Kategori
Perjuangan

Mengapa Kami Bergabung dengan Organisasi Revolusioner?

“Kita membutuhkan strategi yang benar-benar memiliki peluang untuk menang, dan strategi ini sangat penting direalisasikan-dikonkretkan untuk menghentikan bencana yang mengancam semua manusia yang hidup di dunia ini. Kita dituntut untuk mengidentifikasi kekuatan sosial nyata yang memiliki kapasitas dan kemampuan mengubah dunia. Jika kita tidak mampu mengindentifikasi kekuatan ini, kita akan mendapati diri kita berada di dunia tanpa harapan, mengawang-awang, dan syarat dengan khayalan. Kami, kaum Marxis, mengindentifikasi kekuatan sosial tersebut tidak lain adalah kelas pekerja internasional…. Kelas pekerja yang dimaksud Karl Marx adalah mereka yang hidup dengan menjual kemampuan kerja mereka, dipekerjakan, dan dieksploitasi oleh kelas kapitalis.” (John Molyneux; Kritik terhadap Anarkisme)

Kapitalisme adalah fase sosio-historis sekaligus sebuah sistem yang sangat menyeramkan. Kaum produsen dipisahkan dari alat produksinya, segilintir spesies memonopoli alat produksi, dan massa-rakyat yang tidak memiliki alat produksi diseret menjual tenaganya untuk mempertahankan kehidupan. Relasi umat manusia disulap jadi begitu mengenaskan. Eksploitasi dan penindasan menjulur di beragam lini secara delutif. Sejak kepemilikan pribadi terhadap alat produksi memancang maka produksi kekayaan material masyarakat dikuasai oleh segelintir kelas borjuis yang memperbudak mayoritas pekerja dengan membagi kerja mental dan kerja fisik hingga pemberlakuan kerja-upahan teramat ganas. Massa-rakyat diseret untuk menjual kemampuan kerjanya bukan sakadar memenuhi keperluan subsisten, tapi terutama mengonggokan keuntungan kelas borjuis. Guna mengejar laba kapitalisme terus menebar kebohongan, pembodohan, kebrutalan, kesenjangan, perampasan, perang dan penaklukan, serta kematian-demi-kematian. Dalam keadaan inilah tak sebatas sumber daya alam yang dirampas, melainkan pula produsen-produsen kecil makanan dienyahkan. Tidak ada kebenaran, keindahan, kesetaraan, perdamaian dan kesejahteraan. Kepemilikan pribadi sudah membagi kelas-kelas sosial masyarakat menjadi dua kelas utama yang saling bertentangan. Proletariat sebagai budak-upahan dari borjuis. Mereka hidup di atas kemelaratan, keterbatasan, ketidakbebasan, dan penderitaan yang begitu memelas. Sedangkan borjuis menikmati kekayaan dengan menghisap kemampuan kerja proletar dan memaksakan kekuasaannya melalui aparatus ideologis dan represif negara borjuis.

Pembagian kelas-kelas dalam masyarakat telah mempengaruhi dan membelah kehidupan sosial secara antagonis. Pertentangan antara borjuis dengan proletar dalam hubungan produksi kapitalisme bukan saja melahirkan negara sebagai alat pemaksa, tapi juga mengondisikan moralitas, mentalitas dan spiritualitas masyarakat berdasarkan corak produksi kapitalis. Kontradiksi ini mempertentangkan hubungan produksi ‘kepemilikan pribadi’ dengan tenaga produktif ‘pekerja-upahan’ dalam masyarakat kapitalis. Kontradiski itu mengambil ekspresi melalui tiga bentuk: (1) ketidaksanggupan kapitalisme menyelesaikan persoalan ekonomi massa-rakyat di tahapan imperialis; (2) ketidakmampuan kapitalisme menyeimbangkan pertumbuhan tenaga produktif dengan distribusi kekayaan material masyarakat melalui kerangka kepemilikan pribadi dan negara-bangsa; dan (3) pemberontakan periodik dari kelas proletar, rakyat, kaum muda, perempuan dan bangsa tertindas melawan kapitalisme. Begitulah berlangsungnya intensifikasi produksi, pembagian kerja dunia, dan pengintegrasian pasar-pasar nasional menjadi pasar internasional mendorong krisis dan insureksi di mana-mana. Dalam keadaan inilah negara-bangsa mengalami kebangkrutan dan difungsikan untuk memaksakan kekuasaan borjuis—segala institusi, aturan dan kebijakan dibuat dan ditegakkan demi melayani kepentingan kelas bermilik dan berkuasa. Hukum penjara, keluarga, agama, budaya dan pendidikan—semuanya hadir melanggengkan status-quo. Massa-rakyat terkepung menjadi spesies yang rentan. Kontradiski di antara borjuis dan proletar semakin menajam. Krisis-demi-krisis kapitalisme berlangsung menahun. Gerakan-gerakan massa-rakyat bangkit dan perjuangan-perjuangan kelas mengambil bentuk yang beragam: terbuka, tertutup, konflik dan peperangan. Sistem kerja upahan mengalienasi para produsen bukan sekadar dari alat-alat produksi, tapi juga hasil-hasil produksi, sesama pekerja, dan dirinya sendiri. Di sisi lain kapitalisme terus menciptakan tentara cadangan industri secara meraksasa. Keluarga-inti menjadi lembaga yang menyediakan pasokan-pasokan pekerja masa depan. Melalui dorongan orangtua maka anak-anak muda diberi pendidikan yang bertujuan menanamkan nilai-nilai moral serta pengetahuan borjuis dan meningkatkan taraf hidup keluarganya dengan berparameterkan pencapaian-pencapaian borjuis. Kami distimulasi untuk mengenyam pendidikan dasar, menengah pertama, menengah atas, hingga berkuliah bukan sebatas untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman, tapi lebih-lebih meraih gelar dan kedudukan sebagai syarat mendapatkan pekerjaan dan berkehidupan mapan nantinya. Sementara setiap tahunnya lulusan perguruan tinggi bertumpukan jumlahnya. Tidak ada jaminan mereka memperoleh pekerjaan sesuai jurusunnya apalagi mendongkrak strata sosialnya. Menghadapi kenyataan itulah sejak masa perkuliahan banyak borjuis-kecil bukan sekadar mengumpulkan modal budaya, tapi juga modal sosial, simbolik, bahkan ekonomi. Begitulah mereka berlomba-lomba mengejar prestasi akademik hingga membangun akses dengan kelas borjuasi. Dalam perjuangan kelas, dominasi borjuis-kecil berarti menjadi ancaman bagi proletariat. Menulis Tugas Proletar di dalam Revolusi Kita (Red Book, 2020, Hlm. 21), Lenin mengingatkan hal tersebut:

“Gelombang borjuis-kecil yang meraksasa telah menyapu segala sesuatu dan menguasai proletariat yang sadar kelas, tidak hanya dalam kekuatan jumlah, tetapi secara ideologi juga; yaitu dia telah menulari, dan meresapi kalangan yang sangat luas dari kaum buruh dengan pandangan politik borjuis-kecil. Dalam kehidupan yang sesungguhnya borjuasi-kecil bergantung pada borjuasi karena mereka hidup sebagai majikan dan bukan sebagai proletar (dari segi kedudukan mereka di dalam produksi sosial), dan mengikuti borjuasi dalam pandangan mereka.”

Membengkaknya keanggotan organisasi-organisasi borjuis-kecil yang melayani program-program pemerintah membuktikannya. Bukti bagaimana borjuis-borjuis-kecil menghubungkan dirinya dengan organisasi yang bisa memfasilitasinya menjadi borjuis-besar. Tanpa alternatif sosialis (politik Marxis revolusioner–pembangunan kepemimpinan revolusioner: Bolshevisme) mereka tenggelam dalam hegemoni borjuis. Dalam keadaan inilah aktivitas perkuliahannya tampil sebagai ajang investasi masa depan: mulai dari untuk beroleh jabatan strategis birokratis hingga menjadi pengusaha sukses. Hanya dinamika masyarakat kapitalis tak membuat ekspektasinya berjalan mulus. Krisis-demi-krisis kapitalisme mengepung borjuis-kecil dengan ancaman proletarisasi secara ganas. Lihatlah bagaimana kampus dimandatkan mengembangkan keahlian, menanamkan kepatuhan, sampai menyalurkan tenaga-tenaga kerja murah. Tetapi jalanya eksploitasi dan penindasan ini justru dilalui onggokan mahasiswa dengan riang-gembira. Beginilah mereka menjadikan organisasi-organisasi borjuis-kecil sebagai sandarannya. Tanpa aktivitas dan kesadaran sosialis maka lapisan sosial yang cukup besar itu akan menjelma sebagai penyangga kepentingan kelas penguasa. Di sisi lain, bergabung dengan organisasi revolusioner–menyatukan pembelajaran praktik dan teori dalam pembangunan organisasi revolusioner–dapat menggugah kaum muda (mahasiswa dan eks-mahasiswa, terutama proletar dan semi-proletar) untuk melayani kepentingan kelas pekerja: memperjuangkan revolusi proletariat-sosialis—guna mempercepat penghapusan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi dan membangun masyarakat tanpa kelas—melalui perjuangan kelas revolusioner, yang dipandu oleh teori yang paling maju, dengan strategi kepemimpinan revolusioner: lapisan paling maju dan sadar-kelas dari kaum buruh dan muda mengorganisir diri dalam membangun organisasi revolusioner demi menarik lapisan terluas proletariat, memenangkannya ke arah Marxisme revolusioner, mendidiknya menjadi angkatan politik proletar dalam melawan musuh-musuh kelasnya, dan mempersiapkannya menjadi calon-calon pemimpin revolusioner di masa depan.

Demikianlah pendirian kami sekarang: setelah berpisah dan berhenti bertualang bersama ‘organisasi mahasiswa atau pemuda bermetode borjuis-kecil’, untuk bergabung dengan organisasi revolusioner–kami tidak berharap menjadi borjuis-besar tetapi berusaha membangun kepemimpinan revolusioner untuk membawa perjuangan kelas sampai ke garis akhir. Hari-hari ini kami harus berjuang sebagai buruh atau angkatan muda proletariat yang sadar-kelas dan menemukan akses menuju lapisan terluas kelas pekerja. Selaku pekerja-upahan, kami menolak tertundukan oleh tekanan-tekanan pekerjaan; kami akan menjangkau mata dan telinga, hati dan pikiran proletariat dengan membangun organisasi revolusioner di tengah-tengah kehidupan kelas pekerja. Selaku angkatan politik muda proletar, kami takkan menyerah menghadapi pendidikan borjuis–kami akan melawan postmodernisme intelektual-intelektual borjuis dan borjuis-kecil serta segala varian ideologi kelas asing dalam gerakan buruh dan mahasiswa, untuk menemukan dan memenangkan elemen-elemen muda terbaik yang sedang terguncang dan bergerak ke bawah panji Marxisme yang sejati: Bolshevisme.

Semua itu hanya bisa kami lakukan dengan bergabung dalam pembangunan kepemimpinan revolusioner. Hanya dengan melibatkan diri pada kerja-kerja politik revolusioner inilah kami mendapat kesempatan untuk menyebarkan ide-ide sosialisme dan merekrut elemen-elemen termaju dari kaum buruh dan angkatan muda, terutama melalui produksi dan distribusi publikasi-publikasi reguler maupun pendirian-pendirian stand baca dan diskusi. Dalam masyarakat kapitalis, kami memandang proletariat sebagai kelas yang terhisap, termiskinkan, dan tertindas secara ganas. Persis pernyataan Karl Marx: ‘akumulasi kekayaan pada satu kutub adalah karenanya sekaligus akumulasi kesengsaraan, siksaan kerja, ketidakpedulian, brutalitas, degradasi moral pada satu kutub yang berlawanan, yaitu pada sisi kelas yang memproduksi produknya sendiri dalam bentuk kapital’. Pekerjaan buruh bersifat sosial, tetapi alat produksi dikuasai secara pribadi oleh kapitalis—menghadapi keadaan inilah kelas pekerja mengalami situasi alienasi. Keterasingan itu berlangsung di atas proses ekspropriasi nilai-lebih melalui kerja-upahan: penghisapan yang berlangsung melalui pemrioritasan kapital konstan (alat produksi) dan penyerapan kapital variabel (tenaga kerja buruh). Dengan terus memperbaharui alat-alat produksi—yang mengharuskan perpanjangan waktu kerja guna menggenjot produktivitas—maka persoalan yang dihadapi buruh bukan sekadar berkait tingkat upah tapi juga kondisi kerja yang mengharu-biru. Dalam Teori Marxis tentang Keterasingan (Red Book, 2021, Hlm. 44-45), sebuah pernyataan tertera:

“Di bawah cengkeraman kapitalisme, hasil-hasil kerja yang diproduksi oleh kaum buruh, tidak hanya dicerabut dari kaum buruh, tetapi juga berbalik melawan kaum buruh, memusuhi kaum buruh, mencelakakan kaum buruh, dan menghancurkan kaum buruh. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan dan tenaga kerja yang ada di dalam raga kaum buruh ketika di kongkretkan dalam dunia kerja menjelma menjadi sumber tirani yang menindas kaum buruh sendiri. Alat-alat produksi tidak melayani kaum buruh, tetapi sebaliknya kaum buruhlah yang harus melayani alat-alat produksi. Kaum buruh dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan deru dan laju broperasinya mesin-mesin produksi, dan kondisi seperti ini menjadi sumber dari lahirnya keterasingan dalam proses produksi. Keterasingan manusia dalam proses produksi komoditas itu semakin didorong dengan kuat oleh terjadinya pembagian kerja dan pembagian kelas. Pembagian itu sarat dengan penghisapan, penindasan, dan eksploitasi antar-manusia. Nah, kondisi-kondisi seperti inilah yang membentuk psikologi, ketakutan, dan rasa kesepian manusia modern—manusia yang hidup dalam masyarakat kapitalis.”

Kapitalisme, di satu sisi–memang tak sebatas mempersatukan kelas pekerja dalam unit-unit kerja, pabrik, pergudangan, dan seluruh perusahaan yang ada, dan menghubungkannya dalam skala nasional maupun internasional; melainkan pula, di sisi lainnya–memecahkan persatuan dan solidaritas buruh dalam sangkar keteralienasiannya. Berlangsungnya over-spesialisasi kerja dalam produksi kapitalis mendorong buruh untuk mengejar kepentinganya sendiri sebagai individu. Inilah mengapa persaingan, karirisme, rasisme dan seksisme mekar di tengah-tengah kelas pekerja. Bahkan keterasingan itulah yang membuat buruh menggandrungi hal-hal praktis ketimbang abstrak. Hanya kami melihat: ketika berada pada situasi perjuangan maka buruh bukan saja mampu keluar dari keteralienasiannya dan bersatu dengan kaum tertindas lainnya, tapi juga cenderung tertarik dan lebih terbuka mempelajari persoalan-persoalan teoritis. Inilah mengapa kami harus mengabdikan diri–menjadi proletar yang sadar-kelas, hidup dan berjuang bersama kelas revolusioner proletar–untuk pembangunan kepemimpinan revolusioner. Kami percaya: bertambah intensnya perjuangan untuk menuntut hak-hak di hadapan majikan atau melawan kebijakan-kebijakan negara borjuis akan mempersatukan kelas pekerja, dapat memberikan pelajaran konkret yang begitu manusiawi untuk mengarah dan memeluk Marxisme sebagai senjata moralnya. Dari rangkaian pengalaman-pengalaman perjuangan kelas–yang diabstraksikan oleh Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky–terekam bahwa pertahanan dan perlawanan pekerja berlandaskan kolektivisme. Buruh melakukan protes, demonstrasi kecil-kecilan, pemogokan besar-besaran, hingga mengobarkan revolusi, mengambil-alih kekuasaan dan melaksanakan perekonomian terencana bukanlah secara terpencar-pencar dan sendiri-sendiri tapi bersama-sama.

Kini kontradiksi-kontradiksi yang menjadi kondisi obyektif pemicu perlawanan proletariat dan rakyat semakin mendalam. Krisis kapitalisme dan kebangkrutan negara-bangsa telah menjalarkan kemelaratan umum, perang dan penaklukan menjadi tontotan, dan kekerasan serta pelecehan menjadi makanan rutin. Di sisi lain–kapital makin terkonsentrasi, perdagangan global berkecamuk, industri-industri menjamur, dan kelas pekerja terus tumbuh secara meraksasa. Walau kelas borjuis memberikan secuil kenaikan upah guna meningkatkan konsumsi kelas pekerja, namun sifat dasar ‘kerja yang teralienasi’ dari masyarakat kapitalis terus meningkatkan stres dan depresi saat bekerja. Meski penggunaan-pengguaan teknologi mutakhir mengotomatisasi kerja dan mengurangi jumlah pekerja-pekerja di pabrik dan mengonggokan pekerja pertanian, distribusi, jasa dan farmasi—tetapi buruh tetap saja menempati posisi sentral dalam perekonomian kapitalis. Buruh adalah satu-satunya sumber nilai-lebih dan produsen yang menciptakan kekayaan material masyarakat. Dengan keberadaan dan peran inilah buruh memiliki potensi revolusioner–dan, kami harus bergabung dan berjuang bersama kelas proletar untuk melancarkan perjuangan kelas revolusioner. Tidak ada cara lain, kehendak dan harapan ini hanya dapat disalurkan dengan membangun kepemimpinan revolusioner–Bolshevisme.

“Bagi mereka yang ingin mengubah dunia, mereka harus membangun gerakan buruh, mengembangkan taktik dan strategi perjuangan buruh, dan membangun Partai Sosialis Revolusioner berbasiskan Marxisme.” (John Molineux; Kritik terhadap Anarkisme)

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai