Kategori
Teori

Leninisme atau Stalinisme?

“Hidup itu indah. Biarlah generasi masa depan membersihkannya dari semua yang jahat, opresi dan kekejaman, dan menikmati sepenuhnya.” (Leon Trotsky)

“Lenin dan Trotsky dan kamerad-kamerad mereka adalah yang pertama melangkah maju menjadi teladan bagi proletariat seluruh dunia; mereka masihlah satu-satunya yang sampai sekarang mampu menyerukan pekikan perang Hutten: ‘saya telah berani!’ Inilah yang esensial dan abadi dari kebijakan Bolshevik. Dengan cara ini mereka telah memberi pelayanan yang historis dan abadi dengan memimpin proletariat dunia dalam menaklukkan kekuasaan politik dan menempatkan secara praktis problem realisasi sosialisme, dan mengambil langkah besar dalam menuntaskan antagonisme antara kapital dan buruh di seluruh dunia.” (Rosa Luxemburg) 

Proses memenangkan Revolusi Oktober tidak saja mengajari tentang pentingnya menyiapkan syarat subyektif, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pengaruh dialektis situasi obyektif terhadap Soviet dan Bolshevik. Selama 34 tahun Bolshevisme dibangun oleh kaum Marxis Revolusioner dan kelas proletar. Segera setelah menggulingkan kapitalisme dan memindahkan kekuasaan dari borjuasi ke tangan buruh dan tani; kediktatoran proletariat dan partainya bukan sekadar diperhadapkan dengan tugas-tugas transformasi sosialis melainkan pula ancaman-ancaman kontra-revolusioner. Negeri-negeri imperialis tak sudi membiarkan negara buruh berdiri dengan selamat. Terputusnya mata-rantai imperialis di Rusia kontan menjalarkan kemarahan kelas borjuis secara internasional. Sejak 1918-1921, perang sipil dikobarkan dan sokongan penuh diberikan kepada Tentara Putih oleh Menshevik, Sosial Revolusioner, dan Tentara-Tentara Imperialis. Menghadapi serangan inilah kekuasaan Soviet dipertahankan Bolshevik dengan memberlakukan Kebijakan Komunisme Militer: mengarahkan perekonomian untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan Komite Militer Revolusioner di medan tempur. Pemerintahan Soviet mengirim pasukan-pasukan buruh bersenjata ke desa-desa untuk merenggut gandum petani (Muzhik). Produsen-produsen kecil bahan makan ini berang dan melancarkan protes. Pemberontakan-pemberontakan petani meletus di Tambov (1920) dan Ukraina (1921). Keselamatan Revolusi Oktober tiada ditemukan di skala nasional tetapi dunia. Pertolongan kepada negara buruh itu datang dari gelombang revolusi yang menyapu Eropa. Berkat solidaritas prajurit dan proletariat internasional, perang sipil dan imperialisme dapat dihentikan. Penyelamatan revolusi oleh perjuangan kelas berskala dunia telah memberi karakter Revolusi Oktober sebagai Revolusi Permanen. Inilah yang menolak dimengerti kaum Narodnik, Menshevik, Stalinis dan Epigon. Mereka bersepakat untuk menolak kebenaran teori Revolusi Permanen dengan mengabaikan pelajaran dari Revolusi Oktober. Dalam Revolusi Permanen: Teori Revolusi Sosialis untuk Dunia Ketiga (2013), Leon Trotsky menulis:

“Penaklukan kekuasaan oleh proletariat belumlah menyelesaikan revolusi, namun hanya membukanya. Pembangunan sosialis hanya dapat dicapai di atas pondasi perjuangan kelas, dalam skala nasional dan internasional. Perjuangan ini, di bawah kondisi dominasi relasi-relasi kapital di panggung dunia, secara tak terelakkan akan mengakibatkan ledakan-ledakan, yaitu secara internal perang sipil dan secara eksternal perang revolusioner. Di sinilah letak karakter permanen dari revolusi sosialis, tidak peduli apakah negeri terbelakang, yang baru saja mencapai revolusi demokratik, atau sebuah negeri kapitalis tua yang sudah melalui periode demokrasi dan parlementerisme yang panjang. Penentuan revolusi sosialis di dalam batasan-batasan nasional adalah sesuatu yang tak terbayangkan. Salah satu alasan dasar dari krisis masyarakat borjuis adalah kenyataan bahwa kekuatan produksi yang diciptakan olehnya tidak dapat lagi didamaikan dengan kerangka negara-bangsa … Revolusi sosialis dimulai di arena nasional, kemudian menyebar ke arena internasional, dan diselesaikan di arena dunia. Dengan demikian, revolusi sosialis menjadi revolusi permanen dalam makna yang lebih baru dan luas; dia mencapai penuntasan hanya dalam kemenangan akhir masyarakat baru di seluruh planet kita.”

Kemenangan proletariat merebut kekuasaan dalam Revolusi Oktober terbukti tidak mampu disesaikan di satu negeri: meski untuk sementara waktu, tanpa dukungan dari perjuangan kelas buruh dunia tentulah Revolusi Oktober tidak akan mampu dipertahankan. Segera setelah perang sipil berakhir maka tugas Soviet dan Bolshevik adalah memperbaiki perekonomian. Pada 1922, total panen gandum anjlok: dari 36,3 juta ton menjadi 22,8 juta ton. Di sisinya produksi industri baja ikut merosot: dari 4,2 juta jadi 183 ribu ton. Lalu diikuti pula penurun perdagangan luar negeri: dari 2,9 milyar rubel menjadi 30 juta rubel. Di sini pendapatan nasional berkurang sepertiga atas angka tahun 1913, ransum harian buruh cumalah 60 gram roti dan sedikit kentang beku, dan 36 juta petani dihantam kelaparan kronis. Dalam kondisi inilah negara buruh yang masih belia bukan saja mendera kematian bunga-bunga proletariat terbaiknya selama pertempuran, tetapi juga keterisolasian telah membawanya ke lubang kemiskinan. Hancurnya ekonomi memperhadapkan negara buruh dan partainya dengan tugas-tugas tiada berpreseden. Kebijakan Ekonomi Baru (NEP) hadir sebagai alternatif sementara. Dengan mengizinkan perdagangan bebas secara relatif, dampak buruknya adalah kebangkitan ekonomi terbatas dengan cacat bawaan: jutaan Muzhik dibebaskan untuk menjual surplus makanannya dan pedagang-pedagang memperkaya dirinya sebagai kaum perantara di pasar terbuka. Ketidaksetaraan dan antogisme kelas sekelebat menjalar ke mana-mana. Norma-norma sosial borjuis dan borjuis-kecil akhirnya kembali mendominasi Rusia. Persaingan mempertahankan hidup, persis kata Marx: ‘membangkitkan sampah-sampah lama.’ Di tengah kemerosotan sosial inilah tendensi-tendensi kelas-asing bangkit menekan Soviet, Bolshevik dan Komite Militer Revolusioner-nya. Dalam “Revolusi yang Dikhianati; Sebab-Sebab Kebangkrutan Uni Soviet”, Trotsky menerangkannya:

“Demobilisasi Tentara Merah yang beranggotakan lima juta orang memainkan peran yang tidak kecil dalam pembentukan birokrasi. Para komandan yang menang perang menempati posisi kepemimpinan di Soviet setempat, dalam perekonomian, dalam pendidikan, dan di mana-mana mereka secara kelas kepala memperkenalkan sistem pemerintahan yang telah memenangkan perang sipil. Maka, dari tiap sudut, massa perlahan-lahan tersingkirkan dari partisipasi nyata dalam kepemimpinan negeri. Reaksi dari jajaran proletariat menyebabkan bangkitnya harapan dan keyakinan-diri yang besar di tengah lapisan borjuis-kecil di perkotaan dan pedesaan, setelah mereka dibangkitkan kembali oleh NEP, dan semakin lama mereka semakin berani. Birokrasi yang masih belia itu, yang semula lahir sebagai karyawan dari kelas proletar, kini mulai merasa dirinya sebagai hakim penengah dalam pertikaian antar-kelas. Kemandiriannya makin bertambah setiap bulan.”

Terbirokratisasinya Garda Merah menunjukan betapa besarnya pengaruh norma-norma borjuis dalam negara buruh dan partainya. Begitulah Demokrasi Proletariat berhenti diterapkannya: bukan saja tentara reguler mulai menggantikan kedudukan milisi sipil; tetapi juga pemilu yang bebas untuk semua jabatan pemerintahan dan bisa di-recall setiap saat, gaji pejabat pemerintah yang tidak melampaui pekerja terampil, dan semua posisi pemerintahan yang digilir di antara rakyat-pekerja—semuanya ikut ditanggalkan pula. Kini monumen kehidupan masyarakat terpecah secara antagonis: berhadap-hadapannya kelompok minoritas yang hidupnya terjamin dan mempunyai hak istimewa melawan mayoritas populasi yang hidupnya serba-kekurangan dan dibatasi mengakses kekuasaan. Inilah saat-saat di mana kasta-birokrasi bangkit dan menemukan Stalin sebagai perwakilannya. Kasta-birokrasi hadir dari kemerosotan moral yang didorong oleh persaingan untuk mempertahankan hidup di tengah kemelaratan akibat perang-perang sebelumnya. Memasuki 1922, kasta-birokrasi telah menjadi momok mengerikan—di tubuh Bolshevik—yang dipimpin Joseph Stalin. Gagasan dan karakter borjuis-kecil dari Stalin seturut dengan kebutuhan birokratisasi yang sedang tumbuh dan mencari wakil. Bersama Zinoviev dan Kamenev, Stalin melancarkan intrik untuk membebaskan partai dari kendali mayoritas anggota partainya dengan menekankan superioritas Komite Sentral. Maret 1922 Kongres Partai ke-11 berlangsung; Lenin menghadirinya bukan saja memberi peringatan akan bahaya degenerasi partai tetapi juga mempersiapkan pertarungan faksional melawan Stalinis. Hanya penyakit struk lebih dahulu membunuhnya. Segera setelah kematian Lenin, kasta-birokrasi cekatan membuka gerbang partai untuk melarutkan ‘garda depan revolusi’ dengan membanjirnya anggota baru yang berasal dari sanak-keluarga mereka sendiri. Mengenai para birokrat muda, Trotsky memberi komentar: ‘mereka dididik dan dipilih oleh para tetua mereka, sering kali anak-anak mereka sendiri. Orang-orang ini tidak akan berhasil jika disuruh melancarkan Revolusi Oktober, tetapi mereka sangat cocok untuk mengeksploitasi kemenangan revolusi itu’:

“Sungguh naïf jika kita berpikir bahwa Stalin, yang sebelumnya tidak dikenal massa, tiba-tiba muncul dari sisi panggung bersenjata penuh dengan rencana strategi yang lengkap. Jelas tidak. Sebelum dia menemukan jalannya, birokrasilah yang terlebih dahulu menemukan Stalin. Dia membawa pada mereka semua jaminan yang dibutuhkan: prestise karena dia telah lama menjadi anggota Bolshevik, karakter yang kuat, visi yang sempit, dan ikatan erat dengan mesin politik yang menjadi satu-satunya sumber pengaruhnya. Kesuksesan yang dinikmatinya pada awalnya mengejutkan dia sendiri. Ini adalah sambutan akrab dari kelompok penguasa baru, yang berusaha membebaskan dirinya dari prinsip-prinsip lama dan dari kendali oleh massa, dan yang membutuhkan seorang penengah yang dapat diandalkan dalam persoalan-persoalan internal mereka. Sekalipun dia adalah figure tak ternama di hadapan massa dan di tengah peristiwa-peristiwa Revolusi [Oktober], Stalin menyingkapkan dirinya sebagai pemimpin mutlak dari birokrasi Thermidor [istilah yang diambil Trotsky dari kontra-revolusi Prancis 1789 saat berkuasanya Thermidor ke-9: epos ketika massa-rakyat mulai letih dan elemen-elemen konservatif dan birokratis bangkit mengambil-alih kendali revolusi—penggulingan Pemerintahan Revolusioner Jacobin oleh kontra-revolusi Napoleon Bonaparte], sebagai orang terkemuka di kalangan mereka.”

Awal dari kejahatan Stalinis terhadap Revolusi Oktober adalah ketika kasta-birokrasi berhasil menenggalamkan ‘garda depan revolusi’ dalam lautan anggota baru, mendapatkan dukungan mengganti Kediktatoran Proletariat (Kekuasaan Negara Buruh) dengan Kediktatoran Birokrasi (Kekuasaan Komite Sentral), dan merubah posisi sekretaris dari jabatan administratur (Sekretaris Umum) menjadi jabatan politik (Sekretaris Jenderal) dengan kekuasaan besar. Setelah kematian Lenin kehendak untuk melakukan perjuangan faksi—dalam memerangi kasta-birokrasi dan Stalinis—segera diberi bentuk oleh Trotsky dengan mendirikan Oposisi Kiri. Mendapatkan tekanan dari Oposisi maka Stalin dan kastanya segera mengukuhkan metode Sentralisme-Demokrasi sebagai pengganti Sentraliame-Birokrasi. Inilah mengapa pertarungan faksional yang cuma dilarang dalam situasi perang sipil diadopsi dan diberlakukan secara universal untuk semua situasi. Menghadapi kebijakan bengis ini Oposisi terus melancarkan kritik dan menuntut pemberlakuan demokrasi partai. Pada 1927, birokrasi Stalinis membalasnya dengan mengeluarkan tambahan UU Pidana tentang Anti-Oposisi. Berhasil memukul Oposisi Kiri ke pengasingan; selanjutnya Stalin semakin mencemari Internasional III (Komunis Internasional—Komintern) dengan kebijakan-kebijakan kelas-asing. Begitulah melalui Komintern bukan lagi slogan “Buruh Sedunia, Bersatulah” dan perpektif “Revolusi Sosialis Dunia” yang diserukan, melainkan kebijakan “Kolaborasi-Kelas” dan teori “Sosialisme di Satu Negara”. Sejak berkuasanya birokrasi sejarah Komintern dicemari ‘pemecatan’, ‘revolusi istana’, ‘pembersihan dari atas’, dan partai-partai Komunis di Eropa Timur dan Asia dididik bukan untuk menjaga independensi-kelas melainkan membangun persekutuan dengan borjuis-borjuis nasional di negerinya masing-masing. Pada 1943, Komintern dibubarkan sendiri oleh Stalin untuk melayani kepentingan kelas borjuis secara keseluruhan. Namun sejak 1938, Trotsky dari pengasingannya mulai mendirikan Internasional Keempat dengan tujuan melanjutkan api Bolshevisme dan mengobarkan kembali Revolusi Sosialis Dunia yang dipadamkan Stalinisme dan Komintern. Stalin kontan merasakannya sebagai sebuah ancaman. Bukan sebatas terhadap gerakan, tapi lebih-lebih kepada sebuah pemikiran. Begitulah agen rahasia Ramon Merceder dikirim dari Kremlin ke Meksiko untuk membunuh Trotsky. Tepat 20 Agustus 1940, dia berhasil menyelinap ke markas Oposisi Kiri dan menancapkan kapaknya ke tengkorak Trotsky. Setelah sempat memberikan perlawanan dan mendapatkan pengobatan, Trotsky meninggal dengan pendarahan otak tak tertanggungkan.

Segera setelah Trotsky dibunuh, Stalin mengklaim dirinya tak sekadar sebagai pemimpin Revolusi Oktober yang bertahan tetapi juga selaku Bolshevik tua yang menjadi satu-satunya penerus Leninisme. Namun Stalinisme sama sekali tidak memiliki kesamaan dengan Leninisme, Marxisme. Kekayaan teori, program, metode dan tradisi Marxis-Leninis yang Stalinis tidak setetespun identik dengan pemikiran-pemikiran filsafat dan politik Marx, Engels, dan Lenin. Stalinisme adalah karikatur paling buruk dari Sosialisme Ilmiah, yang lahir di atas basis negara buruh yang terisolasi, Partai Komunis yang terdegenerasi, dan revolusi dunia yang dikhianati. Kini setiap kritik Stalinisme terhadap ide-ide Trotsky dan Oposisi Kiri selalulah mengklaim berdiri di atas tendensi Marxisme-Leninisme. Begitulah kaum Marxis-Leninis (Stalinis) hari-hari ini: mengganti signifikansi Kepemimpinan Revolusioner ‘Profesional’ dengan menenggelamkan dirinya pada mobilisasi massa dari isu-ke-isu dan membangun front-front ‘demokrasi’ maupun ‘kiri’ yang asing dalam strategi-taktik Bolshevisme. Seturut itulah mereka menyerang Revolusi Permanen sebagai Teori Revolusi Sosialis Dunia dan memeluk keyakinan akan Revolusi Demokratis-Borjuis. Walaupun sebagian di antara mereka mengakui bahwa borjuis-borjuis negeri kapitalis terbelakang bukanlah sebuah kelas yang progresif dan menolak bersekutu dengannya; tetapi dengan mengabaikan pembangunan Kepemimpinan Proletariat ‘Bolshevisme’ maka independensi macam apa yang dipertahankan selain independensi borjuis-kecil yang semu? Tanpa kepemimpinan revolusioner dalam pembangunan partai revolusioner—dengan mendidik revolusioner profesonal sebagai propagandis maupun agitator, mendirikan Koran Marxis Nasional sebagai organisator kolektif, dan Keuangan Revolusioner sebagai aparatus primer—mampukah gerakan borjuis-kecil melancarkan perang posisi dan mengonter-hegemoni borjuis? Bahkan dengan kepemimpinan borjuis-kecil bukankah revolusi yang ditempuh akan terimprovisasi oleh tugas-tugas revolusi demokratik-borjuis yang sepihak dan vulgar? Tidak sanggup membawa tugas-tugas demokratik untuk dituntaskan dengan revolusi proletar; karena posisi kelas yang memimpin, kelas borjuis-kecil sejatinya mudah goyah dan menunda transformasi sosialis. Perjuangan penghancuran birokrasi negara kapitalis dan penghapusan kepemilikan pribadi borjuasi tidak sesuai kepentingan borjuasi-kecil, yang syarat keberadaan sosialnya berdasarkan pada kepemilikan pribadi skala kecil. Semua yang mengaku ‘kiri’ atau ‘sosialis’ atau ‘komunis’ dan mengatakan memperjuangkan transformasi sosial, tetapi dengan membangun kepemimpinan borjuis-kecil, sesungguhnya telah memvulgarisasi Marxisme. Dalam “Revolusi Permanen”, Trotsky mengkritik mereka:

“’Marxisme’ vulgar telah memunculkan sebuah pola perkembangan sejarah yang menurutnya setiap masyarakat borjuis cepat atau lambat akan membentuk rezim demokratik. Setelah rezim demokratik ini tercapai, kaum proletar di bawah kondisi demokrasi secara bertahap diorganisir dan dididik untuk sosialisme. Transisi menuju ke sosialisme ini sudah dipikirkan ke berbagai bentuk: para reformis ini menggambarkan transisi tersebut sebagai sesuatu yang terjadi seiring kaum reformis mengisi demokrasi dengan isi sosialis (Jeures [Sosialis Prancis yang berpendapat: Marxisme menekankan peran materi dalam sejarah, sehingga sosialisme harus dicapai secara gradual]); para revolusionis formal mengakui tak-terelakannya penggunaan kekerasan revolusioner dalam transisi menuju sosialisme (Guesde [Sosialis Prancis yang kemudian menjadi reformis-sovinis dalam mendukung Perang Dunia I]). Namun kedua pihak tersebut menganggap demokrasi dan sosialisme, di negeri manapun, sebagai dua-tahap perkembangan masyarakat yang tidak hanya berbeda namun juga dipisahkan oleh jarak waktu yang sangat panjang.” 

Dengan memvulgarisasi Marxisme dan membela revolusi demokratik-borjuis, maka sebagian besar di antara mereka melancarkan serangannya terhadap Trotsky. Kenapa Trotsky-lah yang dikritik? Sebab semua tahu: hanya dalam pengembangan Trotsky-lah Marxisme menerangkan secara kompleks Revolusi Permanen sebagai Teori Revolusi Sosialis Dunia. Ini pertama kali diluncurkan dalam catatan tentang “Hasil dan Prospek”. Namun setiap kritik terhadap Revolusi Permanen, mereka tembakan dengan klaim melawan musuh Leninisme: Trotskisme. Dari merekalah bermunculannya fitnah dan tuduhan kalau Trotsky berposisi diametral dengan Lenin dan merupakan Bolshevik ‘palsu’. Penebar kebohongan itu salah satunya adalah Mr. Pimenta. Dalam Suara Gemuruh Club (suaragemuruhclub.wordpress.com), dirinya menulis artikel bertajuk ‘Kritik Lenin terhadap Revolusi Permanen ala Trotsky’. Isinya tidak cuma menyerang secara teoritik namun pula memutarbalikan fakta sejarah. Revolusi Permanen baginya merupakan doktrin borjuis-kecil yang ditemui pertama kali pada Kongres II PBSDR (1902-1903). Padahal teori ini telah lebih dahulu dibicarakan Marx sejak Revolusi 1848 di Eropa. Sepanjang 1904-06, barulah Revolusi Permanen dikembangkan oleh Trotsky. Berlandaskan Marxisme dia menarik kesempulan kalau Revolusi Permanen merupakan ‘revolusi yang tidak membuat kompromi dengan bentuk kekuasaan kelas apapun, revolusi yang tidak berhenti pada tahapan demokratik namun terus bergerak pada langkah-langkah sosialis dan berperang melawan reaksi dari luar’ dan harus dipimpin oleh proletarian. Membuka “Hasil dan Prospek”; Trotsky mengawali tulisannya dengan keunikan perkembangan sejarah Rusia dan memperhatikan hukum ‘perkembangan tak berimbang dan tergabungkan’:

“Revolusi Rusia [1905] datang secara tiba-tiba dan mengejutkan semua orang, kecuali kaum Sosial-Demokrat. Marxisme telah lama memprediksi keniscayaan Revolusi Rusia, yang pasti akan pecah sebagai akibat konflik antara perkembangan kapitalisme dan kekuatan absolutisme yang telah menjadi fosil. Marxisme telah memprediksi karakter sosial dari revolusi yang akan datang. Dengan menamakan revolusi ini sebagai revolusi borjuis, Marxisme maka menunjukan bahwa tugas-tugas obyektif yang mendesak dari revolusi ini adalah untuk menciptakan kondisi-kondisi ‘normal’ bagi perkembangan masyarakat borjuis secara keseluruhan…. Sekarang, kaum Marxis dihadapkan pada sebuah tugas yang benar-benar unik yakni untuk menganalisa ‘kemungkinan-kemungkinan’ dari revolusi yang sedang berkembang ini dengan cara memeriksa mekanisme internalnya. Adalah sebuah kekeliruan yang bodoh bila kita menyamakan revolusi kita dengan peristiwa-peristiwa 1789-93 [Revolusi Prancis yang menumbangkan monarki dan feodalisme] atau 1848 [Revolusi Prancis yang menggulingkan Raja Louis-Philippe dan membentuk Republik Kedua]…. Pada 1880-1890-an, Pemerintahan Rusia menghadapi dunia sebagai sebuah organisasi militer-birokrasi dan fiskal-Bursa-Saham yang teramat kuat…. Semakin lama kebutuhan ini tak terpecahkan, semakin besar kontradiksi kebutuhan antara perkembangan ekonomi dan sosial dengan kebijakan pemerintah, yang telah menciptakan inersia ‘jutaan kali lipat’. Setelah era ‘reformasi-reformasi tambalan’—yang tidak menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi ini, tetapi sebaliknya, mengekspos mereka untuk pertama kalinya—ditinggal di belakang, menjadi semakin sulit dan tidak mungkin secara psikologis bagi pemerintah untuk mengambil jalan secara parlementer. Satu-satunya jalan keluar dari kontradiksi-kontradiksi ini adalah melalui akumulasi tekanan di dalam mesin uap absolutisme yang cukup besar untuk menghancurkan ketel mesin uap tersebut…. Semua perkembangan sosial yang kita saksikan ini membuat revolusi tak-terelakkan. Lalu, apa kekuatan penggerak revolusi ini?”

Perkembangan kapitalisme di Rusia telah mendorong pembentukan kelas proletar di negeri yang mayoritas populasinya adalah kaum tani. Dalam “Hasil dan Prospek”, Trotsky menerangkan bahwa keunikan Rusia sebagai Dunia Ketiga menempatkan perjuangan kelas sebagai motor penggerak sejarahnya tidak bisa dipimpin oleh borjuis dan borjuis-kecil–melainkan: kaum buruh yang tampil sebagai pemimpin bangsa tani. Dengan begitulah meski di permukaannya berbentuk revolusi demokratik tetapi isi di pedalaman perjuangan massa adalah kepemimpinan revolusioner proletariat. Teori Trotsky tentang Revolusi Permanen tidak seperti fitnahan kaum Stalinis dan Epigon. Mereka menyebarkan kebohongan kalau Trotsky mengabaikan potensi revolusioner kaum tani dengan sangat menjijikan. Padahal Trotsky menjelaskan: ‘apapun tahapan episodik pertama dari revolusi yang berlangsung di tiap-tiap negeri [kapitalis terbelakang], pencapaian aliansi revolusioner antara kaum proletar dan kaum tani hanya dapat terjadi di bawah kepemimpinan politik dari kaum pelopor proletariat, yang terorganisir di bawah Partai Komunis. Ini berarti bahwa kemenangan revolusi demokratik hanya dapat dicapai melalui kediktatoran proletariat yang mendasarkan dirinya atas aliansi dengan kaum tani dan pertama-tama menuntaskan tugas revolusi demokratik’. Namun revolusi demokratik yang dituntaskan dengan kedikatoran proletariat dalam perkembangannya akan merubah karakternya bukan lagi menjadi revolusi demokratik tetapi revolusi proletariat-sosialis: ‘proletariat yang telah naik ke tampuk kekuasaan sebagai pemimpin revolusi demokratik secara tak terelakkan dan dengan segera dihadapkan pada tugas-tugas, yang pemenuhannya terikat dengan sangat erat pada hak-hak kepemilikan pribadi borjuis. Revolusi demokatik berkembang secara langsung menjadi revolusi sosialis dan oleh karena itu menjadi sebuah Revolusi Permanen’. Inilah yang ditolak untuk dipahami oleh mereka yang mengkritik Revolusi Permanen. Mereka boleh saja menuduh kalau Trotsky hendak melompati perkembangan sejarah, tetapi sesungguhnya mereka tak memahami: bahwa kediktatoran proletariat bersama kepemimpinan revolusionernya, yang telah berhasil merebut kekuasaan dari kelas borjuasi, akan menyelesaikan tugas-tugas revolusi demokratik dengan program-program sosialisnya di bawah kediktatorannya, dan oleh karenanya, merubah karakter revolusi demokratik menjadi revolusi sosialis–sebuah transformasi sosialis yang dimulai di skala nasional dan hanya bisa diakhiri di skala internasional.

Tetapi melalui artikelnya, Mr. Pimenta malah menyebarkan kebohongan yang begitu rupa. Dibeberkan kalau dalam Kongres II PBSDR–Trotsky tidak mengerti tentang Kediktatoran Proletariat, mengambil sikap untuk mendukung Yuli Martov (Menshevik), dan dicap sebagai reformis (Trotskyite). Padahal Trotsky saat mengahadapi perdebatan Lenin dan Martov tidaklah memilih untuk mendukung salah satu di antaranya. Trotsky mengakui sendiri bahwa saat itu dirinya belum terlalu memahami tentang kebutuhan akan organisasi yang ‘kuat’ dan ‘tersentral’ seperti yang menjadi kandungan Draf-nya Lenin. Tetapi Trotsky juga tidaklah memilih Draf-nya Martov mengenai keanggotaan yang fleksibel asal membayar iuran. Posisi Trotsky saat itu justru serupa suasana batin kebanyakan anggota PBSDR: menyerukan persatuan. Kini seruan persatuan ini dituding kaum Stalinis dan Epigon sebagai ‘konsiliasionisme’. Padahal tuduhan konsiliasi ‘untuk persatuan partai’ sama sekali tak memiliki hubungan dan tidak dapat diidentikan dengan kecenderungan konsiliasionisme yang sesungguhnya: bersatu dengan musuh-musuh kelas proletar—kaum liberal, borjuis-progresif, dan sebagainya. Begitulah pendirian Trotsky untuk menyatukan partai dibuktikan oleh usulannya saat Kongres yang membahas Dewan Editorial Iskra. Trotsky mengusulkan enam orang Editorial lama dipilih kembali: Lenin, Plekhanov, Martov, Zasulich, Axelrod, dan Potresov. Namun usulannya kalah dengan terpilihnya tiga orang saja: Lenin, Plekhanov, dan Martov. Di sisi lain, perspektif politik Trotsky dalam Kongres mengarah ke Bolshevisme ketimbang Menshevisme—inilah yang diakuinya setelah menjadi Bolshevik. Dalam karyanya tentang “Sejarah Revolusi Rusia”—yang dikutipkan Alan Woods pada “Bolshevisme; Jalan menuju Revolusi Jilid I: 1883-1905″—Trotsky menulis dukungan untuk Lenin mengenai masalah kebangsaan dari kaum tani Rusia:

“Lenin sejak awal telah menyadari keniscayaan dari perkembangan gerakan-gerakan nasional di Rusia, dan selama bertahun-tahun dengan keras kepala berjuang—terutama melawan Rosa Luxemburg –untuk paragraph yang terkenal dalam program partai yang lama, yang memformulasikan hak penentuan nasib sendiri—yakni, hak untuk memisahkan diri sepenuhnya sebagai negara. Dalam hal ini, Partai Bolshevik sama sekali tidak mengambil posisi sebagai pendukung perpecahan. Partai Bolshevik hanya mengambil tanggung jawab untuk berjuang melawan berbagai bentuk penindasan nasional, termasuk pemaksaan terhadap sebuah bangsa untuk tinggal dalam batas-batas negara tertentu…. Dalam kerangka partai dan organisasi buruh secara umum, Bolshevisme menuntut sentralisme yang ketat, dan dengan tegas memerangi semua bentuk nasionalisme yang dapat memecah-belah buruh. Sementara menolak dengan tegas menolak hak negara borjuis untuk memaksakan kewarganegaraan, atau bahkan bahasa nasional, terhadap minoritas nasional. Bolshevisme pada saat yang sama membuat tugas mempersatukan, serapat mungkin, dengan cara kedisiplinan secara sukarela, buruh-buruh dari berbagai bangsa dengan tugas yang suci…. Oleh karenanya, sebuah organisasi tersentralisir dapat menjamin keberhasilan perjuangan revolusioner, bahkan bila tugasnya adalah menghancurkan penindasan nasional yang tersentralisir.”

Tidak benar kalau Trotsky sejak Kongres II PBSDR mendukung Martov dan menyerang perspektif politik Lenin. Sebelum bergabung dengan Bolshevik, kekeliruan Trotsky yang dikritik Lenin bukanlah mengenai persoalan politik melainkan organisasional. Melalui autobiografinya, Trotsky menjelaskan kenapa setelah Kongres dia masih tetap berusaha mempersatukan Lenin (Bolshevik) dan Martov (Menshevik) dengan belum menentukan sikap di antara keduanya: ‘saya masih berharap kalau revolusi yang baru akan memaksa kaum Menshevik—seperti yang terjadi pada 1905—untuk mengikuti jalan revolusi. Tetapi saya mengabaikan kerja persiapan seleksi ideologis dan penempaan politik. Dalam masalah internal partai, saya bersalah atas semacam fatalisme sosial-revolusioner. Ini adalah kesalahan dalam posisi, tetapi jauh lebih baik daripada fatalisme birokratik, yang tidak punya gagasan, yang hari ini [1930] menjadi mayoritas di Komunis Internasional.’ Begitulah Trotsky menjelaskannya dengan rendah hati. Bahwa berada di luar Bolshevik mungkin serupa dengan sikap kaum muda radikal—yang sedang mempelajari dan terus mencari sosialisme yang sejati dalam organisasi radikal borjuis-kecil: sebelum mendekati situasi revolusioner mereka sangat berkeyakinan kalau organisasi yang sedang dibangunnya dapat mengambil peran aktif untuk memenangkan revolusi nantinya—itulah mengapa mereka bertahan walau terkadang terbersit di benaknya kalau organisasinya tidak mendidiknya untuk menjadi kader partai revolusioner dengan teori, tradisi, metode dan tradisi perjuangan kelas revolusioner: Bolshevisme. Tetapi jalannya peristiwa memberi angkatan muda pelajaran. Adalah Victor Lvovich Kibalchich atau Victor Serge yang mampu belajar dari pengalaman. Sejak usia 15 tahun, dia membersamai lingkaran pemuda radikal Belgia dan menjadi provokator Anarkis. Namun, ketika usianya menginak 27 tahun; mendengar ledakan Revolusi Oktober dan mendapat dari pelajaran kemenangannya lantas mengilhaminya pecah dari Anarkisme untuk menuju Rusia, menjadi agitator Bolshevik, hingga bergabung bersama Oposisi Kiri untuk membantu Trotsky melawan kasta birokrasi dan Stalinisme.

Sedangkan Trotsky–dia belajar cekatan dari peristiwa-peristiwa besar di Rusia. Saat berusia 17 tahun, dirinya sudah memulai usahanya dalam mendirikan serikat buruh di Rusia Selatan dan memetik pelajaran darinya. Ketika mayoritas kaum Bolshevik di sekitar Vperyod belum memahami signifikansi Soviet dan menolak kerja di dalamnya; Trotsky lebih dahulu memandangnya sebagai embrio kekuasaan proletariat dan melakukan kerja-kerja politik yang membawa dirinya terpilih sebagai Ketua Soviet Petrograd pada umur yang baru menginjak 26 tahun. Segera setelah Lenin datang dari pengasingan dengan Tesis April; Trotsky kemudian menjadi orang pertama yang menerima bahwa ‘Semua Kekuasaan untuk Soviet’. Sejak inilah Trotsky bergabung dengan Bolshevik secara politik dan organisasional. Lenin mengingatnya: ‘[persatuan dengan Menshevik] adalah mustahil. Trotsky memahami ini, dan sejak saat itu tidak ada Bolshevik yang lebih baik darinya.’ Inilah mengapa kritikan Mr. Pimenta cumalah sebuah fitnahan. Bahkan berkait tudingan selama Perang Dunia I, Trotsky tidak pernah berposisi chauvinistik untuk mendukung pemerintahan borjuis di negerinya sendiri. Daripada sepakat dengan Kautsky soal ‘tidak adanya situasi revolusioner Eropa yang membenarkan proletariat Rusia merebut kekuasaan’ dan ‘memberi dukungan pada perang imperialis’; Trotsky justru—seperti Lenin—mengkritik sikap opostunisme para pimpinan Internasional Kedua yang menolak Kedikatoran Proletariat. Dalam “Revolusi Permanen”, Trotsky menulis:

“Sekarang, ketika prospek-prospek yang sudah digarisbawahi … telah menjadi sebuah realitas, Kautsky menolak untuk memberi akte lahir pada Revolusi Rusia karena kelahirannya belum didaftarkan secara sepatutnya di kantor politik demokrasi borjuis. Sungguh sebuah fakta yang menakjubkan! Sebuah kebangkrutan Marxisme yang sangat luar biasa! Kita dapat mengatakan bahwa kebangkrutan Internasional Kedua telah menemukan ekspresinya yang bahkan lebih buruk daripada penyokongan Kredit Perang [di mana anggaran Perang Dunia I yang didukung oleh Internasional Kedua] pada 4 Agustus, di dalam pengkhianatan filistin terhadap Revolusi Rusia, yang dilakukan oleh salah satu teoritisi terhebatnya. Selama puluhan tahun Kautsky membela gagasan-gagasan revolusi sosial. Sekarang ketika revolusi sosial itu menjadi realitas, Kautsky mundur ketakutan. Dia takut akan kekuasaan Soviet Rusia dan mengambil sikap memusuhi gerakan kaum proletar Komunis Jerman yang dahsyat…. Kami murid-murid Marx, bersama-sama dengan kaum buruh Jerman, teguh dengan keyakinan bahwa musim semi revolusi telah tiba sesuai dengan hukum-hukum sosial, dan pada saat yang sama sesuai dengan hukum-hukum teori Marxisme, karena Marxisme bukanlah seorang guru yang mengawang-awang di atas sejarah, tetapi sebuah analisa sosial cara-cara dan metode-metode proses sejarah yang benar-benar terjadi.”

Sungguh, Mr. Pimenta telah melancarkan fitnahan yang culas dan keji. Trotsky dituduh bukan saja mendukung perang imperialis dan melayani kepentingan borjuis di negerinya sendiri, tetapi juga menuding kalau Trotsky tidak meyakini Rusia telah memenuhi syarat-syarat untuk revolusi. Tuduhan ini dibangun Pimenta dengan argumen keliru: ‘perkembangan kapitalis telah berakhir dan, atas dasar itu, [Trotsky] mencoba membuktikan bahwa revolusi sosialis tidak dapat dicapai dan bahwa sosialisme tidak dapat didirikan di satu negara.’ Dalam teksnya, Trotsky dilukis sebagai sosok pandir, pesimis, bahkan fatalis-borjuis. Selanjutnya, ia pula menerangkan Trotsky berkecenderungan sentris: terombang-ambing antara Bolshevik dan Menshevik. Begitulah dia memfitnah kalau segera setelah Trotsky bergabung dengan Bolshevik, Trotsky langsung ‘melanggar disiplin’ dan ‘merusak kesatuan ideologis’ Bolshevik. Begitulah Pimenta secara naifnya mempertentangkan akan pandangan Trotsky dan Lenin mengenai pemberontakan: ‘Lenin dan Partai Bolshevik menemukan bahwa mereka sekali lagi harus menghadapi tindakan Trotsky yang sama sekali tidak dapat dipertahankan, berbahaya dan sangat berbahaya. Trotsky bersikeras bahwa pemberontakan harus ditunda sampai Kongres Kedua Soviet.’ Padahal Trotsky sebenarnya bukan ingin menghancurkan rencana pemberotakan, melainkan menunggu momen yang tepat untuk memusatkan kekuatan dan mengecoh musuh dengan melancarkan serangan pada saat yang tak disangka-sangka. Hanya ketidaksabaran Lenin sesungguhnya tak bisa dipertentangkan dengan sikap menunggu momennya Trotsky, melainkan keragu-raguan Kemenev dan Zinoviev yang bahkan membocorkan soal informasi pemberontakan. Jika saja Trotsky merecoki pemberontakan maka tidak mungkin—pada pertemuan Komite Sentral—dirinya bersepakat dengan Lenin untuk mempersiapkan pemberontakan bersenjata melalui Komite Militer Revolusioner. Dalam “Draf Masalah Kongres Soviet”, Perhimpunan Sosialis Revolusioner menjelaskan posisi Lenin dan Trotsky berkait pemberontakan:

“Trotsky, yang lebih berhubungan dengan situasi lapangan [dibanding Lenin yang tengah terisolasi], mendukung persiapan pemberontakan, tetapi meluncurkannya bertepatan dengan Kongres Soviet, yang akan memberikan legitimasi yang diperlukan di mata massa. Ini menunjukkan pemahaman yang tajam akan psikologi massa…. Menjelang Revolusi Oktober ada perbedaan pendapat di antara Lenin dan Trotsky mengenai tanggal pemberontakan. Lenin ingin melangkah langsung ke perebutan kekuasaan pada bulan September, sedangkan Trotsky mendukung penundaan pemberontakan sampai Kongres Soviet. MengapaTrotsky mengambil posisi ini? … Trotsky memahami bahwa, bahkan dalam sebuah revolusi, masalah legalitas sangat penting bagi massa. Trotsky yakin bahwa Partai Bolshevik akan mendapatkan mayoritas di Kongres, dan oleh karena itu dapat tampil di hadapan massa sebagai kekuasaan yang sah dalam masyarakat. Ini bukan masalah sekunder, tetapi faktor yang penting untuk memastikan peralihan kekuasaan secara  damai. Sekali lagi, elemen esensialnya bukanlah militer, tetapi politik. Maka dari itu kaum Bolshevik menyajikan pemberontakan Oktober sebagai tindakan defensive untuk mencegah Rusia terperosok ke dalam kekucauan dan perang saudara. Dan ini bukanlah kebetulan. Bahkan ketika kita berada dalam posisi untuk menyerang (yang tidak selalu terjadi), selalu perlu untuk bertindak dan berbicara seolah-olah kita sedang bertahan, dan menempatkan semua tanggung jawab kekerasan di tangan musuh.”

Dengan menyoroti perang imperialis, Mr. Pimente kembali melontarkan tudingan picik. Dia mengeksploitasi perbedaan Trotsky dan Lenin mengenai persoalan perang imperialis. Di tengah tentara Jerman yang semakin merangsek menuju Rusia dan kelaparan kronis, kelelahan dan berkurangnya Garda Merah di parit-parit perlindungan; Lenin mengusulkan penandatangan perjanjian damai ‘Brest-Litovsk’ dan Trotsky bersikap menolak. Peristiwa ini lantas dijadikan dalih Pimenta untuk mengasosiasikan Trotsky sebagai ultra-kiri, mengabaikan disiplin, bahkan Anti-Leninis. Meski dalam persoalan kebijakan perang terdapat juga Buharin, Zinoviev dan Kamenev yang mengusulkan dikorbarkannya perang revolusioner, tetapi sengaja diluputkan dari tinjauan Pimenta. Padahal perdebatan tajam—untuk menentukan sikap Bolshevik dalam Perang Dunia I—sesungguhnya terjadi bukan antara Trotsky dan Lenin, melainkan Lenin versus Bukharin dan pendukungnya. Begitulah 24 Januari 1918: Komite Sentral bertemu, tetapi beberapa jam sebelum pertemuan dimulai, Trotsky menjelaskan kalau dirinya akan mendukung perjanjian perdamaian secara bersyarat: jika Jerman terus maju maka Brest-Litovsk akan ditandatangi dan segera menolak proposal perang revolusioner—Lenin pun menyetujuinya. Pendirian ini dipertahankan Trotsky bukan karena menentang Lenin, melainkan mempertimbangkan penolakan mayoritas Komite Sentral atas syarat-syarat perdaimaian yang memalukan. Begitulah Trotsky bersepakat dengan Lenin. Bahwa tidak ada kemungkinan melanjutkan pertempuran, namun negosiasi dengan musuh harus dihentikan dan Bolshevik hanya akan menyerah bila Jerman terus maju dan menyerang. Trotsky mendasarkan pertimbangan ini untuk memberi inspirasi terhadap proletariat dunia. Bahwa kaum buruh dan Marxis Rusia tidak mudah menyerah dan terus berjuang mempertahankan Soviet dengan segala kemampuannya. Sedangkan dorongan Lenin untuk mendatangani perjanjian perdamaian bukan sebentuk pasifisme, melainkan suatu sikap berdasarkan prinsip internasionalisme proletariat dan revolusi sosialis dunia: ‘untuk pertanyaan apa yang dilakukan partai proletariat jika revolusi membuatnya berkuasa dalam perang saat ini, kami menjawab: kami harus mengusulkan perdamaian kepada semua pihak yang berperang dengan syarat pembebasan koloni, dan semua bangsa yang tergantung dan tertindas yang tidak menikmati hak-hak penuhnya. Baik Jerman maupun Inggris maupun Prancis di bawah pemerintahan mereka tidak menerima syarat ini. Maka kita harus bersiap untuk mengobarkan perang revolusioner.’ Hanya perang revolusioner itu tak bisa dikobarkan oleh Garda Merah yang melemah. Inilah mengapa kebijakan Bolshevik menjadi sangat realistik dan diambil sesuai situasi konkret. Keputusan menandatangani perjanjian diambil guna memberi waktu Tentara Merah untuk membangun kembali pasukan. Ini adalah langkah pertahanan yang mendesak untuk persiapan penyerangan di hari depan. Dalam “Trotsky and Brest-Litovsk”, Aland Woods dan Ted Grant menerangkan:

“Bagaimana sikap kaum Bolshevik terhadap perjanjian Brest-Litovsk? Tentara yang mereka warisi dari tsarisme telah benar-benar hancur; seluruh unit telah mendemobilisasi diri mereka sendiri; disiplin telah rusak; prajurit sudah pergi beristrahat. Situasi konkret inilah, dan bukan pertimbangan teoritis mendasar apapun yang menentukan tindakan Bolshevik. Untuk menggambarkan ketidaksepakatan di partai sebagai sesuatu yang lebih dari perbedaan taktis adalah parodi ketidakbenaran. Dalam keadaan yang berbeda—jika, misalnya mereka punya waktu untuk membangun Tentara Merah—pertanyaannya akan diajukan dengan cara yang sama sekali berbeda, seperti yang ditunjukan oleh Perang Polandia 1920…. Perpecahan serupa dalam kepemimpinan terjadi karena Perang Polandia. Trotsky menentang segala upaya untuk membawa perang ke Polandia begitu serangan Pilsudski berhasil dihalau, dengan alasan militer dan politik. Lenin menyukai serangan, dengan alasan bahwa para pekerja Warsawa dan kota-kota lain akan didorong oleh perang revolusioner untuk bangkit melawan Pilsudski dan melancarkan revolusi.” 

Dalam bagian artikel lainnya, Mr. Pimenta melanjutkan kritikannya terhadap Trotsky dengan terus mengeksploitasi perbedaan pendapat antara Lenin dan Trotsky. Setelah berakhirnya perang saudara 1918-1921, Trotsky dituding sebagai penghambat penerapan Kebijakan Ekonomi Baru: dia mendirikan diskusi di antara serikat pekerja ketika semua kekuatan partai ‘diarahkan untuk memerangi kelaparan dan dislokasi ekonomi, pencapaian peningkatan produksi pertanian dan pemulihan industri’. Bahkan Trotsky difitnah hendak mengubah serikat-serikat pekerja menjadi mesin negara dan mengupayakan pemulihan perekonomian melalui cara-cara arbitrer. Padahal yang sebenarnya: selama peperangan berlangsung Trotsky mengusung Komunisme Militer sebagai kebijakan yang menuntut dukungan penuh kepada industri perang dan menggunakan semua cadangan-cadangan masa lalu untuk kepentingan tentara di medan pertempuran dan populasi perkotaan di pabrik-pabrik. Dalam kondisi inilah kaum Muzhik yang mengubur persediaan pangannya di tanah-tanahnya dirampas oleh datasemen buruh bersenjata dan mereka menentangnya dengan melancarkan pemberontakan-pemberontakan tani. Guna mengonsentrasikan kekuatan Bolshevik pada Garda Merah yang dikerahkan untuk menghadapi pemberontakan dan mempertahankan kekuasaan Soviet, Lenin seturut situasi mengusulkan kebijakan pelarangan faksi sebagai langkah taktis. Dan setelah berakhirnya perang sipil–memasuki 1922, barulah Kebijakan Ekonomi Baru diterapkan untuk menghentikan perampasan paksa pangan dan menghidupkan kembali pasar guna meningkatkan produktifitas. Dengan mengizinkan petani melaksanakan pertanian individu dan membebaskannya untuk menjual hasil-hasil panen, maka bersama kaum perantara di pasar terbuka para petani pemilik-kecil berhasil meningkatkan kekayaannya di tengah kemiskinan umum akibat terisolasinya perekonomian selama perang sipil dan imperialis. Kembalinya persaingan dan antagonisme membawa-serta norma-norma borjuis, yang membanjiri lautan sosial, menggerogoti Soviet dan Bolshevik.

Menghadapi perkembangan itulah Trotsky menerbitkan kritikan. Dan tendensi-tendensi borjuis-kecil yang telah mendominasi partai berbalik menyerang. Tetapi Pimenta dan gerombolan Stalinis dan Epigon lainnya justru menyebarkan kebohongan. Merema mengatakan kalau sejak 1923, perlawanan terhadap Trotskisme merupakan perjuangan faksional untuk mempertahankan Marxisme-Leninisme dan Bolshevik dari kecenderungan borjuis-kecil yang diwakili Trotsky. Namun dalam paragraf-paragraf terdahulu, kami telah menjelaskan kalau kecenderungan borjuis-kecil yang mencemari Bolshevik sesungguhnya termanifestasi dalam pembentukan kasta-birokrasi yang mengangkat Stalin sebagai wakilnya. Segera setelah birokrasi menemukannya, Stalin memulai pertarungan menghadapi kaum Bolshevik yang paling berdedikasi. Begitulah kritik terhadap kebusukan angkatan politik yang membanjiri partai setelah kematian Lenin ditujukan kepada birokrat-birokrat muda pelamas yang direkrut berdasarkan ikatan keluarga dan kedekatan personal, yang bermotif menenggelamkan ‘garda depan revolusi’ dan menguatkan posisi kasta-birokrasi dalam tubuh Bolshevik. Di sini terdegenerasinya partai bukanlah pernyataan hampa, melainkan kebenaran yang dapat ditemui faktanya. Sejak digulirkannya Kebijakan Ekonomi Baru yang membangkitkan norma-norma sosial borjuis; Bolshevik dikuliti tendensi-tendensi kelas-asing dan kasta-birokrasi yang besar menerapkan kebijakan-demi-kebijakan yang menumbuhsuburkan kulak di desa-desa. Dalam “Revolusi yang Dikhianati “, Trotsky menjelaskan itu semua:

“Di mulai tahun 1923, perbedaan pendapat yang telah ditengarai sebelumnya dalam partai tentang relasi antara industri dan pertanian mulai menajam…. Perampasan tanah dari tuan-tuan tanah besar dan tsar telah memberi kaum tani tambahan sebesar lebih dari setengah milyar rubel emas per hari…. Pereknomian komoditi skala kecil niscaya akan melahirkan kaum penghisap. Sejalan dengan pemulihan desa-desa, deferensiasi di tengah massa kaum tani mulai tumbuh. Perkembangan ini  berjalan sesuai dengan alur yang sudah tua sekali umurnya. Pertumbuhan kulak jauh melampaui pertumbuhan umum sektor pertanian. Kebjakan pemerintah di bawah slogan ‘menghadap ke pedesaan’ pada dasarnya merupakan menghadapkan diri pada kulak. Pajak pertanian membebasni petani miskin lebih berat daripada yang kaya, yang di samping itu berhasil mencuri sebagian besar dari kredit yang disediakan pemerintah. Surplus gandum yang terutama berada di tangan lapisan teratas pedesaan, digunakan untuk memperbudak kaum miskin dan untuk penjualan spekulatif kepada unsure-unsur borjuis perkotaan. Bukharin [yang pada 1923 bersama Stalin, Zinoviev dan Kamenev membentuk blok kanan untuk melawan Oposisi Kiri], teoritisi dari faksi yang berkuasa di masa itu, melempar slogan terkenal ini pada kaum tani miskin, ‘Jadilah Kaya!’ Dalam teori, itu seharusnya perubahan secara perlahan-lahan dari kulak ke arah sosialisme. Dalam praktek itu berarti semakin kayanya minoritas berkat penghisapan atas mayoritas…. [Kebijakan kasta birokrasi justru] menghambat industrialisasi dan menghantarkan pukulan keras terhadap massa kaum tani kecil, kebijakan yang mengandalkan kaum tani kaya ini dengan jelas menampakkan konsekuensi politiknya dalam dua tahun, 1924-1926. Hal ini mengakibatkan sebuah peningkatan luar biasa atas kesadaran borjuis kecil baik di kota maupun pedesaan, direbutnya kepemimpinan Soviet tingkat rendahan oleh mereka, peningkatan kekuasaan dan kepercayaan diri kalangan birokrasi, semakin besarnya tekanan terhadap kaum buruh, dan penindasan menyeluruh atas demokrasi [proletariat] di dalam Soviet dan partai.”

Berkuasanya kasta-birokrasi memulai pembasmian keji terhadap ‘garda depan revolusi’. Mereka tidak sekadar diseret dalam perembesan birokratis tetapi juga dibasmi secara harafiah. Saat Revolusi Oktober terdapat 31 anggota Komite Pusat Partai Bolshevik. Setelah Stalin mendirikan tangan besinya maka 19 di antaranya tewas dianaiaya dan dibunuh. Joffe bunuh-diri karena tidak tahan mendapatkan tekanan dan siksaan Stalinis. Sementara 18 lainnya dieksekusi (belum terhitung Trotsky): Rykov, Milyutin, Smilga, Berzin, Kerenstinsky, Oppokov, Kiselyov, Preobrazhensky, Skyrpnyk, Berzin, Yakovlevka, Osinsky, Teodorovich, Bukharin, Zinoviev, Kamenenv, Sokolnikov, dan Bubnov. Kekuasaan Stalinisme bukan saja mempercepat keruntuhan Soviet dan memadamkan api Bolshevik, melainkan pula menyingkirkan Marxisme-Leninisme yang sejati dan menggantinya dengan karikatur Stalinisme yang disiarkan ke segala penjuru. Mr. Pimenta mungkin saja salah seorang yang tercekoki dusta dan kebangkrutan Stalinisme. Begitulah kritik-kritik yang diarahkan kepada Trotsky tersingkap sebagai fitnah dan tuduhan yang dibangun di atas kebohongan, pemalsuan, kebencian, kedangkalan, dan kemerosotan borjuis-kecil Stalinis dan epigon. Dengan meminjam ketipan-kutipan pendek mengenai perbedaan sekunder antara Lenin dan Trotsky, dirinya telah mendandani Lenin dengan kepicikan-kepicikan Stalinis dan Epigon. Dan ketika tak mampu menjelaskan pertentangan prinsipil Lenin dengan Trotsky; Pimenta langsung menyerang kepribadian Trotsky dengan onggokan frase sentimentil borjuis-kecil dan memutarbalikan fakta sejarah. Dia bukan sekadar menyangkal Revolusi Permanen melalui segudang argumen sampah, melainkan pula mengabaikan keterlibatan Trotsky dalam melancarkan Revolusi Oktober. Ia seharusnya membaca bagaimana perjuangan Trotsky memimpin serikat buruh, Soviet Petrograd, Komite Militer Revolusioner, dan bersama Lenin dan kamerad-kamerad Bolshevik memindahkan kekuasaan dalam Revolusi Oktober ke tangan Soviet. Pimenta seharusnya mengerti bahwa setelah Trotsky memahami pentingnya organisasi yang tersentral dan kuat—dirinya bukan saja menjadi Bolshevik terbaik bagi Lenin, melainkan pula mendedikasikan sepenuh hidupnya untuk perjuangan kelas internasional proletariat. Dalam “Pengantar untuk Program Transisional”, Ted Sprague menulis:

“Perjuangan Internasional Keempat adalah sejarah perjuangan kelas pekerja ketika Stalin dan klik birokrasinya justru sedang melemahkannya. Ketika Stalin sedang menghancurkan Internasional Ketiga dan mencampakkan perjuangan untuk sosialisme sedunia. Leon Trotsky membangun di bawah situasi yang sulit, Internasional Keempat tidak hanya untuk mempertahankan revolusi proletarian yang pertama [yang mencapai kemenangannya], yakni Revolusi Oktober, tetapi juga untuk menyebarkannya ke negeri-negeri lain. Internasional Keempat adalah usaha Trotsky untuk memastikan lahirnya generasi kaum Bolshevik selanjutnya yang dapat menyelesaikan apa yang telah dimulai oleh kaum Bolshevik Rusia. Yang utama bukanlah aparatus, tetapi gagasan-gagasan yang ingin dilindungi dan diteruskan ke generasi yang selanjutnya oleh Internasional Keempat.”

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai