Kategori
Teori

Revolusi Proletariat atau Oportunisme?

“Ajaran perjuangan kelas, bila diterapkan oleh Marx pada masalah negara dan masalah revolusi sosialis tidak boleh tidak menjurus pada pengakuan atas kekuasaan politik proletariat, diktatornya, yaitu kekuasaan yang tidak dapat dibagi dengan siapapun dan yang langsung bersandar pada kekuasaan massa yang bersenjata. Penggulingan borjuasi hanya dapat dicapai melalui proletariat yang berubah menjadi kelas yang berkuasa yang mampu menghancurkan perlawanan tak terelakkan dan kalap dari borjuasi, dan mampu mengorganisir seluruh massa yang bekerja membanting tulang dan terhisap untuk susunan tata tertib ekonomi yang baru.” (V.I. Lenin)

Artikel ini sengaja dibuat untuk mengomentari tulisan dari Mr. Pimenta (14 April 2022) dalam Suara Gemuruh (suaragemuruhclub.wordpress.com): ‘Revolusi Proletariat’. Tulisannya dibuka dengan pernyataan kalau “Marxisme menjelaskan kebutuhan dan keniscayaan revolusi sosial dengan kondisi dan persyaratan kehidupan material masyarakat dan hukum obyektif perjuangan kelas”. Marxisme memang merupakan ilmu tentang revolusi proletariat di bidang teori. Marxisme memandang: penyebab fundamental dari revolusi sosial terkandung pada kontradiksi antara tenaga produktif dengan hubungan produksi yang telah mengusang. Kontradiksi ini mempertentangkan elemen ‘baru’ dalam basis-struktur produksi dengan supra-struktur legal dan politik ‘lama’ masyarakat. Konflik di antara keduanya termanifestasi melalui perjuangan kelas.

Kelas-kelas sosial masyarakat merupakan produk dari corak produksi dan pertukaran (kondisi ekonomi) tertentu: perbudakan (budak dan tuan budak); feodalisme (tani-hamba dan feodal; kapitalisme (proletar dan borjuis). Dalam sistem-sistem produksi inilah, kelas-kelas ‘fundamental’ berada pada posisi yang berbeda dan saling berlawanan secara antagonis. Sebab relasi produksi dari masyarakat berkelas menjulurkan penghisapan, dominasi dan penundukan–‘minoritas’ kelas penindas memonopoli alat-alat produksi untuk dikuasai secara pribadi; sementara ‘mayoritas’ kelas tertindas tidak sekedar dipaksa bekerja memenuhi kebutuhan subsistensinya, tapi terutama menghabiskan waktu kerjanya mengonggokan surplus yang dirampas segelintir pemilik alat produksi. Vladimir Ilych Ulyanov (Lenin)–melalui Collected Work terbitan Progress Publisher tahun 1964-1970–menjelaskan ini:

“[Kelas-kelas sosial merupakan:] Segolongan besar masyarakat yang dibedakan dengan segolongan masyarakat lainnya berdasarkan posisi mereka secara historis dalam sistem produksi sosial, oleh relasi/hubungan mereka (yang dalam banyak kasus dilegitimasikan/disahkan oleh hukum) dengan alat-alat produksi, oleh peran mereka dalam organisasi kerja sosial dan, sebagai konsekuensinya, adalah hilangnya kemampuan untuk mendapatkan jatah kekayaan sosial dan cara untuk memperolehnya. Kelas-kelas adalah kelompok-kelompok masyarakat yang berkemampuan untuk merampas hasil kerja kelompok lainnya berdasarkan perbedaan posisi di tengah sistem sosio-ekonomi tertentu.”

Ketika relasi-relasi sosial tertentu sudah tidak lagi bersesuaian dengan tenaga produktif (budak, tani, atau buruh)–maka dalam kondisi inilah struktuk produksi mengalami goncangan maha-besar: kelas berkuasa kontan merosot pengaruhnya menjadi parasit dalam masyarakat dan kelas terkuasai bangkit melawannya sebagai elemen berkekuatan dahsyat. Perkembangan inilah yang sebelumnya telah menghancurkan tatanan perbudakan, feodalisme, dan kini sedang merongrong kapitalisme–proletar versus borjuis: keduanya berdiri di atas posisi dan peranan sosial yang diametral, serta kepentingan-kepentingan yang berbeda dan tak dapat dicampur-baur. Inilah mengapa pertentangan antara tenaga produktif dengan relasi produksi kapitalis mengambil aneka bentuk perjuangan kelas–damai, bersenjata terselubung, maupun terbuka–dan merasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat: ekonomi, politik, budaya, pendidikan, agama, ideologi, teori, dan sebagainya. Begitulah letusan pelbagai konflik sosial, perang imperialis, brutalitas aparat, pemogokan buruh, gerakan bangsa tertindas, mahasiswa, petani, dan pembebasan perempuan menjadi manifestasi kongkret perjuangan kelas. Dalam masyarakat berkelas, konflik-konflik ini hanya bisa diselesaikan melalui revolusi sosial yang bergantung pada situasi dan intensitas perjuangan kelas. Doug Lorimer* menjelaskannya melalui Pokok-Pokok Materialisme Historis (2013):

“Perjuangan kelas berperan sebagai motor penggerak perkembangan sejarah karena ia merupakan cara mentransformasikan sistem sosial yang usang menjadi sistem sosial yang baru dan lebih tinggi. Konflik yang terjadi antara tenaga-tenaga produktif yang baru dengan relasi-relasi produksi yang sudah usang tercermin dalam antagonisme antar-kelas. Konflik ini kembali diselesaikan melalui revolusi sosial, yang merupakan manifestasi perjuangan kelas yang tertinggi…. Perubahan bentuk perjuangan kelas ke bentuk perjuangan yang lain sangatlah tergantung dari situasinya, tergantung dari intensitas kontradiksi di antara kepentingan-kepentingan berbagai kelas dalam masyarakat, dan tergantung dari perkembangan tiap-tiap kelas.”

Begitulah kiranya dalam pembukaan tulisannya Mr. Pimenta mengenai ‘Revolusi Proletariat’ bukan saja memberi penekanan pada situasi obyektif, tapi juga menampar kaum anarkis sebagai “revolusionisme borjuis kecil–reaksi dari jiwa yang memberontak terhadap ketidakadilan, perjuangan untuk cita-cita moral, gagasan abstrak tentang masa depan yang lebih baik”. Mereka mendambakan masyarakat tanpa kelas yang bebas, tetapi menolak berkomitmen pada perjuangan kelas proletariat. Inilah mengapa anarkis bukan saja menentang negara borjuis  tapi juga negara proletar. Sikap itu berdiri di atas kenaifan filsafat dan antinya terhadap aneka bentuk otoritas.

Itulah posisi yang membuat anarkisme berseberangan dari Marxisme. Pada 1870-an, Marx dan Engels menulis sejumlah artikel untuk memerangi kebingungan Proudhonis, Bakuninis, sindikalis, otonomis, maupun anti-otoritas. Meski Marxisme bersepakat dengan anarkisme soal penghapusan negara, tetapi anarkis menentang kediktatoran proletariat. Mereka memandang negara sebagai ‘kuburan massal’ yang memonopoli kekerasan dan merampas kebebasan. Mereka mungkin mengerti kalau negara merupakan badan-badan bersenjata menyangga masyarakat berkelas dengan memaksakan kekuasaan. Namun mereka tiada bersetuju kalau dalam menghancurkan negara memerlukan ‘kekerasan revolusioner’ dan melancarkan ‘penindasan-balik’ terhadap penghisap (sisa-sisa borjuis dan elemen-elemen kontra-revolusioner). Begitulah ditolak mentah-mentahnya kediktatoran proletariat–walau anarkisme sangat lantang memekikkan revolusi sosial tapi menentang keras otoritas dari proletar–yang ‘terorganisir dan bersenjata sebagai kelas penguasa’ dalam perjuangan revolusioner dan fase transisi ‘negara sosialis’. Dalam Selected Works (1962), Engels mengkritik:

“Apakah orang-orang ini pernah melihat sebuah revolusi? Sebuah revolusi tentunya adalah hal yang paling otoriter yang ada, sebuah tindakan di mana bagian-bagian dari penduduk memaksakan kehendaknya atas bagian-bagian dari penduduk lain dengan penggunaan senapa, bayonet, dan meriam–yang semuanya adalah cara-cara yang paling otoriter. Dan pihak yang menang harus mempertahankan kekuasaannya dengan senjata-senjatanya yang akan mengilhami teror di antara kaum reaksioner. Apakah Komune Paris dapat bertahan lebih dari sehari jika tidak menggunakan otoritas dari rakyat yang bersenjata untuk melawan borjuasi?”

Mereka menganggap kalau kekuasaan borjuis dan proletar itu serupa. Mereka tidak mengerti kalau kediktatoran proletariat merupakan tahap awal penghancuran negara. Engels pernah menjelaskannya. Pertama, dengan merebut kekuasaan negara maka proletariat mengapuskan negara sebagai negara: menyingkirkan seluruh tentara dan polisi reguler berserta birokrasi-birokrasi borjuis. Kedua, mengganti negara sebagai ‘kekuatan penindas khusus dari kelas borjuis’ menjadi kekuatan penindas khusus dari kelas proletar’: mengganti semua aparatus represif dan birokrasi lama dengan milisi sipil dan massa-rakyat yang secara demokratis, bergilir, bertanggung jawab menjadi aparat bersenjata dan birokrat. Ketiga, setelah berhasil terkonsolidasi menjadi kelas penguasa proletariat akan menggunakan kekuasaannya untuk ‘melenyapkan negara’ dan dirinya ‘sebagai sebuah kelas’. Hanya dengan cara inilah proletariat dapat menggencarkan rekonstruksi sosialis dengan menerapkan perekonomian terencana guna memenuhi kekayaan material masyarakat, melawan elemen-elemen kontra-revolusi, hingga menciptakan tata-tertib dunia baru. Dalam Negara dan Revolusi (2016), Lenin menjelaskan begitu:

“Kita bukan kaum utopis. Kita tidak ‘mengkhayalkan’ menyingkirnya dengan seketika semua administrasi, semua ketertundukan. Khayalan Anarkis ini didasarkan pada ketiadaan pengertian akan tugas-tugas diktator proletariat, secara fundamental asing bagi Marxisme dan pada kenyataannya hanya membantu menunda revolusi sosialis sampai orang-orang berubah…. Kita sendiri, kaum buruh, akan mengorganisasi produksi secara besar-besaran atas dasar yang sudah diciptakan oleh kapitalisme, dengan bersandar pada pengalaman buruh sendiri, dengan menegakkan disiplin yang paling keras, disiplin baja, yang didukung oleh kekuasaan negara dari kaum buruh bersenjata; kita akan menurunkan pejabat-pejabat negara untuk memainkan peranan sebagai pelaksana biasa dari instruksi-instruksi kita, sebagai ‘mandor dan akuntan’ yang bertanggung jawab, dapat diganti, dan dibayar dengan gaji yang tidak besar (tentu saja dengan bantuan teknisi-teknisi dari segala mutu, jenis, dan tingkat)–inilah tugas kita, tugas proletariat, dari sinilah kita dapat dan harus mulai pada waktu melaksanakan revolusi proletariat. Permulaan yang demikian itu, di atas dasar produksi secara besar-besaran, dengan sendirinya akan menuju ‘melenyapnya’ berangsur-angsur segala birokrasi, menuju pembentukan berangsur-angsur tata tertib-tata tertib yang tanpa tanda kutip, tata tertib yang tidak ada persamaannya dengan perbudakan upah–tata tertib di mana fungsi-fungsi pengawasan dan memberi pertanggungjawaban yang semakin sederhana akan dilaksanakan oleh semua orang secara bergilir, kemudian akan menjadi kebiasaan dan akhirnya tidak lagi menjadi fungsi-fungsi khusus dari orang-orang lapisan khusus.”

Melalui upaya menghapuskan kondisi dan hubungan-hubungan produksi kapitalis oleh kedikatatoran proletariat, maka negara akan melenyap: negara di bawah kekuasaan proletariat secara progresif kehilangan karakternya sebagai instrumen pemaksa-sosial. Begitu pula kediktatoran proletariat bakal lenyap seiring pelaksanaan ekonomi terencana dan produksi kekayaan material sebagai basis obyektif dalam menghapus kelas-kelas sosial masyarakat dan menggantikannya dengan asosiasi kolektif pemilik alat produksi yang secara sukarela melakukan manajemen kesejahteraan kolektif dari asosiasi umat manusia. Hanya tinjauan anarkis penuh di begitu. Anarkisme merupakan teori penuh kontradiksi, dan sangat dangkal dibanding Marxis. Anarkisme tampil sebagai pandangan radikal tapi apolitis. Mereka melihat revolusi sosial bukan sebagai sesuatu yang perlu dipersiapkan, melainkan dilalui secara spontanis. Begitulah Anarkisme ingin menghancurkan kapitalisme tapi dengan memuja kebebasan individu dan mengabaikan tradisi perjuangan kolektif proletariat untuk membangun organisasi politik yang bentuk tertingginya adalah Partai Komunis. Anarkis teramat naif soal kepemimpinan. Mereka menolak kepemimpinan formal yang menuntut pertanggungjawaban kolektif, namun menerima kepemimpinan informal dari tokoh-tokohnya yang sama sekali tidak bisa dimintai pertanggungjawaban. Mereka menentang kediktatoran proletariat, namun diam-diam mendukung diktator borjuis dan borjuis-kecil. Singkatnya: mereka pengecut, tidak konsisten, terombang-ambing di antara borjuis dan proletar, lebih mementingkan individu dan personalitas ketimbang massa dan kolektivitas.

Dalam ‘Revolusi Proletariat‘, Mr. Pimenta menyejajarkan anarkisme bukan saja dengan pemikiran maksimalis dan Blanquis, tapi juga Trotsky. Kritiknya kepada pemikiran Trotsky menyerang secara membabi-buta Teori Revolusi Permanen. Baginya, konsepsi Trotksy tentang Revolusi Permanen tidak paralel dengan Marxisme. Dituding olehnya kalau Revolusi Permanen tidak memperhatikan situasi obyektif, memuja tekanan internasional, dan berusaha meloncati tahapan-tahapan perkembangan sejarah. Begitulah dicercahnya Revolusi Permanen sebagai salah satu bentuk revolusionisme borjuis kecil yang berlawanan dengan pemikiran Marx, Engels, dan Lenin. Perlakuan ini seiras dengan kaum epigon–terutama diwakili oleh Karl Radek–yang menjadi musuh bebuyutan Trotsky dan selalu menyudutkan Revolusi Permanen. Bahkan dengan mengutip Dua Taktik Sosial-Demokrat dalam Revolusi Demokratik dari Lenin–yang seharusnya untuk penguatan partai dan kediktatoran proletariat; Pimenta secara menekankan ‘kemungkinan internal’ dan samar-samar menawarkan Teori Revolusi Dua Tahap (Menshevisme) dan Pembangunan Sosialisme di Satu Negara (Stalinisme): 

“Dalam seruan pertama Komite Sentral kepada Liga Komunis, yang diterbitkan pada bulan Maret 1850, Marx dan Engels menekankan bahwa kelas pekerja tidak dapat berpuas diri dengan kemenangan-kemenangan yang memuaskan borjuasi, dan bahkan borjuasi kecil demokratik yang bertujuan untuk mengakhiri revolusi. secepat mungkin. ‘Tugas kita,’ kata mereka, ‘adalah membuat revolusi menjadi permanen, sampai semua kelas yang kurang lebih telah dipaksa keluar dari posisi dominasi mereka, sampai proletariat telah menaklukkan kekuasaan negara….’ Setengah abad kemudian, pandangan Marxis tentang revolusi dalam kekekalan dikembangkan oleh Lenin dalam teorinya tentang berkembangnya revolusi borjuis-demokratis menjadi revolusi sosialis…. ‘Dari revolusi demokratik,’ tulis Lenin pada tahun 1905, ‘kita akan segera, dan tepat sesuai dengan ukuran kekuatan kita, kekuatan proletariat yang sadar-kelas dan terorganisir, mulai beralih ke revolusi sosialis. Kami berdiri untuk revolusi yang tidak terputus.’ Pada tahun 1905, Lenin belum merumuskan kesimpulan tentang kemungkinan sosialisme menang di satu negara, tetapi seluruh teorinya tentang berkembangnya revolusi borjuis-demokratis menjadi sosialis revolusi didasarkan pada kemungkinan-kemungkinan internal revolusi Bukunya Dua Taktik Sosial-Demokrasi dalam Revolusi Demokratis dan semua karya lain yang ditulis selama tahun-tahun pergolakan Revolusi Rusia pertama diresapi dengan keyakinan bahwa prospek gerakan, dan kecepatan perubahan tahap-tahap revolusi, terutama bergantung pada kekuatan kelas pekerja. Ini menjelaskan juga tuntutan Lenin untuk ‘memperluas secara besar-besaran’ batas-batas revolusi borjuis-demokratis, dan pemahamannya yang menyeluruh bahwa tidak mungkin untuk melompati tahap revolusi itu dan mulai menyelesaikan tugas-tugas sosialis dengan segera. Lenin mengatakan bahwa mengabaikan panggung demokrasi dan tugas-tugas yang terkait dengannya, meremehkan tugas-tugas ini, berarti “sebuah parodi dari Marxisme teoretis….”

Mengutip teks-teks Lenin; Pimenta secara subtil mengarahkan pembaca untuk mendekati Revolusi Permanen sebagai sebuah teori yang berusaha menyangkal kondisi obyektif dan perjuangan kelas proletariat. Dengan kutipan inilah dimulailah mempertentangkan pemikiran Trotsky dan Lenin, hingga memfitnah Revolusi Permanen berlawanan dengan Marxisme. Padahal melalui penekanannya pada ‘kemungkinan internal’ atau kekuatan produksi di satu negeri (berdasarkan keunikan nasional) itulah yang memutarbalikan Marxisme. Pada Mana Tradisi Marxis yang Sejati? (2013), John Molineux mengingatkan bahwa Marxisme tidak sekadar menempatkan perjuangan kelas sebagai motor penggerak sejarah, tapi juga meletakkan internasionalisme proletariat dan penghapusan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi sebagai prinsipnya. Kedua prinsip ini ditegakkan melalui pembangunan organisasi politik tertinggi kelas proletar (Partai Komunis) dan kediktatoran proletariat (Soviet–Dewan Buruh, Tani, dan Prajurit). Dalam Revolusi Permanen; Teori Revolusi Sosialis untuk Dunia Ketiga (2013), Trotsky membela dirinya:

“Marxisme mengambil titik tolaknya dari ekonomi dunia bukan sebagai jumlah total bagian-bagian nasional namun sebagai sebuah realitas yang nyata dan independen, yang diciptakan oleh pembagian kerja dan pasar dunia secara internasional. Kekuatan produksi masyarakat kapitalis telah melampaui batas-batas nasional. Perang imperialis (1914-1918) adalah satu ekspresi dari fakta ini. Dalam hal teknik produksi, masyarakat sosialis harus memiliki tahapan yang lebih tinggi daripada kapitalisme. Bermaksud membangun masyarakat sosialis yang secara nasional terisolasi, kendati semua keberhasilan yang sementara, berarti menyeret ke belakang kekuatan-kekuatan produksi bahkan jika dibandingkan dengan kapitalisme. Mencoba mengurung semua cabang ekonomi di dalam kerangka nasional, terlepas dari kondisi geografis, budaya dan sejarah perkembangan negeri tersebut yang menyusun sebuah bagian dari kesatuan dunia, berarti mengejar sebuah utopia reaksioner…. Dalam kenyataannya, keunikan nasional mewakili sebuah kombinasi orisinil dari karakter-karakter dasar proses dunia. Keorisinilan tersebut dapat menjadi faktor penting yang menentukan bagi strategi revolusioner dalam jangka waktu bertahun-tahun. Kita cukup mengingat bahwa proletariat dari sebuah negeri terbelakang telah merebut kekuasaan bertahun-tahun sebelum proletariat dari negeri maju. Tanpa menggubris Stalin, pelajaran sejarah telah menunjukkan bahwa adalah sepenuhnya salah untuk mendasarkan aktivitas Partai-Partai Komunis pada beberapa ciri-ciri umum, yaitu pada sebuah tipe kapitalisme nasional yang abstrak. Adalah sepenuhnya salah untuk menegaskan bahwa ‘itulah basis dari internasionalisme Partai-Partai Komunis’. Dalam kenyataannya, kebangkrutan negara-bangsa, yang telah lama kadaluwarsa dan yang telah menjadi penghambat kekuatan produksi. Kapitalisme nasional bahkan tidak dapat dimengerti, apalagi direkonstruksi, kecuali sebagai bagian dari ekonomi dunia…. Revolusi Oktober menjadi sebuah manifestasi paling penting dari ketidakseimbangan proses sejarah. Teori Revolusi Permanen meramalkan Revolusi Oktober; dan oleh karenanya, teori ini bersandar pada hukum perkembangan tak berimbang [dan tergabungkan], bukan dalam bentuk abstraknya, namun dalam kristalisasi material dari keunikan sosial dan politik Rusia.”

Dalam penjelasan itulah Trotsky menegaskan kalau Teori Revolusi Permanen bukanlah dimaksudkan untuk melompati tahapan sejarah apalagi tidak mempertimbangkan hukum obyektif perkembangan masyarakat dengan mengabaikan ‘kemungkinan internal’ atau keunikan kekuatan produksi nasional, tapi justru mempertimbangkannya secara internasional berdasarkan hukum sejarah: perkembangan tak berimbang dan tergabungkan–yang memperlihatkan kebangkrutank-kebangkrutan dari negara-bangsa, dimana kontradiksi-kontradiksi internal dari ‘kapitalisme nasional’ semakin lama mengandalkan modal dari ‘pasar global’–yang akan menggali liang kuburnya sendiri dengan membangkitkan kekuatan proletariat dengan makin terorganisir menjadi sebuah ‘kelas bagi dirinya sendiri’. Mengetahui kecenderungan inilah Marx  Engels, Lenin, bahkan Trotsky sama-sama menyerukan agar proletar mengorganisir dirinya untuk membangun organisasi politik (Partai Komunis) sebagai bentuk kongkrit kepemimpinan proletariat dan mendorong terbentuknya kediktatoran proletariat untuk melawan musuh-musuh kelasnya dan memulai rekonstruksi sosialis.

Hanya Pimenta, justru mempertentangkan Trotsky dengan ketiga pendahulunya. Begitulah dipertentangkannya ‘kemungkinan internal’ dengan ‘kemungkinan eksternal’. Padahal secara prinsip, keempatnya mengadopsi solusi tunggal dan sama terkait dengan pembangunan kepemimpinan proletariat, diktator proletariat, dan revolusi proletariat. Dalam masa-masa hidup Marx dan Engels, kondisi obyektif untuk revolusi sosial belumlah terlalu matang. Inilah mengapa Marx dan Engels dahulu lebih menekankan ‘kemungkinan internal’ tapi tidak mengabaikan ‘kemungkinan eksternal’. Tetapi sekarang basis material untuk revolusi sosialis telah terlampau matang oleh perkembangan kapitalisme monopoli dari sistem imperialisme global. Cuma kematangannya tidak serentak di setiap negara, namun berbeda dan mampu mempengaruhi perkembangan-perkembangan di negeri lainnya (perkembangan tak berimbang dan tergabungkan). Demikianlah kini bukan saja situasi internasional meningkat signifikansinya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan nasional, tapi juga muncul kebutuhan mendesak terhadap faktor subyektif untuk revolusi sosialis. Dalam Pokok-Pokok Materialisme Historis (2013), Doug Lorimer menulis kalau elemen-elemen subyektifnya meliputi: (1) kesadaran revolusioner massa, kesiapan dan kebulatan tekad mereka untuk membawa perjuangan hingga akhir (pada perebutan kekuasaan politik dan penghancuran kekuasaan kelas penguasa yang usang); (2) organisasi tersentralisir dari massa dan barisan pelopor mereka, yang membuatnya mungkin untuk mengonsentrasikan semua kekuatan yang sanggup bertempur untuk kemenangan revolusi dan untuk bertindak bersama-sama dan bukan dalam kelompok-kelompok yang terpencar-pencar, tidak terkoordinir; dan (3) kepemimpinan massa oleh sebuah barisan pelopor terorganisir yang cukup berpengalaman dan terlatif dalam pertempuran dan mampu menyusun taktik perjuangan yang tepat dan meletakkannya dalam praktek.

Tetapi dalam ‘Revolusi Proletariat’, Pimenta malah menekankan pada kekuatan produksi nasional tanpa mempertimbangkan tingkat perkembangan kapitalisme secara internasional. Dia seolah mampu memahami keunikan suatu negeri individu dengan menolak pemahaman atas sejarah dunia atau masyarakat. Dalam pendirian inilah dia terseret ke lubang materialisme vulgar yang berlawanan dari materialisme historis: mempelajari sejarah dengan berusaha memahami interaksi beragam kekuatan secara kongkrit dan mempertimbangkan semua faktor esensial yang saling berkait. Pada fase kapitalisme, materialisme historis memandang sejarah umat manusia sebagai sejarah dunia–menghilangkan keterisolasian spesies dan teritori dengan menyatukan perekonomian nasional menjadi ekonomi dan pasar dunia yang tunggal. Berdiri di atas materialisme vulgar, maka dia kemudian mengutip teks Lenin sekenanya untuk menyerang Trotsky dan Revolusi Permanen secara banal. Bahkan dengan menuding Revolusi Permanen adalah revolusi yang meloncati perkembangan sejarah, hingga dirinya menarik kesimpulan kalau teori itu akan memutus hubungan dengan kaum tani: 

“…Lenin dalam Letter on Tactics-nya berkata: ‘Bukan tsar, tapi pemerintahan buruh’. Beberapa waktu kemudian berbicara dalam Konferensi Partai Kota Petrograd, Lenin sekali lagi menekankan bahwa slogan Trotsky ‘No tsar, but abworker gevernment’ adalah salah. Di bawah kondisi Rusia, ‘revolusi permanen’ Trotskyis bermaksud mengabaikan kemungkinan revolusioner kaum tani, menganggapnya sebagai kekuatan anti-revolusioner. Kaum Trotskyis [sebutan stereotip Stalinis untuk menyudutkan Trotsky dan Oposisi Kiri] melanjutkan kebijakan anti-petani mereka juga setelah kemenangan revolusi sosialis. Namun, jika kita melihat Trotskisme tidak hanya dalam varian Rusianya, tetapi juga menganggapnya sebagai klaim untuk menyediakan skema umum bagi revolusi sosialis dunia, kita melihat bahwa hal utama dalam Trotskisme adalah upayanya untuk melompat pada biaya apapun selama tahap perkembangan revolusioner. Dalam beberapa kasus, lompatan ini berarti pemutusan hubungan dengan kaum tani, dalam kasus lain, hal itu dapat menyebabkan penolakan terhadap sekutu lainnya—borjuasi nasional, borjuasi kecil perkotaan, dll.”

Dalam serangannya di atas, Pimenta menuding Trotsky memutus hubungan dengan kaum tani. Sumber yang dia baca pasti merupakan tulisan-tulisan kaum epigon terdahulu yang tidak saja menuding Trotsky sebagai ultra-kiri (revolusionisme borjuis-kecil), tapi juga mengarahkan kritik ke pendirian Menshevisme: kolaborasi kelas dan revolusi dua tahap dengan menunda revolusi proletariat. Begitulah Pimenta pada akhir kutipan di atas diam-diam menganjurkan proletariat untuk bersekutu dengan ‘borjuis nasional’ yang sudah jelas-jelas reaksioner: terikat seribu benang dengan kekuatan imperialisme dan sisa-sisa feodalisme. Hanya dengan sedari awal meyakinkan pembaca kalau dirinya membela pemikiran Marx, Engels, dan Lenin–maka gagasan asing itu berusaha diselundupkan begitu rupa. Terutama dengan mengambinghitamkan Trotsky melalui saduran kata-kata Lenin sekenanya. Padahal lewat Revolusi Permanen; Teori untuk Revolusi Dunia Ketiga (2013), Trotsky menegaskan kalau ‘kalimat-kalimat polemik Lenin–yang sedikit jumlahnya dan terpencar-pencar–terhadap Revolusi Permanen hampir seluruhnya secara ekslusif berdasarkan kata pengantar oleh Parvus [teoretisi terkemuka Marxis di Eropa Timur; yang mencapai kesimpulan serupa dengan Revolusi Permanen–tapi pecah dengan Trotsky ketika Parvus mendukung Perang Dunia I bersama kaum Sosial-Demokrat Jerman] “No Tsar!” yang sepenuhnya tidak saya ketahui; dan berdasarkan perselisihan internal Lenin dengan Bukharin dan yang lainnya. Lenin tidak pernah, bahkan secara singkat, menganalisa dan mengutip “Hasil dan Prospek” [pamflet pada 1905 yang berisi proposisi-proposisi Trotsky tentang Revolusi Permanen], yang jelas tidak mengacu pada saya, secara langsung membuktikan bahwa dia tidak membaca karya saya’:

“Revolusi Permanen bukanlah pelompatan tahapan demokratik, ataupun tahapan-tahapan spesifik lainnya. Dia [Karl Radek, kaum epigon] akan meyakinkan dirinya sendiri bahwa, meskipun saya hidup di Rusia secara ilegal sepanjang 1905 tanpa hubungan apapun dengan para eksil lainnya, saya memformulasikan tugas-tugas tahapan-tahapan revolusi dengan cara yang sama seperti Lenin … Koran Novaya Zhizn (Hidup Baru) yang diedit oleh Lenin, dalam catatan editorial dengan tegas membela artikel saya mengenai Revolusi Permanen yang muncul di koran Nachalo (Permulaan) … bahwa setelah kekalahan Desember [Revolusi 1905 yang berakhir pada Desember dengan pembantaian ribuan buruh oleh pemerintahan Tsar], saya menulis di penjara mengenai taktik-taktik dimana saya menunjukkan bahwa kombinasi ofensif proletariat dengan revolusi agraria kaum tani adalah masalah strategis yang utama; bahwa Lenin menerbitkan pamflet tersebut melalui penerbitan Bolshevik Novaya Volna (Gelombang Baru) dan memberitahu saya melalui Knunyants bahwa dia sepenuhnya setuju dengan pamflet tersebut; bahwa Lenin berbicara di Kongres London pada 1907 mengenai ‘solidaritas’ saya dengan Bolshevisme dalam pandangan-pandangan saya mengenai kaum tani dan borjuis liberal…. Di dalam kata pengantar tahun 1922, untuk buku saya, ‘The Year 1905’, saya menulis bahwa prediksi saya mengenai kemungkinan pendirian kediktatoran proletariat di Rusia sebelum ini bisa dicapai di negeri-negeri maju terbukti 12 tahun kemudian. Radek menggambarkan ini seolah-seolah saya mempertentangkan prediksi tersebut dengan garis strategi Lenin. Namun dari kata pengatar tersebut, dapat dengan jelas terlihat bahwa saya mempresentasikan prognosis Revolusi Permanen ini dari titik pandang karakter-karakter dasar yang sejalan dengan garis strategi Bolshevisme…. Meskipun terdapat kekurangan-kekurangan, teori Revolusi Permanen, bahkan seperti yang diajukan dalam karya awal saya, terutama “Hasil dan Prospek”, jauh lebih penuh dengan semangat Marxisme dan oleh karena itu lebih dekat dengan garis politik Lenin dan Partai Bolshevik, dibandingkan dengan pandangan retrospektif kaum Stalinis, dan Bukharinis dan karya Radek baru-baru ini…. Saya tidak pernah mencoba membentuk sebuah kelompok faksi atas dasar ide-ide Revolusi Permanen. Posisi saya pada saat itu adalah posisi konsiliasi dan berdasarkan posisi inilah saya cenderung membentuk sebuah faksi. Posisi konsiliasi saya muncul dari semacam fatalisme sosialis-revolusioner. Pada saat itu saya percaya bahwa logika perjuangan kelas akan mendorong kedua faksi tersebut (Menshevik dan Bolshevik) ke garis revolusioner yang sama. Signifikansi historis dari kebijakan Lenin masih belumlah jelas bagi saya pada saat itu, yakni kebijakan dia atas sebuah demarkasi ideologi yang tegas dan, bila perlu, perpecahan dengan tujuan untuk menempa dan membangun embrio partai revolusioner yang sejati…. Dalam pandangan Lenin, bukan Revolusi Permanen tetapi posisi konsiliasi-lah yang memisahkan saya dari Bolshevisme. Seperti yang telah kita lihat, untuk menjadi ‘seorang Bolshevik terbaik’, saya hanya perlu memahami kemustahilan persetujuan dengan Menshevisme.”

Tetapi kini tuduhan menjijikan terhadap Trotsky dan Revolusi Permanen terulang pula. Bukan lagi oleh Karl Radek, melainkan Mr. Pimenta. Persis kaum epigon lainnya; mereka mengulang-ulang fitnah yang digencarkan di bawah Stalinisme. Kritik terhadap Trotsky sesunggunya bukan sekadar penyangkalan terhadap Revolusi Permanen, tapi juga secara samar-sama menolak kediktatoran proletariat. Begitulah Pimenta meluaskanb kritiknya hingga menyejajarkan teori Trotsky dengan Mao: ‘Mao Tse-tung memiliki pandangan metodologis yang sama dengan kaum Trotskis dalam hal perjuangan subjektivis untuk melompati tahapan dan membandingkan dan membandingkan revolusi di satu negara dengan revolusi dunia. Seperti kaum Trotskyis, kaum Maois selalu dan di mana-mana mendukung sosialisme di setiap negara, terlepas dari kondisi yang berlaku di sana dan selalu bersikeras bahwa ini harus dilakukan dengan pemberontakan bersenjata’. 

Kaum epigon mengkritik Revolusi Cina dan tidak menjelaskan penyebab-penyebab kemundurannya, tetapi lagi-lagi hanya untuk memaksakan pembuktian kalau Revolusi Permanen adalah salah. Mengasosiasikan Revolusi Cina sebagai Revolusi Permanen maka teori Trotsky diidentikan dengan perang tani dan pemberontakan bersenjata. Bahkan dengan mengangkat gerakan-gerakan Maois di Eropa coba dibuktikanlah bahwa Revolusi Permanen merupakan sebentuk dogmatisme. Padahal Teori Revolusi Permanen tidak pernah menempatkan kaum tani sebagai kelas yang memimpin perjuangan kelas, apalagi menggunakan aksi-aksi terorisme. Memparalelkan pemikiran Trotsky dengan Blanquisme merupakan kesalahan besar. Ajaran pemberontakan dalam Revolusi Permanen bersepakat dengan pemikiran Lenin berkait Marxisme dan Pemberontakan (1917): (1) sebuah pemberontakan yang berhasil harus disandarkan pada suatu kelas yang maju, bukan kelompok konspirasi maupun spontanisme; (2) pemberontakan harus dilancarkan dengan mempertimbangkan kedatangan situasi revolusioner; dan (3) pemberontakan harus dilepaskan pada ‘titik menentukan’ dalam sejarah perkembangan revolusi ketika aktivitas lapisan termaju dari kelas pekerja berada di puncaknya. Singkatnya, Revolusi Permanen tidak menyerukan gerilyaisme atau kepemimpinan kaum tani dan demokrat borjuis-kecil, melainkan kepemimpinan proletariat dan pengorganisiran proletar sebagai kelas penguasa yang bersenjata. Hanya dalam kritik Pimenta sengaja tidak menjelaskan kalau kemerosotan Revolusi Cina dan penyimpangan-penyimpangan gerakan Maois merupakan bentuk kejahatan Menshevisme dan Stalinisme. Dalam Melawan Imperialisme (1999), Aland Woods dan Ted Grant menuliskannya begitu rupa:

“Teori dua-tahapnya Menshevik dan Stalinis telah memainkan sebuah peran yang kriminal di dalam perkembangan revolusi di negeri-negeri koloni. Di mana saja teori ini sudah diaplikasikan, ia telah menghasilkan malapetaka. Pada 1920-an, mengikuti teorinya Stalin ‘blok empat kelas’, Partai Komunis Cina (PKC) yang masih muda saat itu dipaksa untuk bergabung dengan partai borjuis nasional Kuomintang, yang kemudian secara fisik menghancurkan PKC, serikat-serikat buruh, dan soviet-soviet tani selama Revolusi Cina 1925-1927. Alasan mengapa Revolusi Cina kedua (1949) mengambil bentuk perang tani dimana kelas buruh Cina berperan pasif adalah karena hancurnya kelas proletariat akibat kebijakan-kebijakan Stalinis, yang Trotsky gambarkan sebagai sebuah karikatur Menshevisme yang buruk…. Bicara apa adanya, tak ada satupun yang bisa menghalangi revolusi di Cina, ini sebagai contoh tentang peran yang sama dengan Revolusi Rusia tahun 1917, seandainya saja para pemimpin Komunis Cina berbuat sebagaimana Lenin dan Trotsky. Tetapi para pemimpin ala Stalinis tersebut takut pada gerakan independen dari kelas buruh, dan melakukan segala upaya yang berada dalam kekuasaannya untuk menghalangi gerakan itu. Cara konyol di saat Revolusi Cina muncul pada 1948, sebagai satu revolusi menyimpang dalam bayang-bayang Rusia di bawah kepemimpinan Stalini, menyebabkan (revolusi tersebut) hanya mendatangkan sedikit sekali himbauan untuk bergerak di kalangan kaum buruh, di negara-negara maju, meski ia mampu memberikan rangsangan penying bagi revolusi di Afrika, Asia, dan Amerika Latin….”

Dengan mengkritik Revolusi Cina dan gerakan Maois, Pimenta berhasil memperlihatkan kekeliruan-kekeliruan dari perjuangan kelas yang bukan dipimpin proletariat tapi bersandar pada Revolusi Dua Tahap–kepemimpinan borjuis. Hanya kebenaran ini disembunyikannya secara kasar. Motif utama adalah secara pasti mengkritik Revolusi Permanen. Tetapi atas pengasosiasian Revolusi Cina dengan Revolusi Permanen membawa kritik ini membabi-buta dan menjadi tidak tepat. Akhirnya, tujuanya untuk mengkritik kesalahan metode Maois justru mengarah pada penolakan kediktatoran proletariat. Seolah baginya: sebuah revolusi sosial tidak harus serupa pada semua tempat–menggunakan kekerasan revolusioner:

“Setiap upaya untuk membuat suatu bentuk perjuangan menjadi universal adalah dogmatis dan pada dasarnya anti-revolusioner. Tak seorang pun dapat menemukan bentuk-bentuk perjuangan. Mereka dikembangkan oleh gerakan massa dan bergantung pada ciri-ciri konkrit dari setiap momen sejarah. ‘Dalam keadaan apa pun,’ kata Lenin, ‘Marxisme tidak membatasi dirinya pada bentuk-bentuk perjuangan yang mungkin dan hanya ada pada saat tertentu, mengakui bahwa bentuk-bentuk perjuangan baru, yang tidak diketahui oleh para peserta pada periode tertentu, muncul secara tak terelakkan. Ketika situasi sosial tertentu berubah.’ Itulah sebabnya Lenin menekankan dengan sangat tegas bahwa kelas revolusioner ‘untuk menyelesaikan tugasnya … harus mampu menguasai segala bentuk atau aspek kegiatan sosial tanpa terkecuali … harus siap untuk penggantian yang paling cepat dan kasar dari satu bentuk ke bentuk lainnya.’ Melompati tahapan hanyalah salah satu aspek dari “revolusi permanen” kaum Trotskyis. Yang lain berhubungan dengan hubungan antara perjuangan revolusioner di dalam negeri dan perkembangan revolusi dunia. Menyadari bahwa pengabaian tugas-tugas borjuis-demokratis di negara terbelakang akan menempatkan proletariat dalam posisi sulit dengan mengisolasinya dari massa tani yang luas, Trotsky hanya melihat satu jalan keluar dari dilema ini, yaitu menyebarkan api revolusi ke dunia internasional. Pada tahun 1922, ia menjelaskan esensi dari ‘revolusi permanen’ sebagai berikut dalam kata pengantar bukunya 1905: ‘Kontradiksi dalam posisi pemerintahan pekerja di negara terbelakang dengan penduduk yang didominasi petani dapat diselesaikan hanya pada skala internasional, di arena revolusi proletar dunia’.”

Memakai teks Lenin, Pimenta berangkat meninjau gerakan Maois dan tiba pada Trotsky. Revolusi Cina dikritik karena soal metode yang salah dan Revolusi Permanen juga mendapatkan kritikan sebagai kesesatan yang terbukti melalui gerakan Maois. Meski memparalelkan dua tendensi yang kontras di altar kritikan yang arbitrer, namun pengutipan Lenin memberikan kritiknya daya gugat. Namun penempatan kritik yang membabi-buta bukan saja mengkritik gerakan maois, tapi juga menggerogoti prinsip perjuangan kelas. Begitulah kutipan teks Lenin dipakainya bukan sekadar untuk menyerang Trotsky, tapi terutama merelatifkan penggunaan kekerasan revolusioner dalam revolusi sosial. Akhirnya ditanyakanlah: bukankah kerja teoritis menerangkan revolusi proletariat mengarah pada jurang oportunisme? Bahkan dengan upaya menenggelamkan Revolusi Permanen–tidakkah ini sebagai penyangkalan terhadap kepemimpinan dan kediktatoran proletariat sekaligus sebagai ekspresi oportunis terselubung, atau dengan kata lain: meliberalkan Marxisme melalui teks-teksnya Lenin? Engels dalam Anti-Duhring (2005) dan Trotsky pada Revolusi Permanen (2013) pernah menjelaskan:

“Bagaimanapun, kekuatan itu, kekerasan, juga memainkan peranan lain dalam sejarah [selain peranan reaksioner] …, yaitu peranan revolusioner, bahwa kekerasan menurut kata-kata Marx, adalah bidan dari setiap masyarakat lama yang telah mengandung masyarakat baru, bahwa kekerasan adalah alat yang digunakan oleh gerakan sosial untuk merintis jalan bagi dirinya dan menghancurkan bentuk-bentuk politik yang telah mati dan membatu–tentang ini tak sepatah katapun dari Tuan Duhring. Hanya dengan menarik nafas panjang dan mengeluh ia mengakui kemungkinan bahwa untuk menggulingkan sistem ekonomi penghisapan mungkin perlu kekerasan–sayang sekali, lihatlah! Karena setiap penggunaan kekerasan katanya akan mendemoralisasi orang yang akan menggunakannya. Dan ini diucapkan meski ada kebangkitan moral dan spiritual yang tinggi dari yang terjadi sebagai akibat dari setiap revolusi yang menang! Dan ini diucapkan di Jerman dimana suatu bentrokan dengan kekerasan–yang memang dapat dipaksakan kepada rakyat–setidaknya akan mempunyai keunggulan yang menghilangkan jiwa membudak yang telah merasuk ke dalam kesadaran nasional akibat perasaan terhina karena Perang Tiga Puluh Tahun [peperangan Eropa yang pertama–melibatkan hampir seluruh negara-negara Eropa dengan mengambil bentuk ‘perang agama’].”

“Penaklukan kekuasaan [kediktatoran] oleh proletariat belum menyelesaikan revolusi, namun hanya membukanya, pembangunan sosialis hanya dapat dicapai di atas pondasi perjuangan kelas, dalam sekala nasional dan internasional. Perjuangan ini, di bawah kondisi-kondisi dominasi relasi-relasi kapitalis di panggung dunia, secara tak terelakkan akan mengakibatkan ledakan-ledakan, yaitu, secara internal, perang sipil dan secara eksternal perang revolusioner. Di sinilah letak karakter permanen dari revolusi sosialis, tidak peduli apakah negeri yang terlibat adalah negeri yang terbelakang, yang baru saja mencapai revolusi demokratik, atau sebuah negeri kapitalis tua yang sudah melalui periode demokrasi parlementer yang panjang.”

Catatan Kaki:

* Doug Lorimer merupakan seorang teoretisi yang kemudian hari tampil dengan pemikiran Neo-Menshevik-Stalinis: menyangkal teori Revolusi Permanen–Revolusi Sosialis untuk Dunia Ketiga: negeri-negeri kapitalis terbelakang, semi-jajahan dan jajahan. Meski begitu, dalam artikel ini tidaklah membenarkan pemikiran demikian. Sebab, tulisan ini sekadar mengutip penjelasan umum Lorimer mengenai ‘Materialisme Historis’ dan menentang gagasan-gagasan dari kaum epigon, Menshevik, dan Stalinis.

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai