“Saya tidak pernah mengenal Trotsky lebih besar, dan saya tidak pernah menghormati dia lebih dalam daripada ketika di apartemen-apartemen kumuh Leningrad dan Moskow, dimana beberapa kali, saya mendengar dia berbicara selama berjam-jam untuk memenangkan segelintir buruh pabrik, dan ini setelah dia menjadi satu dari dua pemimpin sah Revolusi Oktober. Dia masihlah anggota Politbiro tetapi dia tahu bahwa dia akan segera jatuh dari kekuasaan dan juga, sangat mungkin, kehilangan nyawanya. Dia berpikir bahwa sekarang adalah waktunya untuk memenangkan hati dan nurani orang secara satu-per-satu—seperti yang pernah dilakukan sebelumnya selama kekuasaan Tsar…. Kami tahu bahwa kami lebih mungkin kalah daripada menang. Tetapi tetap saja perjuangan kami tidak sia-sia: bila kita tidak berjuang dan kalah dengan berani, kekalahan Revolusi akan seratus kali lebih parah.” (Victor Bolshevik)
Pada tanggal 13 dan 14 September 2022, kami–yang terdiri dari 3 orang muda–memutuskan ‘keluar’ dan menerbitkan ‘surat pengunduran diri’ dari organisasi mahasiswa radikal bermetode borjuis-kecil. Diterjang gelombang gosip dan intrik yang mengamuk di sepanjang garis pertanyaan keanggotaan, maka sikap yang kami ambil untuk tidak tenggelam dan terus berenang sampai ke bibir pantai yang memungkinkan untuk tumbuh bukanlah berdasarkan pertimbangan organisasional tapi politis. Surat kami dibuka dengan mengutip pernyataan dalam “Bolshevisme: Jalan menuju Revolusi (Jilid I: 1883-1905)”: ‘satu-satunya hal yang menguatkan [kami] adalah keyakinan [kami] akan gagasan, teori, dan perspektif Marxis, walaupun gagasan-gagasan [kami] tampaknya tidak selaras dengan realitas.’ Belajar dari pengalaman perjuangan kelas selama 200 tahun terakhir, yang terdistilasi dalam ide-ide Marx, Engels, Lenin, Trotsky, dan Ted Grant—kami menjadi yakin: penggulingan kapitalisme dan transformasi sosialisme hanya dapat terwujud melalui perjuangan kelas revolusioner, perjuangan massa buruh dan tani yang sadar dan terorganisir kuat di bawah kepemimpinan kaum revolusioner proletariat. Keyakinan ini tidak cocok dengan ideologi, politik dan organisasi Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN).
PEMBEBASAN memahkotai dirinya dengan ‘Mobilisasi Persatuan’ sebagai strategi pembangunan kepemimpinannya dan ‘Kediktatoran Rakyat Miskin’ sebagai strategi perebutan kekuasaannya–kedua-duanya adalah mahkota radikalisme yang tidak berarti: karena tidak ditujukan untuk menyediakan organisasi tempur bagi kaum revolusioner proletar dan mengorganisir proletariat menjadi kelas yang berkuasa. Dunia kapitalisme yang sedang sekarat, dengan keseluruhan sistemnya yang terus bergerak menggali liang-kuburnya sendiri, tidak akan pernah bisa dikubur tanpa kehadiran kepemimpinan revolusioner dari sebuah partai yang siap memandu penguburannya. Semua revolusioner sejati, pewaris semangat api Revolusi Oktober dan kehendak Bolshevik yang membaja, menetapkan pembangunan kepemimpinan Bolshevisme dan kediktatoran proletariat sebagai tugas utamanya. Betapa sering kawan-kawan PEMBEBASAN kita mengutip dan mengulang-ulang pernyataan Lenin dan Marx: ‘tanpa teori revolusioner tidak ada gerakan revolusioner’ dan ‘para filsuf hanya menafsirkan dunia dengan berbagai cara, tetapi intinya adalah mengubahnya.’ Namun suatu kesembronoan yang merontokkan cakar dan taring revolusioner Marx dan Lenin, apabila pemikiran keduanya diperlakukan secara vulgar: bukan untuk membangun partai proletar revolusioner dan negara buruh tapi partai borjuis-kecil radikal dan negara borjuis-demokratik.
Kami memahami kejujuran sebagai kesesuaian antara perkataan dan perbuatan di hadapan kepentingan kelas proletar internasional, yang dibatasi oleh tujuan tertinggi perjuangan revolusioner: pembebasan umat manusia melalui revolusi sosialis. Kita dapat berbohong dan menipu musuh-musuh proletariat, tetapi tidak kepada kaum buruh dan muda itu sendiri. Bagaimana bisa organisasi borjuis-kecil radikal memimpin perjuangan revolusioner massa dan untuk transformasi masyarakat kita secara mendasar? Betapa sering kalian mengatakan, “Praktiklah yang menang pada akhirnya.” Ini benar dalam arti kalau praktik itu merupakan bagian dari pengalaman kolektif suatu kelas yang maju, dan seluruh umat manusia, di mana secara bertahap menyingkirkan ilusi dan teori-teori palsu yang didasarkan pada generalisasi yang tergesa-gesa. Tetapi juga dapat dikatakan dengan kebenaran yang sama, “Teorilah yang menang pada akhirnya.” Ini ketika kita memahami bahwa teori pada kenyataannya mencakup seluruh pengalaman umat manusia. Dari sudut pandang inilah pertentangan antara teori dan praktik lenyap, karena teori tidak lain adalah praktik yang dipertimbangkan dan digeneralisasikan dengan benar. Bukan teori yang mengalahkan praktik atau praktik yang mengalahkan teori, tapi kedua-duanya menjadi kacau dan mengalahkan satu-sama-lain dalam vulgaritas, formalisme, dan empirisme kasar di pemikiran yang sempit dan berat-sebelah.
Agar dapat mempertimbangkan dengan tepat kondisi perjuangan kelas yang ada dan situasi kelas kita sendiri, kita harus memiliki metode orientasi politik dan historis yang memadai. Sehubungan dengan zaman kita–krisis, perang, revolusi dan kontra-revolusi–ini adalah Marxisme-Bolshevisme. Kelas proletar, dalam perjuangan yang berkepanjangan di dunia kapitalisme yang sedang runtuh dan dalam perkembangannya sebagai kekuatan yang hidup, akan membentuk dari rahimnya garda depan yang mampu menemukan jalan untuk maju, yang akan mengenali revolusi ketika ia mengetuk pintu, yang pada saat yang diperlukan mampu memahami masalah pemberontakan sebagai sebuah seni–untuk mengambil peran dan inisiatif, menyusun rencana, kebijakan dan slogan, dan memberikan pukulan tanpa ampun kepada kelas borjuis. Dalam proses perjuangan kelas ini lapisan yang paling maju, yang sadar-kelas, peka dan jujur, dari kaum buruh dan muda harus mengorganisir-diri dalam pembangunan kepemimpinan Bolshevisme untuk memenangkan lapisan paling luas dari kelas proletar di bawah panji Marxisme yang sejati–untuk memperjuangkan revolusi dan kediktatoran proletar yang akan membuka jalan menuju masyarakat tanpa kelas. Membela keyakinan teoritik inilah mengapa kami terbitkan artikel-artikel berjudul: “Mobilisasi Persatuan dan Kebuntuan Teoritik”, “Pembebasan Nasional atau Revolusi Dua-Tahap?”, “Leninisme atau Stalinisme?”, dan “Perjuangan Terakhir Lenin: Melawan Stalinisme”. Deretan artikel ini dibuat berdasarkan perspektif politik kami sekarang di organisasi sosialis untuk kaum muda dan revolusioner proletariat. Bahwa untuk transformasi sosialis dunia tak cukup dengan terpenuhinya kondisi obyektif, melainkan pula dibutuhkan syarat subyektif: praksis revolusioner—kesatuan praktek dan teori Marxisme Revolusioner. Lenin tidak sekadar berucap tanpa teori revolusioner tidak ada gerakan revolusioner, tetapi berlanjut: ‘peran pejuang garda depan hanya dapat dipenuhi oleh partai yang dipandu dengan teori yang paling maju!’ Inilah organisasi politik tertinggi proletariat: Partai Sosialis Revolusioner berbasiskan Marxisme Revolusioner–sebuah partai yang sejak kelahirannya mendasarkan dirinya bukan pada standar-standar organisasional tapi politik. Dalam “Bolshevisme Jalan menuju Revolusi Jilid I: 1883-1905”, Aland Woods menulis:
“Sebuah partai bukan hanya sebuah organisasi, sebuah nama, sebuah panji, sebuah koleksi individu-individu, atau sebuah aparatus. Bagi seorang Marxis, sebuah partai revolusioner adalah pertama-tama program, metode, ide, dan tradisi; dan hanya setelah itu sebuah organisasi dan aparatus (yang tidak diragukan kepentingannya) guna merealisasikan ide-ide tersebut ke dalam lapisan terluas rakyat pekerja. Partai Marxis, semenjak kelahirannya, harus mendasarkan dirinya pada teori dan program, yang merupakan ringkasan umum dari pengalaman historis kaum proletar. Tanpa ini, partai tersebut bukanlah apa-apa. Pembangunan sebuah partai revolusioner selalu dimulai dengan kerja mengumpulkan dan mendidik kader yang membutuhkan waktu yang lama dan melelahkan, dan kader-kader ini akan menjadi tulang punggung partai selama masa kehidupannya.”
“Bolshevisme: Jalan menuju Revolusi”, bukan sekedar membuka pikiran kami tapi juga menyinari hati-sanubari kami. Bergeraknya kami ke arah politik revolusioner (Marxisme-Bolshevisme) bukan lantaran pikatan bendera, logo, dan pelbagai persoalan organisasional lainnya. Pertama-tama, kami melirik dan mengikuti aktivitas politik Front Muda Revolusioner (FMR) atau Perhimpunan Sosialis Revolusioner (PSR) atau International Marxist Tendence (IMT). Kami terpukau dengan teori dan programnya untuk zaman yang sedang berubah ini. Dalam penderitaan kematian kapitalisme yang menyebar ke seluruh penjuru, kami semakin percaya pada pernyataan Trotsky: ‘syarat ekonomi untuk revolusi proletar sudah secara umum mencapai tingkatan tertinggi yang dapat dicapai di bawah kapitalisme. Namun situasi politik dunia dalam keseluruhannya digambarkan oleh sebuah krisis historis kepemimpinan proletariat.’ Mengarungi efek pandemi berkepanjangan, pemberontakan massa Kazakhstan, penggulingan rezim Sri Langka, peperangan Rusia-Ukraina, konflik Cina-Taiwan, KTT G-20, siaga perang Korut-Korsel, persoalan kebangsaan West Papua dan Palestina, hutang dan kebangkrutan Dunia Ketiga, krisis pangan dan energi, hingga inflasi yang merongrong negeri-negeri kapitalis terbelakang dan maju—pembangunan partai revolusioner sudah tidak dapat ditunda. Di dunia yang terjungkir-balik, kita semua didorong memasuki periode sejarah yang penuh gejolak. Di sinilah kaum buruh dan muda bukan saja akan teradikalisasi oleh peristiwa, tapi lebih jauh akan bergerak mencari ide-ide revolusioner. Dalam “Perspektif Politik Revolusioner 2022”, PSR menjelaskannya dengan baik:
“Gambaran yang semakin terang benderang di hadapan kita adalah membusuknya kapitalisme. Tetapi selama tidak ada organisasi revolusioner, maka krisis kapitalisme ini akan berkepanjangan dan menghasilkan letupan-letupan besar namun sesaat, yang mengguncang sistem ini tetapi tidak mampu menumbangkannya. Massa-rakyat siap berjuang dan mereka menunjukkan kesiapan mereka lagi dan lagi. Yang kurang adalah partai revolusioner yang bisa memberi mereka ide dan program untuk mencapai kemenangan akhir. Apa yang harus kita kerjakan? Jawabannya hanya satu: membangun partai revolusioner yang profesional dengan kegigihan dan fokus yang intens. Tidak boleh ada satu halpun yang mengalihkan kita pada kerja ini.”
Keyakinan akan gagasan itu semakin mengkristalkan keputusan kami untuk bergabung dengan sebuah organisasi muda revolusioner yang sedang membangun Bolshevisme. Kami keluar dari organisasi mahasiswa dan tinggalkan kawan-kawan lama di Mataram untuk belajar dan berjuang bersama kawan-kawan baru di Surabaya. Segera setelah meninggalkan merekalah intrik yang kami terima semakin membesar rupanya. Ada yang menganggap kalau kami kecewa, baper, bahkan nir-komitmen organisasi. Tapi yang pasti: persoalan politik tidaklah kami tempatkan di bawah masalah-masalah organisasional. Dengan memahami kebutuhan akan organisasi revolusioner profesional yang kuat dan tersentral; kami memutuskan untuk bergabung dalam pembangunan organisasi sosialis bermetodekan proletariat ketimbang organisasi mahasiswa bermetode borjuis-kecil. Kini kami tergabung di sini bukan lagi sebagai mahasiswa atau buruh semata, melainkan kaum Marxis Revolusioner, Marxis-Bolshevik, Bolshevik-Leninis. Hanya kawan-kawan Mataram–melalui status medsos maupun halaman facebook organisasinya–mengejek pilihan dan langkah kami. Mereka berceloteh:
“Yang ngaku-ngaku Bolshevik tapi tidak Bolshevik ya. Jika seseorang mengikuti kiblatnya Bolshevik maka ikuti Lenin, yang lain hanya penambahan pikiran tentang analisisnya tentang revolusi, karena Lenin pejuang Revolusi Rusia, yang melihat realitas sosial, itu sebabnya Revolusi Proletariat Rusia bisa terwujud padahal masih dalam cengkraman kekuasaan feodalistik (kapitalis belum matang), Lenin menggunakan elemen progresif (petani kecil, buruh, dsb.) tidak dengan menutup mata dan bertindak dengan kehilangan arah. Revolusi Permanen tidak relevan di manapun, apalagi di Indonesia.”
Mendapat cibiran mereka tak sedikitpun membuat kami bersentimen apalagi meluncurkan intrik-balik, melainkan bersemangat untuk ‘menjelaskan dengan sabar’. Inilah mengapa kami tidak membalas pernyataan mereka dengan komentar-komentar sampah di status “whatsapp” maupun postingan-postingan “facebook” mereka—kami justru berusaha mengeluarkan artikel untuk menjawab tudingan kawan-kawan Mataram. Mengenai pernyataan-pernyataan tersebut, kami tahu kalau kalian baru saja membuka pembebasan-pusat.blogspot.com dan membaca tulisan John Percy terkait “Sebuah Tanggapan untuk Strategi ‘Partai Luas’ (Bagian I)” dan Daniel Indrakusuma tentang “Kritik Leninis terhadap Revolusi Permanen (Bagian I)”. Menelusuri kritikan keduanya kami menangkap beberapa poin: (1) Proyek Partai Luas yang diasosiasikan dengan seabrek tendensi Trotkyis dan Internasional Keempat; (2) Taktik ‘turn to industry’ atau ‘entry’ secara permanen yang telah diangkat menjadi strategi; (3) Memvulgarisasi Marxisme dengan mengabaikan pembangunan Partai Revolusioner; (4) Mengadopsi ketidaksepakatan Trotsky terhadap Bolshevik sebelum 1917; (5) Trotsky menolak peran kaum tani sebagai kekuatan cadangan proletariat; (6) Trotsky mau segera menuju sosialisme dengan mengabaikan penuntasan revolusi demokratik; dan (7) Revolusi Permanen merupakan teori yang memaksakan revolusi proletar-sosialis di negeri terbelakang.
Membaca tulisan John Percy tanpa menelusuri sejarah Internasional Keempat membuat kawan-kawan Mataram mengayunkan kritik secara membabi-buta. Kami mengerti kalau kalian merupakan angkatan muda radikal yang tingkat kognisinya begitu rupa. Pengalaman membangun organisasi mahasiswa bersama kalian dahulu telah membuktikannya: kita tidak sekedar mengkritik kaum sektarian dan oportunis dalam perjuangan massa yang luas, tetapi juga langsung datang ke markas-markas tersemunyi dan forum-forum terbuka yang mereka gelar sendiri. Kami yang kini memilih membangun organisasi bagi kaum revolusioner proletariat tidak menyangkalnya. Bahkan berkat pembelajaran berharga yang diangkat dari banjir pengalaman itulah kami sekarang bergerak ke arah Marxisme-Bolshevisme. Berbagai catatan telah kita bukletkan dalam Independent Movement (yang sekarang telah beralih menjadi saluran propaganda ilegal FMR Mataram)—mulai dari gerakan libertarian menggunakan Kelompok Studi Independen, kampanye melalui Komite Aksi Kamisan Mataram, hingga pembangunan PEMBEBASAN Mataram bersama kelompok-kelompok agitasi-propaganda di sekitarnya. Meski banyak cerita telah kita torehkan dahulu, tetapi serangan kalian baru-baru ini mengharuskan kami membuat perhitungan dengan masa lalu.
Kawan-kawan lama kami, ketahuilah: penyimpangan yang dilakukan seabrek tendensi Trotskyis dan degenerasi Internasional Keempat tidak sepantasnya dibebankan pada keseluruhan ide Trotsky dan api Bolshevisme yang diteruskannya. Di awal kelahirannya–Internasional Keempat didirikan Trotsky untuk menjaga internasionalisme kelas pekerja dari kepungan Stalinisme beserta klik birokrasinya dan meneruskan Program Partai Boshevik yang mengealir dari perspektif Revolusi Sosialis Dunia. Ketika Komite Militer Revolusioner Bolshevik berhasil merebut kekuasaan dari Pemerintahan Sementara untuk diserahkan sepenuhnya kepada Soviet-Soviet Buruh dan Prajurit–Lenin yang ditemani Trotsky, tertanggal 25 Oktober 1917 (penanggalan baru Gregorian: 7 November 1917), mengakhiri pidatonya di hadapan Kongres Soviet dengan semangat internasionalis: ‘kita sekarang telah belajar untuk melakukan upaya bersama. Revolusi yang baru dicapai ini adalah buktinya. Kita memiliki kekuatan organisasi massa, yang akan mengatasi segala rintangan dan memimpin proletariat menuju revolusi dunia. Sekarang kita harus mulai membangun negara sosialis proletar di Rusia. Hidup Revolusi Sosialis Dunia!’
Internasional Keempat berembrio dari Oposisi Kiri yang terbentuk tahun 1923. Segera setelah Oposisi hadir untuk membela Revolusi Oktober, kasta-birokrasi melancarkan serangan tanpa henti. Stalin yang mewakili birokrasi menggencarkan tekananya terhadap Oposisi. Pada 1927, Trotsky dipecat dari partai dan diasingkan ke tempat pembuangan di Turki. Namun dari kesunyian dan keterisolasian selama pembuangannya dia mampu bertahan dan meneruskan prinsip, metode, serta tradisi-tradisi Bolshevik. Februari 1933, dirinya merilis dokumen programatik mengenai posisi Oposisi Kiri dalam menghadapi imperialisme dan kasta-birokrasi: ‘pembelaan tanpa syarat terhadap Uni Soviet dari imperialisme dunia adalah sebuah tugas yang begitu mendasar bagi setiap buruh revolusioner, sehingga Oposisi Kiri tidak mentolerir kebimbangan atau keraguan dalam masalah ini di antara anggota-anggotanya. Seperti sebelumnya, Oposisi Kiri akan pecah secara tegas dengan semua kelompok dan elemen yang berusaha mengambil posisi netral antara Uni Soviet dan kapitalis dunia.’
Di sisi pertahanan untuk internasionalisme proletariat, Oposisi Kiri juga mempertahankan metode Bolshevik-Leninis mengenai pembagunan organisasi revolusioner profesional. Inilah yang disampaikan Trotsky kepada Oposisi Kiri Seksi Italia: mereka harus mengambil sikap yang tegas terhadap kaum Bordigist yang telah lama dijadikannya sebagai sekutu namun masih belum menemukan kesatuan gagasan selama berkerjasama: ‘daripada saling menghalangi, saling melumpuhkan, dan membuat semakin rumit perbedaan pendapat dengan pertentangan dan pertengkaran organisasi setiap hari, jauh lebih baik untuk berpisah sementara secara damai dan tanpa permusuhan. Dengan demikian pemeriksaan kedua garis politik yang berbeda ini dapat diserahkan pada jalannya perjuangan revolusioner.’
Oposisi Kiri dibangun berdasarkan strategi kepemimpinan revolusioner Bolshevik-Leninis. Salah satu tradisi Bolshevisme yang diteruskannya adalah menyangkut Koran Revolusioner. Dalam sebuah pengantar untuk “Program Transisional; untuk Revolusi Sosialis dan Sejarah Internasional Keempat”, Ted Sprague menjelaskan tentang tradisi koran Bolshevik yang diteruskan Oposisi Kiri. Bahwa Koran Revolusioner bukanlah wahana perdebatan internal, melainkann media ‘agitasi dan propaganda, untuk menyajikan kepada massa gagasan-gagasan dan garis politik yang jelas, yang telah disetujui melalui jalan demokrasi partai. Tidak seperti publikasi-publikasi borjuis-kecil yang suka menyajikan gado-gado ide, koran Bolshevik terbit dengan gagasan Marxis yang koheren.’ Dan untuk menghadapi Komintern yang telah diambil-alih birokrasi Stalinis dan merebut kembali panji Bolshevisme dari klaim Stalinis (Marxis-Leninis)—Trotsky mengkritik dan menganjurkan kamerad-kameradnya untuk berkeja di organisasi massa proletar dan semi-proletar sereaksioner apapun secara fleksibel tapi tegas soal prinsip:
“Kecenderungan dari beberapa kamerad (seperti di Prancis) untuk memahami peran faksi sedemikian rupa di mana Oposisi Kiri tidak boleh mengambil langkah di luar batasan Partai Komunis adalah keliru. Hubungan kita yang sesungguhnya denga Komintern menemukan ekspresinya bukan dengan tidak melakukan aksi independen, tetapi dalam konteks dan arah aksi tersebut. Konyol kalau kita bersikap layaknya anggota resmi Komintern. Kita harus melaksanakan kebijakan-kebijakan yang akan membuka gerbang Komintern untuk kita. Untuk ini, kita harus menjadi lebih kuat, yang tidak adapat kita capai bila kita mengikat tangan kita pada birokrasi Stalinis dengan disiplin yang artifisial dan palsu. Kita harus pergi ke buruh di mana mereka berada, kita harus ke kaum muda, mengajari mereka ABC Komunisme, membangun sel-sel di pabrik dan serikat-serikat buruh. Tetapi kerja ini harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga kaum Komunis dapat melihat bahwa bagi kita ini bukan untuk membangun partai yang baru [apalagi Partai Luas], tetapi untuk menghidupkan kembali Komunis Internasional.”
Namun dalam kemenangan fasisme Jerman atas serikat-serikat buruh yang dikhianati oleh para pemimpin reformis dan sentris, maka Oposisi Kiri Seksi Jerman mulai memisahkan dirinya dari Komintern. Keputusan ini diambil karena Komintern di bawah kekuasaan Stalin mempertahankan Kebijakan Sosial Fasis yang menganggap bahwa kaum Sosial-Demokrat dan Sosial-Fasis adalah ‘sama-sama fasis’ dan harus dijadikan sebagai ‘musuh utama’. Begitulah Partai Komunis Jerman (Stalinis) mengusir buruh-buruh reformis dan Sosial-Demokrat dari serikat-serikat buruh, menolak seruan front perjuangan buruh dari Oposisi Kiri dalam melawan fasisme, hingga akhirnya membuka jalan untuk berkuasanya Nazi Hitler. Inilah kondisi yang mengharuskan Oposisi Kiri Internasional memisahkan Seksi Jerman-nya dari Partai Komunis Jerman (Stalinis). Setelah semakin parahnya pembusukan dalam Komintern, Trotsky akhirnya menyerukan pembentukan Internasional yang baru. Selama 1930-an, menghadapi perjuangan mempertahankan semangat internasonalisme inilah birokrasi Stalinis melancarkan pembersihan terhadap para pendukung gagasan-gagasan Trotsky: 1000-1500 anggota partai dan kaum muda yang membela Trotsky dimasukkan paksa di kamp Ukhta-Pechora dan 100.000 di kamp-kamp di Voktura dan kamp-kamp lainnya. Mereka tidak saja disiksa tapi juga diminta untuk mengakui kejahatannya untuk kemudian dieksekusi atas tuduhan melawan negara pada Pengadilan Pembersihan Stalin (1936).
Pada 3 September 1938, Internasional Keempat berhasil didirikan dengan membawa tuntutan transisional sebagai dokumen programatiknya. Melalui dokumen itu Trotsky menawarkan perspektif yang bukan sekadar mengenai Perang Dunia II yang dapat memprovokasi revolusi—memicu gelombang revolusioner, tetapi terutama: ‘mempersiapkan kader-kader yang mampu menghubungkan program-program tuntutan sehari-hari dengan tugas historis kaum buruh dalam menumbangkan kapitalisme dan membawa sosialisme.’ Di sini dijelaskannya tentang tugas strategis untuk menghadapi periode selanjutnya—pra-revolusioner dan krisis kepemimpinan proletariat–adalah menekankan pada agitasi, propaganda, dan organisasi dalam menyediakan jembatan penghubung untuk menyelesaikan kontradiksi antara kondisi obyektif revolusioner yang sudah matang dan ketidakmatangan kelas proletariat dan kaum pelopornya: ‘di mana dalam proses perjuangan sehari-hari kita harus membantu massa untuk menemukan jembatan penghubung antara tuntuan-tuntutan hari ini dengan program revolusi sosialis. Jambatan penghubung ini harus memasukan sebuah sistem tuntutan transisional, yang berasal dari kondisi saat ini dan dari kesadaran umum kelas buruh sekarang ini, dan menuju ke satu kesimpulan akhir: perebutan kekuasaan oleh kelas proletar (kediktatoran proletariat):’
“Tugas strategis dari Internasional Keempat adalah untuk menumbangkan kapitalisme, bukan mengubahnya. Tujuan politiknya adalah penaklukan kekuasaan oleh kelas proletariat guna menyita hak kepemilikan kelas borjuasi. Akan tetapi, pencapaian tugas-tugas strategis ini adalah mustahil tanpa perhatian penuh pada masalah taktik, sebagaimanapun kecilnya atau parsialnya. Semua seksi-seksi kelas proletar, semua lapisannya, harus ditarik masuk ke dalam gerakan revolusioner. Epos sekarang ini berbeda bukan karena dia membebaskan partai reolusioner dari kerja-kerja sehari-harinya, akan tetapi karena dia mengijinkan kerja tersebut untuk dijalankan secara terikat dengan tugas-tugas revolusi yang sebenarnya.”
Dua tahun setelah Internasional Keempat didirikan dan melancarkan kerja-kerja politiknya, Trotsky dibunuh oleh polisi rahasia Stalinis (GPU). Tepat 21 Agustus 1940, Trotsky dikapak kepalanya sampai pendarahan parah yang membuatnya tewas. Internasional seketika kehilangan ahli teori terkemukanya. Setelah Perang Dunia II, Internasional Keempat akhirnya memasuki fase disorientasi. Partai-partai yang berada di dalamnya terlampau lemah, berbentuk sekte-sekte kecil, dan belum sepenuhnya menyerap metode-metode Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky. Fred Weston menjelaskan itu lewat artikelnya tentang “The Origins of the Collapse of the Fourth International—and the British Trotskyists’ Attempt to Avoid It”. Gelombang revolusioner pada akhir PD II yang diharapkan dalam Program Transisional (1938)—supaya Internasional Keempat menjadi kekuatan dominan dalam gerakan buruh—terkonfirmasi melalui seabrek peristiwa: Perang Saudara di Yunani, Pemogokan di Italia dan Perancis, Revolusi Cina, dan kebangkitan gerakan pembebasan nasional di seluruh negeri kolonial. Namun persoalannya adalah kecilnya kekuatan Internasional Keempat sehingga tidak sanggup memainkan peran signifikan dalam mengintervensi situasi revolusioner. Dalam kemalangan sosial mereka, para pemimpin Internasional Keempat akhirnya mendekati Marxisme bukan sebagai metode ilmiah tapi dogma. Weston menegaskan kalau mereka telah menjadikan ‘perspektif 1938 sebagai sebuah cetak biru’—inilah mengapa sepeningal Trotsky Internasional Keempat terseret menuju lembah kehancurannya:
“Perpecahan-demi-perpecahan gerakan Trotskyis berakar pada periode itu. Kepemimpinan Internasional Keempat saat itu sama sekali tidak mampu memahami apa yang sedang terjadi. Jika Anda membaca tulisan para pemimpin seperti James Cannon (pemimpin SWP Amerika pada saat itu) di akhir tahun 40-an dan di awal tahun 50-an. Anda akan menemukan perspektif yang sama sekali salah. Perspektifnya adalah salah satu krisis langsung kapitalisme dan dengan demikian perkembangan revolusioner dalam jangka pendek…. Pada tahun 1946 Internasional Keempat mengadakan ‘Pra-Konferensi Internasional’. Ernest Mandel dan yang lainnya berkontribusi dalam penyusunan manifesto itu. Tapi itu benar-benar berbenturan dengan kenyataan. Kepemimpinan Internasional Keempat telah mengembangkan teori bahwa ledakan apapun tidak mungkin terjadi. Ini terbukti benar-benar salah. Kelas pekerja akhirnya dikalahkan oleh teori para pemimpin Stalinis dan reformis. Internasional Keempat terlalu lemah untuk menghadapi ini. Kekalahan kelas pekerja setelah Perang Dunia II adalah prasyarat politik untuk kemajuan ekonomi. Amerika telah muncul dengan sangat kuat dari Perang. Itu adalah Negara Adidaya kapitalis utama yang telah mengumpulkan keuntungan besar dari produksi perang. Karena takut akan revolusi di Eropa, AS memompa uang dalam jumlah besar ke negara-negara seperti Jerman, Italia, Prancis, dll., untuk menghidupkan kembali ekonomi mereka—Marshall Plan yang terkenal. Kehancuran yang disebabkan oleh perang berarti program rekonstruksi besar-besaran diperlukan. Semua ini meletakkan dasar bagi ledakan ekonomi terbesar dalam sejarah kapitalisme. Kepemimpinan Internasional Keempat tidak dapat menerima perkembangan ini. Mereka tidak mengerti bahwa diperlukan penilaian kembali situasi itu perlu. Faktanya adalah bahwa mereka pikir dapat menyatukan kekuatan mereka dengan menjanjikan revolusi ‘di tikungan’. Kebijakan seperti itu hanya dapat menyebabkan pecahnya Internaisonal, dan itulah yang terjadi.”
Hancurnya Internasional Keempat disertai perpecahan dalam gerakan Trotskyis secara internasional. Persis yang dikritik oleh John Percy. Bahwa di antara mereka bukan saja menerapkan taktik sebagai strategi, tapi terutama mengabaikan pembangunan Partai Revolusioner dan menggantikannya dengan Partai Luas. Meski demikian tidaklah adil kiranya untuk membebankan segala penyimpangan itu kepada Trotsky apalagi semua Trotskyis yang menganggap diri mereka sebagai Bolshevik-Leninis. Adalah Ted Grant–kader Seksi Inggris dari Internasional Keempat sekaligus pemimpin Partai Komunis Revolusioner (RCP)–yang mengembangkan perspektif yang berbeda dari para pemimpin Internasional Keempat: situasi berubah begitu cepat, kapitalisme stabil sementara waktu, dan menghadapi ledakan. Dia juga memahami bahwa penggulingan kapitalisme di Cina dan Eropa Timur buka berarti kemenangan sosialisme tetapi karikaturnya: Stalinisme. Bahkan ketika kepemimpinan Internasional Keempat mengindentifikasi rezim-rezim Stalinis sebagai kapitalisme negara, Ted justru membantahnya sebagai bentuk ‘Bonapartisme Proletar’. Pada 1949-1950, RCP akhirnya dibubarkan dalam intevensi kepemimpinan Internasional Keempat. Segera setelah partainya bubar, Ted Grant memainkan peran utama sebagai pelanjut Trotsky yang mengedepankan Marxisme melalui kerja-kerja teorinya di koran “Socialist Appeal” dan “In Defence of Marxism”. Pada 1964–bersama Alan Woods, dia menjadi salah satu pendiri sekaligus editor “Militant”. Sejak 1970, Militan bangkit sebagai tendensi yang sangat berpengaruh bagi kelas buruh dan kaum muda. Melalui kerja koran, Ted mendidik angkatan politik proletariat dengan perspektif yang jelas dan menekankan pentingnya organisasi massa yang dipimpin oleh partai dengan teori yang paling maju. Seluruh kehidupan sadarnya didedikasikan untuk membangun tendensi Marxis dengan mempersiapkan revolusioner profesional dalam gerakan buruh dan muda. Seperti Lenin dan Trotsky, Ted sangat percaya dengan potensi revolusioner pemuda pekerja dan mahasiswa: ‘dia yang memiliki kaum muda memiliki masa depan.’ Bersama angkatan muda yang telah dididik dalam tradisi Marxisme yang sejati, Militan menebar pengaruh dan memenangkan kelas proletar. Dalam memberi pengantar untuk karya Ted Grant yang berjudul “Unbroken Thread”, John Pickard menulis bahwa selama empat dekade sejak berakhirnya perang—hampir lima dekade setelah kematian Trotsky—Grant telah membela metode Marxisme melawan segala macam ide kelas-asing:
“Di Inggris, ‘Militant’ telah menempatkan Marxisme … sebagai opini arus utama dalam gerakan buruh. Stalinisme beberapa dekade telah menodai warisan asli Marx dan Lenin, dan telah menimbulkan awan kebingungan di benak kelas pekerja. Baru-baru ini, tradisi Leon Trotsky telah diseret ke dalam lumpur oleh berbagai kelompok ultra-kiri kelas menengah yang membingungkan…. Mengambil karya-karya Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky sebagai metode, bukan sebagai dogma tetap, Ted Grant telah mencapai lebih dari ahli teori Marxis lainnya dalam menjelaskan perkembangan pasca-perang…. Bukan berarti tidak pernah ada kesalahan, terutama dalam perspektif, dalam memperkirakan tempo kejadian. Dia yang tidak membuat kesalahan tidak melakukan apa-apa. Tetapi tradisi Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky selalu mengakui kesalahan mereka secara terbuka, menjelaskannya dan ke depan diperkuat, dengan program atau perspektif yang diubah menjadi tepat.”
Kini sudah waktunya kawan-kawan Mataram mengerti: warisan dari Internasional Keempat Trotsky bukanlah penyimpangan-penyimpangan Trotskyis dan kejahatan-kejahatan para pemimpin borjuis-kecil Internasional Keempat sendiri, melainkan ide-ide Marxisme dengan tradisi perjuangan kelas yang sejati: yang utama bukanlah ‘aparatus’ tetapi ‘gagasan-gagasan’ untuk diteruskan kepada generasi-generasi masa depan—ide-ide yang ditakuti imperialisme dan birokrasi Stalinis. Barangkali mereka kurang jujur, tidak berendah hati, atau terlalu berprasangka untuk mempelajarinya. Kata Pengantar dari Ted Sparague untuk “Kediktatoran Proletariat dan Kautsky si Pengkhianat”, yang diterbitkan pertama kali oleh “Revolusioner”, ini telah mereka baca dan terbitkan ulang di situs “Api Pembebasan” (yang dulu pernah kita kelola bersama)–namun dengan daur-ulang yang begitu rupa: bukan saja judulnya diubah jadi “Oportunisme dan Revolusi Proletariat” tapi juga penulisnya dinamai ‘Benjoss’. Artikel yang kawan-kawan adopsi sebagai bahan propaganda PEMBEBASAN Mataram–itu sebenarnya bersemangatkan internasionalisme proletariat dan memadukan gagasan anti-oportunisme dari Lenin dan Trotsky. Itu tidak saja mengalir dari pemikiran Lenin semata tetapi juga ditambahi dengan gagasan Trotsky yang mengkritik Kautsky. Bahkan antara Lenin dan Trotsky, disejajarkan sebagai pemimpin Revolusi Oktober yang membela kediktatoran proletariat dari kebimbangan kaum oportunis. Tapi setelah memberi tempat untuk mendudukan Lenin dan Trotsky sebagai serangkai, mereka kembali mempertentangkan ide-ide keduanya dengan mempropagandakan pemikiran Stalinis.
Dalam “Api Pembebasan”, artikel Daniel Indrakusuma tentang “Kritik Leninis terhadap Revolusi Permanen” termuat rapi. Menelan semua penjelasan Daniel tanpa secara langsung membaca pemikiran Trotsky atau mempelajari proses pembangunan Bolshevisme; mereka lantas menuding Trotsky (dan bahkan semua pendukung ide-idenya) sebagai kaum yang sekadar mengaku-ngaku Bolshevik. Kawan-kawan ini berpikir kami hanya mengklaim diri tanpa mengambil tauladan dari perjuangan revolusioner pembangunan Partai Bolshevik. Mereka rupanya belum mengerti mengapa kami mengutamakan teori, program, metode dan tradisi perjuangan kelas yang tepat ketimbang persoalan organisasional, administratif dan formalistis. Itulah mengapa kami menyarankan kepada kawan-kawan ini untuk berusaha memahami Bolshevisme. Marx dan Engels, Lenin dan Trotsky, Ted Grant dan Alan Woods. Keenamnya merupakan pendidik revolusioner utama kita di bidang penelitian masyarakat dan sejarah. Bagi angkatan muda kita, jalan menuju Marx dan Engels adalah melalui Lenin dan Trotsky; jalan menuju Lenin dan Trotsky adalah Ted dan Alan. Tidak ada yang paling baik dan paling memungkinkan. Sebab jalan lurus menjadi semakin sukar dan disesaki kekotoran karitatur sosialis–ini karena periode yang terlalu panjang yang memisahkan angkatan kita dari kejeniusan para pendiri Sosialisme Ilmiah dan para pemimpin Revolusi Oktober. Bolshevisme-Leninisme adalah perwujudan kondensasi tertinggi Marxisme untuk aksi revolusioner di zaman imperialis. Hari ini ide-ide revolusioner para guru proletar sedunia ada bersama kita. Namun paru-paru revolusioner generasi muda proletar kita hanya bisa menghirup atmosfer doktrin itu, dengan lebih segar dan lebih jernih, melalui para penerus sejati Marxisme-Bolshevisme–itulah Ted Grant dan Alan Woods, yang dalam periode kita menggabungkan dan mempersiapkan calon-calon pemimpin revolusioner masa depan di dalam Revolutionary Communist International. Dan seksi Indonesia-nya adalah Perhimpunan Sosialis Revolusioner, yang menunjukan dirinya di hadapan kita dengan rupa Front Muda Revolusioner.
Tidak ada cara lain untuk menghirup dan menghidupi kelas kita dengan atmosfer doktrin revolusioner terbaik dari pemikiran umat manusia pada periode sebelumnya kecuali dengan bergabung dalam pembangunan Bolshevisme. Perjuangan kelas yang terbentang di hadapan angkatan kita sangat berat. Perjuangan ini telah manguras energi angkatan yang sebelumnya. Kita memasuki medan politik yang mereka tapaki dalam suasana dunia yang sedang runtuh. Kita harus belajar lebih cepat dan lebih serius lagi agar kehadiran kita dapat membantu angkatan yang lebih tua yang tidak kenal lelah dan belum menyerah, yang sebagian mereka secara bertahap mendekati akhir dari masa baktinya. Hanya dalam pembangunan kepemimpinan revolusioner inilah pengetahuan dan pengalaman, impian dan harapan, keberanian dan pengorbanan, tekad dan gairah terbaik mereka bisa diselamatkan ke masa depan yang jauh. Dengan membangun Bolshevisme: Marx maupun Engels dan Lenin maupun Trotsky akan abadi dalam perjuangan kita. Kita akan mengenal mereka lebih dekat dan lebih dekat lagi. Dan kita akan memahami sebuah fakta: bahwa sebelum 1917 tidak ada perbedaan prinsipil antara Lenin dan Trotsky. Sepanjang 1903-Maret 1917, ketidakterimaan Trotsky terhadap Bolshevik-Leninis hanya bisa diredusir menjadi kurangnya pemahaman mengenai organisasi yang tersentral dan kuat. Maka segera setelah Trotsky memahami kebutuhan akan organisasi revolusioner profesional, Lenin mengungkap: ‘[persatuan dengan Menshevik] adalah mustahil. Trotsky memahami ini, dan sejak saat itu tidak ada Bolshevik yang lebih baik darinya.’
Dalam bagian pengatar “Kritik Leninis”, Daniel menyelipkan penilaian James Cannon selaku Trotskyis–sebuah tinjauan picik yang sesungguhnya telah lama dikritik oleh Ted Grant dan kamerad-kameradnya. Dia membisikan kalau sejak 1905 Bolshevik menganjurkan gagasan ‘Kediktatoran Demokrasi Revolusioner Proletariat dan Tani’, namun gerakan Trostkyis Internasional (Internasional Keempat) menolak posisi itu dengan menghidupkan kembali ‘Teori Revolusi Permanen’. Kita mengetahui bahwa para pemimpin Internasional Keempat sepeninggal Trotsky merupakan gerombolan pengkhianat yang menerapkan Marxisme bukan sebagai metode ilmiah tapi dogma. Apa yang mereka terapkan bukanlah yang prinsipil dari Revolusi Permanen, melainkan sebuah penilaian yang sifatnya sementara: perspektif 1938 tentang kemunculan gelombang revolusioner pada periode tertentu–namun mereka hadapi dengan taktik ‘entry’ secara permanen dalam serikat-serikat buruh dengan mengabaikan kaum tani. Revolusi Permanen tidak pernah menolak peran tani atau kediktatoran revolusioner buruh yang beraliansi dengan tani. Dalam “Hasil dan Prospek”—tepat pada sub-bahasan ‘Rezim Proletariat’—Trotsky menerangkan: ‘kaum proletar hanya dapat menaklukan kekuasaan dengan bergantung pada kebangkitan nasional dan antusiasme nasional.’ Artinya: perebutan kekuasaan oleh kelas buruh memerlukan bantuan dari kaum tani dan borjuis-kecil lapisan bawah yang teradikalisasi sebagai kekuatan sosial dari sebuah bangsa. Segera setelah merebut kekuasaan maka kaum buruh yang menjadi wakil dari bangsanya haruslah membubarkan tentara-tentara reguler: ‘ini harus dilakukan di hari pertama revolusi, yakni jauh sebelum situasi memungkinkan untuk mengenalkan sistem pemilihan fungsionaris-fungsionaris negara buruh yang bertanggung jawab dan mengorganisir sebuah milisi nasional.’ Dan hanya setelah itu, Trotsky menjelaskan, demokrasi buruh akan menyelesaikan persoalan-persoalan demokratik yang langsung berhubungan dengan hak milik feodal dan borjuis:
“Penghapusan feodalisme akan didukung oleh seluruh kaum tani, yang merupakan kelas yang memikul beban ini. Pajak-penghasilan progresif juga akan didukung oleh mayoritas kaum tani. Tetapi undang-undang apapun yang ditujukan untuk melindungi kaum proletar tani (kaum buruh tani) tidak akan menerima simpati aktif dari mayoritas kaum tani dan juga akan ditentang oleh minoritas kaum tani…. Segera setelah ia merebut kekuasaan, kaum proletar harus mencari dukungan dari antagonisme antara kaum desa yang miskin dan kaum desa yang kaya, antara kaum buruh tani dan kaum borjuasi tani…. Mendinginnya kaum tani, kepasifan politiknya, dan terutama oposisi aktif dari lapisan atas kaum tani, ini semua akan mempengaruhi kaum intelektual dan borjuis-kecil perkotaan. Maka dari itu, semakin jelas dan tegas kebijakan kaum proletar yang berkuasa, semakin sempit dan pijakannya goyah di bawah kakinya…. Masalah-masalah yang serupa muncul di pertanian bila penyitaan tanah dilakukan. Kita tidak boleh berpikir bahwa pemerintahan proletar dan tani, dalam menyita tanah-tanah pertanian skala besar milik bangsawan, akan memecah tanah-tanah ini dan menjualnya kepada produsen-produsen kecil untuk digarap. Satu-satunya jalan adalah mengorganisir koperasi di bawah kontrol komunal atau diorganisir secara langsung oleh negara. Tetapi jalan ini adalah jalan menuju sosialisme…. Untuk alasan ini kita tidak bisa berbicara mengenai bentuk kediktatoran proletar yang unik di dalam revolusi borjuis, mengenai kediktatoran proletar yang demokratis (atau kediktatoran proletar dan tani). Kelas buruh tidak dapat mempertahankan karakter demokratik dari kediktatorannya bila pada saat yang sama mereka tidak melampaui batas-batas program demokratiknya. Ilusi dalam hal ini akan sangat berbahaya…. Kelas proletar, setelah merebut kekuasaan, akan berjuang sampai garis akhir. Salah satu senjata dalam perjuangannya untuk mempertahankan dan mengkonsolidasi kekuasaan ini adalah agitasi dan pengorganisasian, terutama di daerah pedesaan; satu senjata yang lain adalah kebijakan kolektivisme. Kolektivisme akan menjadi satu-satunya jalan ke depan bagi partai yang berkuasa, dan juga akan menjadi senjata untuk mempertahankan posisi kekuasaannya….”
Hanya dalam artikelnya Daniel, kebijakan kolektivisasi tanah dengan mengorganisir koperasi di bawah kontrol negara buruh dianggap sebagai karakter ultra-kiri dan pengabaian terhadap kaum tani secara keseluruhan. Maka dengan gegabah disimpulkanlah bahwa Trotsky mengabaikan kaum tani. Dia memungkiri kalau Teori Revolusi Permanen berusaha meraih dukungan kaum tani dengan memperhatikan ‘antagonisme kelas pedesaan’ dan berjuang ‘menuntaskan reforma agraria’. Trotsky tidak mengabaikan kaum tani bersama segala kepentingannya, tetapi mensubordinasikan kepentingan kaum tani di bawah kepentingan proletariat: ‘nasib dari kepentingan-kepentingan revolusioner kaum tani yang paling fundamental—bahkan seluruh kaum tani sebagai sebuah kelas—tergantung pada nasib seluruh revolusi, yakni nasib kelas proletar.’ Trotsky memahami: kalau di sebuah negeri terbelakang, kelas pekerja yang baru tumbuh, tidak akan pernah mampu memimpin kaum tani dan merebut kekuasaan jika persoalan agraria dihadapi dengan sekadar membagi-bagikan tanah. Bagi Trotsky: masalah agraria justru akan dapat diselesaikan melalui penerapan demokrasi buruh. Kediktatoran proletariat adalah keharusan untuk menuntaskan tuntutan demokratik tani, karena ‘tidak ada kekuatan lain dan jalan lain’ untuk menyelesaikan persoalan agraria kecuali dengan meletakkan kekuasaan di tangan proletariat: ‘kaum proletar yang berkuasa akan berdiri di depan kaum tani sebagai sebuah kelas yang telah membebaskan mereka. Dominasi kaum proletar bukan hanya akan berarti perampasan hak yang demokratis, pemerintahan-independen yang bebas, pemindahan seluruh beban pajak ke kelas-kelas yang kaya, pembubaran tentara reguler dan pembentukan rakyat bersenjata, dan penghapusan pajak-pajak gereja, tetapi juga akan berarti pengesahan semua perubahan-perubahan relasi tanah (penyitaan tanah) secara revolusioner yang dilakukan oleh kaum tani’ melalui kediktatoran proletariat. Dalam soal agraria, posisi Trotsky serupa dengan Lenin. Lenin tidak pernah mengusulkan reformasi agraria yang sebatas menyangkut redistribusi tanah, melainkan revolusi agraria untuk membersihkan semua sampah feodalisme. Lenin pula tak menyerukan beraliansi dengan petani-petani kaya tetapi cuma dengan kaum-kaum miskin desa dan kota. Maka ketimbang mengadopsi UU Reformasi Tani 1861 (mengembalikan tanah-tanah petani yang diserobot tuan-tanah), Lenin meluncurkan program yang lebih radikal dengan slogan ‘Revolusi Rakyat’. Dalam “Bolshevisme: Jalan menuju Revolusi Jilid II: 1906-1914”, Alan Woods menulis:
“Tugas dasarnya adalah solusi radikal terhadap masalah tanah yang dimiliki oleh para tuan tanah, dengan cara revolusi agraria yang menyeluruh yang menjurus ke penyitaan tanah oleh komite-komite tani guna menghancurkan kekuasaan tuan tanah; dan tergantung pada situasi, misalnya kemenangan pemberontakan bersenjata, menjurus juga ke pembentukan sebuah republik demokratik dan nasionalisasi tanah…. Ini berdasarkan perspektif perjuangan revolusioner melawan autokrasi dan pemberontakan bersenjata, bukan kolaborasi kelas dengan kaum liberal dan parlementerisme yang kerdil … Lenin menunjukkan revolusi agrarian hanya bisa diselesaikan melalui revolusi atau tidak sama sekali. Lenin menentang tuntutan munisipalisasi tanah yang reformis (kiranya munisipalisasi tanah ini akan dicanangkan oleh rezim autokrasi!), dan sebagai gantinya dia memajukan tuntutan nasionalisasi tanah. Akan tetapi, Lenin dengan hati-hati menunjukkan bahwa nasionalisasi tanah adalah tuntutan borjuis, yang dalam dirinya sendiri tidak menandai penghapusan kepemilikan borjuis, tetapi hanya menghapuskan relasi properti pertuantanahan feodal…. Mengenai kekuatan-kekuatan kelas untuk revolusi ini, Lenin menjabarkan ini ribuan kali: kaum borjuis liberal adalah kekuatan yang kontra-revolusioner. Revolusi borjuis-demokratik hanya bisa dilaksanakan oleh sebuah aliansi antara buruh dan kaum tani miskin (massa semi-proletar di kota dan pedesaan)….”
Dalam masalah fundamental mengenai tugas-tugas gerakan revolusioner tidak ada perbedaan antara Lenin dan Trotsky. Keduanya bersepakat kalau Revolusi Rusia haruslah dipimpin oleh partai revolusioner yang mengorganisir kekuasaan proletariat yang beraliansi dengan massa tani. Saat menulis “Hasil dan Prospek” Trotsky baru berumur sekitar 26 tahun, tetapi ikatannya dengan gerakan buruh sebagai Presiden Soviet Petersburg memberikannya gambaran yang jelas mengenai apa itu kediktatoran proletariat. Dalam “Bolshevisme; Jalan menuju Revolusi Jilid I: 1883-1905”, Alan Woods menjelaskan kalau Trotsky melaksanakan kerja yang terpisah bukan hanya dengan Bolshevik tetapi juga Menshevik. Lenin mungkin beberapa kali mengecamnya dalam masalah persatuan partai, namun berkait urusan politik, Trotsky begitu dekat dengan pandangannya Lenin. Selain dari belum sampainya Trotsky pada kesimpulan pentingnya organisasi revolusioner profesional, dia saat itu juga menolak bergabung dalam Bolshevik karena melihat Komite Bolshevik di Petersburg (Lingkaran Vperyod) yang mengambil jarak dengan Soviet. Pada 1906, dari balik jeruji tsar, dirinya menulis pamflet seruan diselenggarakannya Kongres Nasional Soviet. Tetapi selama berkuasanya birokrasi Stalinis gagasan itu dipelintir sebagai karikatur untuk menuduh Trotsky mendukung Kongres Buruh Menshevik, mengabaikan peran kaum tani dan menentang slogan kediktatoran demokratik buruh dan tani dari Bolshevik. Inilah mengapa tidak tepat kiranya tudingan Daniel: Trotsky ‘sama dengan posisi Menshevik yang melihat kaum tani bukan sebagai sekutu strategis dalam revolusi demokratik.’ Trotsky justru mengemukakan tantangan mengenai kekuatan sosial yang menyelimuti kaum tani: ‘keprimitifan dan karakter borjuis-kecil yang dimiliki kaum tani, pandangan ruralnya yang sempit, dan keterisolasiannya dari hubungan politik dunia, akan menciptakan kesulitan-kesulitan yang luar biasa bagi konsolidasi kebijakan revolusioner kaum proletar yang berkuasa.’ Singkatnya, Trotsky tidak menyangkal persekutuan dengan kaum tani tetapi mengutarakan karakter-karakter sosial borjuis-kecil yang mempersulitnya. Dalam “Tiga Elemen Kediktatoran Demokratik: Kelas-Kelas, Tugas-Tugas, dan Mekanika Politik”, Trotsky pernah menjawab sebuah kritikan semacam yang dilontarkan Daniel. Dahulu, dia menulisnya untuk berpolemik melawan kaum epigon, Karl Radek:
“Perbedaan antara titik pandang ‘Revolusi Permanen’ dan titik pandang Leninis terekspresikan secara politik dengan membandingkan slogan kediktatoran proletariat yang mengandalkan kaum tani, dengan slogan kediktatoran demokratik proletariat dan tani. Perbedaan mengenai slogan ini bukanlah mengenai apakah tahapan borjuis-demokratik dapat diloncati dan apakah sebuah aliansi buruh dan tani dibutuhkan—perbedaannya adalah mengenai mekanika politik dari kolaborasi proletariat dan kaum tani dalam revolusi demokratik…. Radek menyatakan—tanpa bukti—bahwa Lenin meruduksi persoalan ini menjadi kolaborasi antara kedua kelas dalam tugas-tugas objektif sejarah…. Perselisihan teori dan juga perselisihan politik antara saya dan Lenin bukanlah mengenai aliansi antara buruh dan tani, namun mengenai program dan kolaborasi tersebut, bentuk partai dan metode politiknya…. Iya, selama bertahun-tahun Lenin menolak untuk mendakwa terlebih dahulu persoalan bagaimana partai politik dan organisasi negara kediktatoran demokratik proletariat dan tani akan mengambil bentuk, dan dia mendorong ke depan kolaborasi antara kedua kelas tersebut dengan menentang koalisi dengan borjuasi liberal. Lenin berkata: pada sebuah tahapan sejarah tertentu, karena situasi objektif secara keseluruhan maka akan lahir aliansi revolusioner antara kelas buruh dan kaum tani untuk penyelesaian tugas-tugas revolusi demokratik…. Juga, Lenin sendiri tidak berpendapat bahwa persoalan ini akan terjawab oleh basis kelas kediktatoran dan tujuan obyektif sejarahnya. Pentingnya faktor subjektif—tujuan, metode yang sadar, partai—dipahami dengan baik oleh Lenin dan diajarkannya ini kepada kita semua … Bagaimanapun juga, pendekatan Lenin terhadap persoalan ini dalam waktu yang berbeda mengambil bentuk yang berbeda-beda. Pemikiran Lenin tidak boleh dilihat secara dogmatis. Ia harus dilihat dalam konteks sejarah. Lenin tidak membawa perintah dari Gunung Sinai, namun dia menganalisa ide-ide dan slogan-slogan yang disesuaikan dengan realitas, membuatnya konkrit dan tepat, dan pada waktu yang berbeda memenuhinya dengan isi yang berbeda.”
Trotsky menjelaskan posisinya untuk melawan kaum epigon yang mendekati pemikiran Lenin secara dogmatik. Dia tak seperti tudingan Daniel: ‘secara tak langsung mengatakan kalau teorinya lebih unggul dari Lenin’–apalagi sampai menentang kebijakan Bolshevik. Trotsky justru memberikan penafsiran mengenai bentuk politik yang hendak diambil dalam aliansi buruh dan tani. Hanya Daniel mencoba menyudutkan Trotsky dengan menerangkan kalau pernyataan programatik dalam pendirian Internasional Keempat melukiskan bagaimana ‘kediktatoran demokratik proletariat dan tani sudah dikubur oleh sejarah.’ Padahal tujuan utama dari Program Transisional (1938) adalah membangun organisasi revolusioner profesional dengan mempersiapkan kader-kader masa depan. Hanya setelah dibunuh oleh agen rahasia Stalinis, Trotsky tak dapat meneruskan kerja-kerja persiapan dengan sepenuh-penuhnya. Inilah mengapa penyimpangan-demi-penyimpangan menjadi tren dari kepemimpinan Internasional Keempat. Namun Daniel justru mendasarkan kritikan terhadap Revolusi Permanen bukan dengan menelusuri teori tersebut, melainkan berpatokan pada dogmatisme dan praktek-praktek keliru lingkaran-lingkaran kecil Trotskyis. Begitulah kebangkrutan Negara Komunis Hongaria dibebankan sepenuhnya terhadap Trotsky. Padahal fakta memperlihatakan kehancuran kaum buruh dan Komunis Hongaria didorong oleh birokrasi Stalinis dengan mengirim tentara Rusia dalam mengonsolidasikan kontra-revolusi Stalinis melawan tuntutan-tuntutan rakyat. Dalam “Hungary and the Crisis in the Communist Party”, Ted Grant menulis:
“Peristiwa yang terjadi menjelang akhir tahun 1956 di Hongaria mengguncang semua Partai Komunis di dunia. Garis resmi Partai Komunis adalah bahwa apa yang terjadi di Hongaria adalah kontra-revolusi Fasis! Tidak semua jajaran PK tertipu. Banyak yang melihat bahwa para pekerja Hongaria telah bangkit melawan kasta-birokrasi yang berkuasa…. Di Polandia, Hongaria, dan negara-negara Eropa Timur lainnya, birokrasi Rusia melalui perwakilan dan agen lokalnya menindas massa dengan metode brutal dan teroris yang sewenang-wenang…. Sekarang pasukan asing yang digunakan untuk melawan revolusi adalah pasukan Rusia.… Sepuluh tahun setelah revolusi telah dikonsolidasikan di Hongaria, inilah kesudahannya. Tentara Rusia dan Pemerintahan boneka Janos Kadar mewakili kontra-revolusi Stalinis di Hongaria…. Setelah lebih dari sepuluh tahun pemerintahan Stalinis, ini memuncak dalam pemberontakan massa di Hongaria. Ini adalah perjuangan nasional yang luar biasa dan heroik yang sebanding dengan Komune Paris dan Revolusi Rusia itu sendiri…. Dengan kekalahan pemerintah, kaum buruh segera mengorganisir komite-komite revolusioner buruh, prajurit, mahasiswa, petani, bahkan pengacara, begitu kuatnya perasaan revolusioner di Hongaria. Komite-komite revolusioner ini adalah Soviet, tetapi penindasan Rusia dan Stalinis-Hongaria telah membuat nama Soviet begitu bau sehingga massa hanya menyebut pemerintahan mandirinya sebagai komite-komite revolusioner. Komite-komite ini berdasarkan pabrik, dll., adalah bentuk paling demokratis yang mungkin dicapai, namun tindakan berbahaya Pemerintah Kadar setelah intervensi berbahaya kedua oleh pasukan Rusia adalah memerintahkan pembubaran komite prajurit dan penunjukan ‘Komisaris’ sebagai tuan bagi komite buruh.”
Menyerang Trotsky dengan mengatasnamakan perspektif Marxis-Leninis, Daniel selanjutnya mengambil Revolusi Cina sebagai sampelnya. Dalam peristiwa ini dirinya menerangkan: ‘Trotsky mengajurkan kediktatoran proletariat yang didukung massa miskin (kota dan desa), bukan kediktatoran demokratik buruh dan tani.’ Dengan berpatokan pada dokumen kritik Trotsky terhadap Stalin, yang beredar dalam partai selama pertarungan kasta-birokrasi melawan Oposisi Kiri–Daniel menjelaskan kalau Trotsky mengintervensi Revolusi Cina dengan menyerukan ditanggalkannya posisi Leninis mengenai kediktatoran demokratik buruh dan tani untuk digantikan dengan kediktatoran proletariat. Padahal dalam pertarungan faksional yang berlangsung, Trotsky menentang kebijakan kolaborasi kelas Stalinisme. Sepanjang 1925-27, birokasi Stalinis telah menjadikan Komintern untuk mengarahkan perjuangan revolusioner di Cina menjadi revolusi demokratik di bawah kepemimpinan borjuis-nasional. Dalam “Revolusi Permanen: Teori Revolusi Sosialis untuk Dunia Ketiga”, Trotsky menjelaskan bahwa kasta-birokrasi memaksa Partai Komunis Tiongkok (PKT) mendirikan front populer bersama partai borjuis, hingga meleburkan diri dan tunduk pada disiplin Koumintang. Bahkan melalui telegram khusus kepada kaum Komunis Cina, Stalin dan Bukharin membatasi gerakan agraria dan melarang buruh dan tani membentuk Soviet agar tidak mengasingkan diri dari Chiang Kai Shek–keduanya berpendapat: ‘Koumintang adalah pengganti Soviet.’ Pada 1927, Revolusi Cina akhirnya diremukkan oleh Koumintang di bawah kepemimpinan Kai Shek dan ribuan anggota PKT ditenggelamkan dalam lautan darah. Namun dalam artikelnya, Daniel menulis kalau seruan-seruan Oposisi Kiri mengenai Revolusi Cina—saat melawan birokrasi Stalinis—berkarakter ultra-kiri karena Trotsky menyerukan kediktatoran proletariat tanpa membertimbangkan ketiadaan Soviet di Cina. Daniel rupanya mengabaikan fakta bahwa dengan berlangsungnya situasi revolusioner di Cina, maka ini dapat menjadi momen untuk mendirikan organisasi-organisasi Soviet. Trotsky menyadari potensi revolusioner untuk pendirian pemerintahan buruh dan tani yang mandiri itu. Di sini bukanlah Revolusi Permanen Trotsky yang seharusnya memikul dosa sejarahnya, melainkan kebijakan-kebijakan luar negeri Stalinisme yang berdarah dan telah menyia-nyiakan kebangkitan revolusioner dengan menghancurkan Revolusi Cina.
Sejak awal Trotsky mengusung slogan kediktatoran proletariat bukan untuk menentang posisi Bolshevik berkait kediktatoran demokratik buruh dan tani tapi revolusi dua-tahapan birokrasi Stalinis. Dalam “Hasil dan Prospek”, Trotsky mengutarakan tiga aspek penting dari Revolusi Permanen: (1) dalam epos zaman imperialisme, tugas-tugas demokratik negeri-negeri borjuis terbelakang akan mengantarkan langsung ke kediktatoran proletariat dan terbentuknya kediktatoran proletariat membawa-serta tugas-tugas sosialis saat itu juga—berkait penghapusan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi; (2) melalui waktu yang sangat panjang dan perjuangan internal yang berkesinambungan, semua hubungan sosial mengalami transformasi secara bertahap yang muncul dari tahapan sebelumnya, dan mengambil bentuk politik yang berkembang melalui bentrokan antara kelompok masyarakat yang sedang bertransformasi: pecahnya perang sipil dan perang imperialis yang diikuti oleh periode reformasi damai, dan seterusnya secara bergantian; dan revolusi dalam ekonomi, politik, keluarga, pengetahuan, moral, dan kehidupan sehari-hari dalam aksi timbal-balik yang kompleks dan tidak memungkinkan mencapai keseimbangan; (3) dari kondisi ekonomi dan struktur sosial masyarakat—ekonomi dunia, kekuatan produktif dunia, dan perjuangan kelas dunia—maka konflik dan ketidakseimbangan yang berlangsung di skala nasional, menyebar ke skala internasional, dan hanya dapat diselesaikan di skala global. Dengan mengidentifikasi keterkaitan aspek-aspek Teori Revolusi Permanen dengan Revolusi Cina inilah mengapa Trotsky menyerukan pembangunan kediktatoran proletariat dalam Revolusi Cina. Dia memandang kalau Revolusi Cina serupa dengan situasi Revolusi Rusia. Dalam “Stalinism in the Postwar World”, Ted Grant memberikan gambaran umumnya:
“Kombinasi kekuatan yang aneh yang menghasilkan kemenangan Stalinisme di Eropa Timur, sedang bekerja menuju hasil yang sama di Asia. Di Cina, kami memiliki contoh luar biasa dari hasil multiplisitas faktor historis ini. Kekalahan revolusi 1925-1927 (karena kesalahan kaum Stalinis) yang menjanjikan keberhasilan, membuat para pemimpin Stalinis dan kader-kader yang berhasil mereka pertahankan, meninggalkan kota-kota dan naik ke pegunungan secara berurutan, untuk mendasarkan diri pada perang tani, perang yang memiliki banyak preseden dalam sejarah Cina. Keruntuhan dan keruntuhan rezim polisi militer kapitalis-tuan tanah ditunjukkan dalam ketidakmampuan totalnya untuk memecahkan satupun masalah Cina pada periode 1924-25. Jauh lebih busuk daripada Tsar Rusia, bahkan dalam kondisi terburuknya, ia berhasil mengasingkan hampir seluruh penduduk selain dari klik Chiang Kai Shek di Puncak…. Pada periode yang sama, kehancuran imperialisme yang mengerikan setelah Perang Dunia Kedua membuat kaum imperialis tidak mampu melakukan intervensi. Pada tahun 1925-27 imperialisme Inggris membalas ‘penghinaan terhadap Bendera’ dengan membombardir pelabuhan-pelabuhan utama Cina dengan kapal perang mereka. Ini dengan persetujuan pemimpin-pemimpin serikat pekerja. Pada tahun 1949, begitulah perimbangan kekuatan, kaum imperialis memuji dengan gembira kapal perang yang menyelinap pergi dai perairan Yangtze! Begitu setelah perimbangan kekuatan berubah. Imperialis Amerika campur tangan dengan senjata, uang, dan amunisi yang sangat besar, untuk membantuk geng korup Chiang Kai Sek, tetapi hampir selalu persediaannya mampu direbut Tentara Merah Cina.”
Dalam situasi inilah kader-kader Stalinis Cina membangun kekuatannya kembali. Segera setelah PKT diremukan melalui kebijakan kolaborasi kelas dan teori dua-tahapan, para pemimpin dan kader-kader Stalinis meninggalkan kota-kota untuk masuk ke hutan dan pegunungan. Kini Partai Komunis-Stalinis bangkit bukan saja di Eropa Timur tetapi juga di Asia. Di sisi lain, kehancuran akibat Perang Dunia Kedua telah melemahkan imperialisme untuk melalukan intervensi-intervensinya. Berkat melemahnya negeri-negeri imperialis, ditambah sokongan birokrasi Stalinis yang sedang berjaya, dan kecilnya kekuatan Oposisi—maka PKT ditegakkan kembali dengan cepatnya. Kelompok-kelompok Maois tumbuh pesat hingga basis massanya meraksasa. Perang-perang tani yang di masa lalu berlangsung sporadis dan cepat berakhir kini meluas dan lebih lama. Seiring perang tani berkepanjangan, Mao Zedong mengembangkan strategi gerilyaisme: desa mengepung kota. Pada tahun 1949 Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang dipimpin oleh PKT berhasil menggulingkan kekuasaan borjuis dan tuan-tanah. PLA dan PKC terdiri dari petani-petani borjuis-kecil dan terisolasi dari kelas pekerja di kota-kota yang telah lelah dan dihancurkan melalui penumpasan Koumintang sebelumnya. Dengan komposisi kelas dan kekuatan sosial seperti inilah pembangunan kekuasaan negara buruh di Cina mengutip citra birokrasi Stalinis Rusia: Bonapartime. Walaupun kaum Stalinis Tiongkok tidak mengakuinya, pada kenyataannnya mereka telah mengonsolidasikan rezim Bonarpartisme Proletariat di Cina dan menjadi tambahan kekuatan bagi kasta birokrasi di Rusia. Internasional Keempat tidak berdaya menghadapi itu semua, dan atas kelemahannya, kaum muda dan gerakan Trotskyis terilusi dan memberikan dukungan terhadap rezim Bonapartis Proletar Cina. Pada sebuah ‘Pengantar’ untuk “From Permanent Revolution to Counter-Revolution”, John Peter Roberts menerangkannya:
“Sebuah negara pekerja yang cacat sejak lahir tapi tetaplah negara pekeja. Tidak ada Soviet, atau kontrol pekerja, atau serikat buruh nyata yang independen dari negara, atau kepemimpinan Marxis yang otentik. Kondisi yang paling mendasar bagi demokrasi pekerja sudah tidak ada sejak awal. Peristiwa semacam itu menjadi tantangan teoritis baru dan serius bagi kaum revolusioner. PKT telah berkuasa dengan menganut teori tahapan Stalinis, dengan kebijakan yang diumumkan untuk mendirikan republik borjuis…. Kemenangan PKT bergema di seluruh dunia dan memenangkan banyak orang muda ke Maoisme. Menutup mata mereka terhadap kurangnya demokrasi pekerja di Tiongkok, mereka menyimpulkan bahwa untuk menang, PKT pasti telah memutuskan hubungan dengan Stalinisme. Mao dipercantik dan diromantisasi, bahkan oleh bagian-bagian gerakan Troskyis: Mao ditampilkan sebagai Fidel Castro versi Asia, dia telah membebaskan PKT dari dominasi Stalin dan Komintern, … dia bertanggung jawab dalam mengembangkan strategi perang gerilya berkepanjangan.”
Namun dalam artikelnya Daniel, kita dibujuk mendekati semua penyimpangan Internasional Keempat dan Partai Komunis (Stalinis) bukan dari validitas historis tapi prasangka yang membebankan sepenuhnya kejahatan Stalinisme terhadap ide-ide Trotsky. Pada akhirnya: “Kritik Leninis terhadap Revolusi Permanen” lebih mirip posisinya kaum Stalinis dan epigon ketimbang Bolshevik-Leninis. Padahal jalannya peristiwa telah membuktikan kebenaran Teori Revolusi Permanen–baik yang terdemonstrasikan secara positif melalui kemenangan kediktatoran proletariat dalam Revolusi Oktober, maupun diterangkan secara negatif melalui degenerasi Uni Soviet akibat keterisolasiannya dari revolusi dunia dan kekalahan Revolusi Cina tanpa kediktatoran proletariatnya. Di mana negeri-negeri yang perkembangan kapitalismenya terlambat (koloni dan semi-koloni), di situ kelas borjuisnya sangat lemah dan tidak mampu mengemban tugas historisnya karena mereka terikat seribu benang dengan imperialisme dan sisa-sisa feodalisme. Kenyataan ini mengharuskan setiap perjuangan untuk revolusi demokratik, demokrasi nasional atau pembebasan nasional di Dunia Ketiga, untuk bersandar pada kediktatoran proletariat–yang dipandu oleh kepemimpinan revolusioner–sebagai satu-satunya kekuasaan revolusioner yang sanggup menyelamatkan nasib bangsa. Segera setelah kekuasaan diraih, kediktatoran proletariat akan menjalankan program yang bukan saja langsung berhubungan dengan penghancuran relasi-relasi kepemilikan pribadi borjuisme, tetapi juga situasi di mana kekuasaannya hanya bisa dipertahankan dan tugasnya cuma bisa dituntaskan dengan mengobarkan revolusi dunia. Inilah mengapa Revolusi Permanen hadir sebagagi teori revolusi dunia. Lenin telah lama memahaminya. Pada 1905, dia menulis dalam koran Bolshevik: ‘gagasan utama di sini telah diformulasikan berulang kali di “Vperyod”, yang telah menyatakan bahwa kita tidak boleh takut pada kemenangan penuh Sosial-Demokratik dalam sebuah revolusi demokratik, yakni kemenangan kediktatoran demokratik-revolusioner proletariat dan tani, karena kemenangan ini akan membangkitkan Eropa pada gilirannya akan membantu kita memenuhi revolusi sosialis.’ Dengan Tesis April 1917, slogan lama itu akhirnya ditinggalkan dan penggantinya adalah “Semua Kekuasaan untuk Soviet”. Dalam “Bolshevisme; Jalan menuju Revolusi Jilid II”, Alan Woods merekam bagaimana Lenin berbenturan dengan kaum Bolshevik ‘tua’ di sekitar kebijakan kediktatoran demokratik dan kediktatoran proletariat:
“Dari sudut pandang materialis, ujian akhir dari semua teori adalah praktik. Semua teori, program dan perspektif yang diajukan dan dibela dengan penuh semangat oleh berbagai tendensi politik dalam gerakan buruh Rusia mengenai watak dan motor pendorong revolusi diuji pada 1917. Pada poin ini, garis yang memisahkan Trotsky dan Lenin menghilang sepenuhnya. Garis Lenin yang tertuang di ‘Letters from Afar’ dan ‘Tesis April’ sama dengan yang kita baca dalam artikel-artikel Trotsky yang dia terbitkan di koran Novy Mir pada saat yang sama, tetapi ribuan kilometer di Amerika. Dan, seperti yang Trotsky pada 1909, sisi konta-revolusioner dari teori kediktatoran demokratik proletariat dan tani hanya menjadi jelas selama jalannya revolusi itu sendiri, ketika Kamenev, Zinoviev, dan Stalin menggunakan teori ini untuk menentang Lenin dan membenarkan dukungan mereka terhadap Pemerintahan Provisional borjuis. Perpecahan terbuka berkembang antara Lenin dan para pemimpin partai lainnya, yang secara efektif menuduh Lenin sebagai Trotskyis.”
Tatkala kawan-kawan PEMBEBASAN kita tetap meneguk pemikiran Daniel, tanpa membedakan antara fakta dan prasangka, mereka akan terus mempertentangkan Revolusi Permanen dengan garis politik Bolshevik-Leninis. Semakin dalam mereka tenggelam, mereka akan tiba pada jurang keyakinan yang buta. Yang meyakini teori revolusi dua-tahap bukan mengalir dari kesesatan Menshevisme dan Stalinisme, tetapi merupakan bagian kebijaksanaan Bolshevisme-Leninisme. Dalam “Kritik Leninis terhadap Revolusi Permanen”, teori tahapan itu diperkenalkan dalam bentuknya yang lebih modis: revolusi tanpa hambatan atau revolusi dua-tahap yang tak terinterupsi. Daniel berusaha membuktikan ‘kebenaran’ revolusi dua-tahap tanpa hambatan ini dengan menjelaskan tahapan yang berkembang dalam perjuangan kelas sebagai tahap-tahap Revolusi Bolshevik. Sebelum sampai pada tahap sosialis, revolusi demokratik melewati delapan bulan persiapan: ‘proses terciptanya kesiapan tersebut antara musim panas hingga musim gugur 1918.’ Tahap pertama, April-Juli 1918—transfer kekuasaan politik di kota kepada Soviet Buruh dan organ-organ lain kekuasaan proletariat yang bersekutu dengan tani; transfer kekuasaan politik di desa disertai penyerahan tanah-tanah semi-feodal kepada Soviet Tani. Tahap kedua, Juli-November 1918—proletariat menggunakan kekuasaan negara yang direbutnya untuk mengonsolidasikan kekuasaan di kota dalam membuat aliansi dengan semi-proletar tani melawan borjuis desa dan kota. Dengan meredusir proses memenangkan Revolusi Proletariat menjadi proses-proses yang kaku dan tidak organis, Daniel melupakan faktor subyektif dalam sejarah. Kesiapan–kesadaran, kehendak, dan keberanian berkorban–laki-laki dan perempuan untuk berjuang sampai akhir tidak dapat dipisahkan dari kesiapan kepemimpinan yang memberi massa ekspresi terorganisir dan sadar-kelas. Kesiapan massa proletar dan semi-proletar untuk merebut kekuasaan tidak terpikirkan tanpa kesiapan lapisan pemimpin revolusioner. Jalan menuju kemenangan Revolusi Oktober tidak dipersiapkan sesingkat hitungan bulan; Lenin dan Trotsky dan seluruh kameradnya mempersiapkan partai revolusionernya kurang-lebih seperempat abad lamanya. Dalam “Perspectives for the Philippine Revolution”, International Marxist Tendency menjelaskan posisi Leninis yang sejati dalam Revolusi Rusia:
“Lenin merangkum seluruh pengalaman revolusi Rusia dalam penolakan keras terhadap gagasan ‘dua-tahap’. Ia menjelaskan bahwa revolusi dimulai dengan menghubungkan proletariat dan partainya, Bolshevik, ‘dengan seluruh kaum petani melawan monarki, melawan tuan-tanah, melawan rezim abad pertengahan, dan sejauh itu revolusi tetap borjuis, borjuis-demokratis. Kemudian, dengan petani termiskin, dengan kaum semi-proletar, dengan semua yang dieksploitasi melawan kapitalisme… dan sejauh itu revolusi menjadi revolusi sosialis. Mencoba membangun Tembok Cina buatan antara tahap pertama dan kedua, memisahkannya dengan apapun selain tingkat kesiapan proletariat dengan partainya, dan tingkat persatuannya dengan petani miskin, berarti secara mengerikan mendistorsi Marxisme, memvulgarisasikannya, menggantikannya dengan liberalisme, itu berarti menyelundupkan pembelaan reaksioner terhadap borjuasi dibandingkan dengan proletariat sosialis melalui referensi kuasi-ilmiah tentang karakter progresif kaum borjuasi dibandingkan dengan kaum abad pertengahan.'”
Dengan memperkenalkan tahap-tahap perjuangan kelas yang saling-terhubung sebagai tahap-tahap revolusi demokratik atau perebutan kekuasaan yang terpisah secara absolut, maka kehadiran soviet-soviet pada Revolusi Oktober dan Februari 1917 dan bahkan Revolusi 1905, menjadi soviet-soviet yang terisolasi secara historis. Kelas proletar, yang terorganisir dalam pemerintahan mandiri dan merebut kekuasaan negara dengan bantuan kaum pelopornya, didekati secara statis; di mana proses perkembangan kesadaran dan kesiapan politik proletariat yang berlangsung selama pembentukan soviet dalam Revolusi 1905 dipisahkan secara kasar dari perkembangan soviet-soviet dalam Revolusi 1917. Dalam pembangunan Revolusi Rusia, soviet terbentuk sebagai unsur yang menghubungkan secara dialektis tahap-tahap perjuangan kelas yang berbeda. Kehadiran soviet dalam ketiga periode revolusi menunjukan bahwa tahapan-tahapan perjuangan yang hidup tidak dapat diberi batas-batas yang kaku dan didekati sebagai tahapan-tahapan perjuangan yang tersendiri-sendiri. Keseluruhan proses perjuangan kelas membentuk bagian-bagian yang khusus tapi saling-terhubung dan saling-merasuki; ini berlangsung dalam perkembangan umum kesadaran massa yang termanifestasikan oleh barisan pelopornya. Dan perkembangan kepeloporan, merasuki kesadaran massa dengan mengambil bentuk sebuah partai yang memberi ekspresi sadar dan terorganisir dalam perjuangan massa. Tidak ada tahapan perjuangan kelas yang berlangsung utuh dengan garis demarkasi yang tetap–dalam Revolusi 1905 terdapat soviet yang mengantisipasi perkembangan di tahap berikutnya dan dalam Revolusi Oktober terdapat Menshevik maupun Revolusioner Sosialis yang mewakili perkembangan di tahap sebelumnya.
Dari Februari ke Oktober 1917, Daniel tidak menekankan pada hubungan dialektis antara massa dan kepemimpinnya. Pembagian kaku antara Februari dan Oktober menjadi tahap-tahap perjuangan kelas yang bertentangan dan tidak tersatukan secara dialektis, menyeret Daniel menjadi apa-yang-ditulisnya sendiri sebagai kritiknya terhadap Trotsky: ‘gagal memahami signifikansi perjuangan Lenin untuk membentuk—dengan penuh kehati-hatian—pelopor (vanguard) kelas buruh yang harus bersih dari pengaruh borjuis liberal dalam gerakan buruh, yakni, seperti Menshevik.’ Di balik kabut asap “Kritik Leninis terhadap Revolusi Permanen” sesungguhnya tersembunyi kecenderungan reformisme dan sentrisme yang paling terselubung. Tinjauan Daniel mengasosiasikan Lenin sebagai spesies liberal yang mengadopsi teori dua-tahap yang merupakan manifestasi dari tendensi reformis dan sentris dalam gerakan buruh. Di tangan Daniel teori dua-tahap diperbaharui begitu rupa: bukan lagi ‘bersandar pada borjuis nasional progresif dan membangun front bersamanya’, melainkan ‘bersandar pada borjuis-kecil dan membangun persatuan bersamanya’ dengan dalih kalau revolusi di zaman kita bukanlah revolusi proletariat-sosialis tapi revolusi borjuis-demokratik. Trotsky memberi peringatan: ‘ilusi terburuk dari seluruh sejarahnya, yang sampai sekarang masih diderita oleh kaum proletariat, adalah ilusi ketergantungan pada kelas lain.’
Konsekuensi praktis dari posisi Daniel adalah mengabaikan pembangunan kepemimpinan revolusioner: partai tempur kaum revolusioner proletar—Bolshevisme. Kemenangan Revolusi Oktober—yang telah meletakkan semua kekuasaan di tangan soviet—diklaim sebagai pembuktian kebenaran revolusi dua-tahap yang tidak terinterupsi. Perkembangan dari Revolusi Februari ke Revolusi Oktober; dari negara borjuasi ke negara buruh–takkan pernah terpikirkan sama sekali tanpa kediktatoran proletariat. Tanpa pengorganiasian kelas proletar sebagai kelas yang berkuasa, yang dalam sistem pemerintahan soviet beraliansi dengan kaum tani, tidak akan ada Revolusi Februari yang terhubung secara dialektis dengan Revolusi Oktober. Mengatakan bahwa perjuangan kelas dari Februari ke Oktober sebagai proses revolusi tahapan tanpa hambatan (revolusi dua-tahap tak terinterupsi), tanpa keyakinan penuh akan kediktatoran proletariat dan signifikansi kepemimpinan revolusionernya, sesungguhnya merupakan upaya penyatuan dua sisi yang saling berlawan secara eklektis. Dengan mendasarkan diri pada teori revolusi tahapan yang keliru, yang telah mengganti apa yang esensial dari kebijakan Bolshevik dengan kebijakan non-esensial yang muncul pada tahap perkembangan tertentu, seseorang tidak akan mungkin sampai pada kesimpulan yang koheren. Penjelasan tentang tahap Februari ke tahap Oktober sebagai kebenaran revolusi tahapan yang tak terinterupsi–kesimpulan macam ini tidak dapat diterima. Ketika pemikiran telah merobek tahap-tahap perjuangan kelas menjadi keset-keset kusut yang terpisah-pisah dan terisolasi, lalu ingin menjahitnya kembali tanpa sebelumnya memiliki jarum dan benang yang kuat di tangannya–maka jahitannya hanyalah merupakan bayangan suram yang tidak menemukan tempat dalam kehidupan yang nyata.
Dalam kebenaran sejarah Revolusi Oktober, perkembangan langsung dari tugas-tugas revolusi demokratik ke tugas-tugas revolusi sosialis, hanya dapat dipenuhi oleh sebuah kediktatoran proletar yang beraliansi dengan kaum tani dan dipandu oleh kepemimpinan revolusioner yang sejati. Tanpa kediktatoran proletariat–yang dididik oleh kaum Bolshevik–untuk merebut kekuasaan sebagai wakil dari bangsa, syarat-syarat untuk menghancurkan tembok-tembok negara borjuis yang berdiri di antara Februari dan Oktober tidak akan pernah terpenuhi. Dalam “Kritik Leninis terhadap Revolusi Permanen”, dengan mengambil tempo delapan bulan untuk memaksakan penerapan teori dua-tahap, dekade-dekade panjang persiapan Bolshevisme dan dalam hubungannya dengan soviet ditutup sebagai buku yang tersegel. Padahal tanpa pembangunan Bolshevik sebagai partai revolusioner siap tempur, Revolusi Oktober bukan saja tak terpikirkan kemenangannya tapi terutama Soviet-Soviet Buruh dan Prajurit tidak dapat dijamin keselamatannya. Berlangsungnya krisis ekonomi selama Perang Dunia Pertama belumlah memadai untuk revolusi. Trotsky berucap: ‘jika kemiskinan adalah penyebab revolusi, massa akan selalu dalam keadaan memberontak.’ Kebangkitan revolusioner massa yang meraksasa barulah sebagai potensi yang membutuhkan pengaktualannya melalui Bolshevik sebagai ekspresi sadar dan terorganisir dari gerakan proletariat. Kepemimpinan partai revolusioner yang berpedoman pada teori yang paling maju tidak dapat disiapkan dalam hitungan bulan. Dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk mendidik kader: mempersiapkan angkatan politik revolusioner proletariat yang akan mendedikasikan seluruh kehidupan sadarnya untuk revolusi sosialis.
Partai Bolshevik dibangun selama 34 tahun lamanya: dari kelahiran Kelompok Emansipasi Buruh (1883); pembentukan Liga Perjuangan Buru Petersburg (1895); pendirian Serikat Buruh Rusia Selatan (1897); pengelompokan Partai Buruh Sosial Demokrasi Rusia (1898); Revolusi Rusia dan dimulainya pertarungan faksional Bolshevik dan Menshevik (1905); berdirinya Bolshevik sebagai partai tersendiri (1912); Revolusi Februari (1917); memperjuangkan Tesis April (1917); melawan Pemberontakan Kornilov, perebutan kekuasaan Istana Musim Dingin, dan penyerahan kekuasaan pada Kongres Soviet (1917). Selama puluhan tahun kaum Marxis Rusia menempah dirinya dengan segala persoalan praktek dan teoritis: mengatasi masalah reforma agraria; melakukan kerja bawah tanah; mengombinasikan kerja parlementer dan ekstra parlementer; mematahkan tendensi-tendensi kelas-asing—anarkisme, ekonomisme, marxisme legal, reformisme dan sentrisme; menyelesaikan persoalan perang imperialisme dan kolonialisme; memecahkan masalah-masalah kebangsaan, penindasan perempuan, minoritas seksual, dan keagamaan; menyelesaikan masalah perebutan kekuasaan; dan memulai transformasi sosialias internasional.
Akhirnya, sampailah saatnya untuk mempertimbangkan kembali ocehan kalian kepada kami. Waktunya kalian bukan lagi sekadar berani tapi lebih sadar dan semakin sadar, dengan cara bersungguh-sungguh belajar dari setiap peristiwa yang dilalui–terutama kekeliruan-demi-kekeliruan, kegagalan-demi-kegagalan, kemunduran-demi-kemunduran dalam kehidupan personal kita dan perjuangan kolektif umat manusia. Kami percaya: kita tidak hanya bisa belajar dari pengalaman sendiri, tetapi terutama pengalaman perjuangan kelas selama 200 tahun terakhir yang terekpresi melalui pemikiran Marx, Engels, Lenin, Trotsky, Ted Grant, dan Aland Woods. Maksud kami: kawan-kawan membutuhkan sebuah pembelajaran yang memadai, yang dapat menghantarkan kepada kawan-kawan suatu kesimpulan dan prinsip-prinsip umum dari sentralisasi pengalaman perjuangan kelas dan umat manusia selama pembangunan gerakan revolusioner—organisasi yang tersentral dan kuat untuk melayani kepentingan kelas proletar dan masyarakat masa depan: komunisme. Dengan kata lain, kami mengajak kawan-kawan untuk bergabung dengan kami dalam pembangunan Bolshevisme; untuk penggulingan kapitalisme secara revolusioner dan transformasi sosialis dunia–untuk membuka jalan bagi kehidupan baru, yang tingkatannya lebih tinggi dan manusiawi, bebas dan setara. Dalam ‘Pengantar’ untuk “Bolshevisme; Jalan menuju Revolusi Jilid I: 1883-1905”, Ted Sprague berkata:
“Memenangkan sebuah revolusi sosialis—sebuah tugas historis maha besar—bukanlah tugas yang muda, tetapi seperti yang telah ditunjukkan oleh proletariat Rusia seratus tahun yang lalu bukanlah sesuatu yang mustahil selama kita memiliki perspektif yang tepat dan belajar dari sejarah … kelas penguasa takut akan menemui sejarah Bolshevisme dan mengulang Revolusi Oktober, sehingga mereka gunakan segala cara untuk menjauhkan rakyat pekerja dari Bolshevisme…. Tidak hanya kelas kapitalis yang bertanggung jawab atas sejarah penggulingan Bolshevisme. Kaum Stalinis [dan epigon] memainkan peran yang sama kejinya dalam memelintir sejarah Partai Bolshevik yang sesungguhnya. Stalin dan kaum birokrasi harus menghancurkan seluruh tradisi Bolshevisme sebelum bisa berkuasa. Partai Bolshevik dihancurkan secara fisik, di mana bunga-bunga terbaik dari proletariat Rusia ditumpas untuk membuka jalan degenerasi birokratik Soviet…. Selain pemusnahan secara fisik, kasta birokrasi Stalinisme juga harus menghancurkan memori Bolshevisme. Sejarah Bolshevisme dan Revolusi Oktober ditulis ulang, tidak hanya sekali tetapi berulang kali. Sejarah Partai Bolshevik digambarkan dengan vulgar, bukan untuk mendidik kaum proletariat mengenai membangun partai yang dapat memenangkan revolusi…. Peran organisasi di sini tak tergantikan untuk menempah kaum revolusioner—yakni bungan terbaik proletariat—agar siap untuk mengemban tugas ini. Seperti yang dikatakan oleh Leon Trotsky, ‘Bolshevisme tidak sekadar sebagai doktrin tetapi adalah sistem pelatihan revolusioner untuk pemberontakan proletariat. Apa artinya mem-Bolshevik-kan Partai Komunis? Ini berarti melatih mereka dan menyeleksi jajaran kepemimpinannya supaya partai-partai ini tidak menyimpang ketika momen Revolusi Oktober mereka tiba’.”
