (2013), Sandra Bloodworth mengingatkan: ‘setiap kelompok revolusioner yang mengecil-ngecilkan pentingnya pekerjaan membangun di antara mahasiswa berisiko kehilangan kesempatan untuk memulai proses pembangunan partai revolusioner massal saat kesempatan itu muncul’. Kaum sosialis revolusioner tidak menyangkal kalau ideologi dominan di setiap masyarakat adalah ideologi kelas penguasa dan terdapat stratifikasi kesadaran massa. Tetapi melalui pembangunan di sektor kemahasiswaan organisasi pelopor dapat melemahkan tendensi borjuis dan borjuis-kecil dalam gerakan mahasiswa dan menghadang lajur ideologi-ideologi itu di gerakan massa. Didekatinya massa-mahasiswa melalui pendidikan-pendidikan politik dan aksi-aksi revolusioner maka organisasi pelopor berperan membangkitkan dan meluaskan perjuangan kelas—sentralisasi kesadaran, generalisasi pengalaman, penyebaran pengetahuan secara terus-menerus, hingga penarikan kesimpulan dan prinsip-prinsip umum dari aktivitas-aktivitas perjuangan untuk sosialisme.

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai