“Perjuangan melawan reformisme dan oportunisme … masihlah merupakan perjuangan ideologis yang paling penting. Bahkan dapat dikatakan bahwa kapitalisme tidak akan dapat bertahan barang satu hari pun tanpa reformisme yang membebani kesadaran kelas buruh….” (Ted Sparague)
Hidup berdampingan dengan krisis kapitalisme maka kemarahan massa mudah menyalak di mana-mana. Setelah gelombang gerakan Reformasi Dikorupsi (2019) dan Mosi Tidak Percaya (2020-2021) berlalu, serta protes-protes Lawan Rasisme, Militerisme, Tolak Otsus Jilid II, dan Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri bagi Bangsa West Papua (2019-2021) mengalami fluktuasi—Rabu-Selasa (6-14/4/22), kita menjadi saksi kebangkitan gerakan mahasiswa di banyak daerah: Samarinda, Jakarta, Ternate, Riau, Blitar, Makassar, Bandar Lampung, Tasikmalaya, Palembang, Semarang, Batam, Padang, Solo, Bandung, Surabaya, Mataram, Bima, dan sebagainya. Puluhan ribu mahasiswa meluapi jalanan, menerjang instansi, mengutuk dan menentang aneka persoalan yang ada: mulai dari rencana pemindahan Ibu Kota Negara, penundanaan Pemilu, kenaikan harga-harga, hingga beragam isu lainnya. Dalam situasi inilah kelas penguasa mengerahkan beragam alat represifnya: tentara, intel, polisi, hingga polisi pamong praja. Di Jakarta jumlah mereka mencapai 5.626 personil, Semarang kurang-lebih 1000 personil, Makassar terhitung 2.664 personil, Bandung tercatat 820 personil, dan belum lagi di daerah-daerah lainnya. Pengerahan aparat yang begitu rupa tak sekadar menebar teror dan intimidasi, tetapi juga tuduhan dan prasangka untuk melancarkan pembungkaman terhadap massa. Di Jakarta tercatat 946 orang ditangkap, Makassar 63 diperiksa hingga 34 di antaranya tertangkap dan hilang tanpa kabar, dan Palembang beserta beberapa daerah lainnya gerakan mengalami pembubaran paksa serta stigma mengada-ada.
Memasuki September 2022, gerakan-gerakan kaum muda dan buruh meledak di mana-mana. Kenaikan harga BBM, tarif dasar listrik, hingga polemik RKUHP menjadi isu yang mewarnai ledakan protes mereka. Hanya dalam memuluskan akumulasi modal dan memaksakan kepentingan kelas penguasa, negara hadir sebagai badan-badan bersenjata yang memonopoli kekerasan dengan aturan apa saja. Begitulah protes-protes dibungkam dengan represifitas polisi da tentara. Bahkan terus beronggokannya penggusuran dan perampasan lahan, pemberangusan serikat buruh, kriminalisasi rakyat, militerisasi kampus, pelecehan seksual, dan penindasan nasional—semua ini member bukti bagaimana negara berusaha memuluskan restorasi kapital melalui investasi, pembangunan, dan stabilitas nasional. Sementara kebangkitan gerakan mahasiswa sekarang bukan perubahan mendasar yang diperjuangkan, melainkan perubahan-perubahan parsial. Terutama desakan supaya harga-harga kembali menormal. Beginilah kecenderungan umum dari konsolidasi, teklap dan aksi-aksi BEM-BEM di permulaan April dan September 2022. Di sisi mereka terdapat juga Cipayung Plus. Kelompok ini tak sekadar melaksanakan demonstrasi tapi juga audiensi. Di pelbagai daerah gerakan BEM dan Cipayung beraliansi. Massa aksinya meraksasa namun tidak pernah berusaha dimajukan kesadarannya. Maka mobilisasi-mobilisasi yang mereka lakukan begitu elitis dan filistin rupanya: bisa melalui pertemuan pimpinan lembaga yang dilanjutkan dengan instruksi semata dan dapat pula lewat pertemuan-pertemuan akbar tetapi tiada membebaskan agitasi-propaganda politik dalam mengusung teori dan memajukan perspektif massa.
Dengan forum macam itulah gerakan-gerakan BEM dan Cipayung sama sekali tidak meningkatkan kesadaran, namun berkutat pada spontanitas bahkan paksaan. Lihat saja bagaimana kita diseret menjadi demonstran: bukan selebaran-selebaran analitis mendalam yang ditebarkan atau seruan-seruan perubahan mendasar yang gelorakan, melainkan sebatas menarik kita dari bayak tempat dan mengeluarkan paksa kita dari ruang-ruang kelas untuk meramaikan gerakan tanpa mengerti apa akar persoalan dan tujuan perjuangan. Makanya kita berceceran di jalanan sebagai massa yang kebingungan; sedangkan elit-elit mahasiwa tampil di mobil-mobil komando selaksa orator ulung. Mereka yang berorasi sekadar beretorika dan membangkitkan emosi kita, bukan mengajari bagaimana cara berjuang yang sesungguhnya dalam merubah keadaan. Inilah mengapa dari barisan-barisan kita bukan keterorganisiran dan kekuatan yang ditemukan, kesemrawutan dan kelemahan-demi-kelemahan. Lihat saja bagaimana aksi yang telah kita lakukan: barisan kita tidak siap berjuang, rentan pecah, dan gampang mundur ketakutan. Bahkan di antara kita bukan saja mudah terprovokasi oleh intel berpakaian preman dan kepolisian, tapi sedari awal tidak serius dan sembarangan mengacungkan poster-poster sensasional dan mengundang persepsi beragam.
Tanpa dilandasi keyakinan ideologis, teori dan perspektif politik—maka perjuangan yang kita lakukan bukan saja menjadi karikatur dari aksi massal, tapi juga sebatas menjadi batu loncatan dari elit-elit mahasiswa dalam menghimpun bargaining dan menyisahkan ruang kosong bagi kemunculan elemen-elemen reaksioner. Dalam keadaan seperti inilah peran organisasi pelopor sangat dibutuhkan. Organisasi ini tidak mendukung slogan-slogan demokratik dan persatuan dengan membiarkan kesadaran massa terus terbelakang. Tugasnya bukan bersatu bersama gerakan-gerakan yang mengaku dirinya demokratis sementara diam-diam mempertahakan tatanan dan berselubung kepentingan kekuasaan. Tetapi membangun kekuatan rakyat dengan mendidik massa dari pengalaman-pengalamannya sendiri—termasuk pengalaman perjuangan yang sedang berlangsung sekarang. Maka tugas organisasi pelopor bukanlah menempuh jalan kolaborasi kelas (yang berdasarkan pertimbangan isu dan tuntutan, serta posisi strategis dalam aliansi, front, komite, liga, dan sebagainya) dan hiperaktivisme maupun radikal bebas (yang membuntut pada kesadaran massa atau sekadar aksi massal), melainkan melancarkan agitasi-propaganda politik dan aksi-aksi revolusioner yang mampu menarik simpati dan memberi edukasi supaya massa percaya pada kekuatannya dan berjuang membebaskan dirinya.
Kemajuan perjuangan dan kesadaran tidak mampu diemban oleh BEM dan Cipayung Plus; gerakan-gerakan yang rentan berkolaborasi kelas, bersemangatkan hiperaktivisme, maupun bersemayamkan radikal bebas. Meskipun di dalam gerakan mereka terdapat elemenelemen sosial yang terpengaruh oleh ide kiri, tapi tanpa kehadiran organisasi pelopor gerakannya tak pernah mampu beringsut dari kecenderungan reformisme. Begitulah kebangkitan gerakan mahasiswa sekarang menuju arah reformis. Slogan-slogan demokratik, persatuan, gagasan, teori, perspektif, tuntutan, dan agitasi-propaganda mereka bukan untuk perubahan mendasar, namun menambal-sulam keadaan yang ada. Itulah mengapa gerakan-gerakan BEM dan Cipayung Plus sama sekali tidak membawa mandat revolusioner. Daripada membangun kekuatan massa kaum tertindas, terhisap dan miskin; berjuang untuk revolusi, menggulingkan pemerintahan borjuis dan pendirian kekuasaan rakyat—mereka justru mendorong Reformasi Jilid II, sebatas pelaksanaan Pemilu dan penstabilan harga-harga. Kaum reformis tak pernah menghubungkan kebutuhan-kebutuhan untuk reformasi dengan revolusi. Sebab mereka enggan memandang reformasi sebagai hasil sampingan dari revolusi. Makanya mobilisasi dan aksi-aksi mereka menolak mengagitasi dan mempropagandakan revolusi dan sosialisme.
Kini di tengah lautan gerakan reformis itulah intervensi organisasi revolusioner dibutuh. Kehadirannya bukan sebatas membawa tuntutan rakyat akan penyetabilan harga-harga, pendidikan dan kesehatan gratis, reforma agraria yang sejati, dan industrialisasi nasional di bawah kontrol buruh. Tetapi terutama menjelaskan bahwa tuntutan-tuntutan ini tidak pernah mungkin diwujudkan sebelum penggulingan kapitalisme dan pembangunan sosialisme. Sekarang keberadaan organisasi revolusioner memang sebegitu berpengaruh karena kekuatannya terlampau kecil, gerakannya sangat terbatas, dan terus-menerus diisolir baik oleh negara maupun organisasi-organisasi sektarian-kanan dan oportunis-kiri. Dalam keadaan itu tugas penting yang harus dilakukan organisasi revolusioner adalah melakukan kerja-teori. Tujuannya bukan sebatas memblejeti kejahatan-kejahatan kelas yang bermilik dan berkuasa, tapi juga menyingkap apa yang memundurkan gerakan hari-hari ini. Maka sekarang jantung kehidupan organisasi pelopor bukan pada hitungan numerik anggota, melainkan gagasan, teori dan perspektif yang maju. Mungkin dengan cara inilah organisasi revolusioner dapat menghadapi gelombang represifitas dan reformisme—melalui kerja-kerja penyadaran yang sabar untuk memajukan kesadaran massa dari pengalaman-pengalaman yang telah dilaluinya.
“Kini kepeloporan revolusioner menjadi kebutuhan konkret gerakan kiri. Perannya bukan sekadar memperkuat gerakan-gerakan sosial-revolusioner, tetapi juga menandingi populisme-reformisme dan menghadang bangkitnya elemen kekuasan fasis.” (Anonim)
