Kategori
Stratak

Strategi untuk Revolusi Proletariat

“Angin bersiul, badai mengamuk, sepatu kita rusak, tapi kita harus terus berjalan, menaklukan mata air merah, tempat terbitnya matahari masa depan…. Maju kamerad! Maju! Bawa suara kalian ke suara kami. Maju kamerad! Maju! Dan matahari akan bersinar untuk kita semua. Untuk fajar baru ini. Bergabunglah dengan kami. Dan bersama-sama kita akan membawa. Ke setiap sudut dan setiap rumah. Bendera merah rubi kita.” (Bandiera Rossa)

“Ketika aku menengok ke belakang, mereka masih ada. Melambai. Tampak seperti sesimpul buhul kecil. Orang-orang yang hidup dengan impian mereka, sementara dunia tengah hidup dalam mimpi-mimpi buruknya. Setiap malam aku memikirkan perjalanan ini … Aku tahu dia pasti bergerak, tengah berbaris, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk menjaga agar harapan tetap hidup untuk kita semua.” (Bersama Para Kamerad)

Seratus tujuh puluh dua tahun lalu Marx dan Engels menulis Manifesto Partai Komunis. Bahwa perkembangan sejarah dimotori oleh perjuangan kelas. Pertentangan-pertentangan kepentingan antara kelas-kelas sosial dalam masyarakat telah mendorong perubahan besar. Penguasaan kekayaan material dan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi sosial memecah masyarakat menjadi dua golongan utama yang berposisi antagonis: tuan budak dan budak (perbudakan); tuan tanah dan tani hamba (feodalisme); borjuis dan proletariat (kapitalisme).

Pengelompokan kelas-kelas sosial ini berlangsung di atas perampasan hasil kerja sosial yang mengambil dua bentuk barbarisme: (1) pembudakan anggota kelompok tertentu yang terjerat hutang dan (2) penghancuran perkampungan-perkampungan komunal melalui monopoli-monopoli pengetahuan dan keterampilan yang berguna untuk pembangunan proyek-proyek raksasa. Semua cara produksi masyarakat berkelas berlangsung melalui eksploitasi tenaga kerja, tapi cuma dalam masyarakat kapitalislah tenaga-tenaga produktif mampu mencapai taraf perkembangan dan karakter sosial obyektif untuk mengakhiri eksploitasi masyarakat berkelas. Sebab pada tahapan historis inilah berlangsungnya perkembangan-perkembangan teknik dan penggunaan mesin yang mendorong proses produksi hingga memiliki karakter sosial: meniscayakan penggabungan orang-orang dalam jumlah raksasa untuk bekerja secara kolektif dengan pembagian kerja yang mengglobal pada kegiatan produksinya. Mematutkan persaingan dan monopoli borjuis memberikan sifat kosmopolitan dari kegiatan produksi dan konsumsi yang ada. Inilah mengapa borjuis tumbuh di mana-mana hingga mengakhiri atau mensubordinasi semua relasi-relasi sosial masyarakat berkelas sebelumnya. Bahkan sekarang borjuis telah berhasil mengoyak-ngoyak semua selubung kekeluargaan, merecoki ikatan-ikatan paling intim, hingga menjulurkan pelacuran umum di mana-mana.

Setelah revolusi-revolusi borjuis di Inggris, Amerika dan Prancis—kapitalisme di Barat kemudian berhasil menggulingkan kekuasaan feodalisme: agama dengan negara dipisahkan, gilda-gilda patriarkal ditenggelamkan, pemilihan umum dan parlemen borjuis didirikan, kebebasan pers hingga reforma-reforma dan negara yang kuat melalui badan-badan bersenjatanya mengada. Dalam kondisi inilah pasar-pasar nasional dileburkan menjadi pasar dunia dan kekayaan-kekayaan pelbagai bangsa disasar untuk dikuasai. Berdiri di atas kepentingan mempertahankan kepemilikan pribadi dan memupuk laba borjuis merevolusionerkan produksi melalui pengembangan-pengembangan teknik. Didorong oleh meluasnya pemakaian mesin, pelayaran kapal, penerbangan pesawat, jalan dan jembatan, rel kereta api, penyaluran irigasi, pembukaan benua untuk tanah garapan, penggunaan ilmu kimia pada industri, dan aneka pengembangan sains modern—maka kehidupan umat manusia termodernisasi: corak-corak produksi tradisional disingkirkan dan kerja-upahan berlangsung menjadi monumen perbudakan modern. Sekitar 5 abad lalu memancang di Eropa Barat—kapitalisme terus memekarkan kejahatan, kemiskinan, kesenjangan, kelaparan, kegilaan, kerusakan lingkungan, perang dan pembantaian. Walau pada awalnya perkembangan ekonomi dan sosial meningkat tajam, tetapi jalannya kekuatan modal mengambil sifat antagonis: ekpropriasi nilai lebih dari kemampuan kerja buruh secara kejam. Dimulai dari kapitalisme-merkantilisme (perdagangan dan penjajahan), dilanjutkan kapitalisme-liberalisme dan neoliberalisme (kebijakan pasar bebas), hingga diakhiri kapitalisme-imperialisme (monopoli kapital finans)—begitulah persaingan, perebutan keuntungan, anarki produksi, dan krisis periodik selalu menjadi ciri umum kapitalisme. Hanya krisis-krisis yang terjadi semakin mendorong kapitalisme berpartisipasi dalam pasar dunia dengan menggencarkan perdagangan dan investasi kolonial. Begitulah negeri-negeri Dunia Ketiga diseret masuk pusara eksploitasi dan penindasan paling brutal. Sampai sekarang Asia, Afrika, dan Amerika Latin didekatinya sebagai wilayah-wilayah koloni dan semi-koloni.

Atas nama perdagangan dan investasi negeri-negeri terbelakang ini dijadikan lumbung memperoleh sumber daya alam dan tenaga kerja murah. Sejak awal cara-cara yang dipakainya amat biadab: perang, penaklukan, pendudukan, maupun perbudakan terhadap penduduk setempat. Dalam keadaan inilah perkembangan kapitalisme di Dunia Ketiga berlangsung unik: menjangkarnya kapital di negeri-negeri terbelakang diekspor oleh negara-negara kapitalis maju—Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sebagainya—yang tidak sekadar mengikat borjuis nasional dengan ketergantungan pada modal asing, tapi juga mempertahankan sisa-sisa feodal, menciptakan situasi koloni maupun semi-koloni, dan menghambat penuntasan revolusi demokratik. Ketidakberimbangan perkembangan kapitalisme antara negeri-negeri kapitalis maju dan kapitalis terbelakang telah membelenggu Dunia Ketiga dengan onggokan persoalan penindasan nasional. Kini memasuki zaman imperialisme kontradiksi-kontradiksi dalam masyarakat kapitalis semakin brutal. Bangsa-bangsa dari semua negeri bahkan—yang paling terbelakang dan biadab sekalipun—diseret dan diperadabkan berdasarkan parameter kebudayaan borjuis. Terus mempertahankan kontradiksi pokok—sosialisasi proses produksi dan penguasaan alat-alat produksi secara pribadi, maka borjuis menggencarkan penaklukan Timur kepada Barat; pinggir kepada pusat; desa kepada kota hingga menimbulkan aneka kontradiksi lainnya: dorongan pemodal memaksimalkan keuntungan versus kecenderungan penurunan tingkat keuntungan, ekspansi produksi tak terbatas versus ketidakmampuan konsumsi individu dan sosial dari buruh, organisasi produksi yang terencana versus sifat anarkistik produksi kapitalis, internasionalisasi produksi versus pembagian dunia sebagai negara-bangsa terpisah-pisah, dan sebagainya. Meski kapitalisme bersifat internasional tapi perjuangan kelas proletariat melawan borjuis memberi posisi sentral kepada negara. Inilah mengapa dalam menanggulangi krisis kapitalisme negara-negara imperialis berupaya melancarkan intervensinya. Pakta NATO dan Dewan Kemananan PBB tampil sebagai polisi dunia imperialisme. Sedangkan IMF dan Bank Dunia memerankan fungsi rentenir yang memeras dan mendiktekan kebijakan-kebijakan neoliberalisme. Aneka intervensi itu berupa pembelian perusahaan lokal, penaklukan pasar luar negeri dan perlindungan pasar lokal, pinjaman hutang, hingga perang dan pendudukan yang begitu rupa. Semuanya digencarkan guna menyelamatkan perusahaan-perusahaan multinasional dan mengamankan sistem finansial sehingga memperpanjang nafas kapitalisme. Hanya setiap krisis yang terjadi semakin menajamkan kontradiksi kapitalisme. Sekarang imperialisme telah mengintegrasikan tenaga produktif secara mendunia, memusatkan alat produksi di tangan ratusan perusahaan multinasional, menyosialisasikan kerja berskala raksasa, mempolarisasi struktur kelas antara pekerja-upahan dengan keluarga-keluarga super kaya, hingga menambah tingkat antagonisme antara borjuis dan proletariat.

Kontradiksi inheren kapitalisme tidak sekadar tampil melalui over-produksi dan persaingan antara negara-negara imperialis, tapi juga manjangkari Dunia Ketiga dengan ‘horor tanpa akhir’: memperparah kemiskinan, merebakan kriminalitas, menjalarkan rasisme, seksisme, femisida, homophobia, dan militerisme. Pembusukan sosial-ekonomi dalam masyarakat kapitalis ini menjadi syarat obyektif untuk revolusi sosialis dunia—kapitalisme sedang sekarat karena sudah memenuhi misi historisnya. Hanya perubahan masyarakat secara mendasar ini tak bisa berlangsung serentak, tetapi mengikuti hukum ‘perkembangan yang tidak merata dan terpadu’. Dalam kondisi inilah revolusi sosialis dunia harus menemukan negara-bangsa yang menjadi mata rantai paling lemah dari imperialisme. Kini keperkasaan imperialis di negeri-negeri kapitalis maju memberitahukan kalau Amerika dan Eropa tidak mampu tampil sebagai pusat revolusi dunia. Mata rantai imperialis terlemah tak berada di sana, melainkan di negeri-negeri koloni maupun semi-koloninya. Dunia Ketiga memang memiliki dua kelemahan: (1) bobot kelas pekerja yang terbatas dalam total populasi aktif dengan keberadaan daerah pedalaman yang luas dan (2) tingkat persiapan teknik, budaya, dan politik kelas pekerja yang jauh lebih rendah ketimbang negara-negara kapitalis maju. Dalam zaman imperialisme kelemahan-kelemahan Dunia Ketiga itu dapat diubah menjadi kekuatan bagi kelas pekerja. Tersatukannya pasar-pasar nasional menjadi pasar dunia bukan saja semakin menghadapkan proletariat dengan krisis hubungan produksi kapitalis dan hubungan-hubungan borjuis lainnya, tapi juga ikut meningkatkan bobot sosial, ekonomi dan politik kelas pekerja. Keberhasilan Revolusi Oktober 1917 membuktikan itu semua. Bahwa perkembangan kapitalisme tak sekadar meningkatkan ekspansi, eksploitasi dan akumulasi kapital; melainkan pula membawa kepada kediktatoran proletariat. Sejarah Revolusi Rusia membuktikan kalau kekuasaan kelas pekerja tak bergantung tingkat kekuatan produksi dalam negeri, tapi relasi-relasi perjuangan kelas, situasi internasional, dan sejumlah faktor subyektif—tradisi, inisiatif, dan kesiapan proletariat untuk bertempur. Dalam Revolusi Permanen: Teori Revolusi Sosialis untuk Dunia Ketiga (2013), Leon Trotsky menjelaskan berikut:

“Adalah mungkin bagi kaum buruh di negeri yang ekonominya terbelakang untuk berkuasa lebih awal daripada kaum buruh di negeri maju. Pada 1871, kaum buruh mengambil-alih kekuasaan di kota borjuis-kecil Paris—benar, ini hanya bertahan 2 bulan. Tetapi di pusat-pusat kapitalis besar di Inggris dan Amerika kaum buruh tidak pernah mengambil-alih kekuasaan bahkan untuk satu jam pun. Untuk berpikir bahwa kediktatoran proletariat secara otomatis tergantung pada perkembangan teknik dan sumber daya sebuah bangsa adalah sebuah prasangka materialisme ‘ekonomi’ yang menggelikan. Cara berpikir ini bukanlah Marxisme…. Kita akan membahas pertama-tama kondisi subyektif: kesiapan kelas proletar untuk revolusi sosialis. Tentu saja, tidaklah cukup kalau tingkat teknologi sudah membuat ekonomi sosialisme lebih unggul dari sudut pandang tenaga kerja sosial. Juga, tidaklah cukup kalau diferensiasi sosial yang berdasarkan tingkat teknologi ini telah menciptakan kelas proletar yang merupakan kelas utama karena jumlah dan peran ekonominya, dan yang secara obyektif tertarik pada sosialisme. Kelas ini juga harus sadar akan kepentingan-kepentingan obyektifnya; kelas ini juga harus memahami bahwa tidak ada jalan keluar kecuali melalui sosialisme; kelas ini juga harus bersatu di dalam sebuah pasukan yang cukup kuat untuk menaklukkan kekuasaan politik di dalam perang terbuka.”

Revolusi sosialis berbeda dengan revolusi-revolusi sebelumnya. Bukan hanya revolusi ini dimulai dari satu negeri, harus menyebar ke negeri-negeri lain, dan akan berkahir di skala dunia. Tetapi juga revolusi sosialis menjadi satu-satunya revolusi yang dipimpin oleh kelas sosial terendah dan secara sadar, sistematis, dan terorganisir bertujuan menjungkirbalikan kehidupan umat manusia: menghapuskan semua relasi kepemilikan lama. Di abad XX, kelas proletar Rusia membuat semua negeri terperangah melalui perjuangan dan pencapaiannya untuk revolusi sosialis dunia. Ketidakmungkinan untuk kekuasaan proletariat di negeri terbelakang terpatahkan oleh kemegahan sejarah yang dicetak kaum buruh dan tani, Bolshevik, Lenin, Trotsky, dan kamerad-kameradnya di Rusia. Mereka berhasil mendirikan negara buruh dan tani melalui perjalanan panjang, penuh rintangan, menguji kesabaran, menuntut kesadaran tinggi dan disiplin baja. Begitulah proses yang mereka lalui untuk menggulingkan kekuasaan Tsar dan Karensky, hingga memancangkan Republik Sosialis Uni Soviet—dimulai dari kerja lingkaran propaganda; menerbitkan pelbagai surat kabar dan pamflet maupun selebaran agitasi; membentuk Liga Pembebasan untuk Kelas Buruh; menentang tendensi borjuis-kecil (oportunisme; sektarianisme dan terorisme individual); mendirikan Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (PBSDR); perseteruan fasksional antara Bolshevik (Mayoritas) dengan Menshevik (Minoritas); mengintrodusir Revolusi Permanen; memobilisasi dan megintervensi letusan Revolusi 1905; mengupayakan terbentuknya Majelis Konstituante sebagai Pemerintahan Sementara Revolusioner (Buruh dan Tani); mengahadapi reaksi tentara putih; bekerja di serikat-serikat buruh; pendirian Partai Bolshevik; memajukan Revolusi Februari 1917; mengeluarkan Tesis April; megonsolidasikan kekuasaan untuk Soviet, berpropaganda menggunakan Duma; membentuk Tentara Merah; melawan kepungan 24 negara imperialis dan perang sipil kontra-revolusi; menggagalkan Kudeta Kronshtadt dan Kornilov; mengupayakan front persatuan dan aliansi buruh-tani; merebut Istana Musim Dingin; memenangkan Revolusi Oktober 1917; membangun Internasional Ketiga (Komunis Internasional—Komintern); melaksanakan perekonomian terencana dan demokrasi sosialis, reforma agraria, pembebasan perempuan dan LGBT, dan pemberian HMNS bagi bangsa-bangsa tertindas—yang merupakan tugas-tugas revolusi demokratik—yang tidak dapat diselesaikan kelas borjuis; dan menghadapi kasta birokrasi dan pengkhianatan Stalin.

Dalam membangun kekuasaan proletariat kaum Marxis mengaitkan peran kunci dari krisis revolusioner (kondisi obyektif) dan hubungan dialektisnya dengan ‘faktor subyektif’.  Guna mendorong ke arah krisis revolusioner maka kebangkitan gerakan massa spontan harus dikombinasikan bersama ketidakmampuan kelas penguasa untuk memerintah. Vladimir Ilich Ulyanov (Lenin) menjelaskannya begitu: ‘ketika kelas bawah tidak lagi ingin diperintah dengan cara lama dan ketika kelas atas tidak lagi dapat melanjutkan kekuasaan dengan cara lama’. Tepatnya situasi revolusioner menurutnya berupa: (1) krisis di atas kelas-kelas atas; (2) penderitaan dan keinginan kelas tertindas telah mengakut ketimbang biasanya hingga mereka menolak diperintah dengan cara-cara lama; dan (3) akibatnya adalah meningkatnya aktivitas sosio-politis massa. Sementara gambaran menuju krisis revolusioner dijelaskan Ernest Mandel dalam artikelnya tentang ‘Strategi Revolusioner di Eropa’: (1) dekomposisi yang sangat tinggi dari mesin aparatus represif negara baik karena perang, kudeta, atau pemberontakan yang dapat menghancurkan polisi dan tentara dari ‘dalam’; (2) suatu generalisasi atau perkembangan yang luas dari organ-organ kekuasan pekerja dan rakyat sampai pada titik terciptanya ‘kekuatan ganda’ hingga melemahkan aparatus represif negara; dan (3) dimensi politik-ideologis dari krisis yang memuncak sampai menimbulkan krisis legitimasi terhadap lembaga-lembaga negara.

Mengintervensi kondisi obyektif seperti itulah Bolshevik tampil sebagai kepemimpinan proletariat yang berperan memenuhi syarat subyektifnya: (1) kesadaran revolusioner massa, komitmen dan keteguhannya membawa perjuangan kelas sampai garis akhir; (2) organisasi tersentral, kuat dan berdisiplin dari massa dan pelopornya, yang membuatnya dapat mengonsentrasikan semua sumber daya untuk berjuang dan memenangkan revolusi; dan (3) kepemimpinan terhadap lapisan paling luas dari kelas pekerja oleh revolusioner profesional yang terorganisir, berpengalaman dan terlatih untuk bertempur dengan mengembangkan taktik perjuangan yang tepat dan menerapkannya secara praksis (kesatuan teori dan praktek). Hubungan-hubungan dialektis antara situasi revolusioner, partai, pelopor dan massa inilah yang berkembang jauh sebelum Revolusi 1905, pada Revolusi September 1917, sampai Revolusi Oktober 1917. Dalam keadaan Rusia sebagai negeri terbelakang di tengah zaman imperialis, sejak bergerak sebagai kelompok-kelompok propaganda kecil Bolshevik mengakarkan perjuangannya di lautan heterogenitas kesadaran ‘kelas pekerja dan tani miskin’ dan mengarungi samudera ‘populisme borjuis kecil’ dan ‘kereaksioneran borjuis nasional’ dengan menerapkan strategi Kepeloporan Revolusioner—pembangunan Partai Pelopor Revolusioner hingga menjadi Partai Massa Buruh Revolusioner: ‘lapisan paling maju dan sadar kelas dari proletariat mengorganisir diri membentuk organisasi politik guna menarik lapisan-lapisan terluas kelas pekerja untuk diyakinkan dan dimenangkan ke arah politik revolusioner sekaligus menjadi kekuatan politik proletariat dalam melawan musuh-musuh kelasnya’.

Jika saja kaum marxis revolusioner di Rusia tidak membangun Bolshevik—ini bukan saja berarti kosongnya kepemimpinan proletariat, tapi juga tidak mungkinnya ingatan-ingatan akan gerakan-gerakan massa spontan dan pengalaman-pengalaman perjuangan kelas yang berlangsung jauh sebelum 1905-1917 dirawat, dipelajari dan dikembangkan untuk digeneralisir dan menarik kesimpulan maupun prinsip-prinsip umum dari hasil-hasil perjuangan kelas. Hanya setelah kehadiran Bolsheviklah kondisi obyektif mampu dihadapi dengan teori, program, tradisi dan metode perjuangan yang tepat, negara terbelakang di zaman imperialis pun dijungkirbalikan, dan sejarah dunia diubah melalui kekuasaan buruh yang didukung tani. Meski Menshevik, Revolusioner Sosialis, Trudovik, Oktoberis, Kasta Birokrasi dan Stalinis tak menghendaki kediktatoran proletariat dan perjuangan untuk revolusi sosialis dunia, tapi keberadaan Bolshevik-Leninis telah mengonsolidasikan seluruh kekuasaan di tangan proletariat—baik dengan Dua Taktik Sosial-Demokrasi dalam Revolusi Demokratik (Pembentukan Majelis Konstituante dan Pemerintahan Sementara Revolusioner—‘kediktatoran revolusioner demokratik dari proletariat dan petani miskin’: {1} mewujudkan republik demokratik sebagai syarat mendapatkan kebebasan politik untuk memperjuangkan sosialisme; {2} pendirian republik demokratik cuma bisa dicapai melalui pemberontakan populer dengan berorgankan Pemerintahan Sementara Revolusioner untuk melancarkan kerja-kerja reguler: organisasi, agitasi dan propaganda demi memperluas dan memperkuat ikatan dengan massa; {3} revolusi demokratik yang dipimpin proletariat haruslah menajamkan antagonisme dengan kelas borjuis dan imperialisme—syaratnya adalah: {a} menyebarluaskan ide-ide sosialisme, revolusi permanen, dan merealisasikan program minimum PBSDR secara radikal; {b} anggota PBSDR yang terlibat dalam Pemerintahan Revolusioner Sementara harus mempertahankan independensi kelas dengan melawan semua upaya kontra-revolusi; {c} PBSDR harus mengontrol perwakilannya secara ketat dan mempertahankan kemandiriannya dengan melancarkan perlawanan terhadap partai-partai borjuis; {d} mengorganisir massa-proletariat bersenjata untuk memberikan tekanan permanen terhadap Pemerintahan Sementara Revolusioner guna mendorong maju revolusi demokratik ke arah revolusi sosialis tanpa terinterupsi [oleh Revolusi Dua Tahap ala Menshevik dan Stalinis: menggantikan kediktatoran proletariat dan revolusi sosialis dunia dengan kediktatoran borjuis dan revolusi sosialis di satu negeri]), maupun Tesis April-nya Lenin (PD I sebagai perang imperialis; revolusi terus bergerak hingga kekuasaan akan diperoleh buruh dan tani; Pemerintahan Provisional kaum borjuis jangan didukung; Bolshevik harus menjelaskan dengan sabar dan sistematis tentang kekeliruan partai lain dan sudah waktunya seluruh kekuasaan diserahkan ke Soviet; polisi dan tentara reguler beserta birokrasi dari negara borjuis harus dibubarkan dan digantikan dengan Republik Soviet—dewan-dewan buruh, tani, dan prajurit; seluruh perkebunan disita dan tanah-tanah dinasionalisasi; semua bank disatukan di bawah kontrol soviet; partai segera menggelar Kongres untuk memperbaiki programnya; dan Internasional baru mesti didirikan)—dan membuktikan ketepatan teori Trotsky tentang Revolusi Permanen untuk Revolusi Sosialis di Dunia Ketiga yang mengikuti ‘hukum perkembangan tak berimbang dan tergabungkan’ dari sejarah dunia:

“Berkaitan dengan negeri-negeri yang perkembangan borjuisnya terlambat [bersama lautan massa borjuis-kecilnya], terutama di negeri-negeri koloni dan semi-koloni, Teori Revolusi Permanen menunjukan bahwa solusi utuh dan sejati dan tugas-tugas mereka untuk mencapai demokrasi dan pembebasan nasional hanya dapat dicapai melalui kediktatoran proletariat sebagai pemimpin bangsa yang tertindas, terutama sebagai pemimpin massa kaum tani. Tidak hanya masalah agrarian, namun juga masalah kebangsaan memberikan kaum tani [dan borjuis-kecil lainnya]—yang merupakan mayoritas besar dari populasi di negeri-negeri terbelakang—sebuah posisi yang luar biasa dalam revolusi demokratik. Tanpa aliansi antara buruh dan kaum tani, tugas-tugas revolusi demokratik tidak dapat diselesaikan, atau bahkan dimajukan secara serius. Namun aliansi kedua kelas tersebut hanya dapat diwujudkan melalui perjuangan tak-terdamaikan melawan pengaruh kaum borjuasi nasional-liberal. Apapun tahapan-tahapan episodik pertama dari revolusi yang berlangsung di tiap-tiap negeri, pencapaian aliansi revolusioner antara kaum proletariat dan kaum tani hanya dapat terjadi di bawah kepemimpinan politik dari kaum pelopor proletariat, yang terorganisir di dalam Partai Komunis. Ini berarti bahwa kemenangan revolusi demokratik hanya dapat dicapai melalui kediktatoran proletariat yang mendasarkan dirinya atas aliansi dengan kaum tani dan pertama-tama menuntaskan tugas-tugas revolusi demokratik…. Kediktatoran proletariat yang telah naik ke tampuk kekuasaan sebagai pemimpin revolusi demokratik secara tak terelakkan dan dengan segera dihadapkan pada tugas-tugas, yang pemenuhannya terikat dengan sangat erat pada hak-hak kepemilikan pribadi borjuis. Revolusi demokratik berkembang secara langsung menjadi revolusi sosialis dan oleh karena itu menjadi sebuah Revolusi Permanen…. Penaklukan kekuasaan oleh proletariat belum menyelesaikan revolusi, namun hanya membukanya. Pembangunan sosialis hanya dapat tercapai di atas pondasi perjuangan kelas, dalam skala nasional dan internasional. Perjuangan ini di bawah kondisi relasi-relasi kapitalis di panggung dunia, secara tak terelakkan akan mengakibatkan ledakan-ledakan, yaitu, secara internal perang sipil dan secara eksternal perang revolusioner…. Penuntasan revolusi sosialis di dalam batasan-batasan nasional adalah sesuatu yang tak terbayangkan. Salah satu alasan dasar dari krisis masyarakat borjuis adalah kenyataan bahwa kekuatan-kekuatan produksi yang diciptakan olehnya tidak dapat lagi didamaikan oleh kerangka negara-bangsa … Garis besar di atas yang menggambarkan perkembangan revolusi dunia menghilangkan persoalan mengenai negeri-negeri yang ‘sudah matang’ atau ‘belum matang’ untuk sosialisme … Selama kapitalisme telah menciptakan pasar dunia, pembagian kerja skala dunia, dan kekuatan produksi skala dunia, dia juga telah menciptakan ekonomi dunia secara keseluruhan untuk transformasi sosialis.”

Begitulah Revolusi Oktober 1917 yang dipersenjatai dengan Strategi Kepeloporan Revolusioner, Teori Revolusi Permanen, dan Kediktatoran Proletariat (Soviet) menjadi monumen pembebasan bagi kaum tertindas, terhisap dan miskin sedunia. Semangat dan harapan, api dan baja yang meletuskan perjuangan buruh dan tani di negeri terbelakang ini mengguncang dunia. Di Australia: mendengar kemenangan revolusi Oktober maka seluruh buruh bersuka cita, meninggalkan pabrik saat kerja, dan mengibarkan perayaan di jalan raya. Di Amerika Serikat: keanggotaan Partai Sosialis Amerika meningkat pesat dan buruh tumpah-ruah ke jalanan menuntut Pemerintahan Imperialis Amerika memberikan pengakuan terhadap Republik Sosialis Uni Soviet. Bahkan  perjuangan untuk revolusi sosialis dunia itu pula menjadi inspirasi utama dalam perjuangan-perjuangan pembebasan nasional di negeri-negeri koloni dan semi-koloni di Afrika, Asia, dan Amerika Latin sepanjang abad ke-20. Di Indonesia, gerakan anti-kolonialisme segera mengancam kolonial dengan mendirikan ISDV sebagai embrio dari Partai Pelopor Revolusioner—dan mengutip Revolusi 1917, Sneevliet menulis artikel yang berjudul ‘Kemenangan’ dan menegaskan kalau kolonialisme Belanda ‘akan mengalami nasib serupa jika orang-orang Indonesia menghendakinya’. Di Kuba, Fidel Castro juga ikut membuat pernyataan: ‘tanpa Revolusi Oktober akan tidak mungkin mengakhiri kolonialisme dan membebaskan rakyat di seluruh benua’. Di Meksiko, Emalino Zapata juga menyadari bahwa perjuangan revolusioner buruh dan tani di Rusia dapat diambil tauladan guna memperjuangkan kebebasan di negerinya: ‘kita akan mendapat banyak kemajuan, keadilan manusia akan mendapat banyak kemajuan, jika rakyat di Benua Amerika kita dan semua bangsa di Eropa memahami bahwa cita-cita revolusi Meksiko, seperti cita-cita rusia yang tak tertebus, adalah mewakili cita-cita umat manusia, kepentingan puncak kaum tertindas’.

Di India, K.P. Khaldikar merilis berita untuk bangsanya: ‘Lenin menerbitkan dekrit yang menyatakan hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri, dan kebebasan telah diberikan kepada negara-negara Baltik dan rakyat Polandia untuk menjalankan hak tersebut’. Di Tiongkok, Mao muda (sebelum tenggelam dalam Partai Komunis Cina yang Stalinis) pun tersulut: ‘banyak hal di Cina sama atau serupa dengan Rusia sebelum Revolusi Oktober. Ada penindasan feodal. Ada keterbelakangan ekonomi dan budaya yang serupa. Kedua negeri ini ketinggalan, Cina terlebih-lebih lagi. Di kedua negara juga, demi regenerasi nasional kaum progresif memberanikan diri menjalankan perjuangan yang berat dan getir dalam pencarian mereka atas kebenaran revolusioner. Revolusi Oktober membantu kaum progresif di Cina, sebagaimana di seluruh dunia, untuk menganut pandangan dunia proletarian sebagai instrumen untuk mempelajari takdir sebuah bangsa dan melihat masalah-masalah mereka sendiri secara baru. Ikutilah jejak Bangsa Rusia—itu simpulannya’. Inilah Revolusi Proletariat yang menyulut perjuangan pembebasan nasional di seantero Dunia Ketiga. Pada 1920, cahayanya menjadi mercusar bagi bangsa-bangsa tertindas untuk melaksanakan Kongres Baku (Kongres Rakyat Timur) yang dihadiri 1.891 delegasi 25 negeri terbelakang, tanah-tanah jajahan dan setengah jajahan—India, Tiongkok, Afganistan, Palestina, Korea, Mesir, Syria, Persia, Turki, dan lain-lain. 

Di sisi lain—pengalaman, militansi, dan solidaritas kelas proletar Rusia menjadi percikkan yang mengobarkan Revolusi Proletariat di negeri-negeri lainnya: Revolusi Jerman (1918-1923), Revolusi Hungaria (1956), Revolusi Chile (1972-1973), Revolusi Iran (1979), Revolusi Polandia (1980-1981). Hanya dalam pelbagai revolusi proletar ini dialektika antara kondisi obyektif dan syarat subyektif begitu lemah—bukan saja berlangsung tanpa kepemimpinan partai yang kuat, tapi juga dikhianati kaum oportunis dan digagalkan partai-partai Stalinis. Di Jerman: Partai Sosial Demokrat (Menshevik Jerman) mendukung PD I, Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht dibunuh, kelas proletariat dibiarkan bergerak tanpa kepemimpinan dan Dewan-Dewan Buruh yang sudah dibangun kontan hancur oleh pembantaian NAZI. Di Hungaria: Partai Komunis Hungaria (Stalinis) berkolaborasi kelas dengan pemerintahan borjuis dan sama-sama menindas massa-rakyat, sementara buruh dan mahasiswa bergerak spontan menenteng senjata untuk mempertahankan diri dan mendirikan Dewan Buruh—gerakan ini berujung kekejian militer kiriman Rezim Stalinis Rusia. Di Chile: pemerintahan populisme kiri Salvador Allende berkuasa dengan dukungan sembunyi-sembunyi dari kapitalis Chile dan AS, kelompok sayap kanan kemudian mengorganisir kerusuhan yang memaksa presiden terpilih memberlakukan keadaan darurat sebagai saluran kudeta militer, namun di jalanan buruh memobilisasi diri untuk melawan militerisme dengan membentuk Cordon Cerrilos (Dewan Buruh). Di Iran: saat penggulingan Rezim Shah, buruh berhasil membentuk Syura (Dewan Buruh) tapi Partai Tudeh (Stalinis) justru bersekutu dengan Khomeini yang kemudian menghancurkan organ kekuasaan buruh—Syura. Di Polandia: inflasi menggila yang ditandai naiknya harga-harga kebutuhan pokok mengharuskan buruh untuk bergerak dan membentuk Solidarnosc (Dewan Buruh), kelas penguasa sudah berada di ambang kekuasaannya tetapi Partai Komunis Polandia (Stalinis) justru menyelamatkannya dengan mengarahkan perjuangan buruh menerima konsensi-konsensi dari borjuis (reformisme).

Kaum oportunis, sektarianis, maupun Stalinis menjadi ancaman bagi independensi proletariat dan revolusi sosialis dunia. Dalam Revolusi Proletariat di abad XX telah membuktikan itu semua. Bahwa ketika Kediktatoran Proletariat (Dewan Buruh) terbentuk mereka bukan saja tidak mampu menghadirkan Kepemimpinan Revolusioner; tapi juga bersekutu dengan musuh-musuh kelas proletar, menggugui teori revolusi bertahap untuk melayani kekuasaan borjuis, dan mengilusikan sosialisme di satu negara. Mereka tidak mau mengerti kalau penggulingan kekuasaan kolonial, demokrasi dan pembebasan nasional boleh saja esensial, namun tidak akan mampu memutuskan cengkeraman imperialisme. Revolusi-revolusi di negeri-negeri kapitalis terbelakang, koloni dan semi-koloni mungkin berhasil mendirikan negara yang merdeka, tetapi borjuis-kecil dan borjuis nasional yang terombang-ambing pada momen menentukan (situasi revolusioner) justru menawarkan konsesi terhadap imperialis dan sisa-sisa feodal. Kaum borjuis kontan menjadi komprador: tunduk, hidup dan makan dari koneksinya dengan imperialisme dan bersama-sama bersekutu dengan sisa-sisa feodalisme, bahkan militerisme maupun fasisme. Borjuis nasional sudah tampil sangat-sangat reaksioner dan tidak bisa dipercaya untuk menuntaskan revolusi demokratik. Begitulah kelas borjuasi di Dunia Ketiga—tak sekadar jadi inang dari imperialisme Amerika Serikat dan Uni Eropa di dalam negerinya, melainkan pula secara simultan mempunyai proyek imperialnya sendiri (borjuis Rusia di Munchuaria, Mongolia, dan Persia; borjuis Indonesia di Timor Leste dan Papua; dan sebagainya).

Kini Dunia Ketiga sedang terbakar rupanya. Kebangkitan gerakan-gerakan massa spontan akibat inflasi merayapi negeri-negeri kapitalis terbelakang, koloni dan semi-koloni. Afrika, Amerika Latin, dan Asia tengah berjalan menuju gelombang revolusionernya. Permulaan 2022 meledak pemberontakan di Kazakhstan dan selama tiga bulan demonstrasi di Sri Langka berkembang menjadi pemogokan umum yang mampu merongrong kepala negaranya sampai melarikan diri dengan bantuan gerombolan serdadu. Di negeri-negeri lain pun tingkat inflasi yang tinggi dan berlarut-larut mengarah pada stagflasi. Belum pulihnya negara-negara kapitalis dari resesi sewaktu pandemi Covid-19, ditambah perang imperialis yang menyeret Rusia dan Ukraina, hingga konflik Cina dan Taiwan—juga ikut menajamkan kontradiksi. Singkatnya, situasi dunia sudah ibarat api dalam sekam. Bahkan ketika percikannya telah berkobar, maka seperti membakar jerami: amukannya akan segera menjalar dari satu-negeri-ke-negeri lainnya. Pada zaman imperialisme yang mengintegrasikan semua negara-bangsa melalui mekanisme pasar dunia dan perdagangan internasional—pemogokan, pembangkangan, atau pemberontakan yang merambah secara global adalah mungkin. Dalam keadaan inilah kelas proletariat dan sosialis revolusioner bukan saja melihat semakin dekatnya momen untuk menuntaskan revolusi demokratik di negeri terbelakang, tapi juga menghadapi pertanyaan tentang kesiapan syarat subyektif. Guna memberikan jawaban yang tepat itulah gerakan-gerakan demokrasi dan pembebasan nasional membutuhkan Strategi Kepeloporan Revolusioner, Teori Revolusi Permanen, dan Kediktatoran Proletariat—ini menuntut pembangunan Partai Pelopor Revolusioner untuk Revolusi Sosialis-Proletariat di Dunia Ketiga.

“…apabila Anda telah merasa muak menghadapi seksisme, rasisme, dan ketidakadilan, maka sebaiknya Anda menjadi bagian dari gerakan yang sedang berjuang untuk merubahnya, berjuang untuk menggulingkan tatanan bobrok kapitalisme dan membangun suatu sistem masyarakat baru yang lebih baik…. Anda dapat bergabung dalam organisasi atau Partai Revolusioner dan mulai membangun suatu dunia yang baru yang masuk akal.” (Apa yang Diperjuangkan Sosialisme?)

“Tidak ada jalan terbaik untuk menemukan harapan selain melibatkan diri dalam pemberontakan yang positif, nyata, dan terorganisir [membangun Partai Revolusioner untuk revolusi sosialis]. Itu intinya menjadi seorang sosialis.” (Apa yang Diperjuangkan Sosialisme?)

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai